Kamis, 05 Oktober 2017

Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Episode 12 : Esmeralda dan Fernando
---------------------------------------------
Setelah penjelasan sepotong masa laluku pada Julia, dan dia akhirnya bersedia kembali mengemudi, kami melangkah menuju mobil. 
Sialnya, tingga empat langkah lagi dari pintu mobil, tiba-tiba tanpa kami sadari merapat mobil patroli tol. Petugas di dalamnya menekan klakson, lampu di atas kap mobil patroli menyala kerlap-kerlip, mereka parkir persis di belakang mobilku, lantas turun sambil merapikan seragam dan pistol di pinggang.
Tere Liye : Negeri Para Bedebah

“Selamat siang.” Dua orang petugas mendekat.
Aku menelan ludah. Sedikit terperanjat dengan kedatangan mereka. Berusaha berpikir cepat bagaimana segera kabur sebelum mereka bertanya-tanya. 
“Mobil kalian mogok?” Salah satu petugas lebih dulu bertanya.
Ini situasi biasa yang rumit. Biasa, karena lazim saja ada mobil yang berhenti di jalur darurat. Aku menggeram, bisa saja aku mengarang mobilku mogok, ada kerusakan, tapi semakin lama kami tertahan, semakin panjang dialog dan cerita, mereka punya kesempatan bertanya hal lain, urusan menjadi rumit. Mereka akan meminta identitas, surat izin mengemudi, bahkan mulai mengarang-ngarang kesalahan. Lebih sial lagi kalau mereka jadi tahu aku buronan polisi sejak tadi malam. 
“Mobil kalian bermasalah? Rusak?” Petugas bertanya sekali lagi, tinggal dua langkah. Yang satu malah mengambil inisiatif melongok-longok memeriksa mobil.
Aku mendesah, terus berpikir mencari alasan. Kami harus segera kabur.
“Dasar lelaki tidak berguna.” Julia sudah berteriak lebih dulu sebelum aku memutuskan mengambil langkah apa pun.
“Berapa kali kau ketahuan selingkuh, hah? Berapa kali, Pengkhianat?” Julia berteriak sambil mendorong dadaku, wajahnya marah.
“Eh?” Aku bingung sejenak, berusaha menyeimbangkan diri---hampir saja terjatuh.
“Kalau begini terus aku minta cerai saja, cerai!” Julia sudah pura-pura hendak menangis.
Aku menggaruk kepala, dengan cepat mengerti apa yang sedang dilakukan Julia.
Dua petugas patroli saling pandang, menelan ludah, urung bertanya lebih lanjut. 
“Aku tidak tahan lagi. Tidak tahan.” Julia berteriak seperti wanita sedang emosi tinggi.
“Kau keliru, Sayang. Aku sudah berubah, lihatlah.” Astaga, entah apa yang ada di kepalaku, sekejap kemudian aku mengikuti mentah-mentah skenario Julia, mulai berakting macam dua pasangan yang sedang bertengkar, berusaha membujuknya agar tenang. 
“Kau penipu. Sekali penipu tetap penipu.”
“Sungguh, Sayang. Aku sudah banyak berubah.”
“Kau lelaki pendusta, Fernando.” Julia berteriak parau, dan PLAK! Gadis itu telak menampar pipiku.
Dua petugas patroli bahkan berseru tertahan, sedikit kaget. Salah tingkah harus melakukan apa.
“Aku akan pergi jauh. Jangan kau ikuti aku.” Julia sudah membuka pintu mobil, masuk.
“Tunggu, Esmeralda.” Aku terpincang, berusaha menyusul.
Tentu saja Julia akan menungguku---meski mobil sudah menderum dinyalakan.
“Tunggu!” Aku masuk ke dalam mobil, menutup pintu.
Sedetik, mobil melesat bagai peluru meninggalkan dua petugas patroli yang hanya bisa terpana.
Menggaruk kepala, saling tatap bingung, dua petugas patroli akhirnya mengangkat bahu, menghela napas panjang. Bergumam satu sama lain, ternyata mobil keren ini menepi karena penumpangnya, suami-istri bernama Fernando dan Esmeralda sedang bertengkar, tidak ada yang serius. Mereka tidak berselera mengejar, kembali masuk ke dalam mobil patroli, melaju seperti biasa.
“Kau seharusnya tidak menamparku sekencang itu.” Aku meringis, meraba pipi sebelah kiri yang masih terasa pedas. “Seumur-umur aku belum pernah ditampar wanita.”
“Aku harus sungguh-sungguh, Thom. Biar mereka tidak curiga.” Julia menoleh sebentar, tertawa, lantas kembali konsentrasi penuh, mobil melesat cepat menuju Waduk Jatiluhur.
***
“Kakimu masih sakit?” Julia bertanya, mobil sudah keluar dari pintu tol, memasuki jalanan menuju Waduk Jatiluhur. Setelah sepanjang pagi cerah, sejak sepuluh menit lalu mendung menggelayut malas di langit. Orang-orang berlari kecil, bergegas menyelesaikan urusan sebelum telanjur hujan deras.
“Sudah lumayan.” Aku meluruskan kaki, melirik pergelangan tangan, hampir pukul dua belas siang. Aku sudah menyelesaikan membaca beberapa bundel dokumen, menandai begitu banyak hal menarik. 
Dengan kecepatan tinggi, hanya butuh setengah jam menuju rumah peristirahatan Opa dari tempat kami berhenti di jalur darurat tol. 
Tadi Julia menyuruhku menelepon rumah, memberitahu mereka. Saran baik yang sia-sia, Opa menolak memasang telepon di rumahnya. “Orang tua ini tidak mau diganggu siapa pun.” Demikian jawabnya kalem. Dia juga tidak terbiasa menggunakan telepon genggam. Aku pernah membelikannya telepon genggam paling mutakhir, agar lebih mudah dihubungi. Esok hari, Opa tega menggunakannya untuk mengganjal salah satu kaki kursi santainya. “Nah, dia lebih bermanfaat sekarang, Tommi.” Opa terkekeh, duduk menatap cahaya matahari senja menerpa waduk, melambaikan tangan. Aku hanya bisa mendengus kesal, itu telepon mahal.
Aku juga tidak bisa menghubungi Om Liem, karena dia tidak sempat membawa telepon genggamnya semalam. Aku tidak bisa memberikan peringatan ke rumah itu agar segera menyingkir. Dengan semua kemungkinan terbuka, aku memutuskan menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk mempelajari dokumen yang diberikan Maggie. Ini jelas lebih berguna dibanding bergumam resah menyuruh Julia lebih cepat lagi. Sama halnya ketika kalian terjebak macet, daripada memaki, resah, sebal, yang jelas-jelas tidak akan membuat kemacetan jadi terurai, maka lebih baik membaca sesuatu atau tidur.
“Belok kiri atau lurus?” Julia bertanya.
Kami hampir tiba. 
“Terus, hingga habis jalan raya.” Aku menjawab pendek, melempar dokumen. 
Mobil yang dikemudikan Julia melambat.
Aku menghela napas lega. Tidak ada keramaian di depan gerbang pagar. Juga tidak ada mobil-mobil atau polisi yang mengepung di halaman rumah. Lengang. Gerimis semakin deras.
“Langsung ke halaman belakang.” Aku menyuruh Julia terus.
Satu menit, mobil terparkir rapi, aku dan Julia turun, berlari-lari kecil menuju teras belakang.
Tidak ada siapa-siapa di ruangan dapur. Kosong. Bahkan pembantu yang biasanya menyiapkan makanan untuk Opa tidak terlihat. 
Aku memandang sekitar. Ini lengang yang ganjil. Opa juga tidak ada di ruangan besar tempat dia berlatih musik. Aku menyeka rambut yang basah. Hujan seperti ini boleh jadi Opa sedang tidur. Om Liem boleh jadi juga beristirahat setelah dua puluh jam terakhir tidak tidur.
“Jangan bergerak.” Terdengar suara mendesis.
Langkah kakiku melintasi ruangan tengah terhenti. Juga langkah Julia.
Kami berdua sempurna mematung.
Enam polisi dengan rompi antipeluru, bersenjata lengkap, muncul bagai hantu dari balik lemari, sofa, pot besar, bahkan kerai jendela. Wajah mereka tertutup topeng. Mata menatap tajam, berkilat.
Dua polisi dengan cepat meringkusku, aku terbanting duduk. Mereka menelikung tangan, memasangkan borgol. Dua polisi lain juga memegang tengkuk Julia, cepat menguasai situasi sebelum kami sempat bereaksi apa pun---bahkan sekadar mendengus.
Lututku terasa sakit menghantam lantai, aku mengeluh sambil mengutuk dalam hati. Bodoh. Seharusnya aku segera kabur sejak menginjak dapur belakang. Rumah ini terlalu sepi. Ada sesuatu yang telah terjadi. Benar-benar bodoh. Tentu saja mereka sengaja menyembunyikan mobil patroli, kendaraan polisi atau apa pun di halaman. Jika aku melihatnya, aku pasti berputar arah. Setelah tahu lokasi ambulans dari GPS tracking rumah sakit, mereka pasti sengaja mengirim pasukan taktis kecil yang tidak menarik perhatian untuk menangkap Om Liem, lantas menungguku kembali.
“Jalan!” Salah satu polisi kasar menyuruhku berdiri.
Julia hendak protes, tapi moncong senjata terarah ke wajahnya. Membuatnya bungkam.
Aku menelan ludah. Ini berlebihan. Kami bukan teroris, kami juga bukan kriminal seperti pembunuh, psikopat, atau kejahatan besar lainnya. Tidak bisakah mereka mengirim pasukan yang lebih ramah.
“Bergegas!” Polisi di belakangku justru menyodokkan moncong senjatanya.
Aku menahan sakit, meringis.
Mereka menggelandang kami masuk ke salah satu kamar. Di sana sudah ada Opa dan Om Liem. Nasibnya sama, diborgol. Duduk di kursi rotan. 
“Lapor, Bos, semua sasaran telah tertangkap.” Samar-samar aku mendengar percakapan di belakang.
“Kita bergerak sekarang?”
“Tahan dulu. X2 sedang dalam perjalanan, dia sendiri yang akan membawa sasaran, langsung kembali menuju markas, konferensi pers sedang disiapkan.”
Aku menelan ludah, menatap wajah Om Liem yang datar, tertunduk. Opa terlihat tenang, bahkan tersenyum kepadaku. Julia yang terus protes ke polisi yang mendorong-dorongnya, tapi dia tidak bisa berteriak, apalagi menampar polisi macam menampar “Fernando” sebelumnya. Julia berkumur-kumur, bilang dia punya hak membela diri. Sial, polisi justru tambah kasar mendorongnya.
Satu polisi meletakkan dua kursi rotan. Menyuruh kami duduk. Aku menurut.
“Semua area sudah diamankan, Bos. Delapan yang lain disekap di kamar depan, sepertinya mereka bukan sasaran utama, hanya pekerja biasa.” Polisi yang menyergap kami terlihat bicara dengan seseorang yang masuk ke kamar. Mungkin dia komandan pasukan spesialis ini, berpakaian sipil, rompi antipeluru, kacamata hitam besar, dan topeng serbu.
“Bagus. Kalian terus berjaga di kamar. Pastikan tidak ada celah mereka kabur.” Orang itu mengangguk, menyibak anak buahnya, melangkah mendekati empat kursi rotan yang dibariskan di tengah kamar.
Aku mendongak, berusaha mencari tahu.
Orang itu justru berhenti persis saat kami saling tatap. 
Aku tidak mengenalinya, kacamata hitam dan topeng serbu membuat wajahnya tidak terlihat.
Lengang sejenak. Orang itu tetap berdiri, diam, lima langkah dariku.
“Kalian berjaga di luar kamar.” Orang itu berseru pada anak buahnya.
Enam polisi menoleh, bingung. Bukankah mereka tadi disuruh berjaga di sini?
“Bergegas! Ini perintah.” Orang itu membentak.
Enam polisi bersenjata lengkap tanpa menunggu, langsung bergerak ke pintu. Meninggalkan empat kursi rotan dengan empat pesakitan di atasnya.
Lengang sejenak, hujan turun semakin deras.
Komandan polisi itu menatapku, menghela napas panjang.
Aku bingung. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Ini benar-benar kejutan, Thom.” Suara galak orang di depanku berubah datar, dia melepas kacamata hitam dan topengnya. “Aku sama sekali tidak tahu kalau ternyata harus menangkapmu, Thomas.” 
Aku berseru setengah tidak percaya, “Rudi!”
“Ini sungguh kejutan atau boleh jadi lelucon.” Rudi merapikan rambutnya, wajahnya juga terlihat setengah tidak percaya. “Astaga, kenapa kau ada di sini, Thom? Bukankah kau hanya seorang konsultan keuangan yang baik? Seorang gentleman yang berpendidikan, kaya, dan berpengaruh. Menulis banyak kolom di media massa, dianggap anak muda yang berhasil. Semua teman di klub bertarung bilang, kau anggota yang baik, petarung yang hebat, dengan kehidupan yang lurus. Kenapa aku di siang ini, di tengah hujan deras, harus menangkapmu, Thomas? Menangkap salah satu petarung terbaik klub. Menangkap teman terbaikku selama ini.”
“Kau harus melepaskanku,” aku berseru. “Kau harus segera melepaskan aku, Rudi.”---bergegas menurunkan intonasi suara, meski hujan deras membuat percakapan samar, boleh jadi enam anak buah Rudi di luar kamar mendengar.
Rudi diam sejenak, menatapku lamat-lamat.
“Dia,” Rudi perlahan menunjuk Om Liem, “siapanya kau? Kerabat?”
Aku mengangguk cepat.
“Kau yang membantunya kabur semalam? Kabur begitu saja, seperti anak kecil yang main petak umpet. Membuat puluhan polisi dan perwira terancam dimutasi ke daerah terpencil.” Rudi bertanya.
Aku mengangguk lagi.
“Astaga, Sobat.” Rudi separuh hendak tertawa, separuh hendak menepuk pelipisnya. “Urusan ini benar-benar celaka. Kau tahu, aku bahkan ditelepon langsung oleh X2 untuk membereskan masalah ini. Bilang pasukan komando khususku harus bergerak cepat, tanpa ampun, dan diotorisasi sah menggunakan apa saja untuk menangkap kalian. Ternyata aku menangkapmu, Thomas.”
“Kau harus melepaskanku, Rudi.” Aku berseru agak kencang, memotong kalimat Rudi, waktu kami terbatas, jika percakapan salah satu anak buah Rudi tadi benar, hanya hitungan menit X2 akan tiba di rumah peristirahatan Opa. Aku tahu apa maksud kode X2, penunjuk hierarki yang ada.
Rudi mendekatiku, jaraknya tinggal dua langkah.
“Kau keliru menangkap orang, Rudi. Bukan aku penjahatnya.” Aku mendesak. 
“Tentu saja semua ini keliru, Thomas. Belasan tahun aku menjadi perwira, aku tahu banyak hal keliru yang dibiarkan terjadi.” Rudi bergumam resah, dia menggelengkan kepala. “Astaga, kau tahu briefing lewat telepon yang diberikan padaku saat menuju tempat ini? Sasaran kalian bersenjata berat, licik, dan mematikan. Sepertinya mereka lebih menyuruh kami menembak di tempat dibandingkan menangkap hidup-hidup.”
“Hentikan basa-basinya, Rudi! Kau harus melepaskan kami segera, atau tidak ada waktu lagi!” Untuk kedua kalinya aku memotong kalimat.
“Ini tidak mudah, Thom.” Rudi mengusap wajahnya.
“Kau bisa mengarang kejadian apa pun, Rudi.”
“Tentu saja aku bisa. Tapi dengan X2 menuju kemari, ini tidak mudah. Aku bisa membahayakan seluruh karierku demi kau.”
Aku menatap wajah Rudi, kau harus melakukkannya, Rudi.
Rudi menyisir rambutnya dengan jemari. “Kau benar-benar sialan, Thomas. Semalam kau memukulku jatuh di lingkaran merah, membuatku ditertawakan anggota klub, siang ini kau merengek padaku untuk meloloskanmu. Kalau saja kau bukan teman baikku, petarung penuh respek, dari tadi aku justru hendak meninju wajah sialanmu ini. Berikan aku waktu untuk berpikir.”
“Segera, Rudi! Segera!” Aku mendesis.
“Biarkan aku berpikir, Thom.”
Aku menggeleng, tidak ada waktu lagi.
“Kau bisa diam dulu tidak, Thom!” Entah kenapa, tiba-tiba Rudi berteriak kencang---yang pastilah kali ini didengar anak buahnya di luar. Salah satu dari mereka mendorong pintu kamar.
Dan dalam hitungan sepersekian detik, Rudi sudah meninju wajahku. Telak. Aku terjengkang, kursi rotanku terpelanting, tubuhku berdebam jatuh. Demi melihat itu, Julia berteriak kencang---lupa kalau tadi dia juga menamparku sungguh-sungguh di jalur darurat tol. 
Om Liem ikut berseru panik. Opa menghela napas.
“Diam, Bedebah! Kau tidak boleh melawan petugas. Jangan pernah sekali-kali.” Rudi sudah berteriak kalap, jongkok, kasar menarik badanku berdiri.
Darah segar mengalir dari hidungku, aku tersengal untuk dua hal, kaget karena tiba-tiba ada bogem mentah menghajarku, dua karena hidungku sakit sekali. 
Enam anak buah Rudi masuk ke dalam kamar, berbisik satu sama lain, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi. Hujan semakin deras, cahaya kilat membuat terang semesta, guntur menggelegar enam detik kemudian.
“Kau ikuti semua permainannya, Thom. Dan kita lihat, apakah aku bisa meloloskan kau dari sini atau tidak.” Rudi berbisik di tengah suara guntur, tangannya masih menjambak rambutku.
Aku bergumam setengah putus asa. Permainan apa? Dia jelas tidak sedang berusaha membantuku lolos, dia sedang membalaskan pertarungan tinju kami semalam.

Rabu, 04 Oktober 2017

Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Episode 11 : Masa Lalu Itu
---------------------------------
JULIA membanting setir ke kiri, menginjak rem sekuat yang dia bisa. Mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi segera terbanting, berdecit panjang, membuat ngilu kuping. Roda mobil membuat bekas panjang di jalur darurat tol, hingga akhirnya berhenti sebelum terlempar keluar jalan. Beberapa mobil di belakang yang kaget dengan aksi Julia menekan klakson panjang, mengumpat dari balik jendela.
“Kau gila! Apa yang kaulakukan?” Aku ikut mengumpat.
“Kau yang gila, Thom.” Julia balas berseru, napasnya tersengal. 
Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Kami baru saja belasan kilometer meninggalkan Jakarta. Masih enam puluh kilometer lagi sebelum Waduk Jatiluhur. Sejak dari pintu tol, Julia bertanya, ke mana persisnya tujuan kita? Mendesak. Sementara aku berusaha menelepon Maggie, memastikan dia baik-baik saja atau tidak. Kesal karena Julia terus bertanya, aku menjawab apa adanya.
“Aku tidak mau mengantarmu ke tempat persembunyian Om Liem.” Julia dengan napas tersengal, turun dari mobil, membanting pintu, berjalan ke rerumputan pinggir tol.
“Astaga, Julia, kau pikir kita akan ke mana, hah? Pergi ke restoran, lobi hotel, mencari tempat yang cozy untuk interviu? Kau bertanya apa yang terjadi, Thom? Lantas aku menjawab, baiklah, Julia, kaudengarkan baik-baik. Begitu, hah?” Aku ikut turun, melangkah pincang mendekatinya.
Tol luar kota ramai. Satu-dua mobil lewat tidak terlalu memedulikan kami. Hanya mogok biasa---demikian sudut mata penumpang melintas menyimpulkan. Satu-dua malah bergumam, mobil keren-keren ternyata mogok juga.
“Aku tidak mau mengantarmu.” Julia menggeleng.
“Kau harus mengantarku!” Aku berteriak kesal, menunjuk kakiku yang masih pincang.
“Ini berlebihan. Aku tidak mau terlibat melarikan buronan kelas kakap.”
“Kau sudah terlibat, Julia. Persis saat kau penuh dengan rasa penasaran mengaduk-aduk masa laluku. Dan jelas kau sudah menyetir mobil sejauh ini. Kau sudah terlibat. Lagi pula bukankah kau sudah bisa menduga sejak awal, aku yang melarikan Om Liem semalam. Mau atau terpaksa, dengan memecahkan alarm kebakaran gedung, kau sudah memutuskan terlibat.”
Julia membungkuk, mendengus, dia masih berusaha mengendalikan diri.
“Ayolah, Julia. Ini tidak buruk. Hei, bukankah wartawan perang bertaruh dengan risiko tertembak saat menyiarkan langsung dari lapangan. Nah, anggap saja kau juga punya risiko disangka terlibat. Lagi pula, kau bisa mengarang banyak argumen, aku memaksa, kau dibawah ancaman. Sebagai gantinya, aku akan menceritakan semuanya. Kau akan tahu banyak hal.”
Julia berdiri, menarik napas panjang. 
Satu mobil yang melintas melambat, menekan klakson. Aku melambaikan tangan, mengacungkan jempol, semua oke, tidak perlu dibantu. Mobil itu melaju lagi. Sekarang hampir pukul dua belas, meski matahari terik membakar ubun-ubun, bukit hijau menghampar sejauh mata memandang membuat sejuk suasana. Rerumputan pinggir jalan tol terpangkas rapi, aromanya menyegarkan.
“Aku tidak mau terlibat, Thom.” Julia menggeleng.
“Astaga, kau harus mengantarku. Aku tidak bisa mengemudi dengan kaki pincang.”
Julia menggeleng untuk kesekian kali.
“Baiklah, jika ini yang ingin kauketahui. Aku tidak akan menutupinya.” Aku meremas rambut, setengah sebal menatapanya. “Om Liem melanggar banyak regulasi, itu benar. Dia ambisius, memanfaatkan banyak koneksi untuk memuluskan bisnisnya, dan begitu banyak kejahatan lainnya, itu benar. Dia jelas bedebah. Tapi aku baru semalam menyadari kalau ada yang keliru dengan rencana penutupan Bank Semesta. Ada bedebah yang lebih jahat lagi di luar sana. Om Liem sudah berjanji akan mengganti seluruh uang nasabah, tidak akan mengunyah satu perak pun uang mereka. Tapi aku butuh waktu untuk menghukum orang-orang di balik semua ini. Berikan aku waktu dua hari. Aku punya rencana, kami tidak akan tertangkap. Kau hanya perlu bersabar, membantuku, maka dua hari berlalu, kau akan mendengar seluruh cerita, penjelasan. Bahkan boleh jadi kau bisa merangkaikan sendiri banyak hal tanpa perlu kuceritakan lagi. Percayalah. Setidaknya percayalah dengan Thomas, janji seorang petarung.”
Aku memegang lengan Julia.
“Nah, kau bersedia mengantarku segera ke Waduk Jatiluhur? Waktu kita terbatas, aku khawatir mereka lebih dulu tiba, dan semuanya menjadi berantakan.”
Julia masih menatapku ragu-ragu---bahkan antusiasme mengemudi mobil balap barusan hilang hanya karena kalimat pendekku menjawab pertanyaannya. “Kita ke tempat persembunyian Om Liem.”
Aku menghela napas. “Baiklah, akan kuceritakan kau sepotong kejadian masa lalu. Kaudengarkan baik-baik. Setelah ini, terserah kau mau membantuku atau tidak. Tapi jika kau memutuskan membantu, ini terakhir kali aku bercerita hingga hari Senin. Setelah ini, jangan banyak bertanya lagi. Kau paham, Julia?”
Gadis itu tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Hanya bersiap mendengarkan.
***
Dua puluh tahun lebih, di masa silam.
BRAK! Suara keributan di halaman rumah terdengar. 
“Kapan, Koh? Kapan? Sudah enam bulan!” Terdengar teriakan marah. 
“Iya, kapan? Kalau begini terus, kami lebih baik mengambil semua uang kami.” Seruan-seruan lain menimpali, tidak kalah galak.
Papa berusaha menjelaskan. Dipotong lagi. Teriakan-teriakan marah. Mereka memukul-mukul meja-kursi, mulai tidak terkendali.
Aku takut-takut melangkah ke depan. Opa mengikuti di belakangku. Menelan ludah melihat halaman rumah, cepat sekali, ternyata sudah ada puluhan orang berkumpul. Dua kali lebih banyak dibanding setengah jam lalu.
“Bapak-Bapak, Liem saat ini ada di pelabuhan. Dia sebentar lagi akan membawa kabar baik. Bunga uang arisan Bapak-Bapak akan segera kami bayarkan. Juga buat yang ingin sekalian mengambil pokoknya. Akan kami bayarkan semuanya.” Papa berusaha meningkahi seruan marah.
“Kami ingin kepastian sekarang, Koh. Bukan janji-janji lagi. Sekarang!”
“Iya! Muak kami mendengar janji-janji.”
Aku menelan ludah, mengintip dari balik tirai jendela. 
Enam bulan lalu, setelah hampir dua tahun bisnis keluarga kami melesat cepat, untuk pertama kalinya, sepulang dari gudang, wajah Om Liem terlipat. Dari samar-samar percakapannya dengan Papa dan Opa, aku tahu, salah satu kapal kami tertahan di pelabuhan. Petugas bea cukai menuduh muatan itu ilegal, dan hendak menyitanya. Om Liem berhari-hari mengurusnya, bilang dia mengeluarkan uang besar sekali untuk meloloskan muatan. “Padahal semua dokumen sudah lengkap.” Om Liem mengusap peluh di dahi. “Kau mungkin melupakan beberapa pejabat?” Opa bertanya pelan, mendongak menatap langit-langit. “Tidak, semua pihak sudah mendapatkan bagiannya. Tidak ada yang tertinggal.” Om Liem menggeleng. Mama dan Tante Liem datang menghidangkan ginseng hangat, menghela napas prihatin.
Dan hanya soal waktu, berbagai masalah datang beruntun. Kapal-kapal itu entah apa pasal, mendadak rusak di perjalanan, pengiriman tertunda berbulan-bulan; ditemukan barang selundupan (kali ini petugas bea cukai meminta uang sogok yang besar sekali), pencurian kargo di pelabuhan (petugas kejaksaan justru menuduh kami yang mengada-ada), hingga puncaknya, salah satu kapal kebanggaan keluarga tenggelam (menurut kapten kapal, kejadiannya cepat sekali, kapal tiba-tiba sudah miring). 
Tidak terbilang kerugian. Belum lagi uang yang dihabiskan untuk menyumpal petugas, jaksa penuntut terkait kasus-kasus baru yang muncul susul-menyusul. Sengketa lahan gudang (entah kenapa tiba-tiba ada akta tanah kembar), penjelasan atas sekarung benda haram (ganja) di gudang kami. Semua kejadian sial itu membuat bisnis keluarga tersumbat. Maka hanya soal waktu, pembayaran bunga dan bonus untuk peserta arisan tersendat, kerugian menggerogoti modal. Enam bulan berlalu, anggota arisan mulai tidak sabaran, menuntut uang mereka dikembalikan.
“Bapak-Bapak, salah satu kapal kami akan segera merapat di pelabuhan. Liem sedang mengurusnya. Jika barang-barang itu tiba, kami bisa segera mendapatkan uang. Harap bersabar.”
“Bersabar sampai kapan, Koh?”
“Setidaknya sampai siang ini. Kami mohon pengertiannya.”
“Kenapa Kokoh tidak menjual gudang-gudang atau rumah ini saja untuk membayar uang kami?” Seseorang berseru, segera ditimpali teriakan setuju yang lain.
Papa menggeleng, wajahnya terlihat tegang. Orang-orang yang berkumpul di depan rumah sudah ratusan. Dan semakin lama, semakin terlihat bengis. Bukan hanya anggota arisan yang datang, kabar kesulitan membayar bunga arisan membuat orang-orang lain berkumpul ingin tahu. Juga terlihat sekelompok wajah-wajah garang, aku mengenalinya, mereka preman. Mereka ribut menurunkan papan nama “Arisan Keluarga Edward-Liem”. Berteriak-teriak memanasi situasi. 
Apa pula urusan mereka? Bukankah beberapa hari lalu Paman Edward juga bilang, “Sebenarnya hanya segelintir dari anggota arisan yang memaksa uang mereka dikembalikan. Yang lain masih bisa bersabar. Percaya kita bisa mengatasi masa-masa sulit ini.”
Aku menghela napas lega, lima belas menit kemudian datang dua truk polisi. Mereka bersenjata lengkap. Sigap loncat dari truk. Langsung memblokade depan rumah. Aku tahu komandan pasukannya, Letnan Satu Wusdi. Dia sering diundang dalam acara pesta-pesta Papa. 
“Selamat pagi, Koh.” Letnan polisi itu menyapa Papa. Dia datang ditemani salah satu pejabat muda kejaksaan kota kami, aku juga kenal, namanya Tunga, juga kolega dekat Papa dan Om Liem. “Situasinya sepertinya memburuk, Koh?” Tunga tersenyum. 
Papa mengangguk, mengembuskan napas panjang.
“Kau tidak perlu cemas.” Opa mengelus rambutku. “Setidaknya dengan ada petugas, massa tidak akan bertindak nekat. Om Liem akan segera membawa kabar baik.” 
Aku mengangguk. 
“Kau tidak jadi mengantar botol susu?” Opa mengingatkan. 
Aku menepuk jidat, segera berlari kecil ke belakang. Mama sempat membantuku menaikkan botol susu ke atas keranjang sepeda. “Hati-hati.” Dan entah kenapa Mama sempat mencium dahiku. Tersenyum lembut. Aku menyengir, segera mengayuh, menerobos kerumunan yang meski semakin keras berteriak, tidak berani melewati barikade petugas.
Sementara di rumah, aku tidak tahu Papa sedang melakukan negosiasi dengan petugas.
“Aku cemas mereka tidak bisa bersabar lagi.” Papa mengusap dahi.
“Tenang saja, Koh. Anak buahku akan menjaga seluruh rumah.” Wusdi menenangkan.
“Semua bisa diatur, Koh.” Tunga manggut-manggut.
Papa dan Opa tersenyum kecut. Mereka benar-benar mengandalkan dua orang ini untuk mengurus banyak hal belakangan. Meski semua justru semakin berlarut-larut dan rumit.
“Aku lihat di antara kerumunan lebih banyak yang bukan anggota arisan.” Papa mengeluh.
“Mereka sepertinya bahkan membawa senjata tajam.” Opa ikut mengeluh.
Wusdi tertawa kecil. “Jangan cemas. Paling juga mereka hanya tertarik melihat keramaian.”
Tunga ikut tertawa kecil. “Biasalah. Kokoh harusnya tahu sekali, urusan seperti ini selalu mengundang perhatian.”
Sementara aku mengayuh sepeda, melintasi gang, jauh meninggalkan rumah. Mengantar susu. Aku tidak tahu saat itu dering telepon terdengar di rumah.
Papa sedikit tersentak. “Itu pasti kabar baik dari Liem.”
Semua kepala menoleh, Papa meraih telepon genggam, semua kepala menunggu.
Papa berbicara sebentar. “Apa?”
Gagang telepon jatuh. 
Mama mendekat. “Apa yang terjadi?”
“Ka… kapal itu sudah merapat.” Papa terbata-bata.
“Bukankah itu kabar baik?” Tante Liem bertanya.
Papa menggeleng. “Kapal itu merapat dengan seluruh muatan terbakar.”
Mama berseru pelan, meraih pegangan di dinding.
Wusdi bergumam pelan dengan wajah penuh simpati. “Situasi ini rumit sekali, Koh. Sungguh rumit…. Sekali saja massa di luar tahu kabar buruk ini, mereka bisa mengamuk.”
Opa terdiam. Mengusap kepalanya yang setengah botak.
Tunga ikut berkomentar. “Kami ikut menyesal mendengar kabar ini, Koh. Tapi sidang pengadilan tentang barang selundupan dan ganja akan segera dilakukan siang ini. Dengan kabar buruk ini, akan banyak pihak yang berebut menjatuhkan keluarga kalian. Ada banyak petugas yang harus disumpal mulutnya. Celakanya, kalian pasti tidak punya uang lagi.”
Opa semakin terdiam.
“Bakar!” Terdengar teriakan dari luar.
“Bakar!” Yang lain menimpali.
“Apa yang harus kami lakukan?” Papa memegang lutut Wusdi.
Wusdi dan Tunga terdiam sejenak, menyeringai.
Wusdi bergumam lagi. “Anak buahku bisa saja menahan massa. Membubarkan mereka, tapi massa di luar perlu jaminan kalau uang mereka akan dibayarkan.”
Tunga ikut bergumam. “Kami bisa saja menarik seluruh tuntutan, tuduhan. Tapi semua itu butuh biaya.”
“Apa saja… apa saja yang bisa memastikan keluarga kami tidak diganggu. Akan aku tebus.” Papa mulai panik, massa di luar mulai merangsek ke dalam.
Wusdi dan Tunga menyeringai, saling lirik sebentar.
“Baiklah, apakah Kokoh bisa menyerahkan seluruh sertifikat rumah dan tanah. Dengan menunjukkan itu pada massa di luar, menjanjikan mereka akan dibayar dengan menjual harta keluarga kalian, mereka mungkin bisa dibubarkan.” Wusdi berkata arif.
“Juga surat-menyurat perusahaan, gudang-gudang, kapal. Biarkan kami yang pegang, dengan itu akan terlihat itikad baik keluarga kalian menyelesaikan masalah. Aku bisa membujuk jaksa kepala untuk membatalkan tuntutan. Menghilangkan bukti-bukti.” Tunga ikut berkata bijak.
Papa dan Opa saling tatap sejenak. Mama sambil terisak berusaha bangkit dari jatuhnya.
Lima menit, semua berkas itu sudah masuk ke dalam tas-tas Wusdi dan Tunga.
“Sekarang biarkan kami mengurus mereka.” Wusdi berdiri, menyalami Papa.
Tunga tersenyum mantap. “Kalian tidak perlu ke mana-mana. Semua masalah sudah selesai.”
Mereka melangkah ke halaman rumah. Teriakan-teriakan marah terdengar dari pintu yang setengah terbuka. Sudah hampir dua ratus massa memenuhi halaman.
Aku sungguh sudah jauh sekali dari rumah. Mulai menurunkan satu per satu botol susu pesanan tetangga. Menyapa mereka sambil berlari-lari kecil.
“Lapor Komandan, apa perlu kami memberikan tembakan peringatan untuk membubarkan massa.” Salah satu sersan mendekati Wusdi dan Tunga.
“Tidak perlu. Perintahkan seluruh anak buahmu kembali ke markas.” Wusdi menjawab santai.
Dahi sersan polisi itu terlipat, tidak mengerti. “Bukankah kita seharusnya justru meminta tambahan petugas, Komandan?”
“Tidak perlu, Sersan. Jangankan membayar uang arisan, keluarga ini bahkan tidak bisa membayar seperak pun upahmu berjaga-jaga siang ini di rumah mereka. Kapal mereka terbakar di pelabuhan.” Tunga menepuk bahu sersan polisi itu.
Sersan polisi itu terdiam. Tidak mengerti.
Kedua orang itu santai menaiki mobil, perlahan membelah massa yang beringas. Wusdi menurunkan kaca, memberikan kode ke gerombolan preman. Tunga di sebelahnya tertawa menepuk-nepuk tas penuh berkas berharga.
“PRANG!”
Aku mengerem sepeda sekuat tenaga, seekor kucing melintas di gang. 
Hari itu umurku enam tahun. 
Hari itu Papa dan Mama terpanggang nyala api. Rumah besar kami dibakar massa. Opa dan Tante Liem, dibantu tetangga yang berbaik hati berhasil melarikan diri. Om Liem yang kembali dari pelabuhan dua hari kemudian hanya termangu melihat puing-puing. Aku yang pulang dari mengantarkan botol susu menangis berteriak-teriak melihat asap mengepul dari kejauhan. Beberapa tetangga mencegahku pulang ke rumah. Masih banyak gerombolan tidak dikenal yang menunggui rumah. Hari itu keluarga kami kehilangan semuanya.
***
“Kau tahu, Julia. Sejak hari itu aku membenci Om Liem. Dialah yang penyebab semuanya. Omong kosong arisan berantai keluarga Edward-Liem. Aku tidak mau terlibat dengan perusahaannya, tidak mau dekat-dekat dengannya. Aku pergi dari rumah. Tinggal di sekolah berasrama, dengan makanan dijatah, kamar tidur sempit. Aku membencinya dua puluh tahun lebih. Bahkan satu hari lalu aku tetap tidak peduli dengan Om Liem. Aku tahu skandal Bank Semesta, penyidikan oleh bank sentral, polisi, dan kejaksaan. Hancur-lebur semua konglomerasi yang dia miliki, aku tidak peduli. Masuk penjara ribuan tahun, aku tidak peduli.
“Tetapi tadi malam, saat orang kepercayaan Om Liem menjemputku di hotel, pukul dua dini hari, di dalam mobil Ram menyebutkan nama petinggi kepolisian dan pejabat kejaksaan yang menyidik kasus Bank Semesta. Aku mengenali nama itu. Nama kedua bedebah itu. Kau pernah bertanya padaku, apakah aku anak muda yang pintar, kaya, punya kekuasaan dengan kepribadian ganda? Penuh paradoks? Kau keliru, Julia. Aku adalah anak muda yang dibakar dengan dendam masa lalu. Jiwaku utuh. Seperti berlian yang tidak bisa dipecahkan. Aku selalu menunggu kesempatan ini.
“Apakah hidup ini adil? Papa-Mama mati terbakar. Dua bedebah itu menjadi orang penting di negeri ini. Satu menjadi bintang tiga kepolisian, hanya soal waktu dia jadi kepala polisi. Satunya lagi jaksa paling penting dan berpengaruh di korpsnya, hanya soal waktu menjadi jaksa agung. Aku kembali, Julia. Sejak tadi malam aku memutuskan kembali ke keluarga ini. Aku akan membalaskan setiap butir debu jasad Papa-Mama. Berikan aku waktu dua hari, kau bisa menulis semuanya. Aku punya rencana. Aku bukan lagi anak kecil enam tahun yang berlari-lari mengantar susu. Akulah bedebah paling besar dalam cerita ini. Jadi apakah kau mau membantuku atau tidak, terserah kau.”
Jalanan tol lengang. Julia menatapku lamat-lamat, tidak menjawab.
Aku menghela napas pelan, dengan kaki pincang, melangkah perlahan, kembali ke mobil. Di kejauhan seorang anak terlihat menggembalakan beberapa ekor kambing di lereng bukit menghijau. Suara kambing mengembik terdengar samar di antara lesatan mobil-mobil melintasi jalan tol. Dengan tumit yang masih ngilu, aku akan memaksakan diri mengemudi.
Tetapi ternyata Julia belari kecil meraih lenganku.
Aku menoleh.
“Aku akan membantumu, Thom.” Gadis itu mengangguk mantap.
*bersambung

Selasa, 03 Oktober 2017

Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Episode 10 : Alarm Kebakaran Palsu
---------------------------------------------
AKU baru saja membuka dokumen yang memuat daftar deposan terbesar Bank Semesta, melingkari begitu banyak data menarik saat telepon di meja kerjaku berbunyi.
“Ada yang ingin menemuimu, Thomas.” Itu suara Maggie.
“Siapa?” Aku tertegun sejenak, ini hari Sabtu. Aku tidak pernah bilang ke siapa pun kalau masuk kantor hari ini---meski ada banyak penghuni gedung yang lembur di hari Sabtu.
“Mana aku tahu. Dia tidak bilang.” Maggie menjawab ketus.
“Bilang aku sibuk. Suruh dia datang kembali minggu depan, atau tahun depan.” Aku mencoba bergurau, sepertinya tugas menumpuk yang kuberikan pagi ini pada Maggie membuat mood buruknya kambuh.
“Itu dia, Thom. Percuma. Orangnya sudah menuju ke ruanganmu. Tadi aku berusaha mencegahnya, dia malah melotot galak. Nenek lampir.” Ternyata bukan tugasku yang membuat Maggie kesal.
Pintu ruanganku diketuk.
Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Aku meletakkan gagang telepon. Apakah hari ini orang mulai lupa sopan santun bertamu? Baru semalam, Ram dan sopirnya merangsek ke kamar hotel, membangunkanku dini hari buta. Sekarang ada lagi tamu yang..., gumamanku lenyap, tamu itu bahkan sudah mendorong pintu ruangan.
“Kau bisa saja membohongi wartawan dan editor lain, Thom. Tetapi tidak padaku.” Gadis itu sudah memasuki ruangan, langkah kakinya sigap, menatapku tajam.
“Julia?” Aku menepuk dahi. “Apa yang sedang kaulakukan di kantorku?”
“Mereka boleh saja bodoh, tidak tahu siapa kau sebenarnya, Thom. Tetapi aku tidak, aku sekarang tahu siapa kau.” Julia berhenti persis di ujung meja, menyibak rambut panjangnya, ekspresif melemparkan satu bundel dokumen. “Seluruh resume tentang kau hanya menulis Thomas, bapak-ibunya meninggal sejak kecil, tidak diketahui siapa nama mereka. Thomas dibesarkan sekolah berasrama sejak usia enam tahun. Sisanya gelap. Thomas murid paling cemerlang yang dimiliki sekolah, aktif dalam banyak kegiatan, menunjukkan minat yang besar terhadap ekonomi, politik, dan psikologi manusia, melanjutkan ke universitas ternama, tapi tidak ada yang tahu riwayat keluarganya, Thomas yang bla-bla-bla.”
Aku masih menatap Julia, setengah bingung kenapa dia ke kantorku? 
“Lantas bagaimana kalau kau kupanggil dengan ‘Tommi’, hah?” Julia bersedekap, tersenyum sinis. “Apakah panggilan itu bisa menjelaskan banyak hal? Tommi, cucu laki-laki satunya dari keluarga Liem-Edward. Tommi, keponakan langsung dari Om Liem. Namamu memang tidak ada di mana-mana dalam grup besar itu, juga dalam daftar pemegang saham Bank Semesta, tapi jelas kau adalah related party, kesaksian, pendapat profesional, dan sebagainya, menjadi sampah bila itu datang dari pihak terafiliasi. Tidakkah kau diajari soal itu di sekolah bisnis, Tommi?”
Aku menelan ludah, menatap wajah cantik Julia yang seperti habis memenangkan undian berhadiah sebuah pulau pesiar. “Dari mana kau tahu?” 
“Anggap saja wartawan dengan predikat terbaik ini sejak turun dari pesawat besar itu telah mengerjakan PR-nya dengan baik, Tommi. Memasukkan namamu di mesin pencari internet, percuma, tidak ada sejarah hidupmu. Membongkar seluruh berita-berita lama di pusat dokumentasi kami juga sia-sia, catatan masa kecilmu seolah biasa-biasa saja, sama dengan ribuan lulusan terbaik sekolah bisnis lainnya. Tapi aku bisa memperolehnya, belum pernah aku seantusias ini mengobrak-abrik informasi yang ada, termasuk mengancam pembantu di rumah Om Liem misalnya.”
Aku mengusap dahi, terdiam sejenak, mulai mengerti situasinya, lantas tertawa kecil. “Astaga, Julia. Aku baru tahu kalau sejak dari pesawat itu kau begitu menyukaiku.”
Wajah jumawa Julia terlipat. “Maksudmu?”
“Lihatlah, hanya orang yang begitu menyukaiku yang amat penasaran dengan masa laluku, bukan? Jangan-jangan kau menyukaiku sejak pandangan pertama. Kabar buruk bagimu, aku tidak pernah percaya cinta pada pandangan pertama.”
“Tutup mulutmu, Tommi.” Julia melotot, berseru kesal.
Aku tertawa lagi. “Aku benar, kau semakin cantik jika sedang marah.”
Julia hampir saja melepas sepatunya, melemparkannya padaku, tapi sedetik dia menarik napas panjang, berusaha mengendalikan diri, lantas bergaya menarik kursi, duduk di depanku.
“Edisi breaking news kami terbit besok siang, Thom.” Dia menatapku datar, seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya, melupakan marahnya barusan. “Deadline tulisan wawancara itu sore ini. Tetapi aku bisa saja meminta pemimpin redaksi menunggu naskahku hingga detik terakhir sebelum naik cetak tengah malam nanti. Bahkan naskah liputanku tidak perlu masuk ke tangan editor. Bahkan aku bisa meminta perubahan headline dan cover depan. Tidak ada lagi hasil interviumu di pesawat, wajah tampanmu di cover depan. Tidak ada lagi berita tentang krisis dunia, melainkan digantikan dengan liputan yang lebih panas dan aktual.”
Julia diam sejenak, masih menatapku.
“Aku tidak akan main-main lagi, Thom. Kau tahu, sebelum menemuimu di restoran tadi pagi, aku sudah mencari tahu di mana Om Liem. Dia raib. Pihak polisi menolak menjelaskan, mungkin karena mereka malu. Mereka sedang berusaha mati-matian memperbaiki kerusakan sebelum masyarakat luas tahu, berusaha sekuat tenaga menutup-nutupi sebelum hari Senin pengumuman tentang penutupan Bank Semesta dilakukan. Tetapi dari salah satu petugas yang kusumpal dengan uang, aku tahu mereka mengepung rumah Om Liem semalam. Taipan tua itu, pamanmu, kabur seperti orang yang permisi menumpang ke toilet. Kau ada di sana tadi malam, bahkan boleh jadi kaulah yang membantu Om Liem kabur. Ini serius, Thom, aku wartawan profesional, aku tidak sakit hati kau mengolok-olokku di pesawat itu, tapi jika kau tidak mau bicara terus terang apa yang sedang terjadi, edisi breaking news review kami besok akan berisi wajah Om Liem, buronan dan liputan tentang bobroknya Bank Semesta. 
“Wartawan dan editor lain mungkin mengunyah mentah-mentah ceramahmu tadi pagi, tapi aku sama sekali tidak tertarik. Pendapatmu boleh jadi benar, dampak sistemis bisa jadi bukan ilusi, dan bahaya besar sedang mengancam institusi keuangan, bahkan ekonomi nasional, tapi kau tidak dalam posisi pihak independen yang berhak memberikan pendapat. Kau berkepentingan. Jadi sekali lagi, Thom, bicara terus terang padaku, atau media kami akan lebih sibuk membahas tentang bobroknya Bank Semesta, dengan kesimpulan tutup saja segera bank itu, tangkap secepatnya Om Liem di mana pun dia berada, termasuk orang yang membantunya lari tadi malam.”
Julia bahkan tidak menarik napas untuk menuntaskan kalimat ancamannya.
Aku (yang) menghela napas pendek. Sebagai pemain yang baik dalam setiap permainan, aku tahu persis situasiku terdesak. Julia menunggu, dan mata hitamnya tidak berkedip sekali pun. 
Suara dering telepon di meja kerjaku memecahkan senyap.
“Ada apa lagi, Mag?” 
“Situasi darurat, Thom. Sekuriti lobi baru saja meneleponku, bilang ada beberapa polisi berpakaian sipil menanyakan lantai dan ruangan kerjamu. Mereka sudah naik lift.”
Polisi? Aku sudah melempar gagang telepon, bergegas menumpuk dokumen yang sedang kubaca, memasukkannya dalam boks kecil yang sudah disiapkan Maggie.
“Apa yang terjadi?” Julia berdiri, sedikit bingung.
Mereka ternyata cukup tangguh. Aku tidak menjawab pertanyaan Julia. Aku tahu cepat atau lambat polisi akan mencariku. Selain alamat rumah--yang jarang kutinggali, kantor adalah cara terbaik menemukanku. Tanganku cekatan mengangkat boks dokumen.
“Apa yang terjadi, Thom.” Julia berseru sebal didiamkan.
“Aku harus lari, Julia.” Hanya itu jawabanku, bergegas keluar ruangan. 
Maggie menyerahkan dokumen tersisa, menumpuknya di atas boks.
“Kau akan bilang ke mereka, aku tidak masuk kantor hari ini, tidak tahu-menahu, tidak mengerti.” 
Maggie mengangguk, wajahnya tegang.
“Jika mereka terus mendesak, kau telepon pengacara kantor, minta ditemani dalam interogasi.”
Maggie mengangguk, wajahnya berubah pias.
“Tetap berhubungan denganku, Mag. Kau punya nomor telepon genggamku yang tidak diketahui orang lain. Aku akan terus meminta bantuan darimu. Paham?”
Maggie mengangguk, berpegangan dengan partisi ruangan, berusaha menenangkan diri. Situasinya dengan cepat berubah menegangkan.
Aku tidak sempat memperhatikan wajah pucat Maggie, aku sudah melangkah keluar dari kantor, berlari-lari kecil di sepanjang lorong menuju lift.
“Thom, apa yang terjadi?” Julia kesal menyusul, berusaha menahan lariku.
Aku hendak menyuruhnya menyingkir, tapi teriakanku tersumbat, segera balik kanan, dengan cepat menyelinap masuk kantor orang lain. Empat polisi berpakaian sipil persis keluar dari lift, melangkah di lorong. Mereka pasti bergegas menuju kantorku.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Resepsionis kantor tempatku menyelinap bertanya kepadaku, tersenyum.
Aku tidak mendengarkan, menatap empat polisi yang melintas di depanku, hanya dibatasi dinding kaca transparan. Sekali saja mereka menoleh, mereka akan melihatku yang sedang berdiri membawa boks dokumen.
“Mau bertemu dengan siapa, Pak?”
Aku sudah meninggalkan resepsionis---yang sekarang menatapku bingung. Kembali ke lorong gedung menuju lift. Tidak bisa. Dua polisi berpakaian sipil menjaga pintu lift. Mereka sepertinya belajar banyak dari kejadian tadi malam, tidak meninggalkan celah untukku kabur. Juga di tangga darurat, dua polisi menjaga pintunya. Aku mendesah pelan, kembali menyelinap ke kantor orang, bersembunyi sebentar.
“Maaf, ada yang bisa saya bantu, Pak?” Resepsionis kembali bertanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Thom?” Julia juga terus bertanya.
Aku menatap wajah ingin tahu Julia. “Kau mau tahu banyak hal, Julia?”
Gadia itu balas menatapku, bingung, tapi dia mengangguk.
“Kau bantu aku keluar dari gedung ini, maka akan kuceritakan semuanya padamu. Ekslusif. Kau bahkan bisa mendapatkan promosi dari cerita ini.”
Julia berhitung dengan situasi. “Semuanya?”
“Ya, semuanya.”
“Tidak ada yang ditutup-tutupi?”
“Ayolah, Julia. Aku boleh jadi tipikal orang yang tidak kausukai, menyebalkan. Tapi aku selalu memegang janjiku. Kau akan mendengar semuanya. Terserah kau mau menulis apa setelah itu, dunia ini jelas tidak hitam-putih.” Aku berseru jengkel. 
Julia mengangguk. Berpikir cepat, lantas melangkah keluar.
“Mau bertemu dengan siapa, Pak?” Sepertinya resepsionis kantor tempatku menyelinap terlalu banyak menerima pelatihan keramah-tamahan, lagi-lagi dia bertanya dengan wajah penuh senyuman. Tidak merasa aneh melihat kami yang keluar- masuk kantornya sejak tadi.
Sebelum dia sempat bertanya lagi, mendadak suara alarm meraung kencang, membuat senyumnya terlipat. Kencang sekali. Membahana di langit-langit setiap lantai gedung. 
Aku mendongak, bertanya-tanya.
Julia kembali masuk, tersenyum jahat. “Aku barusaja memukul alarm kebakaran gedung, Thom.”
Aku menelan ludah.
Ruangan depan kantor tempatku menyelinap dalam hitungan detik sudah dipenuhi orang-orang yang berlari keluar, berebut---termasuk resepsionis amat ramah itu. Hilang sudah senyum manisnya, dia justru berteriak paling panik. “Kebakaran! Kebakaran!”
“Bergegas, Thom. Kita bisa kabur dari polisi dalam situasi seperti ini.” Julia sudah mengambil sebagian dokumen dalam boks, berlari dalam keramaian menuju tangga darurat.
Genius. Aku akhirnya mengembuskan napas, mengangguk. 
Sepertinya aku telah menemukan teman setara dalam pelarian ini.
***
Meski hari Sabtu, tetap banyak karyawan yang masuk kantor di gedung dua puluh empat lantai itu. Lobi, parkiran, lorong, tangga darurat, segera dipenuhi orang-orang. Dalam situasi seperti ini, tidak mudah mengenali wajah. Aku melewati dua polisi berpakaian sipil yang bingung melihat gelombang orang berlarian. Mereka terpaksa menyingkir. Di lobi ada beberapa polisi lainnya yang berjaga, celingukan, memeriksa, tapi mereka tidak bisa melakukan apa pun, selain justru mengikuti komando evakuasi dari petugas sekuriti gedung.
Julia memimpin jalan---aku mendengus dalam hati untuk dua hal. Satu, untuk jelas-jelas aku lebih tahu arah jalan dan tempat parkir mobilku dibanding dia, karena ini gedung perkantoranku. Dua, untuk sial, saat berdesak-desakan turun tadi, dengan boks penuh dokumen aku terjerembap. Kakiku terkilir. Tidak serius, tapi cukup menghambat kecepatan, membuatku terpincang-pincang menerobos kerumunan.
“Mana mobilmu?” Julia berseru, meningkahi keributan orang yang menonton, orang-orang yang sibuk mendongak, bertanya-tanya di lantai berapa kebakaran terjadi. Suara raungan alarm terdengar hingga jalan, ditingkai suara sirene mobil pemadam kebakaran milik kompleks perkantoran.
Aku menunjuk area parkiran, meraih kunci di saku, sambil satu tangan mengepit boks. Mengeluh, dengan tumit kaki yang masih terasa nyilu, aku tidak bisa mengemudi.
“Kau bisa mengemudi?” aku berseru bertanya.
“Tentu saja bisa.” Julia menjawab kasar, tersinggung.
“Eh, maksudku kau bisa mengemudikan mobil ini.” 
Wajah marahnya segera terlipat, dia mematung sejenak.
Aku sudah melemparkan kunci.
Julia bergumam, entahlah, menyeka pelipis, lantas membuka pintu mobil. Aku melemparkan boks sembarangan, dokumennya berserakan, ikut masuk, mengempaskan punggung di jok berlapis kulit asli.
Lima belas detik berlalu, kami sudah meninggalkan keributan halaman gedung. Berpapasan dengan mobil pemadam kebakaran lain dengan sirene meraung, baru datang dari gardu pemadam terdekat.
Aku melepas sepatu, meluruskan kaki, berusaha memberikan napas ke tumitku yang terkilir. Julia menekan pedal gas lebih dalam, meski dia sedikit gugup dengan interior mobil, termasuk sedikit pucat dengan betapa bertenaganya mobil yang dia kemudikan---mobil seperti terbanting saat digas, gadis di sebelahku itu cepat menyesuaikan diri. Aku belum bisa menghela napas lega. Setelah keributan pulih, petugas tahu alarm itu palsu, Maggie tidak akan bisa menahan lama polisi. 
Telepon genggamku berdering.
“Kau di mana, Thom?” Suara Ram.
“Aku sedang kabur, di mana lagi?” Aku balas berteriak.
Ram tertawa prihatin. “Maaf, Thom. Aku persis di parkiran gedung kantormu, hendak memastikan apakah dokumen Bank Semesta yang kukirim sudah diterima stafmu. Astaga, ramai sekali di sini. Kupikir ada kejadian apalah. Om Liem bersamamu, Thom?”
“Om Liem di rumah peristirahatan Opa, Waduk Jatiluhur. Dia aman di sana.”
Ram bergumam sesuatu, syukurlah, atau thanks God, aku tidak mendengar jelas kalimatnya.
“Kau sudah terima dokumennya?”
“Sudah, Ram.”
“Sudah kaubaca?”
“Astaga, kaudengar, Ram, sekarang bukan waktunya bercakap-cakap. Hubungi aku kalau ada kabar penting saja.” Aku segera mematikan telepon genggam, menghela napas panjang, kupikir tadi telepon dari siapa lagi atau kejutan baru lagi.
“Ini hebat, Thom.” Julia berseru dari belakang kemudi.
Aku menoleh.
Gadis itu seperti lupa kalau dia baru saja mengancamku di ruangan kerja, atau baru saja lari dari polisi yang hendak menangkapku. Sekarang wajahnya antusias, tangannya kokoh memegang kemudi.
“Mobil ini ada asuransinya, kan?” Julia balas menoleh, menyengir. “Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak ngebut, Thom. Kalau sampai menabrak sesuatu, aku tidak bisa menggantinya.”
Aku balas menyengir. Mobil melesat menyalip tiga kendaraan sekaligus di jalan protokol Jakarta. Julia tidak bohong, dia pandai mengemudi.
“Sayangnya mobil hebatmu ini tidak ada GPS-nya, Thom. Apa susahnya kau membeli sistem navigasi yang hebat, jadi kita bisa tahu jalan mana saja yang harus ditempuh, tahu jalan mana saja yang macet. Apa gunanya mobil sehebat ini kalau kau tidak bisa ngebut?”
“GPS?” Aku bertanya, tiba-tiba merasa ada sesuatu yang salah telah kulakukan.
“Iya, GPS, Thom. Global positioning system, sistem navigasi sekaligus alat tracking. Kau sepertinya bukan anak muda yang suka gadget, Thom.”
Aku mengutuk Julia dalam hati, tentu saja aku tahu apa itu GPS. Pertanyaanku retoris, karena aku sedang mengingat kekeliruaan apa yang telah kulakukan selama kabur semalam.
“Ada dua jenisnya, Thom. GPS untuk navigasi atau tracking. Hari ini, jangankan mobil mahal, truk untuk operasional tambang, truk peti kemas, mobil boks kurir, bus, ambulans, bahkan taksi, semua dilengkapi GPS. Setidaknya GPS tracking untuk mengetahui posisi mereka di mana, demi efisiensi dan alasan keamanan armada, Thom.” Julia sebaliknya terus menjelaskan, menganggap seringai burukku tanda tidak mengerti.
Aku benar-benar mematung.
“Ke mana tujuan kita, Thom?” Julia bertanya, antusias menyalip lagi deretan mobil, dia bahkan berani mengambil marka jalan sebelah kiri, membuat pejalan kaki berteriak mengacungkan tinju.
Astaga, aku sungguh telah melakukan kesalahan besar. Apa kata Julia barusan? Ambulans? Aku tahu GPS tracking. Benda kecil berbentuk chip itu dibenamkan di jendela, pintu, atau bagian tertentu mobil, lantas memancarkan sinyal secara kontinu untuk memberitahu posisi mobil. Satelit menangkap data itu, sehingga pemilik mobil bisa dengan cepat membaca di mana saja armada kendaraan yang mereka miliki berkeliaran di jalan. Aku menepuk dahi. Rumah sakit yang mengirimkan ambulans untuk Om Liem tadi malam pastilah memiliki mekanisme ini. Ambulans.
“Kita sekarang ke mana, Thom?” Julia bertanya lagi.
“Tol, masuk pintu tol keluar kota.” Aku mendesis. Suaraku bergetar oleh kecemasan. 
Sekali saja polisi mendatangi rumah sakit, sekali saja mereka meminta data posisi ambulans milik mereka yang dilarikan semalam, dengan segera mereka tahu posisi Om Liem.
“Ngebut, Julia!” Aku menyuruh.
“Kau serius?” Julia tertawa.
“Aku lebih dari serius, Julia! Ngebut sebisamu, jangan pedulikan banyak hal. Mobil ini dilindungi asuransi berkali-kali lipat nilainya.”
Julia mengangguk mantap, rahangnya mengeras. Dia menekan pedal gas lebih dalam. Seperti peluru yang ditembakkan, mobil yang dikemudikan Julia melesat menaiki fly over, langsung menuju pintu tol.

Senin, 02 Oktober 2017

Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Episode 9 : Bahaya Dampak Sistemis
---------------------------------------------
“HALO, Thomas.” Salah satu wartawan senior halaman ekonomi surat kabar harian dengan oplah paling tinggi di Indonesia berdiri, menyambutku, diikuti beberapa wartawan lain.
“Maaf, terlambat dari jadwal.” Aku menyapa peserta pertemuan di ruang privat salah satu restoran elite kota Jakarta, menarik kursi kosong, bergabung. Sabtu, pukul 09.05. Sisa waktuku tinggal 46 jam, 45 menit hingga hari Senin pukul 08.00.
“Hanya terlambat lima menit, Thom.” Dia tertawa. “Asal yang dijanjikan stafmu lewat telepon benar, ada rilis berita besar, menunggu lima jam kami tidak keberatan.”
Aku balas tertawa, terkendali.
Tere Liye : Negeri Para Bedebah

“Astaga, Thom, kau kusut sekali. Jangan-jangan kau tidak mandi sejak pulang dari London kemarin sore.” Wartawan televisi nasional gantian menepuk pundakku.
“Boleh jadi. Dia jelas masih memakai kemeja yang sama saat di pesawat.”
Hei, aku mengenali suara itu. Julia, lihatlah, gadis dengan predikat wartawan terbaik salah satu review mingguan itu duduk di salah satu meja. Terlihat cantik dengan kemeja cokelat. 
Aku kali ini tertawa, lepas.
“Saat di pesawat?” Wartawan tabloid ekonomi lain ikut menimbrung percakapan. “Kau satu pesawat dengannya dari London, Julia?”
“Ya, dan itu perjalanan paling menyebalkan selama hidupku.”
Sembilan peserta pertemuan lain sepertinya tertarik dengan kalimat Julia, memasang wajah ingin tahu. Aku melambaikan tangan, masih tertawa kecil. “Come on, kalian ke sini bukan untuk mendengar tentang itu, bukan? Nantilah, kalau situasinya lebih baik, Julia akan berbaik hati menjelaskan bagaimana mungkin pengalaman pertamanya naik pesawat terbesar, menghabiskan sepiring kaviar, dan meminta apa saja yang ada dalam daftar menu pramugari menjadi sebuah perjalanan yang menyebalkan. Sekarang aku akan memberi kalian kabar yang hebat. Kalian wartawan, editor, media massa pertama yang mendengarnya. Kabar hebat yang sekaligus mengerikan.”
Peserta pertemuan kembali sempurna menatapku. Satu-dua mengeluarkan alat tulis atau perekam.
Aku tersenyum, menatap peserta pertemuan. Maggie sepertinya mengerjakan PR-nya dengan baik. Dia berhasil mengundang seluruh media massa besar dan berpengaruh. Bahkan bergabung tiga pengamat perbankan, keuangan, dan ekonomi nasional yang tulisannya sering memengaruhi opini publik.
Peserta pertemuan menungguku, gemas melihatku yang tersenyum.
“Otoritas bank sentral akan menutup Bank Semesta.” Aku akhirnya membuka mulut.
Gerakan tangan mereka terhenti.
“Astaga? Kau tidak sedang bergurau, Thom?” Salah satu kepala editor media online menepuk dahi. “Maksudku, walaupun kita sudah lama mendengar Bank Semesta masuk ruang gawat darurat bank sentral, berada dalam pengawasan ketat, kabar ini tetap mengejutkan.”
“Aku tidak bergurau. Sumberku valid. Seratus persen yakin. Sama dengan seratus persen aku yakin kalau itu keputusan yang salah. Sama dengan seratus persen aku akan menjadi orang pertama yang menentangnya.” Kalimatku terdengar datar, dengan intonasi terjaga. “Dalam situasi kacau-balau dunia, krisis subprime mortgage, institusi keuangan kolaps di mana-mana, menutup Bank Semesta sama saja membawa mimpi buruk itu dengan pesawat VIP tercepat ke negeri ini. Satu saja bank atau lembaga keuangan kita ditutup, maka bagai barisan kartu remi, yang lain pasti menyusul roboh. Ini jelas bahaya dampak sistemis.”
Akulah orang pertamya yang menyebut dua kata ajaib itu: dampak sistemis. Dua kata yang akhirnya memenuhi langit-langit perdebatan negeri ini berbulan-bulan ke depan, bahkan dalam toilet gedung anggota dewan sekalipun.
***
“Lehman Brothers rugi hingga 3,9 miliar dolar sebelum mengumumkan pailit 15 September, belum habis kabar mengejutkan itu dibahas di media massa, institusi keuangan Amerika lainnya menyusul. Merril Lynch tumbang, Citigroup, Fannie Mae & Freddie Mac mengalami kesulitan keuangan, bahkan AIG, grup keuangan besar dan tua Amerika diujung vonis kematian jika tidak diselamatkan pemerintah. Tidak terbayangkan kekacauan yang terjadi di belahan dunia sana, dan itu tidak berhenti di sektor keuangan. General Motors, Ford, Chrysler mendaftarkan kebangkrutan, puluhan ribu karyawan dirumahkan, tidak terhitung sektor real merumahkan karyawannya. Krisis ini nyata, bukan sekadar angka-angka pengangguran, angka-angka pertumbuhan ekonomi nasional yang negatif. 
“Kita sedang membicarakan sesuatu yang mengerikan, bahaya dampak sistemis. European Central Bank (ECB) mendefinisikannya sebagai wide systematic shocks which by themselves adversely affect many institutions or markets at the same time. In this sense, systemic risk goes much beyond the vulnerability of single banks to runs in a fractional reserve system. Aku menyederhanakannya dengan definisi, satu kejadian yang sekali pukul membuat runtuh semua keseimbangan, bahkan bisa membuat hilangnya kepercayaan terhadap sistem keuangan dan perekonomian nasional....”
“Maaf, menyela.” Julia mengangkat tangan---ini sudah yang kedua kalinya dia menyela kalimatku sejak setengah jam lalu. “Semua yang kausebutkan itu terjadi ribuan kilometer dari kita, fundamental dan situasi perekonomian kita jelas berbeda. Bagaimana mungkin?”
“Julia, aku tahu kau masih punya banyak energi untuk mendebatku sejak kejadian di pesawat.” Aku segera memotong kalimat Julia. “Kau lupa satu fakta kecil, Julia. Dua puluh empat jam lalu, kita masih di London, bukan? Pagi ini kita sedang menghabiskan segelas kopi nikmat di Jakarta. Bahkan dunia ini telah terkoneksi secara fisik, Julia. Jarak bukan masalah. Apalagi dalam sistem keuangan dunia, uang yang kautabungkan di Bank Semesta, anggap saja kau punya tabungan di sana, berputar hingga ke Lehman Brothers dan Merril Lynch. Uang yang dimiliki investor kecil di Surabaya misalnya, berpilin hingga New York bahkan New Delhi. Sistem keuangan dunia lebih rumit bahkan dibanding jaringan internet.
“Dan bicara dampak mengerikan, peduli setan dengan fundamental ekonomi suatu negara. Kau tahu, dua hari setelah Lehman Brothers menyatakan bangkrut, 150 miliar dolar ditarik serentak dari pasar uang Amerika. Jumlah yang setara dengan seluruh utang nasional kita. Kau tahu berapa total kehilangan aset pensiun Amerika? Jumlahnya mencapai 1,3 triliun dolar. Itu belum termasuk aset simpanan dan investasi, aset retirement, totalnya nyaris 8,2 triliun dolar. Kau tahu, selama 2007-2008, penduduk Amerika kehilangan seperempat kekayaan mereka, berapa jumlahnya? Ratusan triliun dolar. Kita hidup dalam jaringan keuangan yang kait-mengkait, harusnya kau diajarkan soal itu di sekolah bisnis.”
Ruangan privat restoran dipenuhi tawa kecil. 
Wajah Julia berubah merah-masam. Dia masih mengacungkan tangannya. “Tetapi Bank Semesta hanya bank menengah, kau juga tahu itu. Namanya tidak pernah masuk dalam daftar sepuluh besar bank. Menurut data yang kumiliki, jumlah uang yang mereka kelola tidak sampai 4 persen dari seluruh uang perbankan nasional.”
Aku menatap tajam Julia. “Baik. Aku berikan kau satu contoh kecil, Northen Rock Bank. Dari sisi aset, jumlah nasabah, kapitalisasi, NRB, sebenarnya bank swasta kecil di Inggris. Tapi apa yang terjadi? Saat mereka melaporkan kesulitan keuangan, dalam situasi krisis dunia, dengan cepat kejadian ini menjadi sorotan publik seluruh Inggris. Antrean panjang nasabah yang bergegas mengambil uangnya di bank ini menjadi tontonan buruk semua pemirsa televisi. Penduduk Inggris panik, untuk pertama kalinya dalam 140 tahun terakhir, perbankan Inggris kacau-balau. Bank of England, bank sentral Inggris akhirnya menasionalisasi NRB, setelah berbagai pinjaman darurat tidak membantu, mereka juga terpaksa melakukan rekapitalisasi di banyak bank swasta lainnya untuk menghentikan kartu remi yang terus roboh tidak terkendali.
“Kita tidak membicarakan kecil atau besar, Julia. Bank yang terletak di pelosok dunia atau di tengah gegap gempita keuangan, sama saja. Kita membicarakan kepanikan, dampak sistemis dalam sistem perekonomian terbuka, membicarakan sektor yang sangat rentan terhadap berita buruk. Kalian wartawan ekonomi, bukan? Coba lihat pasar Surat Utang Negara, SUN, kita, yield SUN naik tajam beberapa bulan terakhir, naik hampir 7 persen, padahal setiap kenaikan 1 persen itu berarti beban biaya bunga tambahan sebesar 1,4 triliun dalam APBN. CDS, credit default swap negara kita juga melonjak tinggi, itu berarti pasar dunia menilai country risk Indonesia tinggi. Belum lagi cadangan devisa turun dua digit persentase dan rupiah menyentuh level 12.000. Astaga, siapa bilang krisis dunia tidak memengaruhi kita? Temporer? Kita bisa bertahan? Aku tidak yakin. Kita membutuhkan semua energi untuk segera keluar dari pengaruh buruk ini, atau kejadian tahun 1998 kembali terulang.”
“Saya setuju soal data-data itu.” Julia kembali menyela. Dia jelas gadis yang tidak mudah menyerah. Julia menunjukkan iPad miliknya---yang pastilah berisi laporan mutakhir perekonomian nasional. “Hanya saja dalam kasus ini, Bank Semesta layak ditutup karena mereka memang melakukan banyak kejahatan keuangan. Mereka melanggar banyak regulasi.” 
Aku melambaikan tangan. “Ayolah, kalimatku belum selesai, Julia. Tentu saja kau punya berita tentang Bank Semesta, rumor kejahatan pemilik bank itu. Tetapi bukankah kalian juga punya data tentang situasi terkini? Indeks saham kita menukik tajam sebulan terakhir, tinggal separuhnya, memangkas nilai pasar puluhan triliun rupiah. Pinjaman antarbank terhenti, kecemasan melanda investor besar hingga retail, dana pensiun, dan perusahaan asuransi kehilangan banyak uang, dan jangan lupakan kemungkinan capital flight besar-besaran. 
“Semua situasi buruk ini hanya butuh satu kabar buruk, satu saja, maka boom, semua meledak, rantai kerusakan telah dimulai. Bank Semesta bobrok, mungkin. Bank Semesta melakukan banyak kejahatan keuangan, boleh jadi. Tetapi menutup bank ini, sama saja dengan membuat kepanikan massal, dan ini jelas bukan sebuah rumor, kemungkinan, atau sebuah kebolehjadian. Kau mau bertanggung jawab atas kemungkinan itu, Julia? Otak cemerlang dan analisis hebat kau mau bertanggung jawab kalau ternyata bahaya dampak sistemis itu benar-benar terjadi? Rush gila-gilaan, belasan bank menengah lain bertumbangan, krisis 1998 terulang dengan skala goncangan lebih tinggi? Kalian, media massa, mau ikut bertanggung jawab?”
Ruangan privat restoran senyap sejenak. Beberapa wartawan menghela napas.
Aku takzim menatap wajah mereka satu per satu.
“Apakah keputusan penutupan Bank Semesta sudah efektif, Thom? Sudah keluar surat keputusan misalnya, mengingat belum ada rilis resmi dari bank sentral.” Shambazy, kepala editor media online bertanya, meletakkan alat tulisnya.
“Belum. Tetapi itu seratus persen akan terjadi jika tidak ada second opinion. Kau tahu sendiri, ada banyak pihak yang bersemangat melihat Bank Semesta ditutup---di luar penyidik kepolisian, kejaksaan, atau otoritas bank sentral yang sudah tidak sabaran sejak mereka menangani kemungkinan fraud di bank ini setahun lalu. Saya hanya sumber informasi confidential. Saya juga hanya menyatakan pendapat profesional, kalian boleh setuju, boleh juga tidak. Di luar sana, boleh jadi lebih banyak pihak yang emosional dan menganggap bahaya dampak sistemis hanya ilusi. Tetapi jika kalian setuju, saatnya membentuk opini yang berbeda. Masih ada waktu, menjadi headline koran besok misalnya. Atau liputan khusus di televisi nanti sore. Atau sebuah kolom opini yang bernas dan membuka mata banyak orang. Atau artikel pendek di media online-mu , Shambazy. 
“Desas-desus ini sudah di tangan banyak pihak. Kalian bisa menggalinya lebih dalam pada pejabat bank sentral, menteri, pejabat tinggi, siapa saja. Dengan begitu, setidaknya kalian akan membantu menahan proses keputusan itu dibuat segera, setidaknya kalian memberikan pertimbangan lain, cover both side, sementara itu aku bisa melakukan negosiasi dengan pihak yang akan memutuskan.” 
“Kau sudah punya angka-angka, Thom? Maksudku, jika pemerintah akhirnya harus menyelamatkan Bank Semesta, berapa jumlah uang talangan yang harus diberikan?” Wartawan lain bertanya.
Aku terdiam sejenak, menelan ludah. “Belum. Aku belum punya datanya. Tapi aku segera akan punya. Kita harus tahu petanya, bukan? Berapa biayanya. Sebagai catatan, pemerintah Amerika menalangai AIG hingga 150 miliar dolar. Itu kecil saja dibandingkan jika seluruh sistem ambruk dan lebih banyak lagi yang harus ditalangi. Bank sentral Eropa juga terpaksa membeli miliaran dolar aset bank bermasalah, tapi itu juga kecil dibandingkan kemungkinan buruknya. Kalian bisa mencari tahu lebih detail soal itu.”
Aku melirik pergelangan tangan, sudah pukul 10.15 menit---pertanyaan barusan membuatku teringat sesuatu, aku memerlukan banyak data sekarang.
“Nah, waktuku sudah habis, aku terpaksa pamit. Aku sudah ada janji lain.”
Peserta pertemuan bergumam, hendak bertanya.
“Maaf, aku sibuk sekali. Tidak ada sesi tanya-jawab seperti biasa.”
“Tentu saja,” salah satu wartawan menyahut, tertawa kecil, “kami tahu jadwalmu bahkan lebih sibuk dibanding presiden, Thom.”
Aku ikut tertawa. “Terima kasih sudah datang dan mendengarkan. Maggie yang akan mengurus tagihan restoran. Selamat siang.” Aku melangkah cepat meninggalkan ruangan privat restoran.
***
Aku menuju kantor setelah pertemuan dengan editor dan wartawan media massa.
Maggie dengan wajah kesal menunjuk tumpukan dokumen di atas meja.
“Kau sudah sortir yang penting atau tidak, bukan?” 
“Belum sempat.” Maggie menjawab ringan. “Bukankah kau sendiri yang bilang, bahkan jika ada sopir taksi yang mengigau tentang Bank Semesta enam tahun terakhir, catat, kumpulkan.”
Aku memasang wajah setengah tidak percaya, “Bukan itu maksudku, Mag. Kau tidak akan membiarkan waktuku terbuang percuma dengan membaca dokumen tidak penting, kan? Astaga, sudah berapa lama kau jadi stafku? Kalimatku tadi pagi itu tidak seharfiah maksudnya.”
Maggie menyengir.
“Kenapa kau malah tertawa?” Aku melotot.
“Tentu saja sudah aku sortir, Thom.” Maggie tertawa menyebalkan, menatap wajah marahku. “Senang saja melampiaskan bangun pagiku di hari libur ke orang lain.”
Aku hampir menimpuk Maggie dengan salah satu binder kertas. 
“Laporan paling akhir Bank Semesta dari staf Ram ada dalam tumpukan. Working paper audit sedang di-print, sebagian sudah ada fotokopinya. Aku masih menunggu beberapa dokumen penting lain. Nah, yang itu, kau tidak akan percaya, Thom, itu dokumen tentang pengambilalihan Bank Semesta oleh Om Liem enam tahun lalu. Kau pasti akan tertarik membacanya. Jangan tanya bagaimana aku memperolehnya.” 
“Kau benar-benar staf yang hebat, Maggie.” Aku menyeringai menatapnya. “Sayangnya aku tidak punya adik laki-laki, boleh jadi sudah kujodohkan.”
“Urus saja perjodohanmu, Thom.” Maggie melambaikan tangan, kembali menatap layar laptopnya.
Aku tertawa. “Aku tidak akan lama di kantor, berapa lama lagi dokumen yang kau print siap?”
“Setengah jam.” 
“Baik, aku akan mempelajari dokumen ini di ruanganku sambil menunggu. Dan ada beberapa lagi yang harus kaukerjakan.” 
Maggie meraih pulpen dan kertas, bersiap mencatat.
“Kirimkan empat tiket konser minggu depan untuk Shambazy. Siapa nama artis yang mau konser itu? Anak-anak remaja Shambazy pasti suka. Kau juga kirimkan surat rekomendasi untuk wartawan televisi yang ikut pertemuan tadi, kalau tidak salah dia mendaftar short course, tidak akan ada sekolah bisnis yang menolak rekomendasiku. Juga untuk salah satu pengamat ekonomi, kauberikan undangan forum ekonomi internasional di Bangkok bulan depan, bilang dia jauh lebih layak dibanding Thomas, kita akan membayar biaya perjalanannya. Juga kauhubungi kampus tempat pengamat ekonomi lainnya bekerja, kita akan menawarkan sponsor riset. Sudah kaucatat? Dan kaucari tahu hadiah apa yang tepat untuk wartawan dan editor lain.”
“Siap, Bos.” Maggie mengangguk.
Aku sudah mengangkat tumpukan dokumen, melangkah menuju ruanganku. Kalian tahu bagaimana cara terbaik menanamkan sebuah ide di kepala orang lain? Lakukan dengan cara berkelas.
*bersambung

Minggu, 01 Oktober 2017

Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Episode 7 : Tempat Teraman Bersembunyi
----------------------------------------------------
“DO you speak english or french?” Aku berdiri, mendekati pramugari yang berjaga di kabin eksekutif, dia sedang bersiap menutup pintu masuk dekat kokpit.
“Both.” Gadis berambut pirang itu tersenyum menawan, gerakan tangannya terhenti.
Aku mengangguk, jika begitu aku akan menggunakan bahasa Prancis.
Tere Liye : Negeri Para Bedebah

“Kami harus turun,” aku berkata dengan intonasi sesopan mungkin. “Saya dokter profesional yang bertugas menemani tuan ini berobat ke Frankfurt. Sayangnya, menurut penilaianku beberapa menit lalu, beliau tidak cukup sehat untuk berangkat, daripada kalian terpaksa mendarat darurat, saya memilih menunda enam atau dua belas jam penerbangan berikutnya.”
Gadis itu berpikir sejenak, senyumnya masih mengembang. 
“Kau pastilah amat menyukai kota Merseilles?” Aku balas tersenyum, mengalihkan perhatiannya. Setidaknya biar dia tidak sempat mengingat bagaimana prosedur baku jika ada kejadian seperti ini.
“Eh, bagaimana kau tahu?” Gadis itu tertarik.
“Bros yang kaukenakan. Kalau tidak salah, itu siluet timbul kastil yang indah. Menghadap langsung ke Laut Mediterania, bukan? Kau pastilah pernah bermimpi suatu saat menghabiskan bulan madu, atau sekadar berwisata bersama seseorang yang spesial di sana.”
Gadis itu tertawa renyah, malu-malu mengangguk.
“Tetapi kenapa kau hanya memasang bros seindah ini di ujung kerah? Sedikit tersembunyi?” 
“Eh, sebenarnya kami dilarang mengenakan aksesori di luar seragam resmi. Itu pelanggaran.” Dia malu-malu mengaku.
Aku mengangguk, memasang wajah bersimpati, bagaimana mungkin hanya sekadar bros tidak boleh---sambil bergumam dalam hati, tipikal pemberontak peraturan, urusan ini lebih mudah lagi. “Bagaimana mungkin bros seindah ini sebuah pelanggaran?”
Gadis itu memasang wajah setuju.
Aku tersenyum. “Maaf, apakah kami bisa turun?” 
“Oh iya. Silakan, aku pikir sepertinya tidak masalah kalian turun.” Gadis itu memberikan jalan.
Aku mengangguk untuk kedua kalianya. “Terima kasih banyak.”
Om Liem patah-patah dengan tongkat melangkah melewati bingkai pintu pesawat.
“Maaf, saya lupa satu lagi.” Dua langkah dari pintu pesawat, aku dengan perhitungan waktu yang terencana kembali menoleh.
“Eh?” Gadis itu menatapku, gerakan tangannya terhenti.
“Kau bisa menolongku sekali lagi?”
“Iya?”
“Istri Tuan ini amat pemarah dan selalu curiga,” aku berbisik, pura-pura merendahkan suara, menunjuk dengan ujung siku Om Liem yang terus berjalan di lorong garbarata. “Kalau saja istrinya tahu kami tertunda enam jam, apalagi dua belas jam, orang tua malang itu habis diomeli. Astaga, kau tidak bisa membayangkan bagaimana istrinya marah.” Aku meniru ekspresi galak seorang wanita tua. “Jadi, demi istrinya yang pemarah itu, tolong catat di manifes penerbangan kalau kami tetap berangkat.” 
Gadis di hadapanku tertawa.
“Kau bisa melakukannya?”
Dia mengangguk.
Aku ikut mengangguk takzim. Melambaikan tangan.
Pintu pesawat ditutup dari dalam. Beberapa petugas ground handling sibuk membantu persiapan take off, aku menjawab pendek saat salah satu dari mereka bertanya kenapa kami tiba-tiba turun. “Double seat, sialan, sistem buruk kalian membuat kami malu.” 
Petugas itu bingung, sedikit gugup memeriksa daftar penumpang di tangannya.
***
Sebelum meninggalkan bandara, aku membeli belasan lembar penerbangan ke luar negeri sepanjang siang nanti, sengaja kudaftarkan atas nama Om Liem. Jika ada polisi yang memeriksa seluruh maskapai, mereka setidaknya akan menemukan sembilan kemungkinan tujuan kami. 
Pukul setengah empat pagi, setelah merobek seluruh tiket, melemparkannya ke dalam tong sampah, aku menyuruh Om Liem kembali naik ke atas ambulans. Tidak, kabur ke luar negeri bukan pilihan terbaik. Lagi pula aku harus berada di Jakarta untuk menyelesaikan masalah ini, aku harus menemui banyak orang.
Mobil ambulans melesat meninggalkan bandara, dengan kecepatan tinggi. 
Aku tahu tempat terbaik menyembunyikan Om Liem.
***
Jalan tol keluar kota lengang. Ambulans yang kukemudikan melesat dengan kecepatan 140 km/jam.
“Jika ini tidak penting, hanya salah satu lelucon kau, besok lusa aku akan membalasnya, Thom.” Maggie, stafku yang paling gesit, paling supel, dan paling setia melapor sudah siap di kantor. Mungkin ini rekor paling pagi dia masuk kantor. Kalian pernah masuk kantor pukul setengah lima pagi?
“Kau segera telepon enam-tujuh wartawan surat kabar, majalah, televisi, berita online, yang sering memintaku menjadi narasumber, kolega pers kita.” Aku mengabaikan keluhan Maggie, mulai mendikte apa yang harus segera dia lakukan, “Kau sertakan juga tiga-empat pengamat ekonomi, kawan dekat, yang sering sependapat dengan kita. Minta mereka berkumpul di salah satu restoran hotel dekat kantor, bilang, kita punya rilis paling rahasia, paling gres tentang kasus Bank Semesta.”
“Jangan tanya detail siapa saja yang harus diundang, Maggie. Ayolah, kau tahu persis harus mengundang siapa. Aku membutuhkan kaki tangan untuk membentuk opini di media massa---meskipun mereka sama sekali tidak merasa telah digunakan.” 
Terdengar suara coretan pulpen di seberang sana.
“Aku tadi sudah menelepon Ram, salah satu stafnya akan mengantarkan setumpuk laporan paling baru tentang Bank Semesta. Kaupastikan menyimpan dokumen itu. Aku akan mampir ke kantor. Aku juga butuh working paper audit Bank Semesta, harus sudah ada di mejaku sebelum pukul dua belas siang.”
“Mana aku tahu caranya.” Aku sekali lagi mengabaikan keluhan Maggie. “Hubungi kantor auditor, cari partner, manajer atau auditornya, mereka pasti lembur hari Sabtu. Aku tahu itu dokumen confidential, astaga, kau ingin mengajariku soal itu? Nah, kalau tidak, pastikan seluruh working paper audit, terutama tentang debitor, rekening deposito, dan aset Bank Semesta tersedia. Kau juga kumpulkan semua berita, artikel, komentar, bahkan jika ada berita sopir taksi bergumam tentang Bank Semesta selama enam tahun terakhir, catat. Cari di internet, surat kabar, database media massa, gunakan seluruh resources yang ada, termasuk jika informasi itu harus dibeli.”
Maggie mengeluh lagi, bilang dia tidak bisa melakukannya sendirian dan secepat itu.
“Kau bisa, Maggie. Inilah poin terpentingnya, kau tidak boleh bilang siapa pun. Kau paham?”
“Nah, sekali urusan ini beres, aku berjanji akan memberikan kau dua lembar tiket berlibur. Terserah kau mau ke mana dan mengajak siapa.”
Aku memutus pembicaraan, mengabaikan seruan riang Maggie, kembali konsentrasi pada kemudi.
Semburat merah muncul di balik gunung. Pemandangan indah dari balik jendela ambulans yang melesat cepat, tapi aku tidak memperhatikan. Kami sudah puluhan kilometer meninggalkan kota Jakarta. 
“Orang tua ini benar-benar keliru selama ini.”
Aku menoleh. Om Liem sedang menatapku datar. Aku pikir dia tertidur, hanya desis pendingin dan suaraku menelepon banyak orang sejak kami meninggalkan bandara tadi yang terdengar di kabin depan ambulans.
“Dua puluh tahun aku berpikir kau membenciku karena kejadian itu, Tommi. Ternyata aku keliru.” Om Liem menghela napas perlahan, antara terdengar dan tidak.
“Kau sesungguhnya membenci diri sendiri, bukan?”
Om Liem menatapku lamat-lamat.
“Itu benar sekali. Lihatlah kejadian sejak pukul dua dini hari tadi. Kau adalah pemikir sekaligus eksekutor yang hebat, Tommi. Pintar, berani, dan pandai memengaruhi orang. Tidak pernah terbayangkan akan jadi apa grup bisnis keluarga kita jika kau yang menjalankannya. Grup ini akan menjadi raksasa mengerikan di tangan seseorang seperti kau. Karena itulah kau membenci diri sendiri.” 
Om Liem menatap semburat merah yang semakin terang.
“Dua puluh tahun kau pergi dari rumah, berusaha menjauhi kami, tidak ingin terlibat, tapi nyatanya kau belajar di sekolah bisnis terbaik, belajar langsung dari muasal kemunafikan. Kau membenci trik, rekayasa, tipu-tipu tingkat tinggi pemilik konglomerasi, eksekutif puncak perusahaan, nyatanya kau mempelajari itu semua, bahkan menjadi penasihat terbaik mereka. Kau berusaha menjadi anak muda yang idealis, dibasuh suci dengan kematian papa dan mamamu, nyatanya kau justru terlahirkan menjadi seorang yang licin bagai belut, penari hebat dalam pertunjukan rekayasa keuangan modern. Orang tua ini keliru, Tommi, kau tidak pernah membenciku, kau selama ini sebenarnya membenci diri sendiri, berusaha mati-matian menjaga jarak, mengendalikan diri agar tidak menjadi sepertiku. Bukankah begitu, Nak?” Mata Om Liem menerawang jauh.
Aku tidak menjawab, melambaikan tangan. “Sudah ceramahnya?”
Om Liem kembali menoleh padaku.
“Kalau sudah, kau seharusnya sekarang tidur, beristirahat.”
Om Liem menggeleng. “Orang tua ini tidak mengantuk, Tommi.”
“Kalau begitu lebih baik tutup mulut, diam. Aku sedang mengemudi.”
Om Liem tertawa pelan. “Kau mirip sekali dengan papamu, Tommi. Selalu terus terang dan jujur meski itu kasar dan menyakitkan. Baiklah, bangunkan aku jika sudah dekat di rumah peristirahatan opamu.”
Aku tidak mengangguk, kembali menatap jalan tol yang lengang. Hanya segelintir orang yang tahu tujuan kami, itu tentu termasuk Om Liem---meski aku tidak memberitahukannya sejak tadi.
*
**
***
Episode 8 : Rumah Peristirahatan
-----------------------------------------
BENDUNGAN Tiga Ngarai atau Three Gorges Dam yang membendung aliran Sungai Yangtze, Cina, luasnya lebih dari 1.000 kilometer persegi. Itu berarti jika lebarnya 10 kilometer, panjangnya 100 kilometer, bayangkan besarnya. Dibangun sejak tahun 1994, bendungan ini membuat 1,3 juta penduduk tergusur. Terlepas dari dana pembangunan yang ratusan triliun rupiah, proyek ini juga harus dibayar dengan ribuan desa, ratusan kota, besar-kecil, kuburan leluhur, lahan pertanian, situs arkeologi, hutan, binatang, semuanya terendam oleh proyek bendungan paling besar dan paling ambisius seluruh dunia. Itu semua untuk 20.000 MW listrik, jutaan hektar irigasi persawahan, kontrol atas banjir tahunan di Sungai Yangtze, serta simbol pembangunan ekonomi dan peradaban besar negara Cina.
Dalam skala yang lebih kecil, seperdua belas dari Bendungan Tiga Ngarai, adalah Waduk Jatiluhur (secara harfiah waduk berarti kolam). Luas “kolam” ini hanya kurang-lebih 83 kilometer persegi. Dibangun sejak tahun 1957, waduk ini adalah yang terbesar di Indonesia. Berapa jumlah penduduk yang harus digusur selama proses pembangunanya? Bayangkanlah sendiri, mengingat lokasi waduk ini termasuk salah satu lahan subur, area pertanian, dengan penduduk yang padat, itu setara dengan menggusur penduduk seluruh kota Palangkaraya, atau Ambon, atau Palu.
Aku tidak peduli soal penggusuran---toh, penguasa saat itu mungkin sambil mengupil menandatangani surat perintah penggusuran. Yang aku peduli, kalian pernah datang ke Waduk Jatiluhur? Rekayasa tangan manusia membuat lembah itu berubah banyak, dan kabar baiknya, dengan hamparan air luas, Waduk Jatiluhur terlihat indah bukan kepalang. 
Mobil ambulans yang kukemudikan memasuki jalan lengang menuju rumah peristirahatan Opa ketika semburat merah matahari memenuhi ufuk timur, kabut masih mengambang di perbukitan, dan permukaan waduk terlihat begitu mengilat memesona. Aktivitas di bungalo, hotel, bar, restoran, perkemahan, water park, dan lapangan tenis mulai menyeruak. Nelayan keramba, petani, pekerja, anak-anak sekolah, dan penduduk setempat juga mulai terlihat sibuk. 
Mobilku terus melaju ke salah satu tepi waduk.
Lima belas tahun lalu, Opa memutuskan membeli tanah seluas dua puluh hektar di sudut paling eksotis waduk, lantas membangun rumah kecil yang nyaman dan menyenangkan. Seperti kastil negeri-negeri Eropa yang bukan saja memiliki halaman rumput luas terpangkas rapi, tapi juga halaman belakang berupa danau yang luas. Seperti ranch peternakan, seperti kebun anggur. Waktu aku masih belasan tahun, aku sering datang ke sini, berkemah, memancing, berburu, mengebut dengan speedboat, atau sekadar bengong duduk di beranda dermaga, menatap senja bersama Opa yang pat-pet-pot memainkan alat musik. Lantas Opa akan mulai bercerita, yang ceritanya itu-itu saja, seperti kaset rusak.
Aku pelan menjawil lengan Om Liem, membangunkan. Ambulans yang kukemudikan persis memasuki gerbang halaman. Lengang, hanya beberapa tukang kebun, yang merupakan penduduk sekitar waduk, terlihat sibuk menyalakan mesin penyiram otomatis, belasan jumlah slangnya, muncrat tinggi-tinggi, membuat halaman seperti dipenuhi hujan lokal.
“Kita sudah sampai?” Om Liem membuka mata.
Aku tidak menjawab, memarkirkan ambulans di halaman belakang yang menghadap waduk. Sepagi ini, Opa pasti sedang duduk menghabiskan secangkir teh hijau sambil berkutat dengan not-not balok.
***
“Kau tidak sarapan sebentar, Tommi?” Opa menatapku arif, tersenyum.
“Ada banyak yang harus kubereskan.” Aku hanya mengantar Om Liem memasuki halaman belakang, langsung bersiap balik kanan. “Mobilku yang lama masih ada?”
“Tentu saja masih.” Opa tertawa. “Tidak ada yang jail belajar mengemudi dengan mobil itu, lantas tidak sengaja justru menenggelamkannya ke waduk.”
Aku ikut tertawa. Opa suka sekali mengenang kejadian lama.
“Opa taruh di garasi, tanyakan pada bujang kuncinya. Ayolah, kita minum teh sebentar, mobilmu itu setidaknya perlu dipanaskan.”
Aku menggeleng, mengangkat pergelangan tangan. “Waktuku tinggal 49 jam 45 menit hingga bank dan kantor-kantor buka pukul 8 hari Senin lusa, Opa. Aku harus bergegas kembali ke Jakarta. Titip dia, sudah terlalu banyak kekacauan yang dia buat, pastikan dia tidak menambahkannya lagi satu.”
Opa tertawa lagi. “Baiklah, Tommi. Terlepas dari aku belum tahu apa yang telah terjadi, aku sebenarnya senang sekali melihat kalian berdua beriringan memasuki halaman rumah beberapa menit lalu, terlihat kompak. Kalian bahkan sudah lama tidak bertemu. Hati-hati, Nak, jangan lupa makan.”
Aku mengangguk, balik kanan menuju garasi mobil yang terpisah dari bangunan induk. Saatnya berganti kendaraan yang lebih memadai, aku butuh mobil tercepat untuk kembali ke Jakarta. 
Opa adalah kolektor mobil yang baik---meski tampilannya bersahaja. Koleksinya tidak banyak, tapi berkelas. Opa paling suka mobil Eropa. Salah satu koleksinya adalah seri merek mobil yang memenangkan Grand Prix Monaco untuk pertama kali. Salah satu bujang mengantarkan kunci. Aku melepas cover mobilku, bersiul. Ini mobil seri kesekian dari merek yang sama. Opa mengoleksinya karena legenda hidup formula satu juga punya. Mobil ini kesayangan Opa. Saking sayangnya, dia jadikan mobil ini sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-17 lima belas tahun silam---perayaan yang justru tidak kuhadiri, ada ujian sekolah. 
Setengah menit, mobil bertenaga itu sudah melesat meninggalkan garasi, melintasi halaman belakang. Opa melambaikan tangan. Aku hanya mengangguk, menyeringai menatap kasihan Om Liem. Satu jam ke depan, selama menemani Opa sarapan, pastilah Om Liem terpaksa mendengar Opa bercerita sambil manggut-manggut sopan.
***
“Kau tahu, Tommi, usia Opa baru lima belas saat datang dari pesisir Cina, menumpang perahu penuh tambalan, berlayar seadanya, bersama puluhan perantau yang mencari dunia baru, mencari kehidupan terjanjikan. Kami nyaris tenggelam di perairan Malaka jika tidak ditolong kapal nelayan, hingga akhirnya berhasil merapat di negeri yang sedang mengalami perang revolusi. Di radio-radio terdengar ceramah bersemangat pemuda bernama Soekarno. Dentuman granat dan suara tembakan memenuhi langit-langit kota. Opa bagai lepas dari mulut macan, masuk perangkap buaya. 
“Tetapi Opa benar, Tommi, ini tanah yang dijanjikan. Lima belas tahun berlalu, umur Opa tiga puluh saat menikah dengan Oma. Malam pengantin kami dihiasi dengan pidato tentang dekrit presiden. Saat itu Opa baru menjejak kehidupan yang baik. Setelah bertahun-tahun menjadi pedagang keliling, buruh seadanya, pembantu juragan besar, Opa akhirnya punya toko tepung terigu kecil di pojokan jalan. Tidak ramai, cukup untuk menghidupi dua anakku. Papamu Edward dan pamanmu Om Liem.”
Ini dua paragraf standar pembuka cerita Opa. Aku yang masih berusia belasan tahun bergegas memasang wajah tertarik---karena setiap selesai cerita, kalau Opa merasa kita telah menjadi pendengar yang baik, dia biasanya memberikan hadiah.
Mobil yang kukemudikan sudah melesat melewati jalanan yang semakin ramai. 
Opa bukan pebisnis yang baik. Dia (mengakunya) adalah pemusik yang baik. 
Suatu ketika Opa pernah tertawa lebar bilang kepadaku, yang masih bocah enam tahun. “Kau lihat, aku baru menyentuh klarinet ini dua minggu, tapi sudah menguasai sepuluh lagu. Indah sekali, bukan? Tidak kalah merdu dibandingkan Opera Peking. Andaikata Opa punya uang membeli alat musik semasa muda, dan tidak harus bekerja keras, boleh jadi Opa menjadi pemusik Cina terbesar abad ini.” Opa menepuk dadanya, menunjuk poster opera-opera Cina yang terpajang di ruang tamu kami. Bagiku suara klarinet Opa berisik, tidak ada indah-indahnya, apalagi dia suka membangunkanku pagi-pagi dengan meniup klarinet kencang-kencang di telinga. 
Adalah Papa Edward dan Om Liem pebisnis yang baik. Mereka memiliki garis tangan yang hebat. Umur mereka baru dua puluh tahun saat mengambil alih toko tepung terigu dari Opa. Saat itu, Papa Edward dan Om Liem dengan yakinnya bilang ke Opa, “Kalau hanya menjual bungkusan sekilo-dua kilo tepung terigu, sampai negeri ini mendaratkan pesawat ke bulan, toko ini hanya begini-begini saja. Kami sudah belajar banyak. Sudah tahu banyak. Biarkan kami mengembangkannya.” 
Opa menatap mereka berdua lamat-lamat, lantas mengangguk. Maka sejak hari itu Papa dan Om Liem penuh semangat mulai memutuskan berkongsi dengan tengkulak, petugas, dan penguasa. Mereka membeli dan menjual tepung terigu setahun dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Maju pesatlah toko di pojok jalanan itu. 
Penduduk kota mulai membicarakan nasib baik Papa Edward dan Om Liem. Dalam pesta-pesta keluarga, meja-meja makan dipenuhi tawa sanjung dan kesenangan. “Astaga, bagaimana mungkin kalian tidak akan sukses?” Tuan Shinpei, pedagang besar dari Jakarta, importir tepung terigu, rekanan Papa dan Om Liem tertawa lebar. “Pagi-pagi tadi kau menandatangani kontrak penjualan denganku. Bilang pagi itu juga akan berangkat ke Singapura mengurus pengapalan. Malam ini, kita sudah bertemu lagi, makan-makan besar? Bagaimana mungkin kau begitu cepat bolak-balik mengurus banyak hal?” 
Meja makan dipenuhi tawa.
“Ini anakku, Shinpei.” Papa Edward mengenalkanku dengan bangga.
Aku yang sedang membawa nampan berisi cangkir mendekat. 
“Astaga? Sekecil ini sudah pandai sekali bekerja?” Tuan Shinpei menepuk jidat, tertawa. 
“Kalau kau tahu berapa gaji yang dimintanya dengan menjadi pelayan semalam, kau akan mengerti kenapa dia sangat pandai bekerja.” Papa Edward ikut tertawa. 
“Memangnya apa?” 
“Sepeda. Dia minta sepeda.” 
Pedagang dari Jakarta itu terbahak, mengacak rambutku. 
“Sayang, kau lupa mengancingkan pakaianmu.” Mama yang duduk di sebelah Papa berbisik, lembut memperbaiki seragam pelayanku. Aku patah-patah menuangkan teko, bersungut-sungut melihat Papa yang masih tertawa.
Lantas apa yang dilakukan Opa kalau semua urusan bisnis dipegang Papa dan Om Liem? Opa berusaha memenuhi takdir bakat besarnya: berlatih musik. 
Pertama-tama adalah piano. Tiga bulan berlalu, “Ini bukan alat musik yang cocok untukku.” Dia menyuruh pelayan membawa piano itu ke atas truk, dijual.
Gitar. Baru satu minggu, “Ini terlalu rumit.” Dia menjual gitar itu ke pemulung, yang bersorak riang karena membelinya dengan harga murah sekali. 
Biola. “Meski aku terlihat eksotis dengan alat musik ini, tetapi belajar memainkan benda ini tidak esksotis.” Dia becermin dengan biola di bahu, menyengir, kepala semibotak Opa terlihat lucu. 
Juga harpa, seruling, drum, dan alat-alat musik lainnya. Sampai pemilik toko alat musik di kota kami menggeleng, tidak ada lagi alat musik yang belum pernah dicoba Opa.
“Kau jangan mengejekku, Tommi. Suatu saat aku pasti menemukan alat musik yang tepat, Tommi. Ketika bakat musikku bersinar terang bahkan sebelum aku mulai memainkannya.”
Yang bersinar terang itu bisnis Papa Edward dan Om Liem. Setahun terakhir, Om Liem bahkan memulai sesuatu yang baru. Aku menguping saat Papa dan Om Liem bertengkar. 
“Kita belum siap, Liem. Orang-orang sekitar juga belum siap. Caramu mengumpulkan modal ini terlalu berisiko.” Suara Papa terdengar kencang.
“Justru itu poinnya. Ketika orang-orang lain sibuk memikirkan bisa atau tidak, terbiasa atau tidak, kita sudah berlari kencang. Aku tidak akan menghabiskan hidup hanya berdagang tepung terigu. Kita tidak akan jadi pengusaha besar disegani banyak orang dengan berjualan terigu.” Om Liem balas berseru.
Malam itu rapat keluarga. Opa, Mama, dan Tante Liem ikut bicara. 
Opa yang sejak tadi mendengarkan, meletakkan klarinet, akhirnya berkata, “Cukup, Liem. Dewa bumi memberikan rezeki berkelimpahan untuk keluarga kita. Saat terkatung-katung di kapal bocor empat puluh tahun silam, aku tidak pernah membayangkan akan memiliki keluarga sebaik ini.”
Mama dan Tante Liem juga sependapat. “Opa benar. Kita tidak perlu memaksakan diri.” 
Empat lawan satu, keputusan diambil. 
Om Liem tetap memulai cara baru, meski empat suara jelas-jelas menentangnya.
Aku tidak tahu benar apa nama cara baru itu. Koperasi bukan, bank bukan, simpan-pinjam jauh, utang-piutang apalagi. Tapi soal ide bisnis canggih, Om Liem nomor satu. Tahun 80-an, saat bank masih hitungan jari, saat akses modal terbatas, Om memasang papan besar bertuliskan: “Arisan Berantai Liem-Edward” di depan gerbang rumah kami. 
“Penjelasannya mudah saja.” Begitu Om Liem setiap kali memulai pertemuan di ruang tamu. Hari itu, hari pertama, hanya tiga kolega bisnisnya yang datang, bersedia mendengarkan gagasannya. “Kami butuh modal untuk menggelindingkan bisnis yang lebih besar. Kami akan memulai berdagang gandum, jagung, obat-obatan, semen, lempeng logam, keramik, sabun, semua kebutuhan. Orde Lama sudah mati, Orde Baru tumbuh megah. Negeri ini sedang berlari. Pemerintah punya uang banyak dari minyak, dan mereka butuh barang-barang, apa saja untuk menghabiskan uang banyak itu. Kami akan membeli kapal-kapal, membangun relasi dengan penguasa, petugas, militer yang lebih tinggi, juga mengajak berkongsi dengan kalian. Kami butuh uang. Kalian berikan 100 perak hari ini, setahun kemudian akan kami gandakan jadi 150. Kami juga akan membayar bunga uang arisan dari kalian setiap bulan. 
“Bukan hanya itu. Setiap kali kalian berhasil mengajak orang lain bergabung, kalian akan mendapatkan bonus tambahan. Semakin banyak rantai yang terlibat dalam arisan ini, semakin besar bonus kalian.” Maka, dengan iming-iming uang tumbuh itu, ditambah bonus mengajak orang lain, hari berikutnya, belasan orang datang mendengarkan Om Liem. 
Sebulan kemudian, bahkan banyak yang tidak aku kenali lagi. Ruang tamu keluarga kami kehabisan kursi. Dan setahun berlalu, sudah hampir empat ratus anggota arisan itu. Membawa uang mulai dari receh saja sampai menyerahkan seluruh tabungan mereka. Mulai dari masyarakat biasa, tetangga kiri-kanan, hingga pejabat dan pengusaha dari luar kota. 
Cara baru Om Liem berhasil, dan bisnis perdagangan keluarga melesat cepat. Papa Edward dan Opa bahkan lupa pernah menentangnya. Dua gudang baru dibeli di dekat pelabuhan. Tiga kapal besar melego jangkar setiap minggu. Truk besar pun hilir-mudik. Perhitungan Om Liem tepat, bisnis kami tumbuh, ada banyak orang kaya baru di negeri ini yang hendak membangun rumah-rumah besar, memenuhi rumah-rumah mereka, belanja apa saja. 
Waktu itu umurku enam tahun. Opa masih asyik belajar meniup klarinet di beranda rumah. Papa Edward dan Om Liem sibuk dengan bisnisnya. Mama dan Tante Liem sibuk mengurus keluarga. Konspirasi besar, tamak, dan bengis itu datang menghancurkan keluarga kami.
*bersambung