Minggu, 19 November 2017

Tere Liye : Burlian

BAB 5. AHMAD, SI RINGKIH YANG HITAM – 1
---------------------------------------------------------------
Di sekolah tidak semua orang mengenal Ahmad. 
Anaknya hitam dekil, rambutnya keriting, giginya lepas dua, tiga, empat—sebenarnya banyak, berapa persisnya tidak ada yang tahu kecuali kau bisa menyuruhnya buka mulut. Dia di kelas selalu duduk di bangku paling belakang. Kalah saingan dengan yang lain waktu berebut duduk paling depan. Padahal tubuhnya kecil seperti kurang gizi. Meski kalau soal gizi ini, mau dibilang apa, mana mengerti orang kampung kami soal empat sehat lima sempurna. Ditambah lagi suara Ahmad terdengar pelan mendecit kalau disuruh Pak Bin membaca buku bahasa Indonesia atau menjawab pertanyaan. Maka lengkap sudah Ahmad jadi olok-olok sekelas.
Tere Liye Burlian

Ahmad memang pemalu, jadi tidak terlalu populer di kelas. Waktu pertama kali masuk sekolah, dia lebih sering berteman dengan anak cewek, itupun hanya untuk disuruh-suruh saat mereka main rumah-rumahan, boneka-bonekaan atau mainan cewek lainnya. Intinya, waktu kelas satu dulu, Ahmad tidak penting dan tidak akan pernah jadi penting. Catur Wulan berlalu, raport dibagikan, juga tidak terlihat istimewanya. Malah Ibu Ahmad lebih lama menghadap Pak Bin saat menerima raport. Teman-teman berbisik, katanya Ahmad akan dikeluarkan karena terlalu bodoh. Tapi hingga kenaikan kelas berlalu, Ahmad tetap duduk setia di kursi paling belakang. Selalu datang tepat waktu, dan selalu bergegas saat lonceng pulang berdentang.
Aku tidak terlalu dekat dengan Ahmad. Pendapat umum yang bilang Ahmad hitam, ikal, jelek, bodoh untuk urusan anak kelas satu SD tetap kejam sekali akibatnya. Meski aku jelas-jelas tidak sependapat dengan pendapat umum tersebut (kenyataannya Ahmad tetap naik kelas, sementara dua anak yang sering mengejeknya, jangankan naik kelas, membaca saja bebal sekali), tetap saja aku risih berteman dengan Ahmad. Seolah-olah akan ikut terkena tulah hitam dia jika berteman. Seolah-olah akan ikut dijauhi teman-teman yang lain.
Ahmad, si ringkih yang hitam bukan orang melayu. 
Tampilan wajah dan fisiknya terlalu berbeda. Dia pendiam dan tertutup sekali. Selepas pulang sekolah tidak pernah aku melihat dia bermain di sekitar kampung. Entah itu main layangan di lapangan sekolah, sepak-bola, petak-umpet, atau hanya duduk-duduk dengan anak kampung lainnya. Ahmad seperti memiliki dunianya sendiri. Saat istirahat lebih sering di kelas saja, menyibukkan diri dengan buku-buku.
Hingga suatu hari, Mamak menyuruhku mengantar buah rambutan ke tetangga. Lagi musimnya, pohon rambutan di kebun berbuah lebat. Tidak habis dimakan, Mamak menyuruh aku dan Kak Pukat mengirimkan kantong-kantong plastik hitam penuh rambutan ke tetangga. Dan sudah jatahku mengantar ke ujung kampung, bekas pabrik pengolahan karet.
Menurut cerita Bapak, dulu di pabrik karet itu ada ratusan karyawan yang bekerja siang malam. Gudang karetnya tinggi-tinggi dan besar-besar, mesin pengolahan karetnya canggih-canggih. Di kompleks pabrik itu terdapat puluhan rumah semi-permanen untuk karyawannya. Pabrik karet itu terkenal, karena hasil getah karet dari kebun-kebun rakyat seluruh kecamatan, bahkan dari luar kabupaten dibawa dan dijual ke pabrik itu. Lantas diolah dijadikan lembaran-lembaran karet panjang, yang kemudian dikirim ke kota provinsi dengan truk-truk pengangkut atau gerbong kereta api. 
Keluarga Ahmad dulunya karyawan pabrik itu. Hingga suatu saat pabrik itu bangkrut, kata Bapak, karena pengelola pabriknya banyak yang korupsi. Persisnya aku tidak tahu. Sejak pabrik itu bangkrut, ratusan keluarga karyawan yang kebanyakan pendatang luar daerah terjepit masalah ekonomi. Mereka tidak punya keahlian bertani seperti penduduk asli, tidak terlalu pandai menaklukkan hutan, dan jadi simalakama, karena kembali ke Jawa juga serba-salah. Mereka sudah beranak-pinak dan belum tentu juga ada kesempatan kerja di sana. Maka jadilah mereka bekerja serabutan, serba tanggung, serba seadanya. Termasuk keluarga Ahmad. Sementara bangunan pabrik mulai berkarat, tidak terawat, dan dipenuhi rumput dan ilalang yang tumbuh liar.
“Assalammualaikum.” Aku berseru nyaring.
Hanya hening yang menjawab.
“PERMISI!!! ADA ORANG TIDAK?” Berteriak lebih kencang.
“Oh, putranya Pak Syahdan, ya?” Ibu Ahmad setelah beberapa saat aku menunggu akhirnya menjawab salam, membukakan pintu. 
Aku mengangguk, tersenyum tipis. Mataku dengan cepat melihat ruang depan rumah kumuh itu. Berlantai tanah, berdinding kayu kasar. Hanya ada meja dan kursi plastik buram. Langit-langitnya dipenuhi sarang laba-laba dan jelaga hitam. 
“Ada kiriman buah rambutan dari Mamak, Bu.” Aku menjulurkan kantong plastik.
“Aduh, bikin repot. Terima-kasih, ya.” Ibu Ahmad menerima kantong plastik itu, “Ayo, masuk dulu. Ibu ambilkan minum, ya. Kamu namanya Burlian, bukan? Lihat wajahnya basah keringatan semua ini. Di luar panas sekali.”
Aku menyeringai. Panas memang, letak bekas pabrik ini paling berjarak seratus meter dari ujung kampung, tapi terik matahari tetap membuat peluh mengucur, apalagi aku masih membawa tiga kantong plastik rambutan yang belum dibagikan. Aku hendak menggeleng tidak usah, tapi dari belakang rumah keluar Ahmad yang sedang tertatih membawa ember besar.
“Ahmad, ada Burlian mengantar rambutan tuh.” Ibunya memberitahu. Ahmad menoleh ke arahku, mengangguk pelan, terus membawa ember besar itu ke samping rumah.
“Kalian sekelas, bukan?” Ibu bertanya sambil menuangkan air ke gelas.
Aku mengangguk, melihat Ahmad yang menjemur pakaian. Meski ukuran baju yang dijemurnya besar-besar, dia terlihat terampil mengerjakannya.
“Memang itulah kerjaan Ahmad. Sejak Bapaknya pergi, kami repot sekali, Nak Burlian. Untung Ahmad mau membantu Ibu mencuci pakaian tetangga, membantu membuat gorengan yang dijual di Stasiun, membersihkan rumah, menjaga adiknya, dia rajin sekali melakukan semuanya, tidak pernah mengeluh, padahal untuk bermain pun dia tidak sempat lagi.”
Aku mengusap keringat di dahi. Menatap lamat-lamat Ahmad yang hitam legam ditimpa cahaya matahari, yang sedang telaten menjemur satu persatu pakaian. Rambut ikalnya bergerak-gerak terkena angin bukit, tubuh ringkihnya terampil bekerja. Aku meletakkan gelas yang sudah kosong. Terdiam. Kerongkonganku memang terasa segar kembali, tapi ada sesuatu yang tiba-tiba mencelup lebih dingin hatiku. Aku mengerti sekarang, kenapa Ahmad tidak selalu bergegas pulang, tidak pernah terlihat bermain bersama yang lain, pendiam dan lebih sibuk dengan dunianya sendiri, karena dia memang sibuk bekerja membantu ibunya.
Hari itu aku baru tahu, Ahmad si ringkih yang hitam ternyata jauh lebih oke dibandingkan siapapun. Meski teman-teman yang lain berkulit terang nan bersih, berambut panjang nan bagus, pandai bicara, dan juara kelas pula, berbeda seratus delapan puluh derajat dengannya. Aku berpamitan hendak melanjutkan mengantar kantong plastik rambutan yang tersisa, dan saat menatap gigi tonggos Ahmad untuk kesekian kalinya, aku merasa nyaman-nyaman saja. 
Aku tahu, kami bisa jadi teman yang baik.
BAB 6. AHMAD, SI RINGKIH YANG HITAM – 2
Pak Bin berseru-seru melerai perkelahian. Aku berhasil meninju salah-satu anak kelas lima itu, membuat hidungnya berdarah. Meski mereka lebih dari berhasil berkali-kali meninju wajah dan badanku. Membuat seluruh tubuhku merah-merah lebam. 
“Mereka yang mulai duluan, Pak.” Aku berteriak tidak mau kalah. 
“BERHENTI, BURLIAN!!” Pak Bin menarik lenganku. Melotot.
“Mereka menghina Ahmad anak haram, Pak. Mereka yang mulai duluan.” Aku berusaha melepas cengkeraman Pak Bin, beringas berusaha mengejar anak-anak kelas lima itu. “DASAR SIMPAI PENGECUT, beraninya keroyokan!”
“HENTIKAN BURLIAN!!”
Aku tersengal.
“Kamu ikut Bapak ke kantor!”
Pak Bin menyeretku ke kantor kepala sekolah. Empat anak kelas lima itu sudah sejak tadi digelandang guru ke ruangan lain. Hatiku panas sekali. Tadi waktu lonceng istirahat pukul 09.45, seperti biasa banyak anak-anak bermain kejar-kejaran di halaman sekolah. Aku melangkah ke bangku paling belakang, berdehem mengajak Ahmad untuk ikut bermain. Butuh waktu beberapa detik untuk meyakinkannya, menyeringai bilang lewat tatapan mata dan senyuman kalau apa salahnya ikut bermain dengan yang lain. Bilang lewat ekspresi wajah, aku mau mengajaknya bermain bersama yang lain.
Akhirnya Ahmad bangkit dari bangku. Patah-patah melangkah ikut keluar kelas. Mungkin itu pertama kalinya sejak dia masuk sekolah keluar dari kelas saat lonceng istirahat. Awalnya teman-teman kelas sedikit sungkan. Menjauh saat aku dan Ahmad bergabung. Tapi melihat aku yang asyik-asyik saja bergurau dengan rambut ikal Ahmad, menjawilnya sambil tertawa, mereka ikut tertawa. Permainan kejar-kejaran sambil menjaga tiang-tiang depan sekolah itu berjalan lancar. Hingga entah apa yang ada di kepala anak kelas lima itu, tiba-tiba mereka yang hanya menonton kami bermain, jahil mendorong Ahmad yang sedang berjaga di benteng tiangnya. Mereka tertawa mengolok-olok Ahmad. 
Sudah biasa sebenarnya hal itu terjadi, semua orang juga tahu dan menganggap wajar-wajar saja. Tapi aku yang baru semalam dapat cerita dari Mamak, panas sekali saat Ahmad diteriaki “anak haram”. Aku berlari menyeruak di antara Ahmad dan keempat anak kelas lima itu. Balas berteriak menghina mereka. Ahmad berusaha menarikku, bilang lupakan saja, ayo masuk kelas. Dan belum sempat aku berbalik arah mengikuti saran Ahmad, salah seorang dari mereka mulai memukul. Aku reflek menghindar, sambil melompat balas menendang, maka pertengkaran itu tidak terhindarkan lagi.
“Kau tahu Burlian, sejak pabrik itu bangkrut, maka kehidupan mereka menjadi sulit. Tidak punya kebun, tidak punya penghasilan, padahal mereka selama ini terbiasa nyaman dengan gaji bulanan dari pabrik karet. Hidup mereka seperti kapal berubah arah, mendadak berubah menjadi susah...” Mamak memperbaiki kudung kepala, “Dan yang lebih menyakitkan lagi, Bapak Ahmad ternyata tidak tahan dengan situasi itu, dia memutuskan pergi, meninggalkan Ibu Ahmad yang sedang mengandung… sungguh tega… Mamak sampai tidak tahan mendengar kabar kalau Ahmad yang masih setahun dan Ibu-nya yang sedang mengandung ditinggal pergi.”
“Memangnya tidak ada yang tahu kemana Bapak Ahmad pergi, Mak?” Amelia menyela. Kami berempat seperti biasa duduk melingkar medengar cerita di ruang tengah.
Mamak menggeleng pelan, tidak ada yang tahu. 
Aku menatap kerlip cahaya lampu canting dengan mata kosong. Teringat bagaimana selama ini kami memperlakukan Ahmad di kelas. Teringat betapa tidak adilnya kami terhadap dia hanya karena aneh melihat rambutnya yang ikal dan giginya yang tonggos.
Maka aku benar-benar tidak terima lagi saat Ahmad diejek tidak punya Bapak. Anak haram. Langsung menerjang anak-anak kelas lima yang jauh lebih besar dibanding kami. Bergumul satu lawan empat orang. Dan hasilnya, aku kalah telak.
Malamnya, saat makan bersama Bapak dan Mamak, saat Amelia melapor kalau Kak Burlian tadi siang berkelahi di sekolahan, saat aku bersiap terkena omelan, menunduk menatap meja makan, Bapak lebih dulu berkata santai, “Payah. Lawan empat orang saja kalah. Harusnya kau macam Elyas Pical. Hajar terus!” menunjukkan kepalan tangannya, tertawa.
Aku menelan ludah, tidak percaya dengan apa yang kudengar. Kak Pukat dan Ayuk Eli juga saling pandang tidak mengerti. Bukankah kalau mereka ketahuan bolos mengaji di Nek Kiba saja Bapak atau Mamak mengomel sepanjang malam. Lah ini, si Burlian jelas-jelas berkelahi di sekolahan, sampai wajahnya merah-merah lebam, cuma begitu saja reaksi Bapak? Tertawa? Amelia yang suka melapor mendengus kecewa. Aku sudah beranjak mengambil gorengan udang sungai sebesar betis. Makan, makan, perutku mendadak terasa lapar.
Kami memang tidak tahu, kalau tadi sore Pak Bin datang ke rumah, menjelaskan kejadian di sekolah kepada Bapak dan Mamak. “Aku tidak pernah setuju melihat anak-anak berkelahi. Tapi untuk yang satu ini, seandainya Pak Syahdan bisa melihatnya langsung.... Astaga, Burlian seperti harimau mengamuk, berkelahi membela kehormatan temannya.”
BAB 7. AHMAD, SI RINGKIH YANG HITAM – 3
“AHMAD!!”
Aku mengetuk pintu depan, berteriak.
“OII, AHMAD!!” Berteriak lebih kencang.
“Sebentar.” Akhirnya ada balasan dari dalam. 
Aku menepuk-nepuk kaki yang berdebu. Musim kemarau kali ini, jalanan kampung panas dan berdebu sekali rasanya. Baru berjalan sedikit saja, baju sudah basah oleh keringat, dan mata pedih terkena debu.
“Kau mau ikut kami bermain bola?” Aku menyeringai saat wajah hitam berambut ikal itu menjulur dari balik pintu. 
“Tidak bisa. Ibu lagi membantu kerja di kebun tetangga. Aku harus menjaga rumah.”
“Sebentar saja. Kita juga mainnya di lapangan bekas pabrik. Ayolah.”
Ahmad menggaruk rambut ikalnya, menggeleng, “Aku disuruh Ibu menjaga adik.”
“Adiknya mana? Suruh ikut saja.” 
“Tidak bisa. Nayla agak demam, lagi tidur.”
“Itu justru bagus, bukan? Berarti adik kau bisa ditinggal saja.” Aku enteng menjawab. Tertawa kecil. Soal mencari-cari alasan, menjawab sembarangan dan asal, tidak ada yang bisa mengalahkan Burlian, putra Pak Syahdan.
Ahmad terlihat berpikir sebentar.
“Ayolah, kita mainnya di lapangan bekas pabrik dekat ini. Itu, kelihatan dari sini.” Aku menunjuk beberapa anak yang sedang menendang-nendang bola. Tersenyum yakin, hanya soal waktu Ahmad akan mengangguk. Dan benar saja, setelah menimbang beberapa detik, dia membuka pintu rumah lebih lebar, melangkah keluar.
Aku lupa tanggalnya, juga lupa itu hari apa, yang aku ingat, itulah pertama kali kami melihat Ahmad bermain bersama anak-anak kampung selepas pulang sekolah. Aku juga lupa siapa saja yang bermain bola saat itu, berapa persisnya gol yang tercipta, tapi aku ingat, hari itulah seluruh sekolahan, bahkan seluruh kampung tahu tentang Ahmad. Menatapnya dengan cara yang tidak akan pernah sama lagi. Menilainya lebih respek. Si ringkih yang hitam, berambut ikal, gigi tonggos, suara kecil itu ternyata menyimpan bakat terbesarnya.
Maradona dari kampung kami.
Ada tiga lapangan favorit untuk bermain bola. Lapangan di sekolahan, lapangan di dekat stasiun kereta, dan lapangan di bekas pabrik karet. Kalau cuaca masih terik menyengat, tentu saja pilihan terbaiknya adalah lapangan bekas pabrik karet. Lapangan itu terletak di sebelah reruntuhan gudang, jadi terlindungi dari cahaya matahari. Tempat itu dulu bekas penumpukan bantalan karet, sehingga sempurna datar dan bersih dari rumput. Tidak ada tiang gawang, kami hanya menggunakan sandal jepit sebagai penanda gawang. Tidak ada juga garis-garis batas lapangan, kami sudah sepakat dimana lokasi titik pinalti, dimana garis tengah lapangan, batas bola keluar dan sebagainya. 
Awalnya Ahmad hanya duduk menonton, kebetulan anak-anak yang bermain sudah pas genap, enam lawan enam. Beberapa menit setelah kami asyik bermain, Munjib berlari-lari kecil datang, Ahmad bisa bergabung masuk. Sekarang permainan tujuh lawan tujuh.
Dan saat itulah, ketika Ahmad masuk lapangan, kami seperti menyaksikan Maradona berkulit hitam tengah beraksi di depan mata. Nanti akan aku ceritakan tentang televisi dan bagaimana kami menonton siaran piala dunia yang akan berlangsung beberapa bulan lagi, tapi sekarang lupakan soal itu, lihatlah! Lihat kemari, di lapangan yang berdebu, di lapangan bekas kejayaan pabrik karet, Ahmad, bagai menari menggocek bola. Tubuh kecilnya melesat tidak tertahankan, bergerak lincah menghindari hadangan lawan, bola seperti bicara dengan kakinya, seperti menjadi bagian tubuhnya. Dalam sekejap, sebelum kami mengerti apa yang sesungguhnya sedang terjadi, kaki Ahmad sudah menendang bola mantul setengah tiang itu, dengan sebuah sepakan yang sempurna. Bola melengkung bagai parabola, GOOLLL!!!
Teman-teman dalam timku bersorak-sorak senang. GOOLL!!! Membuat aku yang tadi mengoper bola ke Ahmad tersentak dari keterpesonaan. Aku benar-benar tidak tahu kalau Ahmad jago sekali main bolanya, tepatnya kami semua sama sekali tidak punya ide kalau ternyata dia jago sekali. Tadi setelah beberapa menit Ahmad masuk lapangan, dia tidak kunjung menyentuh bola, masih sungkan, masih malu-malu, dan teman-teman lebih memilih mengoper yang lain. Karena kasihan, aku mengopernya. Tapi apa yang terjadi sekarang? 
Aku lupa berapa persisnya gol yang dibuat oleh Ahmad sore itu. Orang-orang kampung yang ikut duduk menonton kami main hingga sore hari bertepuk-tangan gaduh setiap kali Ahmad bergerak lincah memainkan bola. Lapangan semakin ramai ketika orang-orang yang pulang dari kebun ikutan menonton. 
Saat matahari tumbang di kaki langit barat sana, saat pertandingan itu akhirnya bubar, tidak ada lagi teman-teman di timku yang mengganggap Ahmad berbeda. Mereka tertawa bersama, jahil menggoda rambut ikal Ahmad yang sekarang dipenuhi debu. Saling sikut. Saling berkejaran pulang ke rumah masing-masing.
“AHMADDD!!!”
Aku juga seketika lari terbirit-birit pulang. Ngeri melihat Ibu Ahmad yang melotot marah di depan pintu. Sudah seperti beruang marah, berdiri sambil membawa gagang sapu. Aku baru tersadar kalau kami telah meninggalkan Nayla, adik Ahmad yang sedang demam, sendirian di rumah lebih dari tiga jam.

Jumat, 17 November 2017

Tere Liye : Burlian

4. TAHANAN STASIUN KERETA
“Whoooong!!” 
Suara ‘klakson’ kereta terdengar menggelegar dari kejauhan. Aku dan Kak Pukat seperti beruang yang tersadar dari hibernasi tidur panjang, langsung loncat dari bermalas-malasan di kursi bambu depan rumah. Saling sikut berusaha berlari lebih dulu. 
“Whooongg!!”
Kereta itu menderu semakin dekat. Nafasnya seperti biasa tersengal mendaki bukit menuruni lembah, tubuh bajanya berdebu diterpa musim kemarau, cahaya matahari membuat berkilauan gerbong-gerbongnya. Kereta dengan gerbong bertuliskan huruf besar-besar: PERTAMINA. Kami antusias berlari mendekati rel kereta. Lantas mendekam dibalik serumpun belukar. Menunggu kereta itu lewat di depan hidung kami.
Tere Liye Burlian

Tanah bergetar saat delapan atau sembilan iringan gerbong itu lewat. Lokomotifnya berwarna merah tua, gagah sekali melihatnya. Di belakangnya, tanki-tanki minyak besar ukuran 37.000 liter berlalu tidak kalah mempesona. Kalau ditimbang, pasti berat sekali gerbong-gerbong kereta ini, dan kabar baiknya, dalam urusan kami siang ini, semakin berat gerbong kereta yang lewat maka semakin bagus.
Kampung kami memang dilewati jalur kereta. Bukan kereta-kereta penumpang seperti di Jawa, di sini kebanyakan kereta barang untuk mengangkut minyak tanah, solar, bensin; gerbong terbuka yang disesaki karet gulungan; atau barang-barang komoditas alam lainnya. Jadwal kereta penumpang ada, tapi tidak banyak, hanya 1-2 kali per hari, dan kebanyakan penduduk malas menumpang, karena jalur rel kereta tidak melewati seluruh kampung-kampung.
Sejak tadi pagi aku dan Kak Pukat tidak sabar menunggu kereta lewat. Kami sedang mengerjakan sebuah proyek penting: ‘membuat pisau’. Hampir seluruh laki-laki dewasa di kampung punya pisau sendiri, maka sudah saatnya kami juga punya pisau sendiri. Bapak di rumah punya pisau kecil yang indah sekali. Sering digunakan untuk memotong tali pancing, memperbaiki jala, mengukir hiasan kayu dan pekerjaan kecil lainnya. Kami ingin membuat pisau seelok kepunyaan Bapak.
Sejak kemarin sore aku dan Kak Pukat sibuk mencari paku besar yang mungkin tergeletak di sudut-sudut rumah, di pagar-pagar kawat, di gudang, di mana saja. Akhirnya dari bawa tumpukan kayu bakar, menemukan dua paku yang cocok dengan besar pisau yang akan kami buat. Paku-paku itu diletakkan di atas rel kereta, diikat dengan tali rafia agar tidak terjatuh saat batangan rel bergetar oleh lokomotif kereta yang mulai mendekat.
Tentu saja, semakin berat jenis kereta yang lewat, hasilnya akan semakin bagus. Kereta PERTAMINA seperti ini, sembilan gerbong pula, pasti akan membuat paku-paku itu menjadi pipih seketika saat dilindas roda-roda bajanya. 
“Whooonggg!” 
Kereta meraung melewati kami, tersengal terus mendaki bukit, berkelok-kelok ratusan kilometer hingga tiba di tujuannya. Aku dan Kak Pukat sudah antusias lompat keluar dari balik belukar, bergegas tidak sabaran hendak mengambil paku yang telah dilindas kereta, tersenyum lebar membayangkan akan elok sekali bentuk pisau yang kami buat nanti.
Tapi malang tidak dapat ditolak, baru saja mau meraih paku yang sudah pipih tersebut, memeriksa ujung-ujungnya, hendak saling sombong satu sama lain, dua tangan besar tiba-tiba mencengkeram kerah baju kami. Aku mengaduh, Kak Pukat malah jatuh terpeleset. Genggaman itu bukannya mengendor mendengar kami berseru kesakitan, malah semakin kencang. 
“IKUT KAMI KE STASIUN KERETA!” Terdengar suara mendengus galak.
Aku dan Kak Pukat langsung lemas saat tahu yang menangkap kami adalah dua petugas stasiun kereta api. Wajah mereka galak, dan tanpa ba-bi-bu segera menyeret kami ke stasiun. Melewati beberapa rumah, melewati jalan tengah kampung, jadi tontonan. Mukaku dan Kak Pukat memerah, meski tidak diborgol, ini benar-benar memalukan. Apa nanti yang dibilang Mamak kalau ia tahu? Apa nanti yang dikata Bapak?
Dua petugas itu menyuruh kami duduk di pojok ruangan kepala stasiun, membentak kami agar meringkuk tidak bergerak seperti pesakitan. Aku dan Kak Pukat hanya bisa tertunduk. Selain menurut apa lagi yang bisa kami lakukan? Kami sudah tertangkap basah. Tidak ada pembelaan. Dua paku pipih, sebagai bukti kejahatan, tergeletak di atas meja kerja kepala stasiun. Posisi kami hanya menunggu hukuman. 
Lima belas menit berlalu, tidak ada yang menemui kami di ruangan itu. Aku dan Kak Pukat bersitatap sambil nyengir, takut-takut memperhatikan sekitar.
“Kalian putranya Pak Syahdan, bukan?” Akhirnya ada suara yang menegur. Aku mengangkat kepala, Lik Lan (sebenarnya dipanggil Pak Lik Lan, mengacu pada idiom Jawa ‘bapak cilik’, tapi anak-anak kampung terbiasa menyingkatnya menjadi Lik Lan saja) melangkah masuk, kepala stasiun, umurnya sekitar empat puluhan, wajahnya menyenangkan, langsung tertawa saat melihat aku dan Kak Pukat masih duduk meringkuk.
Kami mengangguk. Menghela nafas, sedikit lega. Dibandingkan dua petugas galak tadi, setidaknya kami kenal dengan Lik Lan. Bapak juga teman baik Lik Lan, sering ngobrol di balai kampung saat ada urusan kampung. 
Lik Lan seperti halnya petugas stasiun kereta lainnya adalah pendatang, dari Jawa, tapi mereka generasi ketiga yang tinggal di kampung kami, jadi sudah lebih dari cukup untuk dibilang penduduk asli kampung. Kakek-nenek mereka dulu dibawa Belanda dan Jepang sebagai pekerja kasar yang membuat jalur kereta; Ayah-ibu mereka yang lahir setelah jaman penjajahan bekerja sebagai karyawan PJKA; dan mereka melanjutkan tradisi panjang pengabdian itu. Lik Lan yang lahir dan besar di kampung, bahkan fasih sekali berbahasa Melayu.
“Ayo, ambil kursi, duduk di sini!” Lik Lan melambaikan tangan menyuruh kami.
Aku dan Kak Pukat menurut, beringsut duduk. 
“Bukankah sudah berkali-kali guru di sekolah kalian memperingatkan kalau meletakkan paku, kepingan tutup botol, atau apa saja di rel bisa membahayakan kereta yang lewat. Bisa membuat gerbong kereta anjlok, terguling. Bukankah kalian sudah tahu itu?”
Kami diam tertunduk. Tentu saja kami tahu. Maksudnya tahu kalau itu dilarang. Tapi soal membahayakan kereta, aku tidak pernah percaya kalimat itu. Bagaimana mungkin? Gerbong kereta yang besar sekali bisa tergelincir hanya gara-gara paku kecil yang diletakkan di atas rel? Kalau yang diletakkan drum atau pipa besi besar baru lain soal. Setahuku, anak-anak kampung juga sering melakukan apa yang kami kerjakan tadi. Mungkin bedanya, mereka tidak sesial seperti kami, tertangkap basah.
“Pisau yang bagus. Ini paku baja asli.” Lik Lan mengambil dua paku pipih itu. Mengamat-amatinya, “Tapi masih butuh dua-tiga kali lagi dilindas kereta seberat tanki-tanki minyak PERTAMINA untuk membuatnya sempurna. Kalau hanya dilindas kereta karet atau kereta penumpang, tidak akan sempurna bentuknya.”
Aku bergumam dalam hati, bagaimana mau tiga kali, baru sekali saja sudah tertangkap tangan. Kak Pukat di sebelahku menggaruk rambut, berpikiran sama.
“Baiklah.” Lik Lan berdiri, setelah sekian lama hanya memainkan dua paku itu, “Saya akan biarkan kalian pergi kalau Pak Syahdan sudah datang menjemput kemari. Katanya, Bapak kalian masih di kebun, jadi kalian harus menunggu…. Kalian boleh duduk-duduk di kursi, tiduran di lantai, membaca buku-buku di lemari, melakukan apa saja, tetapi maafkan saya, sebelum Bapak kalian menjemput, kalian tidak boleh keluar dari ruangan ini. Mengerti?”
Aku dan Kak Pukat mengangguk. 
“Dua paku pipih ini, dengan berat hati, terpaksa saya sita.” Lik Lan sambil bersenandung, memasukkan paku-paku itu ke dalam saku celananya, melangkah keluar ruangan, mengunci pintu dari luar. 
Aku dan Kak Pukat menghela nafas lega. Ternyata hanya disita paku-pakunya, kami pikir tadi bakal diserahkan ke kantor polisi atau dikurung di penjara. Aku menyeka keringat di dahi. Kak Pukat menghela nafas lebih panjang. Bersitatap satu sama lain. Tertawa. Kak Pukat menghempaskan tubuh di kursi, meluruskan kaki. Aku mengamati ruangan kepala stasiun itu. Belum pernah kami masuk ruangan ini, setidaknya dengan ditangkap dua petugas Lik Lan, kami jadi tahu bentuk ruang kerja kepala stasiun kereta.
Senja hari tiba, harusnya Bapak sudah kembali dari kebun, dan itu berarti Bapak sudah bisa menjemput kami di stasiun kereta sejak tadi. Tapi hanya lengang yang tersisa. 
Malam hari datang, stasiun kereta mulai gelap, petugasnya sudah pulang ke rumah, dan mereka mana mau walau sekadar menghidupkan lampu canting buat menerangi kami. Aku dan Kak Pukat saling pandang, mengeluh, harusnya Bapak sudah datang menjemput, kenapa belum datang juga? Mulai tidak nyaman berada di ruangan Lik Lan, apalagi nyamuk sejak sore tadi berdenging menyerbu kami. 
Pukul delapan malam, yang datang malah Ayuk Eli dan Amelia yang masih memakai kerudung dan menjepit Al Qur’an di lengan. Ayuk Eli dan Amelia sepertinya baru pulang dari mengaji di rumah Nek Kiba. Mereka mengintip dari jendela pintu ruangan stasiun yang terkunci kokoh, mengetuk-ngetuknya. Aku dan Kak Pukat terlonjak dari kesibukan memukul-mukul mengusir nyamuk, bergegas mendekati pintu, berharap itu Bapak.
“Mana Bapak?” Aku bertanya kecewa.
“Bapak bilang, kalian urus sendiri masalah kalian!”
Astaga. Hanya itu saja pesan dari Ayuk Eli, lantas dia bersama Amelia pergi, meninggalkan kami yang belum makan, belum mandi, gelap, tersiksa pula oleh puluhan nyamuk. Aku menelan ludah. Kalau begini urusannya, Bapak pasti marah besar saat tahu kami tertangkap basah memasang paku di rel kereta. 
Dan malam berlalu seperti merangkak. 
Untuk dua pesakitan seperti kami, yang awalnya penuh harap akan dijemput, lantas putus asa menerima kabar buruk tidak dipedulikan, hanya soal waktu untuk kemudian malah jadi jengkel dan marah-marah. Maka jadilah sebelum akhirnya jatuh tertidur aku dan Kak Pukat bertengkar. Saling menyalahkan. “Ini ide kamu meletakkan paku di rel kereta itu.” “Kalau ini ideku, kenapa kamu maunya ikut-ikutan?” Saling mendengus. “Dasar bodoh, harusnya kau tidak pasang pakunya di sana!” “Baiklah jenius, lantas ditaruh di mana? Jauh di tengah hutan sana?”
Bintang-gemintang yang selalu terlihat jelas di langit kampung kami terlihat indah menghiasai malam. Salah-satu bintang yang paling terang, seperti tertawa mengintip dari bingkai jendela ruangan kepala stasiun. Aku dan Kak Pukat setelah diam-diaman, bersikukuh tidak mau menegur satu sama lain, akhirnya jatuh tertidur, pasrah dengan nyamuk yang berpesta pora menggigit dari atas bawah kiri kanan depan belakang. 
Hukuman itu baru berakhir esok hari. 
Lepas shubuh, Mamak yang akhirnya datang menjemput kami, dan Lik Lan sambil tertawa membuka kunci pintu ruangannya, mengijinkan kami pulang. Wajah Mamak gembung sepanjang perjalanan, melihat kami dengan tatapan sebal. Aku dan Kak Pukat hanya bisa tertunduk.
Urusan meletakkan sebatang paku di rel kereta itu ternyata celaka sekali. Nasib.

Kamis, 16 November 2017

Tere Liye : Burlian

3. MENANAM MASA DEPAN
---------------------------------------
“Kakak kok pulang cepat, sih?”
“Diam. Awas kalau kau lapor, Mamak.” Aku justru melotot, mengancam. 
Amelia yang sedang bermain gundu sendirian di samping rumah terdiam. Menatapku dan Kak Pukat yang bergegas mengganti seragam di rumah.
“Kakak mau kemana?” Amelia kembali bertanya.
“Mencari belalang di kebun.” Kak Pukat yang menjawab.
“Amelia ikut.”
“Tidak boleh.”
“Amelia IKUT!!!”
“Kau main gundu saja sendirian.” Aku tertawa, bersama Kak Pukat sudah berlarian keluar dari pintu pagar. 
Tere Liye Burlian

Semalam, kami sudah matang merencanakan bolos ini, sengaja tidak membawa tas ke sekolah. Saat lonceng istirahat pertama berbunyi, pukul 09.45, Aku dan Kak Pukat menyelipkan buku di balik baju, lantas menyelinap diantara anak-anak yang asyik bermain. Tidak akan ada yang memperhatikan, pelarian kami aman. Di tengah jalan menuju rumah memang sempat gugup saat berpapasan dengan Bakwo Dar –kakak tertua Bapak, tapi aku sebelum ditanya lebih dulu menjelaskan, “Ada rapat guru di sekolah, kami disuruh pulang lebih cepat.” Bakwo Dar hanya mengangguk, tidak mengeluarkan komentar walau sepatah.
Sialnya, meski sudah sembunyi-sembunyi masuk rumah, Amelia yang sedang bermain sendirian melihat kami. Tapi ini bukan masalah besar, tinggal sedikit diancam, ia akan menutup mulut melapor pada Mamak kalau kami pulang lebih cepat. Lagipula, Amelia yang baru lima tahun mana mengerti definisi bolos sekolah. Aku nyengir tipis, kali ini semua beres, semua terkendali, Mamak tidak akan tahu. 
Maka seharian dengan tenang aku dan Kak Pukat berlarian menangkapi belalang di ladang padi tetangga. Membawa kantong plastik, memasukkan satu demi satu hasil buruan ke dalamnya. Seru sekali. Setiap kali melihat belalang terbang melintas, aku dan Kak Pukat langsung lompat mengejar. Membawa ranting besar sebagai pemukul. Jatuh-bangun di antara sela-sela batang padi yang tingginya masih sejengkal, tersangkut tunggul atau potongan kayu melintang, baju kotor oleh tanah, rumput kusut-masai. Lupa waktu, lupa kalau Mamak bisa ngamuk sepanjang malam kalau tahu kami bolos sekolah, lupa semuanya.
Saat matahari mulai tumbang di langit barat, barulah kami bergegas pulang sebelum Mamak tiba lebih dulu di rumah. Sejauh ini aman. Hanya ada Amelia yang duduk di ayunan, tidak banyak bertanya, malah terlihat menatap galak kepada kami. Mungkin Amelia masih sebal karena tadi siang tidak diajak. Ayuk Eli sedang masak di dapur. Bapak, Mamak belum terlihat, mungkin masih dalam perjalanan pulang dari kebun.
Kak Pukat mandi duluan di sungai, sementara aku menumpahkan belalang dari kantong plastik ke dalam kotak anyaman bambu, belasan belalang yang sekarang loncat-loncat berusaha kabur dari dalam kotak. Aku menyeringai melihatnya. Sebenarnya hasil buruan kami hari ini banyak, tapi yang kecil-kecil dilepas kembali. Besok pasti menyenangkan pamer semua belalang ini ke teman-teman sekolah. Belum lagi kalau isi kotak sudah puluhan ekor, bisa dijual di kota kecamatan. Satu kotak penuh seperti ini bisa lima hingga sepuluh ribu, cukup untuk membeli mainan dua pistol air di Pasar Kalangan.
Makan malam berjalan tenang. Mamak tidak banyak bertanya soal sekolah, ia lebih banyak bercakap dengan Bapak soal kebutuhan pupuk urea untuk kebun kopi. Amelia sibuk dengan udang sungai sebesar lengan di piringnya, ber-hah kepedasan. Tidak ada tanda-tanda kalau ia mau lapor soal kami pulang sekolah lebih cepat. 
Selepas makan, duduk-duduk di ruang tengah, aku dan Kak Pukat saling lirik, masih cemas kalau tiba-tiba Mamak bertanya soal PR, pelajaran, dan apa saja yang kami lakukan di sekolah. Aman. Hingga kami beranjak tidur, tidak ada satu pun pertanda kalau Mamak tahu kami bolos hari ini. 
Malam semakin larut. Suara jangkrik ditingkahi serangga lain terdengar mengisi senyap. Lampu canting kerlap-kerlip terkena angin dari sela-sela papan. Mamak menemani Bapak menyeduh kopi di dapur. Kami berempat sudah menguap. Aku beranjak mengambil posisi, menarik selimut kumal menutupi kepala, tidur dengan ekspresi wajah nyaman. 
Kalau begitu, besok-lusa bisa diulangi lagi.
***
Pagi-pagi sekali Ayuk Eli membangunkanku dan Kak Pukat. 
Aku menggeliat, sedikit menggerutu karena mimpi seru mengejar belalang raksasa terputus. Padahal hebat sekali mengejar-ngejarnya mengelilingi kampung. Ajaib, dalam mimpi barusan, aku bahkan bisa terbang. Menggeliat, turun dari ranjang. Bukankah ini baru pukul setengah lima pagi? Di luar masih terlalu gelap untuk bersiap-siap sekolah.
“Kalian ikut Mamak ke kebun hari ini!” Suara Mamak terdengar dari dapur.
Aku menggaruk kuping, takut salah dengar. Ikut ke kebun? Berarti kami tidak sekolah? Sejak kapan Mamak mengijinkan kami tidak sekolah. Bukankah selama ini, kami terlihat malas berangkat saja Mamak sudah melotot, mengancam akan menjewer kuping?
“Hari ini kalian membantu Mamak mengambil kayu bakar.”
“Sungguhan?” Mataku lekas membesar antusias, meski rasa kantuk masih menyergap. Sepanjang bisa bolos dari sekolah, diajak Mamak membantu apa saja tidak masalah.
Mamak mengangguk, menyuruh bergegas sarapan.
Jalanan masih gelap saat aku dan Kak Pukat berjalan di belakang punggung Mamak. Ini jam berangkat normal ke kebun bagi penduduk kampung. Bahkan yang kebunnya jauh, mereka berangkat lebih dini lagi. Pagi-pagi sekali menyadap karet. Katanya, jika sudah terlalu terik, pohon karet lebih sedikit mengeluarkan getah. Rumus yang sama meski berbeda konteks juga berlaku untuk kebun kopi. Pagi hari masih menyenangkan, kalau sudah siang, semut yang bersarang di batang-batang kopi lebih ganas dari biasanya.
Aku bersiul riang di sepanjang jalan setapak. Menyahuti riuh burung nektar menyambut pagi. Suara lenguh simpai terdengar ramai di kejauhan. Tetes embun di ujung dedaunan segar mengenai wajah dan rambut. Ini tentu saja lebih asyik dibandingkan jalan ke sekolahan.
Setiba di kebun, Mamak menyuruh kami mengumpulkan batang-batang pohon mati yang roboh, menyuruh memotongnya dengan ukuran lima-enam jengkal, memasukkannya ke dalam keranjang rotan. Cepat saja melakukan itu, dalam hitungan menit sudah penuh. Aku dan Kak Pukat mantap menyampirkan tali keranjang di kepala, meletakkan posisi keranjang rotan di punggung, hoop! Berdiri. Saatnya pulang.
“Isinya kurang banyak.” Mamak tiba-tiba menghentikan langkah kaki. Menyuruh kami menurunkan kembali keranjang masing-masing. Mamak mengambil lagi potongan kayu bakar, mengisi sela-sela yang masih renggang, menumpuknya lebih dari bibir keranjang. Sekarang keranjang kami menjulang penuh sesak. 
Aku dan Kak Pukat menelan ludah.
“Kau kuat mengangkat sebanyak ini, Burlian?”
Aku mengangguk ragu-ragu. Kembali menyampirkan tali keranjang ke kepala, meletakkan keranjang di punggung, hoop! Berdiri. Badanku sedikit oleng sebentar. Kak Pukat membantu memegangi menyeimbangkan posisi. Berat. Tapi karena dengan begini aku tidak perlu masuk sekolah, jadi senang-senang saja. Ini jauh lebih seru dibandingkan harus duduk rapi di kelas, menatap papan tulis hitam, mendengarkan Pak Bin berceloteh. Anggap saja ini harga yang harus kutebus karena tidak perlu sekolah.
Aku dan Kak Pukat beriringan mengikuti langkah kaki Mamak di depan, kembali ke rumah. Cahaya matahari menerabas sela-sela dedaunan, kabut masih menggantung, suara burung semakin riuh, aku mulai tersengal menuruni bukit dengan beban seberat ini, apalagi Mamak di depan tanpa banyak bicara berjalan dengan kecepatan tinggi. Beruntung masih musim kemarau, jadi jalanan setapak di dalam hutan kering, akan berbeda sekali jika musim penghujan. Susah melewati jalan tanah yang licin, licak oleh tanah liat. 
Setengah jam berlalu, aku menghembuskan nafas lega tiba di depan rumah. Meletakkan keranjang rotan di halaman, menumpahkan isinya. Mamak menyuruh kami menyusun kayu bakar itu di tempat biasanya. Kami menurut, setidaknya setelah semua kayu bakar ini tersusun rapi kami bisa bebas bermain (dan tidak perlu sekolah, sudah pukul 9 lewat, sudah hampir lonceng istirahat pertama). Jadi bisa bebas berburu belalang lagi.
“Ayo, bergegas!” Mamak berseru, sudah berdiri menunggu.
Aku dan Kak Pukat saling tatap, baru saja kami menyusun potongan kayu bakar terakhir, sudah disuruh bergegas? Ke mana? Bukankah sudah selesai menemani Mamak mengambil kayu bakarnya. 
“Kalian jangan melamun seperti simpai. Ayo bergegas!” Mamak melotot, “Bawa kembali keranjang rotan kalian. Masih banyak kayu bakar yang harus diambil.”
Aku dan Kak Pukat benar-benar tidak punya ide, atau sama sekali tidak tahu kalau semua ini bukan kesenangan seperti yang kami sangkakan awalnya. Ini justru hukuman. Dan sama seperti saat kami bolos sekolah, Mamak benar-benar merencanakan hukuman ini dengan matang sejak semalam.
Ekspresi wajah Mamak dingin, ia tidak mengomel seperti biasanya, hanya menatap tajam, berseru pendek, dan tidak ada ampun mengisi keranjang kami banyak-banyak. Tanpa istirahat semenit pun selepas kayu bakar itu disusun lagi, Mamak sudah berseru galak, “BERGEGAS!!” Berjalan cepat-cepat di jalanan setapak hutan. 
Ini yang keempat kali aku dan Kak Pukat tersengal naik-turun bukit, dengan baju mulai kotor oleh debu, wajah cemong, keranjang rotan yang disesaki potongan kayu bakar. Tadi aku sempat jatuh karena tidak hati-hati melangkah, sandalku tersangkut tunggul, keranjang itu jatuh, tumpah, sakit sekali saat kakiku terkena salah satu potongan kayu bakar. Mamak hanya melotot, berdiri tanpa kata satupun, menungguiku memasukkan kembali kayu bakar ke dalam keranjang. Lantas berjalan cepat-cepat lagi, aku terpincang-pincang menyusulnya.
Sudah pukul satu siang. Perutku mulai berbunyi. Aku sudah berharap benar Mamak akan memberikan kami jeda istirahat untuk makan siang dan shalat zuhur, tapi aku takut untuk menanyakannya. Kak Pukat juga sejak tadi sudah berhenti berbisik-bisik. Menyisakan suara serangga di sepanjang jalan setapak. Kami mulai mengerti aturan mainnya, ini jelas bukan kesenangan seperti yang kami duga awalnya, ini justru hukuman karena kami bolos sekolah, dan sebagai pihak yang dihukum, protes hanya akan membuat sanksi jadi lebih berat.
Pukul dua siang, Mamak akhirnya memberikan bungkusan daun pisang. Isinya nasi putih tanpa lauk, tanpa sayur. Hanya itu menu makan siang kami. Itupun harus dihabiskan dengan cepat di sela-sela mengumpulkan kayu bakar. Baru mulai makan, Mamak sudah berteriak, “Oi, kalian kalau mencari belalang semangat sekali sampai lupa sekolah! Kenapa sekarang buat makan saja lambat macam baru selesai lebaran tahun depan?” 
Aku dan Kak Pukat terdiam menelan ludah, perlahan menyeka keringat yang sudah seperti butiran kopi, mengalir besar-besar di leher, wajah, semua bagian badan, membuat kuyup pakaian. Mengunyah gumpalan nasi dengan seluruh perasaan tertekan. 
“Kenapa kau Burlian? Tersedak, hah? Kakek nenek moyang kau jadi petani lebih susah hidupnya dibanding kalian. Sering keracunan karena makan umbi gadung. Tidak ada nasih putih mengepul. Kau masih enak berbaju kain. Mereka dulu hanya bercelana blacu dan lembaran karet. Tak apalah tidak sekolah, kalau kalian memang lebih suka jadi petani. Terserah kalianlah mau jadi apa besok lusa!”
Aku meringis, mengunyah gumpalan nasi dengan mata berkaca-kaca.
Matahari tumbang di ufuk barat, senja datang menjelang, ini yang kesepuluh kalinya kami bolak-balik ke kebun. Kakiku mulai gemetaran setiap menuruni bukit. Berusaha sekuat tenaga mengendalikan keseimbangan badan agar tidak jatuh. 
Kak Pukat sekarang menatapku saja enggan. Tadi dia mendesis marah, bilang ini semua salahku, bilang adalah ideku yang mengajaknya berburu belalang. Aku menelan ludah, hendak melempar Kak Pukat dengan kayu bakar. Enak saja, kalau itu memang ideku kenapa dia mau ikut kemarin? Tetapi Mamak sudah mendengus galak, matanya melotot. Kami tertunduk satu sama lain, bergegas memasukkan kayu bakar ke keranjang rotan.
Rit kesebelas aku berusaha mati-matian menahan tangis karena tidak kuat lagi. Aku kembali terjatuh, betisku lebam terkena kayu bakar. Seluruh badanku terasa ditusuk jarum. Dan yang paling menyakitkan, Mamak hanya melihat selintas, tidak peduli, melanjutkan langkah tanpa mengurangi kecepatan. 
Saat semua harapan itu hampir hilang, karena meski adzan maghrib sudah terdengar pun Mamak tetap tidak menghentikan hukuman, saat aku mulai pasrah menerimanya, berpikir ini semua baru berakhir jika kami pingsan. Saat kunang-kunang mulai keluar menghias malam, terbang mengintip kami iba dari semak-belukar, suara burung hantu terdengar dari kejauhan, Mamak akhirnya bilang, “Cukup. Kayu bakarnya sudah banyak.”
Kami langsung terduduk. Melepaskan keranjang dari punggung. Legaaa sekali. Menatap tumpukan kayu yang menjulang di samping rumah. Kayu-kayu bakar ini lebih dari cukup untuk masak selama tiga bulan. Amelia dan Ayuk Eli menatap kami lamat-lamat dari depan pintu. Tidak banyak komentar. Bapak hanya tersenyum tipis.
***
“Burlian, bangun…” Ayuk Eli menggerakgerakkan bahuku.
Aku menggeliat, sedikit sebal dibangunkan. Lagi-lagi Ayuk Eli menganggu. Bukankah seperti barusaja aku menghempaskan tubuh di ranjang, kenapa sudah dibangunkan. 
“Sudah lewat jam enam, Burlian.” Ayuk Eli seperti mengerti ekspresi wajahku, menjawab.
Astaga? Berarti nyenyak sekali tidurku. 
Semalam, lepas mandi dan makan aku dan Kak Pukat langsung tertidur. Lelah, bahkan untuk mulai menginterogasi Amelia, mencari tahu apakah dia yang melaporkan kami bolos sekolah dua hari lalu. Juga terlampau lelah meski hanya untuk berteriak marah saat aku tahu kotak anyaman bambu itu sudah terbuka lebar, seluruh belalangnya sudah terbang kabur.
Ayuk Eli menyeringai jahat, menarik selimutku. Aku menguap, beranjak dari tidur, hendak duduk, tapi seketika mengaduh. Seluruh badanku terasa sakit semua, sendi-sendinya seperti berontak marah saat digerakkan. Aku mengernyit menahan nyilu seluruh tubuh. 
“Kata Mamak, kau disuruh ikut ke kebun lagi hari ini.” Ayuk Eli mendesis.
Aku tergagap. Apa? Mengabaikan seluruh rasa sakit di tubuh aku lompat dari ranjang, bergegas menyambar handuk. Tidak mau. Hari ini aku sekolah saja, juga besok-besoknya, lusa-lusanya. Tidak mau. Kalau begini urusannya, jelas lebih enak sekolah dibandingkan dihukum seharian Mamak. Bahkan Bapak yang sedang berdiri di belakang Ayuk Eli, tertawa gelak melihat raut mukaku.
***
“Badan kau masih sakit?” Bapak bertanya.
Aku mengangguk, masih tapi tidak terlalu lagi. Tiga hari sejak hukuman, sore ini aku ikut Bapak melihat kebun kami di kampung lain. Kebun yang satu ini juga ditanami kopi, tapi sudah tidak produktif. Semak belukar tumbuh di setiap jengkal tanahnya, batang kopi tidak terawat, satu-dua malah meranggas mati. Sepertinya Bapak memang sengaja mengabaikan kebun ini tahun-tahun terakhir.
“Sekolah itu seperti menanam pohon, Burlian.” Bapak tersenyum.
Aku diam, tidak berkomentar. Tidak terlalu mengerti apa maksud Bapak.
Bapak mendekati sebatang pohon, menebasnya dengan pisau besar. Lantas memotong-motongnya menjadi enam-tujuh bagian sama besar. 
“Kau tahu ini pohon apa, Burlian?” Bapak menunjuk potongan-potongan kayu yang tergeletak.
“Pohon Sengon.” Aku menjawab pendek. Tentu saja anak-anak kampung secara alamiah tahu banyak tentang nama tumbuhan. Yang aku tidak tahu buat apa Bapak memotong-motong kayu hidup, bukankah kayu bakar selalu diambil dari batang kayu mati.
“Kau benar, ini pohon sengon.” Bapak mengangguk, “Nah, sekarang kau tancapkan kayu-kayu ini di sekitar kebun.” 
Aku menurut saja, dengan cepat melaksanakan tugas sederhana itu.
“Bapak sengaja mengajakmu, karena hari ini kita memang akan menanam pohon sengon. Ini kebun milikmu, Burlian. Dan besok-lusa pohon-pohon sengon ini juga akan jadi milikmu…. Kau lihat, Bapak sengaja tidak mengurus kebun ini lagi, membiarkan semak-belukar tumbuh, karena dua puluh tahun lagi, di sela-sela semak belukar, akan tumbuh menjulang tinggi puluhan sengon raksasa. Dua puluh tahun lagi, saat kau sudah besar, saat kau mungkin tertarik membangun rumah di kampung kita, pohon-pohon ini siap dipergunakan.”
Aku menatap Bapak terpesona, mulai mengerti.
“Begitu pula sekolah, Burlian. Sama seperti menanam pohon… Pohon masa depanmu. Semakin banyak kau tanam, semakin baik kau pelihara, maka pohonnya akan semakin tinggi menjulang. Dia akan menentukan hasil apa yang akan kau petik di masa depan, menentukan seberapa baik kau akan menghadapi kehidupan. Kau tidak mau seperti Bapak, bukan? Tidak sekolah, tidak berpendidikan, tidak punya pohon raksasa yang dari pucuknya kau bisa melihat betapa luas dunia. Menjadi seseorang yang bermanfaat untuk orang banyak. Kau akan memiliki kesempatan itu, Burlian, karena kau berbeda. Sejak lahir kau memang sudah spesial.”
Bapak tersenyum, lembut menyentuh lenganku. Aku menelan ludah. 
“Ayo, tanam sebanyak yang kau mau! Kita tidak akan pulang sebelum seluruh kebun dipenuhi pohon sengon.” Bapak tertawa, menyerahkan pisau besar ke tanganku.
Aku mantap menggenggam pisau itu. Mengerti benar penjelasan Bapak. Semangat mulai memotong bibit-bibit pohon sengon. Iya, aku akan menanamnya sebanyak mungkin, bukan soal masa depan yang lebih baik, apalagi soal analogi Bapak bahwa sekolah laksana menanam pohon. Aku akan menanamnya karena dua puluh tahun lagi saat pohon-pohon ini sudah besar, maka pasti mahal sekali harganya. Itu uang yang tidak sedikit, jelas lebih banyak dibanding menjual belalang ratusan kotak ke kota kecamatan. 
Aku menyeringai senang, membayangkan uang-uang itu.
1). Pasar Kalangan; pasar mingguan; pedagang dari kota membawa baju, kain, kuali, dandang, gelas, piring dan alat-alat rumah lainnya, rokok, gula, sabun, dan sebagainya. Menggelar dagangan di kota kecamatan setiap minggu, biasanya persis sehari setelah penduduk kampung menjual getah karet ke tengkulak yang datang. Setiap ‘pasar kalangan’ digelar, maka besar-kecil, wanita-lelaki, berbondong-bondong datang. Itulah satu-satunya akses pasar selain pergi sendiri ke kota kabupaten.
2). Pohon Sengon; pohon berharga seperti halnya jati atau pohon trembesi. Ditanam dari tunas-tunasnya, atau dari batang sengon yang dikorbankan menjadi belasan potong bibit. Karena alasan kokoh, tahan lama dan mudah dibentuk, rumah-rumah di kampung kami rata-rata menggunakan papan dari kayu sengon.

Rabu, 15 November 2017

Tere Liye : Burlian

BAB 2. INI TANAH KAMI
---------------------------------
“BUMMM!!!”
Seluruh kampung terasa bergetar.
“BUMMM!!”
Dentuman itu semakin kencang terdengar.
Sejak tadi pagi, suara itu mengganggu kesibukan di kelas. Bukan hanya sekali, bunyinya setiap satu jam sekali. Membuat tulisan kapur di papan tulis hitam berguguran. Foto presiden dan wakil presiden di dinding bergetar merontokkan debu dan aku sejak tadi menatap lamat-lamat patung garuda yang diapit foto-foto itu, cemas kalau-kalau jatuh berdebam. Burung yang ini meski punya sayap tujuh belas helai bulu tidak bisa terbang, bukan? Jadi bisa hancur berantakan kalau sampai jatuh.
Kata Pak Bin, guru kelas kami, suara itu adalah dinamit yang diledakkan. Sedang ada tim dari kota yang melakukan eksplorasi geologis menyelidiki kandungan minyak di hutan dekat kampung. Mereka membuat lubang-lubang bor, menumpahkan serbuk bahan peledak ke dalam lubang itu, menyertainya dengan dinamit dan sumbu, lantas diledakkan. Kata Pak Bin lagi, tim eksplorasi itu membawa alat-alat pendeteksi minyak yang canggih, dan alat-alat itu bekerja atas getaran bom dari bawah tanah.
Tere Liye Burlian

“Mereka insinyur-insinyur yang hebat. Geologis. Dengan alat-alat itu, mereka bisa tahu apa saja isi perut bumi. Bisa tahu apakah di sana ada emas, perak atau tembaga… Bisa tahu apakah di dalam sana ada minyak bumi, batubara, gas alam.. Bahkan mereka bisa tahu apakah ada sungai-sungai yang mengalir di bawah tanah.”
“Memangnya di dalam tanah ada sungainya, Pak?” Munjib mengangkat tangan, wajahnya terpesona. Kawan kami yang satu ini memang suka sekali bertanya.
“Banyak. Juga ada danau-danau air yang terperangkap.”
“Ada ikannya tidak, Pak?” Munjib bertanya lagi.
Pak Bin menelan ludah, “Tentu saja tidak ada ikannya. Kalau ada, nanti kau malah diajak Bapak kau mancing kucur di bawah tanah segala.”
Seluruh kelas tertawa. Munjib menggaruk kepalanya. Si Munjib ini memang sering telat masuk sekolah, dan alasan dia selalu karena semalaman hingga subuh diajak bapaknya mancing kucur di sungai belakang kampung. 
“Tetapi terlepas soal ikan-ikan, kalian tidak akan pernah bisa membayangkan betapa luar-biasanya isi perut bumi.” Pak Bin melambaikan tangan, menyuruh seisi kelas diam, “Kalian tahu, berapa tebal perut bumi? Lebih dari enam ribu pal, atau sama dengan panjang pulau Sumatera tiga kali bolak-balik. Oi, kalian tahu gunung tertinggi di dunia? Puncak Himalaya hanya delapan pal. Karena itu banyak sekali rahasia alam yang ada di perut bumi. Emas misalnya, tekhnologi tambang dunia hari ini hanya bisa mengeduk emas paling hingga kedalaman ratusan meter saja, bayangkan jika bisa dikeduk belasan pal, puluhan pal, atau ratusan pal. Sungguh tidak akan terhitung berapa kandungan emasnya… Dan geologis-lah yang tahu soal itu. Karena itulah Bapak bilang tadi, mereka adalah insinyur-insinyur yang hebat.”
Kami manggut-manggut sok-mengerti. Separuh dari penjelasan itu sebenarnya terlalu rumit bagi anak-anak kampung, tapi separuhnya aku sudah tahu. Seminggu sebelumnya, saat menemani Bapak ke kebun mengambil cempedak yang sudah masak, aku melewati rombongan eksplorasi itu yang sedang bekerja. Dari jarak tiga puluh meter, setidaknya mereka terlihat bersepuluh. Lima diantaranya memakai rompi terang menyala, helm putih bertuliskan ‘safety first’, dan sepatu bot hitam. Mereka terlihat rapi, klimis dan wangi. Sementara sisanya memakai kaos butut, celana pendek, alas kaki seadanya sedang menjalankan mesin-mesin bor dengan pipa-pipa besar di sekitarnya. Tentu saja sisanya ini terlihat kusut, penuh lumpur dan bau tanah.
Aku tidak kenal lima yang rapi-rapi itu, tapi aku kenal sisanya yang kusut-kusut. Mereka adalah tetangga di kampung kami. Kata Bapak, sambil terus menyuruh awas melihat jalanan setapak di tengah hutan, pemuda-pemuda kampung itu dibayar mahal untuk membantu tim eksplorasi, lima kali lipat dari bayaran membantu di kebun seharian. “Kau tahu, Wak Lihan yang punya tanah tempat mereka bekerja tadi, diberikan ganti-rugi dua ratus ribu hanya supaya mereka diijinkan ngebor.”
Aku menelan ludah. Itu jumlah yang banyak sekali. Seharga mesin ketik yang aku dan Kak Pukat damba-dambakan selama ini.
“Mereka nyari minyak ya, Pak?”
Bapak mengangkat bahu, menggeleng malas.
“Mereka ngebor di mana saja, Pak?”
“Banyak, mereka membuat lubang bor di setiap berapa ratus meter, melewati jalur-jalur yang mereka kira ada minyaknya… Kau jangan banyak tanya dulu, Burlian, nanti cempedaknya jatuh.” Bapak berseru lagi, menyuruhku untuk awas dengan jalanan licin. Aku langsung menutup mulut, karena itu artinya Bapak sedang malas ditanya-tanya.
“BUUMM!!”
Suara dentuman terdengar lagi. Membuat pensil yang iseng ku-dirikan di atas meja roboh, lantas jatuh ke bawah meja. Aku bungkuk meraihnya, menggaruk-garuk hidung. Pak Bin di depan masih meneruskan penjelasan. Bilang minyak adalah komoditas yang penting bagi negara, minyak membuat negara kaya-raya. Dengan minyak, bisa membangun gedung-gedung tinggi, jalan-jalan bagus, listrik di mana-mana, fasilitas sekolah berlimpah. Minyak adalah kesejahteraan. Minyak adalah emas hitam.
“Pak, sekolahan insinyur itu gampang atau susah?” Munjib bertanya lagi.
“Gampang! Tapi pertama-tama kau harus berangkat ke sekolah tepat waktu dulu. Sisanya bisa diurus belakangan.” Pak Bin membuat seluruh kelas tertawa lagi. Sementara Munjib yang sejak tadi disindir hanya bisa menggaruk rambut.
Aku mendadak gatal ingin mengacungkan tangan seperti Munjib, tapi urung. Aku teringat wajah muram Bapak beberapa hari lalu di rapat kampung. “Oi! Bagaimana mungkin kalian tidak mengerti? Mereka tidak akan membawa manfaat apapun bagi kita. Lihatlah Prabumulih, di sana ladang minyaknya tidak terhitung, tapi apakah kehidupan kampungnya jadi lebih baik? Jalan-jalan diperbaiki? Kubangan di jalanan justru semakin banyak…. Listrik? Hingga hari ini, detik ini, sejak jaman Belanda minta tanah, jangankan listrik, satu lampu menyalapun tidak ada di sana, hanya lampu canting yang padam ditiup angin kencang. Apalagi di tempat kita yang jauh lebih terpencil, lebih pelosok. Omong-kosong janji mereka itu.” 
Orang-orang berseru ramai menanggapi kalimat Bapak. 
“Ini kampung kita. Hutan ini juga hutan leluhur kita. Kitalah yang harusnya memilikinya. Bukan orang-orang kaya dari kota. Sekarang mereka mencari minyak tanah, besok lusa mereka menebangi hutan untuk dijadikan kebun kelapa sawit, sampai habis seluruh hutan, sampai kita mencari sepotong kayu bakar saja tidak bisa lagi, apalagi berburu rusa-rusa, mengambil rotan, rebung dan sebagainya. Oi, hanya gara-gara uang berbilang dua ratus ribu saja kalian mau mengijinkan mereka mengebom tanah-tanah kita? Picik sekali.”
Orang-orang semakin ramai. Wajah Wak Lihan yang duduk di antara penduduk terlihat memerah, mungkin tersinggung atau boleh jadi marah besar dengan Bapak. Aku menguap, tidak terlalu mengerti apa yang sedang dipertengkarkan, menyelinap masuk lewat pintu depan, beranjak tidur di sebelah Amelia dan Ayuk Eli yang sudah tertidur dengan gaya anehnya, bergelung saling berpelukan.
“BUUMM!!”
Suara dentuman itu kembali menyadarkanku dari lamunan.
“Terakhir, Bapak pesankan, kalian jangan dekat-dekat mereka yang sedang bekerja. Bahaya! Itu bukan tempat bermain, nanti kalian terkena dinamit... Dengarkan Bapak, jangan sekali-kali bermain di sekitar mereka! ITU LARANGAN!” 
Aku tidak terlalu mendengarkan suara Pak Bin lagi—apalagi peringatannya, lonceng sekolah berdentang di sela dentuman tadi, dan kami bergegas menyiapkan tas. Pulang.
“Kata Bapakku, lubang-lubang itu dalamnya melebihi sumur. Dinamitnya sebesar paha, diikat lima-lima. Sumbu dinamitnya panjang seperti tali jemuran.” Munjib menyikut anak-anak yang berebut keluar dari kelas. Semangat menjelaskan.
“Memangnya Bapak kau pernah ke hutan? Bukannya kerjanya setiap hari hanya ke sungai mencari ikan?” Yang lain menimpali, tidak percaya.
“Kemarin… Bapakku kemarin sempat menonton mereka bekerja.”
“Kau ikut lihat mereka?” Yang lain masih sangsi.
“Aku tidak diajak. Aku justru baru mau lihat sore ini.”
“Bukankah Pak Bin tadi bilang kita dilarang dekat-dekat mereka?” Salah seorang anak perempuan mengingatkan.
“Itu cuma bisa-bisanya Pak Bin saja. Tidak ada yang melarang. Kata Bapakku, dia malah diijinkan membantu memasang dinamit.” Munjib berkata mantap. Seperti yakin benar apa yang dikatakannya, padahal seluruh kampung tahu, Bapak Munjib itu kalau sedang duduk di bale-bale bambu suka sekali ‘berlebihan’ bercerita. 
Aku tidak terlalu memperhatikan percakapan Munjib dan teman kelas lainnya sepanjang halaman sekolahan. Aku sudah berlarian pulang, mencari Kak Pukat yang menunggu di pagar sekolah. Setiba di rumah, membuka kudung di atas meja, menyeringai tipis melihat bakul nasi hanya dengan piring sayur terong tanpa lauk apapun. Kami makan siang cepat-cepat, melepas seragam, shalat dzuhur, kemudian berdua keluar ke halaman.
Rumah sepi, Amelia entah main di mana. Ayuk Eli di ruang tengah sedang menyetrika. Mamak dan Bapak pasti di kebun, menyiangi rumput dan ilalang, baru pulang menjelang petang. Tidak akan ada yang bertanya kemana kami pergi bermain, maka aku dan Kak Pukat melangkah mantap menuju gerbang jalan setapak hutan rimba.
Kampung kami terletak di kaki bukit barisan. Jika kalian jahil memanjat pohon bungur rakasasa di pekuburan belakang rumah—tempat burung pertanda kematian sering melenguh nyaring itu, lantas menatap ke arah barisan bukit, maka sejauh mata memandang hanya hamparan hijau yang terlihat. Di sanalah sumber kehidupan penduduk kampung. Kebun-kebun kopi tumbuh subur, karet, lada, tanaman padi tadah hujan, berselang-seling dengan hutan. Di sanalah mata pencaharian kami, sungai dengan ikan-ikan besar di dalamnya, hutan dengan rusa-rusa liar, dan berbagai obat-obatan alam. Sejauh ini kami tidak tahu kalau isi perut hutan juga dipenuhi sumber kehidupan, boleh jadi di dalamnya berlimpah minyak dan emas.
Ada banyak jalur jalan setapak di dalam rimba, dibuat penduduk kampung untuk ke kebun masing-masing, jalur yang aku dan Kak Pukat lewati sekarang. Tadi pagi, seperti anak-anak kampung lain yang penasaran, aku dan Kak Pukat sepakat untuk melihat dari jarak dekat si Pengebom hutan. Ingin tahu mereka mengerjakan apa saja. Nampaknya bakal seru melihat dinamit itu meledak dari jarak dekat. 
Aku terengah-engah mendaki bukit, Kak Pukat menyeka dahinya yang berpeluh. Matahari di atas kanopi hutan terik membakar. Ini semestinya perjalanan mudah, kami terbiasa melewati jalur ini, nafas kami tersengal karena bergegas berlari-lari kecil. Anak-anak penduduk kampung secara alamiah memiliki daya tahan sendiri di lingkungan mereka dibesarkan.
“BUUMMM!!!”
Dari jarak yang tinggal beberapa ratus meter lagi, suara dentuman itu terdengar hebat sekali. Burung-burung berterbangan. Jangkrik dan serangga hutan lainnya mendadak terdiam—meski setelah beberapa detik kemudian berisik lagi. Aku dan Kak Pukat saling bersitatap sebentar, tertawa, lantas berlari lebih cepat menuju arah dentuman. Tidak sabar ingin melihat langsung.
Kepulan mesiu masih tercium pekat saat kami mendekat. Orang-orang dengan rompi terang menyala itu sibuk memperhatikan alat-alat deteksi canggih mereka. Seseorang dari mereka berseru-seru memerintahkan pekerja kasar di sekitarnya agar terus bekerja. Yang lain bercakap-cakap serius, mencatat-catat sesuatu, mengukur-ukur sesuatu dengan benda di tangannya. Aku dan Kak Pukat melangkah lebih dekat, menggaruk-garuk rambut yang tidak gatal. Semua pemandangan ini hebat sekali. Kertas yang dicoret-coret. Peta yang terlihat aneh. Orang-orang yang terlihat pintar.
“HEI!! APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI?” Seseorang tiba-tiba menghardik.
“Ergh?” Aku yang sudah tinggal tiga langkah dari mereka terperanjat.
“Bukankah sudah kubilang agar jangan ada lagi anak kecil yang berada di sekitar sini?” Orang itu berseru marah, meneriaki teman-temannya yang berompi menyala.
“Kami sudah bilang ke sekolahan dan kepala desa agar anak-anak itu dilarang bermain di sini, bos.” Seseorang sambil melepas helm putihnya berusaha menjelaskan. 
“Ini ada lagi monyet pengganggu!” 
Teman-temannya mengangkat bahu. Tidak tahu-menahu.
“MAU APA KALIAN DI SINI?” Orang itu membalik badannya, membentak.
“Ergh.. Mau nonton—“ Aku menjawab seadanya, apa yang terlintas di kepala.
“NONTON? MEMANGNYA INI BIOSKOP?” Orang itu menyergah cepat.
Aku serba-salah menjawab, tampang orang yang menghardik galak sekali. Kak Pukat berpikir dan berhitung cepat, dia segera menarik lenganku, mengajak menjauh. 
Aku menelan ludah, yaaah, kan hanya ingin lihat, ingin nonton, sungguh tidak akan mengganggu, teganya dilarang. Melangkah masygul mengikuti Kak Pukat. Padahal sudah capai berlari-lari sejauh tiga kilometer, sudah diniatkan benar, hasilnya diusir begitu saja. Belum juga lima belas detik melihat mereka bekerja.
Aku kecewa sekali, melewati jalanan setapak dengan kesal. 
“Hei! A-pa yang ka-li-an la-ku-kan di-si-ni?” Kak Pukat mengolok-olokku, berusaha menirukan orang galak itu sepanjang perjalanan pulang. 
Aku semakin kesal. Meski Bapak tidak pernah menjelaskan kenapa ‘kebenciannya’ muncul setiap kali melihat rombongan itu, siang itu, detik itu, aku tiba-tiba seperti tahu alasan Bapak. Ya, Bapak benar, memangnya ini tanah kakek-nenek mereka? Memangnya tanah ini mereka yang punya? Bah! Ini tanah kami. Hutan kami. 
“I-ni a-da la-gi mo-nyet peng-gang-gu!” Kak Pukat tertawa. 
Aku sudah tidak mendengarkan, wajahku gembung karena sebal. Di kepalaku sekarang langsung tertanam pemahaman ekstrem. Aku tahu kalau terlalu cepat menilai dan tidak adil terhadap rombongan tadi, tapi itu bukan salahku berprasangka buruk terhadap mereka. Apa hak mereka mengusir kami menonton? Malah tega dibilang monyet segala. Enak saja. Harusnya dengan tingkah pongah dan tidak sopan mereka, kamilah yang mengusir mereka. 
“Me-mang-nya i-ni bi-os-kop? ADUH!!” Kak Pukat yang terlalu asyik bergurau, tidak memperhatikan jalan, jatuh berdebam tersangkut tunggul. Aku nyengir lebar melanjutkan langkah kaki, syukurin, malas membantu Kak Pukat yang mengomel membersihkan debu tanah dari pantatnya. 
Tiga pal lewat, suara serangga terdengar berisik menjelang pintu gerbang hutan, bernyanyi seperti orkestra tanpa konduktor, atau macam keramaian di pasar malam. Aroma ‘kayu manis’ yang banyak tumbuh di pinggir kampung menyergap hidung bercampur dengan bau belukar yang habis ditebas, aku mendongak, wangi seperti ini selalu bisa membuat runsing kepala sedikit berkurang. Aromaterapi. 
“Kalian dari mana?”
Aku hampir menabrak Munjib yang bergegas masuk ke gerbang hutan, bersama beberapa teman sekelas lainnya.
“Eh, dari atas.” Aku menunjuk bukit. “Kau sendiri mau kemana?”
“Mau nonton yang nge-bom hutan.” Munjib menyeringai semangat.
Aku jadi teringat sesuatu, bukankah Munjib tadi siang yang bilang kalau Bapaknya sempat menonton mereka membuat lubang-lubang, bahkan bilang kalau Bapaknya diijinkan membantu memasang dinamit. Pastilah Munjib tidak tahu kalau Bapaknya seperti biasa cuma membual. 
Otak jahilku langsung bekerja.
“Menonton? Wah, kalau begitu kau harus bergegas, Kawan. Mereka tadi sempat membagibagikan kotak makanan.”
“Sungguh?”
“Yeah, ada tiket-tiket seperti di bioskop. Cepat sebelum kau kehabisan!”
Munjib bersama teman-temannya sudah berebut melesat.
*** 
Bertahun-tahun sejak kejadian itu, rombongan insinyur tersebut tidak terdengar kabarnya lagi. Mereka tidak pernah kembali. Hasil eksplorasi geologis itu kabarnya sia-sia. Bapak dalam suatu kesempatan pernah bilang, “Memang tidak pernah ada minyak di hutan kampung kita. Jaman penjajahan dulu, orang Belanda sudah pernah memeriksanya. Hasilnya nihil… Mereka saja yang bebal, tidak mau melihat data orang-orang Belanda itu.” 
Dan aku mengangguk mantap. Tanpa perlu alasan lagi, aku setuju sepenuhnya dengan separuh terakhir kalimat Bapak. Lupa kalau boleh jadi, ‘kebencian’ Bapak berasal dari kesimpulan pemikiran yang matang atas pengalamannya, berbeda denganku yang hanya berasal dari urusan dibilang ‘monyet’. 
Bah, kalian pasti benci dibilang monyet.
1). Pal: satuan jarak dari bahasa Belanda, paal; pemerintahan kolonial Belanda mewariskan konversi pal berbeda-beda. Di Jawa 1 pal setara dengan 1.507 meter, sedangkan di kampung kami (Sumatera) setara 1.852 meter. Perbedaan ukuran ini menarik, karena menurut pakar sejarah itu terkait praktik permainan jual-beli tanah perkebunan teh, tebu, dan sebagainya jaman dulu.
2). Mancing kucur: tidak beda dengan mancing biasa di sungai. Hanya saja dilakukan malam hari dengan umpan yang berbau amat menyengat agar menarik minat ikan. Jika kalian memegang umpan itu, baunya tidak akan hilang dua hari dua malam meski sudah dicuci berkali-kali.

Selasa, 14 November 2017

Tere Liye : Burlian

BAB 1. HARI DILAHIRKAN
-------------------------------------
“Kau sejak dilahirkan memang sudah berbeda, Burlian. Spesial…. Dulu waktu Mamak baru mengandung kau beberapa minggu, setiap malam dari pohon besar belakang rumah selalu terdengar suara burung berisik, berceloteh tidak henti-henti. Suaranya kadang-kadang melenguh nyaring, kadang-kadang berteriak seperti memanggil sesuatu atau seseorang, dan lebih sering lagi seperti meratap sedih tidak berkesudahan.” 
Mamak diam sebentar, meraih gelas air. Kami berempat justru sejak tadi sudah terdiam lama, hanya menelan ludah. Amelia mulai takut-takut beringsut mendekat, menyeka hidungnya yang beringus. Meski semua tahu, jika nakalnya lagi kumat, pilek separah apapun tidak akan menghentikan dia untuk bertingkah. 
“Awalnya Mamak tidak peduli…. Untuk apa pula Mamak pedulikan, bukan? Jadi Mamak diamkan saja, tapi sialnya, semakin tua kehamilan kau, Burlian, suara burung itu semakin mengganggu. Suara meratapnya persis sudah seperti pertanda kalau mau ada yang meninggal di kampung. Melenguh-lenguh.”
Tere Liye Burlian

Amelia sekarang sudah mencengkeram lengan Kak Pukat. Ayuk Eli berhenti menggaruk kaki. Kami mengerti benar maksud kalimat Mamak, sudah jadi ‘kepercayaan umum’ di kampung kalau ada burung yang meratap nyaring malam-malam di pekuburan belakang rumah, itu pertanda bakal ada yang meninggal. Konon katanya, burung yang hinggap di pohon bungur rakasasa itu sedang melihat liang lahat kosong, jadilah ia melenguh sedih. 
“Seminggu sebelum kau lahir, Burlian, Mamak sudah tidak tahan lagi. Jadi di suatu malam yang Mamak lupa kapan persisnya, yang pasti malam itu udara terasa dingin menusuk tulang, hembusan nafas seperti mengeluarkan kabut, Mamak memutuskan mengambil potongan kayu bakar yang membara dari tungku masak kita, membuka pintu, lantas ke belakang rumah.”
“Mak… Mak ke kuburan?” Kak Pukat bertanya mencicit.
Mamak mengangguk kalem, memperbaiki tudung di kepala, “Mamak menyibak kawat pagar kuburan, mendekati pohon bungur besar itu, lantas melempar sekuat tenaga potongan bara ke arah suara burung yang terus berceloteh.”
Mulut-mulut kami terbuka lebar, antara takut dan takjub. 
“Astaga! Selepas lemparan bara pertama, burung itu justru melenguh panjang, disusul dengan suara gaduh burung-burung lain, bahkan suara lolongan anjing ikut terdengar, seketika membuat ramai pekuburan yang gelap. Menyeramkan, seperti seluruh penghuninya sedang marah besar... Dan kau tahu Burlian, tengkuk Mamak tiba-tiba terasa dingin, macam ada tangan tidak terlihat yang menyentuhnya, dan perut besar Mamak juga mendadak terasa berat sekali.”
“Mak… ke… kenapa Mak tidak lari saja?” Kak Pukat bertanya serak. 
“Tentu saja ingin rasanya Mamak lari ke rumah, masuk kamar lantas bergelung di belakang kemul. Tapi siapa yang akan membuat burung itu berhenti berteriak mengganggu? Oi, apa burung itu akan berhenti sendiri?” Mamak bertanya balik.
Kami serempak menggeleng, lebih tepatnya tidak tahu jawaban pertanyaan Mamak. 
“Kalian tahu, kaki Mamak seperti ada tali yang mengikatnya, kaku tidak bisa digerakkan. Seperti kalian yang tengah mimpi dikejar sesuatu, sekuat tenaga hendak kabur tapi tidak kunjung bisa lari…. Waktu itu jam tiga dini hari, harusnya langit cerah berbintang, bulan juga setengah purnama, tapi semua terlihat gelap, hanya ujung-ujung nisan yang membayang, batu-batu pekuburan. Melihat bayangan pohon seperti melihat hantu sedang berbaris. Menatap dedaunan pohon bungur seperti ada sepasang mata bersinar mengintai tajam. Dan dari arah pekuburan tercium pekat aroma bunga melati yang menusuk hidung.”
Kami berempat sudah seperti tumpukan karung, merapat satu sama lain. Tidak ada yang peduli kalau lengan Kak Pukat sudah merah dicengkeram Amelia. 
“Untunglah, setelah membaca Ayat Kursi berkali-kali, Mamak bisa menggerakkan kaki, bergegas mengambil lagi potongan bara yang lebih besar dari perapian, melemparnya kencang-kencang ke arah pohon… kembali lagi ke rumah, mengambil potongan bara api yang lebih besar, melemparnya lagi, begitu seterusnya…. Hampir habis kayu bakar di tungku, hampir habis tenaga Mamak melemparnya, barulah burung-burung itu terbang menjauh, lolongan anjing berhenti, dan suara-suara itu pergi.”
Cengkeraman Amelia di lengan Kak Pukat meregang.
“Dan syukurlah, sejak malam itu sampai kau lahir, Burlian, tidak ada lagi gangguan suara burung dari pekuburan belakang.” Mamak menghela nafas pelan, mengakhiri cerita. 
Kami berempat sudah menghela nafas panjang… amat lega ceritanya selesai. 
Biasanya setiap kali habis bercerita, Mamak akan menutup dengan kalimat “Sudah larut, ayo semua tidur.” Tapi kali ini, tanpa perlu diperintah, tanpa terlebih dahulu berebut bantal kumal, atau saling tarik kemul yang bulunya sudah keluar di mana-mana, kami sudah beringsut mencari posisi tidur. Cerita barusan benar-benar menghabisi niat nakal di kepala masing-masing.
Mamak beranjak hendak meniup lampu canting, tapi aku sudah buru-buru berseru, “JANGAN! Lampunya jangan dimatikan, Mak!” Dan Ayuk Eli, Kak Pukat, serta Amelia kompak ikut mengangguk setuju. Mamak menyeringai, tidak jadi meniup kerlip lampu, memperbaiki kain tudung kepala, lantas melangkah ke dapur.
Semua cerita Mamak ini gara-gara tadi, selepas pulang mengaji dari rumah Nek Kiba, seperti biasa kami bertengkar. Ribut saling mengejek. “Kata Mamak, Kak Pukat itu dulu nemu-nya di bawah pohon jambu.” Kami tertawa—kecuali Kak Pukat. “Biarin! Daripada Ayuk Eli, nemu-nya di dekat siring.” Tertawa lagi—kecuali Ayuk Eli. Hingga akhirnya olok-olok itu berubah jadi pertengkaran. Amelia yang sakit-hati dibilang ditemukan di tempat sampah lompat menarik rambutku, bergumul. Ingusnya jorok berceceran. Sebelum ada yang menangis, Mamak keburu masuk, melotot marah. Kami saling tunjuk, saling menyalahkan. “Kak Burlian jahat. Tadi Amelia dibilang Kak Burlian nemu di tempat sampah. Tidak kan, Mak? Tidak kan?” Amelia beringsut mendekati Mamak, melapor sambil mengelap hidungnya yang berlendir.
Jadilah malam itu, sambil melototiku, Mamak bercerita kejadian saat aku dilahirkan. Suara burung yang meratap, pohon bungur raksasa, aroma melati dan pekuburan kampung yang berada persis di belakang rumah. Cerita itu dengan cepat membuat kami beranjak tidur. Membayangkan suara burung melenguh pertanda kematian itu saja sudah seram, apalagi dihubunghubungkan dengan hari kelahiranku. Aku segera menutup mata mengusir imajinasi cerita yang masih terngiang di kepala, mengabaikan angin malam menembus celah papan. Mengabaikan Mamak yang sekarang sedang berbincang ringan di dapur, ditemani Bapak yang menyeduh kopi.
“Anak-anak itu semakin nakal saja.” Mamak bersungut-sungut.
“Mereka sudah tidur?” Bapak menyeruput kopi luwak-nya. Nikmat.
“Akhirnya sudah.” Mamak mengangguk.
“Kali ini, kau ceritakan apalagi biar mereka mau tidur?”
Mamak tertawa pelan, memperbaiki kerudung di kepala. 
Ah, usiaku, Amelia, Kak Pukat dan Ayuk Eli saat itu memang baru tujuh, lima, delapan dan dua belas tahun. Bagi kami, dunia masih ‘sepolos’ cerita-cerita Mamak menjelang tidur. Tidak tahu itu bohong atau bukan.
1). Lampu canting: lampu yang terbuat dari kaleng dengan sumbu kain dan minyak tanah, lazim diletakkan di atas meja, atau tempat yang lebih tinggi agar terang apinya memenuhi seluruh ruangan.
2). Kemul: selimut; Siring: parit, got

Senin, 13 November 2017

Raidah Athirah : Kenangan , Cinta , dan Sejarah di Kota Tua

Cerpen Raidah Athirah (Republika, 05 November 2017)

Kenangan, Cinta, dan Sejarah di Kota Tua ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Zofia bersama Khalid berdiri di ujung dermaga kayu di sebuah kota yang mengenalkan mereka pada jejak sejarah. Kota ini bernama Gdansk Polandia. Inilah api semangat pertama yang membawa mereka menjelajah sejarah kota tua di tanah penganut Katolik.

Khalid mengagumi keindahan sungai-sungai jernih karena ini pertama kali ia menjejak di sini. Pantulannya sempurna melahirkan bayangan kembar. Ia pun tak bisa menepis bayang-bayang daun bertebaran menutupi hutan dan taman kota selama akhir musim gugur. Semuanya membentuk kanvas hidup yang memukau. Kini, semua perjalanan itu menetap dalam ingatan.

Khalid Abdullatif, pemuda Suriah ini, hendak mengubur semua kenangan pahit nan berdarah-darah tentang perang yang meluluhlantahkan kota dan cintanya. Kadang, ia berpikir bahwa ia seperti baru keluar dari kuburan. Tidak ada lagi tawa ibu dan kedua adik perempuannya di apartemen yang memiliki dua ruangan. Anak yatim ini selamat ketika bom menutupi seisi kota.

Khalid masih mengingat saat ia melangkah mendekati jendela dan menyibak kain gorden. Pemandangan yang ia dapati membuatnya hanya bisa menutup mulut setelah sebuah sedan yang dirasuki setan memuntahkan peluru api ke seantero jalanan. Tetangganya, laki-laki tua yang memaki marah kepada pemerintah karena damai tak kunjung tiba, tewas seketika. Dia adalah Alawite yang sudah kadung kesal kepada penguasa yang semena-mena.

Ujian pemuda ini sungguh berat. Ia bercita-cita ingin menjadi dokter agar bisa mengobati manusia, apa pun agamanya. Namun, hari-harinya dipenuhi ujian menyaksikan keluarga yang tewas dan ribuan orang terbunuh. Zofia menghapus air mata Khalid. Ia paham suaminya masih terperangkap dalam memori yang penuh luka.

“Aku baik-baik saja, habibati (kekasihku),” Khalid menghapus tetesan bening itu dari bola matanya agar timbul senyum di bibir istrinya.

“Tidak, hidungmu merah karena sedih.” Zofia membalas ucapan Khalid dengan nada serius.

“Oh, hidungku merah karena dingin. Kau lihat ini,” Khalid menunjuk hidung mancungnya yang memerah sambil sesekali menggoda Zofia.

Pengantin itu berharap, dalam suatu masa, Allah Tuhan Mahapemberi rezeki mengizinkan kaki mereka kembali bersama orang-orang tercinta menjejak rindu di kota ini.

Gdank memang menakjubkan. Gadis-gadis berambut pirang dengan postur tubuh tinggi berlalu-lalang di jalanan. Mata mereka menggoda sebagaimana warna-warni atap gedung. Akan tetapi, tak sedikit pun Khalid tergoyah. Hatinya telah tertambat pada perempuan cantik zahir dan hatinya, Anna Zofia Winieska.

Perjalanan mereka kala itu hendak mengisi romantisme. Zofia mengajak suaminya ke kota tua Gdansk untuk menunjukkan padanya bahwa selalu ada harapan di setiap perjalanan. Perlahan, sehelai demi sehelai kenangan tergantikan dengan senyum dan tawa. Mereka hendak mengenang perjalanan ini sebagai keindahan penuh kenangan.

Gdansk atau Danjig dalam dialek Jerman merupakan kota megah di Polandia yang gerejanya berbata merah dan berwarna-warni. Rumah-rumah pun berhias warna. Berjalan-jalan di sepanjang jalan Gdansk seperti melangkah ke dalam telur Faberge. Berkilau. Bercahaya. Zofia mendapati dirinya sebagaimana anak kecil yang baru belajar tentang sejarah masa silam. Terpukau. Rasanya menggebu-gebu.

Setiap kali memandang Khalid seperti sebuah ungkapan penuh syukur ingin keluar dari lidahnya karena cinta telah membawanya ke sini, Gdansk. “Terima kasih, cinta telah mengajarkan kita melangkah bersama dalam satu keyakinan adalah karunia besar menyemai mawadah.”

Gdansk memiliki sejarah panjang yang merekat kuat dengan peristiwa Perang Dunia II. Kota ini adalah rumah bagi orang-orang Yahudi Polandia sejak abad ke-11. Satu tahun setelah peristiwa ini, banyak kaum Yahudi bermigrasi besarbesaran ke tanah Palestina.

Entah ini sebuah kebetulan atau tidak, perjalanan Zofia dan Khalid selalu terpaut kisah cinta dan sejarah perang. Di perjalanan, gadis berdarah blasteran ini menceritakan tentang Serock, kota Yahudi yang penuh kenangan kepada Khalid. Tempat keluarga leluhur mendiang ayah Zofia menjalani masa kecil yang indah tak terlupakan. Di pegunungan Serock memang banyak didapati kuburan orang-orang Yahudi. Salah satunya adalah leluhur Zofia.

Dalam darah gadis itu mengalir tiga agama samawi; Yahudi, Kristen, dan Islam. Kakek Zofia dari garis ayah adalah Yahudi. Mendiang bapaknya sebelum memeluk Islam adalah seorang Katolik. Sedangkan, ibunda Zofia yang berparas ayu adalah Muslimah berkebangsaan Indonesia. Kini, takdir mengikatnya bersama Khalid, laki-laki Suriah yang kini berkarier di Darmstad, salah satu kota di Jerman.

Hijrah Khalid ke kota kecil di Jerman akibat kecamuk perang mengantarkannya mengenal cinta. Laki-laki bersahaja ini perlu waktu untuk melupakan semua derita yang ia lalui. Perang telah merampasnya. Aleppo, kota sejarah tanah moyangnya kini terkoyak dalam darah dan tangis.

Ia bekerja siang-malam dengan doa penuh harapan untuk segera keluar dari neraka dunia. Setelah dihitung, Khalid merasa uang yang ia kumpulkan sudah cukup untuk membayar penyelundup agar ia bisa mendapatkan paspor palsu dan tiket pesawat ke Jerman.

Sayangnya, uang sebanyak 500 dolar yang Khalid berikan kepada laki-laki penyelundup di sebuah restoran tak menjamin ia lolos dari pengecekan petugas imigrasi. Setelah paspornya diselidiki, foto yang tertera di paspor ternyata milik seorang pemuda Italia. Ia telah dinasihati sebelumnya bila ia kedapatan meragukan maka ia harus bersikap tenang agar tidak menimbulkan curiga. “Paspor ini bukan milikmu,” kata petugas imigrasi laki-laki bersuara keras ke wajah Khalid.

Pemuda malang itu menyerah pada keadaan. Petugas menyita paspornya dan juga paspor asli yang berada dalam tas punggungnya. Ia ditahan. Ia dimasukkan dalam sel yang sempit dan gelap. Khalid masih harus berbagi dengan 50 orang asing. Allah mengaruniakannya hidup setelah hampir satu bulan berada dalam neraka itu. Pemuda ini tak percaya ia bebas dan dikirim kembali ke Suriah. Tak ada yang bisa ia lakukan saat itu selain mengumpulkan kembali mimpi yang dibalut doa dan kerja keras.

Bulan berlalu dan genap sudah setahun ia terisolasi dalam perang. Setiap dolar yang terkumpul adalah harapan baginya untuk meninggalkan tanah lahirnya menuju tanah Eropa. Khalid termasuk yang beruntung dibandingkan para penghuni sel lainnya.

“Semua meninggalkanku,” kata dia setengah berbisik agar istrinya benar-benar tak mendengar keluh batinnya.

Pada Juli Khalid menemukan jalan ke Turki setelah seorang sahabat ayahnya mengirim pesan singkat ke akun Facebooknya. Ia meminjam 1.500 dolar dari pamannya. Pada November yang kelabu ia terbang ke Istanbul dengan ransel kecil yang hanya berisi dua kemeja, celana, dan syal wol berwarna abu-abu buatan mendiang ibunda tercinta.

Berbekal informasi yang ia dapatkan di Facebook mengenai jalur perjalanan dari sesama orang Suriah tanpa harus membayar ke para penyelundup manusia, Khalid menaiki kapal menuju Yunani. Sesampai di Yunani, pemuda ini harus pandai-pandai mencuri kesempatan dari mata para petugas perbatasan. Ah, lelah suami Zofia ini tak bisa dikata.

Kesempatan itu datang ketika sebuah truk menuju Swedia melintas. Khalid melihatnya sebagai sebuah jalan untuk menuju kota tujuan. Ia merangkak, berusaha tidak meninggalkan bunyi apa pun dan menjatuhkan dirinya tanpa suara ke dalam sebuah peti kayu. Di Gothenburg, ia menjalani hari-hari dengan bekerja serabutan di bengkel sebelum kemudian benar-benar masuk ke kota kecil di Jerman secara legal dan beradab.

Ikhtiar Khalid untuk bekerja dan belajar sesuai dengan aturan mencapai labuhan kala ia mengajukan permohonan sebagai pencari suaka dan diterima oleh Lembaga Uni Eropa yang menjamin hak-hak manusia. Beginilah, atas izin Tuhan, ia kemudian berhijrah ke Jerman dan bertemu belahan jiwanya di sana, gadis berdarah Polandia-Indonesia. Dan beginilah kota tua, Gdansk, mengingatkannya tentang kenangan dan perjuangannya melintas batas. Ia terus berusaha melupakan kesedihan yang kentara.

“Jangan bersedih, ya habibi (kekasihku), Allah Mahapengasih kepada hamba-Nya. Mereka yang kita cinta telah pergi duluan. Bila waktu tiba kita pun akan menyusul,” kata Zofia.

“Terimah kasih, habibati. Ini adalah rasa syukurku karena kau adalah belahan jiwa yang mengerti duka yang kurasa.”

Pengantin itu singgah menyantap kuliner di Bar Mleczny Neptun. Mereka menghindar dari semua jenis makanan yang berisi daging karena tak bisa dimungkiri daging babi sudah kadung menjadi makanan yang sangat disukai di negeri ini. Di manapun dan kapan pun identitas sebagai Muslim haruslah tertanam kuat dalam hati. Tak akan menyerah hanya karena dorongan nafsu perut sesaat.

Setiap yang datang ke kota tua Gdansk seperti sedang berdialog dengan sejarah. Zofia, Khalid, dan kaki-kaki yang melangkah ke kota ini akan paham akan sebuah kalimat bahwa laki-laki Polandia terlahir dengan pedang di tangan kanan dan batu bata di kirinya. Ketika pertempuran berakhir, ia mulai membangun kembali puing-puing itu menjadi bata sejarah. Ini adalah bukti bagaimana wajah Gdansk ditampilkan dari masa ke musim yang masih tetap utuh dipandang di sepanjang kota. Dan dalam merah darah Zofia mengalir sifat kerja keras yang dibalut keyakinan yang tak pernah memudar.

Hanya 15 menit di sebelah utara, daya tarik lain menghampiri. Di sini, di tempat ini, Lech Walesa memprakarsai gerakan solidaritas pada 1980 yang akhirnya menumbangkan rezim komunis. Galangan kapal ini kemudian dikenal sebagai tempat lahir kebebasan dari komunisme yang menjadi hantu pembawa kesengsaraan.

Jelajah mereka tak berhenti di sini. Dekat galangan kapal ada sebuah museum yang berjuluk “Jalan Menuju Kebebasan”. Di dalam museum didapati berbagai kisah dan wajah para pekerja yang berjuang untuk berubah. Bebas dari cengkeraman rezim komunis.

Zofia memandang lekat ke wajah Khalid. Selama perjalanan, kadang terlihat wajah lelakinya murung. Bukan karena Khalid tak menikmati keindahan kota ini, melainkan membicarakan sejarah perang berarti membuka lukanya yang masih segar tersimpan dalam memori. Kota yang hancur dan orang-orang tercinta yang pergi meninggalkannya menjadikan ia seorang yatim dan berjuang berdarah-darah untuk sampai ke Eropa. Sekalipun Zofia bersamanya, hati laki-laki ini tak mudah melupakan duka.

Zofia mengajak Khalid untuk beristirahat sebentar di sebuah kursi panjang yang tersedia. Perempuan muda yang berstatus istri ini berharap setidaknya laki-laki yang dicinta ini paham bahwa dedaunan yang gugur telah menjadi sajadah bumi, sedih meninggalkan induk pohon, tetapi tunduk bahwa semua adalah jalan hidup yang telah diatur yang Mahakuasa. Zofia menyentuh kepala Khalid, membiarkan suaminya membenamkan rasa sedih di pundaknya.

“Kocham cie, Kochanie! (Aku mencintaimu, sayang),” kata Zofia.

Suami Zofia itu menggerakkan kepalanya tegak. Kali ini, ia yang menatap istrinya. Menyampaikan rasa maafnya karena wajahnya tak bisa diajak riang kala itu.

“Maafkan aku, sayang! Tak ada maksud membuatmu risau dan kecewa, hanya saja bayangan mereka hadir setelah aku mengenal sejarah kota ini. Kuharap, kau tak marah, habibati,” tangan Khalid menyentuh lembut telapak tangan istrinya. Zofia tersenyum, kemudian menggeleng. Perempuan muda ini ingin suaminya tahu bahwa cinta membuatnya mengerti, Duka Khalid adalah dukanya.

Gdansk layaknya kota-kota tua di dunia tak luput dari sentuhan modernisasi. Meskipun demikian, Gdansk akan selalu memiliki sejarah yang kuat. Menjelajahi jalur kota ini akan membawa imajinasi membayangkan bahwa di setiap sudut, mungkin saja mata akan bertemu seorang yang bersejarah, seperti Lech Walesa yang sekarang sudah pensiun. Betapa sejarah kadang mudah diceritakan, tetapi sulit mengenang riang dalam perjuangan. Waktu yang kemudian membuktikan bahwa hanya orang-orang berhati kuat yang mampu bangun dari kuburan kenangan.

Cinta Zofia dan Khalid terikat erat di sini, Gdansk, kota cinta bertabur sejarah. Ada kenangan, sejarah, harapan, dan juga mimpi di dalamnya. Siapa tahu kelak kota sejarah yang bernama Aleppo bisa bangkit layaknya Gdansk. Itu yang menjadi doa dalam hati Zofia dan Khalid dalam embusan angin gugur kala itu.
-------------------------------------
Raidah Athirah adalah seorang diaspora yang tinggal di Polandia. Cerpen “Kenangan, Cinta, dan Sejarah Kota Tua” berhasil menjadi pemenang kedua Bilik Sastra VOI Award 2017