Rabu, 11 Oktober 2017

Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Episode 19 : Rendezvous Pertama
-----------------------------------------
“SIAPA kau sebenarnya, Thomas?”
“Aku... aku konsultan keuangan profesional.”
“Jawaban yang keliru lagi, Thomas.” 
Alat setrum itu kembali menghujam perutku. Aku menggelinjang, tubuhku gemetar menahan sakit. 
“Ayolah, Thomas. Kenapa kau tidak membuat percakapan kita jadi lebih mudah?” Orang yang duduk di hadapanku itu menatap dingin, intonasinya datar terkendali. 
Sementara di luar, rombongan mobil polisi berjalan tersendat, keluar pintu tol bandara jalanan macet---sirene galak mereka tidak membantu banyak.
Aku menggerung, kepalaku tertunduk, napas menderu. 
“Siapa kau sebenarnya, Thomas?” Dia bertanya lagi.
“Aku, aku konsultan profesional.”
“Jawaban yang keliru, Thomas.”
Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Untuk ketiga kalinya alat setrum itu menusuk perutku tanpa bisa kucegah---bagaimana aku bisa melawan, dua tanganku terborgol di belakang punggung. Percikan nyala apinya seperti petir kecil yang menyambar tubuh. Rahangku mengeras, gigiku bergemeletuk menahan rasa sakit. Aku bertahan mati-matian tidak berteriak. Satu karena teriakan hanya akan mengundang rasa jumawa dan kesenangan pada mereka; dua, sia-sia juga berteriak di tengah suara sirene yang memekakkan telinga. Kalaupun ada yang mendengar di luar sana, siapa pula yang akan peduli.
“Jangan main-main padaku, Thomas. Siapa kau sebenarnya?”
Aku mendongak, menggigit bibir, masih dengan sisa sakit sengatan barusan, menggeleng pelan. “Aku konsultan keuangan profesional.”
Tangan orang itu kembali hendak menghujamkan alat setrumnya.
Mataku terpejam.
“Cukup, Wusdi. Kau akan membuatnya terkapar pingsan dan kita kehilangan kesempatan untuk segera mengetahui posisi Liem.” Rekan di sebelahnya menahan. “Lagi pula, sepertinya dia berkata jujur.”
Aku antara mendengar dan tidak kalimat itu, masih menggerung menahan rasa sakit. Tetapi aku belum pingsan, aku masih lebih dari sadar untuk paham situasinya. 
“Percuma.” Aku berkata pelan, dengan suara bergetar.
Dua orang yang duduk di pojok mobil taktis polisi menatapku.
“Percuma kalian memainkan peran polisi baik, polisi buruk, good cop, bad cop.” Aku gemetar, berusaha menegakkan badan dan kepala, berbicara dengan posisi lebih baik. “Percuma…. Jawabanku tetap sama, aku konsultan, konsultan keuangan. Tidak lebih, tidak kurang, aku bekerja profesional.”
Aku berusaha mengendalikan napas, berusaha bicara lebih lancar, balas menatap mereka di tengah remang. “Om Liem, Om Liem membayarku mahal sekali untuk pekerjaan ini beberapa hari lalu. Menyelamatkan Bank Semesta dan grup bisnisnya.” 
“Di bayar mahal? Apa maksudmu?” Salah satu dari mereka bertanya.
“Dia, dia berjanji akan memberikan sepuluh persen dari jumlah yang bisa kuselamatkan. Tidak hanya dari Bank Semesta dan grup bisnis lokal, tapi juga dari aset Om Liem di luar negeri.” Aku tertawa kecil, diam sejenak. “Meski hanya sepuluh persen, nilainya triliunan, lebih besar dari yang kalian bayangkan, harga yang mahal sekali. Sebanding dengan risikonya.”
Dua orang itu saling toleh.
“Kalian tidak tahu itu, bukan?” Aku kembali tertawa kecil. “Taipan tua itu jauh lebih pintar dibanding siapa pun. Ambil semua kekayaannya, dia masih tetap lebih kaya dibanding yang hilang. Dia menyimpan banyak aset di luar negeri, dan itu di luar daftar pendek yang kalian miliki. Daftar aset yang belum tentu juga puluhan tahun berhasil kalian kuasai.”
“Apa maksudmu?” Rekannya yang tidak memegang alat setrum agak maju ke depan.
Aku menggeram, berusaha mengendalikan diri, untuk pertama kalinya aku melihat wajah petinggi jaksa ini dari jarak dekat setelah puluhan tahun. Seringai liciknya terlihat jelas.
“Apa maksudku? Aku seorang profesional sejati. Sama dengan kalian. Berapa tahun kalian mengejar Om Liem? Berusaha mengambil alih kekayaannya? Kalian pikir akan berhasil mengambil semuanya setelah Bank Semesta ditutup, asetnya dijual murah?” Aku menggeleng, tersenyum sinis.
“Bebaskan aku, maka aku akan memihak siapa saja yang memberikan bayaran paling tinggi. Om Liem percaya padaku, dia tidak akan curiga sedikit pun jika aku mengkhianatinya.”
“Kau hanya membual.” Orang yang menilik wajahku menyeringai.
“Terserah. Tapi aku punya daftar paling lengkap seluruh aset Om Liem di luar negeri. Daftar yang tidak pernah kalian ketahui, meski mengerahkan polisi atau petugas kejaksaan terbaik sekalipun.”
Mobil taktis polisi lengang sejenak, hanya menyisakan suara sirene yang memekakkan telinga.
Dua orang di hadapanku menimbang sesuatu.
“Aku punya daftarnya. Aku tidak membual.” Aku memecah senyap.
Mereka berdua saling toleh lagi.
“Bebaskan aku, maka aku bisa menjadi orang paling berguna buat kalian.”
“Lantas apa untungnya buatmu?” Orang yang memegang setrum menyelidik.
“Kalian bisa memberikan dua puluh persen dari aset Om Liem yang kudapatkan. Aku akan bekerja dan setia pada orang yang membayarku lebih mahal.”
Salah satu dari mereka terkekeh. “Kau naif, Thomas. Buat apa kami memberikanmu dua puluh persen jika kami bisa mendapatkannya gratis.”
Aku menggeleng, berkata dengan suara bergetar. “Tidak, urusan ini tidak sesederhana seperti kalian mengambil akte tanah, surat-menyurat pabrik, gedung dari seseorang, lantas membiarkan mereka terbakar bersama semua bukti-bukti. Aset Om Liem sekarang terdaftar lintas negara, kalian butuh seseorang yang tahu persis caranya.”
Tawa itu tersumpal, menatapku tajam, menyelidik.
Aku pura-pura tidak peduli dengan tatapannya, menganggap kalimatku tadi kosong, bukan menyindir masa lalu. “Percayalah. Aset luar negeri Om Liem itu nyata. Jika kita bisa sepakat, aku bisa memberikan daftarnya pada kalian saat ini juga.”
“Mana daftarnya?” Orang yang memegang setrum mengangkat alatnya.
Aku menggeleng. “Kita harus bersepakat lebih dulu.”
“Aku bisa memaksa kau memberikannya.” Percik nyala api hanya lima senti dari wajahku.
“Tidak. Aku tidak akan memberitahu sebelum kalian berjanji. Silakan. Percuma saja kalian siksa aku sampai pingsan atau mati sekalipun. Daftar aset itu akan hilang bersama dengan hilangnya informasi di mana Om Liem saat ini.”
“Omong kosong. Kau akan memberitahu kami.” Tangan orang itu bergerak. Kilat kecil bergemeletuk dari alat di tangannya. 
Aku menatapnya, bersiap menerima setrum berikutnya.
“Cukup, Wusdi. Dia benar. Kita tidak sedang berhadapan dengan penjahat kacangan yang bisa kautakuti dengan cara interogasi kuno.” Rekannya menahan tangan itu.
Rekannya bergumam keberatan, tapi tidak protes.
“Baik. Kami berikan dua puluh persen dari nilai aset luar negeri yang bisa kaudapatkan ditambah bonus kebebasan segera.” Orang itu ramah memegang lenganku. “Nah, di mana daftar aset dan Liem saat ini, Thomas?”
“Bebaskan aku dulu.”
Orang itu terdiam sejenak, mengangguk.
“Baik, lepaskan borgolnya.” Dia meneriaki salah satu polisi.
Salah satu petugas meletakkan senjata, meraih kunci borgol, membebaskan tanganku.
Aku menarik napas panjang. Tiga petugas lain masih mengarahkan senjata mereka ke tubuhku. Secepat apa pun aku bereaksi, tidak akan bisa mengalahkan kecepatan peluru. Aku hanya bisa mengurut pergelangan tangan yang sakit, kembali menghela napas.
“Nah, mana daftar asetnya, Thomas? Dan di mana Om Liem sekarang berada?”
Aku menggeleng. “Soal Om Liem, lebih baik dia sementara dibiarkan bebas. Jika kalian menahannya sekarang, kalian tidak akan leluasa mengambil seluruh aset miliknya. Ada banyak petugas lain yang ikut tertarik, belum lagi puluhan wartawan yang ingin tahu. Terlalu banyak yang curiga. Dia bisa ditangkap kapan saja setelah urusan selesai, mudah saja melakukannya.”
Aku diam sebentar, menatap wajah dua orang di hadapanku.
“Soal daftar aset, ada di telepon genggamku. Salah satu anak buah kalian mengambil telepon itu tadi.”
Orang di hadapanku segera menoleh ke arah empat polisi dengan moncong senapan terarah padaku. Sebelum diperintah, salah satu dari polisi merogoh saku, memberikan telepon genggam itu. 
Aku menyeringai, urusan ini benar-benar berubah kapiran sejak setengah jam lalu, aku ibarat bidak catur yang dikepung benteng dan kuda lawan, tidak ada tempat berkelit selain mengorbankan menteri, senjata terakhir, aku mengembuskan napas, membuka file spreadsheet yang dikirimkan Maggie.
Dua orang di hadapanku menunggu tidak sabaran, segera merampas telepon genggam itu persis setelah file itu terbula, membacanya cepat.
“Isi file ini sungguhan?” Mata mereka berdua membesar.
Aku mengangguk---bahkan daftar awalnya saja pasti membuat siapa pun terbelalak.
“Kau memang bisa menjadi orang paling berguna buat kami.” Salah satu dari mereka terkekeh, senang dengan daftar di tangannya.
Aku tidak berkomentar, menyeka keringat di pelipis.
“Borgol dia kembali.” Dia menyuruh salah satu petugas.
Aku terlonjak. Apa maksudnya?
“Bawa dia segara ke penjara.” Orang itu berkata tegas.
“Hei, hei.” Aku berusaha melawan, tapi gerakan dua polisi lebih cepat, tanganku segera ditelikung ke belakang, borgol terpasang.
“Kau sudah berjanji akan membebaskanku!” aku berseru.
“Anggap saja aku suka melanggar janji, Thomas. Selalu menyenangkan melakukannya.” Dia tertawa lagi. “Nah, terima kasih untuk dua hal. Pertama untuk saran kau soal Liem. Kau memang konsultan yang hebat, aku setuju, mungkin lebih baik membiarkan Liem berkeliaran di luar sana sementara waktu. Setelah semua urusan kami selesai, siapa pun bisa dengan mudah menangkap orang tua bangkrut. Kedua, untuk daftar aset ini, Thomas. Kau baik sekali dengan kami.”
“Kau harus membebaskanku!” aku berteriak marah. “Kau membutuhkanku!”
“Buat apa lagi? Tidak ada lagi yang bisa kautawarkan.” 
“Kalian, kalian membutuhkan orang yang bisa mengurus aset itu di luar negeri. Kalian, kalian memerlukan dokumen-dokumen aset itu, surat-menyurat. Aku tahu tempatnya!” aku berseru panik, menyebutkan apa saja yang terpikirkan.
“Kami bisa mencari orang lain, Thomas. Yang tidak selihai kau dalam urusan kabur atau menipu. Soal dokumen, itu bisa kami cari di setiap jengkal rumah, kantor, properti milik Liem. Mudah saja.”
“Tidak,” aku bergegas menggeleng, “dokumen-dokumen itu tidak ada di mana-mana, dokumen itu disembunyikan di tempat yang tidak pernah kalian pikirkan.”
“Oh ya? Dan kau tahu tempatnya?” Tertawa, dia menoleh pada rekannya. “Sudah pukul sebelas malam, Wusdi, aku ada urusan lain. Kau mau ikut?”
Rekannya mengangguk, melemparkan alat setrum ke salah satu polisi. “Kalian kawal dia sampai dijebloskan dalam sel. Setrum saja sampai pingsan kalau dia terus berusaha kabur.”
Mereka berdua bangkit, memukul dinding mobil, memberi kode ke sopir agar menepi.
Aku menggerung, berteriak, “Kalian membutuhkanku!”
Mobil taktis berhenti, pintu belakang terpentang lebar-lebar. Dua orang itu melangkah turun.
“Aku tahu tempatnya! Aku tahu di mana dokumen-dokumen itu.”
Mereka tidak mendengarkan, hanya santai melambaikan tangan.
“Dokumen-dokumen itu ada di kapal!”
Pintu belakang mobil taktis sudah berdebam ditutup kembali. Gelap. 
Bintang tiga polisi dan jaksa senior itu sudah berpindah ke mobil lain, melesat pergi.
Aku tertunduk dalam-dalam. 
Urusan ini kacau-balau sudah. Mereka mengambil daftar aset itu. Opa pingsan, entah apa kabarnya sekarang, dan jadwal pertemuan jam sebelas malam dengan nasabah besar Bank Semesta gagal total. Dan di atas segalanya, lihatlah, tanganku terborgol, terenyak duduk tanpa daya di dalam mobil yang melaju kencang menuju sel tahanan polisi. 
Aku sungguh butuh skenario ajaib untuk memulihkan semua situasi.
**
***
****
Episode 20 : Terali Besi Penjara
--------------------------------------
MINGGU, pukul dua dini hari. Waktuku tinggal 30 jam lagi sebelum pukul 08.00 hari Senin besok, ketika hari pertama Bank Semesta buka di tengah berbagai kemungkinan yang terjadi: bank itu ditutup, rush besar-besaran terjadi, antrean panjang di setiap cabang, nasabah yang panik, dan boleh jadi ditambah dengan kepanikan nasabah bank lain. Atau kemungkinan kedua, bank itu diselamatkan, pemerintah memberikan dana talangan, memberikan jaminan bahwa seluruh uang nasabah aman.
Borgolku dilepas. Salah satu polisi bersenjata mendorongku dengan telapak sepatunya, membuatku hampir terjerembap ke dalam sel. Mereka menyeringai puas melihatku, tertawa pelan. Sipir mengunci pintu sel. Lima belas detik, balik kanan bersama rombongan itu, meninggalkanku sendirian yang masih kebas dengan banyak hal.
Aku bergumam kosong, mengusap rambut yang berantakan, menatap sekitar ruangan. Sel penjara ini tidak dingin dan lembap seharfiah dalam cerita-cerita atau film. Lampu terang tergantung di langit-langit sel berukuran dua kali tiga. Udara terasa pengap, gerah. Aku sudah melepas jas, menggulung kemeja sembarangan, melempar sepatu. Satu jam lalu mobil taktis merapat ke salah satu markas polisi. Mereka menyuruhku turun, lantas mendorongku kasar memasuki gerbang tahanan. Sipir bertanya, petugas bersenjata menyuruhnya jangan banyak tanya, siapkan sel yang kosong. Sipir mengangguk, bergegas melihat daftar selnya yang kosong, mengambil kunci, lantas memimpin rombongan melewati lorong. Sudah lewat tengah malam, penghuni sel lain kebanyakan sudah tidur. Lengang, hanya menyisakan derap sepatu yang memantul di lorong penjara.
Aku menghela napas untuk kesekian kali.
Kabar baiknya, tidak banyak nyamuk di penjara ini. Mereka juga punya toilet di dalam sel, bersih, tidak bau. Tempat tidur hotel prodeo ini lumayan, jangan bandingkan dengan kasur busa king size hotel sungguhan, tapi tetap lebih baik dibanding kamar ranjang berasramaku dulu yang dua tingkat, selalu kriut-kriut batang besinya jika penghuni atasnya gelisah dan mengigau.
Aku menghela napas lagi. 
Entahlah apa yang dilakukan Kadek tiga jam lalu saat tiba di dermaga, dan aku tidak ada di sana, juga tidak ada dokter dengan suntikan insulin. Dia seharusnya bisa bertindak cepat dan tenang, ada banyak cara menyelamatkan Opa. Entahlah pula apa yang terjadi di pertemuan nasabah besar Bank Semesta pukul sebelas tadi, seharusnya Ram bisa mengatasinya setelah aku tidak kunjung datang. Maggie, aku mengusap wajah lagi, semoga dia tidak menghubungi telepon genggam itu empat jam terakhir, celaka benar urusan kalau dua bedebah yang menyita telepon genggamku menyadari Maggie menyimpan banyak data tersisa. Dan Julia, apakah dia berhasil meminta jadwal audiensi dengan menteri, aku sungguh melibatkan banyak orang dalam pelarian ini.
Aku mengembuskan napas kencang. Cukup. Cukup sudah mengenang banyak hal. Memikirkan banyak kemungkinan. Percuma, jangankan mengurus bidak yang paling penting, satu bidak menteri yang ini saja tidak bisa. Andaikata Julia berhasil, aku tetap tidak bisa bernegosiasi dengan ketua komite stabilitas sistem keuangan, jeruji sel sialan ini tidak bisa kuremukkan dengan mudah. 
Aku berdiri, menyeka telapak tangan dengan ujung kemeja, menyisir rambut dengan jemari, melemaskan seluruh tubuh. Tidak akan ada yang bisa menolongku. Saatnya membuat keajaiban sendiri untuk lolos dari penjara sialan ini. Dua jam berlalu, pasukan yang menangkapku pasti sudah pergi jauh, mereka tidak akan ikut berjaga di gedung penjara. Dua bedebah itu boleh jadi sudah tidur lelap di ranjang empuk masing-masing, dengan mimpi indah tentang menguasai aset Om Liem. 
Urusanku hanya dengan petugas penjara yang berjaga malam ini.
“Hei!” Aku memukul-mukul jeruji besi.
“Hei!” Aku pukul lebih kencang lagi, membuat dentingannya terdengar hingga meja sipir di depan sana.
Satu-dua tetangga selku yang terganggu mengomel, balas berteriak, menyuruh diam.
“HEI!” Aku tidak peduli.
Suara derap sepatu terdengar, dua petugas jaga melangkah cepat menuju selku.
Aku menelan ludah, bersiap. Mereka tinggal lima langkah.
“Apa yang kauinginkan.” Salah satu dari sipir menyergah galak, ujung pentungannya mengarah padaku.
“Aku ingin keluar dari sel ini,” aku menjawab santai.
Dua sipir itu melangkah lebih dekat, mata mereka melotot mengancam.
“Aku akan membayarnya mahal sekali, Bos.” Aku balas menatap, menyeringai
Dua sipir itu saling toleh, gerakan mereka yang hendak memukul jeruji sel tertahan. Salah satu dari mereka bahkan memasukkan pentungan ke pinggang.
“Kami tidak bisa disuap.” Intonasi kalimatnya justru sebaliknya.
“Oh ya? Bagaimana kalau dua? Cukup?” Aku tidak peduli, tersenyum.
“Dua puluh?” Rekannya menggeleng, tertawa sinis. “Bahkan dua ratus tetap tidak.”
Aku balas tertawa. “Dua M, Bos. Kau terlalu menganggapku rendah. Jangan bandingkan aku dengan pegawai pajak yang kalian tahan dan cukup ratusan juta saja untuk membiarkan dia pergi pelesir, atau orang-orang tua pesakitan yang post power syndrom setelah tidak berkuasa lagi, dikejar-kejar penyidik komisi pemberantasan korupsi, hanya puluhan juta sudah kalian biarkan berobat ke manalah. Dua M, Bos. Tertarik?”
Inilah yang akan kulakukan. Ajaib? Tentu saja. Hanya di tempat-tempat ajaiblah hal ini bisa terjadi.
Sepuluh menit negosiasi.
“Ini tidak mudah.” Komandan jaga ikut bernegosiasi di pos jaga. Aku sudah “digelandang” ke sana, biar lebih nyaman bicara---mereka bahkan menawarkan minuman hangat.
“Mudah saja, Bos,” aku berkomentar santai, bersandar nyaman di sofa, “namaku bahkan tidak ada dalam daftar kalian, bukan? Hanya tahanan yang dititipkan mendadak. Kalian bisa mengarang, aku kabur, lihai sekali memukuli petugas. Bos besar kalian paling juga hanya marah, dan kalian paling hanya dipindahtugaskan menjadi juru masak, tidak akan dipecat, apalagi dipenjara. Tapi demi dua M, itu risiko yang berharga, bukan?”
Mereka berlima berbisik-bisik.
“Bagaimana kau akan membayarnya?” Komandan menyelidik.
“Baik. Ada yang punya telepon genggam? Aku transfer satu M sekarang, sisanya aku transfer setelah aku berada di luar gedung penjara kalian. Setuju?” Aku bersedekap.
Lima menit, dengan telepon genggam pinjaman dari komandan sipir, aku menelepon call center 24 jam, melakukan transfer ke rekening milik komandan.
“Selesai. Nah, kalau kau tidak percaya, kau telepon istrimu sekarang, suruh dia pergi ke ATM. Da boleh jadi pingsan melihat saldo rekening yang ada di layar ATM.”
Dasar bodoh, mereka sungguhan melakukan saranku. Aku terpaksa menunggu setengah jam, sementara istrinya, yang pastilah masih memakai daster, mata belekan, terbirit-birit menghidupkan motor yang masih kredit belum lunas, pergi ke ATM terdekat.
Komandan jaga menelan ludah, mendengar laporan istrinya di seberang sana, mematikan telepon genggam, mengangguk padaku.“Bagaimana dengan sisanya?”
“Tentu saja, satu M lagi aku transfer setelah aku bebas, Bos.”
Mereka berbisik-bisik, melirik licik.
“Tidak. Kalian tidak boleh bermain-main denganku.” Aku menatap mereka tajam.“Jika aku tidak menelepon lagi petugas bank lima belas menit ke depan, dana yang barusan kutransfer akan batal dengan sendirinya, itu transfer bersyarat, kembali ke rekening semula tanpa otorisasi lanjutan. Sekarang terserah kalian saja, hilang semuanya, atau kutambahkan satu M lagi setelah aku di luar gedung.”
Komandan sipir diam sejenak, berbisik-bisik.
Aku menunggu, menyeringai.
Komandan sipir mengangguk.
Bukan main, aku sudah setengah bebas, aku tersenyum tipis, berdiri.
“Boleh kuminta telepon genggamm, Bos?” Aku menunjuk, sebelum beranjak keluar.
Komandan menatapku, hendak menggeleng.
“Ayolah, untuk orang yang sudah mengantongi satu M, kau bisa membeli ratusan telepon genggam seperti ini, bukan?” Aku tertawa. Sebenarnya aku butuh telepon untuk segera menghubungi Kadek, Maggie,dan yang lain.
Komandan mengangguk. “Antar dia hingga keluar gedung, pastikan dia mentransfer sisanya.”
“Terima kasih, Bos. Kapan-kapan aku akan berkunjung lagi, menyapa.”
Dua sipir mengantarku hingga halaman gedung penjara, salah satu dari mereka bahkan berbaik hati memberikan motornya setelah aku memberikannya jam tangan milikku. “Kaujual, kau bisa membeli dua puluh motor baru.” Dia mengangguk senang. Aku kembali menelepon call center 24 jam. Memberikan perintah pada petugas bank, transaksi beres. Aku memasukkan telepon ke dalam saku, menaiki motor, mengangguk pada dua sipir yang mengantar untuk terakhir kalinya, lantas melesat meninggalkan bangunan penjara.
Hanya itu. Itulah keajaibannya.
Motor yang kukemudikan membelah jalanan lengang, secepat mungkin meninggalkan markas polisi. Dasar bodoh, jika kalian pemilik rekening eksklusif di bank besar, kalian selalu punya cara untuk membatalkan transaksi. Ini lelucon yang baik. Apakah aku orang yang suka mengkhianati janji? Seumur hidupku tidak pernah. Aku adalah petarung, janji seorang petarung. Tetapi kali ini, akan aku batalkan sebagian besar transfer tadi, hanya menyisakan dua R saja, 2 RIBU perak. 
Petinggi kejaksaan tadi benar, ternyata menyenangkan melakukannya.

Selasa, 10 Oktober 2017

Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Episode 18 : Seratus Nasabah Terbesar
----------------------------------------------
MAGGIE meneleponku sebelum aku naik pesawat penerbangan kembali ke Jakarta. Dia baru saja mengirim e-mail daftar aset milik Om Liem dan grup perusahaan di luar negeri. Aku men-download dan membuka file penting itu lewat aplikasi telepon genggam sambil menunggu jadwal boarding.
Teringat sesuatu, aku menjeda proses aplikasi spreadsheet, memutuskan menelepon Ram.
“Kau ada di mana, Thom?” Ram bertanya.
Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Aku memakinya dalam hati. Sepanjang hari, entah dia yang menelepon atau aku, dia selalu saja bertanya hal yang sama. Terlalu pencemas, terlalu selalu ingin tahu, terlalu ingin semua terkendali.
“Aku di luar kota. Berhentilah bertanya aku di mana. Semua baik-baik saja, Ram.”
“Luar kota? Apa yang kaulakukan di sana, Thom? Bukankah kau baru dua jam lalu masih mengemudi di jalanan macet Jakarta?”
“Aku tiba-tiba kangen gudeg, Ram. Hanya makan malam, sekarang segera kembali.” Aku menyengir, menatap sekitar, ruang tunggu terlihat ramai. Penerbangan terakhir ke Jakarta selalu saja ramai.
“Eh?”
“Lupakan, Ram. Kau bisa membantuku? Ada hal penting yang harus kuurus.” Aku segera fokus pada kenapa aku teringat untuk meneleponnya.
“Tentu, Thom. Apa saja yang kau minta akan kulakukan.”
“Baik. Kau bisa suruh salah satu stafmu, dia pasti punya daftar seratus pemilik rekening terbesar di Bank Semesta, rekening individu, bukan perusahaan. Suruh dia menelepon seluruh daftar itu, minta segera berkumpul di salah satu hotel, kau bisa sewakan ruang pertemuan privat.”
“Eh, untuk apa, Thom.”
“Laksanakan saja, Ram. Jangan banyak tanya.” Aku menyergah. “Minta seluruh pemilik rekening itu berkumpul pukul sebelas malam ini, tiga jam lagi.”
“Astaga, bagaimana mungkin aku melakukannya?”
“Memangnya kau tidak bisa menyuruh stafmu lembur sekarang? Ini darurat.” Aku memotong. Bahkan Maggie sejak tadi pagi terus berada di posisinya mendukungku. Aku awalnya hendak menyuruh Maggie, tapi dia pasti sedang sibuk mengerjakan urusan lain. Ada banyak staf Bank Semesta yang bisa disuruh.
“Bukan itu maksudku, Thom. Bahkan bisa saja aku sendiri yang melakukan permintaanmu, daftarnya ada di hadapanku sekarang, lengkap dengan kontak mereka. Tapi bagaimana mungkin kau menyuruh pemilik rekening itu berkumpul pukul sebelas malam. Mereka punya kesibukan. Mereka nasabah private banking, yang ada kita yang datang ke rumah mereka selama ini, beramah-tamah.”
“Itu mudah, Ram.” Aku mengusap pelipis, langit-langit ruang tunggu bandara terasa gerah, pendingin udaranya tidak kuasa mengusir hawa panas. “Bilang ke mereka, sistem penjaminan simpanan perbankan kita hanya melindungi rekening di bawah dua miliar. Jika Bank Semesta hari Senin dinyatakan pailit, ditutup bank sentral, semua rekening dengan nilai di atas itu akan musnah seperti abu kertas dilempar di udara. Nah, sekarang, terserah mereka, bersedia datang segera pukul sebelas di ruang pertemuan kita, atau mereka akan membiarkan abu kertas itu berserakan di kaki mereka.”
Suara Ram hilang sejenak di seberang sana---bahkan helaan napas tidak terdengar.
“Apa yang sebenarnya sedang kaurencanakan, Thom?” Ram akhirnya berkomentar.
“Jangan banyak tanya dulu, Ram. Segera lakukan. Aku berani bertaruh, mereka akan terbirit-birit datang. Kau segera kirimkan SMS padaku hotel yang kaupilih. Nah, itu sudah terdengar pengumuman boarding, aku harus segera masuk pesawat.”
Ram terdengar mengeluh sesuatu.
Aku berdiri, memutus percakapan.
Puluhan penumpang lain juga berdiri, bergegas mengisi antrean di depan petugas.
***
Satu jam lagi di langit.
Aku melangkah cepat melewati lorong bandara, pukul 21.30, pesawat sudah mendarat beberapa menit lalu. Masih satu setengah jam dari jadwal pertemuan yang kuminta dari Ram, tapi bergegas tiba lebih dulu di tempat pertemuan lebih baik. Aku menyalakan telepon genggam. Ram seharusnya sudah mengirimkan SMS lokasi pertemuan. 
Baru saja loading telepon genggam selesai, satu panggilan masuk berbunyi.
Nomor telepon satelit milik Kadek.
“Pak Thom!” Kadek berseru, suaranya setengah panik, setengah lega. “Saya telepon Pak Thom sejak satu jam lalu, tidak masuk juga. Berkali-kali saya coba. Akhirnya.”
“Saya sedang di pesawat, Kadek, telepon kumatikan. Ada apa?” Aku mendahului beberapa penumpang yang asyik bicara sambil mendorong koper bagasi.
“Opa, Pak Thom. Opa semaput.”
Langkah kakiku tertahan. 
“Kau bilang apa, Kadek?” Aku menelan ludah, ini berita buruk.
“Opa semaput, Pak Thom. Saya, saya pikir tadi saat Pak Thom dan yang lain tiba, Pak Thom sudah membawa keperluan obat Opa. Di kapal sudah sejak sebulan lalu stok insulin habis. Kadar gula Opa naik tajam, Opa hampir pingsan. Saya sungguh minta maaf, lupa memberitahu, Pak Thom.”
“Posisimu di mana, Kadek?” Aku memotong kalimat cemas Kadek, sekaligus mengusir selintas pikiran betapa bodohnya urusan ini. Seharusnya aku juga menyadari sejak berangkat dari rumah peristirahatan, tas obat-obatan Opa harus dibawa. Semua karena Rudi si bokser sialan. Gara-gara pasukan kecil dia, aku melupakan detail kecil ini.
“Posisimu di mana sekarang, Kadek?” Aku mengulang pertanyaan, Kadek tidak segera menjawab.
“Eh, 106 derajat, 23 menit bujur timur, 05 derajat, 59 menit lintang selatan....“
“Bukan itu, Kadek!” aku berseru kencang, membuat penumpang lain yang memadati lorong menuju lobi kedatangan bandara menoleh. Aku mengutuk Kadek dalam hati. Dia pastilah sedang tegang mengemudi kapal. Dia refleks menyebutkan posisi GPS kapal yang terlihat dari display kemudi. “Kau berapa kilometer lagi dari Sunda Kelapa?”
“Maaf, Pak Thom, sembilan belas kilometer lagi. Saya sudah berusaha secepat mungkin kembali ke dermaga sejak Opa semaput. Saya menelepon, maksud saya, kalau Pak Thom bisa menghubungi dokter Opa, atau siapa saja, menyuruh mereka bergegas ke dermaga, biar Opa segera mendapat suntikan insulin persis kapal merapat.”
“Ya, akan aku lakukan,” aku menjawab cepat.
“Syukurlah, Pak Thom. Aku akan mengebut sebisa mungkin ke dermaga.” 
“Kau jangan panik, Kadek. Tetap terkendali, selalu berpikir jernih. Paham?” Aku meneriakinya sebelum menutup telepon. Suara Kadek segera hilang, dia telah kembali konsentrasi penuh pada kemudi kapal.
Aku mendengus, bergegas membuka daftar kontak di telepon genggam. Kakiku juga melangkah cepat menuju lobi kedatangan. Masih satu jam lebih sebelum pukul sebelas malam. Jika jalanan kota tidak macet, aku bisa ke dermaga sebelum menuju lokasi pertemuan, memastikan sebentar Opa baik-baik saja. Di mana pula aku menyimpan nomor telepon dokter Opa. 
Tidak kutemukan. Jangan-jangan aku tidak menyimpan nomor teleponnya.
Aku bergegas hendak menghubungi Maggie, dia bisa mencari tahu segera.
Kakiku sudah tiba di lobi kedatangan yang gaduh. Orang-orang berteriak, karton bertuliskan nama, tawaran taksi, semua berkeliaran.
“Jangan bergerak!” Suara tegas dan dingin itu membekukan lobi kedatangan.
Enam, sepuluh, tidak, lebih dari belasan polisi dengan pakaian serbu lengkap sudah mengepungku. Mereka bermunculan dari balik keramaian. Senjata mereka teracung sempurna padaku.
Aku berdiri termangu, meneguk ludah.
Sebelum aku sempat bereaksi, bahkan berpikir harus melakukan apa, salah satu dari mereka telah tangkas menyergap tanganku. Telepon genggamku terjatuh. Aku terbanting duduk. Lututku terasa sakit menghantam keramik lobi. Dalam hitungan detik saja, tanganku sudah terborgol. 
“Berdiri!” Moncong senjata laras panjang menyodok punggungku.
Aku mengaduh pelan, patah-patah berusaha berdiri.
“Bergegas!” Dua petugas lain sudah kasar membantuku berdiri, tidak sabaran.
Aku menelan ludah.
“Jalan, Bedebah.” Wajah dibungkus kedok itu terlihat dingin, tanpa kompromi.
Aku mengangguk, melangkah menuju arah senjata teracung.
Situasi kali ini jauh lebih serius dibanding di rumah peristirahatan Opa. Bukan karena jumlah mereka lebih banyak, bukan pula karena ratusan mata penumpang yang baru turun, sanak keluarga atau teman penjemput, sopir taksi, calo, bahkan tukang sapu pelataran bandara sibuk menonton, berbisik satu sama lain. Tetapi karena ditilik dari pasukan ini, setelah dua kali tertipu olehku, mereka bertindak lebih hati-hati dan penuh perhitungan. 
Belasan senjata masih terarah padaku, seolah takut aku bisa melepas borgol seperti jagoan dalam film, lantas menggebuki mereka satu per satu. 
“Bergegas, atau kutembak kakimu.” Salah satu dari polisi membentak.
Aku mengembuskan napas, melangkah lebih cepat. Mereka menggiringku menuju salah satu mobil taktis yang terparkir persis di depan lobi kedatangan, membuat kemacetan. 
Pintu mobil taktis terbuka lebar-lebar.
“Naik.” Popor senjata kembali menyodok perutku.
Aku mengeluh. Tidak, tidak bisakah mereka berhitung dengan situasi? Dengan belasan polisi, aku pasti menuruti semua perintah, tidak perlu dipaksa dengan kekerasan.
Sebaliknya, petugas polisi mendorongku kasar, aku untuk kedua kalinya tersungkur. 
“Duduk!” Mereka membentak.
Aku bergumam sesuatu, patuh duduk.
Pintu mobil taktis ditutup segera, berdebam.
Empat polisi mengawalku di dalam, tetap dengan senjata teracung, sisanya berlarian menaiki kendaraan lain. Suara sirene meraung, dengan cepat rombongan mobil meninggalkan bandara, meninggalkan wajah-wajah ingin tahu yang diterpa semburat cahaya lampu. 
Lengang sejenak. Saling pandang.
Kesibukan bandara kembali gaduh dengan lenyapnya suara sirene di kejauhan.
***
“Selamat malam, Thomas.” Suara berat itu menyapa.
Aku menoleh, ternyata ada orang lain yang duduk di pojok mobil taktis polisi. Dua orang. Remang cahaya lampu jalanan yang menelisik kisi-kisi kaca membuatnya tidak terlihat jelas. 
Tetapi aku sungguh mengenal mereka.
Jika saja aku tidak terlatih, tidak ingat situasinya, aku sudah loncat, memukul, menendang, apa saja yang bisa kulakukan pada dua orang di hadapanku. Tidak. Dalam mimpiku, beribu kali aku membayangkan situasi ini. Beribu kali aku menulis jalan ceritanya. Aku selalu membayangkannya dengan penuh kebencian. Tidak, aku akan menunggu saatnya tiba.
Aku menghela napas pelan, berusaha terkendali.
“Kau cukup hebat, Thomas.” Tertawa pelan.
“Cukup hebat kau bilang? Bajingan kecil ini sangat hebat, Kawan. Siapa nama pemimpin pasukan paling tangguh milikmu itu? Rudi? Mudah saja bajingan ini menghajarnya. Jangan lupa, kemarin malam dia kabur dari penjagaan puluhan petugasmu, permisi menumpang lewat.” Rekan di sebelahnya ikut tertawa.
“Jangan sebut nama pecundang itu di depanku. Mulai besok, pecundang itu bertugas di perempatan lampu merah, menjadi polisi pengatur lalu lintas.” Temannya melambaikan tangan.
Mereka berdua tertawa lagi.
Aku menggerung dalam hati, berusaha mati-matian tetap terkendali.
“Siapa kau sebenarnya, Thomas?” Mereka bertanya amat ramah, dengan intonasi seperti sedang menyapa teman karib lama.
Aku tetap bungkam.
“Namamu tidak ditemukan dalam daftar orang-orang kepercayaan Liem, karyawan, staf. Juga dalam daftar keluarganya. Tidak ada. Bahkan namamu tidak ada di penerima beasiswa, penerima bantuan, pihak terkait, apa saja. Siapa kau sebenarnya, Thomas?”
Aku masih bungkam.
“Jangan-jangan kau bekas agen rahasia luar negeri yang baru saja direkrut Liem untuk membantunya? Hebat sekali kau mengelabui kami.”
Rekannya tertawa. “Hentikan bualanmu, Kawan. Itu berlebihan. Nah, Thomas, siapa kau sebenarnya?”
Aku terus diam, menelan ludah, setidaknya aku diuntungkan satu hal, mereka tidak tahu hubunganku dengan Om Liem. Sebaliknya, aku tahu sekali siapa dua orang di hadapanku sekarang. Suara sirene terus meraung. Konvoi mobil polisi terus menyibak jalanan tol yang cukup padat.
“Siapa kau, Thomas. Ayolah, jawab saja pertanyaan sederhana ini.” Suara mereka berubah serius setelah dua menit hanya lengang aku tidak kunjung menjawab.
Aku masih berpikir cepat, memikirkan berbagai kemungkinan.
Splash, suara kecil dan percik api terlihat di tengah remang. 
“Kau tahu alat apa ini, Thomas. Ini efektif sekali dalam setiap interogasi. Kau jawab, aku singkirkan alat ini. Kau berbelit-belit, mungkin dua-tiga kali kuhujamkan di dada, leher, atau kepala bisa membuat mulutmu terbuka lebar-lebar.”
Aku menatap jerih alat setrum di tangan salah satu dari mereka.
“Aku konsultan keuangan profesional.” Akhirnya aku bersuara.
Sia-sia, belum habis kalimatku, alat setrum itu telak menghujam perutku. Rasanya seperti dicabik, seperti disengat, tidak bisa dijelaskan. Aku berteriak, satu persen karena kaget, sisanya karena sakit yang teramat. Membuat ruangan pengap mobil taktis sejenak terasa beku.
“Jawaban yang salah, Thomas.” Mereka menatapku dingin. “Kami lebih dari tahu kau konsultasn keuangan. Spesialis merger dan akuisisi. Lulus dari dua sekolah bisnis ternama luar negeri. Kami tahu itu, bahkan aku punya nama gurumu di sekolah berasrama. Siapa kau sesungguhnya, Thomas?”
Suara itu tidak membentak, tapi itu lebih dari cukup.
Aku tersengal, masih dengan sisa sakit setrum di perut. Tetapi ada yang lebih sakit, yang membuatku tersengal sesak bernapas. Lihatlah, bayangan kejadian puluhan tahun silam telah sempurna kembali di kepalaku. Botol susu yang tumpah di jalanan. Aku ingat sekali suara dan tatapan mereka. 
Semua tetap sama.

Senin, 09 Oktober 2017

Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Episode 17 : Perjalanan yang Terencana
------------------------------------------------
AKU masih sempat meminta Maggie mencari data terakhir seluruh aset yang tercatat atas nama Om Liem secara pribadi maupun grup bisnis di luar negeri sebelum melintasi garbarata pesawat. Apa pun, deposito, tabungan, saham, properti, kapal, kepemilikan klub olahraga, aset bergerak maupun tidak bergerak. Cari semua data, Cina, Hongkong, Swiss, Inggris, di mana saja Om Liem pernah melakukan investasi. Itu pasti berguna. Maggie bilang dia bisa segera mengusahakannya. Aku mengangguk takzim, memasukkan telepon genggam ke saku jas. 
Jas? Tentu saja.
Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Sebelumnya aku juga sempat mampir ke salah satu butik di ruang tunggu keberangkatan domestik, membeli satu stel pakaian yang baik, berganti di ruang pas. Sejak tadi malam aku belum berganti pakaian, urusan ini bahkan membuatku belum tidur, belum makan, juga belum mandi. Penjaga butik bingung saat melihatku keluar dari ruang pas dengan pakaian rapi, langsung menuju meja kasir.
“Kau belum pernah melihat pembeli yang langsung memakai baju yang dibelinya?” aku berkomentar santai, mengeluarkan kartu kredit.
“Eh, bukan itu. Maaf.” Gadis itu salah tingkah. 
Temannya menyikut lengan, menyuruhnya bergegas menyelesaikan transaksi.
Aku juga sempat mampir ke toko buku di sebelah butik itu, mencomot sembarang buku paling mutakhir tentang perbankan, beberapa majalah mingguan ekonomi terkemuka dunia, ditambah surat kabar sore berbahasa Inggris. Hingga akhirnya final call penerbangan ke Yogyakarta terdengar di langit-langit bandara. Tampilanku sudah lebih dari cukup meyakinkan. Aku berjalan santai menuju gate enam, menyerahkan boarding pass, lantas melintasi garbarata yang dipenuhi penumpang.
Pramugari tersenyum menyapa, “Seat nomor berapa?”
Aku membalas senyumnya, sambil menyebut nomor kursi.
“Silakan, Pak Thomas.” Sudah standar baku kelas eksekutif, pramugari menghafal seluruh nama calon penumpang yang lima menit lalu diberikan petugas ground handling.
Maggie benar, dua pejabat tinggi negara itu sudah duduk di kursi masing-masing. Aku persis di seberang mereka, terpisah lorong kecil. Kelas eksekutif yang hanya menyediakan dua belas kursi terisi separuh. Aku duduk dengan rileks, memasang safety belt, lantas membuka koran sore, mulai pura-pura membaca headline besar tentang Bank Semesta.
Dua pejabat di sebelahku membicarakan sesuatu, tertawa terkendali---nostalgia kampus lama mereka sepertinya, tempat mereka besok mengisi kuliah umum. Pesawat mulai memasuki runaway. Dalam hitungan detik, pilot menginformasikan pesawat siap take off, aku tetap serius membaca koran sore, tidak peduli gerung pesawat yang terbang, lepas landas.
Peraturan pertama: Jika kalian ingin menarik perhatian seseorang (apalagi dua orang) dengan level yang sudah terlalu tinggi dibanding kalian, lakukanlah dengan cara ekstrem. 
Lima menit, lampu safety belt sudah dipadamkan, pesawat sudah stabil di ketinggian, pramugari yang selalu tersenyum sudah mengeluarkan trolley makanan menu spesial kelas eksekutif.
“Bedebah!” aku berseru, memukul koran sore berbahasa Inggris di tanganku.
Pramugari bahkan hampir saja menumpahkan kopi dari tekonya. Penumpang kabin eksekutif menoleh. Dan karena dua petinggi lembaga keuangan itu persis di seberang lorongku, mereka orang pertama yang melongok padaku. 
“Maaf, astaga, maaf aku sungguh tidak bermaksud demikian.” Aku mengangguk penuh penyesalan pada pramugari, menoleh ke sebelah, menatap mereka sambil menggeleng pelan.
“Maaf, aku sedang membaca berita, lihat, astaga, apa yang mereka tulis di koran ini? Bank Semesta harus diselamatkan, omong kosong. Tidak perlu pakar keuangan untuk tahu betapa bobroknya bank ini. Pemiliknya penjahat, maling besar. Enak saja mereka mengambil uang milik rakyat untuk menalangi, mengganti uang orang-orang kaya yang boleh jadi membayar pajak saja tidak pernah.”
Aku menghela napas, benar-benar menyesal telah memaki di depan orang-orang berpendidikan.
Peraturan kedua: Dalam situasi frontal, percakapan terbuka, cara terbaik menanamkan ide di kepala orang adalah justru dengan mengambil sisi terbalik. Untuk sebuah kasus netral, yang boleh jadi orang tertentu sudah memiliki pendapat dan keberpihakan, ketika dia masuk dalam pembicaraan di mana salah satu pihak terlalu kasar, terlalu menyerang, terlalu naif dan penuh kemarahan, orang yang telah memiliki pendapat dengan cepat bisa jadi mengambil posisi berseberangan tanpa dia sadari---dengan alasan mulai dari tidak mau kalah, ingin terlihat bijak, hingga alasan lainnya. 
Sesungguhnya kita semua bereaksi sama dalam setiap percakapan, perdebatan, tidak peduli kalian pejabat tinggi negara, eksekutif perusahaan besar, atau sekadar sopir angkutan umum yang mangkal di perempatan atau pengangguran di kedai kopi.
Dua petinggi lembaga keuangan itu masih menoleh padaku, menyelidik sejenak. Ini detik yang krusial. Mereka bisa saja sekejap tidak tertarik membahasnya. Urung, berpikir cermat, buat apa menanggapi makian rekan satu pesawat, ada banyak yang harus dipikirkan, urus saja masalah sendiri---peduli amat dengan tampilannya yang meyakinkan, buku keuangan bestseller, majalah terkemuka yang berserak di pangkuan.
Aku harus segera bertindak sebelum dua orang di sebelahku ini kembali sibuk dengan pembicaraan mereka sendiri.
“Ini benar-benar kacau-balau. Seharusnya pemerintah lebih tegas, seharusnya bank sentral sejak enam tahun lalu sudah menutup bank ini. Apa saja kerja mereka selama ini? Lihatlah, ribuan nasabah produk hibrid investasi-tabungan bank ini terzalimi, uang mereka sekarang hilang tidak ada yang mengganti. Andaikata sejak dulu sudah ditutup.” Aku mengusap wajah, memasang wajah amat kecewa.
Nah, dengan kalimatku barusan, aku jelas sudah memecahkan bisul percakapan.
Inilah peraturan ketiga, peraturan paling penting: Dalam sebuah skenario infiltrasi ide jangan pernah peduli dengan latar belakang lawan bicara kalian. Konsep egaliter menemukan tempat sebenar-benarnya. Bahkan termasuk ketika kalian wawancara pekerjaan misalnya, sekali kalian merasa sebagai “orang yang mencari pekerjaan”, sementara mereka yang menyeleksi adalah “orang yang memegang leher masa depan kalian”, tidak akan pernah ada dialog yang sejajar, pantas, dan mengesankan.
Aku sudah memulai percakapan itu dengan pembukaan “gambit menteri” dalam pertandingan catur. Maka hanya soal waktu, percakapan seru selama satu jam itu bergulir.
“Tentu saja ini bukan semata-mata salah otoritas pengawas. Dalam sistem paling baik sekalipun, ketika ada individu yang memang sudah jahat dari awal, dia bisa mengakali banyak hal. Usaha preventif, peringatan dini, peraturan-peraturan pencegahan, audit berkala, itu semua menjadi sia-sia. Bahkan sebenarnya kita sudah punya peraturan yang melarang kriminal menjadi direksi dan pemilik bank. Kita selalu melakukan fit and proper test.” Petinggi bank sentral berusaha menjelaskan dengan arif---meluruskan kalimat kasarku lima menit lalu.
Aku mengangguk mengamini.
“Situasi sekarang rumit, Thomas. Kau boleh jadi benar, kita sudah seharusnya menutup Bank Semesta enam tahun lalu, ketika perekonomian global tanpa riak, eskalasi masalah Bank Semesta juga masih kecil. Sekarang orang-orang bicara tentang dampak sistemis. Bahaya kartu remi roboh. Dalam situasi panik, otoritas bank sentral tidak mungkin membiarkan satu bank jatuh, menyeret bank-bank lain, kami bertanggung jawab penuh atas situasi itu. Nah, ketika situasi terburuk masih mungkin terjadi, lebih bijak mengambil situasi buruk yang paling kecil risikonya.” Lima belas menit berlalu, mereka sudah tahu namaku---demi sopan santun pembicaraan, aku memperkenalkan diri.
“Tetapi pemiliknya perampok besar, Pak. Bank Semesta, ibarat rumah, adalah rumah perampok besar. Di mana letak rasa keadilannya?” Aku pura-pura masih tidak terima, tiga puluh menit pembicaraan, gelas kopi kedua dari pramugari terhidang.
Pejabat bank sentral tersenyum, menggeleng. “Kau keliru, Thomas. Aku paham apa yang kaumaksud, anak muda seperti kau terkadang terlalu emosional. Boleh jadi bank itu adalah rumah perampok, tapi ketika dia terbakar di tengah angin kencang, musim kemarau krisis dunia, kalau kita biarkan sendiri, apinya akan menjalar ke rumah-rumah lain, bahayanya akan lebih besar lagi. Jadi pilihan terbaiknya boleh jadi memadamkan api rumah itu dulu. Urusan menangkap rampok, mengambil harta yang pernah dia rampok, tentu saja harus dilakukan sesuai koridor hukum yang ada.”
Aku menghela napas, masih hendak membantah.
“Jangan lupakan satu fakta kecil, Thomas,” kepala lembaga penjamin simpanan ikut menambahkan---dan otomatis dia pasti dalam posisi yang sama dengan pejabat bank sentral, “kalaupun pemerintah memutuskan memberikan talangan, dana itu diambil dari premi yang dikeluarkan seluruh bank untuk tabungan, deposito, dan rekening lainnya milik nasabah. Jadi itu bukan uang rakyat, itu persis seperti premi yang dibayar pemilik kendaraan. Ketika ada satu kendaraan yang meminta klaim rusak, atau bahkan hilang, itu diambil dari kumpulan uang premi yang ada. Bukan uang rakyat, Thomas.”
Empat puluh lima menit berlalu, sebentar lagi pesawat mendarat, hanya soal waktu tanda safety belt kembali menyala. Dua petinggi lembaga keuangan itu sempurna sudah “menguasai” pembicaraan, berhasil memberikan pemahaman yang baik kepadaku tentang wisdom dan berhentilah kasar menilai. Kebijakan bukanlah ilmu pasti, sepintar apa pun kau. 
“Kita tidak tahu. Belum.” Pejabat bank sentral menggeleng takzim. “Boleh jadi besok siang, boleh jadi besok malam ketua komite stabilitas sistem keuangan akan mengundang seluruh pihak. Komitelah yang paling berwenang memutuskan apakah Bank Semesta akan di-bail out atau tidak. Situasinya bergerak cepat sekali. Dua hari lalu kita masih merahasiakan banyak hal. Hari ini seluruh media massa seperti sudah tahu rilis terbaru dari kami. Oh iya, rasa-rasanya aku pernah bertemu denganmu, Thomas?” 
Aku ikut tertawa. “Mungkin kita pernah satu pesawat, Pak. Bapak waktu itu juga pernah melihat anak muda yang mengeluarkan makian.”
Mereka berdua tertawa.
Lampu safety belt menyala. Pesawat yang kami tumpangi siap mendarat. Satu-dua kalimat basa-basi penutup percakapan. “Terima kasih banyak atas pembicaraan yang hebat ini, Pak. Aku jadi memahami banyak hal.” Aku mengangguk. Mereka tersenyum. 
Di lorong garbarata turun dari pesawat, gubernur bank sentral sempat menepuk bahuku. “Aku tidak mungkin salah. Aku pernah bertemu denganmu, Thomas. Kau ikut hadir di konvensi perbankan Jenewa, bukan? Kau bedebah, eh maksudku anak muda yang berkelas, Thomas. Esok lusa, siapa tahu jika kau tertarik menjadi pejabat publik, kau bisa menjadi pejabat yang lebih baik, berani, dan taktis dibanding kami. Ini antara kau dan aku saja, dulu waktu masih sibuk mengajar di kampus, kami selalu memanggil mahasiswa paling pintar dengan sebutan bedebah. Kalimat makianmu tadi mengingatkanku banyak hal.” 
Nah, inilah peraturan kelima, terkadang kita butuh keberuntungan, aku tidak menduga kata “bedebah” itulah kunci terbaik percakapan kami. Aku bergegas menggeleng. “Tidaklah, Pak. Saya harus belajar banyak mengendalikan emosi bahkan sebelum memikirkan tentang kemungkinan itu.”
Mereka berdua hilang di lobi bandara yang ramai.
Aku bergegas kembali menuju loket penjualan tiket.
“Satu tiket penerbangan ke Jakarta malam ini.”
“Kelas eksekutifnya penuh.”
“Aku harus kembali ke Jakarta segera. Apa saja, tiket bergelantungan, bahkan tiket duduk di toiletnya saja tidak masalah.” 
Gadis yang menjaga loket tertegun sejenak.
“Aku hanya bergurau. Kau bergegas.

Minggu, 08 Oktober 2017

Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Episode 16 : Dua Bidak Pertama
---------------------------------------
MOBIL box laundry merapat ke salah satu apartemen elite Jakarta. 
“Aku sibuk, Thom. Tidak ada waktu.” Suara Erik justru terdengar santai.
“Omong kosong. Selama ini aku selalu punya waktu untukmu, Erik. Bahkan dalam situasi mendesak sekalipun.” Aku berlari kecil melintasi lobi apartemen.
“Astaga, Thom. Tapi tidak sekarang. Ini hari Sabtu. Libur. Aku sudah hampir sembilan minggu tidak pernah menikmati weekend, bersantai menghabiskan waktu di apartemenku.”
“Itu bagus. Jadikan saja genap sepuluh minggu kau terpaksa tidak bisa bersantai.” Aku memencet angka 7 tombol lift.
“Baik, baik.” Suara Erik terdengar kesal. “Aku bisa menemuimu, tapi setengah jam saja, nanti malam pukul delapan, terserah kau di mana tempatnya.”
“Soal setengah jam, itu bukan masalah, Sobat. Lebih dari cukup. Soal nanti malam, nah itu yang jadi masalah. Sekarang, Erik, kita harus bertemu sekarang.” Pintu lift terbuka, aku melintasi lorong lantai.
“Sekarang? Memangnya kau ada di mana?”
“Lima detik lagi aku menekan bel apartemenmu. Nah,....” Aku sudah memukul kasar bel di sebelah pintu jati berukiran itu. 
“Eh?” Kalimat Erik terputus oleh suara bel.
Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Aku memasukkan telepon genggam ke dalam saku.
Wajah Erik muncul di balik pintu beberapa detik kemudian. Dia mengenakan kaus, berkeringat. “Kau gila, Thom. Ada apa sebenarnya?”
Aku melangkah masuk, mengabaikan tampang keberatannya.
Erik sedang latihan squash. Dia sengaja menyulap ruang depan dan ruang tengah apartemen luas dan mewahnya menjadi lapangan squash kecil. Aku dan beberapa teman dekat beberapa kali pernah berlatih bersama. Apartemen luasnya sepi, hanya suara televisi layar lebar terdengar berisik.
“Kau bermain sendirian?” Aku bertanya, melihat sekitar, meraih raket squash yang tergeletak.
Erik mengangkat bahu. “Semua orang sibuk, Thom. Bekerja seperti besok mau kiamat, jadi tidak ada yang mau kuajak latihan. Termasuk kau, tega sekali kau memotong Sabtu santaiku.”
Aku melemparkan raket squash ke lantai, meraih remote televisi di atas meja kecil, menaikkan volume, ada liputan breaking news dari salah satu stasiun terkemuka. Pembawa acaranya sibuk melaporkan situasi terakhir di bursa saham Amerika tadi malam. Indeks Dow Jones jebol nyaris 500 poin. Itu artinya kapitalisasi saham di sana menguap 4 persen dalam sehari, setara dengan ribuan triliun rupiah, angka yang setara dengan menyekolahkan satu miliar anak hingga lulus kuliah. Kepanikan sedang terjadi di Amerika. Beberapa bank dan institusi keuangan dilaporkan dalam kesulitan besar, menyusul Citibank, Lehman Brothers. Otoritas bank sentral, pejabat senior, bahkan pengamat ekonomi peraih nobel memberikan komentar. Wajah-wajah bergegas, wajah-wajah lelah. Siapa lagi yang akan tumbang?
Pembawa acara berpindah ke berita berikutnya, Bank Semesta, bla-bla-bla, sumber terpercaya terakhir menyebutkan Bank Semesta akan ditutup, bla-bla-bla, risiko dampak sistemis di depan mata, bla-bla-bla, apakah krisis dunia akan tiba di Indonesia, aku sudah menekan tombol mute televisi. Bisu.
“Kencangkan lagi volumenya, Thom.” Erik justru tertarik. Dia melangkah mendekat, mendongak ke layar televisi yang tergantung di dinding lapangan squash-nya.
“Tidak penting, Sobat.” Aku menyeringai.
“Kencangkan, Thom. Ini penting setelah begitu banyak kabar sampah tentang kondisi terakhir dunia luar.” Erik berusaha meraih remote dari tanganku.
Aku menepis tangannya, menatap lamat-lamat Erik dengan tatapan dingin.
“Eh, ada apa?” Erik menelan ludah.
“Kenapa kau begitu tertarik dengan Bank Semesta, Sobat? Atau jangan-jangan kau salah satu di antara begitu banyak orang yang berharap bank itu ditutup saja.”
“Eh, aku?” Erik mengangkat bahu, tidak mengerti kenapa aku tiba-tiba sinis. 
“Ya, kau salah satunya. Misalnya agar rekomendasi keliru yang sengaja kauberikan enam tahun lalu musnah bersama hilangnya nama Bank Semesta, hah? Tidak ada lagi yang bisa membuktikan kalau seharusnya bank itu sudah ditutup sejak dulu.”
Erik diam. Dia sepertinya baru menyadari apa tujuanku datang ke apartemennya.
“Apa maksudmu, Thomas?” Erik menyelidik.
Aku tertawa. “Kau hanya punya waktu setengah jam, bukan? Baik. Aku sudah memakainya empat menit, berarti tinggal dua puluh enam menit. Kita akan bicara sambil berdiri seperti ini, atau kau akan berbaik-hati menyuruhku duduk?” 
Erik bergumam samar, menyeka peluh di leher, mengangguk, menunjuk kursi.
Aku mengarahkan remote ke arah televisi, sekejap menekan tombol off.
Apartemen luas Erik lengang seketika.
***
“Aku tidak mau melakukannya.” Erik menggeleng. 
Lima belas menit setelah aku menjelaskan situasi dan menyebutkan permintaan.
“Kau akan melakukannya.” Aku berkata tegas, melempar bundel kertas yang diberikan Maggie tadi siang, “Atau aku akan menyebarkan dokumen ini ke seluruh wartawan yang kukenal.”
Erik menyambar kertas di atas meja, membaca selintas halaman depan, lantas merobeknya.
Aku tertawa. “Percuma, Sobat, aku masih punya master file-nya di kantor. Kau mau kugandakan jadi berapa? Lima belas lembar? Lima ratus?”
Erik mendengus marah.
“Aku tidak tahu apa-apa, Thom!”
“Omong kosong, Erik!” aku membentaknya. “Kau penasihat keuangan yang memberikan opini ketika Om Liem mengakuisisi Bank Semesta. Temanmu yang di bank sentral itu bertugas menutup-nutupi semua data, mengamini rekomendasi yang kaubuat, sehingga petinggi bank sentral dengan mudah menyetujui proses akuisisi sekaligus merger empat bank kecil. Kalian pasangan yang hebat. Dua penjahat. Bank Semesta seharusnya sudah tinggal nama di papan nisan enam tahun lalu. Kalianlah yang berbusa menjualnya ke Om Liem.”
Erik tersengal, tapi dia tidak bisa berkomentar lagi.
“Santai saja, Sobat. Aku juga sering melakukan rekayasa laporan, mempermanis angka, memperindah tampilan. Semua penasihat keuangan macam kita terbiasa dengan window dressing, manipulasi. Bedanya, kau keliru telah memilih klien Bank Semesta. Aku related party bank malang ini. Aku berada di pihak yang dirugikan atas opinimu. Nah, sekarang aku akan berusaha mati-matian menjadikan laporan enam tahun lalu ini sebagai amunisi menghabisi kalian jika kau tidak mau membantuku.”
“Apa yang sebenarnya kauinginkan, Thom?” Erik mendesis.
“Mudah saja, Sobat.” Aku tersenyum tipis. “Seperti yang tadi saya bilang. Temanmu di bank sentral itu sudah menjadi pejabat penting di sana. Mereka bilang, salah satu bintang dalam hierarki karier bank sentral. Dia mengepalai dan bertanggung jawab atas semua data, angka, dan informasi seluruh pengawasan perbankan. Kita semua tahu, Erik, jika dia bilang A, jangankan deputi, bahkan gubernur bank sentral juga akan bilang A. Mana sempat deputi gubernur bank sentral mengolah data sendiri, mereka tidak lebih hanya orang-orang berkuasa yang duduk di kursi nyaman. Mereka menerima semua data yang diletakkan di atas meja, tidak sempat melakukan verifikasi bahkan konfirmasi.
“Dalam beberapa jam ke depan, eskalasi kasus Bank Semesta akan bertambah besar. Ketika seluruh media ribut mencemaskan tentang dampak sistemis, isu rush, kepanikan, hanya soal waktu komite stabilitas sistem keuangan akan mengundang pihak berkepentingan rapat membahas tentang Bank Semesta. Untuk menghadiri rapat itu, petinggi bank sentral akan membutuhkan data terakhir tentang Bank Semesta, angka-angka, informasi, perhitungan, semuanya.
“Nah, kauhubungi teman baikmu di bank sentral itu, minta agar dia melakukan hal yang sama enam tahun lalu, mempermanis laporan tentang Bank Semesta. Misalnya mempermanis angka talangan yang harus diberikan jika pemerintah memutuskan melakukan bail out. Boleh jadi angka sebenarnya tujuh triliun, tapi temanmu bisa membuatnya hanya dua triliun saja. Tujuh boleh jadi membuat komite segera menggeleng, resisten. Tapi, dengan angka dua, mereka akan manggut-manggut. Angka itu harus segera ada dalam laporan, ada di kepala petinggi bank sentral, dan disebutkan dalam rapat komite. Menjadi basis keputusan pertama mereka.”
“Kau gila, Thom. Dalam situasi seperti ini, mereka pasti akan melakukan verifikasi dan konfirmasi berkali-kali. Mereka tidak bodoh.”
“Aku lebih dari tahu soal itu, Erik. Kaulakukan saja skenarionya. Sekali rapat komite terjadi, temanmu di bank sentral itu boleh-boleh saja mengubahnya lagi, bilang angka sebelumnya tidak update, cut-off keliru. Tapi, sekali rapat komite telah dilangsungkan, sekali mereka terdesak harus segera mengambil keputusan, dan aku sudah menyelipkan kepentingan di beberapa peserta rapat, apa bedanya dua triliun dengan tujuh? Dalam dunia ini, kita telah mengambil keputusan bahkan sebelum keputusan itu terjadi, kita hanya butuh argumen yang cocok saja.”
Erik mengusap wajahnya.
“Apa sebenarnya yang sedang kaurencanakan, Thom?”
“Menyelamatkan Bank Semesta.”
“Kau tidak bisa memengaruhi begitu banyak orang penting, Thom. Astaga, apakah kau berpikir bisa memengaruhi menteri keuangan, gubernur bank sentral, bahkan presiden sekalipun?”
Aku tertawa pelan, meraih sesuatu di atas meja. “Kita lihat saja nanti, Sobat. Sekarang kauurus saja yang kusuruh. Jika temanmu itu sama becusnya seperti enam tahun lalu, aku sudah memegang satu bidak, bank sentral. Dua bidak lain sedang kuurus. Nah, bergegas. Waktuku terbatas. Hubungi temanmu di bank sentral itu. Ajak dia segera bertemu, mulai mempermanis banyak hal, atau aku segera mengirimkan dokumen yang kaurobek tadi ke semua redaksi koran. Jika itu terjadi, kariermu dan karir temanmu itu tamat, bahkan sebelum Bank Semesta selesai dilikuidasi.”
Erik menghela napas, menatapku lamat-lamat. “Kenapa kau melakukan ini padaku, Thom?”
Aku sudah berdiri. “Kau tidak mendengarkanku dengan baik. Aku related party Bank Semesta. Namaku boleh jadi tidak tercantum di mana-mana, tapi aku orang pertama yang akan menyelamatkan bank itu. Selamat tinggal, aku harus segera mengurus hal lain. Jangan matikan telepon genggammu, aku akan meneleponmu kapan saja. Maaf membuatmu tidak bisa bersantai di akhir pekan untuk kesepuluh kalinya. Dan satu lagi, aku pinjam mobilmu. Diparkir di tempat biasa, bukan?”
Erik bergumam kasar melihat kunci mobilnya yang kupegang. Wajah merahnya menggelembung, tetapi dia tidak berkomentar.
Aku sudah melangkah menuju pintu apartemen.
***
Aku berganti kendaraan. Mobil Erik jauh lebih pantas dibanding mobil box laundry. 
Aku segera menghubungi telepon genggam Julia.
“Julia, halo, kau di mana? Suaramu tidak terdengar!” aku berseru sambil menekan klakson. Gerimis sudah raib di jalanan, bergantikan merah langit, sebentar lagi malam datang.
“Aku di konferensi pers, Thom.”
“Julia, bukankah kau seharusnya sedang mencari cara bertemu....“ 
“Aku sedang ikut konferensi pers, Thom. Kau bisa telepon aku setengah jam lagi.”
“Apa perlunya kau ikut konferensi? Kau tidak sedang meliput berita lebih penting, kitalah yang membuat berita. Kau seharusnya sedang menelepon kontak yang ada, meminta skedul....“
“Aku justru persis di depan menteri, Thom. Dia sedang bicara, semua wartawan berebut mengambil posisi paling depan.” Suara Julia terdengar kesal. “Setengah jam lalu ada rilis penting ke seluruh media massa, aku tidak jadi ke kantor, langsung berbelok arah, ada konferensi pers mendadak dari ketua komite stabilitas sistem keuangan. Dia memberikan tanggapan awal atas masalah Bank Semesta yang eskalasi masalahnya naik tajam sehari terakhir. Kalau beruntung, setelah konferensi pers, aku bisa meminta waktu resmi bertemu dengannya. Tidak bisakah kau bersabar? Aku akan melakukan tugasku dengan baik.” Suara sebal Julia masih terdengar dua-tiga kalimat lagi sebelum dia memutus percakapan.
“Besok, Thom. Kita pasti bertemu langsung dengannya, tapi sebelum itu terjadi biarkan aku mengurusnya. Setidaknya mencatat apa yang sedang dia omongkan. Mungkin itu berguna bagimu.” 
Persis satu detik Julia menutup pembicaraan, telepon genggamku berbunyi lagi.
“Kau di mana, Thom?”
Itu suara khas Ram.
“Kabur, kau pikir aku di mana lagi?” aku menjawab pendek, bergumam. Dalam situasi seperti ini Ram masih saja suka berbasa-basi.
Ram tertawa prihatin. “Tentu saja kau sedang kabur, maksudku kau persisnya lagi di mana?”
“Di balik setir. Mengemudi di jalanan macet Jakarta.” Aku menatap datar keluar jendela, untuk kesekian kali mobilku terhenti di perempatan. Hari Sabtu, tetap saja jalanan kota padat.
“Om Liem bersamamu? Eh, maksudku, aku baru saja mendengar kabar kalau petugas polisi menyergap rumah peristirahatan di Waduk Jatiluhur. Aku dengar kalian berhasil kabur lagi. Om Liem baik-baik saja?” Ram segera memperbaiki pertanyaan, sebelum aku kembali menjawab menyebalkan.
“Secara fisik dia baik-baik saja, jika itu maksud pertanyaanmu. Tetapi secara psikis mana aku tahu. Untuk orang setua itu, boleh dibilang keajaiban kecil dia tidak terlihat stres, sakit kepala, atau bahkan jantungan dengan semua masalah.”
“Om Liem bersamamu, Thom?” Ram memotong.
“Tidak. Dia bersembunyi di tempat aman.”
“Di mana?”
“Astaga? Kenapa kau ingin tahu sekali?” Aku menekan klakson, menyuruh minggir angkutan umum yang berhenti sembarangan.
“Bukankah kau sendiri yang menyuruhku memberikan informasi ke Om Liem soal kabar terakhir Tante? Lagi pula Om Liem hingga Bank Semesta pailit adalah pemimpin seluruh grup bisnis. Ada banyak update perusahaan yang harus dia tahu. Dokumen-dokumen yang harus dia tanda tangani. Surat-surat dan korespondensi dua hari terakhir yang belum sempat dia baca. Aku bertanggung jawab memastikan itu semua berjalan baik.” Ram terdengar sedikit tersinggung.
“Bagaimana kabar Tante?” Aku memotong kalimat protesnya.
“Tante Liem baik. Dokter sudah mengizinkannya pulang baru saja, bisa dirawat di rumah.”
“Nah, biar aku saja yang menyampaikan kabar baik ini pada Om Liem. Juga urusan pekerjaan, kau suruh salah satu staf perusahaan menitipkan dokumen, surat, apa pun ke Maggie, nanti Maggie yang akan mengirimkanya padaku, itu pun jika urusan itu tidak bisa menunggu hingga hari Senin. Situasi berubah, Ram. Aku memutuskan, satu-satunya akses kepada Om Liem adalah aku. Dia sedang bersembunyi di salah satu rumah miliknya. Tidak boleh ada yang tahu.” 
Ram terdengar menggerutu sebelum menutup telepon.
Aku menyeringai, kembali menatap jalanan yang macet. 
Aku tahu Ram adalah orang kepercayaan Om Liem belasan tahun terakhir. Dia bahkan ikut keluarga Om Liem sejak kecil, disekolahkan, diberikan kesempatan mengurus bisnis keluarga, dan dilatih langsung oleh Om Liem. Tetapi saat ini, satu-satunya orang yang kupercaya adalah diriku sendiri. Bahkan aku tidak memercayai Om Liem---dalam situasi ini satu-dua kalimat dan tingkah bodoh bisa membuat seseorang (termasuk Om Liem atau Ram) tanpa disengaja telah mengkhianati sesuatu, jadi bukan sekadar soal dapat dipercaya atau tidak lagi.
Telepon genggamku kembali berbunyi.
“Ada berita penting, Thom.” 
“Umur panjang, baru saja kusebut, kau sudah meneleponku, Maggie.” Aku tertawa kecil, sedetik mengingat hal bodoh yang pernah kami lakukan saat masih menjadi mahasiswa sekolah bisnis. Baru saja kusebut nama Maggie pada Ram, dia meneleponku.
Ini sudah menjadi tradisi panjang yang tidak bisa ditelusuri muasalnya. Setiap kali kita habis menyebut nama seseorang, dan tiba-tiba dia muncul, orang-orang tua kita selalu mencontohkan berseru, “Umur panjang.” Kami dulu suka jail membahas hal-hal seperti ini di tengah pening mengerjakan tugas dari profesor yang bertumpuk. Apa coba hubungannya umur panjang dengan tiba-tiba dia muncul?
“Terima kasih doanya, Thom. Tetapi aku harap tidak menghabiskan umur panjangku dengan bekerja di tempatmu.” Maggie tidak tertawa, dia fokus. “Berita penting, Thom.”
“Silakan,” aku menjawab takzim.
“Gubernur bank sentral dan kepala lembaga penjaminan simpanan malam ini pukul tujuh akan menumpang pesawat keluar kota. Mereka ada jadwal mengisi kuliah umum bersama di salah satu kampus terkemuka besok pagi-pagi, dan segera kembali ke Jakarta setelah itu. Kau mau kubelikan satu tiket kelas eksekutif agar bisa bersebelahan kursi dengan mereka pada malam ini atau besok paginya?”
Aku sungguh tertawa untuk sesuatu yang lebih penting sekarang. Ini adalah update paling brilian yang disampaikan Maggie dua belas jam terakhir. Maggie adalah stafku yang paling cerdas. Dia berpikir sama sistematisnya denganku. “Bisa dipahami, Thom. Maggie hampir empat tahun menjadi stafmu. Mengikuti ritme, cara, waktu kerja, bahkan pola berpikirmu. Dia berkembang menjadi staf paling mutakhir dan resourcesfull karena kau, Thom.” Itu komentar Theo, teman dekatku sejak suka bicara omong kosong tentang “panjang umur” di sekolah bisnis. Aku tidak tahu apakah Theo serius. Yang aku tahu, Maggie adalah salah satu amunisi terbaikku.
“Skedul yang mana, Thom? Malam ini atau besok pagi? Aku masih punya pekerjaan lain selain mengurus tiketmu.” Suara ketus Maggie kembali terdengar.
“Segera, Mag, yang malam ini. Kaupastikan ke petugas city check-in agar aku persis duduk di sebelah mereka. Kau e-mailkan e-tiketnya. Aku segera menuju bandara sekarang.” Aku mengangguk, memutus pembicaraan, melempar telepon genggam sembarangan, lantas tangan kiriku mengganti persneling, membanting setir, dan menekan klakson panjang. Mobil yang kukemudikan berputar tajam. Membuat “pak ogah”, pengatur lalu lintas gadungan yang sering mangkal di perempatan, U-turn, atau bagian jalan apa saja yang sering macet, terbirit-birit takut kena tabrak.
Hampir pukul enam sore. Warna merah jingga di langit mulai pudar, bergantikan gelap. Waktuku tinggal 36 jam, 15 menit sebelum pukul 08.00 hari Senin.
Mobilku melesat cepat menaiki ramp jalan, menuju pintu tol bandara. Ini kesempatan hebat, mana boleh ditunda hingga besok. Jika berhasil, sekali dayung aku bisa memengaruhi dua peserta rapat komite stabilitas sistem keuangan sekaligus.

Sabtu, 07 Oktober 2017

Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Episode 15 : Yacht Pasifik
--------------------------------
MOBIL box laundry merapat ke salah satu dermaga modern dekat pelabuhan tua Jakarta, Sunda Kelapa. Gerimis membungkus kota. Bulir hujan sejauh mata memandang bagai kristal di muramnya senja. Julia berbaik hati turun lebih dulu, memberikan payung untuk Opa. Belasan kapal pesiar mewah ukuran kecil mengangguk-angguk perlahan bersama gerakan permukaan laut. Tiang-tiangnya terlihat gagah. Kami berempat berjalan beriringan menuju ujung dermaga, tempat kapal terbesar ditambatkan. 
Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Dermaga sepi, di pos jaga gerbang depan tadi hanya ada dua petugas yang menguap, mengenaliku, tidak memeriksa mobil boks, hanya melambaikan tangan padaku. Meski akhir pekan, ini bukan jadwal berlayar yang baik. Ombak di perairan utara Jakarta relatif besar. Kapal-kapal pesiar tertambat bisu, tidak ada bedanya dengan vila atau rumah peristirahatan yang kosong. Setelah memikirkan berbagai alternatif sepanjang perjalanan dari Waduk Jatiluhur, inilah tempat paling aman menyembunyikan Om Liem. 
Setelah berjalan lima puluh meter, kami tiba di kapal pesiar dengan panjang dua puluh meter, berwana putih, gagah sekali dengan dinding geladak depan bertuliskan Pasifik. Aku membantu Opa menaiki tangga kapal, Julia di belakang Om Liem. Kami melintasi palka tengah, menuju bagian buritan, langsung menemukan seseorang yang sedang asyik memasak sesuatu di dapur kapal.
“Sore, Kadek,” aku menyapa.
“Eh, sore, Pak Thom. Kejutan, kenapa tidak bilang lebih dulu pada saya?” Pemuda berusia tiga puluhan, yang bekerja di kapal merangkap lima jabatan sekaligus: kapten, awak kapal, juru masak, tukang bersih-bersih, sekaligus penjaga kapal, menyapaku tertawa, sedikit terkejut.
“Darurat, Kadek. Aku baru setengah jam lalu memutuskan ke sini.”
“Untung saja saya tidak sedang melepas sauh, Pak Thom.” Kadek menggosokkan tangannya ke celemek, menyalamiku.
“Opa juga kemari?” Kadek menyeringai riang, menilik rombongan. “Kebetulan sekali. Saya sedang masak sup kaki sapi, Opa. Hujan terus dari siang, bosan saya. Mengantuk saya. Jadilah masak saja.”
Opa sudah terkekeh, beranjak mendekat.
Kadek adalah peselancar tangguh, otodidak sejak kecil dari menonton turis. Dia juga pandai mengemudi speedboat, jago memasak, dan telaten. Aku menemukannya saat menjadi konsultan salah satu hotel bintang lima di Nusa Dua, Bali. Kami lantas berteman baik. Aku menawarkannya pekerjaan yang tidak mungkin dia tolak. Mengurus kapal pesiar milik Opa. “Kau bebas membawanya ke mana saja. Terserah. Mau mengelilingi dunia dengan kapal itu boleh. Sepanjang setiap kali Opa atau aku memerlukannya, Pasifik sudah merapat rapi di dermaga.” Sudah hampir tiga tahun Kadek mengurus kapal itu, kadang berminggu-minggu tertambat di dermaga, kadang berbulan-bulan melepas sauh. Dia pernah sendirian membawanya ke Bangkok, ikut pertandingan selancar. Kadek juga pernah membawa Pasifik mengikuti race Australia-Maluku, juga race memutari Amerika hingga New York. 
“Saya belum merapikan kamar-kamar, Pak Thom? Semua masih berantakan. Harusnya Pak Thom bilang-bilang saya. Bagaimana, saya izin sejenak, boleh?”
“Tidak perlu, Kadek. Kau akan segera melepas sauh. Aku hanya sebentar saja di sini.” Aku menggeleng sekaligus melirik jam di pergelangan tangan.
“Sebentar saja? Pak Thom tidak ikut berlayar?” 
“Tidak. Opa dan Om Liem yang akan ikut. Kau tidak perlu berlayar jauh-jauh, hanya mengitari Kepulauan Seribu. Aktifkan telepon genggam satelitmu. Aku setiap saat akan menghubungimu jika terjadi sesuatu. Hindari bertemu dengan patroli laut yang ada, minimalkan kontak dengan siapa pun, tetap mengapung di laut.” Aku mulai memberikan instruksi.
Kadek mengangguk, tangannya kembali mengaduk panci sup. Aroma sup hangat menyebar ke seluruh dapur kapal. Inilah yang aku suka dengannya sejak dulu. Dia tidak banyak tanya. Pengalamannya sebagai peselancar, guide, pengajar kursus mengemudi speedboat, juru masak kafe, tukang suruh-suruh, dan pekerjaan serabutan lainnya di Nusa Dua, Bali, membuat Kadek paham, setiap orang punya urusan masing-masing, urus saja bagian sendiri, sisanya tutup mulut.
“Logistikmu cukup?”
“Cukup, Pak Thom. Untuk seminggu ke depan juga ada. Paling saya butuh mengisi tong air penuh-penuh. Apa saya harus menambah logistik lagi untuk perjalanan jauh, Pak Thom?”
“Tidak perlu. Kau hanya perlu mengapung di Kepulauan Seribu hingga Senin pagi. Itu lebih dari cukup.” Aku menoleh. “Kita segera berangkat, Julia.” 
“Eh?” Julia yang sedang asyik ikut mengerumuni panci sup Kadek menoleh.
“Ayolah, alangkah terburu-burunya, setidaknya kau menghabiskan semangkok sup kaki sapi yang lezat ini dulu, Tommi. Sudah lama kita tidak makan bersama.” Opa tersenyum. “Sepanjang hari kau juga pasti belum makan.”
Aku menggeleng. Ini bukan acara pesiar seperti biasanya.
“Bergegas, Julia. Ada banyak yang harus kita kerjakan.”
Julia mengangguk.
“Segera lepas sauh, tinggalkan dermaga. Jaga mereka berdua dengan hidupmu, Kadek.” Aku berkata pelan pada Kadek yang mengantar hingga tangga kapal.
Kadek mengangguk.
“Tidak ada yang boleh membawa mereka pergi dari kapal ini kecuali aku. Siapa pun itu. Peduli setan jika ada pasukan katak angkatan laut yang mengepung kapal, kau bahkan boleh menggunakan Kalashnikova di kamarku dalam situasi darurat. Mengerti?”
Kadek kali ini menelan ludah. Lantas ragu-ragu mengangguk. 
Aku dan Julia sudah berjalan cepat di pelataran dermaga, kembali menaiki mobil box laundry.
Setidaknya hingga besok pagi, aku bisa menitipkan Opa dan Om Liem ke tangan Kadek.
***
Mobil box laundry meninggalkan Pelabuhan Sunda Kelapa, menuju jantung kota.
“Halo, Maggie.”
“Halo, Thom. Kau baik-baik saja?” Suara Maggie terdengar kencang, bahkan sebelum kalimatku hilang di ujung speaker telepon genggam.
“Aku baik, Mag. Tidak ada yang perlu kucemaskan.”
“Oh, syukurlah.” Suara gadis itu terdengar amat lega. “Dari tadi aku hendak meneleponmu, tapi urung, khawatir kau tidak dalam situasi baik mengangkat telepon, jangan-jangan kau masih dikejar polisi. Jangan-jangan kau malah sedang di sel polisi.”
“Kau baik, Mag?” aku memotong.
“Aku juga baik, Thom. Beberapa petugas sialan itu sempat berjaga di kantor selama satu jam, mengiterogasi, bertanya banyak hal, tapi mereka akhirnya pergi, bosan melihat wajah begoku, menganggapku hanya sekretaris tidak berguna, tidak tahu banyak hal.”
Aku tertawa sambil menginjak rem mendengar gurauan Maggie. Jalanan kota tidak terlalu ramai, tapi gerimis membuat pengendara sepeda motor kadang tidak terlihat. “Mereka benar-benar keliru kalau begitu. Kau sekarang ada di mana?”
“Di mana lagi, Thom?” Maggie berseru ketus. “Aku di kantor sampai kau mengizinkanku pulang.”
Aku menyeringai. “Kau memang staf nomor satu, Mag.”
“Sudahlah basa-basinya, Thom. Semua kesibukan, tegang, panik ini tidak sebanding lagi dengan dua tiket berlibur yang kaujanjikan. Aku akan menuntut lebih.”
Aku mengangguk---meski tentu saja Maggie tidak bisa melihatnya. “Update, Mag. Apa pun yang sudah kauperoleh empat jam terakhir.”
Lampu merah, salah satu perempatan besar kota Jakarta terlihat basah. Motor. Mobil. Ojek payung berlari-lari menyambut penumpang yang turun dari bus. Pedagang asongan. Detik hitung mundur berapa lama lagi lampu merah, terlihat dari balik kaca mobil box laundry.
“Kau sudah membaca koran sore, Thom? Pasti belum, mereka meletakkan berita kemungkinan Bank Semesta ditutup di halaman depan. Sebentar, satu, dua, ya, tiga koran sore melakukannya. Krisis dunia, bla-bla-bla, kondisi terakhir perekonomian nasional, bla-bla-bla, kemungkinan rush, panik bagi nasabah perbankan, bla-bla-bla, sepertinya wartawan dan editor senior yang kita undang melakukan pekerjaannya dengan baik. Aku yakin, besok pagi seluruh surat kabar besar juga akan meletakkan berita ini di headline.”
Aku mengangguk lagi, masih mengamati detik countdown lampu merah.
“Dua situs berita online juga mulai dipenuhi soal ini, Thom. Mereka meletakkannya di baris paling atas, membuat topik diskusi terkait. Sebentar, jumlah hit, sebentar, yaps, masih di nomor belasan sebagai topik paling sering dilihat. Tetapi cepat sekali kenaikan hitsnya, aku pikir besok siang, atau malah besok pagi sudah masuk sepuluh besar berita online yang paling sering diakses, jangan lupa ini masih libur, jadi tidak banyak yang online. Tiket konser itu sepertinya ampuh, Thom.”
Aku mengangguk, masih lima belas detik lagi lampu hijau.
“Kau sudah membaca dokumen pengambilalihan Bank Semesta oleh Om Liem?”
“Belum selesai,” aku menjawab pendek.
“Ada update menarik, Thom. Aku menemukan sesuatu yang akan membuat kau terkejut. Salah satu penasihat keuangan saat proses itu dilakukan adalah Erik.”
Mobil di belakangku menekan klakson. Lampu hijau menyala.
“Erik?” Aku berseru, untuk dua hal. Satu untuk nama Erik, dua untuk betapa tidak sabarnya mobil di belakangku, bergegas melepas rem tangan.
“Benar, Erik teman dekatmu. Ada nama lain yang mungkin menarik buatmu. Salah satu pejabat level menengah bank sentral juga ikut terlibat dalam proses pengambilalihan itu. Mereka menyulap begitu banyak data, bank itu seharusnya ditutup sejak enam tahun lalu.”
Aku sudah tidak mendengarkan penjelasan Maggie lebih lanjut. Ini fakta kecil yang menarik. Nama Erik dan nama pejabat bank sentral itu, aku mengenalnya. Aku bergegas menutup pembicaraan, menyuruh Maggie terus mencari tahu apa yang bisa dia lakukan, “Ya, ya, ya, aku ini memang kacung paling begomu, Thomas. Aku akan menginap di kantor sajalah malam ini.” Maggie berkeluh kesah, tapi aku sudah menutup telepon, membanting setir, mobil berbalik arah seratus delapan puluh derajat, lebih banyak lagi klakson mobil yang marah karena kaget. Aku balas menekan klakson, membuat ramai perempatan. Tidak pernahkah mereka melihat mobil laundry yang terburu-buru mengantar cucian?
“Kita mau ke ana?” Julia yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan bertanya.
“Kita berpisah, Julia.” Aku menoleh selintas.
“Berpisah?”
“Ya, waktu kita terbatas, kita harus bergerak simultan secara terpisah agar bisa melakukan banyak hal. Kau terpaksa sendirian mengurus janji pertemuan dengan menteri itu, gunakan seluruh akses yang dimiliki review mingguan.”
Julia menepuk dahi.
“Aku tahu itu tidak mudah, tapi editor senior kalian teman dekat sejak kuliah dengannya. Usahakan pertemuan ini terjadi paling telat besok siang, Julia. Bilang ke staf, ajudan, atau ke beliau langsung, ada isu penting sekali yang hendak dibicarakan review mingguan kalian. Isu yang menyangkut banyak uang milik perusahaan negara. Aku akan mengurus sesuatu yang lebih penting sekarang.”
“Kau mau ke mana, Thom?” 
“Nanti aku beritahu lewat telepon. Aku harus bergegas. Kau berhenti di mana? Halte depan? Aku tidak bisa mengantar ke kantormu.”
“Di mana sajalah.” Julia terlihat sebal. “Aku naik taksi saja.”
Mobil box laundry merapat sembarangan.
“Aku berjanji akan segera meneleponmu, Julia. Pastikan pertemuan besok dengan menteri terjadi.”
Julia mengangguk.
Aku sudah menekan pedal gas. Saatnya aku merekayasa sesuatu yang lebih serius sekarang.
*bersambung

Jumat, 06 Oktober 2017

Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Episode 13 : Tema Klub Petarung
----------------------------------------
Aku berdiri dengan kaki goyah. Belum sempat memasang kuda-kuda, Rudi sudah meninju perutku. Aku melenguh tertahan, kembali terbanting duduk. 
“Kau pikir kau siapa berani-beraninya melawan, hah? Jagoan?” Rudi membentakku.
Belum puas dia, badanku yang bertumpukan lutut ditarik lagi. Setengah berdiri, tinju Rudi kembali menghantam perutku. Kali ini aku terkapar di lantai.
Hujan semakin menggila di luar.
Tere Liye : Negeri Para Bedebah

Julia berteriak-teriak menyuruh berhenti. Om Liem juga berseru, memohon. Opa menelan ludah. Enam polisi lain justru menyemangati Rudi, mengepalkan tinju. “Habisi dia, Bos”, “Hajar terus, Bos.” Seperti sedang menonton gulat di layar kaca.
Tetapi dua tinju terakhir Rudi tipu-tipu. Itu tidak sungguhan. Kami adalah petarung sejati, mudah saja berpura-pura. Beda halnya dengan petarung bohong-bohongan di layar kaca, mereka pasti kesulitan disuruh berkelahi benaran. Untuk lebih meyakinkan lagi, Rudi menyambar kursi rotan yang terpelanting, lantas dengan wajah merah, berseru kalap, menghantamkannya ke punggungku. Kursi rotan patah dua.
Julia menjerit, menutup mata. Om Liem kehabisan kata. Opa tertunduk.
Salah satu polisi sebaliknya, berseru antusias. “Dahsyat, Bos.”
Petir menyambar di luar. Lengang sejenak sebelum gemeretuk guntur panjang. Rudi merapikan rambut, melemparkan sisa kursi rotan, menatap tubuhku yang tergeletak di lantai, lantas berteriak pada dua anak buahnya. “Buat dia siuman kembali, bersihkan darah di hidungnya. X2 tidak pantas melihat sasaran kita seperti ini. Buat dia lebih rapi.”
Tawa senang penonton dilipat, dua polisi bergegas mendekat, meletakkan senjata, membalik badanku yang terkulai, mengambil kunci, membuka borgol tanganku. Inilah permainan yang Rudi maksudkan. Kursi rotan tadi jelas tidak sempurna menghantam punggungku, ujungnya yang lebih dulu mengenai lantai. Itu trik biasa di dunia gulat layar kaca. Seolah-olah kena telak, tapi tidak. Seolah-olah kursinya penyok, nyatanya tipu. Lantas pegulatnya akan pura-pura terkapar.
Aku jelas tidak pingsan.
Aku bergerak cepat setelah borgolku lepas, tanganku meraih senjata di lantai, hanya dalam hitungan sepersekian detik, memukulkannya ke dagu salah satu polisi yang jongkok hendak membersihkan darah di wajahku. Polisi itu terkapar sungguhan, satu giginya lepas, temannya yang terkesiap tidak sempat bereaksi, aku lebih dulu meraih kerah bajunya, menariknya mundur, lantas mengacungkan senjata persis ke kepalanya.
“Jatuhkan senjata kalian! Jatuhkan!” aku berseru serak. “Atau aku pecahkan kepala teman kalian ini.”
Empat polisi lain mematung. Gerakan tangan mereka yang siap menembakku tertahan. Menoleh pada Rudi, meminta pendapat komandan. 
“Aku tidak main-main, Bedebah! Aku serius!” Aku berseru galak, tanganku menarik kerah seragam polisi yang kusandera kencang-kencang. Dia tercekik, tersengal satu-dua. 
Rudi (seolah) menghela napas tegang, berhitung dengan situasi, lantas melambaikan tangan kepada empat anak buahnya. “Jatuhkan senjata kalian.”
Mereka menurut, perlahan meletakkan senjata di lantai.
“Kau, kemari! Ya, kau!” Aku meneriaki salah satu polisi yang berdiri hati-hati, menatap penuh perhitungan. “Lepaskan borgol mereka!” Aku menunjuk Opa, Om Liem, dan Julia.
“Alangkah bebalnya kau.” Aku melotot marah, senjataku teracung ke depan, menarik pelatuk.
Tiga tembakan menghantam dada polisi yang kusuruh. Dia memakai rompi anti peluru, tembakanku tidak akan melukainya, tapi dengan jarak hanya tiga meter, tubuhnya tidak ayal terpental ke dinding, langsung pingsan.
“Lepaskan borgol mereka, atau kali ini aku akan menembak kepala kalian yang tidak terlindung kevlar.” Aku menatap tiga polisi yang tersisa dengan tatapan dingin.
Salah satu dari mereka menelan ludah sejenak, lantas buru-buru mengeluarkan kunci borgol, mendekati Opa, Om Liem, dan terakhir Julia.
“Nah, sekarang pakaikan borgol itu ke kalian sendiri!” Aku menyuruh.
“Bukan di dua tangan, bodoh!” Aku membentak. “Kaupasangkan kaki dengan tangan.”
Polisi itu bingung, meski akhirnya menurut.
Dua menit berlalu, tiga polisi yang tersisa terborgol sempurna dengan posisi aneh, duduk menjeplak, kaki kanan menyatu dengan tangan kiri, atau sebaliknya. Aku mendorong polisi yang kusandera, memukulkan popor senjata ke kepalanya---ini balasan karena dia menyodokkan senjata ke lambungku. Polisi itu tersungkur.
Petir menyambar untuk kesekian kali. Guntur menggelegar.
“Kau ikut kami! Berjalan di depan.” Aku menodongkan senjata pada Rudi.
“Segera!” Aku meneriakinya.
Rudi patah-patah dengan kedua tangan terangkat melangkah menuju pintu. Opa dibantu Julia bergegas mengikutiku. Om Liem yang masih tidak mengerti apa yang terjadi ikut melangkah.
Di bawah tembakan jutaan bulir air hujan, rombongan kami menuju dermaga belakang, di sana tertambat satu speedboat. Aku menyuruh yang lain segera naik, Opa menghidupkan mesin speedboat.
“Terima kasih, Sobat.” Aku menolah pada Rudi, melemparkan senjata ke permukaan waduk.
“Kau berutang besar padaku, Thom.” Rudi mengusap wajahnya. Hujan deras membungkus kami.
“Aku akan membayarnya lunas dua hari lagi, lengkap dengan seluruh bunganya. Kau pegang janjiku, janji seorang petarung.” Aku menyeka ujung bibir yang terasa asin. Air hujan membuat sisa darah di hidung mengalir.
“Kau akan kabur ke mana sekarang?” 
“Astaga, Sobat? Aku pasti tidak akan memberitahumu.” Aku tertawa. “Kau jelas berada di pihak lawan.”
Rudi mengangguk, menyengir.
Dan sebelum cengirannya hilang, tanganku sudah bergerak cepat, telak meninju dagunya. Tubuh besar Rudi seketika tersungkur di lantai dermaga. Mulutnya berdarah. KO.
“Kau butuh alasan bukan? Nah, bilang pada X2, kau sudah berusaha menangkapku, mengejar habis-habisan, tapi sasaran yang kau kejar memang licik, berbahaya, dan mematikan. Dia sekarang pasti paham kalimat yang dia karang sendiri itu saat menemukanmu semaput di dermaga. Sama pahamnya saat menemukan tiga polisi terkapar di kamar, tiga lainnya diborgol seperti posisi pertunjukan sirkus.” Aku sudah loncat ke atas speedboat. Mengambil alih kemudi dari Opa, lantas menekan pedal gas dalam-dalam. Speedboat melesat membelah waduk yang dibungkus hujan deras. 
Kilat menyambar membuat akar serabut di langit. Guntur menggelegar.
***
“Dia siapa?” Om Liem bertanya. Badannya sekarang terbungkus pakaian dan handuk kering, meski masih menggigil kedinginan. 
“Jangan banyak tanya dulu. Habiskan cokelat panasmu.” Aku mendengus. 
Om Liem menghela napas, mengangguk.
“Julia, perkenalkan, saya Julia, Om.” Julia memperlakukan Om Liem lebih baik, menjulurkan tangan.
“Kau apanya dia?” Om Liem bertanya.
“Teman, Om. Aku wartawan yang pernah mewawancari Thomas.”
“Kau jangan sampai suka padanya.” Opa menimbrung percakapan, tertawa kecil, mengesai rambut berubannya yang setengah basah.
Wajah Julia bertanya, kenapa.
“Karena sekali kau membuat kesalahan besar padanya, sepanjang hidup nasibmu sama seperti omnya. Tidak pernah dipanggil nama langsung lagi. Benci sekali dia.” 
Aku melotot, menyuruh ketiga orang itu bergegas, ini bukan saat yang tepat mengobrol ringan.
Adalah lima belas menit speedboat yang kukemudikan menerobos waduk di tengah hujan deras. Tidak sulit, aku sudah belajar mengemudi speedboat sejak umur enam belas. Melewati keramba ikan penduduk, perahu nelayan yang hujan-hujanan, aku akhirnya merapat di dermaga salah satu resor---itu sebenarnya resor milik Opa. Pegawainya tanpa banyak bertanya apa yang telah terjadi bergegas menyiapkan handuk kering, pakaian ganti, minuman panas.
Pukul dua siang, hujan deras masih membungkus waduk. Entah apa yang terjadi di rumah peristirahatan Opa, boleh jadi X2 dan pasukannya yang siap menjemput kami sedang marah-marah besar. Rencana konferensi pers menghadirkan buronan besar gagal total. Aku tidak peduli, aku sedang gemas menunggu Opa dan Om Liem memulihkan diri, waktuku terbatas, tinggal 42 jam sebelum pukul 08.00 hari Senin.
“Kita harus segera bergerak!” aku berseru tidak sabaran.
“Bukankah kau tadi menyuruhku menghabiskan gelas cokelat ini, Tommi?” Om Liem bertanya.
“Dibungkus saja kalau kau mau,” aku menjawab ketus. “Kita tidak bisa lama-lama, lima belas menit lagi seluruh jalanan keluar dari Waduk Jatiluhur akan diblokade polisi. Mereka akan memeriksa setiap mobil. Mereka sedang marah. Mereka akan melakukan apa pun untuk menangkap kita.”
Julia mengangguk, memanggil petugas resor, meminta disiapkan mobil.
Aku bertepuk tangan. “Bergegas, Opa!”
Opa menghela napas panjang, “Orang tua ini mungkin lebih baik tinggal di sini, Tommi.”
Aku menggeleng. “Tidak. Opa harus ikut ke mana pun aku pergi. Mereka tidak peduli lagi siapa yang terlibat, siapa yang tidak terlibat. Jangan-jangan mereka sekarang sedang mencari pasal yang bisa menuntut sepuluh tahun pembantu rumah Opa, membantu menyembunyikan buronan misalnya.”
Petugas resor kembali dengan kunci mobil.
Aku beranjak keluar, diikuti Julia yang membantu Opa berjalan, dan Om Liem, yang astaga, menuruti perintahku, menerima gelas plastik cokelat hangat dari petugas hotel.
“Ini mobilnya?” Langkah cepatku terhenti persis di lobi depan resor.
Petugas resor takut-takut mengangguk.
“Hanya ini yang tersedia, Pak. Mobil lain sedang menjemput tamu di Jakarta dan Bandung.”
“Bagaimana mungkin kami kabur dengan mobil ini?” Aku menepuk dahi, setengah tidak percaya.
“Tidak ada mobil lain, Pak. Kecuali Bapak mau menunggu setengah jam lagi.”
Ini sungguh paradoks, lelucon atau entah apalah menyebutnya. Sepanjang pagi aku mengebut memakai mobil balap, sekarang ternyata aku harus berhenti di pit stop resor, berganti dengan mobil box laundry milik hotel. Lengkap dengan tulisan besar di dinding luarnya, “SuperClean. Membersihkan apa saja!” 
Aku mendengus kesal, menyuruh petugas hotel minggir dari depanku.
***
****
Episode 14 : Mobil Laundry
----------------------------------
MONEY laundering, pencucian uang, tidak ada bedanya dengan pencucian baju atau celana. Persis seperti bisnis laundry pakaian yang mobilnya sedang kami naiki.
Seharfiah itu saja definisinya. 
Dalam dunia keuangan modern, tidak semua pencipta sistem dan pembuat kebijakan adalah penjahat, beberapa dari mereka bahkan memiliki konsen yang luar biasa atas haram dan halalnya selembar uang---terlepas dari fakta boleh jadi yang bersangkutan seorang ateis. Dalam definisi mereka, uang yang baik adalah uang yang didapatkan dari proses transaksi keuangan lazim, layak, masuk akal, dan disepakati banyak komunitas sebagai transaksi bersih. Uang yang kotor sebaliknya adalah uang yang diperoleh dari transaksi keuangan tidak lazim, tidak layak, dan disepakati banyak komunitas sebagai transaksi kotor. 
Ada banyak sekali aktivitas ekonomi yang masuk dalam daftar transkasi kotor. Mulai dari yang terlihat (dalam film-film), seperti bisnis mafia, triad, geng, pengedar obat-obatan terlarang, perjudian ilegal, penyelundupan, pencurian, pembajakan, perdagangan ilegal, hingga yang tidak kasatmata, seperti uang suap, uang korupsi, dan uang tips yang haram.
Para pembuat sistem dan kebijakan keuangan modern telah membuat regulasi yang jelas, uang haram tidak boleh mengotori uang halal. Bukan semata-mata karena mereka patuh terhadap logika kitab suci, atau taat terhadap sepuluh perintah Tuhan, tetapi lebih karena campur aduk uang haram dan halal jelas merusak keseimbangan. Masuknya uang haram dalam perekonomian yang sah membuat regulator kesulitan memprediksi uang beredar, kesulitan membaca layar penunjuk ekonomi negara.
Karena itulah seluruh negara memiliki Undang-Undang Anti Pencucian Uang. Amerika, misalnya, setiap transaksi di atas 10.000 dolar yang melibatkan perbankan dan institusi keuangan apa pun harus melaporkan muasal uang yang terlibat. Mereka juga meneguhkan prinsip know your customer, KYC. Kalian menabung ke bank di atas 10.000 dolar, maka ada kolom dalam slip setoran yang harus diisi, dari mana uang yang ditabungkan berasal---juga di Indonesia, dengan batasan 100 juta ke atas. 
Lantas apakah urusannya selesai? Tidak. Upaya pencucian uang terus saja terjadi. Ditutup satu pintu, mereka mencari cara lainnya. Pencucian uang sudah berubah menjadi bisnis tersendiri. Ada banyak institusi keuangan yang menciptakan berbagai produk keuangan pintar, bahkan ada beberapa negara yang sengaja tutup mata dengan sumber uang kalian. Cayman Islands misalnya. 
Sesuai undang-undang federal, Amerika mewajibkan setiap warga negaranya yang hendak ke luar negeri dan membawa uang tunai di atas 10.000 melapor pada otoritas bandara. Maka organisasi mafia mengakali peraturan ini dengan menggaji ratusan orang sebagai “turis bayaran” yang pergi berlibur ke Cayman Islands. Mereka menanggung tiket, akomodasi, lantas memberikan segepok uang 9.999 untuk dibawa pergi. Lolos dari loket imigrasi, tiba di Cayman, uang-uang itu melenggang masuk ke perbankan sana. Dari perbankan Cayman, maka dengan mudah uang itu bergabung dengan siklus uang halal seluruh dunia. Ini cara paling manual. Dan jelas cara ini menciptakan lapangan pekerjaan aneh. Siapa yang tidak mau bekerja sebagai “turis bayaran”? Berkali-kali, berkali-kali, berlibur sambil bekerja---organisasi mafia malah akan lebih menyukai jika kalian pergi bersama pasangan berwisata ke Cayman. 
Trik ini memang lambat, tapi jauh lebih aman dibandingkan dengan menumpuk jutaan dolar di bagasi jet pribadi, kemudian dibawa langsung. Ada banyak otoritas yang memperhatikan traffic udara, mereka bisa dengan mudah mencegat jet pribadi dengan sepasang F-16 misalnya, menyuruh mendarat bahkan sebelum meninggalkan wilayah udara Amerika.
Kenapa tidak memilih menabung di bank lokal dengan nominal dibawah 10.000 berkali-kali? Bukankah tidak wajib melapor? Sialnya hampir di semua negara yang meratifikasi Undang-Undang Anti Pencucian Uang pasti punya lembaga khusus untuk menganalisis jutaan transaksi perbankan. Transaksi berulang-ulang, meski kecil, memancing alert dari software tercanggih anti money laundering yang mereka miliki. Jauh lebih aman memindahkan uang secara fisik, bukan melewati perbankan. Kecuali jika kalian memiliki jaringan tinggi di perbankan (atau malah memiliki bank itu sendiri) yang bisa membuat kamuflase atas setiap transaksi keuangan jauh lebih mudah.
“Ada banyak. Tentu saja banyak. Tetapi aku tidak ingat detail satu per satu.” Om Liem menghela napas, setelah diam sejenak. Dia menatap lamat-lamat Julia yang sejak tadi terus bertanya. “Kami tidak bisa menolak uang-uang haram itu masuk ke dalam Bank Semesta.”
“Bukankah pengendali utama Bank Semesta ada di tangan Om Liem?” Julia sudah bertanya lagi.
“Tentu saja di tanganku. Tetapi bagi kami, bankir, sepanjang uang itu masuk ke kami, jumlahnya juga banyak, urusan lain bisa dilupakan. Menerima uang mereka, entah itu dalam deposito, layanan private banking, pembelian sekuritas, dan sebagainya, itu juga memberikan garansi keamanan bisnis bagi Bank Semesta, termasuk juga perlindungan pada grup bisnis.” Om Liem menatap keluar, hujan membungkus jalan tol.
Lima belas menit sejak meninggalkan Waduk Jatiluhur. Opa sejak tadi memilih tidur-tiduran, dia duduk di depan, di sebelahku yang memegang kemudi, sementara Julia dan Om Liem duduk sembarang di belakang, di antara tumpukan pakaian kotor. Aku mengebut di jalanan tol, di tengah hujan deras. Sekali-dua berpapasan dengan mobil polisi yang melesat cepat.
“Garansi keamanan bisnis? Bisa lebih detail, Om?” 
Om Liem mengusap rambutnya yang masih basah, mengangguk. “Uang kotor dari pembalakan hutan misalnya. Kau tidak bisa membayangkan, ke mana saja triliunan uang dari penebangan hutan di Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, bahkan Papua dicuci bersih dalam sistem keuangan kita. Jumlahnya tidak terbayangkan, karena bahkan uang suapnya untuk perwira tinggi polisi, pejabat setempat, orang-orang berkuasa saja bisa puluhan miliar. Kami setidaknya memiliki belasan rekening milik mereka. Lumrah saja, itu barter, mereka melindungi Bank Semesta dan grup bisnis kami dalam setiap kasus. Kami melindungi kerahasiaan data dan transaksi keuangan mereka dari intipan banyak orang.”
“Itu di luar money laundering yang tidak kasatmata. Kau tahu, dari seribu triliun anggaran negara, menurut ekonom senior, hampir dua puluh persen dikorup dan disalahgunakan. Siapa yang menampung uang itu? Perbankan nasional! Uang suap, sogok, pelicin, bahkan uang pajak yang tidak masuk ke dalam kas negara, puluhan triliun nilainya. Ke mana uang itu berlabuh? Perbankan nasional! Kebanyakan orang hanya melihat money laundering dari kegiatan mafia, kejahatan bersenjata. Padahal di luar itu banyak sekali kasusnya. Kami membuka rekening untuk petugas korup, pejabat negara jahat, membuat rekening giro perusahaan fiktif, semua yang mungkin dilakukan. Aku tidak tahu detailnya, kepala cabang dan pemimpin Bank Semesta yang lebih tahu.” Om Liem menghela napas lagi, diam sejenak, membuat bagian belakang mobil box laundry hotel senyap.
“Ini lucu sekali, bukan?” Om Liem tertawa suram.
“Lucu?” Alis Julia terangkat.
“Lucu, bukan? Konvensi perbankan internasional selalu mengingatkan tentang know your customer, bankir di sini jelas-jelas amat know customer mereka. Tahu persis uang-uang itu dari mana berasal.”
“Astaga, tidak bisakah kau berhenti mewawancarai dia? Ini bukan kesempatan eksklusif interviu dengan buronan kelas kakap. Ada urusan lain yang perlu dicemaskan. Kita masih lari dari polisi, kapan saja mereka bisa muncul.” Aku menoleh, memotong sebelum Julia kembali bertanya.
Julia mengangkat bahu. “Aku tidak sedang mewawancarai Om Liem, Thom. Kami sedang mengobrol santai di antara tumpukan seprai, gantungan baju, piyama, jas, dan hei, siapa pula yang mau mencuci boneka panda sebesar ini.” Julia menyeringai kecil menunjuk pojok mobil.
“Bicara santai apanya? Kalian jelas bisa mencari topik lain untuk bicara santai.” Aku bergumam, menekan klakson, menyalip dua truk kontainer.
“Topik apalagi, Thom? Ini sudah topik yang pas, membicarakan money laundering di dalam mobil box laundry.” Julia tertawa.
Aku mendengus, tidak berselera memperpanjang percakapan. Melirik pergelangan tangan, hampir pukul tiga sore, waktuku banyak terbuang sia-sia. Kami harus segera menuju tempat persembunyian baru yang aman. Mobil box laundry melesat cepat memasuki tol dalam kota.