Senin, 07 Agustus 2017

Tere Liye : Pulang

Bab 3. Shadow Economy

Dua puluh tahun melesat cepat. Hari ini.
Ruangan dengan nuansa tradisional itu terlihat nyaman. Lantai marmernya mengkilat. Ada meja panjang terbuat dari kayu jati pilihan, dan beberapa kursi empuk. Lukisan karya maestro ternama tergantung di dinding, juga hiasan ukir-ukiran berkualitas nomor satu.
Tere Liye : Pulang

Pintu ruangan dibuka. 
Aku menoleh. Berdiri dari kursi.
Dua orang masuk, salah-satunya adalah sosok yang paling sering diliput, diberitakan oleh media nasional belakangan. Wajahnya menghiasi layar kaca, surat kabar, pun dunia maya. Mengenakan kemeja putih lengan panjang. Di belakangnya ikut melangkah seseorang yang dikenali sebagai penasehat kampanye bidang ekonomi, dengan jas dan dasi rapi.
“Sudah lama menunggu?” Orang dengan kemeja putih itu tersenyum, menyapa ramah.
“Tidak lama.” Aku menjawab pendek, menerima juluran tangannya.
“Silahkan duduk. Ayo, jangan sungkan-sungkan.” Orang itu menunjuk kursi.
Aku mengangguk.
“Mau minum apa?” 
“Aku tidak datang untuk minum atau makan, Bapak Calon Presiden.” 
Gerakan orang berkemeja putih yang hendak memanggil ajudan terhenti, dia menatapku, dahinya sedikit berkerut. 
“Oh ya? Hanya minuman ringan. Air putih?”
“Sekali lagi, Bapak Calon Presiden, aku tidak datang untuk minum. Dan jelas sekali, aku tidak datang untuk berbasa-basi.” Suaraku menggantung di ruangan.
Orang dengan kemeja putih itu terdiam. Hanya sebentar, kembali tersenyum hangat. Khas seseorang yang pandai menutupi diri. Keahlian itu sangat diperlukan bagi seseorang yang sedang bertarung memperebutkan suara orang banyak. Boleh jadi itu memang perangai aslinya, boleh jadi penuh kepalsuan. Topeng. Entah untuk tujuan baik, ataupun buruk. Tapi tidak dengan hidupku, aku tidak pernah mengenakan topeng.
“Baiklah kalau begitu. Apa yang bisa aku bantu? Karena aku barusaja menerima agenda ini. Sangat mendadak terus-terang. Aku seharusnya berkampanye di kota penting siang ini. Tapi penasehat ekonomiku mendesak, bilang pertemuan ini serius. Apakah ini soal dana kampanye? Dukungan dari para pengusaha?” Orang berkemeja putih diam sejenak, tersenyum, “Oh ya, bahkan aku belum tahu siapa nama Anda?”
“Orang-orang memanggilku Si Babi Hutan.” Aku menjawab datar.
Kali ini, ruangan itu lengang. Ekspresi wajah orang berkemeja putih benar-benar berubah sekarang. Dia tidak tahan lagi, menoleh ke arah penasehat ekonominya dengan wajah masam, “Apakah ini lelucon? Siapa orang ini? Bagaimana dia menyela semua kesibukan? Bertingkah tidak sopan di depanku?”
“Tidak ada yang sedang melucu saat ini, Bapak Calon Presiden.” Aku yang menjawab, “Anda bertanya siapa namaku, aku menjawabnya dengan akurat, Si Babi Hutan. Di mana letak tidak sopannya?”
Orang dengan kemeja baju putih menatapku, terdiam.
“Orang-orang terdekat juga menyebutku Bujang. Siapa nama asliku? Itu tidak penting, hanya orang tuaku yang tahu. Siapa aku? Nah, itu pertanyaan menarik. Aku adalah jagal nomor satu di Keluarga Tong. Aku hanya meminta waktu Anda tiga puluh menit. Dan Anda hanya punya dua pilihan atas hal itu. Membatalkan pertemuan ini, berangkat menuju kota penting tempat Anda hendak kampanye semula. Atau berbesar hati mendengarkan. Dua-duanya punya resiko. Tapi saranku, sebaiknya pilih opsi yang kedua. Itu pilihan terbaik. Sama dengan nomor pemilihan Anda, bukan?”
Orang dengan kemeja putih lengan panjang terdiam. Penasehat ekonominya berbisik, meyakinkan, betapa mendesaknya agenda ini, dan betapa seriusnya orang yang sedang mereka temui.
Ruangan lengang lagi. Orang dengan kemeja putih itu bergumam kebas. Dia akhirnya memperbaiki posisi duduknya, menatapku. Bersiap mendengarkan.
Aku mengangguk. Dia telah memilih dengan tepat. 
“Anda pasti pernah mendengar istilah shadow economy, Bapak Calon Presiden.”Aku mulai menjelaskan, dengan nada suara terkendali, mata menatap tajam, “Jika Anda tidak tahu, maka penasehat ekonomi yang duduk di sebelah Anda bisa menjelaskannya lebih baik. Dia menyelesaikan kuliah ekonomi di Amerika, dengan nilai baik. Tapi akan aku jelaskan secara singkat pokok besarnya.”
“Shadow economy adalah ekonomi yang berjalan di ruang hitam, di bawah meja. Oleh karen itu, orang-orang juga menyebutnya black market, underground economy. Kita tidak sedang bicara tentang perdagangan obat-obatan, narkoba, atau prostitusi, judi dan sebagainya. Itu adalah masa lalu shadow economy, ketika mereka hanya menjadi kecoa haram dan menjijikkan dalam sistem ekonomi dunia. Hari ini, kita bicara tentang pencucian uang, perdagangan senjata, transportasi, properti, minyak bumi, valas, pasar modal, retail, teknologi mutakhir, hingga penemuan dunia medis yang tidak ternilai. Yang semuanya dikendalikan oleh institusi ekonomi pasar gelap. Kami tidak dikenali oleh masyarakat, tidak terdaftar di pemerintah, dan jelas tidak diliput media massa, seperti yang Anda nikmati setiap hari. Bukankah masuk parit pun, wartawan berbondong-bondong memotret? Kami tidak. Kami berdiri di balik bayangan. Menatap semua kepalsuan hidup yang kalian miliki.”
Aku meraih sesuatu dari balik jasku.
“Pertanyaan menariknya adalah seberapa besar shadow economy? Jawabannya, di luar imajinasi siapapun. Beberapa pakar ekonomi menaksir nilai shadow economy setara 18-20% GDP dunia. Angka sebenarnya, dua kali lipat dari itu. Di negeri ini saja, dengan total produk domestik bruto per tahun 800 milyar dollar, maka nilai transaksi shadow economy lebih dari 320 milyar dollar, atau setara 4.000 trilyun rupiah, 40% GDP. Anda pasti pernah melihat majalah ini.” 
Aku meletakkan majalah terkemuka di dunia yang berisi daftar orang terkaya seluruh negeri. 
“Daftar orang terkaya di majalah ini adalah lelucon. Ditulis besar-besar, headline, seratus orang terkaya, dengan total kekayaan sebesar 102 milyar dollar, berapa puluh tahun mereka mengumpulkan kekayaan itu? Bandingkan dengan nilai transaksi shadow economy dalam setahun. Kami hanya butuh tiga bulan saja untuk mengumpulkan uang setara dengan kekayaan seratus orang. Dan bicara soal kepalsuan, aku beritahu rahasia kecil, seperempat dari daftar ini, adalah orang-orang kepanjangan tangan kami. Mereka seolah memiliki bisnis penerbangan besar, bisnis properti raksasa, pabrik rokok, perbankan, tapi kamilah penguasanya. Kami yang menggelontorkan milyaran dollar sebagai modal. Mereka seperti boneka, digerakkan dari jauh tanpa terlihat. Dua puluh tahun terakhir, kami bertransformasi, berubah secara menakjubkan. Sesuatu yang gelap menjadi remang, mengubah yang remang menjadi terang. Kami bukan lagi tikus busuk di got, menjual ganja atau organ tubuh illegal. Hari ini, kami menyelinap di setiap bisnis legal.”
“Satu diantara empat kapal di perairan negeri ini, adalah milik keluarga penguasa shadow economy. Satu diantara enam properti penting negeri ini adalah milik shadow economy. Bahkan satu diantara dua belas lembar pakaian, satu diantara delapan telepon genggam, satu diantara sembilan website adalah milik jaringan organisasi shadow economy. Kami bagai gurita, menguasai hampir seluruh aspek ekonomi. Ada lebih dari empat ratus juta tenaga kerja yang bekerja di ekonomi hitam seluruh dunia. Sepuluh juta diantaranya ada di negeri ini.”
“Kami bukan mafia, triad, yakuza, atau apapun yang Anda pernah lihat di film, televisi, buku-buku. Menyamakan kami dengan mereka, sama saja dengan menyamakan kami dengan preman pasar. Organisasi kami lebih besar, lebih rapi, dan dalam teritorial tertentu, di negara-negara tertentu, organisasi shadow economy bahkan lebih besar dan lebih berpengaruh dibanding pemerintahannya. Bedanya, mereka tidak mencolok, tidak nampak.”
Orang berkemeja putih lengan panjang yang sedang kuajak bicara terlihat menahan nafas. Dia sepertinya mulai mengerti arah percakapan.
“Bapak Calon Presiden, sejak dulu shadow economy dikelola oleh keluarga-keluarga yang berkuasa. Ada delapan keluarga yang menguasai negeri ini. Akan ada salah-satu keluarga yang ditunjuk menjadi pemimpin. Mereka membagi kue dengan adil, dan berjanji tidak akan saling menganggu. Tapi siapa yang bisa memegang janji dunia hitam? Setiap periode tertentu, siklus berubah, kepemimpinan selalu menyesuaikan perubahan jaman. Yang tua digantikan yang muda. Keluarga lemah digantikan keluarga yang kuat. Sebagian terjadi dengan damai, sebagian lagi harus dibayar dengan nyawa ratusan hingga ribuan orang. Ambisi. Perebutan kekuasaan. Sudah makanan biasa antar keluarga. Orang biasa tidak tahu-menahu, mereka tidak pernah menyadari jika di kota mereka, barusaja terjadi pembunuhan massal, yang terlihat hanya kulit luarnya, karena semua terjadi di bawah bayangan.
“Sepuluh tahun terakhir, keluarga Tong menjadi penguasa di negeri ini. Pemimpinnya dipanggil Tauke Besar. Aku adalah kaki tangan langsung Tauke Besar. Jagal nomor satu. Hari ini aku ditugaskan menemui Anda, membicarakan soal ini. Anda mungkin baru mengalami hal ini, Bapak Calon Presiden. Mengejutkan memang. Tapi Anda akan terbiasa. Kami selalu menemui calon-calon presiden, termasuk presiden yang akhirnya terpilih. Pesaing Anda tidak terlalu terkejut saat bertemu denganku satu hari lalu, karena dia dari latar belakang militer, menguasai intelijen. Dia pernah mendengar keberadaan kami, selintas lalu, tapi dia tidak tahu seberapa banyak orang kami di militer.”
Aku diam sejenak, menghentikan penjelasan, tersenyum.
“Apa…. Apa yang sebenarnya kalian inginkan?” Orang berkemeja putih bertanya, mengusap wajah.
“Tidak ada.” Aku menggeleng takjim, “Sama sekali tidak ada.”
“Aku menemui Anda hanya untuk menyampaikan pesan. Jika Anda terpilih menjadi presiden, biarkan semua berjalan seperti biasa. Jangan mengganggu kami, maka kami tidak akan mengganggu pemerintahan. Tapi sekali saja pemerintahan bertingkah, kami bisa menjatuhkan rezim manapun. Tidak peduli seberapa kuat dia. Anda pasti tahu kejadian enam belas tahun lalu, bukan? Runtuhnya kekuasaan seseorang yang telah berkuasa tiga puluh tahun lebih di negeri ini.
“Enam belas tahun lalu, salah-satu perwakilan shadow economy dari keluarga yang berkuasa saat itu menemui presiden terpilih untuk keenam kalinya. Lima periode, dia bersepakat, tapi di periode keenam, atas dasar bisikan rakus keluarga terdekat, serta penasehat di sekitarnya, dia mulai bertingkah, merasa lebih superior dibanding siapapun. Sialnya, dia bukan hanya tidak bisa dikendalikan lagi, bahkan mengancam akan menangkapi siapapun yang terlibat dalam organisasi dunia hitam.”
“Dia keliru. Benar-benar keliru. Dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Kami bukan preman di terminal. Kami bukan anjing penggertak. Kami adalah organisasi raksasa, tersambung dengan keluarga-keluarga besar yang mengendalikan dunia hitam di seluruh dunia. Satu rezim pemerintahan mengancam, itu berarti ancaman bagi seluruh dunia. Pertemuan di adakan di Hong Kong. Kesepakatan diambil, kolega luar negeri kami merancang kejatuhan nilai tukar uang, membombardir transaksi valas. Belasan perusahaan pasar uang dan pasar modal di bawah kendali shadow economy beroperasi dalam senyap. Hanya butuh waktu dua minggu, krisis moneter meledak di Asia. Mata uang lokal hancur lebur, ekonomi limbung. Sisanya mudah. Cukup pengungkit kecil, menggerakkan pion-pion, demonstrasi, media massa, dia tumbang bersama kesombongannya. Anda mungkin hanya tahu itu krisis moneter, tidak pernah tahu jika ada organisasi besar beroperasi di belakangnya.”
“Kami ada di mana-mana, Bapak Calon Presiden, jangan pernah main-main dengan kami. Jangan ganggu kami, maka kami tidak akan mengganggu Anda. Silahkan Anda menjual program ekonomi apapun, kartu sakti, pemberantasan korupsi dan entahlah omong-kosong kampanye itu. Anda punya urusan sendiri, kami juga punya urusan sendiri. Jika tanpa sengaja urusan kita bersinggungan, kami akan mengirim seseorang untuk menyelesaikannya tanpa keributan. Jika salah-satu keluarga kami mengganggu Anda lebih dulu, ini kartu namaku, kalian bisa mengubungi kapan saja, dan aku akan menyelesaikannya. Juga dengan damai.” 
Aku meletakkan selembar kartu nama di atas meja jati. Tersenyum.
Ruangan itu lengang saat aku memutuskan diam sejenak, melirik jam di pergelangan tangan.
“Baik. Tiga puluh menit telah habis. Terima kasih atas waktunya.” Aku berdiri. Menjulurkan tangan.
Orang berkemeja putih lengan panjang itu patah-patah ikut berdiri, menyeka dahinya yang berkeringat, gemetar menerima tanganku.
“Semoga sukses dengan pemilihan Anda. Selamat siang.”
Aku mengangguk untuk terakhir kali—juga ke arah penasehat ekonominya,kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu. 
Aku sudah menyelinap, berjalan di tengah kerumunan wartawan yang sibuk memenuhi pelataran gedung, saat orang berkemeja putih itu menatap penasehat ekonominya, dengan wajah tegang, meminta penjelasan, apa yang baru saja terjadi. Apakah itu mimpi di siang bolong?
“Tidak ada sepotong pun kalimatnya yang bergurau, Pak.” Penasehat ekonominya berkata lirih, mahfum apa maksud ekspresi wajah orang di depannya.
“Aku tahu pemuda itu, sedikit. Dia satu kampus denganku di Amerika, menyelesaikan dua master sekaligus empat short-course dalam waktu singkat. Dia lulus dengan nilai sempurna. Tidak ada yang mengenal latar belakang keluarganya. Semua serba misterius. Tapi itu bukan hal mengerikan yang dia miliki. Di tahun kedua, saat aku masih di sana, kampus kami kedatangan atlet lari cepat pemegang rekor dunia. Pemuda itu menantang atlet itu untuk lomba lari. Hanya beberapa orang yang menyaksikannya, di stadion kampus yang tertutup, dia mengalahkan atlet pemegang rekor dunia itu seperti mengalahkan seorang anak kecil.”
“Jika dia adalah jagal dunia hitam, maka tidak pelak lagi, dia adalah jagal nomor satu. Jenius, kuat dan tidak mengenal rasa takut. Semua ucapannya adalah kebenaran. Itulah kenapa, aku sungguh minta maaf, terpaksa memutuskan membatalkan kampanye di kota lain. Pertemuan ini sangat penting, aku tidak bisa menolak saat mereka memintanya, atau kita beresiko menghadapi sesuatu yang berbahaya.”
Ruangan itu kembali lengang. 
Orang berkemeja putih lengan panjang terduduk di atas kursi, menghembuskan nafas, meraih perlahan kartu nama berwarna putih di atas meja jati, membaca namaku di atasnya, “Si Babi Hutan”, dengan empat angka di bawahnya. Nomor telepon genggamku.
***

*bersambung

Minggu, 06 Agustus 2017

Tere liye : Pulang

Bab 2. Janji Kepada Mamak

Esoknya, Bapak dan Mamak kembali bertengkar di belakang rumah.
“Apa yang kau harapkan dari anak laki-lakimu, Midah? Akan kau kirim dia belajar mengaji dengan Tuanku Imam? Akan kau kirim dia kembali ke kampung halaman tempat kau lahir? Kerabatmu hanya akan tertawa melihatnya, bagus jika mereka tidak meludahinya.” Bapak berseru.
Mamak menangis dalam diam, menyeka ujung matanya.
Tere Liye : Pulang

“Lihatlah aku, Midah. Lihat. Sejak kecil aku berusaha melupakan asal keturunanku, belajar mengaji, bermalam di surau. Aku sudah berusaha melepaskan semua catatan gelap milik keluargaku, tapi saat aku melamarmu, memintamu baik-baik, mereka hanya tertawa. Sakit sekali. Mereka tidak akan pernah bisa menerima kenyataan jika aku berbeda dengan Bapakku, si tukang jagal. Aku terusir dari kampung. Pergi ke kota mencari penghidupan. Mereka melempar kotoran saat aku pergi. Tidak mengapa semua kebencian itu, aku bisa mengunyahnya. Tidak mengapa meski akhirnya aku juga menjadi tukang jagal di kota, seperti orang tuaku yang dulu amat kubenci. Tidak mengapa. Karena yang paling menyakitkan adalah aku harus pergi melupakanmu, Midah. Seluruh cinta kita hancur.”
“Biarkan Bujang ikut Tauke Muda, Midah. Aku mohon.” Bapak memegang lutut Mamak, menatapnya dengan tatapan memohon, “Biarkan anak kita melihat dunia luar. Dia tidak akan jadi siapa-siapa di kampung ini. Tidak sekolah. Tidak berpengetahuan. Dia sudah limas belas, entah mau jadi apa dia sini? Petani? Penyadap getah damar? Dia tidak bisa pulang ke kota kecamatan, bertemu Tuanku Imam? Keluarga kau pasti mengusirnya, sama seperti saat mengusirmu.”
Mamak menyeka lagi ujung matanya. 
Aku duduk memeluk lutut di pojok dapur, mendengar seluruh percakapan. Tanganku masih terbebat kain, juga dadaku, betisku. Darah kering menggumpal di kain itu. 
“Tauke Muda memintanya sendiri, Midah. Tauke berjanji akan mengurus Bujang seperti mengurus anaknya sendiri. Biarkan anak laki-lakimu punya kesempatan menaklukan dunia ini. Biarkan dia mewarisi darah perewa dari keluargaku. Mungkin itu sudah takdir hidup Bujang. Biarkan dia pergi, kita berdua bisa menghabiskan sisa hidup bersama di sini, dengan damai. Aku akan mati bahagia setelah tahu Bujang memiliki masa depan.”
Mamak masih diam. Mamak sudah kehabisan kata-kata. Pertengkaran ini, selalu begitu. Setiap kali Bapak mengungkit masa lalu, Mamak akan terdiam.
Bapak menggenggam jemari Mamak, kali ini berkata lirih, “Aku juga tidak ingin berpisah dengan anak kita, Midah. Tapi kau seharusnya tahu persis, ini adalah perjanjian masa lalu. Aku pernah bilang dengan kau, cepat atau lambat kau akan melihatnya, menyaksikannya. Cepat atau lambat kita akan kehilangan anak laki-laki kita. Biarkan dia pergi dengan restumu. Agar langkah kakinya ringan.”
Dapur rumah panggung lengang, menyisakan asap dari tungku kayu bakar.
“Aku tahu kau akan cemas akan menjadi apa Bujang besok lusa, Midah. Kau juga tahu siapa Tauke Muda itu. Setahu bahwa aku sudah lama melupakan agama, aku bahkan membenci semua ajaran Tuanku Imam, sejak dia sendiri tidak adil justeru menghukum cinta kita. Tapi siang ini, jika Tuhan memang sayang, maka anakmu akan menemukan jalan terbaiknya. Sejauh apapun dia pergi, sejauh apapun dia menghilang, Tuhan akan menemukannya. Biarkan Bujang ikut Tauke Muda, Midah, aku mohon. Setidaknya tanyakan pada Bujang, apakah dia memang ingin pergi.”
Mamak tertunduk, air mata mengalir di pipinya. Menoleh padaku.
“Apakah kau ingin pergi, Bujang?” Suara tanya Mamak tersendat.
Aku menatap sejenak wajah lelah Mamak, lantas mengangguk perlahan. Aku ingin pergi. Aku ingin ikut Tauke Muda ke kota.
Percakapan telah tiba di ujung kesimpulan. 
Mamak menangis tergugu melihat anggukan kepalaku.
Siang itu, Mamak menyiapkan buntalan kain berisi pakaianku sambil menangis. 
Lantas mendekap kepalaku erat-erat. Berbisik lembut, “Mamak akan menginjinkan kau pergi, Bujang. Meski itu sama saja dengan merobek separuh hati Mamak. Pergilah, anakku, temukan masa depanmu. Sungguh, besok lusa kau akan pulang. Jika tidak kepangkuan Mamak, kau akan pulang pada hakikat sejati yang ada di dalam dirimu. Pulang….”
Aku diam, menunduk. 
“Berjanjilah, Bujang, berjanjilah satu hal ini.”
Aku mendongak menatap wajah Mamak yang sembab. 
“Kau boleh melupakan Mamak, kau boleh melupakan seluruh kampung ini. Melupakan seluruh didikan yang Mamak berikan. Melupakan agama yang Mamak ajarkan diam-diam jika Bapak kau tidak ada di rumah….” Mamak diam sejenak, menyeka hidung, “Mamak tahu kau akan jadi apa di kota sana…. Mamak tahu…. Tapi, tapi apapun yang akan kau lakukan di sana, berjanjilah Bujang, kau tidak akan makan daging babi, daging anjing. Kau akan menjaga perutmu dari makanan haram dan kotor. Kau juga tidak akan menyentuh tuak, segala minuman haram.”
Aku terdiam. Aku tidak sepenuhnya mengerti pesan Mamak.
“Berjanjilah kau akan menjaga perutmu dari semua itu, Bujang. Agar…. Agar besok lusa, jika hitam seluruh hidupmu, hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik putih, dan semoga itu berguna. Memanggilmu pulang.” Mamak mencium ubun-ubunku.
Aku mengangguk.
Siang itu, empat mobil para pemburu bersiap meninggalkan halaman rumah Bapak. Aku ikut serta di dalamnya. Mamak tidak mengantarku, dia tidak melambaikan tangan untuk terakhir kalinya. Mamak justeru sednag tersungkur di sajadah kumalnya, menangis, mengadukan seluruh resah hatinya.
Sekuat apapun dia hendak melawan kemauan Bapak, itu tidak akan mencegahku pergi. Yang pertama, karena aku ingin pergi, yang kedua, saat Bapak dulu diijinkan meninggalkan rumah Tauke Besar salah-satu harga tebusannya adalah aku. Jika Bapak punya anak laki-laki, maka Bapak akan mengirimkan anaknya. 
“Jagalah anakku, Tauke Muda.” Bapak dengan kaki lumpuh memeluk tubuh pendek gempal dengan mata sipit itu. Momen perpisahan.
“Kau keliru, Syahdan. Bujang-lah yang akan menjagaku.” Tauke Muda tersenyum, tubuhnya juga dibebat kain, terluka di banyak tempat, “Sama seperti yang kau lakukan saat menjaga Tauke Besar dulu. Dan dia telah memulainya tadi malam, seorang diri menaklukkan babi raksasa. Dia akan tumbuh dengan reputasi hebat. Semua orang akan gemetar mendengar namanya disebut. Aku bersumpah akan mengurus anak kau, Syahdan. Anak dari saudara angkatku.”
Bapak tersenyum getir.
“Selamat tinggal, Syahdan.” 
Tauke Muda naik ke atas mobil, melambaikan tangan, menyuruhku juga naik.
Aku menatap wajah Bapak untuk terakhir kalinya. Seseungguhnya, aku ingin memeluk Bapak. Tapi itu tidak pernah kulakukan—dan Bapak juga tidak pernah memelukku. Aku hanya mengangguk, kemudian menyusul naik, duduk di samping Tauke Muda.
Sekejap, empat mobil itu telah melaju meninggalkan talang di lereng bukit barisan. Tanah kelahiranku, tempat aku dibesarkan hingga usia lima belas tahun. Tempat terbuangnya Bapak dan Mamakku karena cinta mereka tidak pernah direstui.
***

*bersambung

Sabtu, 05 Agustus 2017

Tere Liye : Pulang

Bab 1 Si Babi Hutan (part 2)

Anjing pemburu kembali menyalak bersahutan setelah kami berjalan setengah jam masuk hutan. Penciuman mereka yang tajam langsung tahu di mana babi-babi itu berada. Rombongan dipecah tiga, sesuai jumlah anjing. Aku ikut orang bemata sipit, teman lama Bapak, bersama dua pemburu bersenjata api, dan tiga pemuda kampung.
Ini mengasyikkan sekali. Atmosfer perburuan segera terasa. Langit-langit rimba Sumatera terasa lembab. Kami berlarian mengikuti gerakan anjing, menyibak semak, melompati sungai kecil, batang kayu melintang, meniti tubir lembah, mendaki, meluncur. Kemanapun anjing itu berlari, kami ikut berlari di belakangnya. Bapakku bergurau saat bilang aku tidak pernah sendirian masuk ke hutan, aku mengenal hutan ini. Jika Mamakku tidak tahu, aku sering sembunyi-sembunyi pergi berkelana di dalam rimba. Kadang sendirian, kadang bersama anak-anak talang lainnya. Tubuhku melesat lincah, tidak kalah dengan pemburu lain.
Tere Liye : Pulang

Lima belas menit sejak rombongan berpisah menjadi tiga, anjing kami mulai menyalak berbeda, tanda dia telah menemukan mangsa. Benar saja, satu menit kemudian, dua ekor babi terlihat di atas lereng, masih empat puluh meter lagi dari kami. Babi-babi itu menguik, menyadari bahaya mengancam, segera lari lintang-pukang. 
“Dua orang bergerak ke kanan! Sisanya ikut denganku ke kiri.” Orang bermata sipit menyuruh dua pemburu dan tiga pemuda talang berpencar, “Kepung babi-babi itu. Jangan biarkan lolos.”
Kami segera mengejar. Mendaki lereng bukit. Lima menit dengan nafas tersengal kami berhasil membuat babi itu tersudut. Suara senapan meletus, susul-menyusul, dua babi itu akhirnya terkapar di lantai hutan. Darah merah membuat basah dedaunan kering. Kami beranjak mendekat, menatap dua ekor babi itu. Tidak besar, paling seberat delapan puluh kilogram.
“Selamat, Bujang. Ini babi buruan pertama kita.” Tauke Muda menepuk pundakku.
Aku mengangguk.
“Kita bergerak lagi!” Tauke Muda berseru ke pemburu dan pemuda talang.
Hanya sebentar kami memeriksa, lantas meninggalkan begitu saja dua babi itu, segera mencari buruan berikutnya. Anjing menyalak tidak sabaran, rantainya kembali dilepas, kaki-kakinya melesat berlarian di antara rapatnya pepohonan.
Waktu berjalan cepat, tidak terasa. Dua jam berburu, sudah enam belas babi terkapar. Lima belas diantaranya ditembak mati, satu lainnya terkena tombak pemuda talang. Kami terus bergerak, efisien dan tidak ampun. Babi-babi ini tidak punya kesempatan untuk menghindar, apalagi melawan. Pemburu ini menghabisi apapun babi yang terlihat, termasuk yang masih kecil, menguik tidak berdaya. 
Menjelang petang, hujan turun. Rombongan berhenti, pemburu membuka ransel.
“Kau kenakan jaket hujan ini, Bujang.” Tauke Muda melemparkan jaket gelap.
Aku mengangguk.
“Kau sepertinya pendiam sekali, Bujang. Tidak pernah kulihat kau bicara sejak tadi. Bahkan tersenyum pun tidak.” Tauke Muda menatapku.
Aku tidak berkomentar,mengenakan jaket hujan.
Kami segera melanjutkan perburuan. Empat babi hutan berikutnya menyusul terkapar, ukurannya semakin besar. Matahari akhirnya terbenam di kaki langit sana, hutan gelap. Para pemburu mengeluarkan senter, memasangnya di kepala, cahaya menyambar kesana-kemari di antara pepohonan. Hujan turun semakin deras, meski dengan jaket hujan sekalipun aku tetap basah kuyup.
Aku tidak tahu apa kabar dua rombongan lain, mungkin mereka juga sudah menembak banyak babi. Kami terus bergerak masuk ke dalam rimba. Pohon semakin besar dan tinggi. Lumut menumpuk, pakis dan perdu berukuran raksasa membuat gerakan terhambat. Aku tidak tahu hingga kapan perburuan ini akan berakhir. Kami sempat istirahat sekitar pukul tujuh malam, menghabiskan makanan yang dibawa. Tauke Muda melemparkan sebungkus roti—aku belum pernah melihatnya. Juga minuman kaleng. Pastilah makanan dari kota. Kami duduk berteduh di bawah pohon dengan daun sebesar nampan.
“Apakah Bapak kau pernah cerita tentangku, Bujang?” Tauke Muda bertanya.
Aku menggeleng, mengunyah rotiku.
“Ah, tidak tahu diuntung Syahdan itu.” Tauke Muda menyeringai, “Aku pernah menyelamatkannya, dia berhutang nyawa. Dan sebagai balasannya? Bahkan ke anaknya sendiri dia tidak pernah bercerita tentang aku, saudara angkatnya.”
Aku diam. Saudara angkat? Aku baru tahu Bapak punya saudara angkat.
“Iya, kami saudara angkat. Aku tidak bergurau.” Tauke Muda tertawa, “Tapi apa yang kulakukan untuk Bapakmu tidak seberapa, Bujang. Karena apa yang Bapak kau lakukan untukku jauh lebih besar. Dia menyelamatkan keluargaku berkali-kali. Dia sangat diandalkan Tauke Besar, ayahku. Tidak ada pekerjaan yang tidak tuntas jika diberikan kepada Syahdan. Anak buah kesayangannya. Orang tua itu meneteskan air mata saat Bapak kau memutuskan berhenti lima belas tahun lalu.” 
Aku mendengarkan cerita dengan air hujan menerpa wajah. Pemburu lain sibuk bicara atau memeriksa senjata api, tidak memperhatikan percakapan kami.
“Itu hari yang sangat sulit. Tidak ada yang pernah diijinkan pergi dari keluarga. Hanya ada satu pilihan jika kau ingin keluar, mati. Tapi Bapak kau pengecualian. Dia diijinkan pergi oleh Tauke Besar, untuk memulai hidup baru. Bertahun-tahun kami tidak mendengar kabarnya, bahkan saat Tauke Besar meninggal, Bapak kau tidak kelihatan batang hidungnya, sungguh terlalu, Syahdan tidak melayat. Hingga sebulan lalu sepucuk surat tiba, tidak percaya aku membacanya.”
Aku mendengarkan cerita tanpa menyela. Petir menyambar membuat terang sekitar.
“Baiklah, makanan kita sudah habis. Cerita lama ini harus dihentikan, Bujang. Saatnya kembali berburu. Masih empat jam lagi sebelum tengah malam, saat kita kembali ke perkampungan.”
Tauke Muda berdiri, menepuk-nepuk tangannya. Aku mengeluh kecewa. Aku ingin mendengar lebih banyak lagi, tapi istirahat kami sudah selesai. Tauke berseru kepada salah-satu pemburunya, meminta senjata api miliknya. Tiga pemuda talang juga berdiri, meraih tombak. 
Rantai anjing pemburu kembali dilepas. Anjing-anjing itu segera menyalak kencang, menerobos hujan deras dan rimba gelap. Aku meraih tombakku, menyusul berlari di belakang.
Aku tidak pernah tahu cerita tentang masa muda Bapak. Misteri. Hanya pernah satu atau dua kali Mamak yang bercerita. Sambil tersenyum, mengenang masa lalu mereka. Menurut kisah Mamak, mereka berdua teman satu kampung. Bukan kampung ini, melainkan ratusan kilometer sana, lebih ramai, tepatnya ibukota kecamatan. Mereka saling suka sejak remaja. Sayang, saat usia Bapak dan Mamak dua puluh tahun, rencana mereka ditolak mentah-mentah keluarga Mamak. Cinta mereka kandas, Bapak pergi, menghilang bagai ditelan bumi. Setahun kemudian, Mamak menikah dengan laki-laki pilihan keluarganya.
Tapi jodoh adalah jodoh. Lima belas tahun berlalu, saat usia Bapak sudah tiga puluhan, dia tiba-tiba kembali ke kampung. Mamak juga sudah bercerai, pernikahannya tidak bertahan lama. Setelah bertemu kembali, mereka mengambil keputusan berani, menikah. Mamak terusir dari keluarganya, Bapak mengajaknya pindah ke talang ini, menjadi petani. Waktu itu, satu kaki Bapak sudah lumpuh, dia mengenakan tongkat. Tidak ada yang tahu apa yang dikerjakan Bapak selama menghilang—mungkin hanya Mamak yang tahu. Seluruh masa lalu itu ditutup, mereka memulai kehidupan baru. Kemudian aku lahir. Mereka berdua hidup dengan segala keterbatasan. Mamak telaten membantu mengurus ladang, juga merawat Bapak yang sering sakit-sakitan. Hanya itu saja yang aku tahu. 
Anjing di depan berhenti berlari. Entah apa pasalnya, salakannya yang kencang, tiba-tiba mengendur. Rombongan pemburu tertahan. Saling toleh, ada apa?
Tauke Muda mengangkat tangan, menyuruh yang lain bergerak lebih lambat. Ada sesuatu di depan sana, yang membuat anjing berubah. Kami sudah masuk dalam sekali ke rimba bukit barisan, mengejar babi-babi hingga ke sarang utamanya. Ini hutan paling lebat, pasti ada sesuatu di depan sana. Aku bergerak di belakang rombongan, sejak tadi aku hanya menonton. Aku ingin sekali ikut menombak babi-babi itu, tapi Mamak sudah berpesan.
Anjing pemburu akhirnya berhenti, menatap ke depan, menyalak pelan. Kami sudah dekat. Di depan sana, akhirnya terlihat apa yang membuat anjing kami gentar, empat ekor babi hutan jantan keluar dari belukar. Ukurannya besar, tidak kurang 250 kilogram, mungkin dua kali lebih besar dibanding babi-babi sebelumnya yang kami tembak, tingginya seperti anak sapi, taringnya berkilauan tertimpa lampu senter. Empat babi itu mendengus buas, tidak lari seperti yang lain, babi-babi itu maju menyongsong kami, itulah yang membuat anjing pemburu berhenti. 
“Habisi babi-babi itu!” Tauke Muda berteriak, tidak peduli.
Senapan menyalak, memuntahkan peluru. 
Astaga! Empat babi itu melompat gesit, menghindar, sekaligus mulai menyerang rombongan. Cepat dan buas. Satu babi berhasil menyeruduk salah-satu pemuda talang, nasibnya malang, pemuda itu terpental, tombak di tangannya terlepas.
Aku tidak pernah tahu jika babi bisa sebuas ini. Babi-babi ini jelas bukan babi biasa, kami sudah masuk ke teritori ring pertama hewan ini, mungkin empat babi ini adalah pejantan paling besar yang melindungi kawanan. Atau mungkin pula babi-babi ini adalah penjaga jantung rimba. Apapun itu, empat babi ini terlihat marah.
Senapan kembali menyalak, gerakan empat babi terhenti sedetik, untuk kemudian menyeruduk lebih ganas. Dalam perkelahian jarak dekat, senapan-senapan percuma. Dua tembakan pemburu meleset. Hanya tembakan Tauke Muda yang kena, tepat di kepala, satu ekor babi terbanting. Dua pemuda talang menghunuskan tombak, menyambut sisanya. Aku sejak tadi sudah menggenggam erat tombakku, tidak tahan ingin lompat ke depan.
Tiga babi jantan menyeruduk kencang, dua tombak yang tertancap di tubuhnya patah, dua pemuda talang terserat, kemudian terbanting jatuh. Tombak tidak menahan lajunya, seekor babi bahkan mendengus buas, masih dengan potongan tombak di tubuh, lompat menerkam, mencabik lengan salah-satu pemburu. Taringnya yang tajam bersimbah darah. Terdengar suara ngeri dari pemburu itu. Tubuhnya ditindih, babi itu lebih besar dibanding pemburu.
Suara letusan kembali terdengar, tembakan Tauke Muda menghentikan gerakan babi itu sebelum moncongnya berhasil memutus lengan pemburu, jitu di kepala. 
Melihat dua babi lain tumbang, dua babi tersisa menguik ganas, menyeruduk apa saja yang ada di depan, membuat dahan pohon patah, belukar rebah-jimpah. Pemburu terakhir terjatuh, tersangkut patahan kayu, senapannya terlepas. Seekor babi terluka langsung mengejarnya. Aku kali ini sudah tidak tahan, aku memutuskan lompat ke depan, tubuhku berlutut di dasar hutan, sebelum babi itu menerkam wajah pemburu, tanganku bergerak mantap dan cepat, tongkatku berhasil menusuk moncongnya, tembus hingga ke belakang. Babi itu langsung tewas seketika, tubuhnya terbanting. Aku melepaskan tombak, agar tidak ikut terpelanting.
Sementara di sebelahku, babi yang lain lompat ke arah Tauke Muda, sebelum Tauke sempat mengisi peluru. Aku mengeluh, Tauke dalam posisi bahaya. Tidak ada yang bisa menolongnya. Tapi sebelum babi itu berhasil menyeruduk Tauke, anjing kami lebih dulu menerkamnya. Babi besar menggerung marah, gerakannya terhenti, dia menyeruduk anjing itu, terpental dua meter, seperti melempar boneka. Dalam sekejap, babi itu kembali lompat ke arah Tauke Muda. 
Tapi kali ini, Tauke Muda sudah siap, serangan anjing memberinya waktu yang sangat berharga, senapannya telah terisi, dia menarik pelatuk, terdengar letusan kencang, peluru mengenai pelipis, babi itu tersungkur satu meter dari Tauke Muda. Gerakan melompatnya terhenti, jatuh berdebam di dasar hutan. Babi terakhir berhasil dikalahkan.
Hujan deras membuat darah mengalir kemana-mana. Lampu senter yang dikenakan pemburu padam sejak tadi. Hanya sesekali cahaya petir menunjukkan bekas pertempuran. Semak-belukar tercerabut. Batang dan dahan kayu patah. Aku tersengal, mencabut tombakku dari kepala babi.
Tauke Muda beranjak berdiri, dia tidak apa-apa. Segera mengisi senapannya, berjaga-jaga jika babi-babi ini bangkit kembali. 
“Babi sialan.” Tauke Muda mendengus, menendang salah-satu di antaranya.
Tauke Muda menoleh padaku, “Kau baik-baik saja, Bujang?”
Aku mengangguk. Nafasku sudah kembali normal.
Tauke Muda segera memeriksa dua anak buahnya. Dua pemburu itu bisa beranjak duduk, dengan lengan dan betis terluka parah. Yang mengenaskan pemuda talang, salah-satu dari mereka entah pingsan atau meninggal, dua pemuda talang lain berusaha mengurusnya dengan kondisi badan yang juga tidak lebih baik. 
“Aku belum pernah melihat babi sebesar ini.” Tauke Muda menginjak badan babi yang tergeletak mati, “Mereka pastilah pejantan paling besar.”
Aku menyeka dahi, peluhku bercampur air hujan. Apa yang harus kami lakukan sekarang? Kami tidak bisa melanjutkan perburuan. Rombongan kami justeru butuh pertolongan segera.
Tauke Muda meraih ransel yang terserak, mengeluarkan pistol suar, menembakkanya ke langit-langit hutan. Selarik cahaya melesat tinggi, melewati dahan-dahan pohon, kemudian meledak di atas sana, membuat terang. Seperti letusan kembang api. Siapapun yang mendongak ke atas lereng, pastilah melihat kilau cahaya.
“Yang lain akan menemukan kita. Jangan cemas, Bujang.” Tauke kembali mengisi pistol suar.
Aku mengangguk. Aku belum pernah melihat alat itu, tapi aku tahu itu sepertinya sebagai penanda, untuk memberitahu rombongan lain jika kami butuh bantuan segera.
Hanya saja, masalah serius kami bukanlah empat babi jantan ini, atau bantuan medis untuk dua pemburu dan pemuda talang. Entah apa sebabnya, satu menit berlalu, saat Tauke Muda bersiap menembakkan suar untuk kedua kalinya, tiba-tiba derik serangga terhenti. Hutan mendadak hening, hewan-hewan seolah menyingkir, hanya menyisakan suara hujan lebat.
Instingku segera memberitahu ada sesuatu. Bahaya yang sangat mengerikan. Aku mencengkeram erat tombakku. Tauke Muda menoleh, dia meletakkan pistol suar, mengambil senapannya. Langit-langit hutan terasa pengap oleh suasana tegang. Dua pemburu bersandar di pohon, saling tatap, baju mereka basah oleh darah. Dua pemuda talang masih terduduk di sudut satunya, menarik tubuh rekannya yang sudah siuman bersandar. 
Saat itulah, saat kami bertanya-tanya apa yang terjadi, dari balik belukar rimba, muncullah seekor babi jantan berukuran raksasa. Beratnya tidak kurang dari lima ratus kilogram, tubuhnya dua kali lebih besar dibanding empat babi jantan sebelumnya, tingginya hampir seperti seekor sapi dewasa. Babi itu tidak menguik atau mendengus, tapi menggerung seperti seekor srigala buas. Matanya merah saat ditimpa cahaya petir, taringnya panjang, bulunya berdiri seperti surai harimau. 
Tauke Muda menelan ludah, senapannya terangkat. Bersiap.
Nafasku tersengal. Aku berdiri membeku di samping Tauke Muda. Aku tidak pernah membayangkan akan ada babi sebesar ini di rimba Sumatera, dan hewan itu sedang menatap kami buas. Inilah babi terbesar di hutan lereng bukit barisan. Pemimpin seluruh kawanan. Kami persis berada di jantung teritori kekuasannya.
Susana semakin tegang. Hanya soal waktu babi ini akan menyerang. Salah-satu pemburu sudah terkencing-kencing karena takut. Pemuda talang gemetar, mencengkeram baju. Anjing kami meringkuk ketakutan. Aku belum pernah menatap hewan semengerikan ini.
Tauke Muda menahan nafas. Menunggu.
Persis petir menyambar sekali lagi, babi besar itu akhirnya lompat ke depan, menyeruduk. Tauke Muda segera menarik pelatuk senapan. Suara meletus terdengar. Sial! Babi itu bergerak menghindar dengan mudah, membuat peluru mengenai udara kosong. Dan sebelum sempat menyadarinya, tubuh Tauke Muda di sebelahku sudah terpental dua meter.
Babi itu menggerung, menghentikan gerakannya, seperti menghina Tauke Muda yang begitu mudah dia kalahkan. Kemudian bergerak perlahan di depanku, aku bisa mencium bau busuk tubuhnya dari jarak dua meter. Juga melihat moncongnya yang dipenuhi lendir. Babi itu kembali mengambil posisi menyerang di tengah medan pertempuran, gerakannya terhenti, menatapku dengan mata merahnya. 
Aku menggigit bibir. Aku benar-benar sudah melupakan pesan Mamak.
Malam itu, di tengah hujan deras, di tengah rimba lebat lereng bukit barisan, hanya aku yang tersisa dan masih sehat berdiri, menghalangi pimpinan kawanan babi menghabisi semuanya. 
Aku mencengkeram tombak pemberian Bapak, berdiri dengan kaki kokoh, menatap ke depan, bersitatap dengan monster mengerikan itu. Aku tidak punya pilihan, lari sia-sia, gerakan babi ini cepat sekali. Aku juga tidak akan meninggalkan begitu saja yang lain dalam keadaan terluka, maka jika aku harus mati, aku akan memberikan perlawanan terbaik. 
Malam itu, usiaku memang baru lima belas, tapi fisikku tinggi besar seperti seorang pemuda. Usiaku memang masih anak-anak, tapi di darahku mengalir pekat keturunan seorang jagal paling mahsyur seluruh pulau Sumatera. Bapakku belum bercerita, tapi besok-lusa aku akhirnya tahu legenda hebat itu. Adalah kakekku jagal mahsyur itu. Bisikkan nama kakekku satu kali di lepau tuak, maka satu kota akan memadamkan lampu karena gentar. Sebutkan nama kakekku satu kali di balai bambu, maka satu kota bergegas mengunci jendela dan pintu, meringkuk takut di dalam kamar.
Malam itu, dadaku telah dibelah, rasa takut telah dikeluarkan dari sana. 
Aku tidak takut. 
Aku bersiap melakukan pertarungan hebat yang akan dikenang. Hari saat aku menyadari warisan leluhurku yang menakjubkan, bahwa aku tidak mengenal lagi definisi rasa takut. 
***

*bersambung

Jumat, 04 Agustus 2017

Tere Liye : Pulang

Bab 1. Si Babi Hutan (part 1)

Aku tidak takut. 
Jika setiap manusia dikenali dengan lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, jijik dan kemarahan, aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut.
Kalian kira itu omong-kosong? Gurauan? Tidak. Lihatlah wajahku, lihat bola mataku, kalian tidak akan menemukan walau semili rasa takut itu. 
Malam itu, di tengah hujan lebat, di dasar rimba Sumatera yang berselimut lumut nan gelap, sesosok monster mengerikan telah mengambil rasa takutku. Tatapan matanya yang merah, dengus nafasnya yang memburu, taringnya yang kemilau saat ditimpa cahaya petir, telah membelah dadaku, mengeluarkan rasa gentar. Sejak saat itu, dua puluh tahun berlalu, aku tidak mengenal lagi definisi rasa takut.
Akan kuceritakan semuanya agar kalian mengerti. Inilah hidupku, dan aku tidak peduli apapun penilaian kalian. Toh, aku hidup bukan untuk membahagiakan orang lain, apalagi menghabiskan waktu mendengar komentar orang lain.

Tere Liye : Pulang

***
Kisah ini dimulai dua puluh tahun silam. Usiaku lima belas.
Sejak pagi, kampung tanah kelahiranku ramai.
Dua bulan lagi ladang padi tadah hujan akan panen, pucuk padi menghijau terlihat di lereng-lereng bukit. Hutan lebat menghadang di atasnya, berselimutkan kabut. Dedaunan masih basah, embun menghias tepi-tepinya. Udara terasa dingin, uap keluar setiap kali menghembuskan nafas. Tiga mobil dengan roda berkemul lumpur merapat di depan rumah Bapak. Hanya mobil tertentu yang bisa melewati jalanan terjal bukit barisan, lepas hujan deras tadi malam. 
Dua belas orang lompat dari mobil-mobil itu, mereka memakai sepatu bot, celana tebal, jaket, topi, terlihat gagah, serta yang paling menyita perhatianku, mereka membawa senapan. Itu bukan kecepek, senapan api rakitan kampung yang pernah kulihat, mereka membawa senjata api milik pasukan militer. Otakku langsung berpikir, jangan-jangan di ransel mereka, juga ada bertampuk granat. Tapi itu berlebihan, aku mengusap wajah yang terkena jaring laba-laba.
Demi melihat mobil-mobil itu, Bapakku, beringsut turun dari anak tangga, berpegangan, menyeret kakinya yang lumpuh satu, tertawa lebar mendekati rombongan. Aku jarang melihat Bapakku, yang sakit-sakitan, tertawa selepas itu. Biasanya dia lebih banyak mengomel, marah-marah. Salah-satu dari rombongan itu mendekat, sepertinya pimpinan mereka, juga ikut tertawa lebar. Mereka berpelukan, menepuk bahu. Seperti sahabat lama.
“Syahdan, lama sekali kita tidak bertemu.” Orang itu, dengan mata sipit, berseru. Usianya kutilik sebaya dengan Bapakku, berkisar lima puluh. Tubuhnya pendek, gempal, hanya sepundak Bapakku. 
Bapak terkekeh. Balas menepuk punggung.
“Bagaimana perjalanan kalian, Tauke Muda?”
“Buruk, Syahdan. Tadi malam, kami hampir tersesat, satu mobilku juga hampir terguling ditelan lembah gelap. Satu lagi pecah bannya, masih tertinggal di belakang, semoga tiba di sini sebelum petang, atau rencana kami jadi tertunda, mobil itu membawa tiga ekor anjing pemburu. Astaga! Bagaimana ceritanya kau bisa tinggal di sini, Syahdan? Jauh dari manapun, seperti di ujung bumi. Susah sekali kami menemukannya. Dan menjadi petani? Sejak kapan orang yang hanya mengenal berkelahi bisa menanam padi, hah? Kau pukul padinya?”
“Panjang ceritanya, Tauke Muda.” Bapak tertawa lagi, menggenggam lebih kokoh tongkatnya, “Kalian naiklah ke atas, istriku sudah menyiapkan kopi dan juadah. Kita bisa bicara sambil sarapan. Tentu lapar perut setelah diombang-ambing jalanan berliku.”
Orang bermata sipit itu mengangguk. Berseru, memerintah rombongannya.
Aku berdiri di dekat anak tangga, mendengar percakapan. Beberapa warga kampung lain juga ikut menonton keramaian, mereka berdiri di halaman rumah Bapakku. Tertarik menatap mobil jeep dengan roda besar-besar, jarang sekali mobil masuk kampung kami.
Aku tahu siapa rombongan ini, aku sudah diberitahu Bapak sejak sebulan lalu. Akan ada pemburu dari kota yang datang, mereka akan berburu babi hutan. 
Kampung kami ini sebenarnya tidaklah seperti desa yang kalian kenal. Kami menyebutnya talang. Hanya ada dua atau tiga puluh rumah panggung dari kayu, letaknya berjauhan dipisahkan kebun atau halaman. Jika hendak memanggil tetangga, kalian bisa membuka jendela lantas berteriak sekencang mungkin—itulah kenapa intonasi orang pedalaman Sumatera terdengar kasar. Tahun ini, babi hutan menyulitkan kami, mereka banyak sekali, dan menyerbu ladang. Jika tidak diatasi, ladang padi yang susah payah dirawat bisa rusak binasa. Meski tiap malam ladang padi dijaga, dipasangi kaleng pengusir, juga dilingkari pagar kokoh, hasilnya percuma. Babi-babi itu selalu punya cara masuk, dan mereka tidak takut suara kaleng, jumlah mereka puluhan atau mungkin ratusan. Tetua kampung sudah menyerah, Bapak tidak, dia bilang akan meminta bantuan pemburu dari kota.
“Apakah kita harus membayar mereka, Syahdan?” Tetua kampung bertanya cemas.
Bapak menggeleng, dalam pertemuan sebulan lalu, “Tidak sepeser pun, Bang. Mereka memang suka berburu babi. Itu hobi orang kota. Mungkin beberapa babi akan dibawa oleh mereka, untuk dimakan. Hanya itu bayarannya.”
Aku yang juga ikut di pertemuan, langsung bisa menyimpulkan, itulah pasti orang-orang yang boleh makan babi. Karena Mamakku di rumah bilang berkali-kali, babi haram dimakan.
“Bujang!” Bapakku berseru dari atas, sudah naik teras rumah panggung, “Kau bantu Mamak kau menyiapkan makanan. Jangan hanya berdiri tak guna di bawah sana.”
Aku mengangguk, segera menaiki anak tangga. 
Lima belas menit. Dua belas pemburu itu sudah duduk di atas hamparan tikar, senjata api mereka diletakkan berbaris di balai bambu. Juga ransel, senter besar, tali, jaring dan peralatan lain. Aku segera tahu, menilik gerakan cekatan, mereka pastilah pemburu berpengalaman. Yang aku tidak menduganya adalah, Bapakku ternyata kenal dekat dengan pimpinan rombongan ini. Mereka duduk berdekatan di sudut tikar, bercakap seperti sahabat lama tak bersua.
“Kemari kau Bujang.” Bapakku berseru lagi.
Aku yang sedang mengangkat ceret berisi kopi panas menoleh.
“Ayo!” Bapakku melotot, tidak sabaran.
Aku bergegas melangkah ke sudut tikar.
“Ini anakku, Tauke Muda.” Bapak menunjukku, “Usianya lima belas. Namanya Bujang.”
“Ah, kau tidak bilang dalam suratmu kalau kau punya anak laki-laki, Syahdan?” Orang bermata sipit itu menatapku, dari ujung kepala hingga kaki, “Tubuhnya gagah besar seperti bapaknya. Sudah seperti pemda dewasa. Matanya hitam tajam. Aku suka dia. Kelas berapa kau sekarang?”
Bapakku menggeleng, tertawa, “Tidak sekolah. Seperti Bapaknya.”
Orang bemata sipit masih menatapku, “Kemari, Bujang. Lebih dekat.”
Aku melangkah lagi, duduk dengan lutut di tikar.
“Apakah kau pandai berburu babi hutan seperti bapakmu?”
“Jangan harap.” Bapak terkekeh, memotong jawaban, “Dia bahkan tidak pernah masuk hutan sendirian. Mamaknya sangat pencemas. Semua serba dilarang, takut sekali anaknya terluka. Mentang-mentang anak satu-satunya.”
Orang bermata sipit mengangguk-angguk takjim.
“Kau mau ikut berburu nanti petang?”
Aku mengangguk dengan cepat—bahkan sebelum melihat ekspresi wajah Bapakku yang duduk di sebelah.
“Bagus sekali! Mari kita lihat seberapa hebat kau di dalam sana. Bapak kau ini dulu, adalah pemburu yang hebat, berikan senapan padanya, dia akan menjatuhkan satu-persatu babi.”
Itu percakapan yang terlalu cepat. Bahkan sebelum aku menyadarinya, aku telah memperoleh tiket emas yang selama ini aku idamkan. Setengah jam kemudian, di dapur rumah panggung, Mamak tidak senang, wajahnya yang berkeringat karena sedang memasak gulai, nampak masam. Tapi Bapak meyakinkan kalau semua baik-baik saja. Mereka bicara khusus, tentang ijin beburu untukku.
“Tidak ada yang perlu ditakutkan, Midah. Anakmu hanya ikut berburu. Ada dua belas pemburu bersamanya, juga beberapa pemuda kampung. Mereka membawa senter besar, senjata api. Paling anakmu hanya tergores duri, atau kakinya digigit lintah.”
Mamak melengos, menatap kuali berasap.
“Ayolah, Midah. Tauke Muda memintanya sendiri, dan harus berapa kali aku bilang, kita tidak bisa menolak permintaannya. Aku berhutang segalanya.”
Mamak hanya diam, menyeka pelipis. Tapi sepertinya dia bisa memahaminya, mengalah. Hal yang jarang sekali dia berikan jika menyangkut diriku. 
“Jangan buat aku malu, Bujang.” Bapak menatapku tajam, kemudian melangkah ke depan, kembali bergabung dengan rombongan dari kota.
Aku mengangguk. Aku tahu maksud tatapan Bapak. 
Mamak mencengkeram lenganku, berbisik lembut, “Mamak mengijinkanmu pergi. Tapi berjanjilah, kau hanya menonton di hutan sana, Nak. Kau tidak akan melakukan apapun. Hanya menonton yang lain berburu.”
Aku mengangguk. Aku juga tahu maksud tatapan Mamak.
“Jangan lakukan hal bodoh di rimba sana! Kau dengar, Bujang?” Mamak memastikan.
Aku sekali lagi mengangguk. 
Siang hari, lepas matahari tergelincir di titik puncaknya, mobil keempat akhirnya tiba di halaman rumah. Penumpangnya hanya dua orang. Sisanya, tiga ekor anjing pemburu diturunkan. Anjing-anjing berbadan besar itu menyalak galak, membuat ramai halaman. Beberapa pemburu berusaha menahan rantai yang terikat di leher anjing, berusaha menenangkan. Sepertinya anjing-anjing ini bersemangat, seolah bisa merasakan babi-babi di dekat mereka. Beberapa pemuda kampung juga telah tiba, ada delapan orang, empat diantaranya datang dari talang lain yang jaraknya belasan kilometer. Ladang mereka juga terganggu oleh hama babi hutan, mereka menawarkan diri membantu.
Semua orang makan siang di hamparan tikar teras rumah panggung. Mamak mengeluarkan masakan yang dia siapkan sejak kemarin. Juga tetangga, mereka ikut membawakan makanan. Rumah Bapak semakin ramai. Lepas makan, mereka bersiap-siap untuk terakhir kalinya, mengenakan ransel, memeriksa perlengkapan, menyambar senapan, dan persis pukul tiga sore, para pemburu siap berangkat.
Aku memegang kokoh tombak yang dipinjamkan Bapak. Tombak itu terbuat dari kayu trembesi, dengan ujung logam tajam. Kakiku tidak mengenakan alas apapun, tidak punya. Lagipula, anak kampung lebih suka masuk hutan dengan telanjang kaki. 
“Jaga anakku, Tauke Muda. Atau Mamaknya akan marah melihatnya pulang terluka walau sesenti.” Bapak menepuk bahu orang bermata sipit.
Orang itu menggeleng, “Kau keliru, Syahdan. Dialah yang akan menjagaku. Seperti yang pernah kau lakukan untuk Ayahku dulu.”
Bapak tersenyum, mengangguk. 
Aku berdiri di belakang, mendengarkan. 
Setelah sejenak basa-basi, kami akhirnya berangkat. Mamak berdiri di atas anak tangga, bersama Ibu-Ibu lain, menatapku penuh rasa cemas. Aku melangkah mantap mengikuti rombongan. Mulai mendaki lereng, melewati jalanan setapak, menuju jantung rimba Sumatera.

**bersambung

Kamis, 03 Agustus 2017

Tere Liye : Si Kembar -- spin off Serial BINTANG

Episode 13 (tamat)

Ketika keajaiban seperti tidak ada lagi yang tersisa.
Saat pertolongan yang aku butuhkan seperti enggan muncul, kekuatan ketulusan selalu berhasil mencungkil kuncinya di detik terakhir.
“Hentikan, ILY!”
Itu bukan kalimatku, atau kalimat Seli. Itu kalimat dari Ngglanggeran dan Ngglanggeram, mereka berseru hampir bersamaan. 
Kapsul perak yang bersiap membawa kami pergi terhenti sejenak. 
Ada apa? Kenapa Si Kembar menghentikan kapsul perak. Aku menatap Ngglanggeram dan Ngglanggeran yang terbang mengambang di langit-langit ruangan di depan pintu lorong.
Apa yang hendak mereka katakan? 
Seli di sampingku menyeka pipi, dia ikut menatap ke depan setelah sebelumnya memejamkan mata tak kuat menyaksikan perpisahan kami dengan Ali.
“Empat puluh ribu tahun sejak ekspedisi besar Klan Aldebaran tiba di Bumi, kami mengalami dua kali kekecewaan besar.” Ngglanggeram menghela nafas. 
“Empat puluh ribu tahun. Dua kekecewaan besar. Pertama, saat kami menyadari penduduk asli memiliki sisi jahat. Setelah kami mengajarkan begitu banyak pengetahuan, begitu banyak kebijaksanaan, mereka justru berperang, saling membenci, menyakiti dan merusak satu sama lain. Bumi dipenuhi dengan peperangan besar. Jutaan penduduknya tewas, kota-kota terbakar, desa-desa hancur. Itu sangat mengecewakan, hingga kami memutuskan membuat Bor-O-Bdur, mengasingkan rombongan dari penduduk asli. Memutus hubungan dengan mereka.”
“Yang kedua, saat anak muda, yang kami sambut dengan tangan terbuka, yang kami ajarkan pengetahuan berharga Klan Aldebaran, ternyata mengkhianati kami dengan mencuri Sarung Tangan Pengendali. Dua ribu tahun kami harus menjadi Slon tak terkendali. Membunuh teman-teman sendiri. Sungguh menyakitkan mengalaminya. Membuatku dan Ngglanggeran mengeduk bumi, memasukkan Bor-O-Bdur ke dalam perut bebatuan.”
“Empat puluh ribu tahun. Dua kekecewaan besar. Membuat kami tidak pernah berharap lagi Klan Bumi akan memiliki orang-orang dengan pemahaman yang baik. Membuat kami menyesali ekspedisi besar itu, hanya untuk bertemu Klan dengan penduduk tanpa kehormatan. Tanpa rasa malu.”
Ngglanggeram terdiam sejenak, dia menatap Ali penuh penghargaan.
“Hari ini, seluruh kekecewaan itu telah dipulihkan. Hari ini, kami ternyata keliru besar. Terima kasih, Ali. Kami tahu sekarang, masih ada orang-orang dengan ketulusan bersedia mengorbankan dirinya demi sahabat baik. Kalian masih muda sekali, tapi telah menunjukkan kekuatan besar di dunia paralel. Ketahuilah, bukan teknik bertarung, bukan menghancurkan gunung-gunung kekuatan terbaik dunia paralel, melainkan persahabatan. Selalu berusaha menjadi orang yang baik dan berani.”
Aku menatap Si Kembar. Apa maksud mereka? Apa yang akan mereka lakukan?
Si Kembar saling tatap sejenak. Tersenyum.
Mereka bisa saling membaca pikiran satu sama lain tanpa harus bicara. 
“Sarung tangan ini memang milik kami.” Ngglanggeram kembali menatap Ali, “Tapi malam ini, dia telah menemukan pemilik barunya. Pemilik terbaiknya. Kami akan menyerahkannya kepadamu, Ali. Kalian bisa pulang, petualangan kalian masih panjang. Aku dan Ngglanggeran akan tetap tinggal di ruangan ini. Itulah takdir hidup kami. Boleh jadi itulah hukuman atas ketidakpercayaan kami bahwa masih ada orang-orang baik yang bersedia berjuang. Pulanglah, Ali. Bersama Raib dan Seli.”
Aku berseru tertahan mendengarnya.
Seli seperti tidak percaya.
“Saat kalian keluar dari ruangan ini, itu hanya seperti baru 122 detik yang lalu, karena kami telah me-reset waktunya, teknik manipulasi waktu. Kalian tidak akan menemukan masalah dengan Bu Ati, Karya Wisata, atau apalah itu. Waktu kalian juga tidak banyak, sekali kami melepas sarung-tangan ini kalian segera pergi, kami akan berubah menjadi Slon, tubuh kami akan terjatuh ke bawah sana, dan akan menyerang siapapun, termasuk kapsul kalian. Kami kembali mengamuk setiap malam. Tapi tidak mengapa. Jika besok-lusa kalian tiba di Klan Aldebaran—entah bagaimana caranya, tapi aku yakin sekali itu akan terjadi, titipkan salam kami kepada pemimpin Klan Aldebaran, bahwa masih ada rombongan yang tersisa di klan-klan jauh, mungkin mereka akan mengirim kapsul perak beserta Sarung Tangan lainnya untuk kami.”
Si Kembar mendekati Ali, bersiap melepas sarung tangan mereka.
Sejenak, sebelum itu dilakukan, Ngglanggeram membisikkan sesuatu kepada Ali. Kemudian menatap aku di dalam kapsul, mengangguk tersenyum.
“Selamat tinggal, Ali, Raib, Seli.” Si Kembar berkata pelan, serempak.
Lantas mereka melepas sarung tangan itu serempak. Menyerahkannya kepada Ali. Persis sarung tangan itu dipegang oleh Ali, tubuh mereka terjatuh ke bawah—mereka sengaja menjatuhkan diri sendiri, agar terseret gel transparan, sebelum benar-benar berubah.
Si Kembar meraung kesakitan saat proses itu mulai terjadi. Tubuh mereka mulai berubah saat terjatuh. Badan mereka membesar, kaki, tangan, berkali-kali lipat, kepala gajah itu muncul, dengan telinga lebar, gading runcing dan belalai panjang. Raungan Si Kembar berganti menjadi lenguhan gajah. Kencang. Mengerikan. 
Aku dan Seli termangu menatapnya. 
“Buka pintunya, ILY!” Ali berseru.
Kapsul perak membuka pintu. Ali bergegas lompat masuk.
Slon yang jatuh di bawah sana sudah sempurna berubah. Posisi mereka separuh tinggi ruangan, salah-satu diantaranya mengamuk saat melihat kapsul perak di pintu lorong, mengirim pukulan berdentum.
BUMM!!”
“ILY, segera pergi!” Ali berseru.
Kapsul perak melesat cepat persis saat pukulan itu menghantam mulut lorong.
Slon meraung marah, berusaha terbang mengejar. Melihat pukulannya mengenai udara kosong. Tapi mereka tidak bisa terbang melewati gel transparan, mereka terus terseret ke dasar ruangan. Kemudian memukuli gunung, danau, candi. Marah semarahnya melihat kami lolos.

***
Di dalam lorong gelap, ILY telah melesat cepat. Cahaya lampunya berpendar-pendar mengenai dinding lorong kuno.
Aku menghempaskan badan di kursi.
Semua berakhir baik-baik saja.
Seli terlihat senang sekali, dia menyeka pipinya berkali-kali. Menatap Ali.
“ALI!”
Ali nyengir. Yeah. Dia bisa pulang, kita semua bisa pulang. 
Ali mengenakan sarung tangan Bumi. Sarung tangan itu hilang seketika saat telah dikenakan.
Aku ikut nyengir menatap Si Biang Kerok, “Terima kasih, Ali.”
“Itu bukan hal besar, Ra.” Ali melambaikan tangan, “Tapi jika kamu betulan ingin berterima-kasih, berjanjilah mulai hari ini kamu akan memanggilku, ‘Ali, teman terbaik seluruh galaksi bima sakti’. Juga berhenti menyebutku Si Biang Kerok, kusut, jarang mandi dan sebagainya. Itu tidak sopan.”
Aku tertawa pelan. Ali tidak pernah berubah—apapun yang telah terjadi.
Seli beranjak berdiri, dia mengambil air minum. Satu jam terakhir banyak sekali hal tak terduga. Menghabiskan segela air putih membantu membuat lebih rileks. Kembali duduk di sebelahku.
ILY terus melaju di lorong kuno.
“Ali, apa yang dibisikkan oleh Ngglanggeram terakhir kali?” Aku teringat sesuatu.
“Bukan hal penting.” Ali mengangkat bahu.
“Ayolah, apa yang dia bisikkan?” Aku mendesak ingin tahu—karena aku ingat Ngglanggeram menatapku setelah membisikkan soal itu. Itu pasti ada hubungannya denganku.
“Kamu tidak akan suka mendengarnya, Ra!” Ali sudah membalik kursinya, dia menekan beberapa panel, layer besar ILY menyala, menunjukkan posisi kapsul perak di dalam lorong kuno. 
“Tidak suka?” 
“Iya, tidak suka.”
Itu justeru membuatku penasaran.
“Ali, aku ingin tahu apa yang dibisikkan Ngglanggeram.” Aku berkata tegas. Kami tidak pernah merahasiakan apapun di petualangan ini. Kami selalu terbuka.
“Kamu betulan mau tahu?” Ali menoleh.
Aku mengangguk.
“Kamu berjanji tidak akan marah?”
Aku mengangguk.
“Baiklah. Ngglanggeram bilang, ‘Ali, kamu harus tahu, Raib sangat menyukaimu.’ Dia membisikkan itu.” Si Biang Kerok itu berkata santai, kembali sibuk dengan panel layer besar.
Astaga? Aku mematung. Wajahku merah padam seperti kepiting rebus.
Seli tersedak air minum di sebelah. Air tumpah di lantai kapsul. Kemudian tertawa lebar, terpingkal-pingkal.
Bahkan ILY ikut tertawa—aku baru tahu jika kapsul perak ini bisa tertawa.
Dasar menyebalkaaan!!

*TAMAT
***Ali hanya mengarang saja agar Raib berhenti bertanya, apa yang sebenarnya dibisikkan oleh Ngglanggeram ada di novel KOMET (terbit 2018).

Rabu, 02 Agustus 2017

Tere Liye : Si Kembar -- spin off Serial BINTANG

Episode 12

Keputusan Ali sudah bulat.
Dia tidak meminta persetujuanku atau Seli untuk melaksanakannya. Beberapa menit sebelum matahari tenggelam, saat Si Kembar muncul di dekat kami, hendak mengingatkan menyuruh kami segera masuk stupa, Ali bicara lebih dulu.
“Aku tahu siapa sebenarnya Slon.” 
Si Kembar saling tatap. 
“Kalian adalah Slon tersebut.” Ali berkata serius.
Pelataran candi lengang sejenak.
“Iya, itu akurat sekali.” Ngglanggeram akhirnya bicara, “Kami minta maaf tidak bilang sejak pertama kali, Ali, karena kami tidak mau kalian terganggu dengan fakta itu. Selain itu, aku tahu kamu juga sudah bisa menyimpulkan hal tersebut sejak awal. Kami tidak mau membahasnya, itu bukan topik percakapan yang menyenangkan.”
“Dan aku tahu benda apa yang dicuri dari Bor-O-Budr dua ribu tahun lalu.” Ali langsung masuk ke topik paling pentng. Aku hendak mencegah, tapi sia-sia, aku tahu tabiat keras kepala Ali, itu tidak akan berguna.
“Apa maksudmu, Ali?” Ngglanggeram menatap menyelidik.
Ali melepas dua sarung tangannya. 
Dalam gerakan dramatis, saat sarung tangan itu dilepas, wujud sarung tangannya langsung terlihat. Terbuat dari kulit yang sangat elok, dengan motif rumit tak terbayangkan. Cahaya matahari senja membuatnya berpendar-pendar.
“Astaga?” Ngglanggeran bahkan reflek melangkah mundur.
“Sarung Tangan Pengendali!” Saudara kembarnya berseru tertahan.
“Ini milik kalian, ambillah.” Ali menjulurkan sarung tangan itu. Ali adalah Ali, dia tidak pernah membutuhkan pengantar, pembukaan, apalagi penjelasan. Jika dia telah memutuskan, dia akan melakukannya langsung. Segera.
“Tapi, hei, bagaimana kamu memilikinya, Ali?” Ngglanggeram patah-patah menerimanya.
“Ini sangat mengejutkan, kami tidak tahu kalian membawa benda pengendali ini. Dan Ali? Kamu mengenakannya sepanjang hari sejak tiba di sini? Kami tidak melihatnya di tanganmu. Itu berarti—” Saudara kembarnya terdiam, menatap Ali lamat-lamat, “Kamu adalah penduduk Klan Aldebaran. Itu mustahil.”
Ali menggeleng, “Orang tuaku tinggal di Klan Bumi. Mereka penduduk biasa.”
“Atau dia adalah garis keturunan ke sekian dari ekspedisi raksasa Klan Aldebaran empat puluh ribu tahun lalu. Di satu titik, kode genetik paling langka itu diwariskan, kembali muncul. Tentu saja dia jadi pintar sekali. Sekaligus—“ Ngglanggeran terdiam, “Dan tentu saja…. Dia sekaligus mewarisi kode genetik kutukan tersebut.”
Ali mengangguk, “Iya, aku bisa berubah menjadi beruang pemarah. Pemicu perubahanku adalah marah.”
Ngglanggeran menepuk dahinya. Seperti mendengar kabar buruk.
“Kalian harus segera mengenakan sarung itu. Matahari hampir tenggelam.” Ali menunjuk sunset.
Di dinding barat, bola matahari sudah tinggal separuh.
Si Kembar mengangguk, dengan cepat mereka mengenakannya, masing-masing satu sarung, di tangan yang berbeda, saling melengkapi. Persis saat matahari menghilang, sarung tangan itu telah terpasang sempurna.
Seketika!!
Aku dan Seli menatap tegang. 
Tubuh Ngglanggeran dan Ngglanggeram terlihat bergetar kencang. Sarung tangan itu bercahaya terang. Aku menahan nafas. Apakah Si Kembar akan berubah menjadi monster gajah? Bagaimana jika Ali salah, itu bukan sarung tangan mereka. Tapi Ali jarang sekali membuat kesimpulan yang salah.
Cahaya dari tangan mereka menghilang, sarung tangan itu berubah menjadi seperti kulit gajah tebal. Dua pemuda di depan kami tidak berubah wujud, tetap seperti semula, hanya sarung tangannya yang berubah—seperti Ali saat dia berubah menjadi beruang, hanya sarung tangannya yang berbulu tebal. Slon. Inilah wujud terkendali Slon. Si kembar yang kami kenal.
Ngglanggeran mengangkat tangan kirinya, berseru riang, “Hei! Sudah lama sekali kami tidak merasakan sensasi ini.”
Saudara kembarnya tertawa pelan, mengangguk, ikut memperhatikan tangan kanannya, yang dilapisi kulit gajah, “Ini sangat menyenangkan. Aku bisa merasakan seluruh kekuatannya. Dua ribu tahun kami terpisahkan dari benda ini. Dua ribu tahun Slon mengamuk tak terkendali.”
“Terima kasih, Ali. Ini fantastis. Bagaimana kamu memiliki sarung tangan ini?” Ngglanggeram teringat sesuatu, bertanya.
“Penjaga Ruangan Sampah Klan Bintang yang memberikannya. Pencuri sarung tangan ini meninggalkannya di sana.” Ali menjawab pelan. Wajahnya sejenak terlihat sedih.
Aku ikut menatap sedih Ali. Dia dulu sangat menginginkan sarung tangan tersebut. Saat dia memperolehnya tak terbilang suka cita Ali. Malam ini dia harus mengembalikannya kepada pemiliknya yang sah.
“Lihatlah! Benda ini ditempa oleh seniman sekaligus ilmuwan terbaik Klan Aldebaran.” Ngglanggeram masih mengangkat tangannya, “Di jantung peradaban Klan. Menggunakan material paling hebat di sana, dengan teknologi paling mutakhir. Ada empat puluh portal yang dibuka, empat puluh rombongan, setiap kapsul terbang membawa sepasang sarung tangan, dengan fungsi masing-masing. Yang satu ini adalah Sarung Tangan Pengendali. Milik kami berdua.”
Aku dan Seli saling tatap, kami baru tahu informasi tersebut. Itu berarti dua pasang di antaranya sekarang kami yang memakainya. Av yang memberikannya, setelah tersimpan di Perpustakaan Kota Tishri. Satu pasang aku yang memakainya, Av menyebutnya Sarung Tangan Bulan. Satu pasang dipakai oleh Seli, Sarung Tangan Matahari. Hanya orang dengan kemampuan tertentu yang bisa melihatnya saat dikenakan. 
“Tanpa sarung tangan ini kami berubah menjadi Slon yang buas, Ali. Sama sepertimu, beruang pemarah itu. Hei—“ Ngglanggeran terdiam sejenak. Menoleh saudara kembarnya.
“Astaga. Ini menjadi rumit. Sama seperti kami, tanpa sarung tangan ini, kamu akan menjadi beruang pemarah tidak terkendali, Ali. Kekuatanmu semakin lama akan semakin mengerikan. Kamu bisa membahayakan teman-temanmu, juga klan permukaan.” 
“Aku tahu itu.” Ali berkata pelan, “Bisakah kalian mengantar Raib dan Seli pulang? Kalian juga bisa keluar dari ruangan ini dengan aman. Aku tidak bisa keluar, aku akan tinggal di sini.”
Pelataran candi lengang. Suara debur ombak danau terdengar pelan. Malam ini, setelah dua ribu tahun, Bor-O-Bdur akhirnya punya malam yang lengang, tidak ada Slon yang mengamuk.
Si Kembar tertegun, saling tatap. Mereka mendapatkan kembali sarung tangannya, tapi Ali tidak.
“Baik, Ali. Jika itu keputusanmu, kami akan mengantar Raib dan Seli ke mulut lorong.” 
“ILY, tolong bawa mereka.” Ali memanggil kapsul perak.
ILY mendesing mendekati kami, membuka pintunya.
Aku dan Seli saling tatap.
“Saatnya pulang, Ra, Seli!” Ali tersenyum.
Seli menggeleng kencang. Dia tidak mau pulang tanpa Ali.
Aku meremas jemariku. 
“Raib, Seli, sangat tidak bijak jika kalian tidak pulang sekarang.” ILY bicara.
Dasar cerewet! Aku menggeleng. Tidak ada yang boleh pulang tanpa Ali.
“Seluruh petinggi tiga Klan akan cemas mencari kalian, Raib, Seli. Segera naik.” ILY bicara lagi.
“Ayo, Ra, Seli. Kita tidak perlu bertengkar karena ini. Jangan cemaskan aku. Kalian tahu, aku super jenius. Aku akan memikirkan cara mengendalikan perubahanku. Itu adalah PR seumur hidupku—PR yang sangat menyebalkan.” Ali tertawa pelan.
“Tidak bisakah Klan Aldebaran mengirimkan Sarung Tangan baru?” Seli berseru, menoleh kepada Si Kembar, memohon.
Ngglanggeran diam sejenak, “Itu bisa jadi jalan keluar yang baik. Tapi benda ini tidak bisa dibuat sembarangan, Seli. Membutuhkan setidaknya satu tahun untuk menempa satu sarung tangan. Siklus waktu di Klan Aldebaran seribu kali lebih lama dibanding Klan Bumi, itu berarti butuh seribu tahun menurut Klan Bumi baru jadi.”
“Tidak apa. Aku bisa menunggu selama seribu tahun.” Ali tersenyum.
“ALI!!” Aku membentaknya, itu tidak lucu.
“Dan lebih rumit lagi, kami harus pulang ke Klan Aldebaran untuk membawa Sarung Tangan baru. Membuka portal menuju Klan Aldebaran bukan perkara mudah. Aku dan Ngglanggeram membutuhkan setidaknya lima dari anggota rombongan asli ekspedisi dulu untuk membuatnya, dengan menggabungkan kekuatan dan teknik dunia paralel. Kami hanya berdua, butuh tiga orang lagi.”
Aku mengeluh tertahan. 
“ILY, bawa Raib dan Seli kembali ke Klan permukaan.” Ali berseru tegas.
“Baik, Ali. Perintah dilaksanakan.”
ILY mendesing, mengeluarkan dua belalai dengan jari-jari besar, dalam gerakan cepat, belalai itu menyambar pinggangku dan Seli, lantas menarik kami masuk ke dalam kapsul perak.
“Lepaskan, ILY!!” Seli berteriak marah.
“Seli, kalian harus pulang!”
“Aku tidak mau pulang.” Seli berusaha melepaskan belalai.
Terlambat. Kami sudah terbanting masuk ke dalam kapsul perak.
“ILY, aktifkan mode mengunci seluruh pintu keluar.” Ali berseru.
“Baik, Ali. Perintah dilaksanakan!”
ILY menutup seluruh celah kapsul perak. 
Aku dan Seli terkunci di dalam. Aku berteriak marah, mengangkat tanganku, bersiap melepas pukulan berdentum, memaksa keluar.
“Itu sungguh bukan keputusan yang bijak, Raib. Pukulanmu tidak akan mampu menembus kapsul. Kamu hanya akan membahayakan Seli.” ILY memberitahu, suaranya serius sekali.
Gerakan tanganku terhenti, juga Seli yang bersiap melepas petir. Itu benar, Slon bahkan tidak bisa menembus atau merusak ILY, pukulanku juga tidak akan berhasil. Itu hanya akan memantul di interior ILY, mengenai aku dan Seli di dalamnya.
“Bawa mereka pulang, Ngglanggeram, aku mohon.” Di luar kapsul, Ali menoleh ke Si Kembar.
Ngglanggeram mengangguk. Dia melangkah mendekati kapsul perak. Tangannya menempel di kapsul, mulai mengangkat kapsul terbang ke atas. 
“Kamu ikut denganku, Ali.” Ngglanggeran memegang tanganku, “Aku akan memberikan kesempatan terakhir kepadamu agar bisa berpisah dengan teman-teman terbaikmu di mulut lorong atas sana.”
Aku mengangguk. 
Segera, kami mulai terbang naik menembus gel tak terlihat yang selama ini menghambat benda apapun meloloskan diri. Slon dalam wujud terkendali memiliki kekuatan besar melewatinya.
Itu sungguh pemandangan yang menyedihkan. Aku bisa melihat Ali dari dinding transparan ILY. Aku bisa melihatnya terbang bersama Ngglanggeran satu meter di samping kapsul perak yang dibawa Ngglanggeram.
Seli menangis, memukuli dinding kapsul. Dia berseru-seru menyuruh ILY membuka pintu. Sia-sia, ILY seperti membatu, tidak mendengarkan.
Lima belas menit, kami tiba persis di langit-langit ruangan, di mulut lorong. Kami telah berhasil melewati gel tak terlihat. Di bawah sana, candi Bor-O-Bdur terlihat kecil, dengan hamparan danau indah, hutan lebat, dan pegununga salju.
Ngglanggeram melepaskan kapsul perak.
ILY mengambang, menunggu perintah berikutnya.
“Bawa mereka pulang, ILY.” Ali berkata pelan. Melambaikan tangan.
“Jangan lakukan, ILY!” Seli berseru panik, memukuli dinding ILY semakin kencang.
“Aku perintahkan kamu berhenti, ILY!” Aku juga berseru, berdiri.
Tapi ILY jelas tidak akan menuruti perintahku. Dia memiliki penilaian rasional atas situasi apapun. Dan membawa aku dan Seli pulang, meninggalkan Ali, adalah keputusan rasional terbaik.
“Aku mohon ILY. Jangan lakukan. Aku mohon….” Seli memohon.
ILY mendesing tidak peduli, mulai bergerak meninggalkan ruangan.
Aku meremas jemariku semakin keras. 
Bagaimana mungkin? Setelah semua petualangan kami di dunia paralel, setelah semua itu, persahabatan kami berakhir di sini. Ali mengorbankan dirinya terkurung di penjara agar kami bisa pulang. Bagaimana mungkin? Ali yang pandai bermain tebak-tebakan di Klan Matahari saat kompetisi mencari bunga matahari pertama mekar, kami yang menaiki Harimau Putih, Ali yang membuatkanku mie rebus pedas, Ali yang menghibur jika Seli bersedih hati dan patah semangat, Ali yang menaklukkan permainan lelucon di Klan Bintang, Ali yang jahil, Ali yang pandai bermain basket, semua kejadian itu kembali di ingatanku. Seperti sedang menonton televisi yang memutar kejadian. 
Ali melambaikan tangannya sekali lagi di bawah sana.
Mengirim salam perpisahan terakhir.
ILY mendesing semakin kencang, siap melesat melewati lorong. 
Bersiap pulang. Meninggalkan Ali selama-lamanya.


Selasa, 01 Agustus 2017

Tere Liye : Si Kembar -- spin off Serial BINTANG

Episode 11

Hari demi hari terus berlalu.
Dua bulan berlalu.
Pagi hari ke-61. Atau jam ke 122. Itu setara lima hari lima malam waktu Klan Bumi. Cahaya matahari menyentuh pucuk-pucuk stupa, lembut menyapa kami yang baru bangun.
Ali bilang dia ingin sarapan cake. 
“Ide bagus, Ali!” Maka Ngglanggeram menggelar demonstrasi memasak cake di pelataran candi. Tepung, gula, entah dari mana Ngglanggeram membuatnya. Semua bahan diaduk tanpa wadah di depan kami, berpilin, bercampur satu sama lain, seperti melihat tarian, adonan itu akhirnya mengembang, jadi. Ngglanggeram menjentikkan tangannya, oven transparan terbentuk di depan kami, dia memasukkan adonan, menepuk pelan, panas dengan suhu sangat akurat, durasi yang persisi, memanggang cake tersebut.
Aku menelan ludah. Lezat sekali aroma cake ini.
Terakhir, Ngglanggeram meletakkan buah strawberry yang ranum dan menggoda. Lima menit, kami sudah asik menghabiskan potongan cake.
“Apakah memang tidak ada lagi jalan keluar dari ruangan ini, Ngglanggeran?” Aku bertanya pelan, setelah kue-ku habis. 
“Kamu sudah bertanya itu lebih dari seratus kali, Raib.” Ngglanggeran tertawa. Itu betul, aku hampir setiap hari bertanya, dan si kembar selalu sabar menjawabnya. Tidak pernah bosan.
Tapi berbeda dengan sebelumnya, kali ini saudara kembarnya, Ngglanggeram terdiam sebentar. Dia meletakkan piring, menatapku.
“Sebenarnya masih ada satu cara.”
Kalimat itu membuat Seli reflek melepaskan kue-nya. Juga Ali.
“Tapi itu mustahil.”
“Sebutkan, Ngglanggeran. Apa itu?” Seli mendesak.
“Itu mustahil, Seli.”
“SEBUTKAN!” Seli berseru serius. 
“Slon. Dia bisa membawa kalian keluar dari ruangan ini.”
Slon? Monster gajah itu. Bagaimana cara Slon melakukannya? Bukankah dia yang dikurung di dalam ruangan ini, bagaimana dia yang malah akan membawa kami keluar? 
“Slon bisa melakukannya. Tapi tidak dalam wujud gajahnya.” Ngglanggeran menambahkan, “Jika wujud Slon bisa dikendalikan, dia punya kekuatan terbang menembus gel transparan.”
Tapi monster gajah itu buas sekali. Bagaimana meminta tolong padanya?
Ngglanggeran menggeleng, bisa memahami eskpresi wajah kami, “Jika wujud Slon terkendali, dia tidak buas. Dia bisa diajak bicara baik-baik. Dia normal sekali.”
“Tapi bagaimana membuat Slon terkendali?” Seli bertanya, tidak putus harapan kali ini.
“Slon harus memakai benda yang dicuri dua ribu tahun lalu. Itulah kenapa aku bilang mustahil. Benda itu sudah dibawa pergi dari ruangan ini. Entah ada di mana.” 
“Sebenarnya, benda apakah itu, Ngglanggeram?” Giliranku yang bertanya.
Si kembar terdiam, saling tatap. Mereka menggeleng. Mereka tidak pernah mau membicarakan hal tersebut dua bulan terakhir. Ekspresi wajah mereka terlihat berubah setiap kali kami menyinggung tentang benda itu.
“Hei, waktu sarapan kita sudah habis. Ada yang ingin ikut denganku berkeliling Bor-O-Bdur?” Ngglanggeran berdiri, sambal mengganti topik percakapan.
Aku dan Seli menggeleng. Kami bosan berkeliling—sekaligus kecewa dengan kesimpulan percakapan.
“Ali? Kamu mau ikut?”
Ali yang biasanya reflek mengangguk, kali ini juga menggeleng.
“Baik. Jika kami belum kembali, pastikan kalian masuk ke stupa sebelum matahari tenggelam. Aku dan Ngglanggeram hendak memperbaiki dinding sisi utara, Slon tadi malam meruntuhkan kawasan itu. Kuat sekali tenaganya. Semakin lama semakin tidak terkendali.”
Si Kembar sudah melesat meninggalkan kami.
Sepeninggal si kembar, ILY berdesing di sebelah, mendarat di sebelah kami duduk.
“Bagaimana sarapannya, Raib, Seli, Ali?”
Aku mengangguk, enak seperti biasa.
“Jika saja aku bisa makan, itu sepertinya terasa lezat sekali. Tapi aku hanya kapsul perak sekarang.” ILY bergurau.
Aku mengangguk. Menatap hamparan danau.
Seperti hari-hari kemarin, kami akan menghabiskan sisa hari di sini. Tanpa kemajuan. Tanpa tahu cara pulang. Dan mendengarkan ILY bicara sendiri.
“Ra, aku sepertinya tahu bagaimana agar kita keluar dari ruangan ini.” Ali berkata pelan, memecah lengang.
Eh? Aku menoleh.
“Tapi ini rumit sekali.”
“Rumit apanya?” Seli menyergah, maksud Seli, tidak ada yang rumit sepanjang kami bisa keluar.
Ali diam sebentar sebelum melanjutkan bicara, “Kalian harus tahu, kita bukanlah yang paling menyedihkan di dalam ruangan ini. Secara selintas, orang-orang mungkin akan lebih bersimpati kepada kita. Pembaca kisah kita, juga lebih menyukai kita. Tapi sebenarnya, Si Kembar-lah yang paling pantas mendapatkan simpati.”
Aku menatap Ali. Tidak mengerti arah pembicaraan.
“Aku tahu sekali situasi saat berubah wujud menjadi monster.” Ali terdiam lagi, dia menatap ke depan, “Beruang raksasa yang pemarah. Saat tubuhku berubah, aku lupa segalanya. Aku akan menyerang siapapun yang bergerak di sekitarku. Itu termasuk jika kalian yang bergerak, aku bisa menyakiti kalian kapan pun. Bayangkan dampaknya jika aku tidak sengaja melakukannya, dan baru tahu saat aku siuman, ketika berubah wujud lagi.”
Pelataran candi lengang. Apa maksud Ali?
“Itulah yang dirasakan Si Kembar. Menyaksikan puluhan anggota rombongannya tewas, menyaksikan Slon menghancurkan kota-kota, desa-desa. Itu sangat menyakitkan, karena mereka tidak tahu apa yang terjadi saat berubah jadi Slon. Mereka kehilangan teman-teman, membunuh rombongan mereka sendiri…. Hingga mereka memutuskan mengurung diri di ruangan ini, menyalahkan diri tanpa ujung. Aku tahu perasaan itu.”
Aku menatap Ali lamat-lamat. Lantas di mana rumitnya?
“Karena Nggalenggeran tadi bicara tentang wujud Slon yang terkendali. Dia bilang itu satu-satunya cara menembus gel transparan.” Ali berkata pelan, balas menatapku.
Iya, tapi apa hubungannya dengan Ali?
“Kalian sungguh-sungguh ingin pulang, bukan?”
Seli mengangguk. Dia ingin sekali pulang.
“Benda yang mengendalikan Slon adalah sarung tangan ini.” Ali mengangkat tangannya, di sana memang tidak terlihat apapun, tapi ada sarung tangan terpasang, “Dua sarung tangan yang kukenakan. Satu milik Ngglanggeran, satu lagi milik Ngglanggeram. Tebakanku tidak akan meleset, inilah benda yang dulu dicuri oleh Si Tanpa Mahkota. Tapi dia tidak bisa menggunakannya, benda ini hanya bisa dipakai oleh manusia yang bisa berubah wujud. Aku bisa memakainya. Ngglanggeran bisa, Ngglanggeram juga bisa. Si Tanpa Mahkota tidak bisa, dia lantas meninggalkannya begitu saja di Kota Zaramaraz ribuan tahun lalu.”
“Apa maksudmu, Ali?” Aku bertanya cemas—aku sepertinya bisa menangkap maksud Ali.
“Jika kalian ingin pulang, aku akan menyerahkan sarung tangan ini kepada Si Kembar. Ini memang milik mereka. Saat mereka berubah wujud menjadi Slon, dengan sarung tangan ini, perubahan mereka akan terkendali. Itulah maksud Ngglanggeram tadi. Slon bisa membawa terbang kapsul perak ILY ke lorong di atas sana. Tapi aku tidak akan bisa ikut pulang ke kota kita.”
Astaga?
“Aku sudah tahu takdir hidupku, Ra. Aku sudah tahu siapa leluhurku. Mereka dari Klan Aldebaran. Dan aku bukan keturunan biasa, aku memiliki kode genetik paling langka, paling rumit di Klan itu. Bisa berubah jadi monster. Cepat atau lambat, aku akan seperti Si Kembar. Semakin lama, kekuatan berubahku semakin kuat, dan semakin tidak terkendali. Mereka berubah dipicu oleh siklus malam hari, aku berubah dipicu oleh rasa marah. Hanya soal waktu, aku akan menjadi monster mengerikan seperti mereka. Itu bisa membahayakan siapapun jika aku tinggal di atas sana, aku bisa menghancurkan satu kota sendirian…. Aku… akan… tinggal di ruangan ini! Kalian bisa pulang.”
“ALI!” Seli reflek menggeleng kencang. Keberatan.
“Tidak ada yang tinggal di sini, Ali.” Aku juga ikut menggeleng, “Kita pergi bersama-sama, kita juga pulang bersama-sama. Tidak ada yang memisahkan.”
Ali tersenyum, menatapku dan Seli bergantian.
“Aku tidak bisa pulang, Raib, Seli. Tanyakan ke ILY, dia bisa menganalisis situasi dengan rasional, itu kelebihannya. Bagaimana menurutmu ILY?”
Kapsul perak yang mendesing di sebelah kami terdiam.
“Bagaimana menurutmu, ILY?” Ali bertanya sekali lagi.
Aku dan Seli ikut menatap ILY.
“Aku minta maaf, Raib, Seli. Tapi Ali benar. Jika sarung tangan itu memang milik Slon. Maka Ali tidak bisa pulang tanpa sarung tangan. Dia harus tinggal di ruangan ini. Terlalu berbahaya membiarkan Ali pulang tanpa pengendali perubahannya. Av, Miss Selena, juga akan memutuskan hal yang sama.”
Seli menggeleng kencang-kencang. 
Aku terdiam. Astaga. Kenapa urusan ini jadi rumit sekali? Aku menatap wajah Ali yang justeru tersenyum.
Lihatlah, Si Biang Kerok itu, yang rambutnya berantakan, jarang mandi, yang selalu mengajakku bertengkar di sekolahan, yang selalu menggampangkan masalah, balas menatap kami dengan tatapan yang tulus sekali, “Tidak apa, Ra. Yang penting kamu dan Seli bisa pulang.”
“Tidak boleh, Ali! Kamu tidak bisa tinggal di ruangan ini selamanya!” Aku berseru.
Ali menatapku, “Titip salam untuk orang tuaku. Aku selalu mencintai mereka.”