Rabu, 26 Juli 2017

Tere Liye : Si Kembar -- spin off Serial BINTANG

Episode 04

ILY terbang cepat menuju selatan. 
Aku sudah beberapa kali menaiki ILY di klan Bumi. Tapi itu selalu menyenangkan. Hamparan persawahan terlihat di bawah sana. Juga gunung-gunung. Sungai terlihat mengukir daratan. Gumpalan awan seperti kapas mengambang. 
“Kenapa ada banyak balon udara?” Seli menatap sekitar.
Seli benar. Ada banyak balon udara di sekitar kami.
“Ini minggu-minggu perayaan besar, Seli. Penduduk setempat menerbangkan balon udara sebagai tanda syukur.” Ali yang menjawab.
“Kenapa balon udara bisa terbang setinggi ini?”
“Itu karena mereka sekarang menggunakan gas. Jika hanya lampion atau balon udara dengan tenaga minyak tanah, itu tidak akan terbang setinggi ini.”
“Balon-balon ini bisa mengganggu jalur penerbangan pesawat komersil bukan?”
“Tentu saja. Balon-balon dengan tenaga gas ini membahayakan pesawat, bisa terbang hingga 10.000-12.000 meter. Itu terlarang. Yang boleh diterbangkan hanya lampion atau balon udara tradisional. Tapi kita tidak akan membahas soal balon udara, kita bukan juru bicara Kementerian Perhubungan, Seli. Kita akan tiba di lokasi pintu kamuflase beberapa detik lagi. Bersiap.”
ILY sudah tiba di atas lautan. Terus bergerak ke selatan. 
Beberapa detik, kapsul perak yang kami tumpangi menurunkan ketinggian, mengambang dua puluh meter dari permukaan laut. Jarak kami dengan daratan sekitar sepuluh kilometer. Tidak ada siapa-siapa atau benda apapun di sana.
Apakah pintu menuju candi bawah tanah itu ada di dalam lautan?
“Lorong menuju candi itu ada di bawah sana. Di kedalaman 1.200 meter.” ILY yang menjawab.
“Apalagi yang kamu tunggu? Kita langsung masuk ke dalam sana, ILY!” Ali berseru.
ILY tidak bergerak. 
“Aku tidak menyarankan itu, Ali.”
“Kamu sudah didesain untuk menyelam di dalam lautan, ILY. Bisa melesat cepat tanpa masalah. Apa yang kamu cemaskan?”
“Itu bukan keputusan yang bijak, Ali. Kalian seharusnya memberitahu Av atau Miss Selena untuk perjalanan kategori ini. Keselamatan adalah hal utama.” ILY tetap mengambang.
“Tidak perlu.” Ali menggeleng.
“Aku akan mengaktifkan pemberitahuan ke Kota Tishri, memberitahu Av tentang perjalanan ini. Agar jika terjadi apa-apa, ada yang bisa membantu.”
Ali menepuk dahinya, “Lihat, dia sama cerewetnya dengan Ily dulu, bukan?”
“Aku tidak cerewet, Ali. Aku menilai situasi—“
“Baiklah, aku akan mengambil-alih mode otomatis sejenak.” Ali menekan beberapa tombol di panel kemudi, lantas memegang tuas. Suara ILY menghilang. 
Kapsul perak meluncur ke bawah.
Tidak ada yang akan menghentikan Ali sekarang, tidak meskipun wajah Seli terlihat cemas. 
“Aku seharusnya tidak memasukkan fitur cerewet itu di ILY.” Ali nyengir. Kapsul perak mulai menerobos permukaan laut, bergerak tanpa hambatan, langsung menyelam.
Aku belum pernah menaiki kapsul perak ini di dalam air. Ini pemandangan yang keren. Kami bisa menyaksikan sekawanan ikan melintas dari dinding transparan ILY. Juga ikan pari besar. Ubu-ubur. Kapsul perak terus meluncur ke bawah. 
Bagian lautan yang ini seperti jurang dalam tanpa dasar, setelah beberapa ratus meter menyelam, sekitar kami terlihat gelap. Ali menekan tombol, menyalakan lampu, menerangi depan.
“Apakah pintu lorong itu akan ada penjaganya, Ali?” Seli bertanya. Terakhir kami masuk ke lorong seperti ini, ada dua ekor ular besar yang menunggu. Mencegah kami masuk.
“Boleh jadi.” Ali menjawab santai. Si Biang Kerok ini selalu santai, ini hanya dianggap karya wisata olehnya—yang lebih seru dibanding menatap relief candi dan mendengar ceramah Bu Ati.
Seli mengambil tasnya, mengeluarkan Sarung Tangan Matahari, dia mengenakannya. Bersiap. Sarung tangan itu langsung beradaptasi dengan pemakainya. Menyesuaikan warna dan tekstur, seolah tidak ada sarung tangan di sana. Meneladani Seli, aku juga ikut mengeluarkan Sarung Tangan Bulan. Kami harus berjaga-jaga dari kemungkinan buruk. Sarung tangan ini adalah senjata terbaik milik petarung dunia paralel. 
“Kamu tidak membawa Sarung Tangan Bumi-mu, Ali?” Seli bertanya lagi.
“Aku bahkan tidak pernah melepasnya sejak pertama kali memakainya.” Ali nyengir, mengangkat tangannya. Hanya mata setajam Faar yang bisa melihat sarung tangan dunia paralel saat dikenakan. Di mata orang kebanyakan, Ali tidak terlihat mengenakan apapun.
“Bahkan mandi sekalipun?” 
“Iya. Buat apa aku lepas?”
“Bahkan saat di toilet?”
“Iya.”
“Dan setelah itu makan? Tetap tidak dilepas?”
“Iya.”
“Itu jorok sekali, Ali.” Seli menatap jerih. 
“Hei, apanya yang jorok?” Ali tertawa, “Sarung tangan ini memiliki teknologi bisa membersihkan sendiri. Dia lebih higienis dibanding cuci tangan sebelum makan. Aku bahkan mengupil dengan sarung tangan tetap terpasang. Kamu belum mencobanya.”
Seli menggeleng, jijik.
Astaga? Aku menatap dua teman baikku itu. Lihatlah, mereka asyik sekali bicara tentang mengupil saat kapsul perak kami terus menyelam menembus kegelapan dasar lautan. Entah apa yang dipikirkan Seli, dia tidak harus meladeni Ali soal begini. 
ILY mulai melambat.
“Kita hampir sampai.” Ali memberitahu. 
Tanpa diberitahu aku bisa melihatnya, meski gelap, layar besar di depan kami menunjukkan pencitraan sensor canggih, menampilkan bentuk tiga dimensi. Kami telah tiba di dasar lautan. Ada dinding tinggi di depan kami. Dengan gerbang besar. Aku menahan nafas saat cahaya lampu ILY menyinari gerbang itu. Tingginya hampir empat puluh meter, terbuat dari batu pualam. Di sisi kiri dan kanan gerbang itu nampak dua patung gajah berukuran besar. Itu bukan gajah biasa, patung itu berdiri dengan dua kaki, dua tangannya memegang tombak perak. Itu tidak mirip gajah, itu seperti monster manusia dengan kepala gajah, atau dewa-dewa berkepala gajah. Seolah menjaga gerbang dari siapapun yang hendak masuk.
Tapi ILY terus bergerak maju. Melintasinya.
Seli ikut menahan nafas mendongak menatap patung monster yang menyambut kami. Menyeramkan melihatnya. 
Melewati gerbang tersebut, kami persis memasuki lorong panjang. Ukurannya empat kali lebih lebar dibanding lorong-lorong kuno Klan Bintang, dengan diameter dua puluh meter. Terendam air.
Ali konsentrasi penuh mengendalikan ILY, lorong ini terus menanjak ke atas dengan kemiringan tertentu, menuju utara, kembali ke titik candi sebelumnya, lima puluh kilometer di depan sana. Dinding lorong yang seperti pipa raksasa itu terlihat masih baik. Dengan relief-relief berbentuk simetris. Tidak ada ikan atau hewan laut yang terlihat di dalam lorong.
Ali menekan tuas kemudi, ILY melaju lebih cepat di dalam lorong. 
Atmosfer petualangan tercium pekat. Apapun yang menunggu kami di ujung lorong ini, kami akan tahu beberapa menit lagi.

Selasa, 25 Juli 2017

Tere Liye : Si Kembar -- spin off Serial BINTANG

Episode 03

“ILY?” Seli menatap Ali tidak mengerti, “Bukankah ILY tinggal di kota kita? Di basemen rumahmu?”
Ali menggeleng, menunjuk ke atas, “ILY ada di atas kepala kita sekarang, Seli. Terbang mengambang seratus meter. Aku mengaktifkan mode tidak terlihatnya—tentu saja. Kamu tidak usah cemas orang lain melihatnya, Ra.” Ali menjawab santai, menoleh padaku.
Seli menatap Ali—setengah tidak percaya.
“Aku memang memanggil ILY kalau itu pertanyaannya. Dia terbang beberapa menit lalu saat sensorku berbunyi. Dia hanya butuh tiga menit ke sini. Melesat cepat. Tenang saja, dia tidak akan menabrak pesawat, atau burung, ILY adalah benda terbang paling canggih di bumi.” 
Si Jenius itu menyeringai lebar—seperti hendak bilang betapa jeniusnya dia.
Seli tertawa pelan—aku menyikut Seli, kenapa pula harus ‘memuji’ Ali.
“Bagaimana? Kalian ikut denganku memeriksa sesuatu itu? Dengan seluruh teknologi yang dimiliki ILY kita bisa masuk ke dalam candi tanpa terlihat.”
“Tapi kita tetap tidak bisa menghilang begitu saja dari rombongan, Ali. Bu Ati akan memeriksa.” Seli menoleh ke rombongan yang sudah jauh di atas anak tangga.
“Ibu Ati hanya akan berpikir kita tertinggal di belakang, Ra. Atau yang lebih keren lagi, Bu Ati menyangka kita sangat antusias, memeriksa sendiri relief candi. Dia tidak akan cemas. Ini lokasi wisata, siapapun bisa terpisah tidak sengaja.”
Aku mengusap wajah. Keberatan.
“Ayolah, Ra, Seli. Aku tidak tahu apakah sesuatu itu akan terus berada di dalam candi sana. Bagaimana jika sesuatu itu bergerak menghilang, kita kehilangan kesempatan memeriksanya.”
Aku menghembuskan nafas perlahan.
“Boleh jadi sesuatu itu penting, Ra. Dia memiliki jawaban atas pertanyaan kita.” Ali mendesakku.
Aku berpikir sejenak.
Baiklah. 
Aku juga penasaran itu apa. Skala 10, itu terlihat menakutkan. Tapi sejak Si Tanpa Mahkota berhasil lolos dari Penjara Bayangan—dan kami-lah yang membuatnya lolos, tidak ada rumusnya lagi kami mengkhawatirkan banyak hal. Ini petualangan kami. Aku akan memenuhi takdirku sebagai pemegang Buku Kehidupan.
Aku mengangguk.
“Yes!” Ali mengepalkan tangannya, terlihat senang.
“Duuhh.” Seli mengeluh di saat yang bersamaan. Tapi Seli adalah Seli. Dia akan selalu bersama-sama kami kemanapun pergi meski terlihat keberatan. 
“ILY turun!” Ali berkata pelan, memberi perintah. 
Aku dan Seli tidak melihatnya, juga tidak mendengarnya, kapsul perak, teman perjalanan kami di Klan Bintang itu telah mendesing perlahan, turun ke arah kami, sekarang mengambang di antara stupa-stupa.
Ali melipat proyeksi transparan di tangannya, memasukkannya ke dalam saku celana. Dia juga kembali mengeluarkan “kaca mata” hitam, mengenakannya.
“ILY buka pintu!” Ali berkata pelan. Menatap ke depan.
Persis di depan sana ILY telah menunggu, membuka pintunya.
“Ikuti langkah kakiku, Ra, Seli.” Ali melangkah sambil menunjuk “kaca-mata”-nya, “Hanya aku yang bisa melihat ILY dengan mode menghilangnya. Sekali kita lompat ke dalam pintunya, kita bertiga langsung tak terlihat.”
Kami berhenti sejenak. Ada rombongan turis yang melintas. 
Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa di dekat kami, Ali gesit lompat ke atas. Sekejap tubuhnya sudah menghilang di dalam. Seli menoleh kepadaku. Aku mengangguk mantap, menyemangati. Tanpa menunggu lagi, Seli ikut lompat naik. Tubuhnya juga menghilang. Aku menyusul cepat.
Interior kapsul perak itu langsung terlihat saat kami berada di dalamnya.
“Selamat datang di ILY Versi 5!” Juga suara yang menyapa.
Aku menoleh bingung. Itu bukan suara Ali. Itu siapa? Ada orang lain di dalam kapsul.
Ali tertawa, “Aku menambahkan banyak fitur baru di kapsul ini, Ra. Kapsul ini sekarang sempurna bisa berkomunikasi, termasuk dipanggil jarak jauh. Dia bisa bicara. Cerewet malah.”
“Itu tidak benar. Aku tidak cerewet.”
Astaga?
ILY bisa bicara sekarang? Dan itu sungguhan suara Ily dulu.
Seli sudah duduk di kursinya, memasang sabuk pengaman. 
“Halo, ILY.” Wajah Seli terlihat membaik.
“Halo, Seli. Lama tidak berjumpa. Senang melihatmu semakin kuat.”
Seli mengangguk.
“Bagaimana? Bagaimana kamu memasukkan suara Ily ke dalam kapsul ini?” Aku menyikut Ali, ikut beranjak duduk.
“Itu mudah. Ali meminta database suaraku dari Akademi Bayangan di Klan Bulan. Ilo dan Vey mengijinkannya…. Hallo, Ra. Apa kabarmu?” Kapsul perak yang menjawab lebih dulu.
“Eh, kabarku baik.”
Aku menatap sekeliling interior. Ini aneh. Bagaimana mungkin kami sekarang bisa bicara dengan Ily—yang telah meninggal mengorbankan dirinya mencegah pintu Penjara Bayangan terbuka. Dia akan sempurna menemani kami seperti dulu, berpetualang di Klan Matahari.
“Ini seru, Ra!” Seli punya pendapat lain.
“Yeah!” Ali tertawa pelan, “Kita berangkat sekarang.”
Aku buru-buru mengenakan sabuk pengaman. 
“ILY terbang mengambang lima puluh meter di atas candi.” Ali berseru mantap.
Kapsul perak yang kami naiki mendesing pelan, terbang dengan mudah menuju ketinggian.
“Aktifkan sensor, ILY! Radius seratus kilometer di bawah tanah.”
Layar besar di depan kami menyala. Candi di bawah sana terlihat di tengah layar, berupa model empat dimensi, di bawahnya, mulai menyulam tekstur perut bumi. Aku dan Seli memperhatikan. Setengah menit, tidak ada apa-apa di layar, hanya tanah kosong. 
“Tentu saja tidak ada apa-apa.” Ali mengangguk, “Tidak ada teknologi Klan Bintang, Klan Matahari apalagi Klan Bumi yang bisa mendeteksinya. Jika itu bisa dilakukan, sejak dulu arkeologi bumi sudah menemukannya. Sesuatu di bawah sana memiliki tameng penangkal. Baik, aktifkan sensor SuperRaib. Kekuatan penuh, ILY!”
“Sensor apa?” Seli bertanya duluan.
Ali nyengir, “Sensor SuperRaib.”
ILY yang kami naiki mendesing kencang. Seperti mengeluarkan seluruh tenaganya. Layar di depan kami berubah. Di bawah candi mulai terbentuk garis-garis merah. Sensor mulai menangkap sesuatu.
“Raib bisa bicara dengan alam, begitulah…. Aku terinspirasi dengan hal itu. Jadi kunamakan sensor paling kuat ILY dengan nama tersebut. Bedanya, sensor ILY lebih masuk akal, bukan sihir, menggunakan gabungan teknologi tiga Klan sekaligus, lebih canggih dibanding sensor milik Pasukan Bintang. Aku juga tidak perlu menempelkan kuping ke tanah, bertanya, ‘halo, ada siapa di dalam sana?’.”
Seli tertawa pelan. Ali bergurau.
Tapi itu tidak lucu. Jika saja situasinya berbeda, aku hampir menjitak kepala Ali. Dia sejak dulu selalu menganggap remeh teknik tersebut, mengolok-oloknya. Tapi gerakan tanganku terhenti.
“Lihat!” Ali menunjuk. 
“Itu apa?” Seli termangu.
Layar besar di dalam kapsul selesai melukis sesuatu.
“Itu candi. Sepuluh kali lebih besar.” Aku menatap layar.
Ini sangat mengejutkan. Persis di bawah candi yang terkenal itu, berjarak lima puluh kilometer di perut bumi, ada candi besar dalam ruangan kubus besar. Modelnya terlihat jelas di layar. Lebih megah, lebih menakjubkan. Simetris delapan sisi. Stupa-stupa raksasa terlihat menakjubkan. 
“Siapa yang membangun candi di perut bumi?” Seli bertanya pelan.
Aku menggeleng. Entah siapa yang membuatnya, itu bukan pekerjaan penduduk bumi. Teknologi itu hanya dimiliki Klan Bintang. Tapi bagaimana mungkin bentuk bangunannya seperti candi? Tidak ada bangunan itu di Klan Bintang. 
“Apakah kamu menemukan lorong menuju candi itu, ILY?” Ali berseru.
“Sensorku menemukan pintu kamuflase di sisi selatan, Ali. Delapan puluh kilometer dari sini. Ada lorong menuju persis ke jantung candi di bawah tanah.”
“Bagus sekali, ILY, kita menuju ke sana.”
“Tapi aku harus mengingatkan kalian.” ILY belum bergerak, meski Ali sudah menyuruh.
“Apa?”
“Lorong itu lebih tua dibanding lorong kuno Klan Bintang.”
“Lebih tua dari apa?” Seli bertanya cemas.
“Lorong itu boleh jadi berbahaya.”
“Berbahaya!” Seli menepuk dahi.
“Tidak masalah. Segera berangkat, ILY!” Ali memotong.
Kapsul perak mendesing pelan, sekejap, sudah melenting menuju selatan. Meninggalkan keramaian di candi Borobudur. Tempat Ibu Ati dan empat pulih murid sekolahku sedang karya wisata. Tempat ribuan turis sedang asyik mengambil selfie, menikmati pemandangan.
Mereka tidak punya ide sama sekali, di bawah candi ini, ada candi dengan ukuran sepuluh kali lebih besar, dan ada sesuatu dengan kekuatan besar dunia paralel di sana.

Senin, 24 Juli 2017

Tere Liye : Si Kembar -- spin off Serial BINTANG

Episode 02
Matahari cerah. Cuaca yang baik untuk berwisata.
"Perhatikan anak-anak." Ibu Ati berseru, memegang toa, "Kita sekarang persis berada di anak tangga pertama menaiki candi yang berusia hampir 1.300 tahun."
Murid sekolah kami memperhatikan. Aku dan Seli berdiri bersebelahan, turut memperhatikan. Ali bersungut-sungut menutup kepalanya dengan jaket merah marun. 
"Candi ini mulai dibangun tahun 770 Masehi, dibutuhkan 55 tahun untuk menyelesaikannya. Bayangkan 1.300 tahun lalu saat candi ini selesai dibangun, ribuan orang datang berkumpul, mereka berduyun-duyun datang dari seluruh penjuru negeri merayakannya. Satu-dua, keluarga raja-raja datang menunggangi gajah. Di tahun-tahun itu, candi ini sangat megah, sungguh ajaib membayangkan manusia bisa membangun konstruksi sebesar dan serumit ini. Bahkan setelah ribuan tahun berlalu, candi ini tetap mengagumkan jutaan turis yang datang." Ibu Ati menjelaskan. 
Kami tidak menggunakan tour guide. Ibu Ati adalah guru sejarah yang baik, dia lebih dari memadai untuk menjadi seorang guide. Bahkan tadi dipintu masuk, pimpinan kompleks candi ini sempat menemui rombongan, bilang, "Kalian harus tahu, anak-anak, dulu waktu aku SMA, guru sejarahku adalah Ibu Ati. Tidak ada guide di sini yang bisa menandingi pengetahuannya tentang sejarah candi. Aku terinsipirasi bekerja di sini gara-gara beliau." Tertawa lebar. 
Murid-murid ikut tertawa, antusias memulai mengamati candi. Mengeluarkan pulpen dan kertas. Hanya Ali yang sepertinya menguap tidak peduli. Si Biang Kerok ini memang pengecualian.
"Perhatikan, candi berbentuk stupa ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar." Ibu Ati menunjuk ke belakang, kami mulai melangkah menaiki candi perlahan-lahan sejak tadi, "Pada dindingnya dihiasi oleh 2.672 panel relief dan 504 arca. Stupa utama yang terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca. Bentuk arsitektur yang rapi dan tentu saja mengagumkan."
"Ali--!" Seli menyikut.
Aku ikut menoleh. Astaga?
Si Jenius itu bukan hanya tidak memperhatikan penjelasan Ibu Ati, dia mendadak keluar dari rombongan, berbelok ke balik sebuah stupa.
"Ali." Aku mendesis, berusaha menurunkan volume suara, agar tidak mencolok, "Apa yang kamu lakukan."
Ali menggeleng, dia menunjuk benda mungil di tangannya. Wajahnya terlihat serius.
"Miss Selena melarang kita menggunakan teknologi Klan lain secara terbuka, Ali!" Aku benar-benar marah, bagaimana mungkin Ali justeru santainya memegang proyeksi transparan di tangannya.
"Ini penting sekali, Ra!" Ali memotongku lebih dulu.
"Itu benda apa?" Seli menatap tangan Ali.
"Ini sensor antar klan yang aku buat."
"Sensor?"
"Itu bisa kujelaskan nanti-nanti, Seli, yang mendesak adalah sensor ini menangkap aktivitas Klan lain di sekitar kita."
Aku terdiam. 
Seli reflek menutup mulutnya. 
"Kamu tidak bergurau, kan?" Aku memastikan, sesekali sambil menoleh sekitar, rombongan sudah dua meter meninggalkan kami, mereka tidak menyadarinya karena kami berada di balik stupa. Tidak ada turis lain di dekat kami.
"Tatap wajahku, Ra." Ali terlihat tersinggung, "Apa aku terlihat bergurau?"
Itu benar. Ali serius sekali. Benda di tangan Ali terlihat bergetar. Proyeksi itu mengeluarkan cahaya merah. 
"Sensor ini mendesing kencang sekali. Skala 10. Apapun yang dia deteksi, itu kekuatan yang sangat besar. Aku tidak pernah melihat sebelumnya."
"Apakah itu Si Tanpa Mahkota, Ali?" Suara Seli mencicit, gentar.
"Aku tidak tahu." Ali menoleh ke sekitar, "Candi tua ini, aku sepertinya terlalu menyepelekannya. Ada sesuatu di dalamnya. Dan itu bukan dari klan Bumi."
Aku dan Seli terdiam. Lengang menggantung sejenak.
Apa yang harus kami lakukan?
Bagaimana jika itu Si Tanpa Mahkota, dia mendadak muncul, kemudian menyerang kami. Di tengah ramainya para turis, disaksikan ribuan orang. Tapi itu tidak masuk akal, sejak bebas dari Penjara Bayangan, kami belum mendengar kabar beritanya. Si Tanpa Mahkota juga tidak akan ceroboh membuka rahasia dunia paralel di Klan Bumi. Jika dia mau, sejak 2000 tahun lalu dia bisa melakukannya. Atau itu apa? Ali bilang itu kekuatan yang besar.
"Kita harus memeriksanya!" Si Jenius itu berkata sungguh-sungguh.
"Duh!" Seli langsung menggeleng, tidak setuju.
"Kita harus tahu itu apa, Seli."
"Jangan mencari masalah baru, Ali." Seli menggeleng kencang, "Kita sedang karya wisata. Ada ribuan orang di sini. Dan toh, boleh jadi alatmu ini rusak."
"Enak saja. Alatku tidak pernah rusak. Perhitunganku selalu akurat."
Seli menggeleng lagi, "Kamu pernah salah menghitung enam titik pasak di Klan Bintang, bukan?"
"Itu berbeda, Seli. Saat itu kita memang hanya menebak. Tapi ini, sensorku tidak keliru. Sesuatu itu ada di perut candi tua tempat kita berdiri sekarang. Ada lorong-lorong seperti lorong menuju Klan Bintang di sana. Kita harus memeriksanya."
Proyektor transparan kecil di tangan Ali terus mendesing kencang. Aku menoleh lagi, Ibu Ati dan rombongan sudah sepuluh meter dari kami. Semakin jauh.
"Bagaimana kita akan masuk ke sana, Ali? Di tengah keramaian orang?" Seli menyebut masalah baru.
"ILY!" Ali menjawab mantap.

Minggu, 23 Juli 2017

Tere Liye : Si Kembar -- spin off Serial BINTANG

Episode 01


07.30. Boarding call.
Kami segera berbaris rapi menuju garbarata pesawat. Ada sekitar 40 murid sekolahku yang mengular di pintu pemeriksaan terakhir. Mengenakan seragam sekolah, jaket berwarna merah marun dengan logo sekolah. Ibu Ati, guru sejarah, memimpin rombongan, berkali-kali memeriksa tidak ada yang tertinggal.
"Berapa jam penerbangannya?" Ali basa-basi bertanya pada petugas yang memeriksa boarding pass.
"Tiga jam." Petugas tersenyum.
Ali menghembuskan nafas perlahan.
"Have a nice flight." Petugas mengembalikan boarding pass.
Aku tahu maksud wajah kusut Ali. Dia tidak suka berada di perut pesawat selama itu. 
"Kita bisa tiba di kota itu tiga menit dengan ILY!" Begitu Ali bilang sebelumnya saat kami berangkat menuju bandara.
"Kita tidak bisa naik ILY, Ali." Seli mengingatkan, "Ini perjalanan karya wisata. Kita harus ikut rombongan. Bersama-sama dengan yang lain."
"Yeah. Itu akan membosankan sekali."
Di penghujung kelas dua, kami 'diwajibkan' mengikuti karya wisata keluar kota. Ada beberapa pilihan karya wisata di sekolah kami, orang tua Seli mendaftarkan Seli mengikuti program mengunjungi sebuah candi ternama di luar kota--Mama Seli yang memiliki klinik dokter tidak kesulitan membayar program itu meski mahal. Ali ikut mendaftar program yang sama--apalagi keluarga Ali yang super kaya raya, lebih tidak kesulitan membayarnya. Aku juga, meski itu harus membongkar tabunganku. Tidak mengapa, setidaknya aku tetap bersama mereka.
"Apa yang akan kita lakukan selama tiga jam di dalam pesawat." Ali mengeluh.
"Kita pernah berjam-jam di dalam kapsul ILY, melintasi lorong-lorong kuno. Tiga jam di pesawat tidak akan masalah, Ali." Aku yang menjawabnya.
"Yeah. Tapi di kapsul ILY aku bisa melakukan banyak hal. Membaca tabung ensiklopedi Kota Zaramaraz misalnya. Melakukan percobaan teknologi Klan Bintang. Atau kamu mengijinkanku mengaktifkan proyeksi transparan yang bisa dilipat di dalam pesawat, Ra? Mungkin pramugari mengijinkannya, itu bukan telepon genggam."
Aku melotot. Ali jelas tahu jawabannya. Itu terlarang. Si Biang Kerok ini sepertinya lupa, dia sendiri yang memutuskan untuk ikut program ini secara sukarela, tidak ada yang memaksanya. 
"Apa serunya mengunjungi candi?" Tapi Ali tetap bersungut-sungut, melangkah melewati lorong pesawat, "Itu hanya candi tua, apa yang bisa dilihat dari bangunan tua. Dan hei, mereka akan menyuruh kita membuat laporan perjalanan, sejarah Candi, sejarah pembuatnya. Aku benci membuat laporan seperti itu. Seharusnya Seli memilih program yang lain."
Seli menyikutnya, menyuruh Ali diam, segera mencari kursi.
Kami terus berjalan ke belakang pesawat, tiba di pertengahan lorong, menemukan kursi, duduk berjejer bertiga berdekatan. Ali duduk di dekat jendela.
Aku ikut duduk, di pinggir. Seli duduk di tengah. Kami memasang sabuk pengaman. Memperhatikan yang lain. Ali memencet-mencet tombol di layar kursi, mencoba mencari tontonan yang menarik.
Penumpang sudah masuk semua. Pintu pesawat ditutup.
"Tidak ada yang seru." Ali berseru pelan, "Lebih baik aku tidur saja. Tolong bangunkan jika kita sudah tiba, Sel."
Seli mengangguk.
Ali memasang benda yang berbentuk 'kaca-mata hitam' di wajahnya, melambaikan tangan. Sekejap, dia sudah tertidur nyenyak.
Aku dan Seli saling tatap. Secepat itukah?
Itu pastilah "kaca-mata" dengan teknologi dunia paralel, membuat pemakainya segera tertidur. Si Jenius ini selalu membawa benda-benda eksperimennya. Tapi baguslah, dengan Ali tidur, kami tidak harus menanggapi keluhannya.
"Permen?" Pramugari melewati kursi kami, menjulurkan nampan kecil berisi permen.
Aku menggeleng sopan.
Seli juga menggeleng. Ibunya yang dokter sejak kecil tidak suka dia makan permen.
Pramugari tersenyum, pindah ke kursi lain.
Pesawat itu penuh. Teman-teman sekolahku ramai bercakap-cakap, menunggu pesawat siap berangkat.
Ali mendengkur. Kencang.
Seriusan? Aku dan Seli kembali saling tatap. Si Biang Kerok ini, bahkan saat tidur pun tetap menyebalkan. Dia seharusnya membuat alat yang bisa menghilangkan dengkurannya saat tidur.
Pesawat mulai bergerak menuju runaway.
Here we go, kami akan melakukan petualangan berikutnya. Ini bukan perjalanan menuju Klan Bulan, Klan Matahari atau Klan Bintang yang ada di perut bumi, ini hanya karya wisata ke candi yang amat terkenal itu. Tapi tetap saja sebuah petualangan--sekaligus liburan. 
Aku dan Seli tersenyum. Ini akan menyenangkan.
Kami benar-benar tidak menduga, beberapa jam lagi, kami akan bertemu dengan sebuah misteri lain dari dunia paralel. Bukan di klan-klan itu, tapi di sini, di Bumi, di klan kami sendiri. Dan itu tidak menyenangkan.

Selasa, 14 Maret 2017

Membayangimu, Kanda!

Membayangimu laksana
menebak-nebak pada langit yang berwarna jingga
disudut mana
pelangi bertengger warnanya

Memikirkanmu umpama melihat kepulan asap dan cahaya
meninggi kemudian hilang
Ada kemudian berpendar

Mencarimu laksana
menatap debu-debu berterbangan
kemudian disinari cahaya
bertabrakan kemudian tak jua kutemukan

Mendapatkanmu umpama menunggu waktu
tatkala ibu mengadu
mengapa 'bunga' tak kunjung disapa

Memastikanmu,,,ah nanti saja!
ketika asa digenggaman
Bakti ditunaikan
dan maut selalu diingatkan.
- Ainul Mardhia
Wanita, Payung, Air Mata, Terluka

Cahaya

Aku terjerat pada makna yang ku pahami sendiri
didalamnya ada syair yang mataku sulit memejam
Aku tersadar
pada rengkuhan kata-kata indah tapi tajam

Bila mungkin bisa
ingin ku porak-poranda
rasa yang mengajakku
menangis bersamanya

Bila mungkin bisa
ingin rasanya Rabb ku mengabarkanku
di persimpangan manakah aku terhampir
ke jalan mana aku  kembali  berpijak

Tentu ada satu jalan
yang bisa kupijaki sendiri
untuk melangkah dalam rengkuhan CahayaNya
- Ainul Mardhiah

Mencari Cahaya Ilahi

Mencarimu Dalam Sajak

Aku mencari-carimu dalam sajak
Rupa-rupa yang tak jelas
Mengintai dalam fikir

Kemudian kucari lagi
dalam ingatan
Hanya hening membuncah
Aku diam
Tiada gambaran

Bagaimana ingin kutorehkan makna
Pada sketsa yang tak jelas
membayangimu pun tiada kuasaku
Lantas, bagaimana lahir sajakku  ?

Aku mencoba mencari senyummu pada langit senja
Tiada
Kucari lagi tawamu dibalik kendil kendil pusaka
Juga Tiada

Lantas, Bagaimana lahir sajakku ?

Hanya siluet samar yang tergambar
"Aduen,  Pinta tiada tertahan selama engkau memohon kepada Tuhan. Namun pinta tiada mudah bila pada dirimu sendiri engkau berserah. 
- Ainul Mardhiah

Gadis Kecil Yang Bersedih