Minggu, 22 April 2018

Selamanya Cinta

(Bagian I)

Hanya lampu temaram yang menerangi saat itu. Aku masih duduk terdiam di muka teras sambil mengumpulkan cerita yang siang tadi bergulir begitu cepat, tapi masih saja menyita dimensi ruang waktu hingga aku tenggelam dalam lamunan.

“Teteh!” panggil adik bungsuku.

“Ni hape teteh bunyi.” Panggilan tak terjawab muncul di ponselku.

“Siapa sih Teh, malam-malam gini telepon?” Tanya adikku dengan rasa penasaran, matanya yang belo dihiasi bulu mata jentik menyorot tajam ke arahku.

“Oh, itu teman kantor Teteh.”

“Ikhwan apa akhwat? Kan ini sudah jam sembilan lebih?” Rentetan pertanyaan adikku seperti memberondong kawanan penjahat saja, pikirku.

Ya,… Anda memang penjahat Mas Faisal, mencuri dan mencari perhatianku. Aku manusia biasa, yang bisa menilaimu sama dengan kaum hawa di manapun. Kamu laki-laki yang cerdas, saleh, disegani banyak teman, dan terkenal dengan gaya bicaramu. Ya Allah, bagaimana aku harus bersikap jika harus bertemu dengannya setiap hari. Mana mungkin aku harus memasang muka masam atau jaim untuk mengekspresikan rasa tidak suka ini. Bukan benci, tapi dengan kau memberikan perhatian lebih padaku, aku jadi tidak nyaman. Bergulir lamunanku, berceloteh rasa dalam hatiku.

Detak jam dinding menjadi ilustrasi musik detak jantungku malam itu. Ingin segera kurebahkan diri untuk rehat, tapi mataku tak terpejam juga. Berkali-kali aku berwudhu, membasuh hati mendinginkan rasa. Perlahan, mataku merajut malam, menjemput embun pagi esok hari.

Kumandang azan Subuh, kulipat selimut hangatku. Alhamdulillah ya Rabb, kumasuki pagi-Mu dengan penuh syukur kepada-Mu. Triiit bunyi ponselku. Muncul tulisan di layar Whatsappku.

“Assalamualaikum Ustazah Zahra, selamat pagi dan selamat beraktivitas”. Tanpa pikir panjang, kubalas pesan Whatsapp itu dengan emotikon jempol. Selang lima menit usai berpakaian dan berkemas, terdengar klakson mobil Arina yang tak asing lagi di pendengaranku.

“Assalamualaikum, Ra. Aku tunggu ya, pagi ini kita jalan bareng dan kita sarapan bareng.”

Aku hanya menjawab singkat, “Ya, tunggu sebentar.”

Arina sahabatku istri dari Mas Faisal, lelaki yang sering mencuri dan mencari perhatianku serta melelehkan imanku. Ya Allah, semoga selalu terjaga. Aku dan Arina bersahabat sejak kecil, kami bersekolah di SMP dan SMA yang sama. Bahkan, di perguruan tinggi pun kami mengambil jurusan yang sama pula. Teman-teman semua sudah mengenali kami, di mana ada Arina di situ ada Zahra.

Selamanya Cinta ilustrasi Amanina Asiah Qonita/Republika

Awal pertemuan dengan Mas Faisal pun Arina selalu bercerita kepadaku. Hingga mereka menikah dan kini kurang lebih lima belas tahun usia pernikahannya. Namun, selama usia pernikahan itu Arina sahabatku tidak juga menampakkan kehamilan. Padahal, aku melihat dari raut mereka betapa mereka rindu malaikat kecil yang menghangatkan rumah mereka.

Hingga suatu saat Arina pernah bercerita kepadaku tentang kondisinya, Arina tidak bisa lagi memberikan anak untuk Mas Faisal karena ada kelainan dalam rahimnya. Akan tetapi, Arina pun tidak bisa menutupi kegundahan Mas Faisal yang merindukan momongan.

Hingga pada suatu saat Arina pernah menangis dan menghambur dalam pangkuanku bahwa baru saja Faisal menelepon seorang wanita dan berbicara mesra sekali. Aku terhenyak, darahku mendesir hangat. Jangan-jangan Arina tahu bahwa Mas Faisal sering meneleponku atau mengirimkan pesan singkat kepadaku melalui Whatsapp. Dia menangis histeris dan mengulang kata-katanya.

“Aku tidak ridha Zahra, kalau Mas Faisal menikah lagi.” Kata-kata itu yang selalu kuingat manakala Mas Faisal menggodaku.

“Ra, pulang ngantor mau ke mana?” Tanya Arina di sela-sela merapihkan berkas-berkas kerjanya. Jam sudah menunjukkan pukul 16.45 saat itu.

“Ya, langsung pulanglah. Si bungsu dan Mamah menungguku untuk makan malam bersama,” jawabku.

“Ra, maaf ya, jangan marah nih kalo aku tanya,” sambung Arina.

“Mau tanya apa?” Jawabku tanpa melirik.

“Kangen ga, Ra, dinanti suami atau anak di rumah? Kalau kangen ayo segera cari pasangan, berani eggga pacaran. Harus berani dong, jodoh itu harus dicari, itu bagian dari ikhtiar loh.” Ulas Arina sambil mengaitkan tas pada pundaknya. Aku hanya tersenyum, menyimak ulasan Arina tentang kesendirianku.

“Ya sudah, nanti aku kasih info ke kamu via Whatsapp saja ya, Ra?” Tegas Arina sambil mencium kedua pipiku tanda pamitan “Oke, aku tunggu ya,” jawabku.

Ahad yang cerah mentari bersinar cerah dengan memantulkan pijarnya masuk ke jendela kamarku. Perlahan kuputar nasyid indah kesukaanku dari grup nasyid Edcoustik yang berjudul “Jalan Masih Panjang”. Triit, bunyi ponsel menghela ke asyikanku saat itu.

“Assalammualaikum Ra, aku mohon doa darimu, jam dua pagi tadi aku terbang ke Singapura, kelainan di rahimku harus segera diangkat karena jika di diamkan akan menjalar ke yang lainnya,jika operasi berjalan lancar aku akan mengahabiskan waktuku di Singapura. Aku akan tinggal bersebelahan dengan apartemen Omku, dan Mas Faisal berjanji akan mengadopsi anak dari Indonesia. Sementara Mas Faisal akan bertugas dulu di Riau selama dua tahun ini. Sekali lagi mohon doanya ya, Ra.” Getir dan perih menyelinap di hatiku, teryata Allah membeikan ujian pada manusia dari sisi mana saja.

Dua bulan berlalu, aku tak lagi bertemu Arina di kantorku. Sementara, Mas Faisal yang semula Izin ke Arina untuk bertugas di Riau semakin intens menemuiku. Benteng pertahanan hatiku jebol juga. Hingga pada suatu malam pada malam Ahad Mas Faisal menemui Mamah dan menuturkan keinginannya untuk menjadikan aku istri kedua setelah Arina. Mamah seorang Muslimah yang taat syariat baginya di lamar menjadi pertama atau kedua tidaklah masalah, apalagi usiaku yang sedang merangkak tua, tiga tahun lagi usiaku genap empat puluh tahun. Maafkan aku Arina, bukan aku mendustaimu. Mas Faisal mengutarakan ini untuk menjaga dirinya dari zina, Mas Faisal mengutarakan seluruh kegundahannya selama ini, Mas Faisal merindukan manisnya kehidupan berumah tangga dengan pelayanan terbaik, kesehatan yang baik dan hadirnya seorang anak. Mas Faisal manusia biasa begitu juga aku. Bismillah. Aku menerima lamaran Mas Faisal.

Akad pernikahan yang indah dan penuh kebahagian meskipun dalam suasana yang sederhana. Terima kasih Mas, semoga aku bisa menjagamu dari sikap flamboyanmu, dan dari lirikan wanita-wanita nakal. Semoga dengan aku di sampingmu, engkau menjadi lelaki terbaik dan imam terbaik yang akan menarik kami ke surganya Allah.

Waktu berlalu begitu cepat, hinga detik kehidupan berdenyut dalam rahimku.

“Mas, aku hamil,” begitu teriakanku, memanggil Mas Faisal yang sedang berkemas. Mas Faisal akan bertolak ke Singapura mengunjungi Arina. Haru bahagia menyelimuti kami di pagi itu, Mas Faisal memeluk erat dan merangkul Mamah serta adik bungsuku.

Sukacita kami tak terbayangkan dengan kata-kata saat itu. Tiba saatnya Mas Faisal pamitan padaku.

“Jaga diri baik-baik Umi, Abi akan mengunjungi umi tiga bulan berikutnya, mohon ridhanya. Dan mohon doakan Arina agar segera pulih.” Begitu pinta dan izin pertama kalinya Mas Faisal kepadaku. Perih menyayat hatiku, tapi aku segera beristighfar, ini garis tangan yang Allah berikan untukku.

“Pergilah, Mas. Fii amanilah. Aku akan se lalu merindukanmu, dan doaku ada dalam setiap langkah kakimu.” Kucium tangan hangatnya, dan Mas Faisal memeluk dan mencium keningku. Yaa Rabb semoga ini bukan pelukan dan ciuman terakhirnya untukku.

Aku dalam penantian panjang, kandunganku terus membesar, jagoan Mas Faisal semakin hari semakin mendesak ingin keluar, sementara aku ingin persalinanku ditemani Mas Faisal. Namun, kenyataan berkata lain, aku melahirkan bayi laki-laki yang tampan tanpa Mas Faisal di sam pingku. Hingga waktu berlalu, ratusan Whatshapp ter-pending tanpa ceklis ataupun warna biru. Begitu pun dengan panggilanku. Ada apa dengan Mas Faisal semoga baik-baik saja. “De, kita berdoa untuk Abi yuk, semoga Allah selalu menjaga Abi di mana pun Abi berada.” Aku tak peduli Mas Faisal membaca emailku atau tidak, kutuliskan perkembangan hari demi hari jagoan kecil kami yang kuberinama Hibban Faisal Akmal. Kukirimkan foto dan video Hibban hari demi hari, sampai aku lelah untuk mengirimkannya.

Cerpen Suzi (Republika, 15 April 2018)
Bu Suzi, begitu ibu dari empat putra-putri ini disapa. Ibu yang memiliki nama lengkap Susilowati ini lahir di Banten, 6 Oktober 1973. Tak sengaja menjadi guru, begitu ungkapnya. Mengawali karir sebagai penyiar radio swasta di Bogor dan public relations di salah satu lembaga penyiaran swasta pada tahun 1993-1998. Karir gurunya dirintis pada tahun 1999, merasa tidak memiliki ilmu keguruan Bu Suzi menimba ilmu pendidikan Islam di STIAI Gunung Puyuh Sukabumi. Lalu mendirikan sekolah Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu TKIT Rohmatul Ummah kini TAAM Rohmatul Ummah. Tahun 2008-2012 Bu Suzi menimba ilmu kependidikan di Universitas Terbuka. Belajar sepanjang hayat itu adalah moto hidupnya. Di mana pun dan dengan siapa pun selalu ada ilmu yang didapatkannya. Selain aktif di berbagai komunitas pemberdayaan perempuan, ibu dengan empat anak ini pernah menjadi Dosen di STAI Al Hidayah Bogor dan kini Bu Suzi merupakan salah satu staf pengajar di PONDOK PESANTREN AL-MINHAJ SHAHABAH.

Pengalaman menulis buku Bu Suzi peroleh pada 2008 dengan menulis buku Aritmatika Sempoa untuk Sekolah Dasar Kelas 1-6 yang diterbitkan oleh Insantama Pers. Pengalaman menulis artikel diperoleh Bu Suzi bersama Komunitas Guru Menulis dan Membaca (KAGUM LITERAT) dalam buku Asa Terurai Karya Tertuai dan Dari Pinggiran Menjadi Pusaran yang diterbitkan oleh KAGUM PUBLISHER, genre penulisan Bu Suzi tidak hanya di sekitar nonfiksi, Masih Ada Matahari Terbit yang diterbitkan oleh D3 MQail adalah antologi puisi pertamanya bersama 45 Wanita Penulis Puisi Indonesia, dan rasa cintanya untuk Bogor Bu Suzi dedikasikan melalui antologi Senandung Rindu Bogorku, Bogormu, Bogor Kita, bersama Komunitas Pegiat Literasi Bogor. Selain menulis Buku, Bu Suzi menulis juga di web gurusiana.id.

Kamis, 05 April 2018

Hari Libur Kebinasaan

SEPULUH tahun lalu Herolena yang beberapa kali disalahpahami sebagai keturunan para nabi, mengharapkan Tuhan menurunkan firman-firman baru tentang kematian. “Tidak adil Tuhan terus-menerus tidak memberi pekerjaan kepada malaikat pencabut nyawa. Tidak adil setiap saat kita menghadapi hari libur kebinasaan. Orang-orang Ranarene makin lama kian takut pada kehidupan. Mereka ingin merasakan kematian yang indah juga,” ujar Herolena kepada diri sendiri.

Saat itu ketika berjalan-jalan di perdesaan penuh rumah-rumah bertaman luas, ia melihat beberapa perempuan tua menggantung diri di pohon-pohon berdaun biru, tetapi tak ada seorang pun yang mati. Beberapa lelaki menusukkan pedang ke perut, tak seorang pun yang menjemput ajal. Kali lain dia melihat puluhan anak terjun bebas dari pohon tertinggi, tetapi mereka justru tertawa riang begitu kepala-kepala mungil itu menghujam ke tanah penuh batu-batu dan koral.

Setahun kemudian ada rombongan pedagang dari luar kota meminta izin Herolena, yang pada waktu itu dipercaya jadi Kepala Desa Ranarene, untuk tinggal di lapangan terluas di perdesaan. Mereka mendirikan tenda-tenda warna-warni.

Warga Ranarene tidak begitu tahu apa yang dilakukan para pedagang. Ketika melewati lapangan, pada saat-saat tertentu-paling tidak tujuh kali sehari-mereka hanya mendengar ada yang berteriak keras-keras melantunkan semacam aba-aba, lalu para pengembara itu berdiri menghadap ke arah selatan, membungkuk, menelungkup, menyungkurkan diri, menelungkup lagi, berdiri lagi, dan mengakhiri tindakan itu dengan menangis bersama.

Mereka baru tahu ada yang bernama Krosakbabikri ketika lelaki bercula lembut dan berjubah merah muda itu menawarkan aneka benda yang bakal menjadikan Ranarene sebagai perdesaan beradab. Menjadi tamu terhormat Herolena, Krosakbabikri memperkenalkan radio.

Cerpen Triyanto Triwikromo Koran Tempo ilustrasi Imam Yunni
Hari Libur Kebinasaan ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Tentu saja Herolena takjub mendengarkan aneka suara berupa bisikan lembut, percakapan sengau, teriakan-teriakan tak jelas, nyanyian-nyanyian keras, dan doa-doa serupa racauan yang terdengar dari kotak ajaib itu.

“Kau bisa mendengarkan apa pun yang berasal dari kawasan yang jauh dari benda yang ditemukan oleh para cendekiawan terkemuka ini,” kata Krosakbabikri.

“Apakah kami bisa mendengarkan suara Tuhan?”

“Kau bahkan bisa mendengarkan suara iblis.”

“Suara hewan-hewan di langit?”

“Tentu,” kata Krosakbabikri sambil memutar-mutar tombol, “Kau juga bisa mendengarkan suara orang-orang yang sedang menggali emas di dasar bumi.”

“Berapa harga benda ini?” tanya Herolena.

“Kau hanya perlu menukar radio ini dengan sebidang tanah dan beberapa pohon yang bisa kami gunakan untuk membangun rumah.”

Herolena menyetujui permintaan Krosakbabikri.

Beberapa hari kemudian, Krosakbabikri menawarkan topeng berbahan kulit tipis yang jika dikenakan akan membuat sang pemakai memiliki wajah yang berbeda. Pada saat sama Krosakbabikri juga menawarkan cermin seukuran wajah manusia.

“Semua benda yang kujual akan membawamu ke dunia lain. Apakah kau siap hidup dengan banyak kejutan?”

“Jangan memberiku kemustahilan,” kata Herolena.

“Justru hal-hal yang dianggap mustahil yang selalu akan kutawarkan kepadamu.”

“Kau akan memberi tahu bagaimana aku melihat segala apa pun yang akan dilakukan Tuhan?”

“Pada saatnya nanti kau akan tahu apa pun yang disembunyikan oleh pengetahuan. Kau akan tahu berapa jumlah malaikat dan apa pun yang mereka sembunyikan selama ini. Kau akan tahu berapa jumlah nabi dan apa yang tak boleh mereka lakukan di dunia.”

Herolena tampak masih hendak mendebat, tetapi Krosakbabikri lebih cepat meminta kepala desa itu segera mengenakan topeng dan menggunakan cermin. Herolena lalu memilih salah satu topeng. Dia memilih topeng pria berwajah garang. Dia kemudian bercermin.

“Ya, Tuhan!” Herolena melepaskan cermin, “Siapa dia?”

Krosakbabikri tak segera menjawab pertanyaan, tetapi lebih berjuang menyelamatkan cermin yang jatuh. Hup! Cermin itu terselamatkan.

“Siapa dia?” tanya Herolena.

“Itu kamu juga.”

“Dia lebih garang dari semua lelaki Ranarene.”

“Ya, tetapi dia bukan orang lain,” kata Krosakbabikri, “Tetapi sudahlah kau jangan terlalu kagum pada ilmu pengetahuan yang kuperkenalkan kepadamu. Pada akhirnya nanti semua hal menjadi biasa setelah kau ketahui rahasia-rahasianya. Yang penting sekarang, kau mau membeli topeng dan cermin atau tidak?”

“Berapa harganya?”

“Kau hanya perlu memberiku beberapa bukit dan sebatang sungai.”

Herolena tidak keberatan. Herolena akan keberatan jika para pedagang, meminta segala satwa di langit dan di sungai-sungai. Karena itu dia bilang kepada Krosakbabikri, “Kau boleh minta bukit, tetapi jangan kauminta kupu-kupu, burung-burung, segala satwa melata, dan hewan apa pun yang berkeliaran dan terbang di kawasan itu. Kau boleh minta sungai, tetapi jangan kau minta kepiting, ikan-ikan, belut atau apa pun hewan yang berada di tempat itu. Apakah kau setuju?”

Krosakbabikri mengangguk. Radio, cermin, dan topeng pun berpindah tangan.

***
SUDAH sebulan Herolena asyik masyuk dengan radio. Meskipun ada siaran tentang presiden-presiden dari negeri-negeri jauh yang tumbang akibat kudeta, ia tetap hanya terpaku pada siaran tentang danau-danau yang bisa menyedot orang-orang yang merindukan kematian cepat.

“Tempat mati yang indah ini bernama Danau Megattutek,” kata sang penyiar, “Berbondong-bondonglah menyongsong kematian dengan cara berdiri satu kilometer dari tepi danau. Tunggulah badai datang. Biarkan tubuhmu diterbangkan oleh badai itu hingga ke atas danau.”

“Setelah itu?” Herolena bertanya dalam hati.

Radio tidak menjawab. Tak lama kemudian muncul bunyi krusak-krusek. Herolena memutar tombol untuk mendapatkan sinyal. Hanya sebentar suara radio menjadi jernih kembali.

“Akan tetapi kehendak untuk mati itu racun,” kata penyiar itu, “Siapa pun sebaiknya mati secara wajar. Tidak perlu diburu-buru. Tidak perlu dinanti-nanti.”

“Enak saja bicara seperti itu,” Herolena membatin, “Kami sudah bertahun-tahun menunggu kematian tetapi Tuhan tak pernah berkenan memberikan kematian kepada kami. Tuhan mungkin sudah lupa pernah menciptakan kami. Atau Tuhan hanya memberikan kehidupan tetapi sama sekali tak memberikan kematian kepada kami. Kami takut menjadi abadi.”

Tentu saja penyiar tidak mendengarkan keluhan Herolena. Penyiar yang sepanjang waktu tidak pernah mendengarkan apa pun yang dikeluhkan oleh para pendengar itu dengan santai bilang, “Agama yang baik selalu menyediakan cara-cara menjemput kematian yang indah. Agama yang buruk selalu menganggap kematian hanyalah omong kosong.”

“Omong kosong?” Herolena membatin lagi, “Agama kami tak pernah menganggap kematian sebagai omong kosong. Kematian bagi agama kami ibarat zat asam. Ia ada meskipun kami tidak pernah melihat warga Ranarene menjemput ajal.”

“Tetapi,” kata penyiar, “Telah muncul agama baru yang disyiarkan oleh nabi baru. Agama ini khusus untuk para pemuja kematian. Siapa pun yang ingin segera mati segeralah memeluk agama yang ritualnya selalu dimulai dari berteriak keras-keras melantunkan semacam aba-aba, lalu berdiri menghadap ke arah selatan, membungkuk, menelungkup, menyungkurkan diri, menelungkup lagi, berdiri lagi, dan diakhiri dengan menangis bersama itu.”

Kali ini Herolena agak terkejut. Dia merasa telah mengenal agama itu. “Jangan-jangan ini agama yang dianut oleh Krosakbabikri. Jangan-jangan Krosakbabikri bukan sekadar pedagang. Jangan-jangan Krosakbabikri adalah nabi baru yang disebut-sebut oleh penyiar itu?” Herolena tak bisa menjawab pertanyaan itu. Dia yakin setelah bertemu dengan Krosakbabikri akan bisa menjawab pertanyaan itu.
***
SAYANG sekali justru ketika sangat dibutuhkan, Krosakbabikri tidak berada di Ranarene. Kata para pedagang lain, Krosakbabikri sedang berada di kota lain.

“Dia bersama para pedagang pengembara sedang menjemput para penemu Kitab Halali di Gua Raelling dekat Sungai Copottati.”

“Kitab Halali?” tanya Herolena sambil mengenang nama kitab yang dia dengar lima tahun lalu.

“Ya. Itu kitab untuk orang-orang yang ingin meninggalkan agama lama. Itu kitab baru yang selama 1.300 tahun menghilang dan dihalang-halangi untuk dibaca oleh siapa pun.”

“Apa keistimewaan kitab itu? Melebihi kitab berisi kisah-kisah para rasul? Berisi kisah-kisah pewahyuan?” tanya Herolena mencoba memancing pengetahuan sang pedagang agar segera menguar.

“Kitab itu mengajari siapa pun untuk mendapatkan cara mati yang indah.”

“Siapa nama nabi paling agung di kitab itu?”

“Aku belum paham benar siapa nabi atau Tuhan di kitab itu. Yang jelas, Krosakbabikri akan menjual kitab itu kepadamu.”

“Apakah Kitab Halali berbeda dari kitab-kitab lama?”

“Tidak terlalu berbeda. Namun ada rahasia-rahasia lain yang jika dibaca 1.300 tahun lalu akan membuat siapa pun tidak percaya pada Tuhan masa kini atau meledek nabi-nabi yang telah memberikan teladan-teladan indah.”

“Apa rahasia-rahasia lain itu?”

“Itu yang belum kubaca. Aku hanya mendengar dari Krosakbabikri semua agama yang kita anut hari ini salah. Diperlukan kitab baru agar orang benar-benar mendapatkan surga yang benar-benar surga.”

“Memang ada surga palsu?”

“Semua surga yang dipercayai orang-orang masa kini palsu.”

“Siapa yang bilang?”

“Krosakbabikri.”

“Dari mana Krosakbabikri tahu semua surga yang dipercayai oleh orang-orang masa kini palsu?”

“Dari Kitab Halali.”

Herolena tidak percaya pada jawaban semacam itu. Pengetahuan Herolena tentang Kitab Halali berbeda. Kata para pedagang barang antik, kitab itu sebenarnya lebih ingin menyatakan, dunia tidak diciptakan oleh satu tuhan. Karena tidak diciptakan oleh satu tuhan, tuhan lain bisa menjadikan kehidupan tanpa kematian atau kehidupan sehari dua-hari. Para tuhan juga tidak menciptakan satu surga dan satu neraka. Malah ada juga yang tidak menciptakan surga dan neraka. Adapun nabi utama kitab itu bernama Poo, saudara kembar Kain yang tidak pernah diceritakan di kitab-kitab lama.

Kitab Halali ditulis oleh Bahib Hozameh. Baib Hozameh adalah pria setinggi 2,9 meter yang mengaku mendapatkan wahyu rahasia dari Nabi Poo. Apa ajaran utama Nabi Poo? Ada 13. Pertama, semua manusia diciptakan oleh tuhan yang suka berperang. Tuhan yang meminta para umat bertikai sepanjang masa. Kedua, malaikat diciptakan dari kotoran kuda. Karena itulah derajat para malaikat tak pernah bisa setinggi manusia. Ketiga, musuh utama manusia bukan iblis. Manusia adalah raja-raja yang bertakhta di kerajaan iblis. Keempat, minta mati secepat mungkin kepada tuhan dan nabi adalah kebajikan tertinggi. Hidup sehari-dua hari merupakan tindakan suci. Kelima, Tuhan tak menghendaki manusia berkorban terus-menerus. Keenam, puncak pengkhianatan manusia terjadi jika mereka hanya percaya pada satu tuhan. Ketujuh, berdaganglah dengan orang-orang bodoh. Kedelapan, pilihlah pemimpin yang berani menista agama lama. Kesembilan, jika ingin mati cepat, matilah di bawah pohon pisang. Ke-10, teriakkan nama tuhan dan nabi keras-keras saat berperang. Ke-11, jangan bergurau ketika bercinta. Ke-12, membunuhlah sesuka hati jika agamamu dilecehkan. Ke-13, bakarlah kitabmu jika kau merasa tidak perlu beragama dan bertuhan lagi.

Selesai menulis Kitab Halali, Bahib Hozameh melarikan diri ke Negeri Gurun Muruah. Dia hendak dibunuh oleh para serdadu Kacrut Bokaah. Setelah itu Kitab Halali hilang. Bahib Hozameh juga tidak pernah kembali ke Kacrut Bokaah. Dia juga tidak pernah ke Ranarene, bagian tak penting dari Kacrut Bokaah itu.

Apakah orang-orang Kacrut Bokaah pernah membaca Kitab Halali? Sebagian ada yang membaca. Orang-orang yang tinggal di Gua Raelling dekat Sungai Copottati pernah bertemu dengan Bahib Hozameh. Mereka juga pernah membaca Kitab Halali. Kini, Krosakbabikri sedang menjemput penemuan Kitab Halali dan akan menjual aneka kisah rahasia yang termaktub di buku itu kepada Herolena.

Ada juga Kitab Halali versi Homaz Raceetha. Kitab itu ditulis oleh Raceetha dengan bahasa Hejo, bahasa kuno Kacrut Bokaah. Inti ajarannya: Pertama, tuhan hidup tetapi tidak pernah menciptakan apa pun. Apa pun yang berkait dengan dunia dikreasi oleh manusia. Kedua, kehancuran dunia tidak akibat tangan jahil tuhan melainkan oleh ulah manusia sendiri. Ketiga, manusia pada akhirnya hanya akan jadi budak dari apa pun yang diciptakan oleh manusia.

Yang mengejutkan pernah muncul Kitab Halali versi Huzum Ogreh. Huzum Ogreh menyatakan, “Semua tuhan telah mati. Semua agama telah hancur. Semua nabi hanyalah nonsens. Tuhan, agama, dan nabi bisa diciptakan siapa pun dan kapan pun.”

Hingga saat ini Herolena belum menjadi penganut agama yang disyiarkan oleh Kitab Halali.
***
SEBELUM bertemu dengan Krosakbabikri, Herolena membaca Kitab Halali versi Homaz Raceetha. Herolena heran mengapa di kitab itu tertulis, “Tuhan bersabda pada Nabi Poo: Tinggalkan agama yang sekarang ini. Aku akan memberimu rahasia-rahasia untuk mati secara cepat. Kau juga tidak perlu lagi percaya kepada surga dan neraka.”
Karena itulah begitu bertemu dengan Krosakbabikri, Herolena bertanya, “Apakah Kitab Halali berkisah tentang rahasia-rahasia untuk memperoleh kematian tercepat?”
Krosakbabikri mengangguk.
“Apakah Tuhan meniadakan dirinya sendiri di kitab itu?”
Krosakbabikri mengangguk.
“Apakah tak ada surga dan neraka di kitab itu?”
Krosakbabikri mengangguk.
“Apakah setiap orang bisa jadi nabi?”
Krosakbabikri mengangguk.
“Apakah kau akan menjual Kitab Halali versi Bahib Hozameh kepadaku?”
Krosakbabikri mengangguk.
“Berapa harganya?”
“Kau tidak perlu membayar sedikitpun untuk kitab ini. Kau hanya perlu menjadi penganut agama yang disyiarkan oleh Kitab Halali.”
“Menjadi penganut?”
“Ya, kau harus meninggalkan agama lama.”
“Kalau aku memberimu setengah Ranarene, apakah kau tetap akan memintaku menjadi penganut agama baru?”
“Kauberi satu desa pun, aku tak akan memberikan kitab itu kepadamu jika kau tidak menganut agama baru.”
“Apakah setelah membaca Kitab Halali dan menganut agama yang ditawarkan, orang-orang Ranarene akan bisa menjemput kematian dengan gampang?”
Krosakbabikri mengangguk.
Tak ada cara lain, demi kematian yang agung, Herolena menerima tawaran Krosakbabikri.
***
AKAN tetapi semua tindakan Herolena hanyalah taktik untuk mendapatkan pengetahuan tentang kematian. Meskipun demikian, Herolena tetap membaca prinsip-prinsip yang termaktub di dalam Kitab Halali. Menurut kitab itu para tuhan ada begitu saja di dunia. Para tuhan tak menciptakan apa pun karena alam semesta juga muncul begitu saja. Meskipun demikian, pada suatu masa, terjadi perang antar-tuhan. Banyak tuhan terbunuh dan muncul satu tuhan yang paling perkasa.

Tuhan yang paling perkasa itu kemudian bersabda kepada Nabi Poo. “Poo kau adalah juru selamat orang Yoalhude yang dikirim oleh Tuhan orang Yoalhude untuk menggenapi Kitab Halali. Kau dan umatmu dari belahan dunia mana pun harus beribadah sesuai yang dilakukan oleh orang Yoalhude. Tak patuh pada ayat-ayat di Kitab Halali akan membuat siapa pun tak bisa mendapatkan kematian yang indah.”

“Mengapa Tuhan orang-orang Yoalhude merupakan tuhan yang mengancam?” pikir Herolena.

Di Bab Horombale Pasal 1 Ayat 12 juga terdapat ancaman. “Aku (Poo, nabimu) tidak menyukai orang-orang yang lemah. Berperanglah demi agamamu. Berperanglah demi nabi dan tuhanmu.”

Herolena tak nyaman membaca ayat-ayat semacam itu. Karena itulah setelah mempelajari ayat-ayat yang berkait dengan cara cepat memperoleh kematian, dia punya gagasan menghilangkan pengaruh Kitab Halali. Pertama, dia tak akan mensyiarkan kitab itu di Ranarene. Kedua, dia akan membunuh Krosakbabikri. Dia tidak akan menusuk jantung Krosakbabikri tetapi hanya akan meracun lelaki bercula lembut itu dengan sorareh, yakni minuman keras khas Ranarene, sebanyak-banyaknya.
***
APAKAH Krosakbabikri bisa mati di Ranarene? Herolena yakin hari libur kebinasaan hanya berlaku untuk warga Ranarene. Karena itulah sebelum Krosakbabikri bertamu ke rumah, Herolena sudah mempersiapkan sorareh. Namun, di luar dugaan, Krosakbabikri datang ke rumah Herolena bersama 13 pedagang berobor yang kini lebih tampak sebagai serdadu itu.

“Aku tahu kau tak akan mensyiarkan Kitab Halali kepada warga Ranarene. Aku sejak dulu tahu kau lebih setia pada agama lama yang dianut oleh warga Ranarene. Tetapi ketahuilah, aku datang ke desa ini bukan untuk berdagang. Aku ke sini untuk menyebarkan agama baru. Aku akan membunuh siapa pun yang menghalangiku,” kata Krosakbabikri, “Aku sendirilah yang akan menyebarkan segala ayat yang termaktub di dalam Kitab Halali.”

Herolena kaget. Meskipun demikian, Herolena menantang Krosakbabikri. “Aku tak takut mati. Mati adalah kebajikan tertinggi warga Ranarene.”

“Kami akan membakarmu,” kata Krosakbabikri.

“Aku tak takut pada apimu. Aku tak takut pada apa pun yang akan kaulakukan kepadaku.”

Lalu, tak menunggu lama, tanpa disuruh oleh Krosakbabikri, sebagian pedagang memborgol tubuh Herolena di tiang dengan tali, sebagian lagi memukul kepala Herolena dengan linggis, sebagian lagi segera membakar kaki, tangan, dan seluruh tubuh Herolena.

Juga tidak perlu menunggu lama, Herolena mulai terbakar. Saat itu Herolena mulai tidak yakin apakah hari libur kebinasaan masih berlaku di Ranarene. Herolena hanya mendengar Krosakbabikri berteriak, “Bunuh tuhan lamamu! Bunuh Tuhan lamamu! Aku akan mengampunimu.”

Membunuh Tuhan? Herolena tidak yakin apakah dia bisa membunuh Tuhan. Meskipun demikian, Herolena masih punya hasrat. Mati atau tak mati, Herolena menentang apa pun yang akan dilakukan Krosakbabikri. Herolena sama sekali tidak takut meskipun dalam gemuruh 13 pedagang yang berteriak-teriak menyebut nama tuhan dan nabi mereka, api terus menjalar ke tubuhnya yang rapuh.

“Aku hanya takut pada keabadian, ya Tuhan. Aku hanya takut jika tak mati-mati sepanjang waktu yang Kauciptakan untukku.”
 Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 24-25 Maret 2018)
Triyanto Triwikromo adalah peraih Penghargaan Sastra 2009 Pusat Bahasa dan Tokoh Seni 2015 Pilihan Majalah Tempo. Ia antara lain menulis kumpulan cerita 
Ular di Mangkuk Nabi dan Surga Sungsang.

Minggu, 01 April 2018

Gadis Kecil Beralis Tebal Bermata Cemerlang

Ketika pertama kali aku melihatnya, aku sudah bertanya tanya dalam hati. Aku melihatnya dari jendela kereta api menjelang keberangkatanku dari stasiun S menuju kota J. Seorang gadis cilik beralis tebal berdiri sendirian di peron, memandangiku. Semula aku kira dia sedang mengantar dan ingin melambai seseorang lain, orangtuanya atau saudaranya atau siapa. Tapi kulihat matanya yang cemerlang tertuju langsung kepadaku dan hanya kepadaku. Saya membayangkan atau mengharapkan dia tersenyum. Bila tersenyum, pasti akan semakin indah bibir mungil itu. Tapi dia sama sekali tidak tersenyum. Hanya pandangannya saja yang tidak terlepas dari diriku. Aku sama sekali tidak bisa menafsirkan atau sekadar menerka ncrka kehadiran dan pandangannya. Wajah manis itu tidak mengekspresikan apa apa.

Sampai keretaku berangkat, wajah gadis kecil beralis tebal bermata cemerlang itu masih memandangiku. Anak siapa gerangan? Mengapa sendirian di stasiun? Bukan. Menilik pakaian dan sikapnya, dia pasti bukan gelandangan. Pakaiannya bersih, sikapnya mantap. Dan matanya itu, mata yang cemerlang itu, meski tidak memancarkan kegembiraan, tidak menyiratkan sedikit pun penderitaan atau sekadar kegelisahan seperti umumnya kebanyakan mata anak gelandangan.

Keretaku semakin melaju. Stasiun yang menyimpan misteri gadis kecil itu sudah lenyap dari pandangan. Tapi wajah gadis kecil itu tak kunjung hilang dari benakku. Dia terus mengikutiku. Sampai kondektur memeriksa karcis. Sampai kru KA menyuguhkan makan malam. Sampai aku makan. Sampai aku tertidur.

Tahu-tahu aku sudah sampai di stasiun kota J. Dengan taksi aku menuju rumah kenalanku yang menjanjikan akan mengenalkanku dengan adiknya yang katanya cantik seperti bintang film kesukaanku. Sopir taksi menanyakan seperti biasa. “Lewat mana?” Saya pikir ini kiat sopir taksi untuk mengetahui apakah penumpangnya ngerti jalan atau tidak. Kalau ketahuan tidak mengerti jalan, maka dia putar-putar seenaknya agar argonya bisa tinggi. Maka aku bilang, “Terserah abang sajalah!” Dan ternyata karena aku memang tidak mengerti jalan, aku pun tidak tahu apakah dia putar-putar atau tidak.

Gadis Kecil Beralis Tebal Bermata Cemerlang ilustrasi Wayan Kun Adnyana/Kompas
Gadis Kecil Beralis Tebal Bermata Cemerlang ilustrasi Wayan Kun Adnyana/Kompas


Rumah kenalanku, Sahlan, terletak di kampung yang padat Aku keluar masuk gang, tanya sana-sini, haru akhirnya ketemu. Rumahnya sederhana sekali seperti umumnya rumah-rumah yang lain.

Sahlan senang sekali melihat aku benar-benar datang memenuhi janjiku. Saking senangnya dia kelihatan seperti gugup. Sebentar-sebentar masuk lalu keluar lagi dan setiap keluar ada saja yang dibawanya: yang minuman, kue-kue, rokok. Terakhir dia bawa peralatan mandi. “Mandi dulu apa?” tanyanya kemudian dijawab sendiri. “Ya, sebaiknya kamu mandi dulu biar segar.” Aku nurut

“Kok sepi? Kau sendiri ya?!” tanyaku ketika dia mengantarku ke kamar mandinya.

“Ya, bapak dan ibu sedang mudik ke M. Aku sendirian dengan adikku, jaga rumah.”

Entah mengapa ada rasa lega ketika mendengar dia sendirian dengan adiknya. Tapi di mana dia gerangan? Mau bertanya agak malu juga, jadi aku diam saja.

“Ini kamarmu. Kalau ingin istirahat dulu, silakan lho!” katanya ramah, “Jangan malu-malu. Anggap saja rumah sendiri!”

Di kamar mandi aku mendengar suara gadis sedang menyanyi lagu India. Ini pasti suara adiknya, pikirku. Merdu juga. Pasti orangnya cantik.

Habis mandi aku langsung masuk ke kamar yang disediakan, entah kamar siapa. Mungkin kamar orangtuanya. Kamar ini juga sederhana tapi bersih sekali. Aku ganti baju dan suara lagu India itu masih terus kudengar.

“Sarapan dulu, Mas!” tiba-tiba terdengar suara Sahlan dari luar kamar. “Oke!” jawabku dari dalam kamar.

Ketika aku keluar. Masya Allah, aku tertegun. Kulihat di depanku, seorang perempuan menatapku. Alisnya tebal, matanya cemerlang, dan senyumnya manis sekali; persis seperti yang dimiliki gadis kecil yang menatapku di stasiun S. Tak mungkin perempuan ini ibu dari gadis cilik itu. Terlalu muda sebagai ibu. Atau kakaknya? Tapi Sahlan pernah mengatakan dia hanya mempunyai seorang adik perempuan.

Perempuan itu memberi isyarat, mempersilakan ke meja makan sambil tersenyum manis sekali. Aku mengangguk dengan gugup. Sahlan sudah duduk di meja makan sambil membaca koran. Syukur dia tidak memperhatikan kehadiranku dan tidak melihat kegugupanku. Aku segera memperbaiki sikapku seolah-olah tidak ada apa-apa dan langsung menuju meja makan. Perempuan itu duduk di samping Sahlan. Aku pun mengambil tempat duduk di depan mereka. Merasa saya sudah bergabung, Sahlan buru-buru melipat korannya dan mempersilakan.

“O ya, kenalkan dulu, ini Shakila,” katanya sambil melirik perempuan bermata cemerlang di sampingnya, “Adikku. Adik ketemu gede, ha-ha. Istriku tercinta!” Deg. Ada sesuatu seperti memalu dadaku. Ternyata istrinya. Asem, kau Sahlan, batinku.

Perempuan itu mengulurkan tangannya. Dengan kikuk aku pun mengulurkan tanganku. Kami berjabatan tangan dan terasa ada getar yang kurasakan; entah bersumber dari tanganku atau tangannya yang lembut. Kembali berkelebat wajah gadis kecil di stasiun.

“Ayo, kita mulai! Nanti keburu dingin rawonnya!” Sahlan kembali mempersilakan. Tanpa berbicara sepatah pun, istrinya mengambilkan nasi untukku dan suaminya. Kami, maksudku aku dan Sahlan, makan sambil mengobrol. Istrinya sama sekali tidak ikut bicara. Hanya sesekali tersenyum; seperti ketika suaminya menceritakan asal-usul namanya yang seperti nama bintang film India itu. Bahkan ketika aku sengaja bertanya sesuatu kepadanya, Sahlan yang menjawab. Sekejap terlintas dalam pikiranku, jangan-jangan istri Sahlan ini bisu. Ah, tidak, lha tadi yang kudengar menyanyi lagu India, kan, dia.

Sehabis makan, aku dan Sahlan masih meneruskan berbincang-bincang, tepatnya Sahlan yang bercerita dan aku hanya kadang-kadang membumbui pembicaraanya; sementara istrinya membereskan meja makan dengan diam. Untunglah Sahlan termasuk jenis manusia yang senang berbicara tanpa peduli didengarkan atau tidak; sehingga dia tidak menyadari kalau aku tidak begitu konsentrasi mendengarkannya. Konsentrasiku terpecah antara mendengarkan pembicaraannya dan memikirkan istrinya. Sejak melihat kemiripannya dengan gadis kecil di stasiun dan mendengar suaranya menyanyikan lagu India, aku mengharap dia itulah adiknya. Ternyata Sahlan, sengaja atau tidak, telah mempermainkanku. Yang dia bilang adiknya ternyata istrinya.

Tiba-tiba Sahlan menepuk lenganku dan berkata seolah-olah dia tahu apa yang sedang kupikirkan, “Kau tahu, adikku itu, eh, istriku itu, betul-betul perempuan istimewa. Betul-betul istimewa. Dia berbicara tidak menggunakan mulut. Mulutnya hanya untuk tersenyum dan bernyanyi. Mungkin kau mendengar nyanyian India tadi, itulah lagu kesukaannya. Merdu ya?! Tapi dia hanya berkata-kata dengan matanya dan sesekali dengan senyumnya. Sejak berkenalan, aku tidak pernah mendengar dia berbicara dengan mulut. Tadinya kukira dia bisu—dan aku tidak peduli biar bisu sekali pun, aku sudah telanjur kesengsem oleh senyum dan matanya yang cemerlang itu—ternyata bila sendirian. sedang mandi, mencuci, atau memasak di dapur, dia menyanyi.”

Sahlan berhenti ketika istrinya datang membawa dua cangkir kopi. Saat meletakkan cangkir kopi di depanku, saya melihat matanya yang cemerlang seperti mempersilakan. “Terima kasih!” kataku dan senyumnya yang manis kulihat seperti mengatakan, “Terima kasih kembali!”

“Lihatlah,” kata Sahlan begitu istrinya berlalu, “dari tadi kau tidak melihatnya berbicara, tapi kau pasti merasakan dia berkata-kata kepadamu. Itulah istriku yang lebih suka kusebut dan kuperkenalkan sebagai adikku. Perkenalanku dengannya juga cukup aneh. Waktu itu aku sedang berada di atas kereta yang akan berangkat dari stasiun S. Dari jendela kereta, kulihat dia, waktu itu masih seorang gadis kecil, berdiri dekat gerbong keretaku. Matanya yang cemerlang memandang lurus ke mataku tanpa berkedip. Aku mencoba tersenyum. Ternyata dia membalas senyumanku dengan senyumannya yang manis itu.”

Sahlan berhenti sejenak matanya menerawang, seolah-olah sedang mengingat-ingat masa lalu. Aku sendiri kontan teringat gadis kecil beralis tebal yang juga memandangiku di stasiun S ketika keretaku akan berangkat.

“Percaya atau tidak.” tiba-tiba Sahlan melanjutkan, “beberapa tahun kemudian ketika aku pulang ke M setelah capek keluyuran seperti kau sekarang, ibuku memperkenalkanku dengan seorang gadis cantik beralis tebal bermata cemerlang. Gadis yang tak lain dan tak bukan ialah gadis yang pernah kulihat di stasiun S. Singkat cerita, ketika ibuku menawariku untuk mengawini gadis yang bernama India itu, tanpa pikir panjang aku mau. Kami kawin dengan wali hakim, karena dia gadis lola, tak punya orangtua dan saudara. Ia adalah anak asuh kawannya ibuku yang memu-ngutnya sejak bayi. Kawan ibuku itu menemukan bayi di stasiun S dan sudah diurus ke mana-mana, tak ada yang mengakuinya. Akhirnya kawan ibuku itulah yang memeliharanya. Beliau menamakannya dengan bintang film India kesayangannya, Shakila.” Aku tak lagi mendengar apakah Sahlan masih terus berbicara atau tidak karena tiba-tiba gadis kecil beralis tebal dan bermata cemerlang datang, entah dari mana, dan tersenyum manis sekali.

Cerpen A. Mustofa Bisri (Kompas, 01 April 2018)
A Mustofa Bisri, lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agus-tus 1944, dari keluarga santri. Belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Dikenal sebagai kiai yang mengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang. Gus Mus, demikian namanya lebih dikenal, telah menghasilkan beberapa buku kumpulan puisi dan cerpen.

Sabtu, 24 Maret 2018

Tere Liye : Kisah Cinta Sie Sie

“Adalah Han, kuli kasar di pabrik tahu. Istrinya ibu rumah tangga yang repot mengurus anak-anak sekaligus repot bekerja sebagai babu separuh hari di rumah orang kaya. Keluarga Han tinggal di pinggiran Singkawang, daerah kumuh, tidak sedap dilihat, tidak enak dicium. Jauh lebih baik gang sempit tepian Kapuas milik kita.

“Dari tujuh anak mereka, adalah Sie Sie anak tertua, gadis remaja usia enam belas. Mekar menjadi kembang daerah kumuh itu, rambutnya panjang, tinggi semampai, berkulit putih, berlesung pipit dan amboi manis sekali senyumnya. Kalau kau bertemu dengan Sie di oplet, tidak akan menyangka dia amoy dari keluarga miskin, atau gadis remaja yang setiap hari harus bekerja keras, mengurus enam adik sejak shubuh buta sampai larut malam saat adiknya yang masih bayi jatuh tertidur.

“Kalau saja Sie ditakdirkan lahir di keluarga berada, lemari di rumah mereka pasti penuh dengan piala-piala, gadis itu pintar, rajin dan tidak suka mengeluh. Sejak kecil sudah terbiasa membantu orang-tuanya. Lihatlah, dia bisa ditemukan di rumah sedang menggendong adiknya yang paling kecil, sekaligus menyuapi dua adiknya yang lain, meneriaki adiknya yang cukup besar agar berhenti bertengkar, sambil menjahit pakaian dengan singer tua berkarat. Sayangnya Sie tidak sekolah, tidak berpendidikan. Satu-satunya keahlian dia adalah membuat baju pesanan yang dipelajarinya sendiri, itupun untuk membantu beban orang-tuanya.

“Keluarga mereka mampu bertahan hidup dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun hingga cobaan besar itu datang, ketika Ibu Sie Sie jatuh sakit. Apalagi yang diharapkan dari pemukiman kumuh, air bersih terbatas, ventilasi rumah buruk, lantai lembab? Semua mengundang banyak penyakit, Ibu Sie kena paru-paru basah, penumonia. Kondisinya memburuk, parah karena tidak segera mendapat pengobatan yang baik.

“Sejak Ibu mereka sakit, separuh penghasilan keluarga hilang, sialnya harus ditambah dengan pengeluaran baru, uang untuk membeli berbagai obat yang tidak kunjungmenyembuhkan. Semua beban itu jatuh pada Sie Sie, selain mengurus enam adik-adiknya, dia juga harus merawat Ibunya, ditambah pula harus bekerja hingga larut malam menyelesaikan pesanan baju yang bayarannya tidak seberapa. Tidak terbayangkan, gadis usia enam belas memikul beban fisik dan pikiran sebanyak itu. Dan situasi semakin rumit saat Bapak mereka dipecat dari pabrik tahu, ketahuan mencuri brankas uang—tidak tahan dengan kesulitan yang ada, Bapak mereka mengambil jalan pintas.”
Pak Tua berhenti sejenak, meneguk teh aroma melati di atas meja.

Andi menatap gelas teh tidak sabaran.

“Di tengah situasi kacau-balau, Han mereka masuk bui, sakit istrinya tambah parah, harus segera dibawa ke rumah sakit, Sie Sie mendengar kabar ada pemuda Taiwan yang datang ke Singkawang mencari istri. Sie tentu sering mendengar percakapan, bisik-bisik tetangga tentang ‘nikah foto’. Dua orang teman dekatnya, setahun silam juga dipaksa orang-tua mereka menikah dengan lelaki dari Hongkong. Sie Sie sendiri yang menyaksikan dua temannya itu menangis hingga kering air-mata, Sie Sie sendiri yang memeluk, menghibur, melakukan apa saja untuk dua temannya yang tidak punya kekuatan menolak. Sie benci dengan pernikahan itu, sebenci dia dengan kemiskinan dan kebodohan yang menjerat mereka.

“Sayangnya, kebencian yang besar terkadang tidak cukup untuk melawan sesuatu. Malam itu, Ibu Sie jatuh pingsan, tubuh membiru, dengus nafas mulai habis. Bapak mereka yang masih di penjara tidak membantu. Sie Sie sendirian, dengan menumpang oplet, susah payah membawa Ibunya ke rumah sakit, pihak rumah sakit menolak Ibunya tanpa jaminan pembayaran. Sie terjepit. Di tengah situasi darurat itu, di tengah kalut pikiran, tidak ada tetangga, kerabat atau sahabat yang membantu, Sie Sie memutuskan mengambil pilihan yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya, pilihan yang amat dia benci, dia bersedia menjadi istri belian.

“Berangkatlah Sie Sie ke hotel itu, tempat pemuda dari Taiwan mencari istri. Sudah ada lima amoy pendaftar di lorong hotel, berbisik-bisik. Pemuda Taiwan itu ditemani salah-satu karyawan hotel melakukan seleksi—sepertinya karyawan hotel itu sudah terbiasa dengan proses mencari amoy. Ke sanalah Sie Sie pergi, mendaftar menjadi calon istri belian.”

Pak Tua berhenti sejenak, memainkan sumpit, menghela nafas.

Aku dan Andi ikut menghela nafas. Sementara malam semakin larut, restoran tempat kami menghabiskan choi pan tinggal berisi satu-dua pengunjung. Pelayan restoran terlihat asyik mengobrol dengan bahasa China.

“Nama pemuda Taiwan itu adalah Wong Lan, anak semata wayang dari keluarga kaya. Keluarga mereka punya pabrik tekstil, hidup makmur, berkecukupan. Sejak usia Wong Lan menginjak kepala tiga, Bapak Ibunya sudah sibuk mengingatkan agar dia segera menikah, mencari gadis pilihan, membina keluarga sendiri. Sayangnya, sejak usia tiga belas, kelakuan Wong Lan jauh bumi jauh langit dari harapan orang tuanya. Dia malas sekolah, lebih suka keluyuran, merokok, minuman keras, berjudi, berteman dengan orang-orang salah. Tabiatnya buruk, suka berteriak, dan kadang memukul pembantu di rumah. Bapak Ibunya berharap, kalau Wong Lan akhirnya menikah, maka perangainya akan sedikit berubah. Maka tidak terhitung anak gadis kenalan, kolega bisnis, tetangga yang diajak ke rumah, berkenalan dengan Wong Lan, sia-sia, anak semata wayang mereka lebih suka hidup bebas.

“Saat usia Wong Lan tiga puluh lima, orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat terbang di atas Laut China Selatan. Dari jasad yang tidak pernah ditemukan, orang tua Wong Lan mewariskan pabrik tekstil dan semua harta benda pada anak semata wayang mereka. Dan karena besar sekali harapan serta keyakinan Ibunya bahwa Wong Lan akan berubah setelah punya istri dan anak, maka surat warisan yang dipegang pengacara keluarga mensyaratkan dia harus telah menikah untuk memperoleh semua harta-benda. Isi wasiat itulah yang membuat kapiran semua masalah, Wong Lan cerdas, tidak hilang akal, dia tahu tentang amoy Singkawang, maka berangkatlah dia mencari istri yang bisa dibeli, yang tidak banyak tingkah.

“Wong Lan tidak jelek, apalagi buncit. Dia tampan, kacik sedikit dibanding ketampanan kau, Andi.” Pak Tua bergurau, tertawa, “Tetapi perangainya buruk. Apalagi dari awal, niat pernikahan itu sudah tak lurus. Dia mencari istri sekadar memenuhi syarat agar harta warisan jatuh padanya. Pemuda itulah yang ditemui Sie Sie di kamar hotel. Karyawan penginapan yang menemani wawancara berbisik kalau yang satu ini sepertinya memang masih gadis, bukan amoy tipuan seperti yang sebelumnya. Berbisik ini, berbisik itu.

“Dalam pertemuan lima belas menit itu, Sie hanya sekali menatap wajah Wong Lan, dan sekujur tubuhnya berontak, dia hampir muntah menahan rasa benci atas apa yang telah dilakukannya. Hanya karena bayangan wajah Ibunya yang sekarat, membuat Sie bertahan. Sie mendengar syarat-syarat yang disampaikan oleh pemuda Taiwan itu, yang sepertinya berkenan melihat Sie.

“Wawancara itu ditutup dengan angka nominal harga pernikahan itu. Sie hanya menunduk, mencegah orang melihat dia menangis, mencengkeram pahanya agar tidak gemetar, dia mengangguk, sepakat. Sekian ratus ribu di bayar saat pernikahan dilangsungkan, sekian puluh ribu akan dibayar setiap bulan untuk keluarga Sie selama setahun ke depan. ‘Kalau semua sudah beres, apakah pembayaran bisa dilakukan sekarang?’ Sie dengan suara bergetar bertanya. Karyawan hotel yang membantu Wong Lan tertawa, bilang, mana ada pembayaran sebelum menikah. Sie menahan tangis bilang dia butuh uang segera, berharap kalau memang memungkinkan, pernikahan dilangsungkan hari itu juga. Astaga, Sie yang dulu benci sekali dua temannya dipaksa menikah, hari itu, siang itu, justeru yang meminta pernikahan dilaksanakan segera.

“Kalian tahu, Borno, Andi,” Pak Tua menghela nafas panjang, ikut tertunduk dalam-dalam, menekuri meja makan restoran, “Dalam hidup ini, kita masih beruntung, karena kita selalu punya banyak pilihan. Apapun masalah kita, tetap saja banyak pilihan solusi yang tersedia. Sie Sie tidak punya. Dia sungguh tidak punya pilihan. Bapaknya di penjara, Ibunya sekarat, adik-adiknya butuh makan, pernikahan ini akan memberikan jalan keluar. Jaman itu, uang ratusan ribu terbilang besar, dan pembayaran bulanan yang dijanjikan pemuda Taiwan nilainya tiga kali lipat dari penghasilan keluarga mereka selama ini.

“Pikirannya buntu, bagi Sie, itu lebih terhormat dibanding mengemis, meminta-minta atau menjual diri seperti gadis-gadis lain. Lagi-pula, tidak ada hukum yang melarang membeli istri, bukan? Itu sah, anggap saja pembayaran mahar. Sie berlari sepanjang halaman hotel dengan air-mata berlinang. Dia ingin berteriak, tapi kerongkongannya kelu, dia ingin marah, pada siapa? Pada Tuhan? Keputusan itu dia ambil sendiri, tidak ada yang bisa disalahkan. Semua pilihannya sendiri, apapun resiko dan harganya.

“Surat wasiat Ibu Wong Lan mensyaratkan pernikahan resmi, maka surat-menyurat harus diurus, itu kabar baik bagi Sie, karena banyak amoy lain yang tidak jelas status hukumnya. Wong Lan ingin segera membawa istri pulang ke Taiwan, Sie Sie ingin segera punya uang, tujuan yang cocok, karyawan hotel segera berangkat mengurus dokumen. Menjelang malam karyawan hotel itu datang ke rumah sakit, mengabarkan semua beres, semua siap. Pernikahan bisa dilaksanakan kapan saja, tinggal membubuhkan tanda-tangan.

“Dan tibalah waktunya Sie bilang kepada Ibunya tentang keputusan gila yang telah dia buat. Kalian bayangkan, ruangan gawat darurat, pukul sepuluh malam, hanya ada Sie dan Ibunya yang terbaring lemah di ranjang. Suster jaga menunggu di sudut ruangan, dokter sudah pulang. Sie gemetar, mengabarkan pada Ibunya, perihal dia akan menjadi isteri belian, dibawa orang asing pergi ke negeri seberang lautan.

‘Sie janji, Ma. Sie janji semua akan baik-baik saja.’
Remaja enam belas tahun itu memeluk ibunya, menahan menangis.
‘Kau tidak boleh melakukannya, Nak.’
‘Sie janji, Ma.’ Gadis itu berbisik terisak.
‘Kau sungguh tidak boleh melakukannya, Nak.’ Ibunya terbatuk pelan, ikut menangis.
‘Keputusan Sie sudah bulat, Ma. Semua sudah diatur, semua sudah selesai, Sie sudah jadi istri orang.’ Sie Sie menyeka bibir Ibunya, ‘Biarlah, Ma. Tidak mengapa. Dengan begini… dengan begini Ma bisa sembuh, kita punya uang untuk makan, adik-adik bahkan bisa sekolah.’
‘Tidak boleh, Nak. Tidak boleh. Ya Tuhan, semua ini salah kami. Kenapa Sie yang harus menanggung semua beban?’ Ibunya tersengal.
Sie Sie memeluk erat Ibunya, ‘Sie janji, Ma. Pernikahan ini akan bahagia. Sie akan mencintai dia apa adanya. Sie janji Ma, dia juga akan mencintai Sie apa-adanya.’

Aku dan Andi tercenung, bersitatap satu sama lain.

Tentu saja Pak Tua tidak meng-adegankan kejadian itu dalam ceritanya, tidak bilang seperti apa dialognya, tapi kami bisa membayangkan betapa menyakitkan kejadian itu. Mengingatkanku pada keputusan almarhum Bapak mendonorkan jantungnya dulu, ketika aku mengamuk di lorong rumah-sakit. Itu sama menyakitkan, bedanya aku menolak pengorbanan Bapak, Sie Sie justeru memilih mengorbankan dirinya.

“Andi, Borno, itulah janji suci yang diucapkan seorang amoy yang masih berusia enam belas tahun. Dia berjanji, akan mencintai apa-adanya suaminya yang datang dari antah berantah. Dan dia juga berjanji, akan membuat suaminya mencintainya apa-adanya. Sie Sie berjanji akan memaksa perasaan itu tumbuh mekar di pernikahan mereka.” Pak Tua menengadahkan kepala, menatap langit-langit restoran, “Ah, cinta, selalu saja misterius. Bisa apa seorang gadis tanggung enam belas tahun di negeri orang? Menikah dengan seseorang yang bertabiat buruk dan sejak awal sudah benci pernikahan itu. Bisa apa dia?”

***

Dan waktu berjalan cepat.

“Wong Lan membawa Sie Sie ke Taiwan esok paginya, lebih cepat lebih baik. Kepergian yang menyedihkan, karena tidak seperti pengantin baru yang dilepas dengan perasaan suka-cita, doa-doa dan pengharapan, tidak ada satu pun kerabat yang mengantar Sie ke terminal bus menuju Pontianak, kemudian menumpang pesawat ke Jakarta, transit di Singapura lantas Taiwan.Sie Sie bahkan tidak sempat pamit pada Bapaknya, menyedihkan.

“Dia sudah berdiri di depan pintu ruang bezuk, kakinya gemetar, matanya basah, dan saat sipir penjara berteriak memanggil, “Siapa yang bernama Sie Sie? Bapak Han sudah menunggu di dalam.” Sie justeru sedang membujuk mati-matian agar dirinya berdiri tegar, “Siapa yang bernama Sie Sie? Waktu bezuk hanya setengah jam?” Petugas berteriak, kepalanya melongok. Sie menggigit bibir sampai terasa asin, dia ingin bertemu Bapaknya sebelum pergi jauh, ingin mengabarkan keputusan itu, meminta doa restu. “Woi, mana yang namanya Sie Sie? Aku tidak akan menunggu seharian di sini, ada banyak urusan lebih penting.” Petugas mendengus marah. Sie sudah menangis, dia berlarian sepanjang lorong, kakinya berkhianat, menyuruh menyingkir sejauh mungkin.

“Kalian tahu, dari ketinggian langit, tidak macam penumpang yang pertama kali naik pesawat terbang, antusias melihat cakrawala luas, awan-awan putih, Sie hanya menatap kosong batas pulau Kalimantan. Entah di mana Singkawang, di mana Pontianak, di mana kotanya, yang terlihat hanya kontras warna biru gelap dan biru muda yang semakin memudar. Dia sudah ribuan kilometer meninggalkan tanah kelahiran. Sie Sie menyeka ujung mata, dia berjanji, ini untuk terakhir kalinya dia menangis, tidak, dia tidak akan lagi menangis apapun yang terjadi. Dia berjanji sungguh-sungguh, menyeka ingus. Sementara suaminya, Wong Lan, sejak pesawat lepas landas mendengkur tidak peduli di kursi sebelah.”

Pak Tua diam sebentar, menghela nafas.
Aku dan Andi ikut menghela nafas.

“Mereka tidak banyak bicara sepanjang perjalanan, juga tidak banyak bicara saat tiba di rumah keluarga Wong. Tidak ada acara menyambut menantu, tidak ada kerabat, tetangga bahkan pembantu yang tahu mereka datang. Peduli Wong Lan hanya satu, mengundang pengacara sesegera mungkin, memperlihatkan Sie Sie, surat menyurat dan bukti dokumen pernikahan sah. Syarat telah dipenuhi, harta warisan keluarga resmi menjadi milik Wong Lan. Senang bukan kepalang pemuda Taiwan itu, hingga tidak peduli mau apa, hendak apa, dan siapa Sie Sie baginya. Cuma pada pengacara itu Wong Lan mengaku Sie istrinya, sedangkan pada tamu yang berkunjung, teman yang datang, Wong santai bilang kalau Sie adalah pembantu impor dari Indonesia, “Gajinya murah, cukup diberi makan tiga kali sehari. Sudah senang dia. Kau mau kucarikan satu?” Bergaya Wong Lan menunjuk-nunjuk jidat Sie Sie.

“Tidak ada di keluarga itu yang menghargai Sie, termasuk pembantu sekalipun. Sopir, tukang kebun, tukang pel, di belakang sibuk memonyongkan bibir tanda tidak suka, “Istri belian, wanita murahan, statusnya lebih rendah dibanding kita.” Membiarkan gadis usia enam belas itu berjuang sendiri melakukan penyesuaian. Negeri baru, iklim baru, musim panas, musim dingin, musim semi, mana ada salju di Singkawang? Aksen dan kosakata mandarin yang berbeda, racikan bumbu masakan yang berbeda, cara berpakaian yang berbeda, semuanya berbeda.

“Dua tahun berlalu, dengan pengalaman mengasuh enam adiknya selama ini, setidaknya Sie cukup tangguh. Wong Lan juga belum menyakiti Sie secara fisik, orang-orang di rumah meski tidak respek, tidak berani menunjukkan rasa benci secara terbuka. Dua tahun itu, Sie menyibukkan diri, belajar menjadi istri yang baik, melakukan apa saja yang bisa dia kerjakan, melayani suami sebaik mungkin, menyiapkan baju, memasangkan dasi, menyemir sepatu, berlarian membawa tas kerja, menyiapkan makanan, merapikan tempat tidur. Memasang wajah riang, tidak peduli meski Wong Lan melempar piring, mencaci masakannya, tidak peduli walau Wong Lan merenggut dasi yang dipasangkan, menginjak tangannya saat melepas sepatu. Sie sudah berjanji pada Ibu, dia akan mencintai suaminya apa-adanya.

“Nah, bicara tentang Ibu, persis di penghujung tahun kedua, sepucuk telegram terkirim dari Singkawang, isinya pendek:
Tadi malam senin tanggal dua satu bulan lima pukul delapan tiga puluh kma Ibu meninggal di RSU tidak perlu dicemaskan Ibu akan segera dikebumikan esok pagi. peluk sayang dari adik adikmu.
“Kelu bibir Sie Sie membaca telegram itu. Uang memang berhasil memperpanjang usia, tapi takdir tidak pernah terkalahkan. Sie ingin pulang ke Singkawang, setidaknya melihat pusara merah Ibunya. Sie rindu adik-adiknya. Sie juga rindu memeluk Bapaknya. Apalah yang bisa dia lakukan? Di rumah besar itu, sepeser uang pun dia tidak pegang, paspor, surat-menyurat terkunci rapat di lemari besi Wong Lan. Apakah dia akan menunjukkan telegram itu pada suaminya? Wong Lan tidak pernah peduli urusan Sie, ekspresi wajahnya selalu sama, menyingkir, urus saja diri kau sendiri.

“Situasi memburuk saat pernikahan memasuki tahun ketiga, bukan karena memang di tahun-tahun itu rasa bosan, masalah, salah-paham lazim muncul bagi kebanyakan pasangan, tapi karena pabrik tekstil kecil Wong Lan terkena imbas krisis harga minyak tahun 80-an, ekonomi Taiwan mengalami kemunduran. Dan situasi diperburuk dengan kenyataan Wong Lan tidak becus mengurus pabriknya. Dia lebih suka keluyuran dibanding mengawasi pekerja, lebih suka berkumpul dengan teman-temannya dibanding kolega bisnis, lebih suka bersenang-senang dibanding memikirkan strategi dagang yang baik. Aliran uang mulai tersendat, hutang menumpuk, tabiat Wong Lan yang suka marah-marah dan memukul kambuh. Siapa lagi yang bisa dicaci dan dipukul seenak perutnya? Sie Sie.

“Usia gadis itu dua puluh ketika masa-masa siksaan fisik datang. Pagi ditampar, siang dijambak, malam ditendang. Dan situasi terus memburuk dari hari ke hari. Teman-teman dekat Wong Lan pergi, tak ada uang, tak ada kesenangan, semua menjauh darinya. Pekerja pabrik macam kartu remi dirobohkan, satu persatu berhenti, termasuk orang-orang kepercayaan orang tua Wong Lan dulu, pembantu di rumah, hanya soal waktu minta berhenti, tidak tahan dengan marah-marah sepanjang hari. Hanya tersisa Sie Sie sebagai sansak, pelampiasan seluruh tabiat buruk suaminya sendiri. Siang-malam Sie tersiksa lahir-batin, macam di terowongan gelap tanpa titik terang. Bangun pagi hanya untuk menjemput hari menyedihkan berikutnya. Sementara pabrik tekstil Wong Lan mati segan hidup tak mau, mereka bertahan hidup dari sisa harta benda.

“Dua tahun masa kelam, datang kabar besar, Sie Sie hamil. Dia mengandung buah cinta, kalau memang ada cinta di pernikahan itu. Seharusnya itu kabar baik. Jauh langit jauh bumi, Wong Lan malah menuduh Sie dihamili orang lain, memukuli istrinya yang sedang hamil muda. Itu situasi darurat, tidak mungkin Sie membiarkan kandungannya dalam bahaya, dia akhirnya memutuskan mengungsi, ditampung oleh keluarga konsulat Indonesia. Kasus itu menarik perhatian polisi lokal Taiwan, penyidikan dilakukan, Wong Lan ditahan. Hampir enam bulan dia masuk penjara, lihatlah, tidak seharipun Sie alpa mengunjunginya, membawakan rantang makanan kesukaan, memasang wajah riang bertanya apa kabar. Dan apa balasan Wong Lan? Acuh tak acuh, menatap benci Sie Sie, mengutuknya sebagai penyebab bala bagi seluruh keluarga, membuat pabrik bangkrut, “Dasar wanita pembawa sial.” Tidak sehari pun dengusan seperti itu alpa diterima Sie. Wong Lan tidak peduli perut istrinya semakin membesar, tidak peduli wajah berseri-seri istrinya, yang tetap sungguh-sungguh melayani dan berusaha membatalkan seluruh proses pengadilan.

“Usia bayi mereka satu bulan saat Wong Lan dibebaskan. Setidaknya, dengan kehadiran bayi di rumah, walau mulutnya tetap kotor, Wong Lan berpikir dua kali untuk memukuli Sie. Anak pertama mereka laki-laki, tampan macam Bapaknya, rambutnya lurus hitam legam seperti Ibunya. Wong Lan tidak peduli, sama tidak pedulinya meski nama anak itu mewarisi namanya. Dia jarang ada di rumah, selalu pergi, dan saat pulang, mulutnya bau alkohol, pakaiannya kusut, rambutnya berantakan, dan selalu berteriak-teriak. Wong Lan tidak memenuhi kebutuhan Sie dan bayi mereka, dia sendiri saja menjual hampir seluruh harta benda yang ada. Kebiasaan judinya datang tak tertahankan, satu persatu perabotan digadaikan. Tinggallah Sie yang harus menanggung keperluan, susu si kecil, kebutuhan rumah tangga. Kabar baik, dia pernah melakukannya di Singkawang, waktu usianya enam belas, tidak masalah dia melakukannya sekali lagi di Taiwan. Sie menerima pesanan jahitan, membuat poster, berkeliling dari pintu ke pintu sambil menggendong si kecil, menawarkan jasa membuat baju.
“Dua tahun bertahan hidup, Sie hamil lagi, bayi kedua. Percuma, Wong Lan tetap tidak peduli, hatinya tidak tersentuh, dia asyik dengan dunianya sendiri, terakhir terbetik kabar dia menjual seluruh bangunan dan tanah pabrik. Uang itu sebenarnya cukup banyak, tapi hanya habis dalam hitungan minggu. Habis di meja judi, penginapan, tempat hura-hura. Wong Lan merasa dunianya kembali, teman-teman seperti laron datang merubung, dia lupa, saat uangnya habis, dia kembali sendirian di meja-meja minum, sepi di tengah keramaian.

“Enam tahun berlalu, bayi ketiga dan keempat lahir, kembar. Lucunya tak terkira, amat menggemaskan. Sia-sia, Wong Lan tetap tidak peduli, mengunjungi Sie di rumah sakit pun tidak. Dia baru saja menggadaikan rumah besar, harta terakhir warisan orang-tuanya. Bersenang-senang dengan tumpukan uang yang dengan cepat menipis. Tinggallah Sie repot mengurus empat anaknya, berusaha mencari tempat berteduh sementara. Untuk kedua kalinya Sie Sie ditampung keluarga konsulat. Salah-satu staf konsulat menasehati Sie agar menghentikan pernikahan itu, minta cerai. Semua
dokumen bisa disiapkan, paspor pengganti, paspor untuk anak-anaknya. Sie menolak mentah-mentah, menggeleng tegas, dia sambil menahan air-mata tumpah bilang tentang janji hebat itu. Dia akan mencintai suaminya apa-adanya, dan dia akan memaksa perasaan yang sama muncul di hati suaminya. Itu gila! Itu benar-benar kalimat paling gila tentang cinta yang pernah kudengar.” Pak Tua menggeleng-gelengkan kepala, mengusap uban.

Aku dan Andi ikut mengusap kepala.

“Siapa Wong Lan sekarang? Tidak lebih seorang laki-laki berusia empat puluhan, tidak punya pekerjaan, pemabuk, penjudi dan ratusan tabiat buruk lainnya. Kalau dulu Sie bertahan, masuk akal, dia membutuhkan wesel bulanan ke Singkawang agar adik-adiknya bisa makan, bisa sekolah. Sekarang, bahkan untuk membeli popok si kembar, itu hasil keringat Sie Sie sendiri. Aku tidak bisa mempercayai Sie yang menahan tangis, tersendat, kedat, bilang, ‘Aku mencintai suamiku sejak pertama kali naik bus menuju Pontianak. Dan aku akan terus mencintai dia hingga mati.’ Lantas menciumi bayi kembarnya, mati-matian menahan tangis karena dulu dia pernah bersumpah tidak akan menangis lagi.

“Di mana Wong Lan? Tidak ada yang tahu. Dia menghilang lepas menjual rumah besar milik keluarganya, gelap beritanya, sosoknya raib ketika si kembar lahir, meninggalkan begitu saja istri dan empat anaknya. Lantas apa yang dilakukan Sie atas kepergian suaminya? Setelah seharian sibuk mengurus anak-anak dan bisnis jahit menjahit, setelah si kembar tidur lelap, Sie mulai melahap semua berita di koran, menandai iklan mencari orang, bertanya kesana kemari, mengunjungi kantor polisi, mengunjungi pub-pub, tempat hura-hura, Sie menghabiskan malam untuk mencari suaminya. Dia lakukan itu tanpa alpa semalam selama enam tahun. Bayangkan, enam tahun. Tidak putus pengharapan. Tidak mundur selangkah pun.

“Saat anak pertama mereka berusia dua belas, kabar baik itu datang, salah-satu karyawan yang disuruh mencari Wong Lan, akhirnya melaporkan suaminya ditemukan terlunta-lunta di Hongkong. Usia suaminya lima puluh, lelaki tua yang hidup sendirian, sakit-sakitan, tanpa teman, terlupakan dari dunia. Kabar itu membuat hati Sie bungah, dia tidak sabaran, memutuskan berangkat malam itu juga ke Hongkong, menjemput suaminya, menjemput bapak dari anak-anaknya. Tapi saat dia menuju bandara, melesat kabar duka dari Singkawang, telepon dari salah-satu adiknya, bilang Bapak Sie Sie meninggal dunia.

“Lama nian Sie menahan kerinduan pulang. Tahun-tahun terakhir, dengan keleluasaan yang dia miliki, kesempatan itu bisa dilakukan kapan saja, tapi dia tidak akan melakukannya tanpa ditemani Wong Lan. Dia ingin pulang, menziarahi makam Ibu, bilang kalau janjinya sudah dipenuhi. Malam itu, kabar kematian Bapaknya membuat kerinduan datang tak tertahankan. Adik-adiknya di Singkawang bilang, jika Sie bersedia pulang, jasad Bapak akan menunggu dia. Separuh hatinya ingin pulang ke Indonesia, memenuhi kewajiban terakhir mengantar Bapak ke pemakaman. Tapi suaminya menunggu di Hongkong, dirawat di salah-satu rumah sakit. Urusan ini muda ditebak, lima belas menit menatap layar jadwal keberangkatan pesawat di bandara, Sie memilih menjemput suaminya. Itulah keluarganya sekarang, itulah keluarganya sejak dia memutuskan dibeli suaminya lima belas tahun lalu.

“Tubuh Wong Lan kurus kering saat dibawa kembali ke Taiwan, kebiasaan buruk menggerogoti fisiknya. Dan bukan itu masalah terbesarnya, melainkan anak tertua Sie menolak mentah-mentah memanggil Bapak pada Wong Lan, usianya dua belas, sudah lebih dari tahu cerita penderitaan Ibunya selama ini. Dia berteriak marah, mengusir Wong Lan dari kamar perawatan di rumah. Itu bagian menyakitkan kesekian yang harus dialami Sie, dia memeluk anaknya, meminta dengan sangat, sambil menangis, agar si sulung mau memanggil Wong Lan, ‘Bapak’. Si sulung mengibaskan tangan Ibunya, berlari. Hanya si kembar yang bersedia menemani Ibunya merawat Wong Lan.

“Berbulan-bulan Sie merawat suaminya dengan tulus. Proses rehabilitasi kecanduan. Lelah mengurus bisnisnya, capai mengurus tingkah anaknya, sering dia ditemukan jatuh tertidur di ranjang tempat suaminya berbaring lemah. Rambut Sie yang dulu hitam legam mulai beruban. Wajahnya yang dulu periang, mata sipit bersinar-sinar, tinggal gurat muka penuh ketabahan dan sorot mata tulus. Tubuhnya yang dulu ramping, tinggi semampai, sekarang bungkuk, kaki pincang sisa pukulan-pukulan kasar suaminya. Janji itu luar biasa, janji itu macam mercu suar di pinggiran kota Taiwan, dia sungguh akan mencintai suaminya apa-adanya. Maka bulan-bulan perawatan itu menjadi simbol paling agung rasa cinta Sie. Tidak ada kebencian, tidak ada penyesalan. Astaga, seandainya kita bisa melihat wajah Sie saat merawat suaminya. Janji itu sungguh luar-biasa.” Pak Tua menyeka ujung mata, sedikit terharu.

Andi malah kedat hidung.
Aku menyikut Andi pelan, kau tidak akan menangis, kan?
Andi melotot, enak saja.

“Kalian tahu, Andi, Borno? Apakah kau bisa memaksa perasaan cinta? Sie bisa melakukannya. Dia bisa membuat suaminya mencintai dia apa-adanya, bahkan walau sebelumnya Wong Lan amat membencinya. Di malam kesekian masa-masa rehabilitasi, ketika Wong Lan terjaga, saat dia menatap wajah lelah istrinya yang jatuh tertidur di pinggir ranjang, perasaan itu mulai tumbuh kecambahnya. Lihatlah, wanita yang selama ini dia sakiti, tega dia beli lantas dibawa pergi jauh dari rumahnya, wanita yang dia renggut dari masa remajanya yang indah, begitu tulus merawat dirinya enam bulan terakhir. Wong Lan tergugu, menyentuh bekas carut luka di kening istrinya, luka itu bekas lemparan asbak darinya.

“Tangan Wong Lan gemetar menyentuh rambut beruban Sie, lihatlah, wajah teduh ini, wajah penuh kasih-sayang istrinya. Ini tetap wajah yang sama meski dulu dia lempar, dia injak, wajah yang sama meski dulu dia kutuk wanita pembawa sial. Wong Lan menangis dalam diam, terisak dalam senyap. Alangkah bodoh dirinya selama ini. Bodoh sekali. Disangka teman-temannya akan selalu ada, itu dusta. Disangka semua

kesenangan itu abadi, itu tipu. Semua tidak hakiki. Adalah cinta Sie yang sejati, cinta wanita yang dia sia-siakan, wanita yang dia aniaya bertahun-tahun. Malam-malam rehabilitasi itu menjadi saksi saat cinta Wong Lan tumbuh mekar, cinta seorang pemuda Taiwan yang terlambat lima belas tahun. Benar-benar terlambat. Tapi tak mengapa, itu tetap berakhir bahagia, tidak mengurangi nilainya.”
Pak Tua terdiam lama. Menghela nafas panjang, menatap jalanan depan restoran yang lengang. Pelayan sudah bersiap merapikan meja-meja. Tidak ada lagi pengunjung selain kami.

“Itulah cinta sederhana amoy Singkawang. Cerita hebat yang tidak diketahui sopir sok-tahu tadi siang. Tidak semua amoy yang pergi ke Taiwan bersama seseorang yang baru dikenalnya sehari dua hari bernasib buruk. Hidup adalah perjuangan, bukan? Kebahagiaan harus direngkuh dengan banyak pengorbanan. Sie Sie telah membuktikan janjinya.”

Andi benar-benar menyeka mata, tidak peduli aku meliriknya.

Pak Tua tersenyum, “Kalian pasti bertanya, lantas apa hubunganku atas kisah ini? Aku ada di konsulat Taiwan itu saat Sie mengungsi. Akulah yang berseru, gila! Menilai kalimat Sie berlebihan dan tidak masuk akal. Ah, itu masa-masa saat orang-tua ini melakukan perjalanan ke mana-mana, melihat banyak hal, belajar banyak hal. Lantas kenapa kita malam ini ada di Singkawang? Karena besok, Sie dan Wong Lam akan menikahkan salah-satu si kembar di kota ini. Aku turut diundang. Si kembar berjodoh dengan amoy Singkawang saat berkunjung ke sini beberapa tahun lalu. Tentu, pernikahan itu bukan ‘pernikahan foto’. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu di Pekong Surga-Neraka. Nah, besok juga adalah pertama kali Sie Sie pulang ke Singkawang. Besok, dia akan bilang ke pusara Ibunya, janji itu telah dipenuhi, dia bisa memaksa perasaan itu tumbuh di hatinya dan di hati suaminya. Janji hebat seorang gadis yang baru berusia enam belas tahun. Ah, bisa apa dia? Dia bisa membuktikannya.”

Kisah Cinta Sie Sie adalah salah satu kisah yang terdapat dalam kumpulan cerpen karya Tere Liye yang berjudul Sepotong Hati Yang Baru

Minggu, 11 Maret 2018

Seratus Tahun Berlari

Sudah tujuh hari, tujuh malam, ia terus berlari. Kakinya semakin ringan untuk melangkah. Tenaganya tidak juga habis. Pria itu hanya berhenti untuk minum dan makan. Itu pun jika ada seorang yang dengan rela memberi.

Kalau tidak ada, ia hanya minum. Dan itu sudah cukup baginya. Ia tidak ingin hidup manja atau terikat seperti kebanyakan orang. Ia ingin bebas dan terlepas dari segala belenggu pikiran serta kenyataan hidup yang pelik: tagihan listrik, tagihan air, dan segala beban hidup lainnya. Paling penting lagi, ia bermimpi menjadi manusia yang tak tersekap oleh hal-ihwal ketakutan segala kehidupan. Maka ia terus berlari.

Semua ini seperti berlari dari suatu realita—masalah-masalah yang menumpuk. Beban hidup selalu berganti setiap hari. Masalah terus terlahir dari rahim kesibukan masyarakat kota: takut terlambat masuk kantor, takut gaji dipotong, takut dimarahi istri, takut tak dapat membayar bulanan anak, takut ditinggal pacar simpanan, hingga istri kedua.

Tak ada masalah yang benar-benar dapat dituntaskan dengan penuh. Mungkin hanya Tuhan yang dapat melakukannya dengan mengakhiri dunia. Lalu hal yang dapat ia lakukan hanya belari. Ia tidak memiliki tujuan saat berlari atau kapan akan berhenti? Kedua kakinya seperti memiliki jalan berpikir sendiri untuk terus membawanya.

Hujan dan badai berkesiur diterjang. Terik matahari yang lekat, bulat tekat Tarno tak lelah. Ia berlari. Terus menyeret-nyeret kakinya ke suatu tempat di ujung dunia yang ia sendiri tak tahu. Kota dan pedesaan ia lalui. Kenyang ia melihat pemadangan gemerlap lampu-lampu, pekik tawa dalam pesta-pesta penuh hidangan lezat, atau rintih tengah malam para perempuan dari gedung-gedung gemerlap tempat para penjual cinta.

Sudah muak ia dengan semua itu. Demikian juga dengan kemalangan orang-orang pinggiran yang bertahan hidup: para petani yang kehilangan harapan karena musim kemarau, nelayan yang karam perahunya karena ombak. Tarno berpikir: Hidup ini sudah dirancang dengan semua kekacauannya. Tuhan sedang bermain-main dengan umat-Nya.

Tarno sudah lupa dari mana mulai berlari. Mungkin dari pintu kantornya, setelah ia jemu melayani atasanya yang banyak tingkah di kantor; tentang anggaran belanja kantor, gaji, dan segala kepentingan yang sebenarnya hanya menguntungkan pria tambun itu.

Yang lebih parah lagi, semua anggaran itu diambil dari uang pajak rakyat. Ia tidak sanggup melakukan semua itu. Ia lelah membayangkan hidup sengsara, tertimbun di rumah kontrakan kecil bersama seorang istri melar yang cerewet dan terus mendesaknya untuk melakukan korupsi seperti bosnya.

Namun ia tidak melakukan itu. Semuanya bertentangan dengan etika yang sudah ia bangun sejak kecil. Maka pilihan satu-satunya yang ia dapat lakukan hanya berlari sejauh mungkin. Hingga tidak ada masalah yang merentet di belakangnya.

Malam-malam yang panjang dilaluinya dengan terus berlari. Pagi dan siang yang membosankan ia hadapi dengan terus berlari. Tenaganya tetap sama. Tuhan bagai memberi keajaiban di tubuhnya yang tak pernah bisa lelah itu.

Namun, ketika berlari, terkadang juga terbetik pikiran, di mana batas semua kenyataan ini? Apakah kenyataan hidup memiliki batas yang nyata? Setidak-tidaknya, Tarno dapat rehat sejenak dari beban yang bisa setiap saat melintas; melejit menyudutkan hidup seorang. Tarno terus berlari menuju ujung dunia yang sebenarnya masih barang kali.

Kini di setiap kota yang dilaluinya berlari selalu ada orang-orang yang menyambut. Mereka menunggunya dipinggir jalan. Tarno bagai seorang artis yang dieluelukan setiap orang. Bahkan setiap hari, ada saja sebuah helikopter yang merekam khusus perjalanannya.

Namun Tarno tak peduli dengan semua itu. Ia terus berlari tanpa menghiraukan orang-orang yang menyorakinya. Terkadang juga ia malah menertawai orang-orang yang mengelu-elukannya, “Bodoh!”

Orang-orang itu tidak pernah tahu kalau sesuatu sedang mengintai mereka: kejemuan yang mengerikan. Rentetan peristiwa yang melulu dan membuat seorang jengah. Ia berlari untuk menyelamatkan diri dari semua belenggu itu.

Namun—anehnya—orang menganggap dirinya sebagai hiburan. Orang-orang kota yang terlalu sibuk dengan segala hal di luar dirinya, acap kehilangan gairah hidup. Ketakutan dan kemalangan orang bisa menjadi hiburan tersendiri. Begitu juga dengan Tarno. Setelah ia berhasil mengelilingi dunia dengan terus berlari tiada henti, dan menarik minat para agen stasiun televisi, lembar-lembar koran, dan siaran singkat di radio; ia mulai dielu-elukan sebagai seorang artis. Keganjilannya—berlari tanpa tujuan yang jelas—dianggap sebagai suatu kelebihan di dunia. Betapa hidup ini sudah kehilangan hiburan yang bermutu.

Bibir kamera terus merekam. Tidak ada yang luput darinya. Orang-orang memantaunya dari tabung televisi masing-masing di rumah. Ada juga satu stasiun televisi yang khusus—sepanjang hari—menayangkan Tarno yang berlari: melewati lembah-lembah, mengarungi sungai-sungai, dan meniti di kapal mengarungi laut.
Seratus Tahun Berlari ilustrasi Rendra Purnama/Republika
Seratus Tahun Berlari ilustrasi Rendra Purnama/Republika


Orang-orang bagai takut kehilangan sosok idola baru tersebut. Bahkan ada seorang wartawan khusus pula yang mencoba melakukan wawancara dengan Tarno. Dengan mobilnya, wartawan itu membuntuti dan melemparkan pertanyaannya.

“Apa tujuan anda berlari?” Tanya wartawan itu menyodorkan mikrofon.

Tarno tidak menjawab. Nyalang matanya menatap ke depan dan tak mau berpaling.

Si wartawan tidak menyerah. “Ke mana tujuan saudara sebenarnya?”

Tarno masih tidak mau menjawab. Mungkin memang tidak ada tujuan pasti ke mana ia akan berhenti. Tarno hanya ingin berlari sesuai kata hatinya. Kaki-kakinya seakan menciptakan takdir kehidupannya sendiri.

Tarno tanpa jengah, lincah mengayuh telapak kakinya. Langkah demi langkah hingga begitu jauh. Pun akhirnya bertahuntahun lebih wartawan itu mencoba mewawancarainya.

“Apakah ada seorang yang mengejar saudara, maka saudara terus berlari?” Wartawan itu sudah kehabisan pertanyaan. Namun satu patah kata pun belum terucap dari bibir Tarno. Merasa frustasi dan sia-sia, wartawan itu bertanya malas-malasan: “Apakah sebenarnya anda melakukan ini semua untuk lari dari kenyataan?”

Karena si wartawan sudah tidak lagi memiliki pertanyaan, tapi atasanya di kantor terus mendesak agar wartawan itu mendapat berita tentang Tarno; dengan ngawur dan serampangan wartawan itu bertanya macam itu.

Wartawan itu terbawa suasana hatinya. Perasaanya yang melankoli—karena rindu anak dan istrinya yang sakit di rumah—  terbawa. Bahkan hingga istrinya mati sakit keras, wartawan itu tetap dilimpahkan tugas oleh atasnya untuk meliput Tarno. Namun—setelah bertahun-tahun terus berlari tanpa henti—sejenak Tarno termenung. Ia memandang wartawan yang telah putus asa itu.

“Maukah kau ikut denganku?” Tukasnya kepada wartawan itu.

Dengan air muka keruh karena putus asa, wartawan itu menjawab. “Ke mana?”

“Entahlah. Yang jelas ke sebuah dunia yang jauh dari kenyataan!”

Pun akhirnya wartawan itu membanting mikrofon dan mengacungkan jari tengahnya ke kamera. Syahdan wartawan itu ikut berlari bersama Tarno. Juru kamera yang kebingungan pun menggantikan tugas wartawan tersebut. Sambil mengambil gambar nya sendiri, juru kamera mengabarkan situasi.

“Pemirsa di mana pun kalian berada, tak ada yang tahu ke mana pria itu akan berhenti untuk berlari. Mungkin mereka hanya akan berhenti pada suatu ujung kenyataan; akhir dari segala pertanyaan tentang hidup!”

Kamera itu mati. Karena juru kamera ikut berlari bersama Tarno.

***

Sudah tujuh kali ia mengelilingi dunia. Dan semakin banyak orang yang mengikuti Tarno di belakang. Kebanyakan dari orang-orang itu berlari karena jemu dengan hidup. Mereka ingin berlari terlepas dari belenggu-belenggu.

Namun tidak semua permasalahan hidup usai hanya dengan berlari. Selalu saja ada hal yang menggoyahkan hati para pelari itu untuk berhenti; singgah ke suatu hal yang membuat orang lena serta tinggal. Orang-orang yang berlari bersama Tarno tidak semuanya teguh pendirian, ada yang hanya ikut-ikutan.

Karena hampir setiap kali memasuki sebuah kota baru, rombongan pelari itu disambut elu-elu yang begitu meriah dari orang-orang kota yang sudah kehilangan hiburan yang mencerdaskan. Tarno terkadang hanya mengambil botol air atau potong roti yang diacung-acungkan kepadanya. Itu pun ia lakukan tanpa menoleh.

Begitu cepat Tarno menyambar. Tak ada selintas pikiran untuk berhenti berlari. Namun, ada juga dari rombongan itu yang singgah. Kebanyakan mereka terkena rayuan racun para wanita penjual cinta murahan di pinggir jalan. Dengan sekali sentuh, tekad mereka yang bulat pada awal, lumer menjadi gembur. Orang-orang itu lebih memilih berhenti menjual dirinya pada kenikmatan hidup yang fana.

“Singgahlah sebentar, Sayang!” Kata wanita penggoda. “Dan rasakanlah nikmat pelukan dan ciumanku!”

“Tubuhku hangat menunggumu, sayang!”

“Apa yang kalian cari di dunia ini? Tak ada yang benar-benar kalian cari di dunia ini,” rayu mereka terus. “Maka singgahlah dan nikmati kenyataan ini, sayang!”

Terkadang separuh dari rombongan ikut berhenti. Namun di suatu kota atau simpang jalan yang muram, orang-orang yang terhenti itu akan tergantikan dengan sosok-sosok baru. Mereka ikut berlari ke suatu tempat yang begitu jauh—hingga tak ada yang lebih jauh dari tempat yang ingin mereka capai.

Namun tak ada satu pun dari mereka yang tahu di mana tempat itu; sebuah batas dari kenyataan hidup tersebut; suatu akhir dari pertanyaan-pertanyaan ganjil hidup; tentang masalah-masalah yang memang tak akan pernah tuntas untuk diakhiri. Mereka terus berlari, ke lubang-lubang nasib yang kelam; seperti seorang musafir yang kehilangan rumah dan alasan.

Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 04 Maret 2018)
Risda Nur Widia, buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

Sabtu, 03 Maret 2018

Yang Terpenjara Waktu

“Sini, Nak,” senandungku. “Duduk di pangkuan. Ayo kita bercengkerama tentang hal-hal manis, seperti gula-gula, sejumput awan dan senyum ayahmu. Cerita-cerita yang akan membuat harimu lebih renyah. Ayo, buka matamu, bangkit dari tempat tidur.”

Kutatap Limara yang belum membuka mata. Memang bagaimanapun juga hari masih terlalu pagi. Baiklah, kumulai saja ceritanya, kita tak ada waktu seharian. Dan apa yang lebih penting untuk diceritakan pada seorang anak, selain asal muasal namanya?

Sedari pertama bertemu, aku sudah tahu ia langit. Tapi kalau benar ia langit dan aku bumi, sungguh tak mengapa sesekali bertemu di lautan, tempat langit dan bumi sesekali berpelukan. Lautanku bernama bumi Sulawesi.

Mereka sebut ia Dewakinnara. Tapi kita harus beri nama samaran yang sama heroiknya. Anggap saja nama terbaik yang pernah kau dengar dalam hidup ditambah satu juta poin lagi, maka kita akan sebut dia itu. Atau sebut saja dia A. Huruf pertama, tanpa akhiran. Karena tak semua yang berawal harus memiliki akhir. Atau itu pikiran gilaku saja yang baru kenal namanya awalan tanpa sudi diberi akhiran.

Tapi apa istimewanya seorang Dewakinnara? Ah. Salah. Seharusnya kau tanyakan apa yang tidak istimewa dari orang itu. Ia tak lebih dan tak kurang adalah pemujaku, dan aku tak lebih dan tak kurang dari pemuja setianya.

Aku bertemu Dewakinnara kala kami berkelana dalam satu kelompok yang mendapat kehormatan menyaksikan upacara Rambu Solo’, tradisi pemakaman, di Toraja. Aku mencari inspirasi untuk masakan khas Indonesia di restoran berbintang-bintang di Dubai sana, ia mencari objek foto untuk dunia internasional saksikan mengenai Indonesia.

Tak sulit untuk jatuh cinta padanya, bagaimanapun juga ia pribadi yang unik dengan isi kepala penuh dengan letupan ide. Tapi aku bersimpuh sepenuhnya karena namanya. Ya, jangan terbahak, ia pernah cerita bahwa namanya diambil dari dewa penguasa segala nyanyian dan tarian. Entah benar atau hanya bagian dari rayuan mautnya, tapi aku berani sumpah, ia memang terlahir untuk menjadi seorang Dewakinnara.
Yang Terpenjara Waktu ilustrasi Da’an Yahya/Republika


Tepat lima puluh bulan setelah pertemuan pertama, kami bergandengan di pelosok Sulawesi, kini berdua saja. Dengan lengan mengepit kamera dan tas-tas yang sesak oleh lensa, ia mengembara serupa layang-layang yang lupa pulang. Aku genggam lengannya sebagai pengingat. Agar ia tak seketika menghilang. Kami berjalan bersisian menapaki bumi Sulawesi. Tanah lengket diam-diam bercengkerama dengan sepatu kami yang sudah menjejak pedalaman Papua dan Kalimantan sejak bertahun-tahun sebelumnya.

“Mau diberi nama siapa, pemberontak kecil kita?” tanya Dewakinnara sambil merunduk-runduk mengambil gambar bumi Sulawesi yang megahnya luar biasa: kadang indah, kadang mengerikan mengancam jiwa. Tapi tak ada hal yang hebat yang bisa diperoleh tanpa perjuangan.

Aku menghela napas sekali lagi, terlalu gengsi untuk mengakui bahwa aku hanya manusia biasa. Berat ternyata jalan-jalan membawa perut sebesar ini, meski hanya ke sisi hutan yang paling datar sambil menyusuri tapaknya perlahan sekalipun. Entahlah. Aku berani ikut ke sini semata-mata karena belum nampak tanda-tanda ia berkenan untuk keluar. Padahal dunia sudah terentang sedemikian luasnya untuk kami jelajahi bertiga. Sang pemberontak, kata Dewakinnara. Seolah ia tak ingin diberi tahu kapan harus keluar.

Dewakinnara sudah berkali-kali ditawari beasiswa ke luar negeri, berkali-kali pula ia tolak dengan santun. Aku ingin membagikan indahnya bumi Indonesia, aku tak tertarik melirik bumi lainnya, ujarnya dengan dada terbusung bangga. Ucapannya diamini oleh berbagai fotografer internasional lainnya yang kerap kami temui berkali-kali di pedalaman Indonesia.

Aku terantuk. Ketubanku pecah juga. Dewakinnara seperti orang gila, setengah tertawa, setengah panik histeris. Tertawa semata-mata lega, akhirnya dewi yang kami tunggu-tunggu hadir juga. Panik karena kami menjelang malam di tengah hutan yang jaraknya berkilo-kilo jauhnya dari desa terdekat.

“Berminggu-minggu sudah kita tunggu dia di dalam rumah yang nyaman, malah memilih ingin keluar sekarang,” Dewakinnara berdecak kagum. Detik pertama ia mulai tergila-gila pada anaknya sendiri. Entah kekuatan dari mana, setelah memasukkan kamera ke dalam tas punggung, Dewakinnara menggendongku sambil berlari menempuh kilo demi kilo hutan yang menggelap.

“Aku takut,” dalam pelukannya, mataku menjelajah pohon-pohon tinggi di langit. Pohon-pohon menjulang yang semakin seram seiring dengan malam yang tanpa ampun mengejar kami.

“Marendeng marampa’ kadadianku,

Dio padang digente’ Toraya Lebukan Sulawesi,

Mellombok membuntu mentanetena,

Nakabu’ uma sia pa’lak na sakkai Salu Sa’dan.”

Dewakinnara nyanyikan Marendeng Marampa, lagu yang sama-sama kami pelajari di Tanah Toraja. Aku tahu ia bersenandung agar aku tidak takut. Sempat-sempatnya ia bernyanyi di sela napas yang tersengal.

“Kamu rindu Toraja kah?” tanyaku begitu kami di desa dan aku selesai berperang melawan maut.

“Teramat sangat,” ia seka keringat dari dahiku sambil menggendong sang bayi.

“Nanti kita ke sana bawa Limara ya?”

Dewakinnara terbahak. “Mau kau namai Limara?”

“Limara. Nama pohon eboni yang terus mengiringi lari-lari kecilmu sepanjang hutan tadi.”

“Limara,” ulang Dewakinnara dengan mata berbinar takjub.

Seolah mengiyakan, bayi di pelukannya tertawa girang.
***
“Ah, kau yang kepala batu ini pasti masih pula bertanya apa yang lalu terjadi,” aku terkekeh, kembali ke masa kini. Baik, kulanjutkan ceritanya, meski mata Limara masih terpejam.

Sulit untuk tidak jatuh cinta pada Toraja. Alamnya, budayanya, keramahan penduduknya, namun yang sering terlupakan karena butuh waktu untuk memahaminya: filosofi hidup mereka. Ada satu hal yang lebih menarik selain filosofi hidup mereka: filosofi kematian yang mereka junjung.

Sementara seluruh dunia bertarung dan mengunci pintu rapat-rapat dengan ide kematian, orang Toraja justru memeluk erat kematian dengan penuh keakraban. Kematian bukanlah akhir, hanya satu tahap dari proses panjang. Bukan pula perpisahan yang perlu ditangisi.

Kini, Toraja sudah menjadi bagian dari kami, dan kami pun sudah jadi bagian dari Toraja. Kemanapun kami mengembara, pulangnya pasti ke tanah yang sama pula.

Tapi tahun demi tahun melahap bumi Sulawesi dengan tak ramah. Limara, eboni hitam yang mendunia, telah membutakan mata banyak orang. Kami bertiga berjalan dalam diam, masing-masing menjinjing sendu. Tak ada lagi cuitan burung yang bersahut-sahutan. Semakin dalam kami masuk, bekas-bekas penebangan semakin nyata terlihat. Limara meneteskan airmata untuk pepohonan yang namanya disandang pula olehnya.

Krekkk!

Dewakinnara bergegas menutup mulut Limara dan menariknya ke balik semak-semak. Dadaku sesak oleh gemuruh hingga tak terdengar dan tak terpikir apa-apa lagi. Tanganku gemetar, namun tetap kupeluk erat-erat Limara dalam lindunganku.

“Kamu tetap di sini,” bisik Dewakinnara. Ia mengganti lensa kameranya menjadi lensa jarak jauh. Perjalanan singkat ke hutan ini seharusnya sekedar bertemu burung-burung unik untuk foto Dewakinnara dan bahan makanan untuk menu baru restoran Indonesiaku. Tapi sialnya kami bertemu dengan para pembalak yang sudah pasti liar, karena ini hutan lindung. Kalau masih ragu, senapan-senapan yang mereka sampirkan di dada tentu bisa memberi penegasan sendiri.

Dewakinnara mendekat hingga jarak yang ia tentukan aman. Ia ambil foto sebanyak-banyaknya sebagai bukti sebelum kemudian berlari ke arah kami.

“Kita ketahuan!”

Aku tersandung-sandung menarik Limara yang ketakutan. Dewakinnara bergegas menariknya dan seketika itu juga menggendongnya sambil terus berlari begitu cepat.

“Tidak bisa. Mereka akan mengejar kita.”

Tembakan demi tembakan berdesing sedemikian dekatnya di telinga kami. Ini pasti bercanda, ya Tuhan, ini pasti bercanda. Siapa yang bisa membunuh manusia lainnya demi kayu! Aku berpikir histeris.

Dewakinnara berbelok mendadak. Ditariknya aku ikut ke dalam sungai. Ia beri isyarat pada Limara untuk menarik napas. Berbarengan, kami celupkan kepala ke dalam sungai sambil menarik semak-semak menutupi kami. Seekor ular sungai lewat. Aku berdoa pada Tuhan, pada Dewa Bumi, Dewa Sungai, penguasa alam semesta siapa pun itu, beri kami kesempatan hidup. Jejak-jejak mereka berderap di tepian sungai. Orang-orang itu melewati kami!

Sesampainya di desa, Dewakinnara segera berlindung di rumah kepala adat. Masih terengah-engah, ia bercerita tentang apa yang ia temui dan keluarkan kamera dari tas anti-airnya. Ditunjukkannya foto-foto yang membuatku paham mengapa kami diserang sedemikian ganasnya: seorang petinggi negara terkemuka tengah berdiri di atas jeep.

Sementara Dewakinnara berbincang dengan kepala adat, mataku menangkap seorang anak yang tergesa lewat membawa baki berisi makanan. Limara mengajaknya bermain. Anak itu menggeleng sambil memberi isyarat, aku harus taruh ini dulu di kamar Ibu, sambil berjalan menuju loteng. Lamira yang sudah paham pun mengangguk. Istri sang kepala adat memang sudah lama berpulang karena sakit dan tengah menunggu prosesi pemakaman.

Percaya atau tidak, butuh waktu bertahun-tahun untuk kemudian menjebloskan petinggi itu dan membersihkan mereka hingga akar-akarnya. Seperti bola salju, sekian nama yang tak terduga ikut pula terseret. Tapi kami sudah tak lagi di sana untuk merayakan keberhasilan itu. Kami terpaksa mengungsi dari bumi Sulawesi, jauh ke negeri lain, jarak terjauh dari nusantara yang dibenci Dewakinnara. Semata-mata untuk melindungi diri dari ancaman dan teror yang menghantui.
 
***

Sebuah ketukan di pintu mengganggu ceritaku. Disusul dengan ketukan-ketukan lain yang semakin lama semakin keras. Hari sudah petang. Ada apa pula orang bertamu. Kulongokkan kepala, Limara tak kunjung membuka pintu depan. Begitu pula dengan Dewakinnara. Aku mendesah lelah. Aku rapikan piring-piring makan siang mereka dulu sebelum kubuka pintu.

“Selamat siang, Madam,” sepasang polisi membuka topi mereka sebagai tanda hormat. “Kami mendapat laporan dari para tetangga. Boleh kami masuk?”

Tanganku gemetar. Aku menggeleng. Yang kutahu, menggeleng adalah selemah-lemahnya perlawanan. Kulihat selusin manusia telah berkumpul di lorong apartemen. Aku  menelan ludah susah payah ketika para polisi tersebut merangsek masuk. Sesosok perempuan separuh baya yang kutahu berkewarganegaraan Indonesia juga menghampiri, memelukku erat.

“Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Polisi sudah bilang itu karena racun, bukan karena dirimu,” gumam Maya sambil terus menenangkanku.

Para polisi mendobrak pintu demi pintu kamar, menghiraukan tangisanku yang mulai pecah. Tiba di pintu kamarku, semua orang seketika menutup hidung. Tak apa kalau mereka tak mengerti. Tak ada satupun dari mereka yang bisa mengerti kenapa aku melakukan ini.

Maya sungguh tak paham bahwa tak ada yang bisa disalahkan selain kelengahanku yang membiarkan mereka berdua memesan pizza sambil menunggu aku selesai menutup restoran. Andai waktu itu aku memilih memasak di rumah saja, takkan sempat para kronco petinggi itu membalas dendam melalui racun yang mereka tabur di pizza. Takkan tertinggal sendiri aku di alam ini, sementara mereka telah melanjutkan perjalanan ke alam sana. Dua ciptaan Tuhan yang paling kupuja.

“Kami sungguh menghormatimu sebagai tetua di sini, Madam,” ujar salah satu anak muda. “Tapi Madam tidak lagi tinggal di Toraja. Anda bahkan bukan orang Toraja. Ini negeri yang sama sekali berbeda. Tidak boleh menyimpan mayat di dalam rumah.”

Cerpen Zhizhi Siregar (Republika, 25 Februari 2018)
Zhizhi Siregar aktif membuat karya tulis yang dimuat di berbagai media massa. Dia sudah belajar menulis sastra sejak kecil.