Selasa, 07 November 2017

Muhammad Muis : Pertemuan

1. Catatan dari Masa Silam

Di atas tempat tidur ia tergeletak tanpa daya dalam rintih kesakitan yang panjang. Ruang perawatan rumah sakit mendekapnya dalam kesunyian. Namun, dari kejauhan terdengar detak-detak sepatu para dokter, perawat, dan pengunjung yang berlalu lalang di lorong-lorong RS itu. Ketika melihatnya, aku terharu, sedih, dan prihatin. Rasa bersalah serta merta menikam sanubariku.

“Ya Allah.,” desahku dalam hati, “selamatkan dia..”

Ingatanku menerawang jauh. Lebih dari dua puluh tahun berlalu sudah. Begitu cepat rasanya waktu berlalu. Ketika itu aku masih SMA. Kami masih sangat muda dan kadang-kadang juga sedikit “gila”. Bolos, pura-pura lupa atau sengaja tidak membuat PR, dihukum guru karena berbagai hal, hingga-yang paling seru - mulai tertarik pada lawan jenis adalah rentetan contoh “kegilaan” kami. Sejujurnya, kalangan Hawa di sekolahku banyak yang cantik.

Kala itu ada seorang gadis yang terkenal di sekolahku. Selain cantik, ia cerdas dan jadi rebutan. Zakiah namanya. Aku amat menyukainya. Sebaliknya, ia sama sekali tidak memperlihatkan gelagat apa pun padaku! Tidak banyak gadis yang secantik dia.

Keterpesonaanku kepadanya bukan semata-mata pada kecantikannya, tetapi juga pada religiositasnya, keberagamaannya. Pikirku, aku ini terkenal badung, dan jika pacarku badung juga, kiamatlah dunia! Aku mengimpikan pacar yang akan kujadikan istri kelak. Teman-temanku pasti tertawa keras jika mereka tahu rencana itu.

Jarang kulihat gadis muda belia sealim Zakiah. Kendatipun saat itu kota kami hanyalah kota kecil, kawan-kawanku banyak yang bergaya seperti gadis-gadis kota dan mencontoh gaya hidup anak muda kota besar. Misalnya, mereka jarang salat dan senang menonton film di bioskop di kota. Rupa-rupanya pengaruh kuat media massa, terutama televisi dan film, sudah juga terasa pada kota kami.
Zakiah sering membawa mukena ke sekolah. Sering kulihat ia larut dalam doa yang panjang ketika bakda salat Zuhur jika aku kebetulan lewat di samping musala sekolah. Aku malu benar jika melihatnya seperti itu. Wajah itu begitu teduhnya, seteduh telaga, dan mengandung pesona, laksana pesona Cleopatra-si Ratu Mesir tempo dulu. Kedewasaan, pribadi, dan ketakwaannya itu amat memukau kami, terutama diriku.

Ia sering menolak secara halus jika diajak untuk ikut pesta ulang tahun atau menonton film layar tancap. Demikian juga jika ia diajak naik motor ketika akan berangkat atau pulang sekolah. Ia dan kawan-kawannya sering bersepeda ke sekolah. Teman-teman sering mengisengi mereka dengan berkata, “Awas betisnya nanti besar-besar bagai betis tukang becak Jakarta!” Kala itu, Jakarta hanya ada dalam angan kami. Jika mereka sedang bersepeda itulah aku sering menggodanya dari motorku. Ia biasanya hanya tersenyum, sedangkan kawan-kawannyanya bersuit-suit nakal. Tatkala naik motor seperti itu aku serasa seperti seorang Che Guevara-tokoh besar Revolusi Kuba. Aku serasa hebat, apalagi masa itu jarang sekali anak SMA bermotor ke sekolah.

Suatu kali Zakiah pernah bertanya banyak tentang aku kepada seorang teman akrabku. Aku kaget mendengar cerita itu. Hari itu ia benar-benar ingin tahu banyak tentangku. Itu mungkin karena surat-surat cintaku kepadanya yang tidak pernah berbalas. Salah satu pertanyaannya yang kuingat hingga kini adalah, “Apakah ia rajin salat?”
Teman karibku itu tidak menjawab. Ia tersenyum kecut dan serba salah hendak menjawab apa.
“Aku belum pernah melihat ia salat zuhur sekalipun di sekolah.,” ujar Zakiah.

“Mungkin di rumah,” jawab temanku, datar.
Zakiah hanya tersenyum, lalu menyambung, “Mudah-mudahan saja ia salat di rumah.”
Sejak itu aku mencoba untuk mendirikan salat secara disiplin. Aku pun jadi malu bertemu Zakiah; malu mencandai dan menggodanya jika kebetulan berpapasan. Kelas kami yang berbeda-ia di kelas budaya dan aku fisika-dan letak kelas yang jauh menguntungkanku. Kuakui selama ini salatku banyak yang bolong. Yang sering kulakukan hanya magrib. Yang kerap lagi adalah asal ada masalah, aku salat dan sebaliknya. Ah, begitulah yang sering kita lakukan, bukan? Mulanya sukar sekali untuk salat lima waktu. Lama-kelamaan-dengan perjuangan keras-aku bisa juga salat lima waktu sehari semalam.

Orang tuaku senang sekali melihat perubahan drastisku itu. Bahkan, ayahku sampai bertanya kepada ibuku, apakah aku diberikan ibuku air kembang tujuh rupa atau diapakan. Ibuku hanya tersenyum. Tiada lagi laporan tentang aku yang sering kebut-kebutan. Konon, Zakiah senang dan gembira juga walaupun ia tidak berkomentar apa-apa, selain tersenyum manis. Kawan-kawanku senang juga kendatipun sering mencandaiku.
“Sebentar lagi kawan kita ini akan jadi ustaz,” kelakar mereka.
“Kiai malah,” sambung yang lain.
“Bisa melamar jadi ketua Majelis Ulama Indonesia, di Jakarta” imbuh yang lain lagi.
Lalu, kami pun tertawa berderai. Diam-diam, perubahanku itu pelan-pelan juga diikuti oleh beberapa kawanku yang semula badung itu.

Semua itu terjadi menjelang kami ujian akhir SMA. Hari-hari indah, penuh warna, canda-tawa, dan nostalgia dalam merajut cita-cita serta cinta sebentar lagi akan berakhir. Tidak lama lagi sekolah tercinta yang penuh kenangan itu akan kami tinggalkan.

Hari ujian akhir itu pun tiba juga. Kami pun dinyatakan lulus. Aku memutuskan untuk berkuliah ke Bandung. Zakiah bertolak ke Jakarta, ikut kakaknya. Kabarnya, ia ingin berkuliah juga pada program D-3. Itu pun belum pasti. Biaya masalahnya. Kakaknya di Jakarta pun hanya buruh pabrik. Ayahnya sudah tiada dan tidak memungkinkannya untuk berkuliah S-1. Kemudian, setahun belajar di Bandung, aku mendapat beasiswa untuk belajar ke Eropa. Sejak itu, aku tak pernah mendengar berita lagi tentangnya. Namun, di atas semua itu, gadis itu kukenal dengan baik tanggal lahir, ciri fisik, bahkan suaranya.

Bertahun-tahun berlalu sudah. Aku seolah-olah kehilangan informasi tentangnya. Sudah kucari ke mana-mana berita tentangnya, tetapi tetap nihil. Ia seolah ditelan bumi. Aku tidak tahu, mungkin inilah sihir cinta pertama, yang membuat orang tersedot ke dalam pesonanya, atau menjadi hamba cinta. Pesonanya telah menjeratku untuk bertamasya dalam imajinasi cinta, walaupun cintaku ketika itu bertepuk sebelah tangan. Cinta pertama tidak pernah berakhir, kata orang. Itu bisa jadi benar. Aku tidak tahu, tetapi aku telah merasakannya dan ada di bawah pengaruh sihirnya, sihir cinta, di bawah bayang-bayangnya.

Kini aku telah kembali ke tanah air dan bekerja di Jakarta. Sejujurnya, berpuluh tahun ini aku masih sering berdoa agar kelak Tuhan mempertemukan aku kembali dengan Zakiah. Aku begitu yakin, Ia mendengar doaku, tetapi hanya entah kapan Ia akan mengabulkannya.

Rasanya malu mengaku bahwa aku bahkan belum menikah pada usiaku yang sudah kepala empat dengan gelar doktor alumni Jerman yang kupunya. Menurut orang kampungku, aku ini “bujang lapuk”. Namun, bagiku - orang kampung yang tinggal di Jakarta dan belasan tahun hidup, berkuliah, dan bekerja di metropolitan Jerman, lalu kini menjadi eksekutif puncak perusahaan besar-hal seperti itu tidak masalah. Mojang Priangan ketika dulu aku belajar di Bandung, bahkan bule-bule cantik di Jerman, ternyata tidak mampu menawan hatiku. Kuakui seluruh jiwaku, bahkan di dalam relungnya yang terdalam, Zakiah telah mengisi semuanya. Bayangnya telah menyitanya, kecantikannya telah merampasnya, serta senyum dan takwanya telah menguasainya. Aku laksana seorang sufi: yang telah terbakar dalam Zakiah: Aku dalam Zakiah, Zakiah dalam aku. Kerinduan nan tak terperi itu bagai mendidih, menggelegak, bahkan sering membuatku menitikkan air mata, Dalam tahajudku dalam kekudusan dan rasa dingin yang menusuk di Aachen dan Frankfurt, Jerman, dulu sering aku melantunkan doa suci untuknya, melagukan kasidah cinta, menembangkan kidung-kidung kasih akan dia.
“Tuhan pertemukan aku dengannya. Zakiah, di manakah engkau berada..”
Air mata itu adalah saksi bahwa Zakiah adalah segalanya. Bahwa malaikat juga mungkin mengamininya.

2. Prahara Senja

Senja merambat turun di seputar Cakung, Jakarta Timur. Di ufuk senja mulai memerah, lambat-lambat gelap mulai jatuh. Lampu-lampu jalan dinyalakan. Sorot lampu-lampu kendaraan pun mulai menampakkan cahayanya. Aku mengendarai Pajero Sport-ku dalam kecepatan tinggi, melaju seperti kesetanan. Seperti ada kekuatan mahagaib membuatku terpaku mengejar waktu untuk suatu keperluan di Bekasi. Hari Minggu memungkinkan orang berlari kencang, tidak seperti pada hari-hari kerja, yang macetnya nauzubillah minzalik.

Peristiwa itu terjadi sangat cepat. Rem mobilku berderit nyaring. Namun, semua sudah terlambat: sebuah sepeda motor dan perempuan pengendaranya telah telanjur terjungkal jatuh setelah tersenggol bumper kiri mobilku. Ternyata, mobilku telah menabrak sepeda motor di simpang Cakung, dekat kawasan KBN Cakung. Aku kaget setengah mati. Motor Yamaha Mio merah itu terpental jatuh cukup jauh. Pengendaranya, perempuan berjilbab jingga, terpelanting jatuh berdebum dan merintih kesakitan. Kemudian, kulihat ia jatuh pingsan. Aku memberhentikan mobilku serta merta.

Aku berlari bergegas menghampirinya. Orang-orang berhamburan menuju tempat kecelakaan itu. Sebagian mengangkat dan mengamankan motor itu. Aku membopong perempuan itu ke mobilku dibantu dua tiga orang. Seorang perempuan tua dan seorang bapak kuajak serta ke mobilku. Suara ramai orang seakan tidak kudengar lagi. Pikiranku seakan larut dalam kalut yang mendalam.
Kubuka secepat kilat dompet perempuan itu guna memastikan identitas dan alamatnya. Ponselnya masih utuh di saku celana panjangnya.

Ya Allah, aku amat terkejut, terperanjat bukan main. Dadaku berdegup keras.
“Zakiah..,” ujarku lemah.
Lututku gemetar. Lidahku kelu. Kepalaku seperti berdenyut, seperti gelap. Aku terhenyak bertelekan pintu mobilku.
“Ada apa, Pak? Ada apa, Pak?” tanya orang-orang.
Aku diam. Aku serasa lemas, serasa pucat pasi.
“Ada apa, Pak,” tanya mereka lagi.
“Tidak apa-apa,” jawabku singkat, “kepalaku agak pusing.”
“Cepat, Pak, kita ke rumah sakit,” terdengar suara ibu di mobilku mengajakku.
Seperti tersihir, aku segera melarikan mobilku ke RS.
“Tuhan...,” kataku dalam hati, lirih.

Kularikan mobilku ke RS secepat kilat. Di sana segera kutelepon keluarganya. Putri semata wayangnya, kelas 8 SMP, menjawabku dari rumah kontrakannya di Bekasi. Menurutnya, ibunya bekerja di sebuah perusahan di wilayah KBN Cakung. Hari ini, Minggu, ia lembur. Ayahnya telah meninggal tiga tahun yang lalu sehingga Zakiah harus mencari nafkah untuk membesarkan dan menyekolahkan buah hatinya. Aku terharu mendengar cerita itu. Hatiku luluh. Air mataku titik.
Kemudian, segera kukebut mobilku, kucari alamat Zaki. Kujemput gadis kecil yang malang itu. Kubawa ia ke RS. Di sepanjang jalan, air matanya tumpah ruah, sesunggukan. Aku menahan sesak di dada, yang serasa pecah. Malam itu aku menginap di rumah sakit.

3. Kasidah Cinta

Kudekap gadis kecil itu. Ia menatap ibundanya dan memegang tangannya. Air matanya pelahan mengalir di pipi putih bersihnya. Perempuan bermata lembut dan berkulit putih mulus di atas tempat tidur itu belum lama siuman. Zakiah membuka matanya, pelahan. Ia kelihatan sangat lemah dengan penuh perban pada beberapa anggota tubuhnya. Mata teduh itu, telaga yang tenang itu, sorot yang kudamba dan kurindu berpuluh tahun itu.. Ingin aku menyelam dalam telaga itu. Pesonanya masih jua memukauku. Pesona itu sedemikian indah, seperti indahnya sebuah puisi.

“Tuhan, terima kasih aku masih bisa menikmatinya, hari ini..,” hatiku berkata lirih.
“Aisyah,” katanya, “di mana Mama, Nak?”
“Di rumah sakit, Ma,” jawab Aisyah, gadis kecil itu.
Zakiah masih ingin berkata-kata, tetapi putrinya melarangnya dengan halus. Serta merta sorot teduh matanya beralih kepadaku.
“Kau . kau . benarkah kau .?”
Aku mengangguk.
“Zaki.,” kataku, serak, memanggil nama panggilannya saat kami di SMA.
Aku jadi tidak kuasa menahan air mataku. Perasaan sedih, bersalah, gembira, dan lain-lain berkecamuk gemuruh di dadaku.
Kristal bening air matanya pun jatuh luruh pelahan, lalu menjadi deras, kian deras.
“Lama sekali kita tak bertemu.,” ujarnya.

Kugenggam erat-erat tangan itu, seakan aku tidak mau melepaskannya lagi, seakan ingin selalu berada di sisinya. Di luar, senja hampir genap dan malam pelahan mulai merambat turun.

Jakarta-Aceh, Agustus 2017
* Muhammad Muis adalah bahasawan dan Kepala Balai Bahasa Aceh; pencinta dan penikmat sastra.

Sumber : Serambi Indonesia, Minggu 10/09/2017

Senin, 06 November 2017

Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Episode 48 : Sepotong Laut yang Hilang dari Peta
------------------------------------------------------------
DUA kali dilemparkan, dua kali suara debam air terdengar. 
Pasifik terus melaju ke utara. Lautan terlihat gelap sejauh mata memandang.
Ram kembali masuk ke dalam kabin, diiringi oleh dua orang berseragam polisi Singapura---yang sebenarnya pengawal setia Ram dan Tuan Shinpei. Mereka baru saja melemparkan jasad Wusdi dan Tunga ke Laut Cina Selatan.
Tere Liye : Negeri Para Bedebah

“Lepaskan borgol mereka!” Ram memberi perintah, menunjuk pojok kabin. 
Dua orang berseragam polisi Singapura itu mengangguk, melangkah cepat ke tempat kami duduk. Salah satu dari mereka melepas borgol Opa dari tiang kabin, satunya lagi berjaga-jaga dengan pistol teracung padaku.
“Berdiri Opa!” Ram membentak.
Opa tertatih berusaha berdiri. Napasnya tersengal. Wajah tuanya terlihat lelah dan meringis.
“Kau juga berdiri, dan jangan macam-macam, Thomas. Aku tidak segan membunuh Opa.” Ram menoleh padaku, matanya menatap datar. Ram jelas sudah melatih dirinya jauh-jauh hari menghadapi situasi seperti ini.
Aku berdiri. Borgol di tanganku sudah dilepaskan, meski rasa sakit di pergelangan tangan seolah borgol itu masih di sana. Dua orang berseragam polisi Singapura itu menodongku, berjaga atas segala kemungkinan. Ram menodong Opa.
“Kalian berdua jalan ke buritan.” Ram mendorong punggung Opa.
Opa menoleh padaku.
Aku mengangguk. Tidak ada pilihan selain menuruti perintah Ram.
Opa dengan kaki semakin pincang, menggigit bibir menahan rasa sakit, melangkah menuju pintu kabin ke arah buritan yacht. Kami dikawal seperti dua pesakitan berbahaya.
Aku tahu apa yang akan dilakukan Ram. Jika dia ringan tangan membunuh Wusdi dan Tunga, tidak sulit untuk menyingkirkan aku dan Opa. 
“Ambilkan pelampung di dinding kapal.” Ram menyuruh anak buahnya lagi.
Salah satu anak buahnya bergegas mengambil pelampung. Kami sekarang persis berdiri di geladak buritan. Pasifik terus melaju dengan kemudi otomatis, anggun membelah lautan yang tenang.
“Maafkan saya Opa, kalian tidak dibutuhkan lagi di atas kapal.” Ram menatap Opa. Matanya sama sekali tanpa kilatan perasaan.
“Aku tidak sepandai kau mengendalikan kapal, Thomas. Aku selalu bosan diajari Opa. Apalagi mendengar cerita masa lalunya yang tidak berguna.” Ram sekarang ganti menatapku. “Tapi dengan kemudi otomatis, aku tinggal menunggu yacht ini tiba di perairan Hongkong besok pagi. Tidak terlalu sulit merapatkannya di dermaga sana. Terima kasih banyak telah membantuku.”
Aku menelan ludah, menatap wajah Ram yang terlihat dingin.
Opa menghela napas perlahan.
“Ini pelampung untuk Opa. Anggap saja sebagai rasa terima kasihku telah dibesarkan di keluarga kalian.” Ram melemparkan pelampung ke tangan Opa. “Ini hanya urusan bisnis. Semoga Opa tidak pernah membenciku. Lihat, aku bahkan berbaik hati menunda kematian Opa secara langsung. Kalau aku jahat, mudah saja menembak Opa sekarang.”
Ram tertawa kecil, mengacungkan pistolnya.
“Nah, sekarang silakan pilih, loncat dari kapal dengan pelampung atau kutembak sekarang juga!” Ram menatap galak, bersiap menarik pelatuk pistolnya.
Aku hampir berseru, tidak dapat menahan rasa marah yang membakar kepala. 
Opa menoleh padaku. Lengang sejenak. 
Aku mati-matian berusaha mengendalikan diri, tubuhku bergetar.
“Waktu kita tidak banyak, Opa. Loncat atau kutembak!” Ram membentak.
Angin malam menerpa wajah. Lautan terlihat gelap.
“Orang tua ini akan memilih loncat, Tommy.” Opa tersenyum lelah, tertawa ganjil. “Kau pastilah tahu, aku lebih baik memilih mati dibunuh penjajah, dimakan hewan buas lautan, atau karam sekalipun, dibanding ‘sesuatu’ itu. Kau tahu, bukan?” Opa mengedipkan matanya.
Aku menggigit bibir menahan marah, jika tidak ada dua pistol yang terarah ke wajahku, sudah sejak tadi tinjuku menghajar wajah Ram.
“Pilihan yang baik. Selamat tinggal, Opa!” 
Ram dengan gerakan kecil mendorong Opa keluar dari geladak buritan.
Aku berseru, refleks hendak menahan tubuh Opa sudah lebih dulu jatuh bersama pelampung. Suara debam air terdengar di antara suara deru mesin yacht dan gelapnya lautan.
“Kau memang bedebah, Ram!” aku mendesis.
“Kita semua bedebah, Thom.”
“Kau akan menerima balasannya.”
“Giliran kau sekarang, Thomas.” Ram tidak memedulikan seruan marahku.
Aku loncat, hendak meninju dagu Ram dengan tangan yang terborgol. Gerakan Ram lebih cepat, jari telunjuknya menarik pelatuk pistol. Dua tembakan menghantam perutku, membuat tubuhku terbanting ke belakang. Aku kehilangan keseimbangan. Ram hanya perlu mendorong sedikit tubuhku. 
Suara debam menghantam permukaan laut untuk keempat kalinya terdengar. Pasifik terus melaju cepat, segera meninggalkan tempat Opa dan aku dilemparkan.
Gelap. Lautan gelap. Yang terang adalah langit, dipenuhi formasi bintang gemintang.
***
Setengah jam berlalu.
Opa dengan pelampung, tersengal mendekatiku yang berusaha berenang mengambang di lautan. Tubuh kurus Opa bergerak perlahan. Formasi bintang gemintang terlihat semakin elok. 
Opa tertawa melihatku, meraih tubuhku. Aku ikut tertawa. 
Aku masih hidup. Tentu saja. Dua tembakan Ram memang tepat mengenai perutku, tapi dua puluh empat jam sebelumnya, saat berpisah dengan Rudi di pelataran bandara, Rudi sempat memberikan sesuatu yang langsung kukenakan, rompi antipeluru miliknya. 
Delapan jam kemudian. Saat cahaya matahari pagi menyemburat merah di timur laut, saat cahaya lembut itu membasuh tubuhku dan tubuh Opa yang terapung-apung berpegangan sebuah pelampung, Kadek dengan paha dibebat berseru-seru senang telah menemukanku. Dia berdiri di geladak depan sebuah kapal pesiar, melambaikan tangan kepadaku. Kadek selalu bisa kuandalkan. Dia tahu apa yang harus dilakukan di Pasifik. Dia berpura-pura terkapar di lantai setelah baku tembak, dan persis beberapa detik setelah Wusdi melemparkan tubuhnya di perairan teluk Singapura, dengan sisa tenaga, Kadek berenang kembali ke dermaga, meminta bantuan kenalan sesama nakhoda, meminjam kapal pesiar mereka. Dia segera menyusulku.
Aku tertawa, memeluk Kadek.
Opa menerima handuk dan baju hangat dari awak kapal lain.
“Kenapa Pak Thom tertawa begitu lebar?” Kadek menatapku bingung.
Aku tertawa lagi.
“Kenapa, Pak Thom?”
Ram, aku menertawakan dia sekarang. Persis saat ini, Pasifik telah tiba di bagian laut yang hilang dari peta navigasi. Kemudi kapal itu tidak pernah menuju Hongkong, aku telah mengubahnya, lantas menipu display-nya seolah-olah tetap menuju ke arah Hongkong. Persis saat ini juga, Pasifik kehabisan solar, terapung-apung tanpa tenaga, terjebak di bagian laut yang bahkan sejak Opa muda dulu legendanya sudah mengerikan.
Aku tertawa, membayangkan wajah panik Ram saat bangun tidur, melihat keluar jendela, bukannya gedung-gedung tinggi dan burung camar yang menyambutnya, melainkan hamparan lautan kosong sejauh mata memandang. Dengan logistik di lambung Pasifik, dia boleh jadi bisa bertahan dua hari di sana. Tetapi semua pelaut tahu, bukan soal logistik, bertahun-tahun, puluhan kapal, bahkan belasan pesawat terbang telah hilang di bagian itu tanpa pernah terjelaskan.
“Kembali ke Jakarta, Kadek!” aku berseru.
“Siap, Pak Thom.” Kadek mengangguk.
Saatnya aku menyelesaikan urusan lain. Tuan Shinpei.
*TAMAT

Minggu, 05 November 2017

Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Episode 47 : Pengkhianatan Atas Pengkhianatan
----------------------------------------------------------
“TERIMA kasih teh panasnya, Ram.” Wusdi menerima gelas plastik, kepul uap terlihat.
“Ini makan malam paling sederhana seumur hidupku.” Tunga tertawa, mengangkat kemasan makanan instan di tangannya.
Sudah hampir pukul delapan malam, sudah empat belas jam Pasifik dengan kecepatan penuh meninggalkan dermaga Singapura, terus ke utara menuju Hongkong---atau begitulah mestinya tujuan kemudi. Sejauh mata memandang, lautan terlihat gelap, langitlah yang terlihat bercahaya tanpa saputan awan. Bintang gemintang dan bulan bersinar terang.
Tere Liye : Negeri Para Bedebah

“Tenang, Tunga, setiba di Hongkong besok pagi-pagi, setelah membereskan banyak hal aku akan traktir kau, juga Ram, seporsi besar bebek peking di salah satu restoran mahal Hongkong. Kau boleh tambah sepuas perut.” Wusdi bergurau, menyeduh makanan instan di depannya.
Tunga tertawa, mengangkat gelas plastik teh.
Setelah aku nonstop berjam-jam kelelahan mengemudikan kapal, dua bedebah itu akhirnya mengizinkan Pasifik melaju dengan sistem kendali otomatis. Mereka juga berbaik hati mengizinkanku menelan makanan, dengan tangan terborgol bersama Opa. Makan malam seadanya di kabin tengah, mengeduk isi kulkas, mencari makanan instan. Kemudi otomatis diawasi dua petugas berseragam polisi Singapura.
Angin laut masuk lewat pintu kabin yang tersingkap. Terasa dingin. 
“Wajahmu tegang sekali, Ram? Ayolah, santai saja.” Wusdi menyikut koleganya.
“Dia masih kecewa tampaknya,” Tunga yang menjawab.
“Kecewa apanya? Gagal menjadi pemilik Bank Semesta? Lupakan.” Wusdi ber-hah kepanasan, menyeka ujung bibir, meletakkan kemasan mi instan, meraih gelas plastik teh panas. “Kita akan memperoleh gantinya, belasan properti di Hongkong, tanah, gedung perkantoran, hotel, kau lihat tumpukan dokumen di atas meja. Kau boleh ambil yang mana saja, Ram, termasuk kapal mewah ini.”
“Atau kau mencemaskan sesuatu?” Tunga menyelidik. “Bah, kau seperti tidak tahu, kami ini pejabat penting, semua bisa diatur. Kali ini tidak akan ada jejak yang tertinggal. Semua akan dihabisi setelah urusan di Hongkong beres.”
Tunga menunjuk pojok kabin, tempat aku dan Opa duduk di lantai. 
“Teh buatan kau nikmat, Ram,” Wusdi berseru, ber-hah kepanasan.
“Mungkin dia sudah terbiasa menyajikan teh untuk Liem di kantornya,” rekannya menimpali.
Mereka tertawa lagi.
Aku menunduk, menyuap mi perlahan. Sejak tadi siang Wusdi berhasil menemukan lemari penyimpanan dokumen-dokumen aset tersebut. Rakus memeriksa satu demi satu. Opa di sebelahku menghela napas, dia sejak tadi tidak menyentuh kemasan gelas mi instan untuknya.
“Opa seharusnya makan,” aku berbisik.
“Orang tua ini tidak lapar, Tommy.” Opa menatap keluar jendela. Salah satu tangan kami terborgol ke tiang kabin, didudukkan di pojokan dinding, berada dalam pengawasan mereka.
“Setidaknya Opa memaksakan satu-dua sendok. Kita butuh semua tenaga....”
“Jangan cemaskan orang tua ini, Tommy. Aku bahkan pernah berhari-hari hanya menelan air asin lautan.” Suara Opa terdengar dalam, matanya masih jauh menatap lautan.
Aku mengembuskan napas perlahan, memutuskan tidak memaksa lagi, berusaha menghabiskan jatah makan malamku.
“Aku tahu apa yang sedang kaurencanakan, Tommy,” Opa berbisik. Dia masih menatap melintasi jendela kaca, memperhatikan langit yang terang, konstelasi bintang.
Aku menoleh.
Opa justru tertawa pelan. “Kau tumbuh jauh lebih tangguh dibanding siapa pun, Tommy. Bahkan berkali-kali lebih tangguh dibanding orang tua ini waktu muda dulu, mengungsi dari tanah kelahiran. Penjahat-penjahat itu telah keliru memilih lawannya.”
Aku menatap wajah tua Opa, dia tersenyum padaku.
“Aku tahu apa yang sedang kaulakukan.” Opa mengedipkan matanya.
“Aku mengenali rasi bintang, Tommy. Nelayan yang mengajariku selama berminggu-minggu di atas perahu kayu bocor. Kemudi otomatis kapal tidak menuju ke Hongkong, bukan?”
Aku menelan ludah.
Opa menghela napas dalam-dalam. “Ah, bahkan hingga sekarang, aku selalu merinding membayangkan cerita itu, Tommy. Lihat, bulu lenganku berdiri. Ketakutan terbesar bagi seorang pelaut paling tangguh sekalipun. Pasifik tidak menuju ke Hongkong, bukan?” 
Belum sempat aku menjawab pertanyaan retoris Opa, dari seberang sofa terdengar seruan tertahan. Bukan, itu bukan teriakan agar kami berhenti bicara, atau menyuruh segera menghabiskan makanan, menyuruhku bergegas kembali ke ruang kemudi, itu teriakan tertahan Wusdi untuk urusan lain.
Gelas plastik berisi teh panas terjatuh dari tangannya. Tubuhnya mendadak terjerembap ke bawah sofa. Badannya kejang-kejang.
“Ram! Ram, apa yang telah kaulakukan?” Dia berteriak marah, dari mulutnya keluar busa, meringis menahan sakit yang mendadak menyergap perut, ulu hati, dan sistem saraf.
Tunga, rekannya berusaha membantu, meraih tangan Wusdi, tapi dia juga meluncur terjatuh, tangan kanannya tiba-tiba lumpuh tidak bisa digerakkan.
“Apa yang terjadi?” Tunga berteriak dengan sisa-sisa tenaga, menatap gentar tubuhnya yang tidak bisa digerakkan. Butir peluh besar-besar menetes dari keningnya, wajahnya pucat, membiru, lebih banyak busa keluar dari mulutnya. Tangan Tunga yang satunya masih sempat memegang ujung celana Ram, wajahnya melotot menahan rasa sakit.
“Tolong, Ram!” Tunga berusaha berdiri.
“Kalian berdua tidak pernah becus bekerja. Kalian justru membiarkan musuh lolos berkali-kali. Kalian berdua bedebah tidak berguna, merusak seluruh rencanaku dan Tuan Shinpei.” Ram santai menepis tangan Tunga, berdiri, mendorong tubuh sekarat itu jatuh ke lantai. “Kalian tidak berhak memperoleh apa pun di Hongkong. Akulah yang akan mengambil semuanya.”
“Ram, apa yang telah kaulakukan?” Tunga berseru serak, belum mengerti.
“Hanya mengamankan bagianku. Semuanya.” Ram menyeringai.
“Kau… kau pengkhianat….” Tunga mendesis. Di sebelahnya, Wusdi bahkan sudah tidak bisa lagi mengeluarkan suara, terkapar dengan tubuh mulai kaku.
“Ayolah, siapa yang bukan pengkhianat di sini. Kalian, Tuan Shinpei, aku, semuanya.” Ram melemparkan gelas plastik berisi teh panas yang telah dicampur dengan racun. “Kabar baiknya, kalian sudah terbiasa dengan situasi ini, bukan? Pengkhianatan? Kabar buruknya, kalian dalam posisi dikhianati sekarang. Nah, tidak ada sakit hati, Teman. Tidak ada dendam. Semua hanya soal uang. Selamat tinggal.”
Tunga hendak menjerit penuh amarah, tapi suaranya hilang lebih dulu di kerongkongan. Wajah birunya segera pias, dan hanya dalam hitungan detik, dia menyusul Wusdi. Dua bedebah itu terkapar oleh persekongkolan mereka sendiri.
Aku menelan ludah, mematung dari pojok kabin menyaksikan drama selama satu menit itu.
Opa hanya menghela napas perlahan. Bergumam sesuatu.
Dua bedebah itu telah mati. Mati begitu saja oleh keserakahan, akal bulus, serta pengkhianatan---yang adalah keahlian mereka selama ini.

Sabtu, 04 November 2017

Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Episode 46 : Menuju Hongkong
---------------------------------------
“LETAKKAN pistol kalian atau kuledakkan kepalanya! Aku tidak main-main.” Aku membentak, tanganku memiting Wusdi, membuatnya mengaduh kesakitan. Menekan dalam-dalam moncong senjata ke kepala Wusdi, suara pelatuk ditarik terdengar bergemeletuk.
Kabin yacht semakin tegang.
“Turuti perintahnya. Letakkan pistol kalian!” Wusdi berseru tertahan, akhirnya bersuara setelah beberapa detik berhitung dengan situasi.
Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Dua orang berseragam polisi Singapura itu ragu-ragu menurunkan pistol mereka. Tunga menatap serbasalah. Wajahnya sedikit jengkel, tetapi dia tidak bisa melakukan apa pun selain ikut menurunkan pistolnya. Ram masih menatap layar televisi, tidak percaya mendengar siaran langsung reporter dari gedung kementerian.
Kadek masih terkapar di lantai dengan darah membasahi pakaian, juga dua orang berseragam polisi Singapura lainnya. 
“Lepaskan ikatan mereka!” Aku memberi perintah, menunjuk Opa, Om Liem, dan Maggie di atas sofa. Waktuku terbatas, ada banyak yang harus kuurus sekarang, Kadek bisa diurus nanti-nanti.
“DOR!” Aku menembakkan pistol ke langit-langit kapal, membuat tersedak Wusdi di depanku.
“Berapa kali harus kuulangi, hah? Lepaskan ikatan mereka!” aku membentak marah, tanganku semakin kencang memiting Wusdi.
Dua orang berseragam polisi Singapura yang tadi masih ragu-ragu, menunggu konfirmasi Wusdi, bergegas mendekati sofa. Maggie yang pertama kali bebas.
“Keluar dari kapal!” aku meneriakinya.
Maggie menyeka wajahnya yang sembap, masih dengan tangan yang kesakitan sisa ikatan, berlarian melintasi kabin tengah.
Om Liem menyusul kemudian.
“Naik taksi di dermaga, cari kendaraan apa saja yang bisa membawa ke bandara, kau kembali ke Jakarta sekarang juga.” Aku berkata tegas pada Om Liem yang berjalan melewatiku, menuju pintu kabin. “Temui Rudi di bandara, dia akan mengurus masalah ini dengan adil.” 
Om Liem mengangguk, tertatih melewati pintu kabin.
Aku harus berpikir cepat dalam situasi genting, meskipun Bank Semesta ditalangi pemerintah, kasus hukum yang membelit Om Liem tetap bertumpuk tinggi, dia tidak bisa lari terus-menerus. Aku tahu, sejahat-jahatnya Om Liem, dia selalu bertanggung jawab atas semua keputusan bisnisnya. Dengan begitu banyak aparat korup, Om Liem membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya, menemui Rudi adalah pilihan terbaik. Ini juga akan mengembalikan reputasi serta nama baik Rudi, bisa menangkap kembali buronan besar.
Dua orang berseragam polisi Singapura melepaskan ikatan Opa.
“Kau akan menyesal, Thomas,” Wusdi berbisik dengan suara bergetar oleh marah, “aku akan membuat seluruh polisi memburu kalian, menghabisi siapa saja.”
“Diam, Bedebah. Tidak ada yang menyuruh kau bicara.” Aku menarik tangannya lebih dalam.
Wusdi mengeluh kesakitan.
Ikatan Opa sudah terlepas. Dia berdiri dengan wajah meringis.
“Bergegas, Opa!” aku meneriakinya.
Opa dengan kaki sedikit pincang, kesakitan---sisa pukulan dari petugas sebelumnya, bergerak melintasi kabin. 
“Ayo, Opa. Tinggalkan kapal!” Aku tidak sabaran, situasi belum terkendali jika Opa belum berada di luar yacht, menyusul Om Liem dan Maggie. 
Sial, persis melintasiku, kaki pincang Opa tersandung ujung meja, dia berseru pelan, wajahnya meringis. Bagi anggota klub petarung, refleks selalu memberikan perlindungan sekaligus serangan terbaik. Tapi dalam situasi ini, refleks membuatku lengah. Aku refleks hendak meraih tubuh Opa yang jatuh, membuat Wusdi lepas dari telikungan, dan dia dengan cepat memanfaatkan situasi.
Tangan Wusdi yang bebas menyikut perutku. Aku melenguh. Menyusul tinjunya, menghantam dagunya. Meski perutnya sudah buncit, gerakannya sudah lambat, dia tetap perwira kepolisian yang terlatih. Aku terduduk bahkan sebelum membantu Opa berdiri, pistol berperedam suara terlepas dari tanganku.
“Kau pikir hanya kau saja yang bisa meninju, hah?” Wusdi membentakku yang terkapar. Dia meluruskan tangannya yang sakit, meregangkan badannya, santai meraih pistol di lantai kapal.
Dua orang berseragam polisi Singapura juga bergegas mengambil pistolnya, lari menuju pintu palka kapal, hendak menangkap kembali Om Liem dan Maggie. 
“LARI! Tinggalkan kami!” aku meneriaki Om Liem dan Maggie, mengabaikan darah yang keluar dari mulut bersama ludah, sepertinya ada gusiku yang berdarah.
Maggie tidak perlu diteriaki dua kali, dia menyuruh sopir segera menekan gas. Mobil taksi itu melesat meninggalkan dermaga yacht.
“Biarkan saja mereka kabur.” Wusdi mendengus ke arah dua orang berseragam polisi Singapura, kakinya santai menginjak lenganku. “Kita tidak lagi membutuhkan mereka. Kalian ikat saja orang tua ini.” Wusdi menunjuk Opa.
Aku meringis kesakitan.
“Nah, Thomas, situasi sepertinya berbalik seratus delapan puluh derajat.” Wusdi menatapku jumawa, menyeka pelipisnya dengan belakang telapak tangan yang memegang pistol berperedam.
Opa kembali diseret ke atas sofa. Petinggi kejaksaan itu berjaga-jaga dengan senjata teracung. Dua orang lain kasar mengikat tangan Opa.
“Seharusnya kau ikut terbakar puluhan tahun silam, Thomas. Bukan sebaliknya, menghancurkan semua rencana kami.” 
Aku masih meringis, napasku tersengal, lenganku terasa ngilu.
“Tapi peduli setan soal Bank Semesta. Kami tidak pernah tertarik dengan Bank Semesta. Itu urusan Tuan Shinpei. Kami hanya tertarik urusan lain.” Wusdi membungkuk, menjawil pipiku dengan pistol.
“Hati-hati, Teman, dia tetap berbahaya walaupun sedang terkapar,” Tunga mengingatkan.
Wusdi tidak menanggapi teriakan rekannya, dia masih menatapku. “Kau tahu apa yang sebenarnya kami inginkan dari keluarga kalian, hah?”
Aku tidak menjawab, napasku yang menderu.
“Puluhan tahun silam, kami juga tidak tertarik dengan perusahaan, bisnis perdagangan. Itu urusan Tuan Shinpei. Kami lebih praktis, lebih suka memperoleh sesuatu yang terlihat. Nah, kau pastilah bisa menebaknya, Thomas. Kau konsultan keuangan yang hebat.” Wusdi tertawa.
“Terima kasih atas bantuanmu, Thomas. Apa yang kau bilang saat di mobil taktis? Kau bilang, kau tahu tempat dokumen-dokumen aset keluarga kalian yang terdaftar di luar negeri. Itulah kenapa aku memilih menyusul kapal mewah kalian, karena aku tahu di mana dokumen-dokumen itu disimpan, di kapal ini, bukan? Di salah satu kabin. Kau bisa menebaknya sekarang, Thomas. Sama seperti puluhan tahun silam, mengambil akta tanah, rumah, gudang milik kalian, sekarang kami lebih tertarik hal serupa, Thomas. Lupakan Bank Semesta yang diselamatkan.”
Aku mengeluh dalam hati, menyumpahi kejadian dua hari lalu itu.
“Bangun!” Wusdi membentakku, dia berdiri.
“Bangun segera, Thomas.” Wusdi menendang perutku, memaksa.
Aku mengaduh, tertatih berusaha duduk. Opa menatapku lamat-lamat dari atas sofa.
“Nah, karena anak buahmu sepertinya tidak bisa lagi mengemudikan kapal,” Wusdi menunjuk Kadek, “Dan sepertinya kau satu-satunya yang bisa, kau sekarang yang mengemudikan kapal. Kita berlayar ke Hongkong. Aku tahu kalian mendaftarkan semua aset itu di sana. Kau akan membawa kami ke sana Thomas, membantu memindahkan seluruh aset tersebut, lantas sebagai ucapan terima kasihnya, berharaplah aku tidak membunuhmu dan Opa.”
Wusdi kasar mendorong badanku dengan ujung sepatunya.
Aku masih bergeming, berdiri kaku.
“Ayo, Thomas, waktu kita tidak banyak. Atau kau mau aku menembak Opa lebih dulu agar kau mau melakukannya?”
Aku menelan ludah, menatap Opa yang tertunduk dalam. Sial. Dengan todongan tiga pistol lain ke arah Opa, aku tidak punya banyak pilihan. Setidaknya Om Liem dan Maggie sudah aman di luar sana. Baiklah, aku mendengus, melangkah pelan ke anak tangga menuju kabin kemudi, melewati Kadek yang masih terkapar. Dadanya masih naik-turun, tanda dia sepertinya pingsan oleh tembak-menembak barusan.
“Hongkong! Bukan main, aku sudah lama sekali ingin pensiun di sana. Menghabiskan waktu sebagai taipan kaya, ongkang-ongkang kaki. Bagaimana menurut kau Tunga?”
Temannya tertawa, mengangguk.
“Ayo, Thomas, segera, kita harus tiba di sana besok pagi. Dan kalian, lemparkan dia kelaut, kita tidak perlu membawa beban tidak berguna di kapal.” Wusdi menunjuk Kadek, mendorongku kasar agar segera menaiki anak tangga.

Jumat, 03 November 2017

Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Episode 45 : Pertempuran di Yacht
------------------------------------------
“HALO, Thomas. Akhirnya kau tiba juga.” 
X2, kode untuk petinggi polisi itu, menyapaku, seperti seseorang yang sedang menunggu teman baik di sebuah kafe, atau seperti teman lama yang semringah bertemu tidak sengaja. Bedanya, sepucuk pistol dengan peredam suara teracung di tangannya. Dia bangkit dari duduk menyambutku.
“Well, aku pikir kau baru datang satu-dua jam lagi, Kawan.”
“Dia bukan Kawan, Wusdi. Dia pernah menipu kita.” Rekan dekatnya, salah satu jaksa senior, orang kuat di kejaksaan menyahut, bersedekap tangan, berdiri mengawasi kursi panjang di kabin tengah, tempat Opa, Om Liem, dan Maggie dengan tangan terikat, mulut tersumpal, dipaksa duduk berdempet.
Tere Liye : Negeri Para Bedebah

“Menipu?” Wusdi menoleh pada rekannya, “dia anak muda yang jujur, Tunga.”
“Jujur apa? Di mobil taktis, saat kaupaksa mengaku, dia berteriak, bilang hanya konsultan keuangan profesional digaji tinggi oleh Liem untuk menyelamatkan Bank Semesta. Ternyata ini reuni keluarga.”
“Oh, kau benar. Ini memang reuni keluarga besar.” Wusdi ber-oh, pura-pura baru mengerti situasinya, tinggal lima langkah lagi dariku yang mematung di depan pintu kabin. Laras pistol dengan peredam suara teracung sempurna. Pelatuknya siap ditarik jika aku bergerak, melakukan hal bodoh.
Aku menelan ludah, jemari tanganku mengepal, berusaha mengabaikan dialog standar mereka setiap mengintimidasi pengusaha kacangan untuk mendapat keuntungan. 
Aku berhitung cepat dengan situasi. Ini memang mengejutkan, tapi bukan kejutan besar. Saat menyuruh Kadek membawa Pasifik ke Singapura, bergegas menyusul dengan pesawat terbang, aku tahu persis, cepat atau lambat mereka akan menemukan posisi Pasifik, pengkhianat itu telah memberitahu. Mataku berusaha menyibak ruangan, membaca posisi masing-masing. Selain Opa, Om Liem, dan Maggie yang terikat di atas sofa panjang, masih ada dua lagi petugas berseragam kepolisian Singapura dengan pistol teracung berjaga-jaga. Sedangkan Kadek yang baru saja merapatkan kapal di bibir dermaga, digiring turun dari ruang kemudi, tangannya terangkat. Dua petugas lainnya mengawal dari belakang.
Layar televisi ukuran besar yang tergantung di dinding kabin, terlihat sedang menyiarkan berita pagi, saluran televisi lokal. Suaranya dibisukan, hanya gambar-gambar berita silih berganti.
“Nah, kau mau tahu bagaimana kami berada di sini lebih cepat, Thomas?” Wusdi bertanya, mengedipkan mata penuh kemenangan. “Kebalikan dari omong kosong media massa yang sok tahu, sebenarnya mudah saja menangkap buronan di Singapura. Hanya perlu dua hal, jaringan serta kemauan. Soal pertama, itu mudah, antar petinggi kepolisian pasti kenal satu sama lain, aku tadi malam bahkan sempat makan malam di restoran mewah Jalan Orchard bersama mereka, tidak perlu notifikasi interpol, tidak perlu dokumen, hanya basa-basi lisan pertemanan akrab. Mereka ringan tangan meminjamkan empat petugas serta kapal patroli untuk memotong yacht kalian di Teluk Singapura. Nah, soal kedua, kemauan, astaga, jangan tanya tentang kemauanku, Thomas.” Wusdi tertawa lagi, dia sekarang persis berada di depanku, pistol itu sempurna terarah ke wajahku.
Aku mendengus, napasku mulai menderu. Dengan jarak sedekat itu, jantungku berdetak lebih cepat karena kebencian---bahkan tidak seperti ini saat bel ronde pertama terdengar di klub petarung. 
Opa, Om Liem, dan Maggie menatapku cemas. Mereka terlihat tidak berdaya. Sementara Kadek sudah tiba di ujung anak tangga, terus digiring turun oleh dua petugas, bergabung ke kabin tengah kapal.
“Lihat wajahnya, Wusdi. Kau lihatlah, dia sepertinya marah sekali.” Petinggi kejaksaan dengan tangan masih bersedekap itu berseru, tertawa.
“Tentu saja dia marah, Tunga. Sebentar lagi meletus.” Rekannya ikut tertawa.
“Kau hati-hati, Wusdi. Bukankah dia berkali-kali menipu anak buahmu dengan mudah.”
“Tidak kali ini, Tunga. Anak muda ini tidak bisa bergerak ke mana-mana. Aku akan meledakkan kepalanya dengan peluru jika dia macam-macam.” Orang di depanku melambaikan tangan ke belakang, tetap menatapku dengan senyum jahat yang amat kuingat.
“Nah, sekarang kau mau tahu bagaimana aku tahu posisi yacht mewah kalian ini, Thomas?” Matanya bergerak-gerak senang, seperti anak kecil yang berhasil menjawab tebakan. “Di mana Ram? RAM?” dia berseru memanggil, dengan terus siaga menjagaku.
Dari ruang tengah, melangkah masuk pengkhianat itu.
“Astaga, lama sekali kau ke toilet? Kau kehilangan momen terbaik penyambutan, Ram.” 
Ram sedikit kikuk, menepuk-nepuk celananya yang sedikit basah, melangkah ke tengah kabin, wajahnya terlihat sedikit kaku. Om Liem terlihat meronta-ronta, berusaha melepaskan ikatannya. Wajah tua Om Liem tersengal oleh kemarahan. Kalau saja mulutnya tidak disumpal sapu tangan, dia pasti sudah berteriak.
“Ayolah, sudah cukup marah-marahnya, Liem.” Tunga yang berdiri di belakang sofa menurunkan tangannya, menepuk-nepuk bahu Om Liem dari belakang. “Ini hanyalah masalah bisnis biasa, jangan terlalu diambil hatilah. Cincai sajalah.”
Wajah Om Liem semakin memerah.
Aku menggeram, berusaha mengabaikan kejadian di atas sofa. Aku menatap lurus ke arah Ram. Yang ditatap hanya mengangkat bahu, sekali lagi menepuk-nepuk celananya yang sedikit basah.
“Reuni keluarga yang hebat, bukan? Kau pasti mengenal Ram.” Wusdi terkekeh.
Ram tidak banyak bicara, balas menatapku datar.
Aku menyumpahi diri sendiri dalam hati, aku terlalu terlambat menyadari situasinya. Bukankah sejak di rumah peristirahatan Opa, penyerbuan di dermaga Sunda Kelapa, posisiku di kantor, pergerakanku ke Bali, tidak ada yang tahu kecuali Ram. 
Ram yang selalu bertanya di mana aku. Ram yang selalu ingin tahu di mana Om Liem. Ekspresi wajahnya saat rapat pemilik rekening kakap. Jika aku sedikit curiga, urusan ini tidak akan telanjur rumit. Laporan dua lembar yang dikirimkan Julia hanya menjelaskan duduk persoalannya. Itu dokumen rahasia tentang kepemilikan akhir sebuah perusahaan, ultimate shareholder. Sudah menjadi praktik umum, kepemilikan saham sebuah perusahaan dibuat berlapis-lapis seperti kulit bawang melalui anak-anak perusahaan secara bertingkat. Banyak alasannya, mulai dari menghindari pajak, regulasi, atau sekadar pemiliknya enggan diketahui publik. Dokumen yang dikirimkan Julia menyebutkan empat dari sepuluh debitur Bank Semesta, peminjam paling besar, adalah perusahaan yang dimiliki Tuan Shinpei. Keempat perusahaan debitur yang dimiliki Tuan Shinpei, empat perusahaan yang terdaftar di Cayman Islands serta negara-negara pelindung lainnya, mendudukkan Ram sebagai salah satu pemilik minoritasnya.
Tentu saja urusan ini jadi terang benderang. Tuan Shinpei adalah orang di atas dunia ini yang paling menginginkan Bank Semesta pailit---sejak enam tahun lalu. Dengan pailit, utang-utang empat perusahaannya, yang terdaftar atas nama orang lain di pencatatan Bank Semesta, akan hangus---panjang sekali urusannya jika itu akan diurus. Pailitnya Bank Semesta juga menyeret belasan perusahaan milik Opa dan Om Liem, bisnis properti, perdagangan, dan transportasi, akan runtuh satu per satu. Maka Tuan Shinpei bisa membelinya dengan harga obral. Ram adalah kaki tangan Tuan Shinpei, ditanamkan langsung oleh Tuan Shinpei untuk melakukan banyak hal secara diam-diam.
“Kau ingin memiliki perusahaan besar, Ram?” aku mendesis, menatap Ram. “Bekerja keraslah. Kau menginginkan semuanya, tidak sekadar menjadi orang suruhan? Bekerja keraslah. Itu selalu nasihat Opa saat kau masih berseragam, disekolahkan, dibesarkan keluarga ini. Bukan dengan jalan pintas, membalas semua kebaikan itu kepada musuh keluarga. Kau sungguh hebat, Ram. Mengatur begitu banyak transaksi merugikan dari dalam bank, menyusun persekongkolan, bahkan merekayasa seolah-olah Tuan Shinpei-lah salah satu pemilik dana besar di Bank Semesta. Itu hanya angka-angka di atas kertas, bukan? Kausiapkan semua agar cepat atau lambat laporan keuangan Bank Semesta hancur, bukan? Bagaimana rasanya melakukan itu semua, hah? Mengurus kongsi jahat dari ruangan Om Liem, orang yang mengangkatmu dari kehidupan biasa?”
Ram hanya mengangkat bahu, tidak menanggapi.
Jika situasinya berbeda, aku sendiri yang akan menghajar Ram tanpa ampun, apalagi dengan semua kepura-puraan selama ini. Seolah paling peduli dengan nasib Bank Semesta, paling patuh pada Om Liem, paling bersahabat denganku. 
Aku menghela napas perlahan, berusaha mengendalikan diri. Percuma memaki Ram, dia sudah melatih dirinya menghadapi situasi ini. Tuan Shinpei, tentu saja dialah yang sejak dulu mengatur semua kejadian. Saat rumah dan gudang itu dibakar, dialah yang paling menginginkan bisnis perdagangan itu, posisi perusahaannya terjepit, juga punya utang pada Papa dan Om Liem. Indah sekali permainannya, sengaja memperalat perwira serta jaksa muda yang haus kekuasaan serta kekayaan. Membujuk Ram yang ambisius sebagai kaki tangan orang dalam. 
Aku menatap sudut layar televisi. Layar televisi ukuran besar itu sedang melaporkan breaking news, langsung dari lobi gedung komite. Kadek setengah jalan menuju sofa.
“Kalian menginginkan Bank Semesta hancur, bukan?” Aku tertawa pelan. “Tuan Shinpei menjanjikan banyak hal pada kalian jika bank itu bangkrut, bukan? Ram dengan persen tertentu kepemilikan saham. Kalian, aparat pemerintah, upah setoran besar karena membantu penyelidikan atas Bank Semesta. Tentu saja kalian mengambil inisiatif, semangat sekali membantu Tuan Shinpei.”
“Kalian telah gagal, Kawan. Gagal total.” Aku tertawa, menatap wajah-wajah mereka.
Wusdi dan Tunga menatapku, tidak mengerti.
Aku tertawa semakin bahak, menatap wajah-wajah bingung mereka.
“Lihatlah, komite ternyata memutuskan menyelamatkan Bank Semesta.” Aku menunjuk layar televisi, kembali menatap Ram. “Baca jelas-jelas headline-nya, Ram. Bank Semesta ditalangi! Bail out. Nah, mungkin sekarang kita perlu mengeraskan volume televisi untuk mendengar pidato Ibu Menteri secara langsung, bukan?”
Wusdi dan Tunga menoleh ke layar televisi. Ram gugup membaca cepat headline yang tertulis di bawah layar televisi: Breaking News: Indonesian government decided to rescue Bank Semesta.
Aku masih tertawa panjang. Seluruh pion yang kuletakkan di atas papan catur selama dua hari terakhir telah bekerja. Pukul 06.00, dua jam lagi perkantoran dan perbankan dibuka. Telepon sakti itu telah mengubah pendirian dan prinsip kukuh Ibu Menteri. Urusan Bank Semesta telah selesai. 
Aku telah memenangkan skenario hebat itu.
Saatnya aku menyelesaikan urusan masa lalu itu. Tanganku bergerak cepat, sepersepuluh detik, saat mereka masih memperhatikan layar televisi, terperangah dengan berita itu, aku sudah menyerbu Wusdi di depanku. Mereka benar-benar salah memilih lokasi pertempuran, kapal ini milikku, hadiah ulang tahun dari Opa, aku amat mengenal setiap jengkalnya, dan akulah petinju paling ganas di klub petarung.
“Kadek! Habisi yang di belakangmu.” Aku berteriak lantang, memecah kesunyian dermaga yacht.
Kadek yang jelas membaca kode dari kedipan mataku beberapa detik lalu, tangannya meraih ornamen besi di dinding kabin bahkan sebelum teriakanku habis. 
“Wacth out!” Dua polisi Singapura yang menjaga sofa berteriak.
Suara senjata semiotomatis meletus bersahut-sahutan, merobek palka, langit-langit.
Dua detik senyap, salah satu polisi Singapura itu terkapar dengan wajah berdarah, satunya lagi tertatih berusaha berdiri, terkena hantaman ornamen besi. Aku sudah berhasil merebut pistol milik petinggi kepolisian di hadapanku, membantingnya duduk, mengarahkan moncong pistolnya ke pelipis, membuatnya tidak bisa bergerak kecuali mengaduh kesakitan.
“Jangan bergerak! Atau aku ledakkan kepalanya!” aku berseru galak.
Lengang. Napas-napas menderu.
Kadek terkapar dengan luka tembak di paha, tangannya masih menggenggam ornamen besi. Dua polisi Singapura yang tersisa menahan tembakan demi mendengar teriakanku. 
Wajah pias Maggie---dia hendak menangis karena takut. Opa, Om Liem bergetar di atas sofa.
“Jangan coba-coba.” Aku membentak salah satu polisi Singapura yang hendak melangkah maju, sekarang senjata semiotomatisnya terarah padaku. Satu laras lain terarah ke kepala-kepala di sofa. Petinggi kejaksaan itu juga memegang pistol sekarang, terarah persis ke kepala Opa.
“Jangan pernah coba-coba.” Aku mendesis, mengancam.
Mata kami saling bersitatap tajam. Berhitung detik demi detik.

Kamis, 02 November 2017

Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Episode 44 : Menyusul Yacht di Singapura
----------------------------------------------------
“SELAMAT pagi, Koh.” Letnan polisi muda itu menyapa Papa. Aku tahu siapa dia, sering diundang dalam acara pesta-pesta Papa. Dia datang ditemani salah satu pejabat muda kejaksaan kota kami. Aku juga kenal, namanya Tunga, juga kolega dekat Papa dan Om Liem. “Situasinya sepertinya memburuk, Koh?” Tunga tersenyum. 
Papa mengangguk, mengembuskan napas panjang.
“Kau tidak perlu cemas.” Opa mengelus rambutku. “Setidaknya dengan ada petugas, massa tidak akan bertindak nekat. Om Liem kau akan segera membawa kabar baik.” 
Aku mengangguk. 
Tere Liye : Negeri Para Bedebah

“Kau tidak jadi mengantar botol susu?” Opa mengingatkan. 
Aku menepuk jidat, segera berlari kecil ke belakang. Mama sempat membantuku menaikkan botol susu ke atas keranjang sepeda, “Hati-hati.” Dan entah kenapa Mama sempat mencium dahiku. Tersenyum lembut. Aku menyengir, segera mengayuh, menerobos kerumunan yang meski semakin keras berteriak, tidak berani melewati barikade petugas.
Sementara di rumah, aku tidak tahu Papa sedang melakukan negosiasi dengan petugas.
“Aku cemas mereka tidak bisa bersabar lagi.” Papa mengusap dahi.
“Tenang saja, Koh. Anak buahku akan menjaga seluruh rumah.” Wusdi menenangkan.
“Semua bisa diatur, Koh.” Tunga manggut-manggut.
Papa dan Opa tersenyum kecut. Mereka benar-benar mengandalkan dua orang ini untuk mengurus banyak hal belakangan. Meski semua justru semakin berlarut-larut dan rumit.
“Aku lihat di antara kerumunan lebih banyak yang bukan anggota arisan.” Papa mengeluh.
“Mereka sepertinya bahkan membawa senjata tajam.” Opa ikut mengeluh.
Wusdi tertawa kecil. “Jangan cemas. Paling juga mereka hanya tertarik melihat keramaian.”
Tunga ikut tertawa kecil. “Biasalah. Kokoh harusnya tahu sekali, urusan seperti ini selalu mengundang perhatian.”
Sementara aku mengayuh sepeda, melintasi gang, jauh meninggalkan rumah, mengantar susu. Aku tidak tahu saat itu dering telepon terdengar di rumah.
Papa sedikit tersentak. “Itu pasti kabar baik dari Liem.”
Semua kepala menoleh, Papa meraih telepon genggam, semua kepala menunggu.
Berbicara sebentar. “Apa?”
Gagang telepon jatuh. 
Mama mendekat. “Apa yang terjadi?”
“Ka… kapal itu sudah merapat.” Papa terbata-bata.
“Bukankah itu kabar baik?” Tante Liem bertanya.
Papa menggeleng. “Kapal itu merapat dengan seluruh muatan terbakar.”
Mama berseru pelan, meraih pegangan di dinding.
Wusdi bergumam pelan dengan wajah penuh simpati. “Situasi ini rumit sekali, Koh. Sungguh rumit…. Sekali saja massa di luar tahu kabar buruk ini, mereka bisa mengamuk.”
Opa terdiam. Mengusap kepalanya yang setengah botak.
Tunga ikut berkomentar, “Kami ikut menyesal mendengar kabar ini, Koh. Tapi sidang pengadilan tentang barang selundupan dan ganja akan segera dilakukan siang ini. Dengan kabar buruk ini, akan banyak pihak yang berebut menjatuhkan keluarga kalian. Ada banyak petugas yang harus disumpal mulutnya. Celakanya, kalian pasti tidak punya uang lagi.”
Opa semakin terdiam.
“Bakar!” terdengar teriakan dari luar.
“Bakar!” yang lain menimpali.
“Apa yang harus kami lakukan?” Papa memegang lutut Wusdi.
Wusdi dan Tunga terdiam sejenak, menyeringai.
Wusdi bergumam lagi, “Anak buahku bisa saja menahan massa. Membubarkan mereka, tapi massa di luar perlu jaminan kalau uang mereka akan dibayarkan.”
Tunga ikut bergumam, “Kami bisa saja menarik seluruh tuntutan, tuduhan. Tapi semua itu butuh biaya.”
“Apa saja… apa saja yang bisa memastikan keluarga kami tidak diganggu. Akan aku tebus.” Papa mulai panik, massa di luar mulai merangsek ke dalam.
Wusdi dan Tunga menyeringai, saling lirik sebentar.
“Baiklah, apakah Kokoh bisa menyerahkan seluruh sertifikat rumah dan tanah. Dengan menunjukkan itu pada massa di luar, menjanjikan mereka akan dibayar dengan menjual harta keluarga kalian, mereka mungkin bisa dibubarkan.” Wusdi berkata arif.
“Juga surat-menyurat perusahaan, gudang-gudang, kapal. Biarkan kami yang pegang, dengan itu akan terlihat itikad baik keluarga kalian menyelesaikan masalah. Aku bisa membujuk jaksa kepala untuk membatalkan tuntutan. Menghilangkan bukti-bukti,” Tunga ikut berkata bijak.
Papa dan Opa saling tatap sejenak. Mama sambil terisak berusaha bangkit dari jatuhnya.
Lima menit, semua berkas itu sudah masuk ke dalam tas-tas Wusdi dan Tunga.
“Sekarang biarkan kami mengurus mereka.” Wusdi berdiri, menyalami Papa.
Tunga tersenyum mantap. “Kalian tidak perlu ke mana-mana. Semua masalah sudah selesai.”
Mereka melangkah ke halaman rumah. Teriakan-teriakan marah terdengar dari pintu yang setengah terbuka. Sudah hampir dua ratus massa memenuhi halaman.
Aku sungguh sudah jauh sekali dari rumah. Mulai menurunkan satu per satu botol susu pesanan tetangga. Menyapa mereka sambil berlari-lari kecil.
“Lapor, Komandan, apa perlu kami memberikan tembakan peringatan untuk membubarkan massa.” Salah satu sersan mendekati Wusdi dan Tunga.
“Tidak perlu. Perintahkan seluruh anak buahmu kembali ke markas.” Wusdi menjawab santai.
Dahi sersan polisi itu terlipat, tidak mengerti. “Bukankah kita seharusnya justru meminta tambahan petugas, Komandan?”
“Tidak perlu, Sersan. Jangankan membayar uang arisan, keluarga ini bahkan tidak bisa membayar seperak pun upahmu berjaga-jaga siang ini di rumah mereka. Kapal mereka terbakar di pelabuhan.” Tunga menepuk bahu sersan polisi itu.
Sersan polisi itu terdiam. Tidak mengerti.
Kedua orang itu santai menaiki mobil, perlahan membelah massa yang beringas. Wusdi menurunkan kaca, memberikan kode ke gerombolan preman. Tunga di sebelahnya tertawa menepuk-nepuk tas penuh berkas berharga.
“PRANG!”
Aku mengerem sepeda sekuat tenaga, seekor kucing melintas di gang. 
Hari itu, umurku enam tahun.
***
Pesawat yang kutumpangi menuju Singapura terlambat dua jam lebih. 
Aku tiba di bandara Soekarno-Hatta pukul sepuluh lewat tiga puluh. Mobil taksi merapat cepat. Suara roda direm paksa terdengar mendecit panjang. Tetapi tidak ada yang memperhatikan kami yang terburu-buru. Tontonan biasa di bandara. Lobi keberangkatan internasional sepi, hanya diisi calon penumpang dan pengantar. Display layar televisi penunjuk jadwal penerbangan hanya diisi rute jarak jauh, tidak ada penerbangan domestik tengah malam begini. 
Perhitunganku benar, tidak ada polisi yang sibuk memeriksa, mungkin mereka sudah ditarik kembali ke pos masing-masing setelah hanya menemukan bangku kosong di pesawat yang mendarat di Denpasar. 
“Kau pakai ini, Thom. Boleh jadi berguna.” Rudi ikut turun dari taksi, menepuk bahuku. Dia melepas sesuatu dari tubuhnya. “Nah, selamat jalan, Teman. Besok aku akan menunggu di bandara ini sepanjang siang, menunggu berita darimu.” 
Aku melintasi meja imigrasi dengan mudah. Namaku dicekal, tapi aku kenal anak buah Randy yang menjaga loket---salah satu anggota klub petarung lainnya yang menjadi petinggi imigrasi bandara. Bahkan dua hari lalu aku juga berniat melarikan Om Liem ke luar negeri, tapi berubah pikiran, kembali turun dari pesawat. Pengumuman dari pramugari terdengar menyebalkan saat penumpang sudah duduk di pesawat dengan rapi, delay karena masalah teknis. 
Penumpang tidak penuh, hanya terisi separuh. Pesawat ini tujuan akhirnya adalah Amsterdam, transit sebentar di Singapura. Julia membelikanku tiket kelas bisnis. Pesawat baru berangkat pukul satu malam, dan mengalami keterlambatan lagi persis di udara. Cuaca buruk di Singapura, hujan deras, kabut. Pesawat terpaksa berputar-putar, hampir dipindahkan mendarat di Kuala Lumpur. Aku menunggu gelisah. Sialnya, tidak ada yang bisa kulakukan selain bersabar, dan dengan semua ketegangan, selama di atas pesawat, kepalaku justru sibuk mengenang potongan masa lalu itu.
Aku tidak menyaksikan sendiri percakapan itu, aku sudah mengayuh pedal sepeda dengan semangat. Opa yang menceritakannya padaku di kunjungan rutin ke rumah peristirahatan tepi Waduk Jatiluhur. Dan setiap melihat wajah sedihku, Opa santai berpindah topik cerita, favoritnya apalagi kalau bukan, “Nah, Tommy, kau mau mendengar sesuatu yang paling menyeramkan dari kisah pengungsian Opa dulu? Sesuatu yang amat kutakutkan selama berada di kapal nelayan bocor?” Tertawa saat aku menolak halus. “Ini sesuatu yang berbeda, Tommy. Bukan badai, bukan monster, bukan perompak, bukan pula kapal penjajah yang nelayan-nelayan itu takutkan. Sesuatu yang lebih seram lagi. Kau mau mendengar?”
Aku tahu tentang apa yang ditakutkan pelaut, nelayan yang dimaksudkan Opa setelah kuliah bisnis. Dan Opa kehilangan salah satu trik favoritnya. Lagi pula, ayolah, usiaku sudah dua puluh tahun lebih, banyak cerita berulang-ulang Opa seperti kaset rusak yang tidak lagi relevan.
Aku tiba di Singapura pukul tiga pagi. Akhirnya pesawat itu mendarat. Aku berlari kecil menuju lobi bandara, meneriaki sembarang taksi, menyebut dermaga yacht, tempat biasa Pasifik merapat di Singapura setiap kali melewati perairan Semenanjung Malaka. Aku tiba di dermaga itu lebih cepat dibanding Kadek. Pasifik baru tiba satu jam kemudian, hampir pukul lima pagi. Semburat cahaya matahari menerpa ujung-ujung kapal, pucuk-pucuk menara beton. Aku mendesah resah tidak sabaran menatap Pasifik yang mendekat gagah, moncong palka depannya begitu elok. Pasifik kapal kesayangan Opa, dibuat selama dua tahun di galangan kapal terbaik dengan supervisi langsung Opa.
Dermaga yacht sepi, masih terlalu pagi untuk memulai hari di Singapura---meskipun ini hari Senin. Belasan kapal pesiar ukuran sedang dan kecil tertambat, tiang kapalnya mengangguk-angguk anggun dengan latar suara burung pelikan. Lampu jalanan masih menyala satu-dua. Dari sisi dermaga, aku bisa melihat jelas kubah Esplanade diterpa cahaya matahari pagi. Tetapi perhatianku sedang tertuju ke arah teluk, sebuah kapal yang amat kukenal mendekat.
Pasifik belum merapat sempurna, aku sudah tidak sabaran loncat ke atasnya.
Aku bergegas menuju ruang kabin dalam, berteriak memanggil Kadek dan yang lain. Aku harus memastikan semua baik-baik saja. Kami harus segera menyusun banyak rencana. Langkah kakiku seketika terhenti, dengus napasku juga tertahan.
Seketika aku mematung. Justru mereka-lah yang sedang menungguku.
“Halo, Thomas. Selamat pagi. Kau sepertinya tergesa-gesa sekali.” Tertawa.
Suara tawa itu terdengar khas. 
Kembali dari malam-malam dengan mimpi buruk saat sekolah berasrama.

Rabu, 01 November 2017

Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Episode 43 : Pengkhianat dari Masa Lalu
--------------------------------------------------
LAPORAN dengan penanda “strictly confidential” yang dikirimkan Julia hanya dua lembar. Dalam bentuk dokumen online terenkripsi, dengan password yang disertakan Julia lewat e-mailnya. Tetapi itu cukup untuk menjelaskan banyak hal. Aku mengeluh tertahan. Tanganku dengan cepat, sedikit gemetar, berusaha membuka file yang dikirimkan Maggie tadi pagi. File yang berisi daftar debitur kelas kakap Bank Semesta. Aku memeriksa cepat spreadsheet berisi dua puluh nama perusahaan atau grup konglomerasi peminjam uang terbesar di Bank Semesta.
Tere Liye : Negeri Para Bedebah

“Ada apa, Thom?” Rudi yang asyik meluruskan kakinya menoleh. Dia menguap, terlihat lelah. Sudah pukul sepuluh malam, taksi meluncur cepat menuju salah satu hotel di jantung kota.
Aku menggeleng resah. Tidak menjawab, ujung jariku masih bolak-balik membuka beberapa file. Mataku sempurna tertuju ke layar telepon genggam. Ini tidak mudah dipercaya. Bagaimana mungkin?
“Ada apa, Thom?” Rudi bertanya lagi, tertawa kecil. “Wajahmu mendadak kusut seperti habis ditinju KO oleh anggota klub yang masih ingusan, Thom. Ayolah, kau lebih tangguh dibanding siapa pun, kecuali melawanku tentu saja.”
Aku justru berseru pelan. Mataku persis menemukan nama-nama yang dimaksud dalam laporan rahasia milik relasi review keuangan tempat Julia bekerja, membuat sopir taksi menoleh, ingin tahu apa yang terjadi. “Eh, ada apa, Pak? Ada perubahan tujuan?” 
Aku mengabaikan dua kepala yang bertanya. Aku bergegas menekan tombol alamat telepon, Kadek. Aku harus segera menghubungi Kadek, aku mendesis tidak sabaran. Urusan ini serius sekali. 
Astaga, aku sudah memikirkan ini begitu lama, sejak sekolah di asrama, sejak berangkat menyelesaikan sekolah bisnisku, sejak meniti karier menjadi konsultan keuangan. Dua bedebah dari masa lalu itu terlalu pintar untuk menjadi otak kejahatan. Mereka hanyalah bayang-bayang. Tidak lelah aku mengumpulkan ribuan kliping koran, berita tentang mereka, menelusuri banyak hal, menghubungkan informasi yang tersedia, melacak semuanya, tetap saja bagian itu menjadi misteri.
Pertanyaan itu tidak pernah terjawab. Setinggi apa pun posisi mereka saat ini, yang satu adalah orang kuat di kepolisian, satu lagi di kejaksaan, mereka tetaplah kuli lapangan. Jika mereka memang sehebat itu, sepintar itu, mereka jelas akan memilih berhenti menjadi aparat negara, memutuskan membangun sendiri imperium bisnis dan kekuasaan. Buktinya tidak, mereka hanya asyik menakut-nakuti pebisnis kelas bawah, tetapi tergopoh membungkuk mencucikan kaki pebisnis raksasa.
Aku mengeluh. Ini sudah pukul sepuluh malam. Enam kali nada panggil, tidak ada yang mengangkat. Jangan-jangan mereka sudah beristirahat tidur. Jangan-jangan telepon satelit Kadek tertinggal di ruang tengah. Jangan-jangan telah terjadi sesuatu, pikiran buruk segera menyelimuti.
“Halo, Pak Thom, selamat malam?”
Aku mendengus lega.
“Kapal ’Pasifik’ sekarang berada di mana, Kadek?”
Kadek menyebutkan lintang dan bujur posisi yacht.
Aku menyumpahi Kadek. Dalam situasi seperti ini mana sempat aku menerjemahkan posisi angka-angka. Kadek selalu saja merasa sedang berlayar resmi dan dia menjadi asisten nakhoda. “Itu persisnya berapa kilometer dari perairan Jakarta, Kadek?”
“Kami sudah jauh dari Jakarta, Pak Thom. Tujuh ratus kilometer. Tujuh-delapan jam lagi dari Singapura. Tadi siang sebenarnya Opa memintaku mengarahkan kapal untuk terus saja bergerak ke arah barat laut. Dia sekali lagi ingin menyusuri rute pengungsiannya dulu, meskipun dia bilang ke Pak Thom lewat telepon hanya melepas jangkar di sekitaran Kepulauan Seribu. Mengenang masa lalu. Pak Thom seperti tidak tahu kebiasaan....”
“Semua baik-baik saja, Kadek?” aku memotong penjelasan Kadek. Lupakan, sekarang bukan saatnya memprotes kebiasan kakek tua itu, yang suka berbohong tujuan kapal sebenarnya kepadaku.
“Semua baik, Pak Thom. Logistik dan bahan bakar cukup untuk berlayar dua hari. Opa, Om Liem, dan Ibu Maggie beristirahat di kamar masing-masing. Tiang tadi hendak mengaktifkan kemudi otomatis agar bisa punya waktu merapikan palka, buritan, dapur. Tapi karena Pak Thom bilang semua harus terkendali, kemudi saya pegang terus. Tiang tidak mengantuk, Pak Thom. Ini justru seru, sudah lama sekali tidak beramai-ramai berlayar.”
“Baik.” Aku mendengus, berpikir cepat, Pasifik sudah setengah jalan, boleh jadi ini lebih baik, kabur ke Singapura terlebih dulu, hal lain diurus belakangan. “Dengarkan aku, Kadek, kau melaju dengan kecepatan penuh ke Singapura. Jangan hubungi siapa pun, jangan terima telepon siapa pun. Aku akan menyusul ke Singapura dengan pesawat terbang.”
“Eh, Pak Thom menyusul segera? Ergh, sebenarnya ada apa, Pak Thom?” Kadek ragu-ragu menyela, mendengar intonasi suaraku yang tegang.
“Jangan banyak tanya dulu, Kadek. Lakukan perintahku.”
“Siap, Pak Thom.” Kadek menelan ludah.
“Nah, kaupastikan Om Liem tidak menerima telepon dari siapa pun hingga besok. Kau mengawasinya terus, bukan? Dia tidak menghubungi atau dihubungi sepanjang hari?”
“Tidak, Pak Thom. Setahu saya tidak ada yang menghubungi. Eh....”
“Kau harus tiba di pelabuhan Singapura sebelum pukul enam pagi, Kadek. Pacu kapal secepat yang bisa mesin Pasifik lakukan. Aku segera menyusul.”
Aku sudah menutup telepon genggam sebelum Kadek bilang siap untuk kedua kalinya. Menekan tombol alamat kontak, mencari nama Julia. “Kita menuju ke bandara sekarang.” Sambil berseru ke depan.
“Bandara?” Itu pertanyaan memastikan dari sopir taksi.
“Bandara?” Itu pertanyaan bingung dari Rudi.
“Bandara satunya, Soekarno-Hatta. Aku harus segera berangkat ke Singapura malam ini juga, Rud. Situasi darurat.” Mataku ke layar telepon, satu kali nada panggil.
“Selamat malam, Thom.” Cepat sekali Julia mengangkat panggilan teleponku. 
“Malam, Julia.” Aku tahu Julia belum tidur. Dia bersama belasan rekan wartawan lainnya sedang menunggu rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan---sebenarnya banyak sekali orang yang sedang menunggu kabar dari rapat penting tersebut, termasuk aku, menunggu di detik kapan persisnya telepon tidak bisa ditolak itu akan diterima ketua komite.
“Aku butuh bantuan lagi, Julia. Kau tidak keberatan?”
“Tentu tidak, Thom. Dengan senang hati. Silakan.” Suara Julia terdengar riang.
Aku menyeka dahi yang berpeluh, aku sungguh butuh kecepatan saat ini. Meskipun bandara Soekarno-Hatta sepertinya tidak lagi dipadati polisi yang mencari kami, aku tetap tidak bisa melakukan transaksi apa pun atas namaku. Mereka pasti bersiaga dengan informasi seperti itu. Aku meminta Julia segera memesankan satu tiket ke Singapura malam ini juga.
“Itu mudah, Thom. Tunggu lima menit, segera aku kirim tiket online-nya lewat e-mail.” Julia tidak banyak bertanya, menggangguk.
Terima kasih, aku sudah bersiap menutup telepon.
“Kau sudah baca e-mail terakhirku, bukan?”
“Sudah. Terima kasih.”
“Eh, sebentar, kau terpaksa harus ke Singapura malam ini juga karena e-mail itu, Thom?”
“Iya. Terima kasih.” 
“Eh, kau hati-hati, Thom. Setidaknya kau harus mendengar dan melihat sendiri hasil semua skenario hebat itu. Aku memasang taruhan, Bank Semesta akan diselamatkan. Delapan banding dua, wartawan lain lebih banyak bilang tidak dengan reputasi Ibu Menteri, lobi depan gedung kementerian ramai sekali malam ini, seperti sedang menonton siaran langsung sepak bola.”
“Iya, terima kasih, Julia.” Aku buru-buru menutup telepon, mengabaikan antusiasme suara Julia---membiarkan di seberang sana Julia berseru mengkal dengan wajah memerah.
Mobil taksi sudah meluncur menaiki ramp tol bandara. 
“Ada apa?” Rudi menyikut lenganku, nyaris sepuluh menit dia diabaikan. Wajah lelahnya sudah pergi, berganti wajah siaga, seperti siap meninju siapa pun.
“Tidak bisa kujelaskan sekarang, Rud.” Aku menggeleng. “Sekali ini benar-benar terlalu personal.”
“Ayolah,” Rudi menyengir, tertawa, “kita teman baik, bukan? Aku bisa membantu.”
“Tentu kau bisa membantu, dan kau selalu membantuku. Tetapi ini urusan keluarga, Rud. Bukan lagi soal menyelamatkan Bank Semesta.” Aku menggeleng sekali lagi. “Kau sudah membantu banyak dengan menemaniku ke Denpasar, membantu lolos dari mereka. Kali ini, biar aku yang menyelesaikannya sendirian.”
Rudi diam, menyelidik.
“Besok siang, jika keputusan komite adalah menyelamatkan Bank Semesta, seperti janjiku, aku akan membayar lunas semua bantuanmu, lengkap dengan bunga-bunganya. Itu janji petarung, kau tahu persis nilainya. Posisi, martabat, kariermu sebagai polisi akan pulih.” Aku menepuk lengan Rudi penuh penghargaan. Seharusnya aku bisa menjelaskan lebih baik pada Rudi, tapi dengan taksi yang melaju cepat menuju bandara, waktuku terbatas. Setiba di bandara, aku harus segera loncat menuju lobi keberangkatan. Aku harus bergegas check-in, menyumpal petugas imigrasi, mengejar pesawat.
“Terima kasih banyak atas semua bantuan itu, Rud. Berdoa sajalah aku baik-baik saja. Kalau tidak, klub petarung tidak akan sama lagi, bukan? Tidak ada lagi yang bisa menghajarmu.” Aku mencoba bergurau, melirik layar telepon genggam, ada notifikasi e-mail masuk. Itu pasti tiket online yang dikirimkan Julia.
Rudi mengusap rambutnya yang terpotong pendek, ikut tertawa. “Kau tidak berutang apa pun, Thom. Aku sudah bosan dengan semua hipokrasi, hanya itu alasannya membantumu. Terserah kaulah, jika ada apa-apa, tinggal kontak. Aku akan membantu dengan cara apa pun.”
Aku mengangguk. Rudi, dan semua anggota klub petarung, adalah teman yang baik.
Sayangnya, dalam urusan ini, aku akan menyelesaikannya sendirian, Rud. Tanganku sendiri yang akan membasuh seluruh masa lalu itu. Tiga puluh dua tahun aku menunggu saat-saat ini. Aku mengingat semua detail. Asap hitam membubung tinggi dari rumah dan gudang milik Papa. Abu beterbangan. Tetangga menjerit panik, berusaha mati-matian menahanku agar tidak mendekat. Orang-orang bayaran yang berteriak buas, merusak apa saja, membakar apa saja. Sepeda tergeletak. Botol susu berhamburan. Buntalan kain yang berisi pakaian seadanya tersampir di pundakku. Aku duduk menatap keluar jendela kaca bus yang meninggalkan kota kami. 
Aku tahu sejak dulu, dua bedebah itu hanyalah bayang-bayang. Tetapi aku baru tahu beberapa menit lalu, ada pengkhianat besar dalam keluarga kami. Tanganku gemetar mencengkeram telepon genggam. Beberapa jam lagi semua bagian akan terselesaikan.