Minggu, 19 Agustus 2018

Riwayat Haji

“Doa apa yang hendak kalian titipkan padaku sewaktu di depan ka’bah nanti?” Haji Mashurat mengajukan pertanyaan, disertai anggukan kepala berulang-ulang. Jam dinding berputar di atas kepalanya. Haji Mashurat mengedarkan pandangan. Membiarkan orang-orang berbisik serupa suara lalat. Bulan muncul dari balik dekapan awan dan merayap di permukaan langit. Mereka datang ke rumah Haji Mashurat guna mendoakan keselamatan laki-laki gemuk, berkumis tebal itu berangkat haji untuk kelima kalinya.

“Doakan yang baik-baik saja. Semoga kelak kami juga bisa naik haji,” terpaksa Rahnawi menjawab. Ia tak ingin memancing emosi Haji Mashurat karena tak menanggapi pertanyaan yang dilontarkan. Haji Mashurat melilitkan sorban putih di kepalanya. Kerut-kerut di dahinya mulai tampak membentuk garis yang terombang-ambing. Jari jemarinya dipenuhi cincin akik berbagai macam warna.

Angin dari balik perbukitan membawa hawa dingin. Menghunusnya ke dalam pori-pori kulit. Haji Mashurat membenarkan posisi. Pada saat itulah, dengan binar-binar kebanggaan di matanya, Haji Mashurat kembali akan mengurai kisah-kisahnya sewaktu di Mekkah. Ia mengedarkan pandangan. Menandai penghargaan atas kehadiran tamu undangan. Berdehem-dehem guna menghilangkan sesuatu yang menyumbat tenggorokannya. Ia atur alur napasnya.

“Dulu…” Haji Mashurat diam sejenak. Menunduk. Dua bola matanya menyimpan gerimis tipis sehalus sutra. Kurang lebih satu menit ia melanjutkan,“Saya tidak menyangka bisa mencium hajar aswad bahkan sampai berulang-ulang. Dan berkali-kali pula menginjakkan kaki di tanah suci. Saya merasa nikmat disana. Itulah mengapa saya tak ingin berhenti pergi ke sana.”

“Saya bermimpi bertemu Rasulullah. Kata orang, tidak akan datang Nabi ke dalam mimpi seseorang kecuali ia sudah bersih hati dan memang dipilih Gusti Allah.” Mata Haji Mashurat berkaca-kaca. Ia mengusap gerimis yang meleleh di kedua pipi tembemnya dengan sorban. Orang-orang terharu. Terkagum-kagum. Sampai-sampai ada yang ikut meneteskan air mata. Ada pula yang berbisik-bisik dan mencibir.

“Membual! Mana mungkin Rasulullah hadir dalam mimpimu!” Rahnawi melenguh dalam hati. Menyimpan cibiran di dalam dadanya. Melintas dalam  ingatan Rahnawi, tiga tahun lalu ucapan Haji Mashurat melubangi dadanya. Jantung Rahnawi hampir copot dari tangkainya kala itu. Namun ia tetap bersikap wajar kepada haji Mashurat. Tak memelihara dendam.

Riwayat Haji ilustrasi Rendra Purnama/Republika 
Waktu itu, jam delapan pagi. Matahari mendaki permukaan langit dari balik bukit Garincang. Seekor burung melayang-layang, sesekali hinggap di atas dahan. Isak tangis Simar, istri Rahnawi membuatnya terhisap memasuki kepedihan demi kepedihan di dalam hatinya. Misdar, anak mereka sakit keras. Ia cuma dibiarkan terbaring berhari-hari di atas ranjang.

Padahal bocah tujuh tahun itu harus segera dioperasi karena usus buntu. Sebagai kepala keluarga Rahnawi tentu merasa bertanggung jawab. Tapi, laki-laki kurus kerempeng itu tidak sanggup membawa anak lelaki satu-satunya ke rumah sakit lantaran terhalang biaya. Rahnawi cuma seorang petani. Kerja serabutan. Penghasilan tak jelas. Mendengar tangis istrinya yang panjang dan menyayat kian membuat Rahnawi merasa bersalah dan mengutuk dirinya sendiri atas ketakberdayaan yang mencekiknya.

“Haji Mashurat.” Gumam istri Rahnawi diantara isak tangisnya. Tubuh Misdar merasakan sakit yang teramat pada perutnya. Ia meronta-ronta, diseratai jerit melengking. Dengan sandal jepit yang dikenakannya, Rahnawi melangkah terpiuh-piuh untuk sampai di rumah gedung bertingkat, dengan lampu-lampu serupa bunga mawar milik Haji Mashurat.

Gemetar merambat dari ujung tumitnya begitu ia tiba di rumah Haji Mashurat. Seorang pembantu menyambutnya. Menyilakan masuk. Di ruang tamu berpendingin, segelas teh dihidangkan oleh pembantu. Dinanti-nanti Haji Mashurat belum juga menemui Rahnawi yang mengatur alur napasnya sejak tadi. Ia meremas-remas tangannya yang mulai basah.

Tidak lebih dari enam menit. Haji Mashurat telah keluar membawa sebungkus rokok. Rahnawi berdoa agar laki-laki bersorban di hadapannya bersedia membantu kesulitan yang tengah membelitnya. Dengan tersenyum, Haji Mashurat menyodorkan sebatang rokok. Rahnawi merasakan keringat mengucur di sekujur tubuhnya. Ia belum berani mengatakan maksud kedatangan.

“Tumben kau kesini?” Haji Mashurat memulai. Mengurai ketegangan yang merambat sekujur tulang belulang Rahnawi. Ia tergagap untuk bicara. Ia melempar pandangan keluar jendela, pada baris pohon-pohon siwalan yang diterpa angin.

“Begini…” suara Rahnawi terputus. Ia seakan tak sanggup menguarai niat kedatangannya. Jam dinding di atas kepalanya berdetak tak seirama dengan laju degup jantungnya yang dirasakan payah. Sesaat kemudian, dengan menarik napas dalam-dalam ia bicara pelan seperti desir angin. “Saya butuh bantuan Mas Haji.” Haji Mashurat mengangguk-anggukkan kepala.

“Anak saya sakit keras. Ia harus dioperasi. Kalau boleh, saya ingin pinjam uang.” Haji Mashurat menyemprotkan asap rokoknya. Laki-laki bergamis, dengan sorban melilit di kepalanya itu mengernyitkan dahi, menimbang-nimbang apa akan menuruti permohonan Rahnawi atau membiarkan laki-laki kerempeng itu menelan kesedihannya sendiri. Haji Mashurat mengulas bibirnya dengan senyum kecut.

“Maaf…maaf saya tidak dapat membantu.” Jawab Haji Mashurat pendek. Mendengar ucapan itu, Rahnawi merasa seluruh persendian tubuhnya terasa lunglai. Terbayang sudah bagaimana nasib anaknya. Ia seperti kehilangan tenaga untuk bangkit dari duduknya.

“Semua uang saya sudah disetor untuk naik haji. Saya harus berangkat haji lagi.” Haji Mashurat memang dikenal lantaran kehajiannya yang berulang-ulang. Namun ia juga dikenal lantaran sifat kikirnya yang teramat kepada tetangga.

“Bukannya Mas Haji sudah berkali-kali ke tanah suci?” Pertanyaan ini sempat diajukan Rahnawi sebelum lelaki kurus kering itu pulang menelan kekecewaan. Haji Mashurat menampakkan gigi-giginya yang mulai berkurang. “Saya cinta Rasulullah. Makanya saya harus naik haji berkali-kali selama masih hidup.” Rahnawi terlihat ingin meludah mendengar ucapan Haji Mashurat yang seperti itu. Tapi, ia buru-buru pamit pulang. Sehingga tubuhnya sudah hilang ditelan pengkolan jalan ketika Haji Mashurat mendengar keresak kasar sandalnya makin menjauh.

“Haji kampret!” Ia menyimpan umpatan itu di dalam dadanya yang meletup-letup. Langit sedang menghampar warna biruh cerah. Lima hari setelah itu, Misdar dijemput Izrail. Suami istri itu mengutuk dirinya atas ketakberdayaan memboyong anak lelakinya ke rumah sakit. Tangis Simar, kian panjang dan dalam. Penuh gumpalan kesedihan. Ia berusaha menenteramkan goncangan jiwanya dengan menabur bunga-bunga di atas pusara sang anak.

Dengan mata berkaca-kaca, Rahnawi tersadar dari lamunan panjangnya. Suara keras Haji Mashurat membuyarkan ingatan akan peristiwa kelam dalam hidupnya. “Kalau ingin naik haji bersihkan hati kalian. Tentunya kalian harus punya uang untuk sampai kesana.” Haji Mashurat menggulung sebagain baju di lengannya sehingga tampak arloji kuning keemasan berkilauan. Malam kian larut. Bulan timbul tenggelam dalam dekapan awan. Orang-orang bubar. Haji Mashurat bangkit, menerima uluran tangan orang-orang yang bersalaman kepadanya. Ia pun menepuk semua pundak orang-orang dan berujar, “Semoga bisa naik haji sama seperti saya.”

***

Dalam temaram lampu teplok yang terpiuh-piuh ditiup angin. Rahnawi tengah menyandarkan tubuhnya ke dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Hujan menggedor-gedor atap rumahnya. Hidupnya bergelantungan di garis kemiskinan. Segelas teh tanpa gula dihidangkan di atas meja oleh Simar. Meskipun begitu, ia terbilang laki-laki nekat. Nekat naik haji. Tempo hari, laki-laki yang makin menonjolkan tulang belulang di tubuhnya itu bilang kepada Simar bahwa ia akan menabung demi bisa sampai di tanah suci.

“Jangan nekat, Mas.” Istrinya merasa tak yakin Rahnawi akan sampai di Mekkah. Menanggapinya Rahnawi memberikan senyuman.

“Untuk ibadah ya harus nekat. Yakinlah pasti dikabulkan.” Rahnawi meyakinkan. Mantap. Ia hisap sebatang kelobot. Asapnya berputar-putar di udara.

Kini hampir satu tahun kurang sepuluh hari. Tersimpan sudah dua puluh juta di dalam lemari. Rahnawi banting tulang demi tanah suci. Dengan pencapaian itu, Rahnawi semakin yakin dirinya bisa mencium hajar aswad atau berdoa di depan makam para Nabi. Jam delapan malam. Angin menusuk-nusuk daun mangga. Terdengar pintu diketuk. Rahnawi meminta Simar segera membukanya.

Seorang perempuan tua, keriput, dan bungkuk sedang berdiri di ambang pintu. Simar dapat mendengar tarikan napasnya berat dan goyah. Ia bicara terbata-bata disertai derai batuk. Bahwa cucu satu-satunya sedang terbaring di rumah sakit dan mesti dioperasi. Tak lama kemudian, perempuan tua itu menangis panjang dan sangat dalam.

“Berapa yang dibutuhkan untuk biaya operasi nek?” Rahnawi menggeser posisinya, duduk di sebelah si perempuan renta itu. Mengelus-elus tengkuknya.

“Rp 20 juta.” Jawaban nenek itu pendek. Kaget Rahnawi mendengar si nenek menyebut angka sebesar itu. Ia tarik napas dalam-dalam. Rahnawi masuk kedalam kamar. Dengan bungkusan berisi uang Rahnawi memberikan kepada nenek tersebut. Perempuan tua itu berniat mencium tangan suam istri itu pertanda terimakasih. Namun mereka menolaknya. Simar mengantar nenek itu sampai di depan pintu.

“Kenapa Mas berikan semua uang itu? Bukankah uang itu akan disetor untuk naik haji?”

“Apa guna saya naik haji kalau masih ada tetangga di sebelah rumah kita yang kelaparan. Apalagi ada tetangga yang sangat membutuhkan seperti nenek tadi.”

“Memang Mas kenal dengan nenek tadi?” Pertanyaan Simar membuat Rahnawi terperangah. Ia menggeleng. Sampai langit dibungkus gelap. Bintang ditabur di permukaan langit. Perempuan tua itu tetap diselimuti misteri. Suami istri itu berpegangan tangan ketika terlelap di atas ranjang. Dalam mimpi, Rahnawi bertemu dengan perempuan tua tadi. Walaupun wajahnya tampak jauh lebih muda. Ia tetap bisa dikenali. Tubuhnya mengeluarkan pendar-pendar cahaya. Ia berdiri di samping ka’bah. Melambai-lambaikan kedua tangannya kepada Rahnawi.

Pulau Garam, 2017

Cerpen Zainul Muttaqin (Republika, 12 Agustus 2018)
Zainul Muttaqin Lahir di Garincang, Batang-batang Laok. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Cerpen-cerpennya dimuat di pelbagai media nasional dan lokal. Salah satu penulis dalam antologi cerpen; Dari Jendela yang Terbuka (Edukasi Press; IAIN Walisongo Semarang. 2013). Perempuan dan Bunga-bunga  (Obsesi Press; STAIN Purwokerto. 2014). Sepotong Senja, Sepenggal Sangka (FAM Indonesia, 2016). Tinggal di Madura. Email: lelakipulaugaram@gmail.com
 

Sabtu, 18 Agustus 2018

Aku Tak Ingin Kacamata, Aku Hanya Ingin Mati, Tuhan

Menjelang usia ke-90, aku mulai merasakan kesepian yang sangat. Di dalam ruang jiwaku, kegelapan seolah menyelimuti hidupku yang pahit. Aku tak lagi mengetahui apa pun yang terjadi di dunia ini. Keadaan ini, membuatku merasa tidak bahagia lagi. Pohon-pohon yang bergoyang di halaman rumah, kuperhatikan selalu dengan irama yang sama. Di malam-malam yang sungsang, mata anjing sialan yang biasa di depan rumahku pun menyala merah dan menggonggong seakan tak mengenaliku. Padahal ia milik tetanggaku. Sungguh, aku bosan dengan kehidupan.

Setiap bangun tidur, tulangku yang kaku berderit bersama ranjangku yang usang. Otakku seolah lengket. Aku hanya mampu mengingat jarak antara desaku dengan desa tetangga. Jalan yang berdebu, pintu rumah yang terkelupas catnya, dan tahi kerbau yang bercecer di jalanan. Orang-orang seusiaku juga semakin langka. Mereka satu-satu mati dan digantikan oleh anak-anak muda yang asing dan tak bisa mengerti bahasaku. Aku pun tak mampu memahami mereka. Mereka banyak bicara hal-hal asing di dunia ini. Aku merasakan dunia ini seolah sudah terbalik. Kebahagiaan mereka bercerita tentang dunia yang tak aku pahami ini membuatku iri.

Anak-anak muda itu juga semakin tak menghormatiku. Mereka menganggap aku—orang tua ini, seperti kerbau dungu yang pantas mereka tertawakan. Sungguh, adab mereka tak lagi anak-anak muda di zamanku. Mereka juga hidup dengan dirinya sendiri. Meskipun aku lihat mereka berkumpul dengan mainan menyala di tangan.

***

Istriku, di masa lalu, adalah sosok perempuan manis yang mengetahui banyak hal. Terutama tentang orang-orang di pasar, tempatnya berjualan. Mereka membuatnya sering mengomel setelah menagih tak kunjung hasil. Ia juga banyak tahu nama-nama orang berikut jumlah utangnya, meskipun bukan berutang padanya. Ia suka sekali cerita tentang dunia luar sana yang katanya terlalu ribut. Jika aku merasa capek menanggapi—ia segera pergi ke rumah Jumiyem, tetangga sebelah yang mirip istriku, sembari membawa sedikit makanan agar ada alasan untuk tetap tinggal dan menggunjing orang-orang yang menggelisahkannya. Sepulang dari rumah Jumiyem, ia suka sekali bercerita tentang Kerto. Suami Jumiyem yang pakai kacamata dan membaca koran. Di sisi itu, harus kuakui, istriku adalah perempuan yang penuh perhatian. Kepadaku dan pada orang-orang di luar sana. Oleh sebab itu, ia jadi tahu banyak hal dan membuatnya hidup tak kesepian tanpa anak.

Suatu ketika, istriku memintaku memakai kacamata seperti suami Jumiyem. Katanya, “Pak, besok kamu harus pakai kacamata, biar bisa baca koran seperti Kerto.”

“Besok kalau dapat tagihan, aku belikan dulu saja. Tapi diganti, jangan lupa, Pak.” Tapi kacamata itu tak pernah sempat ia belikan. Istriku mungkin lupa selama itu, dan akhirnya keburu meninggal karena darah tinggi.

Setelah istriku tiada, duniaku menjadi berubah sama sekali. Tentu saja, aku sangat kehilangan satu-satunya teman di dunia yang memberiku banyak kesenangan, meskipun aku tak pernah tahu isi dunia ini. Ia seperti menjadi mata dan kegembiraanku. Di makamnya yang sederhana tanpa nisan di ujung desa, aku memberinya bekal sebuah kendi yang kuisi air setiap pekan. Air itu kurasa akan cukup untuk bekalnya dalam perjalanannya di padang masyar yang katanya panas. Sering kusampaikan kesedihanku padanya. Betapa aku kehilangan kehidupanku s telah ia pergi, bahkan sebelum aku mati sungguhan. Aku hanya berharap agar segera bisa menyusul dan bersamanya menyusuri dunia baka dengan gembira.

Tentang mati ini, sesungguhnya aku cukup optimistis selama lima tahun lalu, mcngingat sebayaku sudah banyak yang menemui ajal. Tapi, kenyataannya berbeda, sampai saat ini aku masih hidup dan menjalani kehidupan yang semakin membosankan. Terkadang aku merasa jengkel dan berpikir Tuhan telah melewatkanku. Tapi bagaimana mungkin Tuhan melupakanku? Aku, meskipun tak selalu ingat, aku suka menyebut namaNya.

Hingga kemudian, suatu waktu, aku bertemu dengan anak dari cucu luar jauh istriku di depan balai desa. Anak muda itu langsung mengenaliku, meskipun aku merasa belum pernah bertemu. Tapi aku juga tak yakin. Aku mungkin pernah mampir di rumah orangtuanya, atau dia mampir ke rumahku bersama orangtuanya. Ia mengingatku dan aku melupakannya. Itu bisa saja terjadi. Usianya menurutku sekitar 30 tahun. Bisa lebih bisa kurang. Kulitnya agak gelap seperti istriku. Rambutnya hitam berombak. Matanya awas di atas hidungnya yang bersila. Tapi ia sungguh baik terhadap orang tua sepertiku. Katanya, ia akan mengirimku sebuah kacamata agar aku bisa membaca. Karena ia baik, aku bilang padanya agar segera mengirim kacamata itu.

“Jangan lupa, bilang pada bapakmu untuk mengirimku uang juga.”

Anak muda itu, memang berbeda dengan yang lain, meskipun aku lupa menanyakan namanya—ia tetap mengiyakan dan mencium tanganku dengan penuh rasa sopan yang semakin sirna di desaku.

Beberapa hari kemudian, aku masih mengingat mukanya, ia datang berkunjung ke rumah dan membawa sebuah kacamata serta amplop berisi uang. Di teras rumahku yang dipenuhi tahi ayam milik tetangga, aku mencoba kacamata itu. Pertama yang aku lihat dengan kacamata itu adalah sobekan kertas yang berisi huruf latin dengan tinta yang hampir luntur. Aku yakin itu tulisan generasi kedua setelah dua generasi dariku. Tulisannya buruk seperti bunyinya, kamu membosankan.
Aku Tak Ingin Kacamata, Aku Hanya Ingin Mati, Tuhan ilustrasi Ampun Sutrisno/Kompas 

Hari itu aku sangat bersemangat. Semua kesepianku tiba-tiba sirna. Aku merasa bahagia dan senang. Aku basahi permukaan kaca bulatnya dengan uap mulut dan menggosoknya dengan ujung serbet berulang kali. Mengenakannya dan menatap diriku sendiri di depan cermin lemari. Istriku pasti sangat senang bila tahu aku memiliki kacamata seperti Kerto. Esok paginya aku sengaja berjalan ke ujung desa dan menemui istriku. Kukenakan kacamata itu sepanjang jalan, meskipun jarak pandangku menjadi kabur. Anak-anak muda yang berkumpul di poskamling kulihat—mereka—dan aku yakin mereka menatapku dengan pandangan iri. Di makam, aku katakan pada istriku bahwa cucunya yang baik sudah memberiku kacamata. Jadi, tidak perlu khawatir lagi, aku sudah seperti Kerto dan akan melihat isi dunia ini. Aku tak akan kesepian lagi menunggu ajalku.

Aku mulai membaca koran dengan kacamataku. Mula-mula aku melihat kehidupan dunia seperti cahaya mozaik yang berkelap-kelip. Aku melihat dunia yang membesar. Cahayanya menyenangkan. Ini sungguh membuatku seperti menelusuri pasar malam di masa lalu, ketika aku berusia sekitar sepuluh tahun. Ada banyak makanan dan gula-gula yang menarik di sana. Badut-badut yang melucu di tenda sirkus yang berada di alun-alun kota di bulan menjelang puasa. Aku bersama tiga temanku sering masuk tanpa tiket melalui lubang tenda yang sobek dan dikejar-kejar penjaga dan diteriaki, “Hei, bajingan cilik! Jangan lari!” Kami berlari ketakutan, tapi tertawa senang.

Namun, semakin aku membaca—sedikit demi sedikit, perasaanku menjadi khawatir dan getir. Aku menjadi seolah melihat dunia masa lalu yang dipenuhi perang, begal, para durjana dan kemelaratan orang-orang menggunakan goni berkutu untuk bahan pakaian. Dunia menjadi terasa pengap dan gelap. Setiap hari aku menjadi merasa ketakutan. Aku melihat kematian yang tak semestinya setiap hari.

Aku mungkin tidak lagi terkurung dalam pandangan terbatas. Tapi aku jelas dikurung oleh pelbagai perasaan yang tak bisa diduga. Setiap pagi, aku tiba-tiba seperti didorong untuk marah. Aku mencaci dan menyumpahi orang-orang yang tak kukenal. Aku menjadi curiga pada setiap orang. Bahkan aku mulai tak suka dengan kepala desaku yang kulihat seperti binatang penghisap. Lurah itu kaya-raya. Punya banyak sawah dan rumahnya besar yang dibuat dari kayu jati. Mobil nya juga berderet di halaman rumahnya yang seperti taman surga Hijau dan dihiasi bunga-bunga berwarna merah dan kuning. Tapi lurah itu pasti bajingan. Koruptor yang jahat. Setiap hari aku membaca keadaan itu. Para pejabat yang ditangkap polisi, polisi yang ditangkap polisi dan polisi yang menangkap orang tak bersalah.

Semakin aku mengetahui dunia, semakin aku merasa sepi dan nelangsa. Aku malah tak bisa memahami isi dunia ini. Tidurku menjadi berjarak dan tak lagi nyenyak. Nyamuk-nyamuk di kamarku menjadi resah seperti marah. Ketika pagi menjelang, kulihat anak-anak muda di desaku seolah tumpukan sampah yang bergerak-gerak tertiup angin. Mereka tetap tak berlaku sopan pada orang tua sepertiku. Kerjaannya hanya tertawa dan melongo seperti mabuk masrum.

Setelah waktu yang demikian panjang dan kejam menyiksaku dengan kacamata itu—aku mulai sangat merindukan istriku. Aku datang padanya di tengah malam. Di atas permukaan gundukan makam yang mulai merata, kusiramkan air kendi agar haus istriku terobati di sana.

“Aku tahu kamu merindukanku, Bu,” bisikku di antara bunyi serangga dan derit pohon bambu yang disapu angin malam. Malam itu, bintang-bintang berkelip nyala. Udara terasa nestapa.

“Kamu harus sabar menungguku. Waktuku tak lama lagi, bukan? Iya, semoga Tuhan tak melupakanku lagi. Mintalah padanya memanggilku sekarang. Kamu dekat dengan diriNya, bukan? Atau dia tak ada?” Aku terdiam lama dan tanganku menggaruk-garuk tanah. Sadar telah berucap dosa.

“Aku bosan dengan dunia ini dan aku tak suka kacamata ini. Benar katamu, Bu, aku bisa seperti Kerto, tapi kacamata ini membuatku kehilangan kewarasan. Kacamata ini menyeretku pada dunia yang berbadai. Dunia ini ternyata hanya berisi sampah-sampah. Aku tak mau memakainya lagi,” kataku geram sembari membuangnya di pinggir pagar makam.

Malam itu aku tak mau meninggalkan di mana istriku berada. Aku hanya ingin tenang bersamanya. Mendengarkan suaranya bersama desah angin, ringkik jangkrik, derik ular dan kabut menjelang subuh yang datang. Di samping pusaranya, aku hanya berbaring dan berharap segera datang ajal bersama istriku, menjemputku. Tapi, kemudian orang-orang kampung pada datang. Memaksaku pulang untuk hidup menerima keadaan. Mereka mengira diri mereka punya rasa kasihan. Betapa sia-sianya mereka tak paham yang aku rasa, dan betapa malangnya aku harus menunggu waktu ajal yang membosankan. Tanpa jeda. []

Cerpen Ranang Aji SP (Kompas, 12 Agustus 2018)
Ranang Aji SP, mengikuti program Kelas Cerpen Kompas 2018, Kompas Institute. Menetap di Magelang, Jawa Tengah. Menerbitkan kumpulan puisi Fang (2011) dan Titik Nol Perlawanan (2012). Tulisannya berupa cerpen, puisi, opini, esai budaya dipublikasikan di berbagai media cetak dan digital

Ampun Sutrisno, lahir 1 Juni 1971 di Bantul, DI Yogyakarta. Ia menempuh pendidikan Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta, lalu bergabung dengan Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Yogyakarta. Pernah menerima penghargaan nomine Jakarta Art Award, 10 besar lomba lukis Antikorupsi Jakarta. Beberapa kali menggelar pameran tunggal sejak 1993

Senin, 06 Agustus 2018

Ular-ular Merah dalam Tubuh Kakek

Aku cukup terkejut, di malam yang seharusnya sudah sangat larut ini, ada juga orang yang masuk ke kamar ini, dan melihat sesuatu yang seharusnya tak dilihatnya!

Ia, si cucu kesayangan, terpaku melihat ular-ular yang sedang merayap masuk ke tubuh kakeknya, yang sudah beberapa hari ini nyaris tak bergerak. Membuatnya langsung berteriak, hingga membangunkan ibunya.

“Kakek sudah mati!” serunya berulang kali saat ibunya muncul.

“Kau ini! Kurang ajar sekali mengatakan hal seperti itu!” Sang ibu yang masih mengantuk nampak gusar.

“Tapi… ada ular dalam tubuh kakek! Jumlahnya banyak, dan mereka bersembunyi lewat luka-luka yang menganga itu!”

“Dasar anak penghayal! Bagaimana bisa ular bersembunyi di tubuh manusia!”

“Maka itulah aku bilang tadi… kalau kakek sudah mati!”

“Hentikan ucapanmu! Bisa kualat kau nanti!”

Si cucu hanya bisa terdiam. Namun sejak itu, ia yang biasanya selalu melendot manja di tubuh kakeknya, dan mau mengurusi semua kebutuhan kakeknya selama sakit, tak mau lagi mendekat. Bahkan memasuki kamarnya pun enggan. Ia hanya berdiri di ambang pintu, dengan wajah setengah ketakutan.

Aku hanya tersenyum melihatnya.

Keluarga ini memang bodoh!

Mereka sama sekali tak mengenal kakeknya sendiri. Jelas sekali kalau kakek kesayangan mereka telah mati. Tubuhnya kaku, tak lagi bisa bergerak, walau napas dan detak jantungnya masih tersisa. Tapi harusnya mereka tahu kalau itu bukan napas dan detak jantung yang seharusnya!

Aku mengenal sekali kakek mereka. Aku sudah bersamanya jauh sebelum mereka ada.

Mereka sama sekali tak tahu, kalau kakek tercintanya ini punya sejarah yang mengerikan. Walau ia berusaha mengubur masa lalunya. Tapi siapa yang bisa benar-benar mengubur masa lalu seutuhnya?

Itu bukan perkara mudah. Dulu, mencari makan bukanlah sesuatu yang mudah. Perlu pengorbanan besar. Aku tahu sekali, kakek yang kala itu masih sangat muda, bukan orang yang sepenuhnya berani. Satu waktu ia memang dapat menguasai pasar itu bersama kawan-kawannya. Tapi pasar bagaikan pemikat bagi laki-laki nekad lainnya. Di situ uang mengalir tanpa henti. Tak heran bila beberapa hari sejak menguasai pasar, orang-orang mulai berusaha merebutnya.
Ular-ular Merah dalam Tubuh Kakek ilustrasi Budiono/Jawa Pos

Saat itulah, ia mulai memintaku hadir untuk bersemayam di dalam tubuhnya. Aku tentu senang ia memintaku, apalagi aku tahu bagaimana berat ikhtiarnya. Pelan-pelan aku mulai membuka titik-titik paling tersembunyi dalam dirinya. Sehingga ia dapat merasakan tanda-tanda lebih tajam tentang apa yang akan terjadi padanya. Ia akan tahu kabar buruk yang akan datang. Itulah yang selama ini membuatnya survive. Ia menjadi licin tak terkejar musuh-musuhnya—termasuk polisi—dan juga dapat dengan mudah melakukan pembalasan pada lawan-lawannya, karena mampu memilih waktu yang paling sempurna.

Seharusnya diriku saja sudah cukup baginya. Toh, aku tak pernah membayar setengah-setengah orang yang sepenuhnya percaya padaku. Tapi rupanya itu tak cukup baginya. Ia mencari lagi sesuatu yang lain, untuk disandingkan bersamaku.

Aku lebih suka menyebutnya si pengganggu. Ialah yang pada akhirnya menjerumuskannya dalam keadaan seperti ini!

Aku, si penganggu.

Terserah ia mau menyebutku apa. Tapi, aku jelas lebih berguna dibanding dirinya. Ia tak bisa memungkiri kalau akulah yang membuat kakek tua ini tak terkalahkan sepanjang hidupnya. Sejak terjadi pengeroyokan pertama yang mengerikan itu, aku tahu ia tak bisa menghindari untuk mengagumiku di balik sifat sinisnya. Jelas sekali saat itu sabetan golok mendera tubuh kakek tua ini beberapa kali, tapi ia tetap tak mati. Ia hanya terluka, dan luka selalu bisa disembuhkan. Akulah yang membuatnya seperti itu. Dan kakek tua ini tahu sekali akan hal itu. Ia bahkan sangat bersyukur untuk itu, melebihi syukurnya untuk hal lain.

Kupikir, sejak kakek tua ini memintaku hadir di tubuhnya, ia jadi tak berguna. Aku sebenarnya mencoba mempengaruhi kakek tua ini agar mau melepaskan saja dirinya. Karena tanpa disadari, sebenarnya dirinyalah yang membuat kakek tua ini menjadi seperti pengecut selama ini. Ia selalu nampak was-was, dan akan memilih lari pada hal-hal yang sebenarnya belum terjadi.

Aku benci melihat keadaan itu!

Aku tahu, tahun-tahun terakhir ini peranku semakin kecil. Semakin kakek ini menua, dan memutuskan meninggalkan pasar, peranku nyaris lenyap. Aku sebenarnya bisa menerima bila ia melepaskanku. Tapi ia tak melakukannya. Aku merasa, ia masih menyadari kalau akulah yang selama ini membuatnya bertahan hingga di titik ini.

Aku ingat, ia bisa jadi mati 3 kali.

Orang-orang paling mengerikan pernah mendatanginya untuk membalas dendam. Rumahnya telah dikepung. Golok dan pedang sudah diangkat. Aku membisikkan semua itu, dan ia dapat merasakannya dengan jelas. Tapi ia tak tahu harus melarikan diri ke mana. Akulah yang saat itu memandunya. Kugesekkan daun-daun di dekatnya, dan ia mengikuti gesekan itu satu demi satu. Hingga akhirnya ia bisa selamat!

Polisi juga pernah berniat menangkapnya dalam satu operasi besar. Seorang sniper sudah dalam posisi paling sempurna untuk menembak jantungnya. Tapi aku memberi tanda rasa sakit di kakinya, sehingga ia membungkuk bertepatan peluru melayang di atas kepalanya. Ia selamat lagi saat itu.

Satu lagi yang kuingat adalah tantangan duel dari bromocorah kampung sebelah. Aku tahu, ia tak menguasai ilmu bela diri apa pun. Tubuhnya hanya kuat, membuat sabetan goloknya bisa sangat cepat. Tapi lawannya adalah jawara paling mengerikan di sini, dan ia berhasrat sekali menguasai pasar ini. Aku memberinya tanda agar ia menyelipkan pisau kecil di sakunya. Dan itu ternyata yang menyelamatkan jiwanya. Saat ia jatuh terpuruk dan sesaat lagi terputus lehernya, ia mengambil pisau kecil itu dengan cepat dan menusukkan ke arah jawara yang tengah berada di atas tubuhnya. Ia menang dalam duel itu.

Kini semuanya sudah berbeda. Aku sebenarnya ingin pergi saja dari tubuhnya, agar ia dapat meninggalkan dunia ini dengan tenang. Setidaknya aku tahu, di sisi hidupnya yang kelam-pekat, ia sebenarnya laki-laki yang baik. Ia mencintai istrinya, juga sangat sayang terhadap anak dan cucunya. Kupikir, ia mau melakukan apa saja agar orang-orang di sekelilingnya bisa bahagia.

Tapi aku tak bisa pergi, bila bukan ia yang menyuruhku pergi!

Selama ini, aku sudah membuat kakek tua ini kebal terhadap apa pun. Aku senang dengan itu. Bagaimanapun kakek tua ini menghadirkanku bukan dengan cara yang mudah, walau ia tahu ada beberapa cara mudah lainnya. Tapi ia memilih cara yang tersulit, dan untuk itulah ia mendapatkanku.

Tak terhitung, aku sudah menyelamatkannya berkali-kali. Beberapa kali duel, senjata-senjata musuh sudah melukainya. Sebenarnya ada satu-dua sabetan yang mampu membuatnya selesai. Tapi ia hanya terluka saja. Tak lebih dari itu.

Tapi semenjak ia menarik diri dari dunia hitam, aku seperti tak lagi bermanfaat. Apalagi di ujung hidupnya yang seperti ini. Sungguh, sebenarnya aku ingin sekali mengatakan padanya, kalau kemampuanku sebenarnya tak hanya sampai di sini saja. Aku bisa melakukan hal yang lebih berguna lagi, terlebih di keadaannya yang seperti ini.

Aku bisa membuat seseorang hidup abadi!

Sejak setahun ini, setelah kakek tua ini jatuh dan orang-orang mengatakannya terkena stroke, si penganggu sudah melakukan hal-hal yang sangat mengerikan. Aku tak tahu secara pasti apa itu. Tapi semenjak kakek ini hanya bisa terdiam di kamarnya, ia mengundang ular-ulang datang. Tentu bukan ular-ular biasa. Ular-ular berwarna merah seperti darah dan mampu masuk ke tubuh melalui bekas-bekas luka yang ada di sekujur tubuh kakek ini.

Aku hanya bisa bergidik. Jelas, ini sesuatu yang mengerikan. Kupikir kakek ini seharusnya telah mati karena penyakitnya. Kamilah yang membuat bertahan sampai seperti ini. Dan si penganggu itu benar-benar tak rela untuk pergi. Ia sepertinya berniat untuk hidup abadi di tubuh ringkih ini!

Dasar iblis mengerikan!

Tapi itulah yang membuat keadaan kakek membaik. Ia mulai dapat meggerakkan tangannya yang semula kaku. Ini tentu saja disambut dengan gembira oleh anaknya. Hanya si cucu yang tak mau menanggapi apa-apa. Aku tahu, ia menyadari kalau kekeknya memang seharusnya sudah mati.

Aku tak ingin semua ini menjadi semakin mengerikan. Dengan kemampuanku yang tersisa, aku mencoba memberi tanda pada si cucu. Namun karena ia tak ada di dekatku, aku hanya bisa menghadirkan mimpi-mimpi padanya.

“Kau harus membunuh kakekmu!” bisikku berulang, “Di dalam tubuhnya bersemayam sesuatu yang mengerikan!”

Dan si cucu hanya bisa terbangun dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya. Kubuat kejadian itu terjadi bekali-kali, hingga akhirnya ia memutuskan bicara pada ibunya.

“Ibu, kakek benar-benar sudah mati. Ada yang mengerikan di dalam tubuhnya.”

“Ibu tak suka kau bicara tak menentu seperti itu! Tidakkah kau lihat kakek semakin sembuh? Ia sudah bisa menggerakkan tangannya.”

“Tapi itu bukan kakek yang menggerakkannya!”

“Ibu tak mau mendengarkanmu lagi! Kau semakin kurang ajar terhadap kakekmu!”

“Ibuuuu!!!”

Aku tahu, tak akan berguna ia mengatakan apa yang diketahuinya pada ibunya. Jadi aku terus membisikkan saja padanya hal lainnya. Kali ini dengan lebih berani, kutunjukkan pada matanya sebuah belati kecil yang selama ini dibawa kakeknya.

“Itu… akan mengakhiri semuanya…” bisikku berulang.

Dan si cucu dengan langkah ragu mulai mendekati belati itu. 

Pengecut tetaplah pengecut!

Ia rupanya mencoba mempengaruhi cucu tolol itu. Ia tak berani berhadapan langsung denganku, sehingga harus menyuruh anak kecil melakukan keinginannya. Huh, apa dia pikir tusukan belati akan mengakhiri semuanya? Tolol sekali!

Apa ia tak berpikir, kalau aku sedang menimbang-nimbang satu tubuh agar aku—dan tentunya bersama dirinya—dapat hidup abadi di sini?

Tapi ia terlalu pengecut untuk itu! Jadi aku tak akan sungkan lagi. Saat cucu tolol itu mendekat dan mengacungkan belatinya, aku menahannya. Belati itu meluncur ke tubuh kakek tua ini, tapi sama sekali tak melukai apa-apa. Gerakannya malah seperti terpental dan berbalik sendiri ke arah si cucu!

Belati itu menancap di tubuhnya.

Aku hanya menyeringai.

Kupikir, aku memang benar-benar telah kalah!

Aku lihat keesokan paginya, ibu menemukan anaknya dengan belati di perutnya bersama darah yang menggenang sedemikian rupa. Ia menangis histeris. Memeluk erat-erat anaknya.

Tapi tiba-tiba, si cucu menggerakkan tubuhnya dengan gerakan kaku. Si ibu tersenyum lega sambil mengusap air matanya. “Anakku, kupikir kau pergi meninggalkan ibu…”

Tapi si cucu tak bereaksi apa-apa. Wajahnya tetap kaku seperti semula.

Aku hanya bisa memejamkan mata kuat-kuat. Aku tahu sekali, beberapa saat sebelumnya ular-ular merah di tubuh kakeknya ini sebagian keluar dan menuju tubuh si cucu. Mereka kemudian secara perlahan masuk satu demi satu melalui luka di tusukan itu.

Aku tak bisa membayangkan apa lagi yang akan terjadi. Aku hanya tersadar, kalau aku akan terjebak selamanya bersama si mengerikan ini! 

Cerpen Yudhi Herwibowo (Jawa Pos, 27 Mei 2018)
Yudhi Herwibowo. Menulis beberapa buku. Bukunya yang segera rilis: Sang Penggesek Biola, sebuah roman Wage Rudolf Supratman (Imania).

Minggu, 29 Juli 2018

Eustasius

Lenin mendengar suara berdebum. Ia bergegas keluar dan menemukan dirinya sendiri terkapar di atas rumput-rumput yang belum sempat dibersihkan. Diamatinya sosok itu, bagian-bagian yang tertelungkup di atas rumput tinggi yang menyemak karena telah lama tak dihiraukan. Sosok dirinya yang seperti baru saja terjatuh itu merasakan kakinya dingin, pipinya gatal seperti menyentuh ujung-ujung bunga digitaria; aromanya terhirup lembut. Ia merasa seekor serangga merangkak dari dalam tanah ke lubang telinganya, suara langkah serangga itu menggema di gendang telinganya. Ia bangun terperanjat, menemukan dirinya masih di dalam kamar…

Lenin duduk memiringkan kepalanya dan mulai mengorek-ngorek lubang telinga mencari serangga yang kini sudah terasa menapaki saluran eustasius-nya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana rupa saluran eustasius yang sesungguhnya. Ia berharap serangga dalam telinganya kini menikmati perjalanan di dalam sana dan keluar membawa cerita yang mungkin menginspirasi Lenin untuk menjelajahi saluran eustasius orang lain.

Semenjak mendapat gagasan untuk menulis dengan cara yang tak pernah dibayangkan sebelumnya, Lenin mulai mendengar suara-suara khayalan-seakan suara itu keluar dari otaknya dan masuk lagi melalui lubang telinga, merambat menghantarkan getar lewat eustasius, memukul gendang telinganya dan kembali masuk ke dalam sumber di mana suara itu berasal. Ia sedikit terkejut karena ternyata tak hanya mendengar suara khayalan. Ia pun mampu melihat wujud khayalannya. Saat itu ia sedang asyik menghitung rumus-rumus fisika dasar yang berhubungan dengan jatuhnya sesuatu yang dipengaruhi oleh gaya tarik bumi. Di pangkuannya ada modul perihal Hukum Newton dengan tinta warna hitam tebal, angka-angka yang hampir tak terbaca, formulasi rumus berjajar membentuk kerumitan tanpa garis, tanpa kalimat yang bisa dieja untuk mengerti dari mana datangnya angka 200 dari akar 400. Sebelum suara itu terdengar, ia sampai pada pengamatan tentang gerak suatu dimensi. Di bagian itu ia tertarik pada prinsip gerak jatuh tanpa hambatan. Prinsip itu menjelaskan, jika sebuah benda jatuh dari ketinggian tertentu dengan besar kecepatan 0, maka seutuhnya benda itu akan tertarik oleh gaya gravitasi bumi.

Lenin mulai menduga seberapa tinggi gedung apartemen tempat Veronica tinggal. Saat ia masuk ke dalam apartemen wanita itu, ia melihat angka terbesar pada lift berhenti pada 15 dengan menghilangkan angka 13-ia yakin bahwa siapa saja yang merancang atau membuat gedung itu pastilah seorang penderita triskaidekafobia-jadi ada 14 tingkat secara keseluruhan. Jika masing-masing tingkat dari apartemen itu memiliki ketinggian 2,5 m, maka tinggi keseluruhan bangunan itu adalah 35 m. Kemudian ia bayangkan menempatkan dirinya di atap gedung itu dan membiarkan dirinya ditarik gravitasi seperti apel yang jatuh di hadapan Newton. Ia mulai menghitung berapa lama waktu yang diperlukan hingga tubuhnya terhempas di atas permukaan tanah; t =  dengan kecepatan gravitasi sebesar 10 m/s2, ia hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 detik untuk terhempas ke permukaan tanah. 3 detik cukupkah untuk mengingat semua kehidupan yang pernah dijalaninya? Hanya 3 detik dan kematian yang dirindukan akan datang menghampiri? Sesingkat itukah memanggil kematian? Telinganya berdenging mendengar suara dentuman keras melalui lubang telinga, merambat menghantarkan getar lewat eustasius dan memukul gendang telinganya. Lenin terperanjat mendengar betapa nyatanya suara itu. Ia berlari keluar dan menyaksikan tubuhnya sendiri terlungkup di atas rerumputan..
Eustasius ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Beberapa malam sebelum Lenin mulai mempelajari rumus-rumus yang berhubungan dengan gravitasi, gerak, dimensi, kejatuhan atau apa pun itu, ia telah terlebih dahulu jatuh cinta pada Veronica. Wanita ini mampu membuat Lenin memikirkan hal-hal yang tak pernah dipikirkan; termasuk memikirkan wanita itu hampir setiap saat meski pada awalnya ia tak pernah memikirkannya sebelumnya, tepatnya tak pernah sekeras itu. Lenin mengeja nama wanita itu bagaikan membaca sebaris ayat suci; dengan lembut dan penuh rasa haru. Pada malam-malam ketika ia tak bisa tidur karena apa pun, bayangan Veronica menjadi selimut lembut menyelubungi dan membuatnya nyaman. Saat dalam kebimbangan dan kesulitannya menemukan pembenaran, Lenin seringkali menemukan perkataan Veronica menjadi fakta yang absolut. Lenin akan selalu terpesona pada apa pun yang dilakukan Veronica; akan selalu mendengarkan perkataan Veronica dengan antusiasme yang terkadang berlebihan. Ia akan selalu mengamati setiap detail pada wajah dan tubuh wanita itu, memeriksa kembali detail-detail yang luput dari perhatiannya sebelum melepas wanita itu dengan pelukan hangat.

Beberapa malam lalu mereka bertemu di “sarang” mereka-Lenin menyebutnya begitu. Veronica telah menyiapkan makan malam dan mereka duduk berhadap-hadapan. Tak ada hujan hari itu. Lenin juga tak bisa melihat bulan karena jendela di belakang Veronica mengarah ke kegelapan. Lenin merasa hatinya penuh.

“Betapa menyenangkan melihat kau menikmati makananmu.”

“Benarkah?” Veronica mengangkat tatapannya ke wajah Lenin, matanya yang coklat bagaikan memancarkan hangat matahari ke dalam hati Lenin.

“Sungguh, aku selalu menyukainya.”

“Kadang aku merasa sedikit aneh jika kau perhatikan seperti itu, kau seolah-olah sedang melihat sekuntum bunga purba yang sedang mekar.”

“Kau benar,” Lenin tersenyum dan melihat Veronica benar-benar menjadi sekuntum bunga purba yang begitu rapuh dan indah dengan semua kenangan yang terkatup dalam kelopak-kelopaknya. Rambutnya menjuntai bagai benang sari yang mengikat nasib para bayi yang belum menemukan pintu masuk ke dunia ini.

“Kau benar. Kau seperti sekuntum bunga purbakala yang sedang mekar dan selamanya akan mekar karena kau tak tersentuh waktu.”

Mereka tersenyum dan kembali menikmati makanan tanpa suara atau percakapan, itu membuat Lenin semakin jatuh cinta padanya; ketenangannya yang lambat seperti ketika langit jingga senja hari berubah gelap. Lenin bersyukur karena mampu menikmati ketenangan itu dari wajah Veronica. Saat acara makan malam yang khidmat itu selesai, mereka akan memulai percakapan perihal apa saja, apa saja bagi Lenin berarti Veronica dan semua hal tentang dirinya. Jadi ia selalu berharap Veronica menceritakan sesuatu tentang buku-buku yang dibacanya, tentang burung yang hinggap pada tali temali yang ia lihat entah di mana, tentang arwah nenek moyang yang menginjak kakinya, tentang seorang laki-laki yang baru kembali dari rantauan dan lupa mengeja nama desanya, tentang sejarah seekor belatung atau nama mahoni, tentang film yang telah ditontonnya malam lalu, tentang seorang sutradara dan aktor serta aktris favoritnya, tentang musik dan keinginannya mengumpulkan semua album yang dimiliki oleh semua musisi yang dikenalnya, tentang seseorang yang memberinya vodka saat udara begitu dingin menusuk hidungnya yang manis. Apa saja berarti kemungkinan yang selalu menggairahkan.

Begitulah, malam itu Veronica bercerita tentang buku yang ia baca, buku itu menyita perhatiannya. Veronica adalah seorang penulis. Jadi, apa pun yang ia katakan tentang buku, cerita, atau puisi akan terdengar begitu hidup dan nyata. Ia mulai bersemangat menceritakan tentang cerita yang sedang ditulisnya. Cerita itu berkisah tentang upaya bunuh diri seorang wanita dengan cara melompat dari jembatan. Dalam cerita itu ia menuliskan bahwa tokoh yang ingin bunuh diri itu berusaha menghindari tatapan orang lain agar tak ada siapa pun yang melihatnya. Secara tidak terduga ia menemukan hal serupa dari buku yang dibacanya malam sebelumnya. Buku itu juga berkisah perihal seorang yang melakukan tindakan bunuh diri dengan melompat dari jembatan. Bedanya, karakter dalam cerita Veronica tidak berhasil melompat karena ada seorang ibu baik hati yang berusaha menolongnya, sedangkan karakter dalam buku itu berhasil melompat dan berusaha mati. Karena Lenin sangat ingin menjadi bagian dari apapun yang Veronica pikirkan, ia mulai berpikir untuk menulis cerita tentang seseorang yang ingin bunuh diri dengan cara melompat dari jembatan.

Pertemuan terakhir dengan Veronica itu terus mengganggu Lenin hingga ia memutuskan menulis cerita tentang dirinya sendiri.

“Lenin Endrou duduk termenung menatap dahan pohon yang berayun. Di dalam kepalanya keinginan untuk bunuh diri begitu kuat. Ia pernah menyaksikan orang-orang yang begitu putus asa hingga memutuskan untuk bunuh diri, ia memikirkan hal itu hingga tertidur dan ia bermimpi dirinya jatuh dari tempat yang sangat tinggi. Ia menyadari dirinya jatuh tepat seperti adegan dalam film garapan Federico Fellini di mana tokohnya diikat dengan tali seperti layangan, terbang di atas hamparan laut di bawah langit abu-abu, kemudian jatuh karena orang yang memegang tali itu menarik-nariknya, memaksanya turun. Ia merasa terhempas di atas digitaria dan seekor semut masuk ke dalam telinganya.”

Saat mengetik tanda titik, Lenin tahu ia belum sempat menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan tubuhnya untuk menyentuh tanah, ia juga belum menetapkan di mana tempat karakter-dirinya itu harus melompat; karena jembatan-jembatan telah digunakan oleh Veronica dan seorang pengarang besar yang bukunya telah dibaca Veronica. Hal lain yang membuatnya beralih dari angka-angka dan hitungan adalah alasan apa yang kira-kira masuk akal bagi karakter-dirinya itu untuk melakukan upaya bunuh diri?

I Still Can’t Sleep dari Bernard Herrmann mengalun dari pemutar musik terpantul pada dinding-dinding kamar yang menjaga imajinasinya. Lenin baru ingat ia telah memutar lagu itu berulang-ulang semenjak tadi. Tepat sebelum adegan Robert De Niro mulai bercerita tentang bagaimana buruknya kesepian dan masalah susah tidurnya, Lenin menutup mata. Ia mulai melihat dirinya berada di puncak sebuah apartemen. Angin dingin menggoyangkan tubuhnya sebelum ia terjatuh begitu dalam.

Cerpen Maywin Dwi-Asmara (Koran Tempo, 23-24 Februari 2018)
Maywin Dwi-Asmara, penulis cerpen dan peneliti. Tahun 2014 mendapat research fellow dari salah satu universitas di Bologna, Italia. Pada Oktober 2016 diundang Dewan Kesenian Jakarta sebagai pemateri dalam Dua Forum Teater Riset. Ia berkhidmat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Catatan

I Still Can’t Sleep adalah soundtrack untuk film Taxi Driver besutan Martin Scorsese (1976)

‘La Vita e Viaggio’


Pernahkah kau mendengar frasa yang mengatakan bahwa hidup hanyalah perjalanan? Aku menyukai gagasan ini, terutama setelah membaca kumpulan puisi yang ditulis oleh seorang penyair yang sangat kusukai, ia satu-satunya penyair yang mampu membuatku ingin menangis hanya karena tak mampu mengerti satu baris kunci dari berbaris-baris kata yang ditulisnya. Dalam kumpulan puisi yang iaberi judul berdasarkan salah satu puisi yang ada di dalam kumpulan itu, ia menggambarkan dirinya sebagai obyek yang terus berjalan; lahir dan terjebak dalam perjalanan tanpa rencana. Tentu saja ia tak dapat menghindari pertemuan dan persinggungan dengan apa-apa yang ia temukan dalam perjalanan itu. Karena ia seorang penyair—di buku tersebut—beberapa puisinya menjadi seperti oleh-oleh, tapi beberapa yang lainnya menjadi sesuatu yang lebih berarti sebagai tato atau bekas luka permanen akibat persinggungan dan pertemuan yang tak pernah ia rencanakan. Karena aku begitu terpesona pada apa yang ia tulis, tiap kali selesai membaca satu puisi, aku akan melamunkan kejadian-kejadian yang kira-kira dialami oleh sang penyair hingga menghasilkan puisi yang baru selesai kubaca; apa yang ia pikirkan saat itu dan bagaimana akhirnya ia menemukan kata-kata yang bisa mewakili hal-hal yang bahkan lebih banyak dari kata yang bisa terbaca dalam satu judul puisinya.

Hal yang kemudian biasa terjadi kepadaku ketika menggandrungi sesuatu dengan berlebihan—seperti gagasan puisi sebagai tanda bahwa hidup kita tak lebih hanyalah sebuah perjalanan seperti yang dikatakan penyair itu—adalah aku akan menilai diriku menurut dasar-dasar terbatas yang aku peroleh dari hasil pemikiranku sendiri; apakah aku sudah cukup mampu untuk berjalan? Apakah sesuatu telah menemukanku saat aku sedang dalam perjalanan tanpa rencana ini atau akulah yang menemukan sesuatu itu? Apakah aku telah bersinggungan dengan sesuatu yang sebenarnya luput dari indra-indraku? Apakah aku telah memiliki perjalanan yang bisa kutuliskan dalam puisi?

Pertanyaan terakhir ini sungguh menyakitkan karena pada akhirnya aku akan terjebak pada pertanyaan praktis: apakah aku mampu menulis puisi? Sebuah puisi perjalanan? Aku rasa tidak, aku yakin bahwa aku lahir di jalan yang berbeda dengan sang penyair.

Tapi begitulah, aku membawa ke mana-mana kesedihan akibat pertanyaan dan penilaian yang kubuat sendiri untuk diriku itu. Kemudian, dengan menyedihkan, aku menerjemahkan perjalanan abstrak dari gagasan yang ia tuliskan dalam bukunya itu menjadi perjalanan harfiah; aku mulai berjalan kaki, sembari waspada menangkap hal-hal yang mungkin bersinggungan denganku. Aku berusaha menuliskan teks imajiner pada benda-benda yang kulihat saat berjalan; misalnya tulisan bangku taman di bangku taman yang kulewati, bunga mekar di atas bunga mawar yang sedang mekar di taman, dan dengan putus asa akan merangkai nama-nama obyek yang kulihat dan menambahkan sedikit kata sifat yang tidak asing bagi siapa pun yang mengerti bahasa yang kugunakan untuk menulis demi menghindari kesalahan fatal penggunaan kata atau cara menyusunnya dan berharap paling tidak mampu menghasilkan puisi yang layak untuk kubaca sendiri.

Aku terus melakukan hal itu berhari-hari, selalu kuluangkan waktu untuk menyusuri jalan-jalan yang sering kulewati untuk tujuan ini. Saat pergi bekerja atau kembali dari pekerjaan yang melelahkan, aku tetap menajamkan indra untuk menangkap obyek-obyek di sekitarku. Tapi hingga berhari-hari tak satu puisi pun beristirahat dengan nyaman di dalam buku saku yang kubawa-bawa. Semua begitu kekanak-kanakan, aku membencinya, bahkan sebelum selesai menulis obyek yang kulihat, bahkan gagasan untuk membaca ulang apa yang kutulis sudah mampu membuatku membenci rencanaku sendiri. Masalah lain adalah pengertianku tentang diriku sendiri, aku sangat memahami bahwa aku bukanlah orang yang memiliki ambisi tetap, jika pada akhirnya aku tak dapat memiliki apa yang kuinginkan, aku akan benar-benar melupakannya. Menurutku, itu lebih baik karena takkan ada gunanya terlalu berkeras pada hidupku sendiri.

“Apakah Anda sedang mencari sesuatu?” tiba-tiba seorang wanita memudarkan rencanaku untuk sampai pada keputusan akhir dalam menulis puisi perjalananku.

“Tidak ada, apakah ada yang aneh?”

“Maaf, saya pikir Anda kehilangan sesuatu, karena Anda selalu terlihat menunduk seperti mencari-cari sesuatu di bangku taman, di trotoar, di lampu penyeberangan. Saya telah melihat Anda melakukan hal itu berhari-hari.”

Aku tergoda untuk menjelaskan kepadanya bahwa aku sedang mencari sesuatu yang mungkin bersinggungan denganku, tapi aku tak mengerti bagaimana mengungkapkan atau mendeskripsikan sesuatu itu.

“Oh benarkah? Bagaimana kau bisa memperhatikan semua itu? Apa kau ada di tempat ini setiap hari? Maaf, oh, bagaimana bisa aku tidak menyadarinya?”

“Tidak, saya bekerja di toko seberang itu, tapi saya telah melihat Anda melintas berkali-kali. Anda tahu, tidak banyak pendatang atau orang-orang yang sering lewat di daerah ini.”
La Vita e Viaggio ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo


“Apa kau juga suka memperhatikan orang lain yang sering lewat di sekitar sini?” Aku bertanya. Entah mengapa aku jadi tertarik dengan gagasan mengamati semua orang ini, tentu saja kau bisa de-ngan mudah bersinggungan dengan orang-orang di mana saja, tapi bagaimana caranya bersinggungan dengan orang yang jauh dan hampir tidak dapat kau sentuh?

“Ya, secara tidak sengaja saya terbiasa melakukan itu, setelah bertemu dengan seorang wanita yang membuat saya selalu curiga kepada orang-orang yang melintas dan sering saya lihat atau bahkan yang sangat dekat dengan saya.”

“Apa yang dilakukan wanita itu kepadamu? Oh maaf sebelumnya, kau bo-leh memanggilku Lenin.”

“Lenin? Nama itu sepertinya familier, saya sering mendengar orang menyebut-nyebut nama Lenin.”

“Tentu saja, ada beberapa orang di dunia ini yang memiliki nama sama denganku. Salah satu di antaranya bahkan sangat terkenal karena apa yang telah dilakukannya, hingga sengaja maupun tidak kau akan mendengar juga namanya disebut-sebut.” Aku tersenyum, lalu kulanjutkan, “Nah begini, aku ingin bertanya tentang wanita yang memberimu perasaan curiga itu, apa yang sebenarnya telah dilakukan wanita itu kepadamu? Apa ia seorang pencuri atau apa?”

“Tidak, tentu saja tidak, ia adalah salah seorang pelanggan tetap kami, seorang wanita yang sangat baik dan sopan.”

“Tapi jika ia bukan seorang penjahat, dan kau bilang ia memiliki sifat santun seperti itu, mengapa kau harus merasa curiga?”

Aku pikir jika wanita itu berperilaku baik seperti yang ia gambarkan kepadaku, wajarnya perasaan curiga tak akan muncul. Seperti yang kau tahu, otak diciptakan untuk merespons sinyal, dan pada kondisi tertentu akan mengaktifkan suatu sistem bagian depan yang salah satunya akan mengakibatkan munculnya kecurigaan. Tapi apakah kesopanan dan perilaku santun pantas menjadi alasan bagi seseorang untuk curiga? Mungkin kecurigaan bisa menjadi jalan untuk bersinggungan dengan orang yang jauh dan bahkan tak tersentuh itu.

“Bukan apa yang ia lakukan kepada saya yang membuat saya merasa seperti itu. Tapi sesuatu yang terus-menerus diceritakannya. Apakah Anda tahu psikiater yang membuka praktik beberapa blok dari taman ini?” kepalanya agak dimiringkan seperti hendak memberi tahu arah mana yang harus kulihat untuk menemukan tempat praktik psikiater yang ia maksudkan.

“Ya, tentu,” hanya ada satu psikiater di daerah ini, jadi tentu aku mengetahuinya.

“Wanita ini sering datang pada jam 3 sore, selalu meminta segelas air terlebih dulu, katanya ia harus meminum beberapa pil. Ada dua botol kecil dan nama obat-obat itu asing bagi saya karena saya tak pernah melihat orang lain meminum obat yang sama. Tapi saya sempat mencatat salah satu nama obat itu karena suatu ketika saya pernah berlari ke tempat psikiater itu untuk mengambilkan obat untuknya. Kalau tidak salah Levosulpride 50 mg. Apa Anda pernah mendengar nama obat itu?”

“Ya, tentu.” Levosulpride, ini akan membuatmu menggigil pada malam hari, mengeluh bahwa kau tak bisa tidur akibat sakit yang tiba-tiba muncul di bagian diafragma antara perut dan dada.

“Benarkah? Hem, berarti ada orang lain juga yang meminum obat yang sama dengan wanita ini. Yang membuat saya mulai sering curiga adalah cerita yang ia tuturkan berulang, ia sering mengajak saya berbicara pada jam-jam seperti ini, pertama-tama ia menceritakan tentang alasannya sering mengunjungi psikiater itu. Kau tahu aku tidak gila seperti yang kebanyakan orang pikirkan, begitu katanya selalu. Tentu saja saya tidak berpikir dia gila atau semacamnya. Lalu saya katakan bahwa saya mengerti ada beberapa orang yang mengunjungi psikiater untuk membantu menyembuhkan hal-hal lain. Dia terlihat senang karena saya me-ngerti, kemudian ia membicarakan sebuah cerita pendek dari Ray Bradbury, judulnya Marioneets Inc. Apa Anda pernah membaca cerita itu?” Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku, rambut cokelatnya terlihat lebih gelap.

“Ya, tentu.” Aku pernah membaca cerita itu tapi tidak membuatku begitu terpesona seperti penyair yang sedang kugandrungi sekarang.

“Dalam cerita itu, apa Anda ingat, ada seorang suami yang sengaja ingin menggantikan dirinya de-ngan sebuah mesin? Nah, wanita ini mengaku bahwa suaminya telah digantikan juga oleh mesin atau orang lain atau hal-hal semacamnya. Ia menjelaskan perasaannya yang sangat menderita hingga saya juga ikut menderita karenanya. Katanya ia telah kehilangan suaminya saat kecelakaan mobil yang menimpa mereka dua tahun lalu, ia yakin suaminya telah meninggal di sampingnya karena ia tak lagi merasakan napas suaminya sesaat sebelum ia juga kehilangan kesadaran. Tapi begitu ia terbangun dari koma yang panjang, ia melihat seorang laki-laki sedang duduk di samping ranjang dan menggenggam tangannya erat. Orang itu sungguh terlihat seperti suaminya, ia tahu dengan pasti bahwa suaminya telah mati dan mungkin sudah dikuburkan saat ia sedang koma, orang yang duduk di kursi itu adalah pengganti suaminya. Anda tahu hal seperti itu bisa saja terjadi kan?”Ia terlihat sedikit gusar seperti takut akan perkataannya sendiri.

“Ya, tentu.”

“Kemudian katanya, sejak ia sadar dari komanya, ia makin yakin bahwa laki-laki itu adalah orang lain. Caranya tersenyum sudah tidak sama lagi, ia sering merasa ketakutan saat tidur di sebelah laki-laki itu. Walaupun wajah, suara, cara berjalan, dan semua hal yang sering dilakukan suaminya dilakukan juga oleh laki-laki itu, ia yakin laki-laki yang kini tinggal dengannya itu adalah orang lain. Ia sering menangis dan merintih betapa ia merindukan suaminya, betapa kenyataan yang ia hadapi ini lebih menyakitkan. Menurut dia, menerima kenyataan suaminya telah tiada akan jauh lebih mudah daripada harus hidup dengan seseorang yang dimirip-miripkan dengan suaminya. Ia merasa begitu takut dan terhina terutama ketika laki-laki itu berusaha memeluknya atau menyentuhnya. Bisakah Anda rasakan perasaan wanita ini?”

“Ya, tentu.”

“Itulah yang membuat saya jadi lebih memperhatikan orang-orang terdekat, termasuk orang-orang yang sering datang ke toko atau sekadar lewat di sekitar sini. Mungkin saja mereka juga telah digantikan oleh sesuatu atau seseorang yang lain dan saya berharap bisa membedakan mereka. Atau mungkin secara tidak sengaja saya bisa bertemu langsung de-ngan suami wanita itu dan melihat keganjilan-keganjilan dari gerak-gerik automaton yang ia miliki.” Ia terdiam sejenak, lalu lanjutnya, “Sudah seminggu wanita yang kita bicarakan ini tak pernah lagi terli-hat di sekitar sini, mampir untuk minum secangkir kopi seperti biasanya. Oh, ngomong-ngomong apa Anda benar percaya hal-hal seperti itu bisa terjadi?”

Aku rasa sudah cukup mencari jalan untuk bersinggungan dengan hal-hal lain yang akan sia-sia saja kutuliskan sebagai bahan untuk puisi gagalku yang menyedihkan, karena itu aku berkata, “Ya, tentu. Aku mengenal seseorang yang mengalami hal sama dengan apa yang kau ceritakan. Ia sering berteriak ketakutan karena pikirannya sendiri. Baiklah, sepertinya aku harus pergi sekarang, istriku membutuhkan bantuan untuk meminum pil-pilnya. Terima kasih karena kau telah menceritakan hal yang sangat menarik ini kepadaku, tapi sebelumnya maukah kau membantuku berdiri? Kaki kiriku tidak dapat menopang dengan baik.” Dengan spontan dia berdiri sebelum menjulurkan kedua tangannya yang hangat kepadaku.

“Oh tentu saja, kapan-kapan Anda bisa mampir ke toko kami jika ingin. Apa yang terjadi dengan kaki Anda kalau boleh saya tahu?”

“Tulangku hancur saat kecelakaan dua tahun lalu, tapi kini makin membaik. Terima kasih, aku akan mampir ke tokomu bersama Veronica.”

“Veronica?”

Ia diam mematung saat mengucapkan itu, aku tersenyum dan meninggalkannya di bangku taman. Sambil berjalan aku membuka halaman buku sakuku, belum ada obyek apa pun yang kutulis hari ini, mungkin inilah saatnya untuk sampai pada keputusan akhir dalam rencana menulis puisi perjalananku sendiri. Mungkin benar bahwa aku tak perlu melakukan apa yang tak bisa kulakukan, dan aku memang tak seharusnya memaksakan untuk mentato semua kejadian dalam hidupku dengan puisi. Mungkin itu akan tergambar dalam bentuknya yang lain, mungkin dalam coretan kekanak-kanakan di buku saku yang selalu kubawa-bawa ini, mungkin juga melalui halusinasi Veronica yang mengharuskannya menelan pil-pil itu. Yang kutahu pasti adalah hidup tak akan mentatonya dalam bentuk puisi yang kutulis untuk diriku sendiri. Tapi siapa peduli, La Vita e Viaggio, hidup hanyalah perjalanan…


Cerpen Maywin Dwi-Asmara (Koran Tempo, 14-15 Juli 2018)
Maywin Dwi-Asmara, lahir di Mataram, 3 Mei 1992. Cerpenis dan peneliti. Pada 2014, Maywin mendapat research fellow dari satu Universitas di Bologna, Italia. Pada Oktober 2016, dia diundang Dewan Kesenian Jakarta sebagai pemateri dalam Dua Forum Teater Riset. Ia berkhidmat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Rabu, 25 April 2018

Selamanya Cinta

(Habis)

Enam bulan usia Hibban kini. Senyumnya manis sama seperti senyumnya Mas Faisal. Kami tak pernah mendapat berita. Namun, selalu kuselipkan doa setiap saat, setiap waktu.

Hujan merintik manja diakhir Desember, taxi Blue Bird merapat ke halamanku. Seorang wanita cantik yang sudah lama kukenal keluar dari mobil itu. Dia memelukku dalam pelukan yang hangatnya berbeda dari pelukan sebelumnya.

Arina, kulihat mendung yang tersamarkan dari indahnya bola matamu. Arina menanyakan kabarku, ibu, dan adik bungsuku. Arina datang mengunjungiku membawa pesan Mas Faisal. Mas Faisal telah menyampaikan pada Arina tentang pernikahan kami, Arina menyadari akan kelemahan dirinya. Untuk itu, dia datang ke rumahku tanpa api amarah dalam genggamannya. Terasa pahit kerongkonganku, sesak dadaku, degub jantungku seakan terhenti. Bagaimana tidak, Mas Faisal mengalami kelumpuhan karena kecelakaan yang dialaminya. Satu hal yang membuat Mas Faisal merasa hidup terus, yaitu dengan mengambil Hibban dari tanganku. Lalu bagaimana dengan diriku? Mas Faisal langsung menalakku karena kondisi kesehatannya kini, Mas Faisal mempersilakan padaku untuk menikah kembali.

Selamanya Cinta ilustrasi Amanina Asiah Qonita Republika
Selamanya Cinta ilustrasi Amanina Asiah Qonita/Republika
Aku berjuang keras untuk menjadi Muslimah yang baik dan menepati janji. Pernah kukatakan pada Mas Faisal bahwa cinta itu tak harus memiliki. Cinta terindah manakala kita dapat memberikan kebahagiaan pada orang yang kita cintai. Inilah saatnya aku membuktikan cinta terbaikku padamu Mas, kubuktikan bahwa kata-kata itu bukanlah kata-kata klise. Kuikhlaskan Hibban dan dirimu berlalu dari kehidupanku, tetapi akan selalu bersamaku dalam relung batinku, hidup dalam hatiku. Sampai cinta dan rindu ini Allah ambil dariku.

“Bagaimana Ra, setuju dengan permintaan Mas Faisal?” Pertanyaan Arina yang tiba-tiba mengagetkanku hingga surat Mas Faisal terjatuh dari tanganku. “Aku tahu tidak mudah menerima ini, seperti halnya aku memahami kalian berdua, tetapi aku berusaha agar orang yang kita cintai memiliki semangat hidup,” ungkap Arina sambil tertunduk. Aku tak bisa menahan air mata. “Baiklah aku penuhi janjiku pada Mas Faisal akan makna cintaku kepadanya, asal izinkan aku untuk menyusui Hibban sampai selesai masa penyusuannya, ASI-ku akan kukirim sesteril mungkin.” Pintaku menghiba pada Arina. “Baiklah, jika itu yang terbaik,” kata Arina.

Ya Allah, aku ingin malam ini 10 kali lebih panjang dari malam-malam sebelumnya. Aku masih ingin menyusui putraku, memeluk hangat dan mencium harum tubuh anakku. Kucium berkali-kali Hibban tampan yang terlelap dalam tidurnya. Anakku, malam ini malam terakhir kita, kamu dan Umi. Esok kau akan bertemu Abi dan akan bersama Abi selamanya. Sampaikan salam Umi untuk Abi ya Nak, sampaikan lewat senyum manismu dan tawa ceriamu. Selalu tersenyum ya Nak, jangan buat gundah hati Abi. Kupeluk dan kuciumi Hibban, kuresapi wangi kayu putih yang menempel di badannya. Hingga hari itu berganti. Kukemasi beberapa potong pakaian Hibban, ASI di botol-botol kecil yang telah kusiapkan kutata dengan apik agar Hibban bisa menikmati ASI-ku. Kutulis salam terakhir untuk orang yang aku cintai:

“Mas semoga Allah selalu menetapkanmu dalam kebaikan, kukirim Hibban untukmu. Izinkan aku untuk mencintaimu selamanya, selamanya sampai akhir hidupku. Jaga dia dalam asuhanmu. Asuhan terbaik dan terindah yang selalu kau ceritakan padaku, meski mulai saat ini asuhan itu bukan bersama aku, syafakallahu syifaan ajilan, aku menolak talakmu Mas, biarkan aku menjadi istrimu sampai kita berdua datang kepada-Nya.”

Roda mobil yang melindas kerikil halaman rumahku, melempar dan menghujam dasar hatiku. Aku menangis di balik tirai jendela. Menyaksikan putraku yang baru enam bulan bersamaku harus berlalu dariku. Tapi, aku berusaha mengenyahkan kepedihan ini, karena kepergiannya untuk bertemu Abinya, orang yang menghadirkan dia di dunia ini. Kututup jendela perlahan. Dalam hening, dalam sunyi, dan sepi yang mengigit sepanjang hari. Allahu akbar, aku tidak boleh bersedih. Batinku harus selalu sehat, agar ASI yang kukirimkan tidak berkurang. Anakku perlu ASI. Sedapat mungkin aku harus memompanya setiap hari dan mengirimkannya ke Singapura. Dengan kesungguhan cinta jarak Bogor-Singapura adalah jarak yang pendek.

Hari kesatu, kedua, dan seterusnya, kupompa ASI-ku, kukirim melalui jasa pengiriman yang sudah tepercaya. Kabar balik dari Arina bahwa ASI-ku sudah sampai adalah kabar kebahagiaanku. Bulan kesatu, tahun kesatu, hingga kering sudah ASI-ku di pengiriman untuk dua tahun terakhir. Ya Allah, pasti Hibban sudah besar. “Rabbana hablana min ajwajina wa dzuriyatina qurrota’ayun waja’alna lil muttataqinna immama” setiap saat dalam hela napas, hingga 60 tahun usiaku kini.

Setiap yang berjiwa pasti akan mati. Berpulang kepada yang maha pencipta. Untuk semua orang, begitu pun dengan Mas Faisal. TPU Blender mengharu biru, aku menahan diri untuk tidak berbaur di sana. Saat seluruh pelayat kembali pulang. Perlahan kulangkahkan kaki yang mulai ringkih ini. Kubersimpuh luruh di hadapan tanah merah yang menutup orang yang aku cintai. Dalam doa yang bersimbah air mata, kumohonkan pada-Mu ya Rabb, terimalah suamiku dengan cinta-Mu.

Selamat jalam Mas, kau pernah sematkan untaian melati putih di jilbabku, semoga harumnya mengantarkan perjalananmu. Kau bawa aku ke langit biru dengan cintamu, semoga birunya cintamu meneduhkan perjalananmu. Aku di sini, dalam doa dan cinta yang tak pernah berakhir. Untukmu selamanya.

Doaku terhenti saat ujung sepatu hitam bergerak ke arahkau dalam lirikan mataku. Langkah itu semakin dekat. Aku masih bersimpuh, dan terpaku dalam kesedihanku, andai Nabiku membolehkan sudah kepeluk gundukan tangan merah itu, hangat tubuh Mas Faisal tak pernah aku lupakan. Ujung sepatu itu mendekat dan terhenti di sebelah kiriku. Perlahan kudengar suara lirih, “Umi, assalammualaikum”. Tengadah wajahku ke arah suara itu. “Subhanallah, kaukah Hibban anak Umi?”

Lelaki tampan berkulit putih dengan waajah mirip Mas Faisal meraih dan mencium tanganku, lalu memelukku begitu erat. Darah di tubuhku yang hampir membeku seakan mencair kembali. Berhadapan wajah kami, dalam linangan air mata kerinduan yang hampir 18 tahun tertahan. “Umi, Hibban sampaikan amanah Abi untuk Umi,” katanya, sambil mengambil kotak merah hati dari kantong kemeja kokonya. “Ini Umi dari Abi untuk Umi”. Kubuka kotak merah hati itu. Kukeluarkan isinya, untaian tasbih cantik dari butiran mutiara Lombok, dalam untaiannya tergantung kertas bertuliskan “UMI TERIMA KASIH UNTUK KESETIAAN CINTA UMI, ABI TUNGGU UMI DI RUMAH ALLAH. ABI MENCINTAI UMI SELAMANNYA, MAAFKAN ATAS KESALAHAN ABI.”

Ya Allah, Mas Faisal. Kuseka airmata kesedihan dan kebahagiaan saat itu. “Hibban, di mana Bunda Arina? Umi ingin bertemu dengannya,” sambil menuntunku Hibban menjawab dengan nada yang ringan,

“Bunda sudah pulang dengan suami barunya sampai Abi meninggal beliau sudah tidak bersama kami.” Sesak sesal menendang ulu hatiku. Tapi, denyut kepasrahan menyeruak batinku. Mas, kau berpulang saat genap 20 tahun pernikahan kita. Terima kasih kau kembalikan Hibban untukku.

Serasa kau ada di sini, kurasakan wangi nafasmu, kurasakan hangat sentuhanmu. Aku menunggu hari dalam taat dan takutku pada-Nya, Untuk menjumpaimu. Allah penulis skenario terbaik. Aku tak bisa mendampingimu di dunia-Nya, semoga di akhirat-Nya. Karena aku cinta padamu Mas, selamanya.

Cerpen Suzi (Republika, 22 April 2018)
Bu Suzi, begitu ibu dari empat putra-putri ini disapa. Ibu yang memiliki nama lengkap Susilowati ini lahir di Banten, 6 Oktober 1973. Tak sengaja menjadi guru, begitu ungkapnya. Mengawali karir sebagai penyiar radio swasta di Bogor dan public relations di salah satu lembaga penyiaran swasta pada tahun 1993-1998. Karir gurunya dirintis pada tahun 1999, merasa tidak memiliki ilmu keguruan Bu Suzi menimba ilmu pendidikan Islam di STIAI Gunung Puyuh Sukabumi. Lalu mendirikan sekolah Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu TKIT Rohmatul Ummah kini TAAM Rohmatul Ummah. Tahun 2008-2012 Bu Suzi menimba ilmu kependidikan di Universitas Terbuka. Belajar sepanjang hayat itu adalah moto hidupnya. Di mana pun dan dengan siapa pun selalu ada ilmu yang didapatkannya. Selain aktif di berbagai komunitas pemberdayaan perempuan, ibu dengan empat anak ini pernah menjadi Dosen di STAI Al Hidayah Bogor dan kini Bu Suzi merupakan salah satu staf pengajar di PONDOK PESANTREN AL-MINHAJ SHAHABAH.

Pengalaman menulis buku Bu Suzi peroleh pada 2008 dengan menulis buku Aritmatika Sempoa untuk Sekolah Dasar Kelas 1-6 yang diterbitkan oleh Insantama Pers. Pengalaman menulis artikel diperoleh Bu Suzi bersama Komunitas Guru Menulis dan Membaca (KAGUM LITERAT) dalam buku Asa Terurai Karya Tertuai dan Dari Pinggiran Menjadi Pusaran yang diterbitkan oleh KAGUM PUBLISHER, genre penulisan Bu Suzi tidak hanya di sekitar nonfiksi, Masih Ada Matahari Terbit yang diterbitkan oleh D3 MQail adalah antologi puisi pertamanya bersama 45 Wanita Penulis Puisi Indonesia, dan rasa cintanya untuk Bogor Bu Suzi dedikasikan melalui antologi Senandung Rindu Bogorku, Bogormu, Bogor Kita, bersama Komunitas Pegiat Literasi Bogor. Selain menulis Buku, Bu Suzi menulis juga di web gurusiana.id.

Minggu, 22 April 2018

Saat Ayah Meninggal Dunia

Saya bertemu dengannya beberapa saat setelah ayah meninggal dunia. Saat pagi hari lebih menyerupai malam hari. Saat gurat senja lebih menyerupai lukisan nestapa. Saat kelopak bunga lebih menyerupai kelopak mata luka. Saat rintik hujan lebih menyerupai jarum kepedihan. Kehidupan mendadak lebih menyerupai kematian. Seperti ada yang merenggut paksa lain mcnghempaskan saya ke lubang yang lebih kelam daripada kelir malam. Dan induk dari segala sunyi menyambangi.

Saat itu tamu-tamu, baik saudara maupun kerabat dekat ayah sudah mulai berdatangan. Teman-teman saya pun datang dan itu membuat saya heran. Dari mana mereka mendapat kabar? Saya sama sekali belum sempat memberi kabar. Dan peristiwa itu terjadi saat saya masih berumur sebelas tahun, sekitar tahun delapan puluhan. Tidak seperti zaman sekarang di mana kita bisa tahu segala hal mulai dari pensil alis merek apa yang seseorang kenakan hari ini, makanan apa yang mereka konsumsi malam tadi, dan segala hal remeh-temeh lewat sosial media, zaman itu telepon genggam pun kami tak punya. Satu-satuya alat komunikasi di rumah kami hanyalah telepon warna jingga yang tak henti-hentinya berdering tanpa bisa saya mute atau reject, kecuali dengan cara mengangkat gagang telepon lalu menutup kembali atau dengan cara mencabut kabelnya. Tapi otak saya tengah enggan berpikir.

Saat Ayah Meninggal Dunia ilustrasi Yuswantoro Adi/Kompas

Keheranan saya begitu saja menguap di antara lantunan para tamu yang tengah berdzikir. Ucapan belasungkawa yang tak berhenti mengalir. Sedu-sedan. Pertanyaan-pertanyaan. Yang semua terdengar bagai suara ledakan kembang api yang selalu saya benci. Melengking dengan notasi tinggi sebelum menggelegar, bergetar di langit hitam yang mendadak warna-warni. Saya selalu benci dengan keindahan sejenis itu. Keindahan yang congkak, pekak, begitu memaksa untuk diaku. Dan saya membenci semua suara yang saya dengar saat itu. Selain satu suara, dari mulutnya yang tak sekali pun berkata-kata.

Ia datang bersama teman sekelas saya yang langsung menubruk, memeluk, dan menangis lebih keras daripada saya. Di belakang punggungnya bisa saya lihat antrean orang-orang yang menunggu giliran dengan tangis yang tak kalah kerasnya. Wajah-wajah yang saya kenal. Wajah-wajah yang tidak saya kenal. Wajah-wajah yang berusaha keras untuk menunjukkan simpati dengan akting sekelas pemain sinetron. Jika tidak bisa menangis, paling tidak mengernyit sedikit dengan mulut mengerut seperti ikatan balon. Seolah tahu diri, ia yang datang bersama teman saya langsung memisahkan diri. Ia hanya menganggukkan kepalanya kepada saya, lalu pergi. Hal itulah yang membuat saya menyadari.

Ada banyak cara untuk menunjukkan simpati. Dan antrean simpati memanjang yang mengingatkan saya dengan permainan “Ular Naga Panjangnya Bukan Kepalang” ini, bukanlah bentuk simpati yang saya butuhkan. Bahkan saya merasa tidak semua dari mereka yang datang karena memang benar-benar ingin memberi dukungan. Banyak dari mereka yang hanya ingin melihat dan dilihat. Mungkin juga supaya wajahnya ikut masuk siaran berita. Mengingat ayah saya adalah seorang pelukis ternama. Atau mereka hanya ingin menjadi salah satu saksi, atas gosip apa yang mungkin timbul setelah ini. Atau bisa jadi ada yang berharap mendapat warisan. Semasa ayah hidup, tidak jarang saya menyaksikan keluarga maupun kerabat datang meminta bantuan. Saya masih di bawah umur, maka masih harus berada di bawah perwalian. Sementara sejak orangtua saya bercerai, Ibu bak raib ditelan bumi. Ada yang bilang ia masih sendiri. Ada yang bilang ia menikah lagi. Saya tak peduli. Tapi saya berharap mereka peduli di situasi seperti ini. Jadi tidaklah berlebihan jika saya merasa mereka hanya pura-pura menaruh simpati. Sebab jika memang mereka benar bersimpati, mengapa mereka tidak peduli dengan apa yang saya butuhkan? Mengapa mereka lebih banyak berbicara ketimbang mendengarkan? Saya hanya butuh sendiri. Terlebih saya tak butuh pertanyaan-pertanyaan seperti:

“Mama udah datang, Sayang?”

“Mama udah dikabari kan?”

“Mama kok belum keliatan?”

“Mama kamu di mana?”

“Mama?”

“Mana?”

“MAMA?”

“MANA?”

“DIAAAAAAAAM! BUBAR SEMUA KALIAN!”

“Teman sekelas saya terjungkal dari pelukan. Entah karena ia sendiri yang melepaskan. Atau saya yang tidak dengan sengaja melontarkan. Suasana mendadak hening. Yang terdengar hanya suara putaran kipas angin. Wuuus… wuuus… wuuus… wuuus… Seolah mewakili dengus napas para tamu di dalam ruangan. Kini mereka benar-benar memerhatikan. Kini mereka benar-benar mendengarkan. Semua mata menatap ke satu tujuan. Mata-mata itu bagai lampu suar yang menyorot ke satu obyek. Lagi-lagi tidak untuk memelajari. Tapi… Menghakimi. Menelanjangi. Tanpa ampun. Sedikit pun.

Saya tidak pernah tahu jika yang lebih menyakitkan bukan menghadapi kematian melainkan menghadapi kehidupan. Kenyataan menjadi begitu sulit untuk diterima nalar. Dan seketika dunia saya jungkir balik. Pagi hari lebih menyerupai malam hari. Gurat senja lebih menyerupai lukisan nestapa. Kelopak bunga lebih menyerupai kelopak mata luka. Rintik hujan lebih menyerupai jarum kepedihan. Dan para tamu itu, lebih menyerupai hantu. Baik hantu masa depan maupun masa lalu.

Saya pun pergi meninggalkan ruangan dan masuk ke kamar. Menjauh dari para hantu yang sedang menyamar. Dari dalam kamar bisa saya dengar suara Wuuus… wuuus… wuuus… wuuus… kipas angin seketika dirubung suara Bzzz… bzzz… bzzz… bzzz… menyerupai lebah. Tangis saya pun pecah.

Entah berapa lama saya menangis sambil memejamkan mata. Yang saya tahu ketika membuka mata, ia sudah berada di sana. Duduk di atas kursi meja belajar saya. Tak berkata-kata. Tapi bisa saya rasakan ada ketulusan di matanya. Ketulusan dari seseorang yang baru saya kenal beberapa saat setelah ayah meninggal dunia. Saya balik menatapnya. Dan kami terlibat perbincangan panjang tanpa kata-kata. Saya menikmati caranya menyentuh saya tanpa menggunakan tangannya. Raga dan jiwa saya bergetar saat ia mengecup saya tanpa menggunakan bibirnya. Dan tanpa sadar saya menjawab semua pertanyaan yang tak ia utarakan.

“Mama saya ada di sini. Ia tak pernah pergi. Setiap hari ia bangun paling pagi. Membangunkan kami yang sedang asyik bermimpi. Dalam mimpi kami. Mama sudah pergi. Mengapa saya katakan kami? Sebab saya bisa melihat kebingungan yang sama di wajah ayah saya setiap kami bangun tidur. Pintu di sebelahmu itu, pintu yang menyambung ke kamar ayah saya. Setiap kali ayah bangun, yang pertama kali ia lakukan adalah membuka pintu itu untuk membangunkan saya. Tapi setiap ia membuka pintu, saya sudah terbangun juga. Saya terbangun karena dibangunkan oleh Mama. Saya heran, mimpi saya begitu nyata. Mama sudah tidak ada. Tapi kenapa bisa ia membangunkan saya? Dan keheranan yang tersirat di wajah ayah saya, sudah cukup membuat saya yakin jika ia mengalami hal yang serupa. Bahwa kami sama-sama bermimpi. Mama sudah pergi. Tapi setiap hari. Mama bangun paling pagi dan membangunkan kami. Ajaib, bukan?”

Ia berjalan menuju pintu tanpa menggunakan kakinya. Lalu membuka pintu tanpa menggunakan tangannya. Saya ikut berjalan ke sisinya. Kamar ayah saya terlihat rapi. Terlihat sunyi. Ada sebuah tempat tidur jati, dengan kelambu putih yang terikat di empat sisi. Sepasang lemari yang juga terbuat dari jati, berdiri di kanan kiri. Sepasang patung pengantin jawa, duduk dengan anggunnya di atas tikar yang terhampar di depan kaki tempat tidur. Selebihnya, tumpukan kanvas-kanvas kosong dan yang sudah disapu kuas ada yang bertumpuk, ada yang berjajar bersandar di dinding yang catnya mulai luntur. Ada dua pintu lagi di dalam kamar ayah. Salah satunya pintu keluar kamar di mana saya dan ia bisa mendengar suara. Bzzz… bzzz… bzzz… bzzz… menyerupai lebah yang belum juga berhenti. Dan satunya lagi pintu menuju kamar mandi. Pintu kamar mandi itu terbuat dari partisi Jepang yang biasa disebut shoji. Berupa rangka kayu berlapis kertas transparan. Sehingga jika lampu sedang dinyalakan oleh seseorang dari dalam, kita bisa melihat bayangan.

“Ada Mama di dalam.”

Bayangan berkelebat dari dalam. Membuat saya ingin segera keluar kembali ke kamar. Ia berjalan mengikuti saya dari belakang tanpa menggunakan kakinya. Dan menutup pintu kembali tanpa menggunakan tangannya.

“Setiap kami berangkat tidur. Mama selalu menyelimuti kami. Karena itu saya tahu, Mama tidak hanya bangun paling pagi, melainkan juga tidur paling malam. Tapi Mama selalu pergi dalam mimpi kami. Saya tidak tahu dengan cara apa Mama pergi. Tidak ada adegan melambaikan tangan. Tidak ada adegan cium perpisahan. Tidak ada adegan berjalan keluar pintu. Tidak ada adegan apa pun kecuali Mama tidak ada.”

Kami kembali bertatapan. Cukup panjang, amat panjang sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya kepada saya, lalu pergi. Untuk yang kedua kali.

“Mama mana?”

Teman sekelas saya bertanya pelan. Tapi cukup keras terdengar di pendengaran. Dan cukup jelas untuk membuyarkan lamunan. Di belakang punggungnya bisa saya lihat antrean orang-orang semakin menyerupai permainan, “Ular Naga Panjangnya Bukan Kepalang.”



Catatan:

Permainan Ular Naga: Dimainkan berkelompok. Dua anak menjadi gerbang, berpegangan tangan ke atas, sedangkan anak-anak lainnya saling memegang bahu temannya sehingga mirip ular yang panjang berjalan mengitari gerbang.

Ular Naga Panjangnya— Ciptaan: Ibu Sud.

Cerpen Djenar Maesa Ayu (Kompas, 15 April 2018)
Djenar Maesa Ayu, ibu dari dua orang putri. Banyu Bening dan Bidari Maharani. Eyang putri dari Embun Kinnara ini lahir di Jakarta, 14 Januari 1973. Ia telah menerbitkan enam kumpulan cerpen berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet!, Jangan Main-main (dengan Kelaminmu), Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek, 1 Perempuan 14 Laki-laki, T(w)ITIT!, dan 5AM. Djenar juga menerbitkan sebuah novel berjudul Nayla.

Yuswantoro Adi, perupa tinggal di Yogyakarta, lahir di Semarang, 11 November 1966. Selain melukis juga aktif mengajar dan memberikan workshop senirupa, terutama untuk anak-anak se-Indonesia. Meraih penghargaan Grand Prize Winner Philip Morris Asean Art Award 1997 di Manila, Filipina.