Jumat, 28 Juli 2017

Tere Liye : Si Kembar -- spin off Serial BINTANG

Episode 06

Dua monster itu dengan buas memburu kapsul perak. 
Tinju, tendangan, tombak perak, apapun yang bisa digunakan, silih berganti mengincar ILY. Bahkan belalai mereka bisa menghantam kapsul kami.
Ali menggeram, wajahnya konsentrasi penuh memegang tuas kemudi, membawa ILY melakukan manuver ekstrem, terbang menghindar kesana-kemari. Sia-sia, kemana pun ILY terbang, dua monster itu bisa mengejarnya.
BUMM!! Untuk yang ke sekian kalinya kapsul perak kami terkena pukulan berdentum.
Aku memasang kuda-kuda di lantai ILY, kembali membuat tameng transparan melindungi kapsul. Tameng itu sejauh ini efektif, ILY terpelanting membal seperti bola, Seli berpegangan ke kursi. Baru setengah jalan membal ke atas, tinju monster lainnya datang menghantam. BUMMM!! Telak mengenai kapsul. ILY melayang jauh ke lereng pegunungan salju.
Aku habis-habisan menjaga tameng transparanku.
Sejauh ini, tamengku bisa menahan serangan, mengurangi dampak kerusakan, tapi dengan ILY terus jungkir balik di langit-langit ruangan, terbanting kesana-kemari, konsentrasiku berkurang. Kami seperti berada di wahana roller coaster yang berputar 360 derajat. 
“Apa yang harus kita lakukan?” Seli bertanya cemas, kasihan melihatku.
Kami sudah hampir lima belas menit terbang menghindari dua monster itu. Atas bawah, kiri kanan, termasuk menyelam ke danau, tidak berhasil.
“Kita harus keluar dari kapsul! Hanya itu kesempatan kita.” Ali berseru, dia menarik tuas, berusaha membawa ILY terbang dari pegunungan salju. Dua monster itu sudah mengejar lagi, seperti dua orang yang sudah seminggu kelaparan melihat makanan lezat.
Rumitnya, setiap kali kapsul melewati ketinggian 1.000 meter, seperti ada gel atau seperti itulah yang tak terlihat yang menghambat, membuat ILY tidak bisa terbang lebih tinggi.
“Kita tidak boleh keluar dari kapsul, Ali!” Seli keberatan. ILY adalah benteng pertahanan terbaik kami, lebih baik kami tetap berada di dalam kapsul, itu maksud kalimat Seli.
“Kita akan terus jadi bulan-bulanan jika tetap berada di dalam kapsul, Seli!” Ali berseru, sambil membanting tuas kemudi ke kiri, ILY melenting menuju permukaan danau. 
“Awas sebelah kanan, Ali!” Aku memberitahu.
BUMM!! Pukulan berdentum itu mengenai salah-satu stupa candi, meleset. Membuat porak-poranda.
Ali menggigit bibir, membanting tuas kemudi ke bawah, ILY terbang rendah, hanya sepuluh senti di atas permukaan danau. Dua monster itu persis di belakang kami, jaraknya tinggal dua puluh meter siap mengirim serangan berikutnya. Matanya merah, belalainya melambai. Melenguh kencang.
“Dua monster ini mahkluk apa sebenarnya?” Seli menatap jerih ke belakang.
“Tidak tahu, Seli. Yang jelas dua monster ini bukan gajah yang lucu, imut dan menyenangkan. Dia membuatku jadi membenci gajah sekarang.” Ali menjawab cepat.
Seli menoleh kepadaku.
Aku menggeleng, aku juga tidak tahu. Yang pasti dua monster ini menguasai semua teknik bertarung dunia paralel, seperti teleportasi, pukulan berdentum, teknik kinetik, sambaran petir, bahkan di luar itu, yang belum pernah kami lihat. Tongkat peraknya mirip miik Faar, dalam versi yang lebih besar dan kuat. 
“Awas, Ali! Menghindar!” Aku memberitahu.
Tongkat perak salah-satu gajah itu teracung ke kami.
ILY melenting ke arah Candi, berusaha menghindar.
Gerakan tipuan! 
Itu bukan pukulan. Monster itu justeru bergerak ke arah kami menghindar, seperti bisa membaca pikiran kami. Di sana dia telah menunggu sepersekian detik. 
“BUMM!!” 
Tanpa ampun, pukulan berdentum dari jarak dekat mengantam ILY. Kapsul perak kami terbanting ke arah Candi. Dua stupa raksasa hancur lebur seketika, menahan laju kapsul.
Kali ini, tameng transparanku tidak kuat, meletus di stupa ketiga. Tanpa tameng itu, kami bertiga rebah-jimpah di dalam kapsul. Ali terpelanting dari kursinya, kakinya menimpa wajahku. Seli menghantam dinding kapsul. Mengaduh karena kaget dan sakit.
Lima detik terseret, kapsul kami teronggok di puing-puing stupa candi.
“Aku tidak mau lagi berada di dalam kapsul, Ra.” Ali bangkit, bersungut-sungut.
Aku membantu Seli. Dia baik-baik saja, hanya wajahnya pias.
“Apa yang akan kamu lakukan?” Seli bertanya.
Ali sudah menekan tombol, pintu ILY terbuka.
“Aku memilih bertarung di luar, mau kalah mau menang. Dua gajah dumbo ini harus diajari sopan-santun.” 
“TIDAK BOLEH ALI!”
Ali tidak peduli, “Dua gajah ini bukan Bona Gajah Kecil Berberlalai Panjang, Seli! Dua gajah ini jelas berniat menghabisi kita. Aku memilih bertarung langsung dengannya.”
Seli meremas jemarinya. Dia menatapku. Maksudnya, Ali baru bisa melakukan itu jika aku setuju.
Baiklah. Aku mengangguk. Ali benar, kami hanya jadi sasaran empuk di dalam kapsul perak. Aku tidak bisa terus-menerus membuat tameng transparan. Saatnya kami bertarung serius.
“Terima kasih, Ra. Mari kita bertarung.” Ali lompat ke bebatuan candi yang runtuh. Ali tidak mengeluarkan pentungan kasti yang selama ini dia bawa, dia mengenakan Sarung Tangan Bumi, itulah senjatanya.
Sementara dua monster itu berlarian mendekat ke candi. Meraung. Aku melihat bayangan mereka di atas danau.
Ali menggeram. 
Sedetik!! Dia telah berubah, bertransformasi menjadi ‘beruang’. Tubuhnya memang tetap seperti manusia, tapi sarung tangannya, berubah menjadi tangan beruang, dengan bulu-bulu tebal. Faar telah mengajari Ali mengaktifkan kekuatan Sarung Tangan Bumi. Dia bisa mengendalikan sepenuhnya transformasi beruang buas itu. Dia bukan Ali yang lemah setiap pertarungan jarak dekat.
Aku juga lompat ke samping kanan Ali, memasang kuda-kuda. Konsentrasi penuh. Kesiur angin kencang terdengar. Salju turun di sekitar kami. Aku siap bertarung bersisian dengan Ali. 
Seli juga ikut turun, berdiri di samping kiri Ali. Seli tidak akan pernah membiarkan kami bertarung sendirian. Meskipun dia berbeda pendapat, dia selalu ada. Tangan Seli terangkat ke atas. Seketika, sarung tangannya mengeluarkan cahaya terang benderang. Ruangan kubus dengan sisi 30 kilometer itu seperti disinari matahari jarak dekat. Menyilaukan. Kapanpun tangan itu bisa mengirim petir biru.
Sebagai balasannya, dua monster itu justeru mempercepat larinya. Berlarian di atas permukaan danau.
Meraung ganas. Kali ini, seolah melihat makanan lezat setelah sebulan kelaparan.

Kamis, 27 Juli 2017

Tere Liye : Pulang

Bab 16 : Pengkhianatan Bag. Satu

Pesawat jet yang dikemudikan Edwin mendarat mulus di bandara ibukota.
“Terima kasih telah menemaniku dua hari terakhir, Edwin.” Aku menepuk bahunya.
“Tidak masalah, Capt.” Edwin mengangguk.
Sedan hitam milikku sudah terparkir rapi di hanggar pesawat jet pribadi. Pelayan Keluarga Tong sudah menyiapkannya. Aku mengemudikan mobil itu menuju kantor Parwez, pukul empat sore, jalanan padat, jutaan komuter ibukota mulai pulang. 
Tere Liye : Pulang

Aku tiba di kantor Parwez pukul lima sore. Melangkah melintasi lobi gedung, menuju lift khusus yang langsung ke lantai Parwez. Petugas security gedung mengenaliku, juga beberapa tukang pukul. Basyir sepertinya telah menyuruh beberapa tukang pukul ikut menjaga gedung. Mereka membaur dengan sekitar agar tidak terlalu mencolok, duduk di sofa, membaca koran, pura-pura bermain gadget, sambil mengawasi orang-orang.
“Selamat sore, Si Babi Hutan.” Salah-satu Letnan menyapaku di pintu lift, mengangguk. Dia tidak ubahnya seperti seorang eksekutif muda dengan pakaian rapinya.
Aku balas mengangguk, melangkah masuk ke dalam lift, “Basyir kemana, Joni?”
“Basyir pergi ke pelabuhan empat jam lalu.”
“Pelabuhan?”
“Ada laporan yang sama di sana. Aktivitas mencurigakan dari orang-orang tertentu.” Nama Letnan itu adalah Joni, salah-satu tukang pukul terbaik Keluarga Tong. Berpendidikan, dia juga disekolahkan Tauke hingga sarjana. Dia sering menerima tugas dariku, dia lebih dekat kepadaku dibanding Basyir.
“Apa yang kalian temukan di sini, Joni?” Lift bergerak naik.
“Sejauh ini belum ada, Si Babi Hutan. Orang-orang itu hanya pekerja kantoran biasa, aku telah menginterogasi beberapa di antaranya. Mereka disuruh pihak lain, mereka juga tidak mengerti, hanya menerima bayaran untuk datang ke kantor-kantor di gedung kita secara acak, random. Kejadiannya tidak hanya di sini, atau pelabuhan, tapi juga di belasan titik properti lainnya. Polanya sama, mereka membanjiri semua tempat milik kita.”
“Pengalih perhatian.” Aku bergumam.
“Iya, menurutku juga begitu, Si Babi Hutan.” Joni mengangguk, “Basyir sudah mengirim tukang pukul ke setiap tempat yang melaporkan ada tamu-tamu mencurigakan, memeriksanya satu-persatu. Kita mengerahkan semua anggota keluarga sepanjang hari.”
Aku bergumam, ini serius. Siapapun dibalik situasi ini, mereka sedang menyiapkan rencana, menyebar begitu banyak kemungkinan serangan, membuat konsentrasi terpecah. 
Lift tiba di lantai Parwez. Pintu lift terbuka.
Parwez sedang duduk gugup di belakang meja kerjanya. Wajahnya sedikit pucat, pakaiannya berantakan. Aku tahu, dia sepanjang hari tidak bisa bekerja dengan baik.
“Bujang, akhirnya kau tiba.” Parwez menghembuskan nafas lega, wajahnya sedikit cerah.
“Kau baik-baik saja?” Aku bertanya.
Parwez menggeleng, mengusap dahi, “Aku sudah ke kamar mandi belasan kali, Bujang….. Aku bukan seperti kau atau Basyir, ini membuatku cemas. Aku membatalkan semua meeting hari ini.” 
Aku tersenyum simpul, menepuk bahu Parwez, “Kau berada di gedung dengan sistem keamanan terbaik, Parwez. Sekali kau menekan tombol darurat, lantai ini bahkan tidak bisa ditembus dengan tank atau pesawat tempur, kecuali mereka tahu celahnya. Kau akan aman.”
“Tapi Tauke bilang soal pengkhianat, Bujang. Mereka bisa siapa saja, bukan? Termasuk mungkin sekretarisku, stafku, orang-orang yang ada di lantai ini? Bagaimana jika mereka tiba-tiba membawa senapan, alih-alih membawa berkas yang harus kutanda-tangani, mereka menembakku yang sedang memeriksa laporan keuangan?”
“Kau benar soal pengkhianat, bisa siapa saja. Itu juga mungkin termasuk aku, Parwez.” Aku mencoba bergurau, yang justeru membuat Parwez pias kembali, “Rileks, Parwez, kalau aku pengkhianatnya, kau tidak akan hidup enam detik setelah kita bertemu tadi. Lagipula, setiap tiga bulan aku meminta Joni memeriksa seluruh profil orang-orang di lantaimu, mulai dari sekretaris hingga office boy, bersih, tidak ada yang mencurigakan. Kau mungkin tidak tahu, aku menjaga gedung ini lebih dari yang kau bayangkan. Ini pusat seluruh bisnis legal milik Keluara Tong, jauh lebih penting dibanding properti lain.”
Parwez mengangguk pelan, menghela nafas, “Terima kasih, Bujang.”
Telepon genggamku berbunyi, itu telepon dari Basyir.
“Kau ada di mana sekarang, Basyir?” Aku langsung bertanya saat tersambung.
“Masih di pelabuhan. Menyisir setiap jengkal pelabuhan. Kau ada di mana Bujang? Kau sudah mendarat?”
“Kantor Parwez. Aku baru tiba beberapa menit lalu. Bagaimana pelabuhan?”
“Ini rumit, Bujang. Mereka membuat fokus kita terpecah, aku hampir mengirim semua tukang pukul—“
“Markas besar jangan ditinggalkan, Basyir.” Aku memotong. Dalam situasi rentan seperti ini, tanpa tahu kemana sasaran penyerangan akan terjadi, markas besar prioritas. Kami pernah mengalami kejadian yang sama di kota provinsi dulu.
“Tentu tidak, Bujang. Aku bilang hampir. Pasukan terbaik ada di markas besar, Brigade Tong, dengan Letnan kepala, mereka melindungi Tauke penuh. Tidak akan ada yang bisa melewati mereka, bahkan jika Keluarga Lin datang membawa seluruh anggotanya dari Makau. Mereka akan menemukan lawan tangguh. Tapi aku tidak bisa mengabaikan laporan-laporan di banyak tempat, aku harus memeriksanya satu-persatu.”
Aku mengangguk, menyetujui langkah Basyir. Meninggalkan Brigade Tong di markas besar adalah pilihan yang tepat. Situasi kami masih gelap, ada banyak kemungkinan, kami tidak tahu persis dimana serangan itu akan dilancarkan. 
“Tauke Besar meminta kau pulang, Bujang.” Basyir memberitahu, “Orang tua itu ingin kau berada di sana malam ini.”
“Aku memang segera kembali ke rumah setelah dari kantor Parwez. Kau hati-hati, Basyir.”
“Siap, aku akan segera menyusul pulang setelah urusan di pelabuhan selesai, Tauke Muda.” Basyir sengaja menggodaku.
Aku sudah mematikan telepon—semakin dilarang, Basyir akan semakin menjadi.
Tiga puluh menit kemudian, aku masih memastikan beberapa hal di kantor Parwez, meminta Joni memberikan hasil interogasi, membaca profil orang-orang yang mencurigkan. Buntu. Mereka hanya orang-orang biasa, mereka bahkan tidak kenal siapa yang menyuruh. Siapapun yang berencana menyerang, terlihat sangat rapi dan berpengalaman. Ini bukan Keluarga Lin, mereka tidak akan sempat menyiapkan skenario secepat ini.
Pukul enam, saatnya aku kembali ke rumah, atau Tauke akan mengamuk jika aku lagi-lagi menundanya, “Kau ingin kembali ke apartemenmu? Atau kau mau ikut denganku ke markas, Parwez. Di sana akan lebih aman.”
Parwez mengangguk, dia meraih jas hitamnya.
Kami turun dengan lift khusus, langsung menuju parkiran.
“Pakai mobilku saja, Bujang.” Parwez menuju parkiran mobilnya. 
Aku mengangguk, mobilku ada di lobby gedung, hendak meminta kunci dari Parwez—biar aku yang mengemudi.
Joni lebih cepat, dia mengambil kunci dari tangan Parwez, “Tunggu di sini, biar aku yang menyalakan dan membawa mobilnya, Si Babi Hutan.”
Parwez menatap heran, “Apa yang dia lakukan?”
“Prosedur resmi kondisi darurat.” Aku menjawab sambil menepuk bahu Parwez, “Joni adalah Letnan terbaik di Keluarga Tong. Dia mengambil resiko, jika ada bom yang dipasang di mobil, meledak saat mobilnya dinyalakan, maka Joni akan menjadi martir, meledak duluan bersama mobil itu, sementara kau tetap aman berdiri di sini.”
Parwez menelan ludah, “Ini serius sekali, Bujang.”
“Hei, kita tidak tahu, boleh jadi mereka memasang bom di mobilmu, bukan? Atau kau mau menyalakannya?”
Parwez menggeleng kaku.
Setengah menit, Joni merapatkan mobil sedan hitam di depan pintu lift, tanpa kurang satu apapun. Tentu tidak ada bom di mobil Parwez, lantai parkiran aman, tidak ada yang bisa masuk sembarangan. Juga mobil yang kukendari dari bandara, tidak sembarang orang bisa menyentuhnya, diawasi penuh oleh tukang pukul atau pelayan. Aku mengambil alih kemudi.
Parwez adalah generasi terakhir yang bergabung dengan Keluarga Tong, dia tidak pernah mengalami langsung penyerangan. Parwez tidak bersentuhan dengan tukang pukul, situasi menegangkan ini baru baginya. Sejak diambil Tauke dari panti asuhan, Parwez langsung dikirim sekolah ke Singapura. Aku lebih baik mengajaknya pulang ke rumah malam ini, dia akan merasa lebih nyaman, berada dekat Tauke Besar, di sana juga ada Brigade Tong, pasukan khusus yang dibentuk oleh Basyir sepulang dari timur tengah. Brigade itu dibuat atas persetujuan Tauke, Basyir menyeleksi sendiri anggotanya, melatihnya menjadi mesin mematikan bagi musuh-musuh Keluarga Tong lima tahun terakhir. Joni ikut bersamaku naik mobil, dia pengawal tetap Parwez sementara waktu, penjagaan di kantor berlantai tiga puluh itu diberikan ke Letnan lain.
Jalanan padat, mobil yang kukemudikan tersendat. Parwez lebih banyak diam, menghela nafas, mengusap wajah berkali-kali, dia tetap tegang. Joni di sebelahku juga diam menatap ke depan, terus fokus. Gerimis mulai turun, membuat jalanan semakin macet.
Mobil yang kukemudikan melewati kantor pusat bank milik Keluarga Tong, berdiri tegak, menjulang tinggi. Bank ini sejak berdiri telah menjadi alat pencuci uang terbesar yang pernah ada di Asia. Triliunan uang masuk dari dunia hitam, kemudian disalurkan menjadi kredit bisnis legal. Belasan tahun beroperasi semua berjalan lancar, kami menyumpal pengawas dan pejabat pemerintahan. Bankir kami melakukan rekayasa transaksi keuangan tingkat tinggi untuk menyamarkan uang-uang itu. 
Tidak hanya bank milik Keluarga Tong yang melakukan praktek tersebut, hampir sebagian besar perbankan raksasa dunia terlibat dengan shadow economy, sudah menjadi rahasia umum, tahu sama tahu, itu bisnis yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Bank membutuhkan uangnya, mereka membutuhkan tempat menyimpannya. Mulai dari uang penyelundupan barang, illegal logging, insider trading, perjudian dan tindak kriminal lainnya. Mulai dari preman kelas bawah, hitungan jutaan, mafia, triad, yakuza hitungan milyaran, hingga keluarga-keluarga penguasa shadow economy hitungan triliunan.
Pencucian uang adalah bisnis besar. Aku sempat bicara dengan Parwez beberapa bulan lalu, membahas kemungkinan menggunakan electronic money sebagai sarana pencucian uang yang lebih maju—termasuk penggunaan cryptocurrencies. Itu akan menjadi masa depan, jauh lebih mudah dilakukan, dan lebih sulit dideteksi regulator. Menggunakan uang yang beredar di dunia maya, sebagai alat pembayaran transaksi online, sebagai alat akumulasi kekayaan, itu cara jenius untuk mencuci uang, karena tidak perlu identitas, tidak bisa di-tracking. Electronic money juga bisa menggandakan uang lebih cepat dibanding uang di dunia nyata yang harus terlihat fisiknya.
Mobil terus merambat maju, melewati komplek hotel sekaligus apartemen kelas atas dan pusat perbelanjaan terkemuka ibukota. Hampir satu blok kawasan elit itu adalah properti Keluarga Tong. Bangunannya gemerlap oleh cahaya lampu, disiram oleh gerimis, berpendar-pendar, seperti lampu petromaks di tengah ladang padi, yang mengundang ribuan laron. Komplek hiburan ini dikunjungi jutaan orang setiap tahun—tanpa tahu-menahu siapa pemilik aslinya, komplek ini menjadi salah-satu cash cow penting bagi Keluarga Tong. 
Mobil juga melewati kantor-kantor lain milik Keluarga Tong, dealer, show room, jaringan fast food, butik, dan sebagainya, lengan gurita bisnis Tauke Besar telah menyentuh setiap lapisan kehidupan. Aku menghela nafas, Salonga benar, dua puluh tahun terakhir, kesuksesan Tauke telah mengundang kebencian dari banyak pihak. Lihatlah, dimana-mana Tauke menancapkan kekuasannya, menyingkirkan siapapun yang merintangi, banyak keluarga yang terpaksa pergi dari ibukota, dan tidak terbilang yang dihapus dari konstelasi dunia hitam. Saat Tauke jatuh sakit, saat dia tidak sekuat dulu, hanya soal waktu mereka menunjukkan rasa tidak suka itu. Boleh jadi mereka menggabungkan kekuatan terakhir, berusaha menyerang malam ini. Aku menatap wiper mobil yang bergerak menyingkirkan tetes air hujan di kaca depan, Guru Bushi juga benar, sejak muda Tauke Besar penuh ambisi, dia terobsesi mengalahkan bayang-bayang Ayahnya, hingga lupa, dia telah lari jauh sekali, dia lebih besar dibanding siapapun. 
Kopong telah meninggal lima tahun lalu, meninggal dengan tenang setelah jatuh sakit tiga hari. Markas besar berkabung selama tujuh hari, Basyir menggantikannya setelah melewati ritual Amok. Mansur menyusul enam bulan berikutnya, juga meninggal dengan tenang, saat sedang bekerja di ruangannya hingga larut malam. Pelayan menemukannya sedang tidur di sofa pagi-pagi, enggan membangunkan, dan masih melihat Mansur tidur pukul sebelas siang, kemudian panik berusaha menggerakkan badannya yang telah dingin. Setelah kematian Mansur, hampir semua anggota keluarga yang dulu dibawa dari kota provinsi telah berganti. Tauke Besar tinggal sendirian dari generasi lama Keluarga Tong, dan dia tetap berlari kencang lima tahun ini, tidak berhenti walau sejenak.
Setelah menghabiskan satu jam di jalanan macet, mobil yang kukemudikan akhirnya tiba di depan gerbang baja markas besar. Gerbang itu membuka otomatis, mengenali penumpang mobil. Hujan deras, aku melintasi parkiran luas, tiba di lobi yang kering, memarkirkan mobil di sana. 
Beberapa anggota Brigade Tong yang berjaga di halaman mengangguk ke arahku. Aku membalasnya selintas, segera melangkah masuk ke dalam bangunan utama, Parwez dan Joni berjalan di belakangku. Petir dan geledek bersahutan di langit gelap.
Bangunan utama nampak lengang—sebenarnya seluruh markas nyaris kosong, hanya menyisakan lima puluh anggota Brigade Tong. Letnan dan ratusan tukang pukul lain sedang disebar oleh Basyir, memeriksa ancaman serangan. Beberapa pelayan masih terlihat bekerja, tapi mereka hanya membereskan sisa-sisa pekerjaan. Sudah pukul delapan, waktunya mereka beristirahat.
Aku menaiki anak tangga, menuju kamar Tauke Besar. Mendorong pintu jati berukiran.
“Hallo, Bujang.” Tauke menyapaku, dia sedang duduk bersandar di ranjang, membaca sesuatu.
“Selamat malam, Tauke.” Aku balas menyapa, tersenyum. Tauke terlihat sehat, piring makan malam yang ada di atas meja sebelah ranjang habis. Tirai jendela kamar dibiarkan terbuka, sesekali terlihat gurat petir di kejauhan.
“Kapan kau tiba dari Hong Kong?” Tauke bertanya, meletakkan buku.
Kapan aku tiba?
Saat itulah. Aku berdiri mematung.
Tiba-tiba kesadaran itu datang di kepalaku. 
Aku keliru sekali. Benar-benar telah keliru. Ini bukan ancaman serangan dari Keluarga Lin, balas dendam. Ini juga bukan datang dari keluarga yang membenci kesuksesan Tauke, dan disingkirkan. Ini adalah skenario lihai. Ini adalah pengkhianatan. Cara lama yang akan terus abadi di dunia hitam.
“Tekan tombol daruratnya, Joni!” Aku berseru.
Joni menoleh, tidak mengerti.
“Aktifkan pertahanan bangunan utama! SEKARANG!” Aku membentaknya. 
Joni kali ini tidak banyak bertanya, dia lari ke dinding dekat ranjang, menekan tombol di sana. Persis saat tombol itu ditekan, suara alarm bahaya terdengar melengking, belasan pintu baja menutup, melapisi pintu-pintu, membentuk benteng pertahanan.
“Ada apa, Bujang? Kenapa kau menyuruh Joni menekan tombol?” Tauke Besar menatapku tidak mengerti.
Nafasku menderu, aku mengusap wajah. Bagaimana mungkin aku lalai melihat semua ini. Bukankah Kopong dulu pernah memberitahuku tentang pekhianatan. Bagaimana aku tidak melihatnya? Dekat sekali. Parwez di sebelahku sudah pucat pasi, situasi di sekitar kami berubah menjadi sangat menegangkan. Suara alarm itu terdengar di seluruh markas besar. Puluhan pelayan langsung berlarian saat mendengarnya, menuju tempat berlindung, mereka sudah berlatih prosedur darurat seperti ini. Apa yang harus dilakukan oleh mereka, apa yang harus diamankan lebih dulu.
“Ada apa, Bujang?” Tauke mendesak.
“Apakah Tauke menyuruhku segera pulang malam ini?” Aku balas bertanya, mendesak. 
Tauke menggeleng,”Aku justeru baru tahu kau tiba dari Hong Kong, Bujang.”
Aku meremas jemari, “Basyir! Adalah Basyir pengkhianatnya.”
Hanya Basyir dan Parwez yang tahu aku telah pulang. Dan sore tadi, saat meneleponku, dia bilang Tauke telah menungguku di rumah. Itu dusta. Itu bagian skenario lihainya, dia sengaja membuatku, Parwez dan Tauke ada di rumah malam ini, berkumpul menjadi satu. Kami adalah pucuk pimpinan Keluarga Tong, sasaran empuk di markas, ketika ratusan tukang pukul lain jsuteru disuruh pergi ke banyak tempat. 
Serangan itu tidak akan dilakukan oleh pihak luar. Serangan itu akan dilakukan dari dalam. Brigade Tong, merekalah yang akan menyerang, hanya menunggu waktu saat kami bertiga berkumpul, kemudian menunggu perintah final Basyir. Brigade Tong jelas sekali adalah kaki-tangan Basyir, dialah yang merekrut, melatih pasukan khusus itu sejak Basyir menggantikan Kopong. Tidak ada yang pernah memeriksa latar belakang anggota Brigade Tong, hanya Basyir yang tahu.
“Siapkan senjata, Joni!” Aku berseru parau, “Apapun yang ada di ruangan ini.”
Waktu kami tidak banyak. Sekali alarm itu berbunyi, Basyir akan tahu dari penyeranta yang dia bawa, tanda darurat telah diaktifkan, seluruh Letnan harus kembali ke markas. Dia tidak akan menunggu seluruh tukang pukul terlanjur memenuhi markas, dia akan segera menginstruksikan Brigade Tong mulai menyerang bangunan utama.
Aku mengusap wajah, memaki dalam hati, bagaimana mungkin aku abai sekali melihatnya.
***

*bersambung

Tere Liye : Si Kembar -- spin off Serial BINTANG

Episode 05

Lima menit terus menanjak di dalam lorong berbentuk pipa besar itu, kapsul perak yang kami naiki akhirnya keluar dari air. 
Splash.
Muncul di permukaan. Di sebuah ruangan berbentuk kubus dengan sisi dua ratus meter. Ada beberapa stupa besar di sana. Tersusun simetris empat sisi. Ruangan itu tidak gelap, ada sistem pencahayaan yang sama seperti di ruangan Klan Bintang, seolah ada matahari di atas sana, yang beranjak turun di dinding sisi timur, sebentar lagi sunset.
Aku mendongak menatap matahari itu. Awan putih mengambang di sana—pemandangan yang sangat mengherankan jika aku belum pernah mengunjungi dunia paralel. Ruangan ini seperti permukaan bumi, hanya dinding-dinding tinggi yang membuatnya berbeda.
“Ini ruangan apa, Ali?” Seli bertanya, dia ikut memperhatikan sekitar.
Kapsul perak kami naik perlahan ke langit-langit ruangan, masih dengan mode menghilang. Ali tidak mau mengambil resiko menampakkan ILY. Di empat dinding ruangan terlihat air terjun besar, menghujam ke dasar, kemudian membentuk sungai yang berkumpul, menuju lubang lorong, tempat kami keluar tadi.
“Ini sepertinya ruangan pemeriksaan, atau pos terdepan sebelum masuk ke ruangan candi di depan sana, Seli.” Ali ikut memperhatikan. 
“Apakah ada orang di ruangan ini?” Seli berbisik pelan.
“Sepertinya tidak ada. Sensor ILY tidak menunjukkan aktivitas mahkluk hidup apapun.” Ali menunjuk ke layar besar. 
Meskipun demikian kami tetap harus waspada. Kami kenyang dengan pengalaman petualangan di dunia paralel, sebuah ruangan akan lebih berbahaya justeru ketika nampak lengang, tidak ada isinya. Kami tidak tahu apa yang telah menunggu di balik stupa misalnya.
“Kita kemana sekarang, Ali?”
“Dinding sisi utara, Sel. Ada lorong berikutnya di sana, menuju ruangan candi.” Ali menggerakkan lagi tuas kemudi ILY, kapsul perak bergerak perlahan melintas di sela stupa-stupa besar.
Kapsul perak tiba di dinding utara.
“Patung monster itu lagi, Ra.” Seli menahan nafas.
Aku mengangguk, aku juga telah melihatnya. Di dinding itu ada gerbang berikutnya, lebih tinggi dibanding di dasar lautan sebelumnya, terbuat dari batu pualam, dan lebih megah, ditimpa cahaya matahari. Dan ada dua patung besar monster berbadan manusia serta berkepala gajah di sana. Karena cahaya lebih terang, aku bisa memperhatikan lebih detail patungnya, wajah “gajah” itu terlihat buas. Matanya tajam, kupingnya mengembang, belalainya melambai ke belakang, sementara tangannya mengacungkan tongkat perak ke arah kami. Seperti tidak mengijinkan siapapun melintasi lorong. 
ILY terus melintasi gerbang, dua patung monster tidak akan menghentikan Ali. Kami bersiap masuk ke dalam lorong gelap berikutnya.
Seli menghembuskan nafas. Dia lega, setidaknya kami tidak diserang sesuatu di ruangan tadi. Hanya deg-deg-an menatap patung monster saja. 
“Berpegangan, Ra, Seli. Kecepatan penuh.” Ali menarik tuas kemudi, dan sebelum kami betulan berpegangan, ILY melesat cepat memasuki lorong besar. Kali ini meluncur dengan kemiringan tajam ke bawah, seperti terjun bebas. Menuju kedalaman lima puluh kilometer.
Tiga puluh detik lengang.
“Sepertinya ruangan kosong tadi dekat sekali dengan permukaan bumi.” Seli memperhatikan dinding lorong yang berpendar-pendar ditimpa cahaya dari ILY. Kami terus meluncur turun.
Ali mengangguk, “Iya. Pembuat lorong-lorong ini menggunakan trik fisika sederhana, pintu utama lorong sengaja di buat di dasar laut, lorong naik ke atas hingga ke ketinggian permukaan laut, tiba di pos terdepan ruangan tadi, kemudian lorong menuju lagi ke bawah. Agar air laut tidak masuk ke dalam ruangan candi di depan sana. Mungkin kita tadi berada di perut salah-satu gunung atau bukit dekat candi tempat karya wisata.”
“Tapi bagaimana orang-orang tidak tahu jika ada ruangan itu, Ali, jika ruangan tadi dekat dengan permukaan bumi? Boleh jadi tanpa sengaja orang akan menemukannya, kan?”
“Banyak caranya agar orang tidak tahu, Sel. Mulai dari cara paling kuno hingga teknologi canggih. Cerita mistis misalnya, itu cara kuno. Ada kisah tentang Ratu penguasa lautan, itu cukup untuk membuat nelayan tidak mendekati lokasi tertentu, atau jadi penjelasan simpel jika ada kejadian tidak masuk akal. Ada kisah menyeramkan lainnya tentang gunung, petani tidak berani mengolah lahan tertentu. Tapi di atas segalanya, teknologi adalah cara terbaik, jelas sekali ruangan ini memiliki penangkal. Tidak ada teknologi pemetaan geologi milik Klan Bumi yang bisa mendeteksinya.”
Aku menatap punggung kursi Ali. Si Biang Kerok ini selalu punya penjelasan. Entah apakah dia mengarang-ngarangnya hingga masuk akal, atau memang itu penjelasan terbaiknya.
ILY terus meluncur cepat ke bawah.
“Kita hampir sampai. Bersiap-siap.”
Aku dan Seli memperbaiki posisi duduk. 
Lima belas detik lagi menatap layar besar ILY, dinding gelap lorong berakhir. Digantikan pemandangan yang spektakuler.
Kapsul perak kami persis keluar dari atap sebuah ruangan besar berbentuk kubus dengan sisi tak kurang dari tiga puluh kilo meter. Separuh dasar ruangan itu adalah danau. Dengan tepi-tepi hutan lebat berbentuk gunung-gunung berselimutkan salju di sisinya. Simetris empat sisi. Kami tiba persis saat matahari bersiap tenggelam di dinding sebelah timur. Sunset. Langit terlihat jingga. Awan putih yang laksana kapas juga terlihat memerah. 
Aku menahan nafas. Lihatlah, di bawah sana, di tengah danau, candi besar itu menyambut anggun. Seperti bunga teratai elok di tengah danau berair sejernih kristal. Ada empat jalan penghubung di atas permukaan danau yang sepertinya terbuat dari kayu menuju candi itu dari sisi hutan. Pepohonan di hutan sedang berbunga warna-warni, terlihat menawan. 
ILY terus turun ke dasar ruangan, semakin dekat dengan candi. 
“Ini indah sekali.” Seli berkata pelan.
Aku mengangguk. Dari jarak seratus meter, dasar danau terlihat. Koral, terumbu karang. Ikan-ikan berenang. Itu bukan danau biasa. Stupa-stupa candi memantulkan cahaya lembut matahari senja. Matahari siap terbenam di balik pegunungan bersalju. Aku belum pernah melihat sunset seindah ini di dunia paralel. 
“Ini lebih keren dibanding Pulau Pesisir Timur Klan Bintang.” Ali bergumam. Dia beranjak melepas sabuk pengaman, berdiri di dekat jendela transparan kapsul.
Aku dan Seli tertawa kecil, setuju. Juga melepas sabuk pengaman, ikut berdiri di sebelah Ali. Sejenak kami mengabaikan apa tujuan kami ke ruangan ini—mencari sesuatu yang terdeteksi oleh sensor Ali. Kami menikmati sunset.
Seli menghembuskan nafas saat matahari akhirnya benar-benar menghilang di dinding timur, di balik pegunungan salju, menyisakan siluet cahaya tipis. 
“Aku akan memeriksa sensor ILY—“
Belum habis kalimat Ali, persis saat gelap membungkus ruangan, sesuatu menghantam kapsul perak. 
Itu pukulan yang kencang sekali. Tiba-tiba. 
BUUMM!!
Kapsul perak yang kami tumpangi telah terpelanting jauh ke atas hutan lebat.
Seli menjerit kaget, dia terbanting ke layar ILY. Ali rebah jimpah menimpa lemari kapsul.
Aku berseru kencang, segera membuat tameng transparan berbentuk bola, mengelilingi kapsul. 
ILY menghantam pepohonan, satu, dua, tiga, tak terhitung berapa kali. Seperti membuat garis di hutan, pohon patah, tumbang, memanjang hingga seratus meter, hingga akhirnya ILY terhenti.
“Kalian tidak apa-apa?” Aku bertanya. Berusaha berdiri.
Wajah Seli pucat pasi. Dia juga berusaha berdiri. Kakinya gemetar.
Ali bersungut-sungut, keluar dari lemari. Badannya terbanting ke sana, melesak masuk. Tapi kami baik-baik saja. Teknik tameng transparan yang menyelimuti seluruh kapsul perak sepersekian detik sebelum kami mendarat di hutan lebat efektif mengurangi dampak benturan.
“Itu apa tadi?” Seli tersengal.
Sebagai jawabannya. Terdengar raungan kencang dari arah Candi. Seperti suara gajah, tapi lebih keras dan nyaring. Mengerikan mendengar suara itu.
“I-tu ap-pa?” Seli mendecit.
“Semua siaga! Posisi bertarung!” Aku berseru tegas. Tidak ada waktu lagi.
“Terbangkan ILY, Ali!”
Ali segera loncat, susah payah duduk di kursinya. Menekan beberapa tombol sekaligus.
ILY segera naik ke atas. Tidak penting lagi mode menghilang atau pengintaian, sesuatu yang menyerang kami jelas bisa mengetahui posisi ILY meski mode itu aktif. Ali menyalakan lampu, menyorot ke depan, ke arah Candi, sumber suara.
Di atas permukaan danau, aku melihatnya pertama kali. Mahkluk itu berlarian buas, seperti bisa berjalan di atas air, tingginya dua puluh meter, badannya seperti manusia, tapi kepalanya, gajah. Itu persis seperti patung yang kami lihat sebelumnya, tapi yang satu ini hidup. Monster itu membawa tongkat perak panjang. Teracung ke depan. 
BUMMM!!
“Awas Ali!” Aku berseru.
Tongkat perak itu mengirimkan pukulan jarak jauh. Berdentum. 
Ali gesit membanting tuas kemudi, ILY melenting menghindar. Berhasil. Pukulan itu menghancurkan hutan seluas satu lapangan bola. Pukulan itulah yang tadi mengenai kapsul.
“Terbang tinggi Ali!” Aku punya ide. 
Ali mengangguk, menarik tuas kemudi kencang-kencang. ILY melesat terbang, mencoba kabur.
Monster itu lebih dulu loncat tinggi, seperti bisa terbang dengan mudah. Tangkas dan cepat, tiba-tiba dia sudah mengambang di depan kami. Dari jarak sedekat itu, aku bisa melihat matanya yang merah, telinganya yang lebar, belalainya yang mendengus, dan tangan kirinya yang buas menghantam kapsul. Meninju kapsul ke bawah.
“Awass, Ali!” Seli menjerit.
Ali berusaha melakukan manuver menghindar. Terlambat.
Aku menggigit bibir, segera membuat tameng transparan. ILY terbanting lagi ke dasar hutan. Kali ini tidak separah sebelumnya. Tameng transparanku cukup kokoh menahan hantaman tinju. ILY seperti bola basket yang dibanting pemain setinggi dua meter, membal, memantul ke belakang.
Monster itu meraung marah. Dia sepertinya tidak suka melihat tameng transparanku. Segera berlarian mengejar.
Dan sebelum kami pulih dari serangan tadi, atau menyusun rencana menghadapinya, monster itu sudah tinggal seratus meter, berlarian mendekat menyibak pepohonan. 
“Apa yang harus kita lakukan?” Seli bertanya. 
Sebagai jawaban, terdengar raungan panjang dari candi. 
Astaga? Monster ini ternyata tidak hanya satu. Ada dua.
Dari candi, berlarian monster berikutnya. Dengan tinggi, ukuran, dan senjata sama persis. Seolah satu monster tidak cukup untuk menghabisi kami.


Rabu, 26 Juli 2017

Tere Liye : Si Kembar -- spin off Serial BINTANG

Episode 04

ILY terbang cepat menuju selatan. 
Aku sudah beberapa kali menaiki ILY di klan Bumi. Tapi itu selalu menyenangkan. Hamparan persawahan terlihat di bawah sana. Juga gunung-gunung. Sungai terlihat mengukir daratan. Gumpalan awan seperti kapas mengambang. 
“Kenapa ada banyak balon udara?” Seli menatap sekitar.
Seli benar. Ada banyak balon udara di sekitar kami.
“Ini minggu-minggu perayaan besar, Seli. Penduduk setempat menerbangkan balon udara sebagai tanda syukur.” Ali yang menjawab.
“Kenapa balon udara bisa terbang setinggi ini?”
“Itu karena mereka sekarang menggunakan gas. Jika hanya lampion atau balon udara dengan tenaga minyak tanah, itu tidak akan terbang setinggi ini.”
“Balon-balon ini bisa mengganggu jalur penerbangan pesawat komersil bukan?”
“Tentu saja. Balon-balon dengan tenaga gas ini membahayakan pesawat, bisa terbang hingga 10.000-12.000 meter. Itu terlarang. Yang boleh diterbangkan hanya lampion atau balon udara tradisional. Tapi kita tidak akan membahas soal balon udara, kita bukan juru bicara Kementerian Perhubungan, Seli. Kita akan tiba di lokasi pintu kamuflase beberapa detik lagi. Bersiap.”
ILY sudah tiba di atas lautan. Terus bergerak ke selatan. 
Beberapa detik, kapsul perak yang kami tumpangi menurunkan ketinggian, mengambang dua puluh meter dari permukaan laut. Jarak kami dengan daratan sekitar sepuluh kilometer. Tidak ada siapa-siapa atau benda apapun di sana.
Apakah pintu menuju candi bawah tanah itu ada di dalam lautan?
“Lorong menuju candi itu ada di bawah sana. Di kedalaman 1.200 meter.” ILY yang menjawab.
“Apalagi yang kamu tunggu? Kita langsung masuk ke dalam sana, ILY!” Ali berseru.
ILY tidak bergerak. 
“Aku tidak menyarankan itu, Ali.”
“Kamu sudah didesain untuk menyelam di dalam lautan, ILY. Bisa melesat cepat tanpa masalah. Apa yang kamu cemaskan?”
“Itu bukan keputusan yang bijak, Ali. Kalian seharusnya memberitahu Av atau Miss Selena untuk perjalanan kategori ini. Keselamatan adalah hal utama.” ILY tetap mengambang.
“Tidak perlu.” Ali menggeleng.
“Aku akan mengaktifkan pemberitahuan ke Kota Tishri, memberitahu Av tentang perjalanan ini. Agar jika terjadi apa-apa, ada yang bisa membantu.”
Ali menepuk dahinya, “Lihat, dia sama cerewetnya dengan Ily dulu, bukan?”
“Aku tidak cerewet, Ali. Aku menilai situasi—“
“Baiklah, aku akan mengambil-alih mode otomatis sejenak.” Ali menekan beberapa tombol di panel kemudi, lantas memegang tuas. Suara ILY menghilang. 
Kapsul perak meluncur ke bawah.
Tidak ada yang akan menghentikan Ali sekarang, tidak meskipun wajah Seli terlihat cemas. 
“Aku seharusnya tidak memasukkan fitur cerewet itu di ILY.” Ali nyengir. Kapsul perak mulai menerobos permukaan laut, bergerak tanpa hambatan, langsung menyelam.
Aku belum pernah menaiki kapsul perak ini di dalam air. Ini pemandangan yang keren. Kami bisa menyaksikan sekawanan ikan melintas dari dinding transparan ILY. Juga ikan pari besar. Ubu-ubur. Kapsul perak terus meluncur ke bawah. 
Bagian lautan yang ini seperti jurang dalam tanpa dasar, setelah beberapa ratus meter menyelam, sekitar kami terlihat gelap. Ali menekan tombol, menyalakan lampu, menerangi depan.
“Apakah pintu lorong itu akan ada penjaganya, Ali?” Seli bertanya. Terakhir kami masuk ke lorong seperti ini, ada dua ekor ular besar yang menunggu. Mencegah kami masuk.
“Boleh jadi.” Ali menjawab santai. Si Biang Kerok ini selalu santai, ini hanya dianggap karya wisata olehnya—yang lebih seru dibanding menatap relief candi dan mendengar ceramah Bu Ati.
Seli mengambil tasnya, mengeluarkan Sarung Tangan Matahari, dia mengenakannya. Bersiap. Sarung tangan itu langsung beradaptasi dengan pemakainya. Menyesuaikan warna dan tekstur, seolah tidak ada sarung tangan di sana. Meneladani Seli, aku juga ikut mengeluarkan Sarung Tangan Bulan. Kami harus berjaga-jaga dari kemungkinan buruk. Sarung tangan ini adalah senjata terbaik milik petarung dunia paralel. 
“Kamu tidak membawa Sarung Tangan Bumi-mu, Ali?” Seli bertanya lagi.
“Aku bahkan tidak pernah melepasnya sejak pertama kali memakainya.” Ali nyengir, mengangkat tangannya. Hanya mata setajam Faar yang bisa melihat sarung tangan dunia paralel saat dikenakan. Di mata orang kebanyakan, Ali tidak terlihat mengenakan apapun.
“Bahkan mandi sekalipun?” 
“Iya. Buat apa aku lepas?”
“Bahkan saat di toilet?”
“Iya.”
“Dan setelah itu makan? Tetap tidak dilepas?”
“Iya.”
“Itu jorok sekali, Ali.” Seli menatap jerih. 
“Hei, apanya yang jorok?” Ali tertawa, “Sarung tangan ini memiliki teknologi bisa membersihkan sendiri. Dia lebih higienis dibanding cuci tangan sebelum makan. Aku bahkan mengupil dengan sarung tangan tetap terpasang. Kamu belum mencobanya.”
Seli menggeleng, jijik.
Astaga? Aku menatap dua teman baikku itu. Lihatlah, mereka asyik sekali bicara tentang mengupil saat kapsul perak kami terus menyelam menembus kegelapan dasar lautan. Entah apa yang dipikirkan Seli, dia tidak harus meladeni Ali soal begini. 
ILY mulai melambat.
“Kita hampir sampai.” Ali memberitahu. 
Tanpa diberitahu aku bisa melihatnya, meski gelap, layar besar di depan kami menunjukkan pencitraan sensor canggih, menampilkan bentuk tiga dimensi. Kami telah tiba di dasar lautan. Ada dinding tinggi di depan kami. Dengan gerbang besar. Aku menahan nafas saat cahaya lampu ILY menyinari gerbang itu. Tingginya hampir empat puluh meter, terbuat dari batu pualam. Di sisi kiri dan kanan gerbang itu nampak dua patung gajah berukuran besar. Itu bukan gajah biasa, patung itu berdiri dengan dua kaki, dua tangannya memegang tombak perak. Itu tidak mirip gajah, itu seperti monster manusia dengan kepala gajah, atau dewa-dewa berkepala gajah. Seolah menjaga gerbang dari siapapun yang hendak masuk.
Tapi ILY terus bergerak maju. Melintasinya.
Seli ikut menahan nafas mendongak menatap patung monster yang menyambut kami. Menyeramkan melihatnya. 
Melewati gerbang tersebut, kami persis memasuki lorong panjang. Ukurannya empat kali lebih lebar dibanding lorong-lorong kuno Klan Bintang, dengan diameter dua puluh meter. Terendam air.
Ali konsentrasi penuh mengendalikan ILY, lorong ini terus menanjak ke atas dengan kemiringan tertentu, menuju utara, kembali ke titik candi sebelumnya, lima puluh kilometer di depan sana. Dinding lorong yang seperti pipa raksasa itu terlihat masih baik. Dengan relief-relief berbentuk simetris. Tidak ada ikan atau hewan laut yang terlihat di dalam lorong.
Ali menekan tuas kemudi, ILY melaju lebih cepat di dalam lorong. 
Atmosfer petualangan tercium pekat. Apapun yang menunggu kami di ujung lorong ini, kami akan tahu beberapa menit lagi.

Selasa, 25 Juli 2017

Tere Liye : Si Kembar -- spin off Serial BINTANG

Episode 03

“ILY?” Seli menatap Ali tidak mengerti, “Bukankah ILY tinggal di kota kita? Di basemen rumahmu?”
Ali menggeleng, menunjuk ke atas, “ILY ada di atas kepala kita sekarang, Seli. Terbang mengambang seratus meter. Aku mengaktifkan mode tidak terlihatnya—tentu saja. Kamu tidak usah cemas orang lain melihatnya, Ra.” Ali menjawab santai, menoleh padaku.
Seli menatap Ali—setengah tidak percaya.
“Aku memang memanggil ILY kalau itu pertanyaannya. Dia terbang beberapa menit lalu saat sensorku berbunyi. Dia hanya butuh tiga menit ke sini. Melesat cepat. Tenang saja, dia tidak akan menabrak pesawat, atau burung, ILY adalah benda terbang paling canggih di bumi.” 
Si Jenius itu menyeringai lebar—seperti hendak bilang betapa jeniusnya dia.
Seli tertawa pelan—aku menyikut Seli, kenapa pula harus ‘memuji’ Ali.
“Bagaimana? Kalian ikut denganku memeriksa sesuatu itu? Dengan seluruh teknologi yang dimiliki ILY kita bisa masuk ke dalam candi tanpa terlihat.”
“Tapi kita tetap tidak bisa menghilang begitu saja dari rombongan, Ali. Bu Ati akan memeriksa.” Seli menoleh ke rombongan yang sudah jauh di atas anak tangga.
“Ibu Ati hanya akan berpikir kita tertinggal di belakang, Ra. Atau yang lebih keren lagi, Bu Ati menyangka kita sangat antusias, memeriksa sendiri relief candi. Dia tidak akan cemas. Ini lokasi wisata, siapapun bisa terpisah tidak sengaja.”
Aku mengusap wajah. Keberatan.
“Ayolah, Ra, Seli. Aku tidak tahu apakah sesuatu itu akan terus berada di dalam candi sana. Bagaimana jika sesuatu itu bergerak menghilang, kita kehilangan kesempatan memeriksanya.”
Aku menghembuskan nafas perlahan.
“Boleh jadi sesuatu itu penting, Ra. Dia memiliki jawaban atas pertanyaan kita.” Ali mendesakku.
Aku berpikir sejenak.
Baiklah. 
Aku juga penasaran itu apa. Skala 10, itu terlihat menakutkan. Tapi sejak Si Tanpa Mahkota berhasil lolos dari Penjara Bayangan—dan kami-lah yang membuatnya lolos, tidak ada rumusnya lagi kami mengkhawatirkan banyak hal. Ini petualangan kami. Aku akan memenuhi takdirku sebagai pemegang Buku Kehidupan.
Aku mengangguk.
“Yes!” Ali mengepalkan tangannya, terlihat senang.
“Duuhh.” Seli mengeluh di saat yang bersamaan. Tapi Seli adalah Seli. Dia akan selalu bersama-sama kami kemanapun pergi meski terlihat keberatan. 
“ILY turun!” Ali berkata pelan, memberi perintah. 
Aku dan Seli tidak melihatnya, juga tidak mendengarnya, kapsul perak, teman perjalanan kami di Klan Bintang itu telah mendesing perlahan, turun ke arah kami, sekarang mengambang di antara stupa-stupa.
Ali melipat proyeksi transparan di tangannya, memasukkannya ke dalam saku celana. Dia juga kembali mengeluarkan “kaca mata” hitam, mengenakannya.
“ILY buka pintu!” Ali berkata pelan. Menatap ke depan.
Persis di depan sana ILY telah menunggu, membuka pintunya.
“Ikuti langkah kakiku, Ra, Seli.” Ali melangkah sambil menunjuk “kaca-mata”-nya, “Hanya aku yang bisa melihat ILY dengan mode menghilangnya. Sekali kita lompat ke dalam pintunya, kita bertiga langsung tak terlihat.”
Kami berhenti sejenak. Ada rombongan turis yang melintas. 
Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa di dekat kami, Ali gesit lompat ke atas. Sekejap tubuhnya sudah menghilang di dalam. Seli menoleh kepadaku. Aku mengangguk mantap, menyemangati. Tanpa menunggu lagi, Seli ikut lompat naik. Tubuhnya juga menghilang. Aku menyusul cepat.
Interior kapsul perak itu langsung terlihat saat kami berada di dalamnya.
“Selamat datang di ILY Versi 5!” Juga suara yang menyapa.
Aku menoleh bingung. Itu bukan suara Ali. Itu siapa? Ada orang lain di dalam kapsul.
Ali tertawa, “Aku menambahkan banyak fitur baru di kapsul ini, Ra. Kapsul ini sekarang sempurna bisa berkomunikasi, termasuk dipanggil jarak jauh. Dia bisa bicara. Cerewet malah.”
“Itu tidak benar. Aku tidak cerewet.”
Astaga?
ILY bisa bicara sekarang? Dan itu sungguhan suara Ily dulu.
Seli sudah duduk di kursinya, memasang sabuk pengaman. 
“Halo, ILY.” Wajah Seli terlihat membaik.
“Halo, Seli. Lama tidak berjumpa. Senang melihatmu semakin kuat.”
Seli mengangguk.
“Bagaimana? Bagaimana kamu memasukkan suara Ily ke dalam kapsul ini?” Aku menyikut Ali, ikut beranjak duduk.
“Itu mudah. Ali meminta database suaraku dari Akademi Bayangan di Klan Bulan. Ilo dan Vey mengijinkannya…. Hallo, Ra. Apa kabarmu?” Kapsul perak yang menjawab lebih dulu.
“Eh, kabarku baik.”
Aku menatap sekeliling interior. Ini aneh. Bagaimana mungkin kami sekarang bisa bicara dengan Ily—yang telah meninggal mengorbankan dirinya mencegah pintu Penjara Bayangan terbuka. Dia akan sempurna menemani kami seperti dulu, berpetualang di Klan Matahari.
“Ini seru, Ra!” Seli punya pendapat lain.
“Yeah!” Ali tertawa pelan, “Kita berangkat sekarang.”
Aku buru-buru mengenakan sabuk pengaman. 
“ILY terbang mengambang lima puluh meter di atas candi.” Ali berseru mantap.
Kapsul perak yang kami naiki mendesing pelan, terbang dengan mudah menuju ketinggian.
“Aktifkan sensor, ILY! Radius seratus kilometer di bawah tanah.”
Layar besar di depan kami menyala. Candi di bawah sana terlihat di tengah layar, berupa model empat dimensi, di bawahnya, mulai menyulam tekstur perut bumi. Aku dan Seli memperhatikan. Setengah menit, tidak ada apa-apa di layar, hanya tanah kosong. 
“Tentu saja tidak ada apa-apa.” Ali mengangguk, “Tidak ada teknologi Klan Bintang, Klan Matahari apalagi Klan Bumi yang bisa mendeteksinya. Jika itu bisa dilakukan, sejak dulu arkeologi bumi sudah menemukannya. Sesuatu di bawah sana memiliki tameng penangkal. Baik, aktifkan sensor SuperRaib. Kekuatan penuh, ILY!”
“Sensor apa?” Seli bertanya duluan.
Ali nyengir, “Sensor SuperRaib.”
ILY yang kami naiki mendesing kencang. Seperti mengeluarkan seluruh tenaganya. Layar di depan kami berubah. Di bawah candi mulai terbentuk garis-garis merah. Sensor mulai menangkap sesuatu.
“Raib bisa bicara dengan alam, begitulah…. Aku terinspirasi dengan hal itu. Jadi kunamakan sensor paling kuat ILY dengan nama tersebut. Bedanya, sensor ILY lebih masuk akal, bukan sihir, menggunakan gabungan teknologi tiga Klan sekaligus, lebih canggih dibanding sensor milik Pasukan Bintang. Aku juga tidak perlu menempelkan kuping ke tanah, bertanya, ‘halo, ada siapa di dalam sana?’.”
Seli tertawa pelan. Ali bergurau.
Tapi itu tidak lucu. Jika saja situasinya berbeda, aku hampir menjitak kepala Ali. Dia sejak dulu selalu menganggap remeh teknik tersebut, mengolok-oloknya. Tapi gerakan tanganku terhenti.
“Lihat!” Ali menunjuk. 
“Itu apa?” Seli termangu.
Layar besar di dalam kapsul selesai melukis sesuatu.
“Itu candi. Sepuluh kali lebih besar.” Aku menatap layar.
Ini sangat mengejutkan. Persis di bawah candi yang terkenal itu, berjarak lima puluh kilometer di perut bumi, ada candi besar dalam ruangan kubus besar. Modelnya terlihat jelas di layar. Lebih megah, lebih menakjubkan. Simetris delapan sisi. Stupa-stupa raksasa terlihat menakjubkan. 
“Siapa yang membangun candi di perut bumi?” Seli bertanya pelan.
Aku menggeleng. Entah siapa yang membuatnya, itu bukan pekerjaan penduduk bumi. Teknologi itu hanya dimiliki Klan Bintang. Tapi bagaimana mungkin bentuk bangunannya seperti candi? Tidak ada bangunan itu di Klan Bintang. 
“Apakah kamu menemukan lorong menuju candi itu, ILY?” Ali berseru.
“Sensorku menemukan pintu kamuflase di sisi selatan, Ali. Delapan puluh kilometer dari sini. Ada lorong menuju persis ke jantung candi di bawah tanah.”
“Bagus sekali, ILY, kita menuju ke sana.”
“Tapi aku harus mengingatkan kalian.” ILY belum bergerak, meski Ali sudah menyuruh.
“Apa?”
“Lorong itu lebih tua dibanding lorong kuno Klan Bintang.”
“Lebih tua dari apa?” Seli bertanya cemas.
“Lorong itu boleh jadi berbahaya.”
“Berbahaya!” Seli menepuk dahi.
“Tidak masalah. Segera berangkat, ILY!” Ali memotong.
Kapsul perak mendesing pelan, sekejap, sudah melenting menuju selatan. Meninggalkan keramaian di candi Borobudur. Tempat Ibu Ati dan empat pulih murid sekolahku sedang karya wisata. Tempat ribuan turis sedang asyik mengambil selfie, menikmati pemandangan.
Mereka tidak punya ide sama sekali, di bawah candi ini, ada candi dengan ukuran sepuluh kali lebih besar, dan ada sesuatu dengan kekuatan besar dunia paralel di sana.

Senin, 24 Juli 2017

Tere Liye : Si Kembar -- spin off Serial BINTANG

Episode 02
Matahari cerah. Cuaca yang baik untuk berwisata.
"Perhatikan anak-anak." Ibu Ati berseru, memegang toa, "Kita sekarang persis berada di anak tangga pertama menaiki candi yang berusia hampir 1.300 tahun."
Murid sekolah kami memperhatikan. Aku dan Seli berdiri bersebelahan, turut memperhatikan. Ali bersungut-sungut menutup kepalanya dengan jaket merah marun. 
"Candi ini mulai dibangun tahun 770 Masehi, dibutuhkan 55 tahun untuk menyelesaikannya. Bayangkan 1.300 tahun lalu saat candi ini selesai dibangun, ribuan orang datang berkumpul, mereka berduyun-duyun datang dari seluruh penjuru negeri merayakannya. Satu-dua, keluarga raja-raja datang menunggangi gajah. Di tahun-tahun itu, candi ini sangat megah, sungguh ajaib membayangkan manusia bisa membangun konstruksi sebesar dan serumit ini. Bahkan setelah ribuan tahun berlalu, candi ini tetap mengagumkan jutaan turis yang datang." Ibu Ati menjelaskan. 
Kami tidak menggunakan tour guide. Ibu Ati adalah guru sejarah yang baik, dia lebih dari memadai untuk menjadi seorang guide. Bahkan tadi dipintu masuk, pimpinan kompleks candi ini sempat menemui rombongan, bilang, "Kalian harus tahu, anak-anak, dulu waktu aku SMA, guru sejarahku adalah Ibu Ati. Tidak ada guide di sini yang bisa menandingi pengetahuannya tentang sejarah candi. Aku terinsipirasi bekerja di sini gara-gara beliau." Tertawa lebar. 
Murid-murid ikut tertawa, antusias memulai mengamati candi. Mengeluarkan pulpen dan kertas. Hanya Ali yang sepertinya menguap tidak peduli. Si Biang Kerok ini memang pengecualian.
"Perhatikan, candi berbentuk stupa ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar." Ibu Ati menunjuk ke belakang, kami mulai melangkah menaiki candi perlahan-lahan sejak tadi, "Pada dindingnya dihiasi oleh 2.672 panel relief dan 504 arca. Stupa utama yang terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca. Bentuk arsitektur yang rapi dan tentu saja mengagumkan."
"Ali--!" Seli menyikut.
Aku ikut menoleh. Astaga?
Si Jenius itu bukan hanya tidak memperhatikan penjelasan Ibu Ati, dia mendadak keluar dari rombongan, berbelok ke balik sebuah stupa.
"Ali." Aku mendesis, berusaha menurunkan volume suara, agar tidak mencolok, "Apa yang kamu lakukan."
Ali menggeleng, dia menunjuk benda mungil di tangannya. Wajahnya terlihat serius.
"Miss Selena melarang kita menggunakan teknologi Klan lain secara terbuka, Ali!" Aku benar-benar marah, bagaimana mungkin Ali justeru santainya memegang proyeksi transparan di tangannya.
"Ini penting sekali, Ra!" Ali memotongku lebih dulu.
"Itu benda apa?" Seli menatap tangan Ali.
"Ini sensor antar klan yang aku buat."
"Sensor?"
"Itu bisa kujelaskan nanti-nanti, Seli, yang mendesak adalah sensor ini menangkap aktivitas Klan lain di sekitar kita."
Aku terdiam. 
Seli reflek menutup mulutnya. 
"Kamu tidak bergurau, kan?" Aku memastikan, sesekali sambil menoleh sekitar, rombongan sudah dua meter meninggalkan kami, mereka tidak menyadarinya karena kami berada di balik stupa. Tidak ada turis lain di dekat kami.
"Tatap wajahku, Ra." Ali terlihat tersinggung, "Apa aku terlihat bergurau?"
Itu benar. Ali serius sekali. Benda di tangan Ali terlihat bergetar. Proyeksi itu mengeluarkan cahaya merah. 
"Sensor ini mendesing kencang sekali. Skala 10. Apapun yang dia deteksi, itu kekuatan yang sangat besar. Aku tidak pernah melihat sebelumnya."
"Apakah itu Si Tanpa Mahkota, Ali?" Suara Seli mencicit, gentar.
"Aku tidak tahu." Ali menoleh ke sekitar, "Candi tua ini, aku sepertinya terlalu menyepelekannya. Ada sesuatu di dalamnya. Dan itu bukan dari klan Bumi."
Aku dan Seli terdiam. Lengang menggantung sejenak.
Apa yang harus kami lakukan?
Bagaimana jika itu Si Tanpa Mahkota, dia mendadak muncul, kemudian menyerang kami. Di tengah ramainya para turis, disaksikan ribuan orang. Tapi itu tidak masuk akal, sejak bebas dari Penjara Bayangan, kami belum mendengar kabar beritanya. Si Tanpa Mahkota juga tidak akan ceroboh membuka rahasia dunia paralel di Klan Bumi. Jika dia mau, sejak 2000 tahun lalu dia bisa melakukannya. Atau itu apa? Ali bilang itu kekuatan yang besar.
"Kita harus memeriksanya!" Si Jenius itu berkata sungguh-sungguh.
"Duh!" Seli langsung menggeleng, tidak setuju.
"Kita harus tahu itu apa, Seli."
"Jangan mencari masalah baru, Ali." Seli menggeleng kencang, "Kita sedang karya wisata. Ada ribuan orang di sini. Dan toh, boleh jadi alatmu ini rusak."
"Enak saja. Alatku tidak pernah rusak. Perhitunganku selalu akurat."
Seli menggeleng lagi, "Kamu pernah salah menghitung enam titik pasak di Klan Bintang, bukan?"
"Itu berbeda, Seli. Saat itu kita memang hanya menebak. Tapi ini, sensorku tidak keliru. Sesuatu itu ada di perut candi tua tempat kita berdiri sekarang. Ada lorong-lorong seperti lorong menuju Klan Bintang di sana. Kita harus memeriksanya."
Proyektor transparan kecil di tangan Ali terus mendesing kencang. Aku menoleh lagi, Ibu Ati dan rombongan sudah sepuluh meter dari kami. Semakin jauh.
"Bagaimana kita akan masuk ke sana, Ali? Di tengah keramaian orang?" Seli menyebut masalah baru.
"ILY!" Ali menjawab mantap.

Minggu, 23 Juli 2017

Tere Liye : Si Kembar -- spin off Serial BINTANG

Episode 01


07.30. Boarding call.
Kami segera berbaris rapi menuju garbarata pesawat. Ada sekitar 40 murid sekolahku yang mengular di pintu pemeriksaan terakhir. Mengenakan seragam sekolah, jaket berwarna merah marun dengan logo sekolah. Ibu Ati, guru sejarah, memimpin rombongan, berkali-kali memeriksa tidak ada yang tertinggal.
"Berapa jam penerbangannya?" Ali basa-basi bertanya pada petugas yang memeriksa boarding pass.
"Tiga jam." Petugas tersenyum.
Ali menghembuskan nafas perlahan.
"Have a nice flight." Petugas mengembalikan boarding pass.
Aku tahu maksud wajah kusut Ali. Dia tidak suka berada di perut pesawat selama itu. 
"Kita bisa tiba di kota itu tiga menit dengan ILY!" Begitu Ali bilang sebelumnya saat kami berangkat menuju bandara.
"Kita tidak bisa naik ILY, Ali." Seli mengingatkan, "Ini perjalanan karya wisata. Kita harus ikut rombongan. Bersama-sama dengan yang lain."
"Yeah. Itu akan membosankan sekali."
Di penghujung kelas dua, kami 'diwajibkan' mengikuti karya wisata keluar kota. Ada beberapa pilihan karya wisata di sekolah kami, orang tua Seli mendaftarkan Seli mengikuti program mengunjungi sebuah candi ternama di luar kota--Mama Seli yang memiliki klinik dokter tidak kesulitan membayar program itu meski mahal. Ali ikut mendaftar program yang sama--apalagi keluarga Ali yang super kaya raya, lebih tidak kesulitan membayarnya. Aku juga, meski itu harus membongkar tabunganku. Tidak mengapa, setidaknya aku tetap bersama mereka.
"Apa yang akan kita lakukan selama tiga jam di dalam pesawat." Ali mengeluh.
"Kita pernah berjam-jam di dalam kapsul ILY, melintasi lorong-lorong kuno. Tiga jam di pesawat tidak akan masalah, Ali." Aku yang menjawabnya.
"Yeah. Tapi di kapsul ILY aku bisa melakukan banyak hal. Membaca tabung ensiklopedi Kota Zaramaraz misalnya. Melakukan percobaan teknologi Klan Bintang. Atau kamu mengijinkanku mengaktifkan proyeksi transparan yang bisa dilipat di dalam pesawat, Ra? Mungkin pramugari mengijinkannya, itu bukan telepon genggam."
Aku melotot. Ali jelas tahu jawabannya. Itu terlarang. Si Biang Kerok ini sepertinya lupa, dia sendiri yang memutuskan untuk ikut program ini secara sukarela, tidak ada yang memaksanya. 
"Apa serunya mengunjungi candi?" Tapi Ali tetap bersungut-sungut, melangkah melewati lorong pesawat, "Itu hanya candi tua, apa yang bisa dilihat dari bangunan tua. Dan hei, mereka akan menyuruh kita membuat laporan perjalanan, sejarah Candi, sejarah pembuatnya. Aku benci membuat laporan seperti itu. Seharusnya Seli memilih program yang lain."
Seli menyikutnya, menyuruh Ali diam, segera mencari kursi.
Kami terus berjalan ke belakang pesawat, tiba di pertengahan lorong, menemukan kursi, duduk berjejer bertiga berdekatan. Ali duduk di dekat jendela.
Aku ikut duduk, di pinggir. Seli duduk di tengah. Kami memasang sabuk pengaman. Memperhatikan yang lain. Ali memencet-mencet tombol di layar kursi, mencoba mencari tontonan yang menarik.
Penumpang sudah masuk semua. Pintu pesawat ditutup.
"Tidak ada yang seru." Ali berseru pelan, "Lebih baik aku tidur saja. Tolong bangunkan jika kita sudah tiba, Sel."
Seli mengangguk.
Ali memasang benda yang berbentuk 'kaca-mata hitam' di wajahnya, melambaikan tangan. Sekejap, dia sudah tertidur nyenyak.
Aku dan Seli saling tatap. Secepat itukah?
Itu pastilah "kaca-mata" dengan teknologi dunia paralel, membuat pemakainya segera tertidur. Si Jenius ini selalu membawa benda-benda eksperimennya. Tapi baguslah, dengan Ali tidur, kami tidak harus menanggapi keluhannya.
"Permen?" Pramugari melewati kursi kami, menjulurkan nampan kecil berisi permen.
Aku menggeleng sopan.
Seli juga menggeleng. Ibunya yang dokter sejak kecil tidak suka dia makan permen.
Pramugari tersenyum, pindah ke kursi lain.
Pesawat itu penuh. Teman-teman sekolahku ramai bercakap-cakap, menunggu pesawat siap berangkat.
Ali mendengkur. Kencang.
Seriusan? Aku dan Seli kembali saling tatap. Si Biang Kerok ini, bahkan saat tidur pun tetap menyebalkan. Dia seharusnya membuat alat yang bisa menghilangkan dengkurannya saat tidur.
Pesawat mulai bergerak menuju runaway.
Here we go, kami akan melakukan petualangan berikutnya. Ini bukan perjalanan menuju Klan Bulan, Klan Matahari atau Klan Bintang yang ada di perut bumi, ini hanya karya wisata ke candi yang amat terkenal itu. Tapi tetap saja sebuah petualangan--sekaligus liburan. 
Aku dan Seli tersenyum. Ini akan menyenangkan.
Kami benar-benar tidak menduga, beberapa jam lagi, kami akan bertemu dengan sebuah misteri lain dari dunia paralel. Bukan di klan-klan itu, tapi di sini, di Bumi, di klan kami sendiri. Dan itu tidak menyenangkan.