Selasa, 27 Februari 2018

Surga di Kolong Ranjang

LAGI-LAGI, saya menemukan Alessa merebah di kolong ranjang di kamarnya. Sudah tiga kali saya temukan ia di sana. Tertidur pulas di lantai keramik berwarna gradasi abu-abu muda. Dengan posisi menyamping, dan telapak tangan yang menyelip di antara lantai dan pipinya, Alessa tertidur sambil tersenyum. Ingin saya membelai dan mengecup keningnya, atau bahkan memeluk tubuhnya, tetapi saya tahan. Saya khawatir, jika itu saya lakukan, saya hanya akan mengganggu tidurnya. Atau malah membangunkannya. Saya tidak mau itu terjadi. Oleh sebab itu, saya merebahkan diri dan mengawasi Alessa hanya dari pinggir kolong. Sambil mereka-reka apa yang sedang dimimpikan oleh keponakan saya tersebut.

Barangkali, Alessa sedang memimpikan sebuah istana yang terbuat dari cokelat, yang di dalamnya terdapat kolam besar yang berisikan madu. Atau, mungkin juga, saat ini Alessa sedang memimpikan sepasang boneka kelinci raksasa yang jarijemarinya dapat diemut bagaikan permen. Sebagaimana yang pernah ia ceritakan kepada saya dua hari yang lalu–ketika saya baru saja tiba di rumah ini, setelah kakak saya (mama Alessa) meminta saya untuk datang menemani Alessa selama beberapa hari ke depan. “Om, apakah di surga ada boneka kelinci raksasa?”

Pertanyaannya itu membuat saya tersenyum. Ia menggandeng saya ke kamarnya. “Tentu saja, Alessa. Di sana, apa pun yang menyenangkan hati kamu, pasti ada.”

“Meskipun boneka kelinci raksasa itu berbeda?”

“Ya, meskipun boneka kelinci raksasa itu berbeda. Asalkan hati kamu merasa gembira, boneka yang bagaimanapun bedanya, di sana pasti ada.”

Dengan senyum kanak-kanaknya yang khas, Alessa memandangi saya cukup lama, kemudian mulai bercerita. Ia mengatakan kepada saya, bahwasanya kemarin siang, setibanya di rumah usai pulang sekolah, ia terburu-buru masuk ke dalam kamar dan tanpa sengaja menjatuhkan botol minumnya. Dan, ketika hendak mengambil botol minumnya tersebut, ia melihat kerlip bintik-bintik cahaya yang beterbangan memenuhi kolong ranjang. Ia terkejut–sekaligus penasaran. “Seperti kunang-kunang?” tanya saya. Alessa lekas mengiyakan, “Iya, maksudku itu, Om, seperti kunang-kunang.”

Alessa kembali meneruskan ceritanya. Ia bilang, dirinya mengamati kerlip bintik-bintik cahaya itu terlebih dahulu—dalam beberapa menit—sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kolong. Dan, ketika dirinya telah berada di tengah-tengah kerumunan kerlip bintik-bintik cahaya—yang entah apa—itu, ia merasakan seperti ada sesuatu yang mengisap tubuhnya kuat-kuat. Hingga ia tersedot dan terlempar jauh ke suatu tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. “Dan, tempat itu benar-benar indah, Om!”

Ia tampak begitu ceria, saat mengatakan, di tempat itu ia melihat sebuah danau yang tidak terlalu luas, tetapi di tepiannya berderet perahu-perahu karet yang berwarna-warni. Dan, di dekat perahu-perahu karet yang berwarna-warni itu pulalah ia bertemu dengan sepasang boneka kelinci raksasa yang berdiri tegak menghadap ke arah danau. Sepasang boneka kelinci raksasa itu kemudian mengulurkan kedua kelingking mereka masing-masing ke dekat mulut Alessa. Sehingga aroma khas permen mentol yang menguar dari jari-jemari sepasang boneka kelinci raksasa itu tercium olehnya. Alessa pun mengulum satu per satu jari-jemari boneka-boneka kelinci raksasa tersebut.

Selepas menikmati jari-jemari sepasang boneka kelinci raksasa tersebut, Alessa dihampiri oleh seekor merpati yang berukuran besar. Tinggi badan merpati itu setinggi rumah dua lantai, hampir menyamai tinggi boneka-boneka kelinci raksasa tersebut. Merpati itu merebah. Lalu merentangkan sebelah sayapnya, “Naiklah ke punggungku, gadis kecil.” Dengan hati-hati, ia merangkak naik ke punggung merpati yang berwarna putih itu. Kemudian memegangi bulu-bulu yang tumbuh di leher merpati itu erat-erat. Merpati itu membawanya terbang menuju ke sebuah bukit yang sangat tinggi. Dan, di puncak bukit itu, Alessa melihat papanya sedang asyik memetik apel. “Papa? Papa kamu?”

“Iya, Om, papa kandung aku!”

Saya terkejut mendengarnya. Bagaimana Alessa bisa yakin kalau orang yang dilihatnya di puncak bukit itu adalah papa kandungnya? Padahal, saya tahu, sekali pun Alessa belum pernah melihat wajah papanya sejak ia berumur dua tahun. Karena mamanya tidak membiarkan hal itu terjadi. Saya ingat, enam tahun silam, dua minggu setelah kepergian papanya dari rumah yang entah ke mana, mamanya mengumpulkan semua foto yang ada di rumah lalu membakarnya. “Pernikahan dengan laki-laki itu adalah sebuah kesalahan,” kata mama Alessa meradang, “dia laki-laki pecundang.”Surga di Kolong Ranjang ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia


Dia bukan pecundang, pikir saya. Dia, laki-laki itu (papa Alessa), hanyalah seorang laki-laki yang kurang beruntung. Laki-laki itu bernasib jelek setelah menikahi kakak saya. Dia di-PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja, tepat enam bulan sesudah menikah. Dan, nasibnya kian kurang beruntung setelah tidak berhasil memperoleh pekerjaan yang baru. Lamaran-lamaran pekerjaannya selalu ditolak, entah mengapa. Barangkali, perusahaan-perusahaan itu tidak menaruh minat kepada orang-orang yang terkena PHK. Atau, mungkin juga, usianya yang tidak lagi mampu bersaing dengan pelamar-pelamar yang jauh lebih muda. Atau memang, belum rezekinya saja. Ya, apa pun itu, menurut saya, papanya Alessa hanyalah seorang laki-laki yang kurang beruntung dan menikahi seorang perempuan yang kurang bersabar. Padahal, laki-laki itu laki-laki yang baik. Dia bahkan rela bekerja serabutan menjadi juru parkir liar demi anak dan istrinya. Dan, dia juga rela menerima hardikanhardikan istrinya setiap hari. Sampai pada suatu hari, dia menghilang, dan tak pernah kembali.

“Merpati itu yang memberi tahu, bahwa orang yang ada di puncak bukit itu adalah papaku.”

Betapa senangnya Alessa mengatakan hal itu. Saya bisa merasakan kebahagiaan yang berbalut kerinduan dalam getar suaranya.

“Ternyata papaku itu orangnya ganteng, ya, Om.”

Saya memalingkan muka. Saya tidak mau Alessa melihat kedua mata saya berkaca-kaca.

“Iya, sekarang kamu tahu, kan, cantiknya kamu itu nurun dari siapa?”

Ia tidak menjawab. Tapi, saya yakin, Alessa sedang tersenyum-senyum sendiri.

“Kasihan kamu, Alessa,” gumam saya pelan.

Ingin rasanya saya memeluk Alessa dan cepat-cepat membawanya pergi dari sini. Betapa sepinya Alessa di rumah ini. Setiap hari, ia hanya berteman dengan boneka-boneka yang ada di kamarnya. Dan seorang pembantu yang terlalu sibuk dengan pekerjaan-pekerjaannya, sedangkan mamanya, sungguh, ia tidak pernah peduli. Bagi mama Alessa, tanggung jawabnya hanyalah: menyekolahkan Alessa, memberinya pakaian dan makanan agar Alessa tetap hidup. Cuma itu. Dan itu pun sudah lebih daripada cukup buat seorang anak yang terlahir dari sebuah kesalahan. “Bagaimana dengan perhatian dan kasih sayang yang dia butuhkan?” protes saya kala itu. “Untuk hal-hal demikian, Kakak percayakan sama kamu,” jawabnya ringan.

Dan, ketidakpedulian mamanya itu kian menjadi-jadi setelah menikah lagi, setahun kemarin. Mamanya cuma sibuk mengurusi dan memberi perhatian kepada suami barunya saja. Sedangkan Alessa? Entahlah. Mungkin, baginya, Alessa hanyalah setitik debu di kehidupannya. Ah, seandainya saja kedua orangtua saya (kakek dan nenek Alessa) masih hidup.

Tiba-tiba, ponsel di saku celana saya bergetar. Sebuah pesan pendek dari kakak saya yang memberitahukan bahwa ia dan suaminya akan pulang esok pagi. Saya melihat jam yang tertera di layar ponsel: 19:09 PM. Ternyata, sudah hampir dua jam saya mengawasi Alessa dari pinggir kolong. Saya harus segera membangunkan Alessa untuk mengajaknya makan malam. Saya tidak mau ia masuk angin lalu sakit. Perlahan saya mendekati Alessa.

“Alessa, ayo bangun, kita makan dulu,” bisik saya ke telinganya.

Ia tidak merespons. Alessa masih terlihat pulas dengan senyumnya yang tampak begitu polos. Saya mencoba sekali lagi, “Alessa, ayo kita makan dulu, nanti setelah makan malam, kamu boleh tidur lagi,” bisik saya dengan suara yang agak lebih tinggi.

Alessa tetap tidak menjawab. “Alessa, bangun,” saya mengguncangkan badannya. Tapi, Alessa tetap tidak bereaksi. Saya menyentuh pipinya, kemudian memegangi tangannya. Dan, yang saya rasakan saat ini, pipi dan tangan Alessa terasa sangat dingin. Lalu saya mendekapnya. “Alessa, ayo bangun, sayang….”

Kemudian saya lepaskan dekapan saya dan berbaring di sampingnya. Saya kembali teringat, siang tadi, Alessa berkata: “Om, di tempat yang indah itu, aku melihat sebuah istana yang sangat megah. Dan, di situ, aku melihat banyak bidadari cantik yang berdiri di dekat Papa. Aku juga melihat Kakek, Nenek, dan Om ada di sana. Tapi…, kenapa aku tidak melihat Mama ada di sana, ya?”

Tidak lama kemudian, tiba-tiba, saya melihat kerlip bintik-bintik cahaya bermunculan satu demi satu. Mereka mulai menerangi dan memenuhi kolong ranjang. Kerlip kuning keemasan yang tampak cantik. Membuat saya terlena dan hanyut. Perasaan saya begitu damai. Tenang. Sejuk. Dan, ada rasa bahagia yang merangkul batin saya. Belum pernah saya merasakan kegembiraan seperti sekarang ini. Memaksa saya untuk selalu tersenyum. Hingga, mendadak saya merasakan ada sesuatu yang menarik diri saya dan mengempaskan saya ke suatu tempat. Dan, tempat itu terlihat sangat-sangat indah.

“Alessa?”

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe (Media Indonesia, 25 Februari 2018)
Abdullah Salim Dalimunthe. Kelahiran Medan, Sumut, November 1982. Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Kini ia tinggal di Bandung, Jawa Barat.

Sabtu, 24 Februari 2018

Cerpen : Rendang Batak Umak

lukisan keluarha
Rendang Batak Umak ilustrasi Rendra Purnama/Republika
Ibuku orang Sunda. Ayahku orang Batak. Meski demikian, aku terlahir dengan wajah yang lebih mirip Ambon dilengkapi ikal-ikal yang nakal dan tak mirip keduanya. Biarlah, yang penting wujudnya masih sama-sama manusia. Entah bagaimana mereka bertemu di pulau Jawa dan saling membutuhkan di saat yang tepat, karena itu mereka pun memutuskan menikah.

Seumur-umur aku tahu Umak berlatih dan terus berlatih memasak semata-mata demi menjaga Ayah agar hatinya tak tercuri wanita lain. Ia taat sekali pada ajaran orang tuanya: cinta itu muncul dari perut ke hati. Bahagiakan perutnya, maka hatinya takkan kemana-mana.

Selama tiga puluh dua tahun, bisa dibilang berhasil. Buktinya tak pernah sekalipun seumur pernikahan mereka, Ayah makan di luar. Bahkan ia pernah terengah-engah hampir terkapar di depan rumah karena perkara sederhana: Ayah rapat seharian, karenanya pula ia tak makan seharian karena tak sudi menyentuh makanan yang bukan dari tangan Umak. Kadang kupikir masakan Umak adalah satu-satunya alasan mereka tetap menikah dan tinggal di atap yang sama, meski kamar sudah berbeda dan jarang sekali saling bercengkrama.

Kehebohan baru terasa setiap kali hari raya. Sebagai Batak Muslim, penganan khas Batak untuk kami memang sedikit terbatas, tapi tak lantas menghalangi Umak untuk berkreasi. Mulai dari arsik (ikan segar yang dibumbui kunyit, cabai, asam, andamalin serta bumbu lain), dan na tinombur (makanan khas Tapanuli berupa ikan lele atau ikan mas bakar berbumbu kacang).

Lainnya adalah lapet (jajanan Batak yang berbentuk segitiga runcing terbuat dari campuran tepung ketan dan beras yang ditambahkan gula merah) dan naniuar (ikan mas atau mujaer berbumbu. Tidak dimasak melainkan dibantu dengan air perasan asam selama 3-4 jam).

Satu hal yang tak pernah luput dari meja, bintang utama kebanggaan Umak: rendang Batak. Aku sungguh tak tahu pada bedanya rendang Batak dengan rendang Padang, tapi rasanya memang berbeda. Mungkin karena menggunakan daging kerbau. Bisa pula dari kelapanya yang disangrai terlebih dulu, atau prosesnya yang memakan waktu semalaman. Yang kutahu, proses pembuatan rendang itu dimulai sejak berhari-hari sebelumnya.

Mulai dari memilih bumbu-bumbu berkualitas yang Umak pelototi dengan seksama agar tak ada yang busuk atau terlalu muda. Dilanjutkan dengan memarut kelapa dengan tangan, karena menurut Umak, santan instan rasanya kalah gurih dibandingkan dengan santan yang diparut alami. Tak terhitung berapa oleh-oleh goresan dari papan parutan yang tercetak di jemariku. Hingga pemilihan daging kerbau yang terbaik di bagian yang terbaik pula, hanya bisa tercapai setelah Umak berkeliling pasar dari satu penjual ke penjual lainnya.

Tak selesai sampai di situ, ia sengaja mulai masak dari sore menembus malam dan subuh hingga pagi. Harus di atas tungku, tak boleh di atas kompor gas, yang entah bagaimana harus kucari-cari kayu bakarnya. Pada jaman dimana handphone bisa di-charge tanpa kabel, Umak masih bersikeras ingin memasak dengan tungku semalaman! Demi apa?

Demi senyum lebar di wajah Ayah. Ya, kaum pria di keluarga Batak di tengah perhelatan hari raya ini tugasnya cuma dua: berteriak, “Bikinkan kopi.” Lalu sesekali masuk dapur untuk bertanya apakah makanan sudah jadi. Biasanya setelah dijawab sudah, Ayah akan masuk, membuka tudung saji dan melahap bagiannya sambil sesekali curi pandang, bagian siapa yang belum habis.

Ayah yang pendiam sebenarnya tak pernah memuji masakan Umak enak. Ia pun tak pernah mengeluh kalau terlalu asin atau kurang rasa. Tapi Umak selalu menandai, kalau makanannya enak, Ayah akan menambah nasi. Sekali tambah tandanya sungguh nikmat. Dua kali tandanya luar biasa. Tiga kali tandanya Umak sudah jadi ciptaan Tuhan paling berbahagia: makanannya tak beda dengan makanan surga yang dijanjikan di sana. Umak akan tidur sambil tersenyum nanti malam.

Umak sering bercerita bahwa mencapai tujuan hidup itu selayaknya proses membuat rendang. Harus dengan susah payah, teliti dan mencurahkan niat sepenuh hati dari awal hingga akhir. Hasilnya pun akan luar biasa gurih, mengenyangkan perut hingga seharian ke depan. Kalau ada yang tanya siapa yang buat, kita akan menepuk dada bangga karena hasil jerih payah.

Berbeda dengan membuat kerupuk yang tinggal goreng begitu saja. Serba instan, mudah dan seadanya. Namun hasilnya tak beda dengan angin, dikunyah setoples pun sejam kemudian akan lapar kembali. Terlebih lagi, tak ada yang peduli siapa yang masak kerupuk, karena dibuat segudang pun, rasanya akan sama saja dengan kerupuk lainnya.

Sebenarnya tak cuma urusan makanan. Umak berusaha menjadi orang Batak sebaik-baiknya. Pernikahan selama tiga puluh dua tahun menjadikan Umak mahir berbahasa Batak, mulai dari bahasa formal hingga bahasa gaul. Mulai dari letak geografinya, hingga lagu-lagu daerahnya. Tak ada yang Umak tak ketahui, meski Ayah sendiri sebenarnya sudah jarang memakai bahasa Batak. Dinding kami dipenuhi jejeran koleksi ulos Umak meski Ayah tak pernah sekalipun meliriknya. Bahkan panggilan Umak yang merupakan panggilan Ibu khas Tapanuli sendiri digalakkan oleh dirinya sendiri, bukan oleh Ayah.

Umak berjuang keras menghapus jurang perbedaan yang ada antara Sunda dan Batak dengan menyebrangi jembatan itu tanpa ragu: ia menjadi Batak yang sesungguhnya. Termasuk pula karakternya, yang sedemikian keras dan tangguh, khas kaum wanita dari Batak. Tiga puluh dua tahun lamanya ibuku setengah mati menghilangkan kesundaannya agar menjadi Batak sejati, bahkan melebihi Bataknya Ayah.

Bagiku, tak ada yang lebih mengerikan dari cinta Umak pada Ayah. Demi mempertahankan pria yang ia cintai, Umak rela menghapus dirinya sendiri. Meski Ayah tak pernah meminta Umak untuk berubah menjadi apapun yang bukan dirinya.

Namun untuk mempertahankan sebuah perkawinan, sekadar rendang Batak takkan cukup. Meski itu rendang Batak legendaris buatan Umak sekalipun. Puluhan tahun hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan makan dari dapur yang sama, akhirnya mereka berdua sepakat untuk bercerai saja. Mungkin Umak sudah lelah memasak hanya untuk berdua. Mungkin Ayah punya mimpi lain dalam hidupnya yang tak melibatkan Umak di dalamnya. Mungkin pula ada hal lain. Yang pasti anak-anak Batak tak pernah tahu apa yang ada di kepala orangtua mereka, karena bagi Ayah dan Umak, orangtua ada untuk dihormati bukan untuk ditanya-tanyai.

Umak memutuskan tinggal denganku. Ayah pindah ke kota lain untuk hidup sendiri saja. Terakhir aku bertemu adalah enam tahun lalu. Aku nyaris tak mengenalinya. Pipi-pipinya tirus, dadanya yang tegap kini menyusut seiring dengan punggungnya yang merunduk bungkuk.Ayah, pahlawan Batak pujaan Umak, membiarkan dirinya tergerogoti waktu. Umak hanya mengalihkan pandangan seakan tak kenal.
***

Beberapa tahun kemudian, aku menikah dengan orang Jawa. Umak tak berkata apa-apa, tapi tak juga sembunyikan kecewanya karena aku tak memilih sesama Batak. Baginya pria Jawa sungguh tidak jantan. Begitu pula kesimpulanku setelah beberapa tahun kemudian pernikahan kami resmi dinyatakan kandas di Pengadilan Agama. Seolah untuk tahu kandas tidaknya, dua sejoli harus bertanya ke institusi pemerintah yang peduli nama kita pun mereka tidak. Terbukti dari salah ketiknya kedua nama kami oleh sang juru tulis di akta cerai.

“Pasti karena kamu tak pernah belajar Bahasa Jawa.”

Bisa jadi. Aku mengangguk-angguk biar Umak senang.

“Kamu sih, tidak belajar masak makanan Jawa dulu!”

Aku mendengus. Tak perlu kuceritakan kalau mantan suamiku lebih suka sushi Jepang ketimbang pecel, jadi cukup kujawab dengan senyuman.

Cecaran Umak yang tidak sensitif akan fakta kami baru pulang dari Pengadilan Agama untungnya terhenti. Kami akhirnya tiba di pasar. Ia segera sibuk sendiri mengumpulkan bahan untuk lebaran besok lusa.

Aku tersenyum menyaksikan ekspresi Umak yang sungguh menikmati proses pembuatan makanan yang sebenarnya toh hanya akan dinikmati berdua dengan anaknya yang kerempeng ini. Rendang Batak bukan lagi ia gunakan sebagai senjata untuk mempertahankan Ayah, kini ia hanyalah masakan terbaik yang bisa Umak sajikan dan banggakan. Bagian dari dirinya. Bagian dari masa lalu yang ia terima dengan lapang dada. Sesederhana itu.

Teleponku berdering. Senyumku raib, surut bersama darah di kepalaku.

Ayah meninggal.
***

Setelah beberapa tahun hidup sendiri meratapi meja makan di rumahnya yang kosong melompong, ternyata Ayah memutuskan menikah kembali. Lagi-lagi dengan wanita Sunda.

Aku melangkahkan kaki ragu-ragu ke rumah luas yang berada di Sukabumi. Seorang wanita bersahaja berparas cantik bergegas menghampiri.

“Neng Butet?” sapanya dengan logat Sunda yang kental dan asing di telinga. Aku berkesimpulan ia adalah istri Ayah. Aku mengangguk meski masih luar biasa bingung. Umak mengikuti di belakangku, menjaga jarak dan tetap waspada.

Aku memutuskan memanggil wanita itu dengan Teteh, karena usianya yang hanya berselang sepuluh tahun denganku. Teteh bercerita tentang Ayah yang kolesterolnya memang sudah tinggi sejak mereka bertemu. Berpenyakit jantung dan darah tinggi, Teteh menyebutkan penyakit-penyakit yang setahuku yang ilmu kesehatannya dangkal ini bisa jadi berasal dari konsumsi daging dan makanan bersantan berlebihan.

Seperti rendang Batak, misalnya. Aku menggigit bibir sambil sesekali melirik Umak yang mulai memucat. Keringat dingin menetes dari dahinya.

Teteh ini sedemikian santunnya, menunduk-nunduk sambil menabur senyum. Suatu sikap khas Sunda yang paling Umak tak suka. Ia kerap menyebutnya klemar klemer. Terlalu lembut, tak ada tangguh-tangguhnya. Sungguh tak adil membandingkan mereka, tapi sulit untuk tak menyadari perbedaannya: mereka selayaknya bumi dan langit. Namun kuamati dari foto-foto di dinding, senyum Ayah tak pernah selebar itu kala bersama Umak.

Tak hanya senyum, beberapa di antaranya bahkan menunjukkan tawa. Foto-foto itu bercerita betapa beberapa tahun terakhir ia berkeliling menjelajah tempat-tempat yang Umak tak pernah suka. Siapa pernah duga Ayah ternyata suka sekali dengan Bali yang menurut Umak disesaki terlalu banyak turis. Aku mengangkat alis ketika pandanganku menyapu sebuah lukisan megah beraliran post-impresionisme dengan inisial Ayah di bawahnya. Mana pernah aku tahu bahwa Ayah bisa melukis, seindah ini pula. Ia manusia yang sama sekali berbeda setelah keluar dari kepompong bernama pernikahan.

“Mangga, Neng, Teh,” Teteh mempersilakan aku dan Umak masuk ke ruang makan.

“Dicicipi, makanan kesukaan Aa,” Teteh kemudian menyusut airmatanya.

Kubuka tudung saji hanya demi mendapat senyum ramahku seketika hilang.

Pepes ikan nila ala Cianjur. Ternyata Ayah tak pernah cerita selama ini ia suka makanan Sunda.

Kurasakan tubuh Umak ambruk di sebelahku.

Cerpen Zhizhi Siregar (Republika, 11 Februari 2018)

Selasa, 30 Januari 2018

Apakah Bapak Wafat?

Apa Bapak Wafat ilustrasi RE Hartanto Kompas
Apa Bapak Wafat? ilustrasi RE Hartanto/Kompas
Pagi itu, pagi biasa, seperti pagi-pagi sebelumnya. Di rumah kami, inilah pagi ke sekian ratus terakhir, di mana aku dan kakak perempuanku menyambung hidup dalam kesederhanaan bersama Bapak kami. Pensiunan pegawai negeri yang sudah melewati 70 tahun usianya dan dalam kondisi kesehatan yang sangat tidak baik.

Bapak adalah seorang tradisionalis sejati, pengikut ajaran Taman Siswa yang belajar langsung dari Ki Hajar Dewantara. Secara politis, ia mengikuti orientasi ayahnya yang nasionalis tulen ala Tan Malaka, teman seperjuangan sang kakek walau berasal dari komunitas yang berbeda. Jadi dapat dibayangkan, bagaimana sepanjang hidup Bapak bangun jam empat sebelum Subuh, bebenah rumah—terutama kamar mandi plesteran yang selalu rapi dan bersih—tiba di kantor, instansi negara, pukul tujuh, kembali pukul 5 sore, berkebun, mengawasi anak belajar hingga sembilan petang, membereskan rumah pukul 10 malam, mendengarkan wayang di radio dua band pukul 11 dan tertidur antara pukul satu dini hari.

Tidak merokok, tidak ngopi, juga tak suka kongkow dengan tetangga, makan pepaya dua kali sehari untuk tidak memperparah ambeiennya yang sudah seperempat abad: Bapak bisa dibilang sangat konservatif, kolot boleh anak muda bilang begitu. Tapi penyakit berat, karena usia tentu saja, lebih utama lagi karena—kata orangtua—kepaten obong, setelah istrinya meninggal tujuh tahun lalu, tentu saja membutuhkan perawatan agak lebih. Kami berdua, kakak beradik, mengambil pilihan untuk menjalankan tugas itu. Lebih dari kewajiban kakak sebagai istri dari seorang pegawai negeri juga, dengan satu anak. Atau aku, karyawan perusahaan media yang sangat dituntut kinerja dan loyalitasnya.

Kami habiskan hampir semua waktu di luar kewajiban sosial-formal yang ada untuk Bapak. Bapak tentu tahu. Walau sudah tiga tahun lebih ia yang hanya bisa berbaring memilih memejamkan mata sepanjang hari. Seolah dengan begitu ia lebih bisa “melihat”, antara dunia nyata yang masih dihidupinya atau dunia baqa yang seakan menghidupinya. Kami sangat paham. Tak menuntut lebih dari itu. Sudah hampir sepuluh windu ia hidup, sebagian besar untuk anak dan keluarga, tentu tidak berarti apa-apa pengabdian yang kami berdua berikan. Tanpa harus cemburu dengan lima saudara kami yang lain, sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing di kota berbeda.

Apa yang kami bingung harus bersikap bagaimana, adalah hal kecil terjadi sore kemarin. Bapak membuka matanya, menatap kakakku dengan seksama. Tentu tanpa bicara, seperti sudah ia lakukan sekitar 5,5 tahun terakhir. Aku datang dan kulihat matanya pun beralih padaku. Entah apa arti pandangan itu. Hingga jam 11 malamnya, saat ia dahulu biasa mulai mendengarkan wayang kulit, ia minta dibangunkan, hanya untuk mandi di kamar mandi. Kami bukan hanya bingung dengan permintaan itu, tapi juga malu karena ketekunan kami belum ada apa-apanya dibanding cara Bapak dahulu merawat kamar mandi.

“Kamar mandi masih kotor, Pak,” kakak coba menutupi rasa malunya. Bapak berkeras. Ia malah seperti coba bangkit dengan mengangkat kepalanya. Sejak momen itu, Bapak banyak meminta atau melakukan sesuatu yang tidak “biasa”, bahkan luar biasa. Esok paginya, ketika aku terbangun karena azan Subuh, kulihat Bapak sudah duduk di pinggir tempat tidur. Bahkan ia minta sarapan bersama di meja makan.

Kami tidak pernah berani berpikir tentang “keajaiban”, ketika matahari mulai tinggi Bapak berjalan keluar rumah menikmati kehangatannya. Kakakku masak, aku bolos kerja untuk mendampingi “keluarbiasaan” Bapak hari ini. Sampai tengah hari, kehidupan seolah kembali “normal” seperti dulu. Bapak baca koran sambil minum teh hangat pada jam delapan pagi, tradisinya setelah pensiun. Sampai siang ia sibuk dengan dokumen, arsip hingga kepustakaan yang selama ini ia kelola dengan rapi. Makan siang diisi obrolan ringan yang —jarang sekali—sesekali ditingkahi candaan dan tawa.

Tidak berani kami menggambarkan situasi menjelang sore, ketika Bapak mulai masuk kebun, menyapu, membersihkan sampah dedaunan dan merawat pepohonan seperti merawat keluarganya sendiri. Bahkan kami harus melongo melihat Bapak membawa dua ember air untuk menyirami tanaman di kebun itu. Kakak cuma berdiri terpaku, seperti lupa atau tidak tahu harus mengucap istighfar atau hamdalah, sebagaimana refleks ia katakan dalam menghadapi sesuatu.

Aku sendiri hampir tidak tahan untuk bertanya, “apa yang terjadi pada Bapakku?”. Ingin rasanya langsung bertanya pada yang bersangkutan. Tapi ketika aku tidak tahan menyampaikan langsung pertanyaan itu, telepon selularku berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk. Aku ingin tidak peduli, tapi karena selintas terbaca pesan singkat itu berasal dari adik bungsu, anak yang merasa paling mencintai dan dicintai Bapaknya, aku terpaksa membuka pesan itu.

“Ya Allah …. Ya Allah…” begitu awal pesan itu, “Innalillahi wainna ilaihi roji’un …. (emotikon tanda orang bersedih sangat). Kenapa bukan Mas dan Mbak yang kasih tahu pertama, malah tetangga. Bagaimana sih? Ya Allah…Bapak…Bapak…”

Aku terhenyak. Belum mengerti apa maksud dari SMS adikku itu. Namun setelah itu berduyun pesan singkat datang, dari semua saudara, kerabat, hingga kenalan dekat. Begitupun yang diterima oleh kakakku. Telepon yang menyatakan belasungkawa begitu luar biasa, mungkin bukan karena banyaknya, tapi lebih karena kekagetan kami berdua: “Bapak sudah meninggal??” Bagaimana orang-orang itu semua tahu, dari mana info itu semua, sedangkan Bapak sendiri ….

Belum selesai pikiran kami menyelesaikan kalimatnya, tubuh keropos tua itu lewat di depan kami, dengan dua ember air di kanan kirinya. Kedua matanya memandang kami, seakan tersenyum dan menegur, “Ayo hidup jangan kebanyakan bengong…kerja!”. Tapi kami benar-benar bengong. Semua peralatan tubuh tidak mampu kerja.

Namun akhirnya kami bergerak. Meminta Bapak istirahat, dengan alasan antara lain hari telah mendekati maghrib. Bapak tentu bersedia, duduk di kursi rotan yang setengah tidur, meminum air putih segar dan menghela nafas panjang. Pisang tanduk rebus hangat di sisinya, tidak ia sentuh. Matanya terpejam. Kami memandangnya tajam. Sedang apakah ia? Benarkah ia masih hidup, atau mungkin ia sudah…jadi mayit seperti banyak SMS dan telepon yang masuk?

“Bapak…” kakak saya coba menegur. Bapak diam. Kami berpandangan. “Ini banyak SMS dan telepon yang…” Belum habis kata-kata kakak, Bapak membuka sedikit matanya, seperti menegur, “Aku tahu…” Tapi…tapi…mengapa… “Aku tahu…” sekali lagi Bapak menegur dengan pandangnya.

Kami tetap tak bisa menjawab. Kenapa…atau…apakah benar Bapak sebenarnya…

Kedua mata tua itu menutup perlahan seperti menyatakan, “Benar…” Lalu…kenapa…kenapa… “Kenapa Bapak tidak buktikan bahwa itu tidak benar?! Bapak sehat, sehat sekali!” aku tidak tahan untuk bicara, bahkan agak keras.

Kali ini bibirnya yang bicara. Ia senyum kecil. Satu peristiwa langka dalam hidup kami. Tapi bermakna banyak, tentu saja, apalagi di saat ini. Senyum itu seperti mengatakan, “Bapak memilih yang benar.”

Kami tidak tahu harus berbuat apa, bahkan berkata apa. Bapak tetap diam terbujur di kursi rotan itu. Posisi setengah rebah yang semeleh. Mata terkatup rapat tanpa ketegangan, bibir berjungkit sedikit mencipta senyum yang langka. Kami tak sempat lagi hendak berbuat. Ketukan pintu, tetangga, teman dan kerabat terdekat hingga saudara-saudara akhirnya membanjir datang. Menciptakan dengung, orkestra tangisan, hingga jeritan.

Aku yang masih bingung, membuka kembali selular yang memberi tanda pesan masuk. Kulihat pesan itu tiba pukul 06.17 PM. Kalau orang-orang ini berdatangan selama seperempat jam terakhir, berarti Bapak tersenyum terakhir sekitar pukul enam petang. Lalu SMS adik bungsu, yang pertama kali masuk menangisi kepergian Bapaknya, kuperiksa seksama, pukul 06.25 PM. Eh?!! Pukul berapa sekarang sebenarnya? Kutengok penunjuk waktu di selular itu, menunjuk angka digital: 05.50 PM. Yang benar saja? Yang benar saja?!!

Tapi…angka digital itu…ternyata tidak bergerak. Jam itu mati, sudah mati di angka yang ditunjukannya. Bapak…

Cerpen Radhar Panca Dahana (Kompas, 21 Januari 2018)
Radhar Panca Dahana, terpilih sebagai Tokoh Budaya dari Badan Bahasa Kemdikbud dan terakhir dianugerahi harian Kompas, Cendekiawan Berdedikasi. Cerpennya Sepi pun Menari di Tepi Hari menjadi Cerpen Terbaik Kompas 2014.

RE Hartanto lahir di Bandung tahun 1973. Lulus Jurusan Seni Murni FSRD Institut Teknologi Bandung tahun 1998. Hartanto membuka akun Klinik Rupa dr Rudolfo di Instagram, didedikasikan bagi mereka yang ingin berlatih menggambar dengan langgam realisme secara gratis.

Kamis, 25 Januari 2018

Di Hadapan Maut

Di hadapan maut
Engkau begitu gugup dan takut
Sebab jalan tak kau temui tikung
Tak ada kelok untuk menolak
Tak ada gorong untuk mengumpat

Di hadapan maut
Engkau begitu sesak dan terbata
Lenyaplah kata, lenyaplah suara
Ke hadapannya kembali bermuara

Di hadapan maut
Engkau begitu kecul
Khatam segala doa
Khatam segala janji
Tak ada tawar menawar untuk kembali

Aceh 2017
Sajak Hamdani Chamsyah (Serambi Indonesia. Minggu/21/01/2018)
Hamdani Chamsyah, lahir di Drien Jalo, 20 Juli 1990. Merupakan mahasiswa PBSID STKIP BBG
Berasal dari Aceh Barat Daya. Pegiat Teater Bi Get.




Rabu, 24 Januari 2018

Ingatan


Sudah kami kubur
Kedatanganmu dalam ingatan
Nisan-nisan terancap di kepala dan kenangan
Kau tiba mengajarkan kami lebih dekat pada Tuhan

Oh laut yang menjelma naga hitam
Menerkam kampung-kampung malang
Menelan tubuh-tubuh yang masih tersisa kantuk semalam
Meluluh lantakkan segala yang ada
Meratakan hampir tak tersisa

Sudah kami kubur yang singgah sebentar dalam ingatan

Melaboh digulung gelombang, di terpa air garam
Banda Aceh bermandi air hitam
Calang tenggelam, Kajhu karam
Sudah kami pahat di kepala menjadi nisan

Oh laut yang tiba-tiba garang
Menjelma penjemput ajal
Engkau dikirim Tuhan untuk kami yang jalang
Teguran agar kami tahu jalan pulang.

Lambateng, Desember 2017

Sajak Hamdani Chamsyah (Serambi Indonesia. Minggu/21/01/2018)
Hamdani Chamsyah, lahir di Drien Jalo, 20 Juli 1990. Merupakan mahasiswa PBSID STKIP BBG
Berasal dari Aceh Barat Daya. Pegiat Teater Bi Get.
lukisan tsunami
Sajak Ingatan/Ilustrasi Pinterest

Selasa, 23 Januari 2018

Cut Yanti

Cut Yanti (35), asal Lamno-Aceh, dihukum mati karena terbukti terlibat sebagai otak pelaku penembakan terhadap suaminya sendiri di Pahang-Malaysia.

***
Tentu saja berita ini cepat menyebar, menjalar seperti api disiram pertalite ditengah tumpukan daun kering kerontang di musim kemarau. Aku, Cut Yanti, kontan menjadi topik pembicaraan dan pemberitaan yang ramai di surat kabar, televise maupun di media sosial. Mereka semua menghukum dan menghakimiku tanpa tahu latar belakang masalahku.

Mungkin Mak sudah mendengar, bahwa aku, anakmu yang bernama Cut yanti, musti menghadapi kenyataan sebagai seorang tahanan yang harus menghadapi hukuman mati di negeri orang. Benar, katamu Mak, “Hidup adalah tulisan tanpa penghapus.”

Inilah goresan hidupku Mak. Tapi aku tetap percaya bahwa ini adalah jalan terbaik yang diberikan Allah untukku. Sebab semuanya bermula karena cinta kepada suamiku. Suami yang engkau pilihkan untukku. Aku tahu saat ini Mak tak mampu lagi menyembunyikan kesedihan Mak yang semakin menyusutkan buah dada Mak, tempat aku dulu menyusui. Dan kerut-merut diwajah Mak semakin memetakan penderitaan akibat perbuatan durjana dari putrimu ini. Ampuni aku Mak, karena semua ini bermula dari cinta, dari niat mempertahankan rumah tangga yang telah kau restui 20 tahu yang lalu. Semenjak ayah diseret keluar rumah dan diberondong peluru didepan matamu, kau selalu khawatir akan keselamatanku, putrimu satu-satunya. Karena itu Mak sibuk mencari jodoh yang terbaik untukku, agar ada yang menemani dan melindungiku karena usia Mak semakin tua, bahkan wajah Mak lebih tua dari pada di Katepe, sinar mata Mak semakin hampa, Makpun mulai sakit-sakitan dipicu sesak dibatin Mak. Maka di usia 15 tahun aku sudah duduk di pelaminan.
Perempuan di pinggir pantai
Cerpen Cut Yanti/Ilustrasi pinterest

Tak tegalah aku menolak pilihanmu Mak, dan membiarkan Mak seumur hidup menyimpan takut dan dendam. Tak perlu Mak katakana, karena dengan diamnya Mak sejak ayah ditembak, aku tahu hari-hari Mak diisi dengan munajat panjang. Memohon kebahagiaan putrimu dan mengutuki si keparat yang telah menembak ayah.

Pilihan Mak untuk putrimu ini tidaklah salah. Bang Wan adalah laki-laki yang baik, pintar mengaji dan rajin jadi imam di meunasah. Tapi kami terpaksa harus lari ke hutan. Karena ada desas-desus bang Wan masuk dalam jaringan teroris. Nanggroe kita tidak aman Mak, sedikit kabar burung bisa menghilangkan nyawa. Maka maafkan aku Mak, yang tak mencium tanganmu dan bersimpuh di kakimu saat aku pergi malam itu. Bang Wan tidak melarangku untuk meminta izinmu, tapi aku yang tak mau karena ku tahu kau takkan mengizinkanku. Aku hanya meninggalkan selembar surat permohonan maafku padamu. Aku tahu darah yang mengalir di tubuhku adalah darahmu juga, maafkan aku saat itu Mak…aku berniat akan kembali, dan menjilat luka di hatimu.

Demi cintaku pada suami, akau tinggal di hutan Mak. Rumahku di atas gunung, aku tidur berselimut langit. Di langit itu ada satu bintang yang bersinar cerah, bintang kejora namanya. Maka ingat saat bocah bila Mak Tanya cita-citaku, aku selalu bilang ingin menjadi bintang. Sampai sekarangpun aku masih ingin menjadi bintang. Bintang yang bersinar dalam kegelapan, walau sinarnya semaki lama semaki redup, karena langit di Naggroe kita selalu di gayuti awan. Awan yang menggumpal dari butiran air mata anak-anak tanah endatu.

Tapi tak lama kami tinggal di hutan Mak, karena teman-teman Bang Wan telah mempersiapkan sebauh pelarian ke negeri seberang, Malaysia. Negeri yang warganya dulu menuntut ilmu di negeri kita. Sekarang kita sudah sangat ketinggalan dari mereka. Ironis, seironis jodoh pilihanmu. Bukankah Mak menjodohkanku dengan orang sekampung agar aku tak pergi jauh. Tapi sekarang aku harus meninggalkan Mak dan pergijauh mengikutii suami ke negeri orang.

Di Malaysia Bang Wan bekerja sebagai montir di bengkel temannya. Aku membantu Bang Wan mencari rezeki sebagai tukang cuci piring di restoran tak jauh dari bengkel Bang Wan. Tak jarang kami harus bersembunyi dari kejaran tentara Malaysia karena kami tak punya passport dan visa legal. Semua aku jalanin dengan tabah Mak, karena kau telah mengajarkanku untuk bekerja keras.. sampai akhirnya Tsunami melanda Nanggroe kita. Dan berkah dari Tsunami itu adalah perdamaia. Maka aku dan Bang Wan bisa kembali ke kampong halaman dengan jalur laut. Jalur untuk tenaga kerja yang tidak mempunyai passport dan vis. Kampong kita sudah rata dengan tanah, tapi Alhamdulillah aku bisa menemukanmu di rumah Wak Cut Dollah. Itu adalah pertemuan kita yang terakhir Mak, karena kau bersikeras tak mau ikut denganku dan Bang Wan ke Malaysia. “Mak ingin mati di kampong halaman sendiri dan dimakamkan di samping kuburan ayah.” Itu alasanmu. Sedangkan Bang Wan sudah mempersiapkan berkas-berkas yang legal unutk keberangkatan kami kembali ke Malaysia. Aku kembali harus memilih antara Mak dan suamikku, tapi kali ini kau izinkan aku mendampingi Bang Wan, “tempat seorang istri adalah di samping suaminya” itu pesanmu.

Berkat restumu Mak, semakin hari usaha Bang Wan di Malaysia semakin maju. Dari bekerja sebagai montir di bengkel orang, kini Bang Wan bisa punya bengkel sendiri. Bukan hanya satu tapi sudah tiga. Saat jaya itulah prahara itu dimulai. Benar kata orang, “kesetiaan seorang istri diuji saat suami berada dibawah dan kesetiaan suami diuji saat suami berada di atas.” Harta menjadi prahara di rumah tangga kami. Bang Wan mulai menuntut dan mulai menuding karena aku tak bisa memberikan seorang anak. “mau diwariskan kepada siapa harta kita, kalau kita tak mempunyai keturunan.” Pernyataan itu selalu  diulangnya saat marah. Bang Wan mulai sering pergi berhari-hari tanpa kabar. Sampai suatu hari dia mengaku bahwa dia mencintai perempuan lain. Shakeenah namanya. Seorang janda cantik beranak tiga. Berasal dari kota Langsa. Dia minta izin dariku untuk poligami. Tentu saja aku menolak Mak, aku marah dan kecewa. Sudah sedemikian banyak pengorbananku untuk mendampinginya. Disaat susah aku selalu ada untuknya, bahkan rela meninggalkan Mak dan kampong halamanku. Di saat senang Bang Wan ingin membaginya dengan orang lain, dengan dalih perempuan itu adalah janda dari sahabatnya yang meninggal di tabrak tronton. Bang Wan sayang kepada ketiga anak yatim itu dan ingin membantunya karena menolong anak yatim dan janda adalah ibadah. Sampah! Itu semua dalah alasan dari nafsu liarnya. Aku tidak terima Mak… Aku tidak terima!

Tapi Bang wan tidak mau dibantah, dia mengancam akan menceraikan aku kalau tidak patuh pada suami. Hatiku mendidih tapi tak berdaya, kalau diceraikan aku merasa terhina dan malu. Bagaimana aku bisa menatap matamu saat aku pulang ke kampung halaman dalam keadaan ditalak. Dipoligami aku juga tak rela, membayangkan harus membagi suami di ranjang perempuan lain membuat hatiku murka. Karena itulah setan membisikkan pikiran gila ke benakku. Pikiran untuk membunuh suamiku dengan tangan orang lain. Dan ide itu aku wujudkan, dengan uang yang aku punya, tak susah di zaman ini untuk mencari orang untuk melakukan yang aku mau. Tetapi ternyata aku salah memilih orang, dalam waktu 1x24 jam saja dia sudah tertangkap. Dan mulailah penembak itu bernyanyi menyebut-nyebut namaku.  Maka di sinilah aku saat ini Mak. Mendekam di sel sunyi samba menungu waktu kematianku tiba. Aku tahu Mak, sekarang kau merutukku karena telah membayar orang untuk membunuh suamiku sendiri. Akupun tak kurang merutuk diriku sendiri mengapa begitu cepat terperdaya oleh ide busuk yang melintas di benakku. Seandainya saat itu aku bisa lebih sabar menghadapi cobaan ini. Mungkin sejarah hidupku akan lebih indah. Aku akan mati dan dikenang sebagai seorang istri yang rela dipoligami demi mencapai surge. Bukan seperti saat ini, dihukum mati karena otak penembakan suami sendiri.

Namun sekarang, peristiwa pahit ini harus ketelan Mak, bukan karena takdir Allah semata. Namun, risiko yang dari awal harus kuterima. Kalau surat ini sampai ketangan Mak, tolong sampaikan permintaan maafku pada keluarga Bang Wan. Aku memang pantas disalahkan meskipun dulu kau pernah berkata “tidak ada yang mesti disalahkan, semua itu yang di ataslah yang mengatur.” Berulang kali kalimat itu Mak ucapkan dulu. Ya, dulu saat binar di mata Emak masih teduh. Dan aku selalu mengangguk isyarat setuju. Maka Mak, kumohon jangan menetes air mata untu putrimu ini, berdoalah untuk ketenangan arwahku, meski Mak menahan perih.

Banda Aceh, 29 November 2017
Cerpen Yanti Shakeenah (Serambi Indonesia. Minggu/21/01/2018)

Yanti Shakeenah, guru di SMA Negeri 1 Lubok Ingin Jaya.
Pecinta dan penikmat sastra.

Selasa, 16 Januari 2018

Kita

Kita pernah melewati masa suram
Saat hidup sama sekali tak mengenal siang dan malam
Kita sibuk dengan uang dan lika-liku kehidupan
Tentang cinta dan rindu yang penuh dilema

Kita adalah manusia abadi

Seakan hidup ini tak akan mati

Kita serakah dan angkuh

Sedikit kurang mengeluh
Kita tak mengenal kata syukur
Hingga kita lupa masih ada yang tak terukur

Saat menjalani hidup

Kita berpacu pada angan
Sehingga semuanya hanya tampak bayangan
Kita sebenarnya lupa 
Kalau kita adalah cahaya yang semakin meredup
Kemudian menghilang

Punge jurong, 30 oktober 2017

Sajak Habil Razalli (Serambi Indonesia, Minggu/14/01/2017)
Habil Razali, Mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala.
Lahir dan besar di Keumala, Pidie, Aceh.
lukisan kota
Add caption