Sabtu, 25 November 2017

Tere Liye : Burlian

BAB 14. SENAPAN ANGIN
------------------------------------
Sejak kami tahu apa itu senapan angin, mengerti apa gunanya, maka setiap hari yang ada di kepalaku dan Kak Pukat adalah pertanyaan kapan kami bisa mencobanya secara langsung. Membayangkannya saja sudah seru, apalagi memegang senapan aslinya, itu pasti seru sekali. Jadi saat kami tidak sengaja menemukan senapan tua milik Bapak tergantung berdebu di gudang belakang, tersembunyi dibalik gulungan tikar pandan, kami seperti melihat benda paling hebat, paling sakti yang menunggu ksatria pemberani untuk menggunakannya di jalan yang benar, menumpas segala kejahatan. 
Sial, sebelum kami sempat menyentuh senapan angin itu, Mamak bergegas masuk ke gudang, “Kalian jangan coba-coba… meski hanya memikirkannya.” Desis Mamak galak. Aku dan Kak Pukat menelan ludah, dari sepuluh level ekspresi wajah Mamak, itu level tertingginya. Tidak ada ampun jika kami ketahuan telah melanggar.
Tere Liye Burlian

Maka jadilah kami seperti mengagumi benda dari planet lain atau memuja pesawat asing dari galaksi lain, terpesona tanpa pernah tahu bagaimana cara menggunakannya. 
Aku dan Kak Pukat hanya bisa membayangkan: pertama-tama masukkan butir timahnya, lantas kokang sekuat tenaga tuasnya, genggam pangkal senapan dengan tangan kanan, kemudian telunjuk berada di posisi pelatuk, arahkan dengan tangan kiri, bidik dan “DOR!” tembakkan. Sayangnya, angan-angan dan rasa penasaran itu kalah jauh dengan betapa disiplinnya Mamak ‘menjaga’ kami dari senapan angin tua itu. Mamak seperti sepuluh kali lebih sensitif, entah bagaimana caranya, selalu tahu kalau kami sembunyi-sembunyi mulai mendekati gudang belakang rumah, selalu ada di tempat dan waktu yang tepat.
Padahal bukankah senapan angin itu hal yang biasa saja di kampung kami? Itu yang sering aku sampaikan ke Mamak setiap kali membujuknya agar mengijinkan, dan Mamak menggeleng tegas, TIDAK. Bukankah orang tua atau pemuda dewasa kampung terbiasa ke hutan membawa senapan angin untuk berburu rusa, mengusir babi, atau sekadar jahil menembaki burung? Mamak menggeleng tegas, TIDAK. Bukankah setiap tahun di kota kecamatan diadakan lomba menembak yang diikuti banyak orang? Hadiahnya besar pula. Bagaimana mungkin senapan angin itu akan berbahaya. Mamak melotot kepadaku, TIDAK. 
Aku kembali tertunduk, kecewa.
“Tahun ini, peserta yang mendaftar tiga kali lipat dibanding tahun lalu, Kak.” Mang Unus, adik Mamak yang tinggal di kota kecamatan berkunjung pada suatu malam. Dia ketua panitia perlombaan menembak itu. Berbincang ringan dengan Bapak.
“Tentu saja, hadiah satu ekor sapi dari Camat lebih dari cukup untuk membuat semua orang ikut mendaftar.” Bapak menjawab dengan intonasi tidak peduli, bahkan sedikit sarkas.
“Kami juga tahun ini merubah peraturannya, peserta dibawah usia tujuh belas tahun tidak boleh mendaftar.” 
“Seharusnya sudah sejak sepuluh tahun silam kalian melarang anak-anak ikut lomba itu.” Bapak menyeruput kopi luwaknya. Menghelas nafas perlahan. 
“Kenapa Bapak tidak ikut mendaftar?” Amelia yang ikut duduk di bangku depan rumah menyela. “Nanti Bapak bisa dapat sapi, bukan?” 
“Bapakmu tidak akan pernah ikut.” Mang Unus tertawa, mengacak rambut Amelia.
“Ikut saja, Pak. Amelia ingin punya sapi.” 
“Bapak tidak bisa menembak.” Bapak menjawab pendek.
“Kenapa sih Bapak tidak pernah mau ikut?” Aku ikut dalam percakapan.
“Bapak tidak bisa menembak.” Bapak tetap menjawab pendek.
“Semua orang-tua teman-teman Burlian di kelas ikut lomba menembak itu. Pemuda dewasa di kampung juga rata-rata ikut. Hanya Bapak yang tidak ikut. Burlian selalu diolok-olok soal itu.” Aku mengadu.
“Bapak tidak bisa menembak, Burlian.” Bapak menatapku tajam, menyuruh berhenti bicara. Percakapan jadi sedikit tegang.
Mang Unus tertawa menggeleng-gelengkan kepala, segera berkomentar tentang hal lain, mengganti topik percakapan. Mang Unus beberapa saat kemudian juga menyuruhku dan Amelia masuk ke dalam, udara malam semakin dingin, tidak baik berada di luar selarut ini. Aku dan Amelia yang masih ingin mendengar percakapan melangkah masygul. Suara jangkrik dan serangga malam membuai tidur kami.
Urusan lomba menembak itu ternyata panjang. 
Besok pagi, dan besok-besoknya lagi, entah apa yang ada di kepala Amelia, ia merajuk soal sapi. “AMELIA INGIN PUNYA SAPI!! AMELIA INGIN PUNYA SAPIIII!!” berseru membuat riuh rumah. Karena Amelia anak bungsu, dan sering sakit-sakitan pula, biasanya Bapak memanjakan Amelia. Setahuku Bapak tidak pernah mengomel kalau Amelia merajuk, seluruh permintaannya selalu dipenuhi, tetapi kali ini Bapak menghardiknya, “Kalau kau ingin terus menangis, TERSERAH!! Demi Allah, Bapak TIDAK, dan tidak akan pernah menembak lagi!” membiarkan Amelia mengamuk bergelung-gelung di lantai. Aku dan Kak Pukat berbisik-bisik kecewa, tadinya sudah berharap Bapak mengalah melihat perangai Amelia, berharap Bapak akhirnya menggunakan senapan angin tua di gudang belakang.
Sebulan berlalu, lomba itu berlangsung meriah di kota kecamatan. Bapak jangankan ikut, datang untuk menonton pun tidak tertarik. Pemenangnya peserta dari kota provinsi. Menurut cerita, sang pemenang jago sekali menembak botol-botol kecap yang ditaruh dua puluh meter jauhnya. Empat kali tembakan dalam waktu tiga puluh detik. Hanya meleset sekali, tiga botol kecap itu pecah berhamburan. Mulutku dan Kak Pukat terbuka takjub saat Can –anaknya Bakwo Dar, sepupu kami— bercerita. Bapak memang melarang kami menonton lomba itu, jadi hanya cerita-cerita hebatnya saja yang kami dengar.
“HAH? Kalian belum pernah sekalipun menggunakan senapan angin?” Can bertanya sekali lagi, gantian mulutnya yang terbuka.
Aku dan Kak Pukat mengangguk patah-patah. Kali ini tawa Can meledak, dia memegangi perutnya. Kami hanya diam, menyadari kalau itu termasuk aib besar bagi anak-anak kampung. Sama aibnya jika kalian tidak bisa berenang atau kalian belum disunat diusia dua belas tahun.
Beruntung Can tidak hanya sibuk mentertawakan, setelah puas menatap wajah masam kami, Can merencanakan sesuatu yang hebat. Dia mengajak aku dan Kak Pukat untuk menjajal senapan angin bapaknya, Bakwo Dar. Besok dia akan bawa senapan angin itu ke kebun jagung Bakwo Dar. Di sana ada banyak bengkarung berkeliaran di balik tunggul kayu. Kebun jagung itu juga hanya dua ratus meter dari lubuk sungai, jadi kami bisa menaiki pohon kayu yang roboh ke lubuk, mengintai ikan besar yang berenang di permukaan. Menembaknya.
“Aku pernah dapat ikan sebesar betis di lubuk sungai itu. Menangkapnya bukan dengan menggunakan kail, jala apalagi bubu. Aku menembak kepala ikannya!” Can berkata bangga. 
Aku dan Kak Pukat menelan ludah, terpesona.
***
Kebun jagung Bakwo Dar itu berada di seberang sungai besar kampung. Untuk tiba di kebun itu harus menyeberangi sungai yang lebarnya sekitar dua puluh meter. Kami tidak menggunakan jembatan, perahu atau berenang, kami cukup berjalan kaki menyeberanginya.
Harus dipahami, meski terlihat besar dan lebar, tidak otomatis seluruh bagian sungai dalam. Di bagian tertentu yang mirip seperti delta –batang sungainya membesar, dan membuat endapan pasir dimana-mana— dalam sungai hanya selutut pria dewasa. Di bagian dangkal inilah penduduk kampung pergi berkebun ke seberang sungai. Melintasi hati-hati arus air yang cukup deras. Di bagian lain, kedalaman sungai rata-rata dua-tiga meter; bahkan ada yang hingga belasan meter. Tempat terdalam lazim disebut ‘lubuk sungai’. Permukaan airnya terlihat tenang, cahaya matahari tidak menembus hingga ke dasar, membuat setiap lubuk seperti menyembunyikan misteri di dalamnya.
Meski repot setiap kali hendak ke sana, banyak penduduk yang bertani di daerah delta seberang sungai. Tanahnya amat subur dengan endapan lumpur bercampur humus dari hulu sungai. Dan berbeda dengan kebun kopi atau karet di hutan, penduduk menanami kebun delta sungai dengan tanaman cepat panen seperti jagung, ketimun, kacang tanah atau kacang panjang. Salah-satu kebun yang terlihat subur adalah kebun jagung Bakwo Dar.
Aku, Kak Pukat dan Can merasa laksana serdadu elit saja dengan membawa senapan angin milik Bakwo Dar. Mengendap-endap mengincar bengkarung. Sudah sejak sejam lalu, selepas pulang sekolah, kami asyik berburu. Kata Ayuk Eli di rumah tadi, Mamak ke kebun kopi, sedangkan Bapak lagi menemani Mang Unus mencari rebung di hilir sungai. Aku tersenyum simpul, itu berarti kami bebas bermain hingga maghrib. Biasanya Mang Unus kalau mencari rebung baru pulang setelah hari gelap.
Pertama-kali Can menyerahkan senapan angin itu, aku rasanya seperti sedang memegang pedang dewa-dewa dalam cerita Yunani kuno. Gemetar mencoba memasang peluru, tersengal mengokang senapannya (ternyata keras sekali), membidikkan moncong senapan, dan DOR!! Tembakanku meleset lebih satu meter. Bengkarung itu melesat kabur. Can tertawa, jumawa bilang kalau saja dia yang menembak, bengkarung itu sudah terkapar. 
Aku mengabaikan olok-olok Can, bernafsu mengejar bengkarung itu, rusuh menyambar kotak peluru, ingin mencobanya lagi, tetapi Kak Pukat sudah mencengkeram pangkal senapan, “GILIRANKU!” desisnya. Aku menelan ludah, mengalah, rasanya seperti kehilangan benda paling sakti sedunia saat senapan itu berpindah ke tangan Kak Pukat.
Dan waktu berlalu tidak terasa. Matahari mulai condong ke barat, teriknya berkurang. Setelah menghabiskan belasan peluru, setelah berlari kesana-kemari, tidak seekor bengkarung pun yang berhasil ditembak. Ternyata urusan ini tidak semudah yang aku bayangkan. Rasanya sudah tepat benar bidikan, sudah mantap sekali genggaman tangan, tetap saja hasilnya meleset jauh. Aku mulai gemas. Apalagi, satu jam terakhir, semua binatang itu sepertinya kompak bersembunyi. Bosan berputar-putar di kebun jagung Bakwo Dar, tidak bertemu dengan satu sasaran tembak satupun, Can mengusulkan agar kami ke lubuk sungai, “Kita menembak ikan! Lebih mudah dan lebih besar sasarannya.” Usul yang bagus, kami bergegas ke lokasi perburuan berikutnya.
Letak lubuk itu dua ratus meter dari kebun jagung. Dengan tepi berbentuk tebing cadas setinggi dua meter. Persis di atas lubuk itu ada pohon tumbang ke arah aliran sungai, sudah lama tumbangnya, daunnya sudah luruh, hanya menyisakan bagian dahan-dahan besarnya saja. Pohon itu panjangnya tidak kurang lima belas meter, dengan batang sebesar tiga pelukan laki-laki dewasa. Saking besarnya, pohon itu tidak terbawa hanyut meski sungai sudah berkali-kali terkena banjir bandang. Ujung-ujung pohon terbenam di dalam lubuk, batangnya melintang dari tebing cadas sungai, sementara pangkalnya masih menyisakan akar yang tercerabut dari dalam tanah. Seperti jembatan di seperempat lebar sungai.
Lokasi pohon tumbang ini seharusnya jadi tempat favorit buat penduduk kampung untuk menebar jala atau memancing, karena ikan suka sekali berada di sekitar pohon tumbang yang terbenam di air. Itu tempat ikan kawin dan bertelur. Sayangnya, lubuk dekat kebun jagung Bakwo Dar itu termasuk ‘lubuk larangan’. Tidak banyak warga kampung yang berani mencari ikan di lubuk itu, hanya orang-orang keras kepala (seperti kami), yang cuma tertawa mendengar peringatan, bebal tidak mendengarkan nasehat orang tua tetap nekad ke sana. 
Batang kayu tumbang itu lebih dari cukup untuk dijadikan titian jalan. Malah dua orang bisa berjalan bersisian di batang utamanya. Aku, Kak Pukat dan Can sekarang sudah merangkak perlahan di salah satu dahan yang paling masuk ke dalam sungai. Mengintip permukaan air, dan dengan mudah segera bisa melihat beberapa ikan besar yang asyik berenang. Aku menyeringai, kebetulan senapang angin ada dalam dekapanku. Giliranku menembakkannya. 
Aku sudah cukup terlatih mengokangnya, berusaha tidak membuat batang kayu bergetar agar ikan-ikan itu tidak berenang kabur oleh gerakan kami. Menyeringai antusias, sambil badan tetap tengkurap di atas batang kayu, aku hati-hati membidik ikan yang paling besar dan paling mencolok. Masih terlalu jauh, ikan itu agak tersembunyi di balik dahan yang terendam air, aku bagai seorang serdadu, merangkak perlahan lebih dekat ke permukaan air, jarakku dengan ikan itu tinggal satu meter. Ikan itu tetap berenang santai, tidak menyadari kalau ada moncong bedil terarah sempurna padanya. Bengkarung sialan tadi, bisa didekati dua meter saja sudah bagus. Selalu lari medengar bunyi langkah kaki kami, apalagi berisik suara getas daun mati terinjak.
Can dan Kak Pukat yang tiarap di sebelahku ikut menahan nafas. Jarak moncong senapan dengan ikan itu sudah dekat sekali, paling hanya setengah meter. Aku menggigit bibir, sekarang atau tidak sama sekali, menarik pelatuknya dengan cepat, DOR!!
Suara tembakan merobek keheningan lubuk. Ikan itu menggelepar seketika. Bukan main. Membuat permukaan lubuk yang tenang misterius menjadi bergelombang. Aku bergegas bangkit dari tiarap, menyerahkan senapan angin agar dipegang oleh Can, lantas tidak sabaran menuruni dahan kayu, berusaha menangkap ikan besar yang tertembak kepalanya. Can tertawa melihat ukuran ikan yang masih menggelepar di permukaan lubuk itu, berseru menyebalkan tentang hanya kalah sejari dengan ikan yang dulu pernah ditembaknya. Aku tidak berniat mendebat Can, kepalaku dipenuhi kesenangan untuk segera menyambar ikan itu.
Ini akan jadi menu makan malam istimewa di rumah. Bapak pasti akan berubah pikiran soal larangan menembak, ceramahnya beberapa waktu lalu yang bilang senapan angin itu berbahaya, lebih banyak untuk gagah-gagahan keliru. Mamak juga pasti akan mulai mengijinkan kami menggunakan senapan angin. Lihatlah, ikan ini saking besarnya cukup untuk di makan ber-enam, dan aku menangkapnya tanpa jala, pancing apalagi bubu. Cukup ditembak saja. Aku nyengir, tangkas menuruni dahan kayu. Sudah dekat sekali, tangan kiriku berpegangan erat dengan salah satu dahan pohon tumbang, sementara tangan kananku siap menyambar ikan itu.
Can masih berkomentar tentang ayo segera ambil ikannya, biar kita tahu seberapa kecil dibandingkan yang pernah dia tembak dulu. Kak Pukat jongkok berusaha membantu memegang lengan tangan kiriku.
Saat itu, kami benar-benar lupa kalau di tengah begitu banyak pantangan, larangan, atau tabu tentang hutan, sungai yang disampaikan tetua kampung, satu-dua memang benar adanya. Kami abai kalau di antara sekian banyak nasehat-nasehat itu, satu-dua boleh jadi memang tidak boleh dilanggar meski sejengkal, apalagi sehasta. Dan kami barusaja melanggar pantangan terbesar, menangkap ikan di ‘lubuk larangan’. Bergurau seperti tidak ada bahayanya. Bertingkah seperti semua akan baik-baik saja. Lihatlah, kami bahkan tertawa-tawa penuh percaya diri di atas pohon tumbang.
Tanganku terjulur, mengayun hendak menyambar ikan itu.
Lima senti lagi dari ikan. Permukaan lubuk sudah kembali tenang. 
Dua senti lagi dari ikan. Suara burung berkicau menyenangkan.
Satu senti. Hanya sepersekian detik lagi….
Saat itulah dari dalam air, melesat dengan kecepatan tinggi, moncong seekor buaya besar. Astaga! Itu sungguh seekor buaya. Gerakannya menggetarkan hati, lubuk sungai seperti bergolak saat buaya itu muncul menerkam, CPYAARRR!! Buaya itu menelan bulat-bulat ikan yang hendak kuambil. Moncongnya tertutup kembali dalam hitungan detik dengan suara keras, gerakan ekornya membuat permukaan lubuk meletup keras. Can yang berdiri di belakangku tersedak kaget, Kak Pukat berteriak ngeri, sementara aku… Dalam hitungan sepersekian detik, wajahku yang pias, jantungku berdetak kencang, tidak sadar apa yang telah terjadi. 
Apa itu tadi? Hanya satu senti saja jaraknya, hanya karena aku tiba-tiba reflek menarik tanganku, kalau tidak sudah terpotong hingga ke siku.
Kak Pukat berteriak parau, “LARI!!! LARIII BURLIAN!!”
Can yang posisinya berdiri di batang, dengan cepat rusuh berbalik-arah, limbung meniti batang kayu kembali ke cadas sungai, tidak peduli kalau senapan di tangannya terjatuh ke lubuk, berdebam jatuh tenggelam. Tidak peduli.
Teriakan Kak Pukat membuatku tersadar dari kekagetan luar biasa. Aku bergegas membalik badan, berusaha sekuat tenaga kabur dari dahan kayu itu, jantungku berdegup semakin cepat, lihatlah, buaya itu setelah menelan bulat-bulat ikan tadi, kembali meluncur deras dari dalam sungai, moncongnya terarah persis ke tubuhku yang berusaha menaiki dahan kayu, mengincar makan siang berikutnya.
“KRAKKK!” Dahan kayu itu berderak terkena terkaman mulut buaya. Hancur berkeping-keping. Lagi-lagi reflek menyelamatkan kakiku, hanya sepersekian detik, hampir saja betisku yang remuk.
“LARI!!! LARII BURLIAN!!” Kak Pukat menarik tanganku, memaksa bergerak lebih cepat. Buaya itu memuntahkan potongan kayu dari rahangnya, melenguh marah karena terkamannya gagal, berbalik ke dalam sungai, mengambil ancang-ancang serbuan berikutnya. Suara ekornya yang berputar membuat lubuk sungai kembali bergolak. 
Aku ketar-ketir berusaha meniti batang kayu secepat yang kaki bisa. Celaka, saat setengah jalan menuju cadas sungai, kakiku justru terpeleset. Beruntung Kak Pukat berhasil menyambar tangan kananku, mencegah tubuhku jatuh ke air sungai, tetapi kaki kiriku tetap terperosok di celah-celah dahan. Menghambat proses penyelamatan diri beberapa detik.
“TARIK BURLIAN!! AYO TARIK!!” Kak Pukat berseru-seru panik. 
Buaya itu sudah kembali ke permukaan lubuk. 
Melihat kami yang jauh dari jangkauan moncongnya, ia beranjak naik ke atas pohon tumbang. Batang kayu bergetar saat kaki-kakinya yang perkasa mencengkeram batang kayu, buaya besar itu bergerak maju dengan cepat. Matanya menatap buas, mulutnya terbuka besar, memperlihatkan gigi-giginya yang tajam mengerikan. 
Aku panik, melakukan apa saja agar kaki kiriku segera terlepas. Sialnya, justru semakin kencang ditarik, semakin dalam kakiku terperosok. Aku terjepit tidak bisa bergerak.
“TOLOOONG!!! TOLOOONG!!” Kak Pukat berteriak parau, wajahnya tidak kalah pucat melihatku kakiku yang semakin terjepit. Can di cadas sungai sudah berlari entah kemana, mungkin memanggil Bakwo Dar di kebun jagung. Nafasku tersengal jerih, ya Allah, sudah tidak akan sempat lagi. Sungguh tidak akan ada yang sempat menyelamatkanku.
Jarak buaya itu tinggal tiga meter, jarak kebun jagung Bakwo lebih dari dua ratus meter. Sementara di sekitar lubuk itu tidak terlihat seorang pun yang bisa membantu. Siapa yang bisa bergerak secepat itu menyelamatkanku.
“TARIK BURLIAN… AYO TARIK!!” Kak Pukat memaksakan usaha terakhirnya, matanya sudah berlinang air mata, menangis karena ketakutan sekaligus menangis karena mencemaskan aku yang hanya tinggal menunggu waktu. 
Jarak buaya itu tinggal dua meter lagi.
“AYOO BURLIAN… TARIKK!! JANGAN MENYERAH!! KAKAK MOHON!!” Kak Pukat tetap bertahan di samping, kalap berusaha melepas betisku yang terperosok. Tangannya berusaha mematahkan dahan-dahan. Gemetar.
Aku sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi, aku seperti bisa mencium nafas amis moncong buaya itu, mengerikan sekali baunya, seperti tubuhku sudah hancur dalam kunyahannya. 
Jarak buaya itu tinggal satu meter. Merangkak mengerikan.
Aku mulai kehilangan kesadaran karena rasa takut. 
“AYOOO BURLIAN… KAKAK MOHON!” 
Ya Allah, aku gentar sekali. Mataku berkunang-kunang. 
Saat itulah, ketika seolah tidak ada lagi harapan, saat Kak Pukat terduduk tak kuat lagi menarik tubuhku, saat mulut buaya terbuka lebar siap menerkamku. Saat hanya tinggal hitungan detik tubuhku akan dirobek-robek.
“DORR!!”
Mata sebelah kiri buaya itu berhamburan.
Siapapun di seberang sana. Siapapun yang berdiri di cadas sungai seberang sana, yang jaraknya lebih dari empat puluh meter, pastilah dengan mudah memenangkan piala-piala menembak di kota kabupaten sekalipun. Gesit sekali memasukkan peluru berikutnya, dalam hitungan sepersekian detik mengokang senapan, mengarahkannya kembali.
“DORR!!”
Sekarang mata sebelah kanan buaya yang berhamburan.
Buaya itu melenguh panjang, terlihat marah sekali. Ekornya memukul keras dahan batang kayu, berderak. Batang kayu itu retak. Darah berceceran di atas permukaan lubuk. Buaya itu meraung, berbalik arah hendak mencari siapa yang telah mengganggu makan siangnya. 
“DOR!!!”
Sebagai jawaban, tembakan ketiga kembali menghantam kepala buaya.
Siapapun di seberang sana, jelas bukan lawan setanding bagi buaya malang itu. Tiga tembakan dalam waktu lima belas detik. Dan bersiap menyusul peluru-peluru berikutnya, jika dia tidak segera melarikan diri. Setelah berhitung dengan posisinya, setelah putus-asa tidak tahu dimana musuh yang telah menembak kepalanya, buaya itu melenguh untuk terakhir kalinya, beringsut menjatuhkan tubuhnya dari batang pohon tumbang ke sungai. Berdebam. Lantas menghilang bersama jejak darah yang menggurat garis merah sepanjang lubuk.
Aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Pingsan.
***
Esok-lusa, bertahun-tahun berlalu, aku dan Kak Pukat tidak pernah lagi membicarakan kejadian itu, tidak pernah menyinggungnya. Tersimpan rapat dalam memori kenangan. 
Hanya sekali kami membicarakannya, malamnya, saat aku sudah siuman, di kelilingi oleh Ayuk Eli, Amelia, Kak Pukat, Mang Unus, Bakwo Dar, Wak Yati, Can, dan beberapa saudara dekat yang berkumpul di rumah setelah mendengar kejadian mengerikan itu. Mang Unus berbaik hati menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di lubuk larangan.
Bapak, ya, Bapak-lah yang menembak buaya itu dari seberang sungai. Dengan kecepatan tinggi melepas tiga tembakan tanpa meleset satu senti-pun. Mang Unus tertawa suram, “Kenapa? Kalian tidak tahu? Sayangnya, kalian memang tidak pernah tahu… belasan tahun silam, tidak ada yang mengalahkan Bapak kalian soal urusan menembak di seluruh kabupaten. Dia saja yang selalu bilang ke kalian tidak bisa menembak.”
Aku terdiam, tertunduk berusaha mengerti penjelasan Mang Unus.
“Mamang dan Bapak kau sedang mencari rebung liar di sisi sungai satunya saat kami mendengar teriakan minta tolong. Bapak kalian bergegas ke pinggir sungai dan begitu terkejut saat melihat di seberang sana, di atas pohon tumbang, ada seekor buaya bersiap menerkam Burlian.” Mang Unus menjelaskan sambil mengusap dahinya, “Dia tanpa banyak cakap lagi, menyambar cepat senapan yang kubawa. Dan itulah yang kemudian terjadi.”
“Andaikata Bapak kalian telat satu detik saja… andaikata senapan anginnya macet.. andaikata tembakannya meleset.. entahlah apa yang akan terjadi berikutnya.” Mang Unus menghela nafas panjang, terdiam, lantas menatap lamat-lamat aku dan Kak Pukat bergantian, “Kalian nakal sekali, Burlian, Pukat… Kalian sungguh nakal.”
Lampu canting di atas meja terlihat kerlap-kerlip tertimpa angin malam. Ini penghujung musim hujan, malam selalu terasa gerah. Kami semua terdiam.
“Bapak sekarang di mana, Mak? Dari tadi maghrib kok tidak terlihat di rumah?” Amelia yang lagi-lagi pilek menyela senyap. Bertanya.
“Bapak kalian baik-baik saja. Bapak kalian hanya butuh dibiarkan sendirian dulu.” Bakwo Dar yang menjawab, “Kalian tahu sendiri, Bapak kalian pernah bersumpah demi Allah tidak akan pernah menembak lagi. Dengan kejadian tadi siang, Bapak kalian butuh dibiarkan sendiri, mungkin dia sedang memikirkan banyak hal.”
Dan kami terdiam lagi. Bertahun-tahun berlalu, aku dan Kak Pukat tidak pernah lagi membicarakan kejadian itu. Tersimpan rapat dalam memori kenangan. Termasuk melupakan pertanyaan, kenapa Bapak pernah bersumpah tidak akan pernah menembak lagi. Biarlah itu tidak pernah terjawab hingga kapan pun, karena dengan melihat sendiri betapa tangkasnya Bapak melepas tiga tembakan dalam lima belas detik tanpa meleset satu senti pun, boleh jadi penjelasannya akan mengerikan.
1) Bengkarung: biawak kecil seukuran jempol kaki, panjang sejengkal. Suka bersembunyi dibalik tunggul, tumpukan daun, lubang tanah dan sebagainya.

Jumat, 24 November 2017

Tere Liye : Burlian

BAB 13. SDSB: SEMUA DAPAT SEMUA BUNGKAM - 2
-------------------------------------------------------------------------
“Obornya jangan dimainkan, Burlian.” Ayuk Eli berjengit.
“Bukan salahku, Kak Pukat yang menarik-narik sarungku.” Aku mendengus, menunjuk Kak Pukat yang tertawa-tawa di depan. 
Kami pulang mengaji dari rumah Nek Kiba. Berjalan kaki bersama belasan anak-anak lainnya. Dari tadi Kak Pukat jahil menarik-narik sarung, membuat obor bambu yang kupegang hampir terjatuh. Langit terlihat gelap, menutup pemandangan bintang-bintang. Sebenarnya musim penghujan sudah tiba di penghujung, tapi hujan tetap tidak bosan turun setiap malam. 
“Bergegas, Burlian. Nanti kita kehujanan.” Ayuk Eli tetap mengomel.
Iya, ini juga sudah bergegas. Aku mengepit Al-Qur’an erat-erat, melangkah lebih cepat. Lama-lama perangai Ayuk Eli itu persis sekali Mamak. Sedikit-sedikit mengomel. Sedikit-sedikit marah. Semua dikomentari.
Tere Liye Burlian

Tetapi kecepatan langkahku berkurang drastis saat melewati bale-bale bambu kampung. Di sana beberapa orang sedang mengerumuni ‘tokoh sakti’ dalam kisah SDSB ini, siapa lagi kalau bukan Samsurat. 
“Kau mau lihat apa, Burlian?” Ayuk Eli meneriakiku yang justru melangkah ingin tahu apa yang sedang dipercakapakan oleh mereka.
“Dasar nakal. Sudah berapa kali Mamak bilang, kau jangan ganggu orang gila.” Ayuk Eli berseru kencang. 
Aku tidak mendengarkan, melangkah cepat meninggalkan rombongan anak-anak pulang mengaji. Petir menyambar membuat terang sekejap, disusul gemeretuk guntur.
Orang gila? Inilah menariknya urusan ini.
Semua penduduk kampung juga tahu kalau Samsurat kurang waras, setidaknya begitulah dia terlihat. Umurnya sekitar tiga-puluhan, tubuhnya tinggi kurus, rambutnya panjang tidak terawat, hanya memakai baju itu-itu saja. Sejak kecil Samsurat jarang bicara. Menurut cerita Mamak, Samsurat kecil hanya menunjuk mulut tanda dia mau makan, menunjuk pantat tanda dia mau buang air besar. Sisanya diam. Berpuluh tahun berlalu tetap begitu saja. Kerjaannya kalau tidak duduk hening di beranda rumahnya, dia duduk bergabung bersama penduduk lain di bale-bale bambu kampung. Tidak banyak bicara, selain mulutnya berdengung sekali-dua tanpa bisa dimengerti apa yang diucapkannya.
Selama ini tidak ada yang peduli dengan Samsurat. Anak-anak yang pertama kali kenal sering jahil menganggunya, melempari dengan apalah, lantas berlarian kabur. Tetapi lebih banyak warga kampung yang membiarkan Samsurat. Dia tidak berbahaya. Tidak juga berguna diajak bicara. Biarkan saja Samsurat sibuk dengan ritual bertapa dan komat-kamit mantranya, begitu gurau penduduk kampung.
Hanya saja semua ketakjiman Samsurat robek sejak demam SDSB masuk kampung kami. Tidak ada yang tahu persis apa muasalnya. Beberapa bulan lalu saat warga ramai-ramai duduk di bale-bale bambu, tiba-tiba Samsurat menceracau. Mulutnya berdengung, menghentikan percakapan tentang musim durian. Dan diantara ceracau Samsurat, dia menyebut angka. Patah-patah, tidak jelas pula, 5-6-6-9. Tidak ada yang peduli dengan empat angka yang disebutkan Samsurat hingga esok malam. Ketika pengumuman SDSB terdengar dari speaker radio, ternyata keempat angka itu sempurna tepat. Ramailah seluruh kampung.
Samsurat tahu nomor bertuah. 
Sejak saat itu, tidak ada lagi yang mengabaikan Samsurat. Dia berdehem saja langsung semua kepala tertoleh. Dia melangkah turun dari beranda rumah, langsung semua orang berjalan ramai-ramai mengikutinya. Berusaha duduk paling dekat, ramah memberikan makanan dan minuman. Menawarkan memijat-mijat pundaknya. Dan Samsurat seperti tahu apa yang mereka cari, untuk kesekian kalinya tiba-tiba menceracau lagi. Mulutnya berdengung tidak jelas, berkumur-kumur, lantas tiba-tiba mulai menyebut angka.
Warga kampung yang duduk di bale-bale bergegas mencatat, takut benar segera lupa. Lantas besok paginya bergegas pergi ke loket kota kecamatan. Dengan senyum lebar, bertaruh atas mimpi-mimpi hebat. Sudah empat minggu sejak Samsurat pertama kali menceracau menyebut angka. Warga kampung sejauh ini selalu takjub dengan betapa nyaris tebakan yang diberikan Samsurat. Beberapa orang bahkan percaya kalau Samsurat sebenarnya betul seratus persen, merekalah yang salah dengar. Keliru menerjemahkan kumur-kumurnya. Cepat atau lambat hanya soal waktu mereka akan mengerti pertanda Samsurat.
“Kau nanti dimarahi Mamak, Burlian.” Ayuk Eli masih berusaha memperingatkanku.
Aku sudah tidak mendengarkan teriakannya, aku tinggal sepuluh langkah dari kerumunan orang di bale-bale bambu. Di sana, di antara pemuda tanggung kampung yang mengerumuni Samsurat ada si Pendi, anak Lik Lan ikut bergabung, aku hendak bertanya padanya, siapa tahu sudah ada bocoran angka.
“Ayo Amelia.” Ayuk Eli mendengus marah, membalik badannya. Memegang lengan Amelia, bergegas pulang. Kak Pukat sudah sejak petir pertama tadi berlarian pulang lebih dulu.
Aku tinggal tiga langkah dari bale-bale bambu. Kilau petir menyambar sekali lagi membuat terang langit-langit kampung, guntur bergemeletuk membuat nyilu gigi. Aku melangkah ke arah Pendi yang duduk paling pinggir, hendak bertanya, ketika tiba-tiba Samsurat berseru-seru. 
Orang-orang sontak tertoleh kepadanya. Aku juga ikut menoleh.
Samsurat justru mengacungkan telunjuknya persis ke dahiku. Mulutnya berteriak-teriak kencang. Astaga? Jangankan aku, semua orang yang duduk di bale-bale bambu saja terperanjat. Aku mendadak pias, menelan ludah.
“Ghau… khau…” Samsurat mendesis-desis, mulutnya komat-kamit, matanya mendelik. “BEBALIK… KHAU… BEBALIK!” Desisannya nyaring terdengar.
Petir menyambar lagi membuat terang wajah-wajah. Tidak terlalu jelas benar apa desisan itu, tapi aku merasa seluruh tatapan mata sedang terarah padaku, bukan hanya tatapan orang yang duduk di bale-bale, semuanya, termasuk gelegar guntur. Dan Samsurat sekali lagi menunjuk-nunjuk dahiku, sebelum kemudian ‘AAARGGHH….’ Melolong panjang. 
Berlari pulang ke arah rumahnya. Menyisakan misteri besar. 
Seluruh bale-bale bambu terdiam.
***
Maka esok, sepanjang hari orang-orang sibuk menafsirkan kejadian itu. 
“Kau lahir tanggal berapa, Burlian?” Wak Lihan menyapaku saat mandi di sungai.
“Tanggal 21, Wak.” Aku mengusap sabun di ujung mata. Langsung menjawab meski tidak mengerti kemana arah pertanyaan. 
“Bulan apa?”
“Bulan lima, Wak.” Aku menjawab cepat. Konsentrasiku sekarang ada pada dinginnya air sungai, membuat gigi bergemeletukan.
“Wawak kenapa nanya-nanya tanggal lahir Kak Burlian? Mau ngasih hadiah ulang tahun, ya?” Amelia yang mandi di sebelahku bertanya.
Wak Lihan tertawa lebar. Melambaikan tangan, tidak menjawab.
Aku tidak peduli, segera menyelam ke dalam air yang beruap seolah ada batangan es di dalamnya. Dengan mata telanjang, bebatuan dasar sungai yang warna-warni terlihat, dua ekor ikan berenang berani di sekitar betis, menggoda untuk ditangkap. Dingin, aku bergegas menyelesaikan mandi.
“Kau lahir tanggal berapa, Burlian?” Salah seorang tetangga juga menyapaku saat pulang. Membuatku langkahku terhenti. Amelia berdiri di belakangku.
“Tanggal 21.” Aku menjawab pendek, menggaruk ujung hidung, kenapa pula hari ini banyak orang yang bertanya tanggal lahirku.
“Bulan apa?”
“Lima.” 
“Terima-kasih, anak pintar.” Tetangga kami itu mengacak rambutku, lantas melangkah ke arah pemandian sungai.
Oi? Aku menatap tidak mengerti. Amelia mendorong pantatku agar bergegas. Berseru bilang nanti terlambat sekolah. Aku sambil menggaruk ujung hidung melanjutkan langkah melewati jalan setapak yang menghubungkan sungai dan kampung. Embun terpercik ke ujung-ujung jari kaki. Kabut putih masih membungkus pucuk-pucuk hutan. Cahaya matahari lembut membasuh rerumputan. Entahlah kenapa semua orang bertanya. 
Setidaknya semua orang jadi tahu tanggal lahirku.
***
“Kau lahir tanggal berapa, Burlian?” Munjib menjawil tasku. 
Aku yang bergegas melintasi halaman sekolah hendak pulang, menoleh. Bukan hanya wajah Munjib yang antusias mendekat. Juga Can dan beberapa kawan sekelas lainnya.
“Kenapa pula kau tanya-tanya?” Aku bertanya balik. Perutku lapar, ingin cepat membuka tudung meja makan. Membayangkan Mamak memasak udang sungai besar. Jadi sedikit sebal tertahan, apalagi menatap wajah-wajah ingin tahu mereka.
“Bapakku yang menyuruh.” Munjib mengangkat bahu. Can dan kawan sekelas lainnya serempak ikut mengangguk.
“Bapak kalian? Buat apa?” Aku teringat kejadian tadi pagi di sungai.
“Kau tidak tahu?” Munjib bertanya balik.
Aku menggeleng.
“Seluruh kampung bilang kalau nomor bertuah yang keluar nanti malam adalah tanggal dan bulan kau lahir. Kata orang-orang, itulah maksud Samsurat saat berteriak menunjuk-nunjuk kau tadi malam…. Jadi kau lahir tanggal berapa, Kawan.”
Aku seketika terdiam, menelan ludah.
***
Wak Yati benar, urusan ini bahkan bisa lebih menggelikan dibandingkan cerita olok-olok anak Pak Haji itu. Semalam, aku hampir terkencing di celana saking takutnya melihat Samsurat tiba-tiba berteriak dan menunjuk dahiku, ternyata semua orang menafsirkan sebaliknya. Terus-terang saja, kakiku masih bergetar sendiri saat tiba di depan rumah. Belum lagi Mamak seperti sudah menunggu kepulanganku, mendelik mengkonfirmasi apakah aku barusaja ikut duduk dekat-dekat Samsurat. Ayuk Eli menatap puas dari ruang tengah.
“Berapa kali Mamak bilang, kau jangan seperti penduduk kampung yang memperlakukan Samsurat kurang-ajar. Lihatlah kelakuan mereka sekarang, ramai menunggu meminta nomor bertuah. Sudah lebih gila dibandingkan Samsurat.” Mamak mengomel.
Aku diam, meletakkan Al Quran di rak buku. Duduk meluruskan kaki. Tadi seram sekali. Seperti menatap hantu, matanya mendelik, mulutnya berkumur-kumur. Di luar rintik hujan mulai membasuh jalanan. Irama butiran air satu per-satu menimpa atap rumah terdengar menyenangkan.
“Sudah sejak awal aku tidak suka loket itu dibuka di kampung. Semua jadi ikut-ikutan taruhan. Menggunakan uang beras buat beli SDSB. Uang jual getah karet habis percuma. Tabungan keluarga dipakai. Belanja penting ditunda.” Suara Mamak yang mengeluh pada Bapak di dapur terdengar hingga kamar. “Harusnya Si Dullah segera bertindak. Apa pula kerja kepala desa sekarang. Tutup saja loket itu. Biarkan saja kalau ada yang mau bertaruh terpaksa pergi jauh ke kota kecamatan. Kalau begini, warga kampung yang tidak mengerti pun jadi ikut-ikutan. Belum lagi aku dengar, anak-anak kampung saja sudah banyak yang ikut membeli SDSB.”
Hujan di luar menderas. 
Aku menarik selimut, beranjak tidur. Berusaha melupakan kejadian barusan. Melupakan ingatan akan ekspresi wajah Samsurat yang berlari ke rumahnya. Aku kenal sekali ekspresi wajah itu; karena itu sama persis dengan wajahku. Ketakutan. 
“Kau jangan pernah coba-coba mendekati loket itu, Burlian.” Wajah Mamak nongol dari balik pintu kamar. Berseru kencang. 
Aku berjengit kaget.
***
Jadi itu maksudnya? 
Pikiranku sekarang tidak pada piring yang berisi udang sungai. Tidak seperti biasanya, kali ini aku mengabaikan menu spesial makan siang. Aku sedang sibuk berpikir mencari jalan keluar masalah pelik. Pertanda Samsurat. Bisik-bisik semua orang. Dan yang lebih penting lagi, kalau semua orang sibuk memasang berlembar-lembar angka bertuah itu, bagaimana mungkin aku tidak ikutan? Bukan soal takut ketahuan Mamak. Dua minggu terakhir Mamak tidak tahu kalau aku pergi ke loket itu. Masalahnya aku tidak punya uang untuk membeli walau selembar kertas SDSB. Terlepas dari akan jitu atau tidak tafsiran pertanda Samsurat, nomor itu sudah bertuah bagiku. Itu tanggal dan bulan kelahiranku.
“Kau sudah makannya?” Ayuk Eli menatapku yang hanya memainkan sendok. Dan sebelum aku sempat menjawab, ia mengambil piringku. Memberesi meja makan. Aku mendelik, hendak berseru jangan diambil dulu, tetapi segera menutup mulut urung berkomentar apapun, ada hal lain yang lebih penting. Beranjak meninggalkan dapur.
Saat bermain bola di lapangan bekas pabrik karet, Can dan Munjib menunjukkan kertas taruhan masing-masing. Dua kertas itu bertuliskan besar-besar angka: 2105. Tanggal dan bulan kelahiranku. Mereka berdua tersenyum yakin, lantas bertanya apakah aku sudah pasang atau belum. Aku mengangguk (bohong) sudah. 
Aku bermain bola tidak bersemangat. 
Memperhatikan awan-awan kelabu berarak di langit, sepertinya akan hujan lagi malam ini. Burung layang-layang terbang melenguh. Melakukan gerakan menari memanggil hujan. Pukul empat sore, itu berarti satu jam lagi sebelum loket ditutup. Menghela nafas panjang. Baiklah, aku bergegas meninggalkan lapangan begitu saja. Pulang. Membiarkan Munjib dan Can yang berteriak-teriak protes soal permainan bola jadi tidak imbang.
Aku menggaruk rambut yang tidak gatal. Kembali menatap langit yang mulai mendung, atap-atap seng rumah penduduk, rombongan kerbau yang tidur-tiduran di jalan kampung. Menghela nafas. Jadi itu maksudnya. Kalau begitu, semua orang telah keliru menerjemahkan maksud Samsurat. 
Sore itu aku memutuskan melakukan sesuatu. Melupakan kalau beberapa minggu lalu, Wak Yati pernah berkata, niet proberen, jangan sekali-kali bahkan hanya untuk memikirkannya, karena sekali saja sensasi seru itu merasuki, kau bisa nekad melanggar pantangan besar.
***
Dan aku bukan hanya melanggar satu pantangan Mamak, tapi dua.
“Demi Allah, Burlian… Mamak tidak ridha… Mamak tidak akan pernah ridha.” Wajah Mamak menggelembung, di tangannya tergenggam dua lembar kertas SDSB.
Aku meringkuk gentar, duduk terdesak di pojok kamar depan. Lihatlah, Mamak tidak berteriak kencang seperti biasanya, ia hanya menatapku tajam, berkata pelan. Meski pelan, kalimat itu diucapkan dengan intonasi bertenaga. Bahkan Ayuk Eli yang melaporkan ikut tertunduk, tidak tega melihat.
Tadi sore aku memutuskan mencuri uang simpanan Mamak di kaleng biskuit. Tak banyak, hanya dua ribu. Cukup untuk membeli dua lembar kupon itu. Lantas bergegas ke loket SDSB di bawah rumah panggung Wak Lihan. Memasang empat angka yang kuyakini pasti menang. Beberapa tetangga yang duduk-duduk di bangku berseru-seru saat melihatku, “Oi, ini dia pemilik angka bertuah. 2105. Kau tidak pasang seratus lembar, bukan? Nanti bangkrut bandarnya.” Mereka tertawa.
Petugas loket tidak banyak cakap menuliskan nomor. Merobek kuponnya, menyerahkan padaku. Petugas itu harus bergegas, sudah hampir pukul lima sore. Loket ditutup, dia dengan menaiki sepeda motor harus segera ke kota kecamatan melaporkan uang sumbangan dan angka yang dipasang oleh penduduk kampung kami minggu ini.
Aku juga bergegas pulang ke rumah. Sudah hampir maghrib. Sebelum menyambar handuk pergi mandi ke sungai, aku menyembunyikan dua lembar kertas itu hati-hati di balik tumpukan baju. Tersenyum lebar. Tidak akan ada yang tahu. Mamak juga tidak akan menyadari kalau uang dalam kaleng biskuit itu sudah berkurang dua lembar. Tidak setiap hari Mamak menghitungnya. 
Tetapi aku keliru. Ba’da maghrib, saat Ayuk Eli membawa setrikaan pakaian ke lemari, saat menyusun ulang tumpukan baju, ia tidak sengaja menemukan dua lembar kertas terkutuk itu. Ayuk Eli melaporkannya ke Mamak. Dan hanya menunggu waktu saja, saat makan malam bersama, Mamak menunjukkan kertas itu di depan jidatku. Menatap tajam sekali. Aku patah-patah menjelaskan. Membantah tidak tahu apa-apa, bilang kertas itu mungkin datang begitu saja. Percuma, Mamak investigator yang tangguh. Ia bukan hanya membuatku mengaku telah membeli nomor SDSB selama dua minggu terakhir, Mamak juga bisa membuatku buka mulut kalau sudah mencuri uang dalam kaleng biskuit.
Dua pantangan besar di keluarga kami. Mencuri. Berjudi.
“Kau ikut Mamak sekarang juga! BERGEGAS!!” 
Aku terlonjak dari duduk. Berdiri. 
“Si Dullah tidak akan pernah bisa menghentikan loket judi itu. Bagaimana dia akan bisa, dia juga ikut memasang nomor. Aku sudah sejak minggu-minggu lalu keberatan. Dan, kau, apa saja yang kau lakukan? Juga ikut berdiam diri saja macam siamang tanpa bertindak apapun. Penduduk kampung ini amat menghargai kau. Mereka akan mendengarkan apa yang kau katakan.” Mamak menatap Bapak yang sejak tadi hanya menghela nafas.
“Ayo, Burlian.” Mamak menyambar tanganku. “Eli, kau suruh penjaga Masjid memukul bedug. Malam ini, kalau bapak-bapak kampung ini tutup mata soal ini, biar kita saja yang mengurusnya. Loket itu harus ditutup.”
Lima menit melintas amat cepat. Kegaduhan besar segara terjadi. Suara bedug bertalu-talu yang dipukul membuat kesibukan di rumah-rumah panggung terhenti. Adzan Isya sudah selesai sejak satu jam lalu, jadi ini bukan panggilan shalat. Berarti ada yang meninggal? Siapa? Ganjil sekali, kalau pertanda ada yang meninggal, iramanya tidak seperti ini. Orang-orang turun dari rumah. Bisik-bisik menjalar. ‘Mamak Nung mengajak kita menyerbu loket sialan itu.’ Salah seorang ibu-ibu berkata dengan nafas tersengal.
‘Apa?’ yang lain bertanya memastikan. ‘Mamak Nung mengajak kita semua menyerbu loket SDSB di rumah Wak Lihan… tadi kulihat sudah berkumpul banyak ibu-ibu di sana.’ Maka kemarahan yang sudah berminggu-minggu terpendam itu tumpah sudah. Hanya dengan pakaian seadanya, kain terbebat, lupa membawa tudung rambut, ibu-ibu melangkah cepat menuju loket SDSB. Sudah lama mereka jengkel dengan situasi ini. Akhirnya mereka punya kesempatan emas. Tidak ada ibu-ibu yang lebih galak, lebih berani selain Mamak Nung.
Loket itu ramai. Beberapa lelaki dewasa dan remaja tanggung yang duduk-duduk menunggu pengumuman angka bertuah serba-salah saat Mamak datang dan tanpa tedeng aling-aling langsung memaksa petugas menutup loket itu. Dalam hitungan detik, selepas suara bedug, belasan ibu-ibu ikut bergabung. Membuat situasi berat sebelah. Petugas loket dan pendukung setianya terdesak.
“Kau tutup malam ini juga! Kau tutup sekarang dan untuk selamanya.” Mamak mendesis menatap petugas yang sudah mendecit ketakutan.
“Nung… Oi, dengarkan dulu. Apa salahnya dengan loket ini? Kau tidak pantas memarahi petugas itu. Dia hanya melaksanakan tugas dari kota.”
“Tutup mulut kau, Lihan.” Mamak mendelik, “Kau dibayar berapa untuk mengijinkan mereka membuka loket di bawah rumah bobrokmu ini? Seratus ribu per-bulan? Dua ratus ribu? Picik sekali kau. Hanya demi uang serendah itu kau tega merusak seluruh kampung.”
Ibu-ibu berseru menyetujui kalimat Mamak.
“Kau lihat ini!” Mamak menunjukkan kertas SDSB-ku. “Burlian! Anakku yang baru sepuluh tahun juga ikut-ikutan berjudi. Mengerti apa mereka soal omong-kosong sumbangan berhadiah kalian? Mengerti apa mereka soal program pemerintah?”
“Munjib juga ikutan, Mak.” Ibu Munjib berseru.
“Anakku Can juga.” Istri Bakwo Dar mengiyakan.
Wak Lihan yang berusaha menengahi mulai kehabisan kata di keroyok banyak ibu-ibu. Wajahnya merah padam, kalimat Mamak sepertinya telah membuatnya tersinggung. 
Lima belas menit berlalu, situasi tidak imbang itu mulai berubah. Pihak loket SDSB mendapatkan ‘pasukan bantuan’. Mang Dullah, kepala kampung, tiba bersama dengan warga kampung lain. Mencoba menengahi pertengkaran. 
“Kalau begitu… bagaimana kalau kita buat peraturan anak-anak dilarang membeli kupon SDSB… itu bisa dilakukan, bukan?” Mang Dullah mencoba tersenyum arif. Petugas loket yang pias mengangguk cepat. Patah-patah menjawab, “Sa-ya… sa-ya tidak akan lagi menjual ke anak-anak, Bu. Sumpah.”
“Omong-kosong! Masalahnya bukan hanya anak-anak.”
“Betul, Mak! Sudah dua minggu ini uang untuk beli beras habis dipakai suamiku. Itu orangnya. Hei, bukankah sudah kubilang kau tidak boleh lagi duduk-duduk di loket ini.” Salah seorang ibu berusia muda berteriak tidak kalah galaknya. Dan suaminya yang dihardik, entah karena malu, entah karena takut pada istrinya, dengan wajah gembung bergegas kabur dari kerumunan.
Dengan situasi yang semakin tegang, tidak ada seorang pun yang menyungging tawa melihat kejadian lucu itu. Suami ibu-ibu muda itu jatuh-bangun lari terbirit-birit.
“Ini program pemerintah, Mak…. Aku tidak bisa menutupnya begitu saja.” Mang Dullah mengusap dahi. Dia sejak tadi berusaha hati-hati sekali bicara kepada Mamak. Karena kalau dirunut garis keturunan, Mamak masih terhitung bibi dekatnya. 
“Apa susahnya kau tutup? Kau suruh pergi? Oi, semakin lama ucapan kau semakin tidak bisa dimengerti, Dullah.” Mamak melotot.
Perdebatan dan negosiasi masih berjalan alot saat dari radio bantal yang dipasang di meja loket mulai menyiarkan secara langsung undian angka bertuah dari Jakarta. Pendi, yang paling dekat dengan radio itu berusaha membesarkan volume, merapatkan kuping ke meja. Keributan ini membuat dia kesulitan mendengar siaran.
“…5…, itu angka pertamanya.”
Pendi memukul jidatnya. Dengan seluruh penduduk kampung memasang nomor bertuah 2105, keliru sudah. Angka pertama saja sudah salah total. 
“Kalau kau tidak mau menutup loket ini, kami bongkar paksa SEKARANG! KAU DENGAR!” Mamak mengancam. Ibu-ibu yang lain berseru-seru setuju.
“Nung, janganlah… astaga.. apa kita tidak bisa bicara baik-baik.” Wak Lihan yang paling berkepentingan dengan bagian bawah rumah panggungnya segera bersuara.
“…0…, itu angka keduanya.”
“Kalian tidak akan pernah mau mendengarkan kami. Coba ingat, sudah sejak kapan aku mengajak kalian bicara baik-baik. Sudah berapa kali setiap bertemu di sungai, di balai kampung, di mana saja, akau bilang kepada kau. Tutup segera loket terkutuk ini.” 
“…1…, itu angka ketiganya.”
Jantung Pendi berdegup kencang. Astaga? Seluruh kampung memasang 2105. Jangan-jangan maksud Samsurat sebaliknya. 502, tinggal satu angka lagi.
“Baik… baik, Mak. Bagaimana kalau kita bicarakan ini besok di rapat kampung. Kita undang seluruh warga. Kita putuskan bersama-sama. Jangan sekarang, sudah malam. Mamak lihat sendiri, langit mendung, sebentar lagi hujan deras. Kasihan anak-anak.”
“OI!!, Kalau kau kasihan dengan anak-anak, kau akan segera menutup loket ini, Dullah. Percuma saja kau pernah SMA di kota kabupaten, menyimpul soal sederhana itu saja kau tak becus.” Mamak berseru galak, sepertinya marah Mamak sudah diubun-ubun.
“…2…, itu angka terakhirnya… selamat… malam ini angka bertuah kita adalah 5012… sampai ketemu—“ Siaran di radio menyelesaikan seluruh angka.
“OIIII… ANGKA SAMSURAT TERBALIK!!” Pendi berseru kencang sekali, menepuk-nepuk meja loket. Menggeleng-geleng kepala seperti tidak percaya.
Teriakan Pendi membuat pertengkaran terhenti sebentar. Semua wajah tertoleh.
“Berapa nomor yang keluar?” Mang Dullah, dengan polosnya reflek bertanya.
“5012, Mang… terbalik.. seluruh kampung terbalik.”
Seruan-seruan kecewa keluar dari mulut lelaki dewasa dan remaja tanggung yang duduk merapat sejak keributan terdengar. Mang Dullah juga berseru pelan.
“Kau lihat sendiri, Dullah. Omong-kosong angka-angka itu… omong-kosong angka dari Samsurat. Sudah berapa minggu uang kalian habis percuma. Kalian sudah lebih gila dibandingkan dia.” Mamak mendengus, menunjukkan kertas SDSB-ku, hendak merobeknya. 
Aku reflek loncat. “Jangan, Mak. Jangan dirobek.”
Terlambat, Mamak sudah merobeknya berkali-kali.
“Burlian menang, Mak! Burlian MENANG!!” Aku bergegas menyambar potongan kertas yang berjatuhan. 
Petir menyambar sekali lagi, membuat terang seluruh kampung. Menerangi wajah-wajah yang kecewa. Menerangi wajah-wajah yang marah. Dan menerangi wajahku yang entah seperti apa melukiskannya. 
Aku tahu maksud Samsurat, aku mengerti apa desisannya malam itu. Dia menyuruhku membeli nomor itu secara terbalik. Yang aku belum tahu adalah, apa maksud ekspresi wajah terbelalak dan kenapa dia ketakutan bergegas berlari pulang. 
Suara guntur terdengar bergemeletuk membuat nyilu gigi. Jemariku bergetar menyusun potongan kertas-kertas itu. Lihatlah, di dua lembar itu tertulis rapi: 5012.
Keributan bubar dengan sendirinya saat butir air hujan pertama menyentuh atap seng. Berkelontang, itu hujan besar. Benar saja, dalam hitungan detik, menyusul jutaan larik butir air lainnya. Orang-orang bergegas mencari tempat berlindung. Sebagian besar berlarian pulang. Termasuk Mamak, setelah bersepakat dengan Mang Dullah kalau besok malam akan diadakan rapat kampung membahas soal ini, Mamak bergegas menarik tanganku dan Ayuk Eli pulang. 
Oi, hilang sudah kesempatan menang besar itu. Aku laksana kehilangan seluruh tenaga mengikuti langkah kaki Mamak. Oi, aku membiarkan bilur air hujan membasahi hatiku, membuatnya basah sekuyup baju dan rambutku. Ternyata semua ini berakhir sesuai ekspresi wajah Samsurat saat melihatku.
***
“Het gokken Burlian, judi itu selalu menyakitkan…” Wak Yati menatapku lembut beberapa hari kemudian, “Bahkan jika kau menang sekalipun. Itu tetap menyakitkan. Oh, mijn lieve, kau masih terlalu kecil untuk mengerti kebijakan hidup. Tapi setidaknya semoga kejadian malam itu membuat kau merasakannya secara langsung. Niet proberen.”
Bisik-bisik tentang aku menang tetapi tidak bisa mengambil hadiahnya karena kertasnya dirobek Mamak menjadi bahan pembicaraan berhari-hari di seluruh kampung. Mamak hanya melambaikan tangan saat Amelia mengkonfirmasi apa itu benar. “Lebih baik begitu. Mamak tidak akan pernah mengijinkan uang haram itu ada di rumah kita.”
Aku hanya diam. Menutup mulut.
Esok lusa, rapat kampung tetap tidak kuasa menutup loket SDSB. Perdebatan berakhir sia-sia. Mang Dullah memutuskan vooting. Suara ibu-ibu tetap kalah banyak dibandingkan yang hadir. “Volksregering. Omong-kosong. Tidak ada demokrasi untuk orang-orang bodoh.” Itu komentar Wak Yati marah-marah setelah keputusan diambil. Mang Dullah, serta lelaki dewasa kampung lainnya juga terdiam. Membungkam mulut dengan wajah menunduk. 
Loket itu tetap dibuka. Tetap banyak warga yang duduk-duduk di sana. Setiap Rabu sore rajin berkumpul, asyik mendengarkan siaran langsung dari radio bantal. Samsurat tidak pernah lagi menceracau. Dia kembali ke kebiasaan lama. Hanya sibuk dengan dunianya sendiri. Percuma juga Pendi menarik-narik tanganku agar bersitatap muka dengan Samsurat. Dia hanya menatapku kosong, seperti tidak mengenali.
Bertahun-tahun berlalu, loket itu baru benar-benar tutup saat demonstrasi besar-besaran di banyak kota terjadi. Penolakan atas program sosial pemerintah itu pecah dimana-mana. Kabarnya, ribuan mahasiswa dan pemuda progresif di Jakarta menutup arus jalan, memblokade kantor pemerintahan. Dan akhirnya, pejabat pemerintahan pusat tidak punya pilihan selain menutup sumbangan berhadiah itu. 
Melihat berita itu di televisi, Wak Yati hanya berkomentar ringan, “Schat, kau tahu kenapa seorang pemimpin yang adil doanya makbul berkali-kali lipat?” 
Aku menggeleng, 
“Karena seorang pemimpin memegang baik-buruk nasib orang-orang yang dipimpinnya. Satu kata ‘Ya’ untuk misalnya program segelas susu gratis bagi anak-anak di seluruh pelosok negeri, maka itu bisa berharga seribu tangga-tangga ke langit. Tetapi sebaliknya, satu kaya ‘Ya’ untuk katakanlah program SDSB itu, maka itu segera memangkas berjuta pal jaraknya dia dari panasnya api neraka jahanam. Panasnya sudah terasa dekat sekali, meski dia belum mati.”
Aku menggaruk rambut. Tidak mengerti. 
Ah, Wak Yati selalu saja berfilosofi.
1). mijn lieve, schat: sayangku, anakku (Belanda); het gokken: berjudi; niet proberen: jangan pernah coba; volksregering: demokrasi, keputusan dari suara terbanyak.

Kamis, 23 November 2017

Tere Liye : Burlian

BAB 12. SDSB: SEMUA DAPAT SEMUA BUNGKAM - 1
------------------------------------------------------------------------
Salah seorang pemuda yang duduk di bale-bale bambu itu memanjangkan antena hingga maksimal, memutar-mutar tombol pencari gelombang agar siaran terdengar lebih jernih, lantas mengeraskan volume radio kotak berukuran bantal itu. Berempat mereka duduk berselimutkan sarung, saling merapat, memasang telinga baik-baik. 
Malam beranjak larut, tadi hujan lebat baru reda lepas isya. Semua orang sepertinya enggan kemana-mana selain duduk di dalam rumah masing-masing ditemani kopi hangat dan gorengan pisang. Satu-dua bintang mulai mengintip di atas langit.
Tere Liye Burlian

“Wak Lihan bilang dia pasang 7586 sebanyak sepuluh lembar. Sepuluh ribu rupiah. Gila, itu hampir semua uang jualan karet seminggunya.”
“Aku juga pasang banyak.” Pemuda yang lain menimpali.
“Berapa lembar?”
“Eh, dua belas lembar.” Pemuda itu menggaruk rambutnya. 
“Kau juga habiskan semua uangmu?” Tiga temannya menatap tidak percaya.
Bagaimana dia tidak akan melakukannya? Pemuda itu mengangkat bahu. Dengan reputasi Samsurat sebulan terakhir, tebakannya yang hampir selalu jitu, beda tipis sekali dengan angka yang keluar, semua orang tergoda untuk mencoba peruntungan. Siapa tahu kali ini Samsurat benar. Bisa menyesal sampai mati jika hanya menjadi penonton disaat orang lain tertubruk rezeki. Bisik-bisik kehebatan Samsurat memang sudah terdengar hingga ke kota kecamatan. 
Suara relay siaran berita RRI, penyiarnya dengan suara empuk berpamitan ke pendengar setia di seluruh penjuru nusantara. Sampai jumpa lagi esok di berita pagi. 
“Kencangkan lagi suaranya, Pendi.” Seseorang menyuruh.
“Ini sudah paling kencang.” Pendi yang disuruh, bersungut-sungut. “Baterai-nya sudah mau habis. Tidak kuat lagi. Bukankah sudah kubilang tadi siang, pakai radio kau saja kalau mau suaranya lebih bagus.”
“Tidak bisa. Bapakku memakainya di rumah. Mana mungkin aku mengganggu kesenangan dia mendengarkan siaran keroncong.”
“Oi, ini jauh lebih penting dibanding keroncong. Kalau kita menang, Bapak kau bisa pulang ke Jawa sana. Mudik pertama kali sejak jadi romusha jalan kereta.”
“Sstt… kalian bisa diam, tidak? Dengar! Sudah sebentar lagi.” 
Kedua pemuda itu segera membungkam mulut. Benar, selepas jingle pembuka yang khas, dari speaker besar radio terdengar suara berat menyapa. Suara yang mereka sudah hafal, yang setiap minggu membacakan angka-angka keberuntungan itu.
“Selamat malam donatur-donatur yang budiman dari Sabang hingga Merauke, saya harap malam ini kalian semua selalu dalam keadaaan sehat tidak kurang suatu apapun… baiklah, saya tahu kalian sudah tidak sabar menunggu… ya, pertanyaannya selalu sama setiap minggu, siapakah yang beruntung malam ini? Siapakah yang akan jadi OKB, orang kaya baru?” Pembawa acara tertawa. “Baik… pengundian sebentar lagi dilakukan… semua sudah lengkap.. terlihat di atas panggung, beberapa pejabat pemerintah sudah mendekati tabung pengundi… notaris… saksi-saksi.. ya, sudah dimulai..”
Hanya tetesan air hujan dari ujung genteng yang menjadi latar suara radio itu. Mereka berempat sudah konsentrasi penuh mendengarkan, takut benar tertinggal satu kata penting. 
“Nomor yang menang malam ini adalah… 7… ya itu angka pertamanya… 
“5… itu angka keduanya… 
“Ayo silahkan buka kertas sumbangan masing-masing… 8… itu angka ketiganya…”
Keempat pemuda di bale-bale bambu itu mendecit. Salah-seorang bahkan sejak angka kedua disebutkan sudah mencengkeram bahu rekannya kencang-kencang. Astaga! Berapa nomor yang Samsurat ceracaukan beberapa hari lalu? 7586. Tidak salah lagi, tiga angka sudah tepat, 758, tinggal satu angka lagi. Jangan-jangan tebakan Samsurat akhirnya tepat.
“Tabung pengundi bola-bolanya masih berputar… masih terus… terus… mulai melambat… melambat… ya, sudah berhenti… dan angka terakhirnya adalah … silahkan buka kertas masing-masing, donatur yang budiman…”
Pendi dan kawan-kawan menahan nafas. 
“… 7… angka terakhirnya 7… nomor yang beruntung minggu ini adalah 7587… selamat kepada para pemenang.. buat yang belum beruntung, jangan berhenti untuk menyumbang. Coba lagi… sampai bersua minggu depan, selamat malam semuanya. ”
Jika kalian bisa melihatnya serempak, maka hampir di setiap beranda, ruang tengah, atau kamar-kamar rumah panggung kampung kami, kalian akan bisa melihat semua orang berbarengan mendesah kecewa, menatap jengkel radio bantal masing-masing. Begitu pula dengan keempat pemuda yang sekarang berseru masygul, menepuk jidat di bale-bale bambu. Salah seorang di antara mereka merobek sepuluh lembar kertas sumbangannya. Yang lain menginjak-injak kertas itu sebal.
“Dasar radio sialan!” 
“Oi, jangan kau lempar radioku. Kalau kau marah, lempar saja radio punya bapak kau.” Si Pendi bergegas menyambar, mengamankan radionya.
***
SDSB. Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah. 
Inilah nama penyakit yang sedang ramai di kampung kami. Awalnya tidak ada yang peduli dengan ‘program sosial’ pemerintah itu, kebanyakan juga tidak tahu. Hingga entah siapa yang memulai, loket penjualan SDSB telah ada di kota kecamatan. Sepertinya tanpa tertahankan, pelan tapi pasti, sejak diluncurkan pemerintah belalai SDSB menjangkau kemana saja, tidak peduli seberapa terpencil sebuah kampung. 
Mulailah orang-orang berkenalan dengan SDSB. Awalnya satu-dua coba-coba pasang. Sesekali dijadikan topik pembicaraan di bale-bale kampung, lapangan, juga di depan rumah Bapak saat menonton siaran televisi ramai-ramai. Beberapa penduduk kampung lainnya tertarik, ikutan mendengar, ingin melihat seperti apa ‘kertas sumbangan’ itu.
“Oi, caranya sederhana saja. Kau tidak perlu lulus SD untuk mengerti.” Seseorang sudah seperti profesor berbaik-hati menjelaskan, “Jadi kalian datang ke loket kota kecamatan, menyebut angka yang hendak kalian pasang, petugas akan menuliskannya di kertas tersebut. Kalian bisa bisa pasang untuk 4 angka, 3 angka, atau untuk 2 angka saja. Setiap lembar berharga sumbangan seribu rupiah. Jika tebakan 4 angka kalian benar, maka hadianya dua juta setengah; jika tebakan 3 angka benar, maka hadiahnya sembilan ratus ribu; nah jika yang benar hanya tebakan 2 angka terakhir, hadiahnya hanya enam puluh ribu.”
“Oi, kenapa kalau pasang 2 angka hadiahnya cuma enam puluh ribu?” Salah seorang menyela, bertanya.
“Kau bodoh sekali. Tentu saja begitu, hadiahnya lebih kecil karena kemungkinan menangnya lebih besar. Beda halnya dengan pasang 4 angka, lebih sulit menebak nomor berapa yang akan keluar.”
Warga kampung mengangguk-angguk. Benar juga.
“Berapa banyak yang bisa kami pasang?”
“Lebih bodoh lagi pertanyaan kau. Bebas, oi, sejak kapan menyumbang dibatasi?” Warga kampung yang duduk di depan rumah Bapak tertawa, mengabaikan siaran televisi. “Terserah kalianlah mau pasang berapa. Semakin banyak kalian pasang, maka kemungkinan menang semakin tinggi. Nah, kalian tinggal menghidupkan radio setiap Rabu malam pukul 9, menunggu pengumuman dari Jakarta angka berapa yang menang. Sekali nomor kalian yang disebut, besoknya kalian bisa menebus hadiah itu di kota kabupaten. Hebat bukan? Menyumbang seribu dapat dua juta setengah? Kalian bisa beli kerbau seekor.”
Orang-orang tertawa lagi, mengangguk, berebut melihat kertas ‘si profesor’ yang sudah ditulisi angka-angka. Meraba ujung-ujungnya, mengamati setiap bagiannya; ber-oh takjub, karena kertas sakti berhadiah seharga seekor kerbau ternyata biasa-biasa saja. Di pojok kiri atasnya hanya tertulis: Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah.
***
“Oh schat, het gokken. Itu judi, Burlian.” Wak Yati berkata mantap, duduk menatap kampung dari beranda atas rumah panggungnya.
“Mau dibilang apapun, alasan apapun, sumbangan, bantuan sosial, apa saja namanya, itu tetap judi. Dan sejak Wawak tinggal di sini, penyakit yang paling susah diperbaiki dari penduduk kampung adalah tabiat berjudi. Kalau kau hanya suka mabuk-mabukan, mencuri, suka berkelahi itu bisa diobati, bisa dihentikan perangai buruknya. Kalau judi jangan ditanya. Kau boleh jadi sudah tobat selama bertahun-tahun, sudah berhenti lama sekali, tapi saat ada kesempatan untuk melakukannya lagi, maka dengan cepat kau tergoda. Kembali ke tabiat buruk itu.”
Aku mengangguk-angguk sok-mengerti. 
Tadi aku disuruh Mamak mengantar makanan ke Wawak, enggan bergegas pulang, jadilah duduk-duduk di beranda rumah panggungnya. Menemaninya ngobrol. Sebenarnya, selama ini setiap kali berbincang dengan Wak Yati, paling hanya separuh kalimatnya yang aku mengerti. Aku suka saja bicara dengannya. Kata Bapak, sayangnya Wak Yati perempuan, jadi Nenek dulu melarang ia pergi merantau ke kota, kalau tidak, boleh jadi kami punya Wawak yang menjadi pejabat tinggi di sana. Meski bergurau, aku percaya kalimat Bapak. Mendengar Wak Yati bicara selalu seru, ia selalu terdengar bijak dan bisa menjelaskan banyak hal.
“Kau tahu, mijn lieve, yang jahat dari berjudi bukan soal kehilangan uang taruhannya. Proses judi itu sendirilah yang jahat. Judi seolah memberikan jalan pintas bagi warga kampung, angan-angan indah. Seolah-olah jika kau beli selembar SDSB seribu rupiah, besok kau otomatis dapat dua setengah juta. Hidup mendadak berubah lebih baik. Mana ada warga kampung yang lulus Sekolah Rakyat pun tidak, bisa bertahan atas godaan seperti itu. Dan saat mereka mulai tenggelam dalam mimpi-mimpi tersebut, daya rusak judi lebih jahat lagi. Mereka malas bekerja, memaksa menjual perabotan rumah sebagai modal, mencuri, bertengkar, semuanya dilakukan demi selembar kertas.” Wak Yati menghela nafas pelan, mengambil kotak sirih di atas meja. Gigi-gigi Wak Yati walau berwarna kuning belum ada yang tanggal. Untuk perempuan tua berusia tujuh puluh lima, fisik Wak Yati masih baik sekali.
“Kau pasti pernah mendengar cerita menggelikan tentang tabiat buruk judi, bukan?”
Aku mengangguk cepat, teringat dua pemuda yang dulu bertaruh dua kali saat menonton pertandingan tinju Elyas Pical di depan rumah.
“Wawak punya satu…. Kisah ini pertama kali diceritakan Nenek kau, tapi Wawak yakin, hingga cucu-cucu kau kelak, olok-olok ini tetap akan sering diceritakan orang tua kepada anak-anaknya agar mereka mengerti betapa menggelikannya urusan judi.” Wak Yati sudah tertawa kecil lebih dulu sebelum bercerita.
“Jadi ada seorang pemuda, anak Haji, ulama yang paling disegani di masanya. Keluarga mereka amat terhormat. Sayangnya, anak Haji itu suka sekali sembunyi-sembunyi menyabung ayam. Hingga suatu hari, salah-seorang bujang Haji melihatnya. Bergegaslah bujang itu lari-lari kecil pulang untuk melapor. ‘Tuan Guru, Tuan Guru… celaka urusan.’ Tersengal si bujang melapor. ‘Celaka apanya, Malih?’ Haji itu bertanya. ‘Anak Tuan Guru… aku melihatnya menyabung ayam di kota.’ Terkejutlah Haji itu, ‘Astagfirullah. Astagfirullah.’ Ber-istigfar berkali-kali. ‘Sungguh anak tidak tahu berbudi, mau ditaruh kemana mukaku.’ Haji itu mengurut dadanya yang sesak. ‘Tapi… tapi…’ si Bujang terbata-bata menyela. ‘Tapi apa, Malih?’ Haji itu cemas bertanya lagi. ‘Tapi anak Tuan Guru menang.’ si Bujang memberitahu. ‘Alhamdulillah.’ Haji itu seketika tersenyum lebar.” 
Aku tertawa gelak memegangi perut mendengar cerita Wak Yati. Astaga, benarkah cerita anak Pak Haji ini?
“Tentu saja itu olok-olok, Burlian.” Wak Yati menatapku lamat-lamat. “Hanya olok-olok… tapi kau harus ingat kata-kata Wawak.. NIET PROBEREN… jangan sekali-kali kau mencoba berjudi. Sekali kau melakukannya, maka tabiat buruk itu seperti stempel yang dicap dijidat kau. Tidak akan pernah hilang, tidak akan pernah bisa sembuh. Esok-lusa saat mendapatkan kesempatan lagi, kau tidak akan tahan godaannya, dan ketika itu terjadi, boleh jadi tabiat kau bisa lebih menggelikan dibandingkan olok-olok anak Haji itu.”
***
Sumpah, aku mendengarkan baik-baik petuah Wak Yati, tetapi kalau menaatinya itu urusan yang berbeda. Lagipula urusan ini juga bukan semata-mata salahku. Seminggu berlalu, penjualan kupon SDSB itu justru dibuka di kampung kami. Wak Lihan tega menyewakan bagian bawah rumah panggungnya untuk dijadikan loket SDSB. Maka warga kampung tidak perlu lagi jauh-jauh ke kota kecamatan untuk membeli kertas sumbangan berhadiah itu.
“Oi! Hampir saja… aku sudah pasang lima lembar nomor 3798 seperti yang diceracaukan Samsurat beberapa hari lalu. Sudah bermimpi bisa punya rumah baru, ternyata yang keluar 3789. Dasar bedebah!” Salah seorang dari kerumunan laki-laki dewasa yang duduk menonton pertandingan bola di stasiun kereta memulai pembicaraan.
“Kau masih beruntung. Aku bahkan menghabiskan uang hasil jualan getah karetku. Aku pasang semua, 4 angka, 3 angka dan 2 angka. Meleset semua. Sialan sekali Samsurat memberi nomor selalu kalau tidak salah di angka terakhirnya, salah di angka ketiganya. Habis semua uangku. Istriku marah-marah. Uang rokokku disita untuk membeli beras. Tidak bisa merokok aku sekarang. Tidak punya uang.”
“Kau linting sajalah kertas SDSB-nya, dijadikan rokok. Beres bukan?” Yang lain menimpali, membuat pinggir lapangan ramai oleh tawa.
Dan bagian paling seru diperdebatkan bukan soal berapa jumlah uang yang hilang minggu lalu, bukan pula ekspresi kecewa betapa tipisnya perbedaan nomor itu, yang ramai dibicarakan adalah Rabu ini akan pasang nomor berapa. Wak Yati benar, judi itu merusak bukan soal uangnya yang hilang sia-sia, tapi karena proses judi itu sendiri. Mengikat buhul tangan siapa saja, dan sekali terjebak, maka susah sekali untuk berhenti. Angan-angan indah itu mengalahkan fakta sudah berapa banyak kerusakan yang diperbuat.
“Apa kata Samsurat?” Seseorang memulai lagi.
“Belum ada. Dia masih diam, enggan bicara. Padahal sudah hari Selasa, dia belum juga memberikan nomor tebakan.”
“Oi, bahaya ini, kalau besok dia tetap tidak menyebut sembarang angka, kita akan pasang apa? Ada banyak sekali kemungkinannya.” Yang lain berseru menggelengkan kepala. Diikuti oleh suara keluh yang lain.
“Kalian tahu, aku semalam mimpi ganjil sekali. Aku mimpi menangkap seekor ikan, dan anehnya di badan ikan itu seperti tertulis angka-angka—“ Salah-satu pemuda di antara mereka menyela, bercerita.
“Oi, kalau kau yang mimpi tidak ada gunanya.” Seseorang segera memotong.
“Benar! Minggu lalu keempat-empat angka yang kau pasang tidak ada yang cocok satu pun. Kami tidak akan percaya.” Kerumunan itu ramai oleh tawa merendahkan.
“Kalau begini, harus ada yang bisa membujuk Samsurat menebak nomornya. Malam ini, kita datangi dia di bale-bale. Kita harus bujuk dia.” Cetus pemuda yang duduk paling pojok, menghentikan suara tawa. Yang lain mengangguk-angguk setuju.
Aku yang kebetulan duduk jongkok di dekat kerumunan itu mendesah kecewa. Tadinya kupikir mereka sudah punya bocoran nomor tebakan dari Samsurat. 
Sejak loket itu dibuka di bawah rumah panggung Wak Lihan, aku sembunyi-sembunyi ikut memasang angka. Awalnya hanya coba-coba, ingin tahu seperti apa rasanya. Dua minggu lewat, sensasi ikut-ikutan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang menarik. Perasaan tegang bercampur seru. Tegang karena takut ketahuan Mamak, seru karena setiap pagi-pagi Kamis tidak sabar mendengar kabar nomor berapa yang keluar dari bisik-bisik warga kampung. Aku tidak berani mendengarkan siaran langsungnya di rumah. 
Anak kampung lain juga ikut-ikutan memasang nomor SDSB. Aku pernah bertemu Munjib dan Can yang sembunyi-sembunyi masuk ke loket. Bersitatap tahu sama tahu. Lantas tanpa banyak bicara bergegas mengeluarkan uang, menyebut angka keberuntungan masing-masing. Balik kanan, pulang ke rumah masing-masing. 
Loket SDSB di bawah rumah panggung Wak Lihan mulai buka sejak Rabu pagi. Sepanjang hari penduduk kampung bisa memasang nomor di sana. Loket itu baru sore hari. Persis pukul lima sore, petugasnya akan bergegas ke kota kecamatan, melaporkan berapa banyak kertas yang terjual dan nomor apa saja yang dipasang. Lantas petugas kota kecamatan secara berantai melaporkannya ke kota kabupaten. 
Meski pembelian kertas SDSB hanya dilayani Rabu, hampir setiap hari ada saja tetangga yang duduk-duduk di loket itu. Sibuk berbincang tentang nomor bertuah, tentang mimpi yang boleh jadi isyarat angka-angka. Mencari petunjuk dari kejadian ganjil. Dan setiap Rabu, semakin sore orang yang duduk-duduk di sana semakin ramai, tidak peduli gerimis membasuh kampung. Mereka menunggu malam, menunggu siaran radio.
Kampung kami benar-benar punya kesibukan baru.

Rabu, 22 November 2017

Tere Liye : Burlian

BAB 11. MENUNGGU DURIAN JATUH – 2
“JATUH KAKEKNYAAAA!!” Aku berteriak kencang sekali. Membuat burung-burung yang bercengkerama di pohon sekitar kebun durian mencicit kaget, terbang menjauh. Apalagi Bakwo Dar yang sedang santai melinting rokok daun jagung, terperanjat. Kotak tembakaunya menggelinding jatuh ke bawah dangau.
Aku tertawa bahak. Mengabaikan Bakwo Dar yang mengomel. Barusaja satu buah durian terlepas dari tangkainya. Jatuh berdebam di atas semak pojokan kebun. Segera berdiri menatap sekitar. Menunggu dengan hormon kesenangan memuncak. Ayo, ayo jatuh lagi. 
Dan benar saja, beberapa detik lewat, menyusul jatuh satu buah durian lagi.
“JATUHHH BAPAKNYAAA!!”
Didengar dari suaranya, sepertinya durian yang baru jatuh cukup besar. Jatuh di bantaran sungai. Kali ini Bakwo Dar hanya menatapku nyengir, urung mengomel. Ikut berdiri melongok ke arah jatuhnya buah durian barusan. 
Tere Liye Burlian

Selepas menghabiskan nasi lemang dan ikan pindang spesial ala Bakwo Dar, kami duduk-duduk santai menunggu di atas dangau. Matahari akhirnya persis di atas kepala, membakar tangkai-tangkai buah durian. Apa yang kubilang tadi, hanya soal waktu, buah durian yang sudah matang di pohon itu akan berjatuhan kapan saja. 
Sudah dua jatuh. Aku semakin antusias memperhatikan seluruh kebun. Menatap berputar dengan seksama. Memasang kuping baik-baik. Tanpa sadar mulai memukul-mukul keras tiang dangau. Berbisik, ayo, ayolah jatuh lagi. 
Bakwo Dar tertawa melihat tingkahku, “Nanti dangaunya roboh, Burlian.”
Aku tidak mendengarkan. Tetap memukul tiang dangau keras-keras. Tetap sibuk dengan doa-doa. Pengharapan. 
‘Doa-doa’?
Ya, doa-doa. Di kampung kami sudah menjadi kebiasaan, jika kalian menunggui kebun durian, maka selepas jatuh durian pertama, kalian reflek akan berseru: JATUH KAKEKNYA! Itulah teriakan pengharapan. Doa-doa. Semoga dengan begitu segera menyusul jatuh buah durian berikutnya. Dan jika memang menyusul jatuh buah durian berikutnya, maka sekarang giliran kalian berteriak: JATUH BAPAKNYA! Semoga menyusul buah durian berikut-berikutnya. Dan seterusnya jika memang menyusul lagi jatuh buah durian berikutnya, dilanjutkan berteriak ‘JATUH ANAKNYA!’, ‘JATUH CUCUNYA!’ begitu terus, sampai “JATUH CUCU-CUCU-CUCUNYA!” tidak terhingga.
Bakwo Dar-lah yang mengajari kami kebiasaan ini. Aku tidak tahu apakah itu tradisi kampung sejak puluhan tahun silam, atau hanya karang-karangan Bakwo saja agar menunggui kebun durian jadi lebih menyenangkan. Beberapa tahun silam Bakwo mengajak aku, Kak Pukat dan Ayuk Eli. Dan seharian kami bertiga berebut berteriak paling awal setiap mendengar buah durian jatuh. Teriakan-teriakan itu membuat ramai. Membuat keheningan hutan terbelah oleh tawa riang kami. Apakah buah durian lantas jadi berjatuhan karena diteriaki, tentu saja belum tentu. Tetapi siang ini, teriakan-teriakanku cukup sakti. Lihatlah, dalam hitungan detik, dari arah belakang, kembali terdengar suara buah durian menerabas dedaunan, lantas berdebam ke semak terpangkas di bawahnya.
“JATUHH ANAKNYAAA!!” Aku sudah berteriak kencang-kencang, takut keduluan. Seolah di sana ada Kak Pukat atau Ayuk Eli yang akan berteriak lebih cepat.
Bakwo Dar menepuk jidatnya, tertawa melihatku. 
Ayo, ayolah jatuh satu lagi. Aku terus berbisik penuh pengharapan. Dan benar saja, entah karena doaku siang ini memang sedang makbul atau memang buah durian itu sudah saatnya jatuh, belum beberapa detik membatin, terdengar suara getas tangkai berikutnya, lantas suara berdebam menghantam belukar. Yang satu ini jatuh dekat sekali dari dangau.
“JATUHH CUCUNYAA!!” Aku dan Bakwo Dar berteriak hampir bersamaan.
***
Bakwo mengambil pisau besarnya, tangkas menuruni tangga dangau. Aku bergegas ikut, membawa keranjang rotan di punggung. Saatnya mengambil durian-durian yang jatuh. Ini prosedur normal, jika setengah jam berlalu tidak ada lagi buah durian yang jatuh, maka saatnya berkeliling kebun. 
“Kalian tidak mau kepala kalian tertimpa buah durian, bukan?” Itu omel Bakwo Dar waktu pertama kali kami ikut. Saat itu kami saling sikut hendak mengambil durian yang baru saja jatuh. Bakwo Dar benar, tidak ada yang tahu kapan dan di mana durian-durian itu jatuh. Bala sebaiknya dihindari.
Buah-buah itu meski jatuh dari ketinggian belasan meter, tetap utuh, tidak pecah. Itulah gunanya semak belukar yang dipangkas di bawah pohon. Buah-buah berduri itu tertahan lebih dulu sebelum berdebam menghantam tanah. Bakwo Dar menyibak dedaunan dan belukar, mengeluarkan sebuah durian besar. Aku bergegas mendekat, membantu memasukkannya ke dalam keranjang. Ada lima durian yang jatuh barusan. Empat durian pertama gampang saja menemukannya, tapi yang kelima, yang jatuh dekat sungai agak susah dicari. Bakwo Dar harus menebas semak yang menyerupai ilalang agar dapat melihat buah itu. Menyuruhku jongkok mengambilnya. Dengan keranjang rotan terisi separuh, kami kembali ke dangau.
Duduk santai menunggu putaran berikutnya. 
Sambil menunggu, Bakwo Dar mengeluarkan pisau kecil dari pinggang, mengambil salah-satu durian, berusaha membuka kulitnya. Aroma buah durian menusuk hidung saat kulit berdurinya terbuka. Bakwo Dar sambil menyeringai tipis menyodorkan durian yang sudah terbelah. Aku tentu saja tidak menolaknya. 
“Kelas berapa kau sekarang, Burlian?”
“Khe-laz em-phat.” Aku yang sedang mengunyah menjawab pendek.
“Ahiya, kau sekelas dengan Can.” Bakwo Dar mengangguk.
Aku ikut mengangguk, menjilati ujung jemari.
“Tadi pagi Can bersikeras ingin ikut, tapi Mamak-nya menyuruh menemani ke kebun kopi. Membantu membersihkan rumput dan ilalang. Anak itu kalau tidak dipaksa ke kebun, kerjanya setiap hari bermain saja.” Bakwo Dar meletakkan pisau kecilnya.
Aku nyengir, merasa ikut tersindir, karena kalau Can pergi bermain itu biasanya bersama aku dan Kak Pukat. Meraih pisau kecil milik Bakwo Dar, ingin merekahkah ruas durian yang belum terbuka. Durian dari kebun ini selalu enak. Daging isinya tebal-tebal, berwarna kemerah-merahan, rasanya gurih manis, dan bijinya kecil saja. Kata Bakwo, itu durian bangkok. Bibitnya diperoleh dari keluarga China yang pernah tinggal di kota kecamatan. 
Gerakan tanganku merekahkan durian terhenti sejenak. Aku menatap pisau kecil itu. Sepertinya aku mengenali pisau ini.
“Bagus bukan? Itu hadiah.” Bakwo Dar menjelaskan sebelum aku bertanya, “Persis seperti pisau kepunyaan Bapak kau di rumah. Hadiah dari Lik Lan tiga tahun lalu.”
Aku mendengus pelan. Pantas saja aku mengenalinya. Oi, gara-gara pisau seperti inilah aku dan Kak Pukat beberapa tahun lalu pernah dikurung semalaman oleh Lik Lan di ruangan stasiun keretanya.
“Lulus dari SD kampung kau akan sekolah di mana, Burlian?” Bakwo Dar bertanya.
Pertanyaan Bakwo Dar mengusir ingatan paku baja yang diletakkan di atas rel kereta api dulu. Aku menggeleng, tidak tahu. Mungkin seperti anak-anak kampung lainnya, melanjutkan sekolah di SMP kota kabupaten. 
“Sekolah itu penting… dan akan selalu penting, Burlian.” Bakwo Dar menyandarkan punggung di tiang dangau. “Kau tahu apa penyesalan terbesar Bapak kau?”
Keasyikanku membuka kulit durian seketika terhenti. Apa yang Bakwo cakap? Penyesalan terbesar Bapak? Itu akan jadi cerita yang menarik. Selama ini, selain karena menemukan hal-hal seru, alasan kenapa aku selalu suka pergi bersama Bakwo Dar karena berkesempatan untuk mendengarkan ‘cerita-cerita’ darinya. Cerita tentang masa kecil Bakwo Dar, masa kecil Bapak, bahkan masa lalu seluruh kampung kami. 
Aku segera menyingkirkan buah durian. Menatap Bakwo Dar, memasang ekspresi wajah, teruskan! Teruskan!
Bakwo Dar tertawa, melambaikan tangannya, “Lupakan saja. Sebaiknya kau kembali menunggu durian berjatuhan. Bersiap berteriak-teriak sana. Nanti kau kalah cepat.”
Aku menghembuskan nafas kecewa. 
Tadi juga Bakwo Dar urung cerita soal makanan paling lezat yang membuatnya menangis. Yang ini tidak boleh batal. Apalagi judulnya sudah penting sekali, penyesalan terbesar Bapak. Cerita seperti ini tidak akan pernah kami dengar dari Bapak langsung. Kalau tentang makanan tadi, itu lebih mudah mencari tahunya, tinggal bertanya ke Mamak. Tidak adil. Harusnya Bakwo Dar tidak terlanjur menyebutkan kalimat itu jika enggan bercerita. Kalau sudah begini sama saja menyiksaku penasaran ingin tahu.
“Seperti yang kau tahu, Burlian, hanya aku dan bapak kau anak laki-laki dari sebelas bersaudara di keluarga Nenek kau.” Syukurlah, Bakwo Dar setelah puas melihat tampang terlipatku, terkekeh pelan, akhirnya bercerita. “Kami tumbuh bersama, berbagi banyak hal. Bukan hanya tempat tidur atau pakaian yang saling pinjam, tapi juga termasuk berbagi masa-masa sulit.”
Aku memperbaiki posisi duduk. Takjim mendengarkan.
“Sejak kecil Bapak kau sudah enggan sekolah. Tapi itu bukan salah Bapak kau juga. Jaman itu, justru anak-anak yang selalu semangat berangkat ke sekolah yang terlihat aneh. Aku juga malas dipaksa berjalan kaki belasan pal hanya untuk mendengar guru mengajarkan hal-hal yang tidak penting. Membaca buku yang itu-itu saja. Atau setiap hari mencatat kalimat yang lebih banyak tidak kumengerti. Karena itu, wajar saja jika kami berdua hampir tiap hari diteriaki Nenek kau, dikejar-kejar dengan sapu ijuk, dipaksa masuk sekolah. Tapi semuanya sia-sia. Kami hanya bertahan hingga kelas tiga Sekolah Rakyat. Setelah pandai membaca dan berhitung, maka rasanya selesai sudah semua pengetahuan yang harus kami pelajari.”
Aku menggaruk rambut, teringat kalau aku dan Kak Pukat juga hampir setiap hari diteriaki Mamak agar bergegas bangun, bergegas mandi, bergegas berangkat sekolah.
“Usia kami enam belas saat memutuskan merantau ke kota provinsi. Waktu itu, kebanyakan pemuda kampung, jika tidak menikah di usia dini, berkebun sebagai petani, maka sisanya akan mencoba peruntungan dengan merantau. Pilihan kedua itulah yang aku dan Bapak kau lakukan. Berbekal buntalan kain kumal, sedikit uang dari Nenek kau, kami mengokohkan niat berangkat. Kakek kau sudah meninggal enam tahun saat kami meninggalkan kampung.”
“Aku ingat sekali hari keberangkatan itu, kami menumpang kereta. Masa-masa itu kereta api masih menggunakan batubara, asap cerobongnya mengepul sepanjang perjalanan, dan percikan api dari pembakaran batubara bisa membuat baju berlubang-lubang. Setiba di kota provinsi, aku tertawa melihat kemeja Bapak kau yang penuh dengan lubang-lubang hitam kecil. Dia keras kepala memaksa melihat lokomotif kereta, jadilah seperti itu.” Bakwo Dar tertawa sejenak, mengusap rambutnya yang beruban.
“Kami melakukan apa saja untuk bertahan hidup di kota. Dan aku agak menyesal pernah mentertawakan kemeja Bapak kau, karena setelah berbulan-bulan menganggur, pekerjaan pertama kami justru menjadi petugas tungku lokomotif kereta api. 
“Kami Sekolah Rakyat pun tidak lulus, tidak punya ijasah, jadi mau dibilang apa? Lagipula gaji petugas tungku tidak buruk-buruk amat, maka aku mengiyakan tawaran itu. Kami bertugas menjaga agar tungku tetap membara, memastikan ketel air terus mengeluarkan uap, dan menumpahkan batu bara tambahan. Kami duduk di ruangan yang sempit dan panas sepanjang perjalanan.” 
Aku menyeringai, teringat cara kerja setrikaan besi Ayuk Eli di rumah.
“Meski tersiksa, kabar baiknya pekerjaan itu membuat kami bisa selalu pulang, bukan? Setiap kali kereta melintas di depan kampung, aku dan Bapak kau meminta masinisnya berhenti lima-sepuluh menit. Hanya untuk mampir bertemu Nenek kau. Sampai masinisnya bosan dan marah-marah. Sampai penumpangnya hafal kalau di stasiun Padang, kereta akan berhenti lebih lama.” Bakwo Dar tertawa.
“Adalah tiga tahun kami bertugas di lokomotif itu. Saat aku mulai merasa ruang sempit itu laksana ruang kantor luas berpendingin, saat Nenek kau omong-besar bilang ke tetangga kalau anak-anaknya sebentar lagi diangkat menjadi kepala stasiun kota, semuanya mendadak berubah. Teknologi kereta baru tiba, tenaga diesel. Dan kereta-kereta uap itu segera apkir, termasuk petugasnya. Yang dibutuhkan sekarang adalah teknisi, insinyur. Sementara kami hanya pekerja kasar. Kami tidak lagi dibutuhkan. Kami kembali menganggur di kota provinsi.” Bakwo Dar menyeka peluh di dahi. Matahari meski sudah bergesar ke arah barat, tetap bersinar terik. Udara semakin gerah, pertanda nanti malam akan turun hujan lebat lagi.
“Butuh dua tahun hingga kami mendapatkan pekerjaan kedua, dan selama dua tahun itu pula kami malu pulang kampung. Bagaimana tidak? Setiap pulang, tetangga sebelah rumah menyapa kami, ‘Selamat pagi, Pak Kepala Stasiun’. ‘Mau kemana, Pak Kepala Staisun’. Bahkan bapak Lik Lan yang waktu itu jadi kepala stasiun kampung ikut tertunduk-tunduk setiap melihat aku dan bapak kau…. Syukurlah saat kami mulai putus-asa, mulai jengkel dengan situasi, pembangunan Bandara Talang Betutu dimulai. Proyek itu butuh ribuan pekerja kasar. Ke sanalah aku dan Bapak kau pergi mendaftar. Menjadi kuli bangunan.”
“Jujur saja, pekerjaan itu jauh lebih berat dibandingkan menjadi petani. Dan sialnya, gajinya tidak otomatis lebih banyak. Tapi kami tidak punya pilihan…. Jam kerja dimulai saat sirene dibunyikan, dan baru berhenti setelah sirene dibunyikan lagi. Jadwal makan diatur. Jadwal istirahat ditentukan. Tidur dibarak-barak seadanya. Bersesakan empat orang setiap kamar…. Di barak itulah, Bapak kau mulai menyadari kalau sekolah penting sekali. 
“Setiap enam bulan, pimpinan proyek bandara memberikan kesempatan kepada tenaga kasarnya yang memiliki ijasah untuk ikut seleksi menjadi mandor. Dan kau tahu Burlian, kebetulan dua teman kami yang satu kamar di barak memiliki ijasah SR. Satu per-satu mereka naik pangkat, sementara aku dan Bapak kau tetap menjadi kuli kasar. Diperintah. Diteriaki. Dimaki. Dua mandor baru itu seperti lupa kalau pernah tidur seperti sarden dalam kamar sempit bersama kami.”
“Aku tahu, setiap kali selesai bekerja, badan basah kuyup oleh peluh, seluruh persendian terasa pegal dan lelah, lantas melintas di bangsal bagus tempat mandor, insinyur, serta pejabat proyek, Bapak kau hanya mendesah pelan. Bapak kau hanya tertunduk, ingat betapa susahnya dia dulu disuruh Nenek kau pergi sekolah. Ingat betapa bebalnya dia disuruh sekolah. Tapi mau dibilang apa? Semua sudah tertinggal belasan tahun silam. Itu penyesalan pertamanya.” Bakwo Dar menghelas nafas. Terdiam sebentar, memperbaiki posisi duduk. 
Suara burung terdengar berceloteh di pohon durian dekat dangau.
“Bandara itu selesai dalam waktu tiga tahun, dan jauh-jauh hari sebelum uji-coba penerbangan pertama dilakukan, barak-barak itu sudah dirobohkan, ribuan pekerja diberhentikan, termasuk aku dan Bapak kau. Kami tidak dibutuhkan lagi, kecuali beberapa orang saja untuk penyelesaian akhir.”
“Aku dan bapak kau kembali serabutan. Pindah dari satu proyek ke proyek bangunan lainnya. Sedikit keterampilan yang kami punya selain bertani adalah mengaduk semen dan memasang batu-bata. Sedikit kelebihan yang kami miliki selain terbiasa di hutan adalah terbiasa duduk di ruang sempit panas atau tidur di barak sesak. Sayangnya, tidak banyak pekerjaan yang tertarik dengan keterampilan dan kelebihan yang kami miliki itu selain jadi kuli. Maka itulah pekerjaan kami. Kuli bangunan.” 
“Kau tahu hal yang paling menyakitkan dari hanya sekadar menjadi pekerja kasar? Yaitu ketika tidak ada yang menghargai apa yang telah kau kerjakan. Bapak kau di masa mudanya sangat sensitif dan mudah sekali marah. Apalagi dia mulai frustasi dengan mimpi-mimpinya saat pertama kali memutuskan merantau. Saat pertama kali kami menaiki kereta batu bara itu, saat usianya enam belas tahun, sepanjang perjalanan dia tidak pernah berhenti berceloteh soal dia akan melakukan hal yang hebat, melihat dunia, berkenalan dengan banyak orang, mendapatkan kekayaan, lantas pulang membuat bangga Nenek kau. Tapi hampir sepuluh tahun merantau, semuanya jauh api dari panggang.”
“Setelah bertahun-tahun hanya jadi kuli, terbetik kabar ada kesempatan pekerjaan yang lebih baik. Aku dan Bapak kau dengan semangat datang. Tertawa lebar saat tahu itu gedung yang pernah kami kerjakan beberapa tahun sebelumnya. Dengan antusias Bapak kau ikut mendaftar. Soal percaya diri, Bapak kau memang luar-biasa. Tidak peduli meski tampilan kami jauh dari layak memasuki gedung yang sudah terlihat hebat itu, dia memaksa masuk. Hasilnya mudah ditebak, kami diusir. Bapak kau berseru-seru marah, bilang dialah yang mengaduk semen pondasi gedung itu, menyusun batu bata di dindingnya. Percuma, tidak ada yang peduli. Siapa yang akan ingat dengan bekas pekerja kasar? Malam-malam sejak kejadian itu, aku pikir Bapak kau berpikir banyak hal tentang kehidupan.” 
“Kami sempat melintas melihat bandara yang sudah beroperasi, menatap pesawat yang datang mendarat dan terbang pergi. Aku bisa melihat wajah Bapak kau yang terlipat. Aku tahu dia amat menginginkan memasuki bandara itu, menyentuh pesawat yang ada, membayangkan seperti apa rasanya menaikinya. Melihat dunia dari ketinggian. Sayangnya, itu tidak bisa dilakukan…. Usia kami dua puluh lima saat aku mengutarakan ide kenapa tidak kembali ke kampung saja. Menjadi petani yang baik. Memiliki kehidupan yang lebih cocok. Bapak kau sontak melotot marah. Bilang dia tidak akan pulang, tidak akan pernah menyerah.” 
“Kau tahu, Burlian, soal keras-kepala Bapak kau juaranya. Tentu saja jangan bandingkan dengan Bapak kau yang saat ini jauh lebih bijak dan mengerti banyak hal tentang hidup. Dulu dia susah sekali diajak bicara. Keras kepala…. Karena keras-kepala itulah dua tahun kemudian kami terdampar di Plaju. Masa-masa itu banyak pengeboran dan kilang minyak dibangun di sana. Lagi-lagi dengan modal keras-kepala itu, aku dan Bapak kau ikut bekerja sebagai buruh kasar di kilang-kilang minyak.”
“Kehidupan di perusahaan minyak memperlihatkan batas yang jelas antara kau yang pekerja kasar dengan orang lain yang memiliki keahlian. Mulai dari seragam, gaji, hingga perlakuan yang diterima. Kabar baiknya, bapak kau tidak mau menyerah. Dia semangat secara otodidak mempelajari banyak hal. Dia rajin bertanya dan mencatat di kepala pengetahuan-pengetahuan baru. Dia ingin membuktikan meski sekolah rakyat pun tidak tamat, dia bisa melakukan banyak hal. Aku pikir usahanya mulai berhasil. Beberapa insinyur terkesan padanya. Beberapa bulan berlalu, Bapak kau berhasil diangkat menjadi mandor pertama yang tidak memiliki ijasah sekolahan. Aku tidak bisa melupakan wajahnya yang sumringah ketika suatu malam dia memperlihatkan topi putih, rompi menyala dan sepatu bot hitam mengkilat sebagai seragam mandor. Bergaya mondar-mandir di kamar sewaan kami.” 
Bakwo Dar terdiam sebentar. Tertawa mengenang masa-masa itu.
Angin lembah bertiup kencang. Terdengar suara keresek dedaunan, itu sepertinya durian hendak jatuh. Biasanya aku akan reflek berteriak “JATUH KAKEKNYAA!” secepat mungkin, tetapi kali ini aku justru sedang mengingat kembali kalau beberapa tahun lalu juga pernah melihat seragam mandor. Si pengebom hutan. Orang yang memanggilku ‘monyet pengganggu’.
“Sejak hari itu, sepertinya hidup mulai berpihak pada Bapak kau, Burlian.” Bakwo Dar tertawa getir melanjutkan, “Dia diberikan banyak fasilitas. Bangsal yang lebih baik, ransum makanan yang mewah dan gaji yang lebih tinggi. Aku ikut senang. Apalagi mendengar celoteh Bapak kau yang bilang tentang esok-lusa boleh jadi dia diangkat jadi manajer kilang. Bertugas di seberang pulau. Melihat dunia. Dia tertawa riang membayangkan hal itu.”
“Ah, kabar baik boleh jadi memang tidak pernah berpihak kepada orang-orang yang tidak memiliki ijasah sekolah. Terjadilah kebakaran hebat di salah-satu kilang. Bukan wilayah kerja Bapak kau, dan jelas bukan tanggung-jawab Bapak kau, tapi dampaknya menjalar kemana-mana. Induk perusahaan minyak di Amerika memutuskan untuk menerapkan apalah nama binatang itu, ‘prosedur keselamatan kerja’ kalau tidak salah. Maka aturan baru diterapkan. Semua prosedur dirubah. Semua mandor ke atas harus memiliki sertifikat keselamatan kerja.”
“Bapak kau hanya punya dua pilihan, menunjukkan ijasah sebagai syarat sertifikasi atau diturunkan posisinya. Bapak kau yang masih muda, masih tinggi emosinya, tidak memilih salah-satunya, dia justru memilih pilihan ketiga: berhenti. Melipat seluruh mimpi-mimpinya esok-lusa berkesempatan dipromosikan lagi, esok lusa siapa tahu ditugaskan di tempat-tempat lain, negara-negara lain. Bapak kau marah-marah sepanjang hari. Menyalahkan masa lalunya. Hanya gara-gara ijasah SR itu, semuanya tamat. Itu penyesalan keduanya.”
Aku seperti halnya Bakwo Dar ikut menghela nafas. Teringat bagaimana ekspresi ‘benci’ Bapak dulu setiap kali melewati lokasi kerja si Pengebom hutan kampung itu.
“Sejak berhenti dari kilang, Bapak kau berubah jadi pendiam. Aku mulai cemas apa dia baik-baik saja. Belum lagi dari kampung terbetik kabar kalau Nenek kau mulai sakit-sakitan. Umur kami waktu itu menjelang tiga puluh. Dengan semua kejadian, kami seperti berada di persimpangan, antara terus tinggal di kota dengan kehidupan seadanya, menjadi pekerja kasar hingga badan layu karena usia; atau mengalah kembali pulang ke kampung. Menjadi petani. Mengurus kebun warisan Nenek kau. Menutup buku mimpi-mimpi saat pertama kali menaiki kereta batu bara…. Setelah sekian lama merenung, Bapak kau memilih jalan kedua, keras kepala untuk kesekian kalinya. Menolak pulang.”
“Entah darimana dia mendapatkan informasi itu, beberapa bulan kemudian, kami sudah mendaftar menjadi calon pelaut di pelabuhan Boom Baru. Ada kapal besar yang datang membutuhkan pelaut muda berani, dan saat melihat kapal itu gagah bersandar di dermaga, wajah Bapak kau kembali bercahaya. Berbisik kepadaku dengan suara bergetar, ‘Kak Dar, dengan kapal ini aku bersumpah akan menyinggahi banyak kota, melihat seluruh dunia.’ Maka semangat kami mulai mengikuti seleksi.”
“Tekad kuat Bapak kau membuahkan hasil, setelah seminggu menjalani banyak tes, kami tinggal selangkah lagi menjadi pelaut. Aku ingat sekali, kami malam itu sudah bersiap untuk ujian terakhir, beranjak tidur lebih cepat agar besok cukup tenaga. Tetapi malam itu juga kabar mengejutkan dari kampung tiba, Nenek kau sakit keras. Antara sadar dan tidaknya, Nenek kau memanggil-manggil nama Bapak kau. Menyuruh pulang.” 
Bakwo Dar menelan ludah, berhenti sejenak. Langit-langit kebun senyap, menyisakan suara jangkrik yang berderik terdengar.
“Situasinya menjadi simalakama bagi Bapak kau. Memutuskan pulang segera, atau ikut ujian terakhir besok…. Aku memutuskan pulang. Terus-terang saja, sudah sejak lama aku tahu kalau kota bukanlah tempat kami. Orang-orang yang tidak lulus walau Sekolah Rakyat. Aku bertahan semata-mata karena melihat betapa keras-kepalanya Bapak kau. Aku juga tidak bisa pulang begitu saja, bukan? Aku bertanggungjawab menjaga Bapak kau. Dengan kabar Nenek kau sakit keras, semuanya sudah usai. Malam itu kami bertengkar panjang, hasilnya kami berpisah jalan. Bapak kau menuju pelabuhan Boom Baru, aku melangkah ke stasiun kereta. Pulang.”
“Dan ternyata semua berakhir menyakitkan. Aku masih sempat mencium kening Nenek kau, menciumi jemari tangannya, minta maaf atas segala perbuatanku sewaktu kecil, keras-kepalaku. Juga minta maaf tidak dapat membuatnya bangga. Nenek kau sudah di penghujung masanya, terkulai lemah, matanya rabun tidak bisa melihat lagi dan bibir birunya hanya berkali-kali justru menyebut nama Bapak kau. Tidak ada orang lain yang paling ingin dipeluknya selain Bapak kau, anak bungsu tersayang yang telah bertahun-tahun tidak kunjung pulang. 
“Nenek kau pergi tanpa pernah mendapatkan kesempatan itu.” Bakwo Dar terdiam lagi. Menatap pucuk-pucuk kanopi hutan kejauhan. Suara burung elang terdengar melengking.
“Bapak kau gagal dalam ujian terakhirnya. Ujian yang sederhana sekali, sepuluh peserta terakhir hanya diminta menunjukkan ijasah SR.” 
“Aku baru tahu kabar itu berbulan-bulan kemudian. Saat suatu malam, gerimis mencelup kampung, Bapak kau sambil terisak telah berdiri di depan pintu. Memelukku. Meminta maaf atas pertengkaran kami malam itu. Mau dikata apalagi? Semua sudah terjadi. Aku membawa obor besar, menemaninya ke makam Nenek kau. Lama sekali dia bersimpuh di tanah berlumpur karena hujan. Menangis terisak menyesali masa lalu.”
“Itulah penyesalan terbesar Bapak kau, Burlian. Karena itulah kenapa dia terlihat lebih bijak saat ini. Perjalanan hidupnya panjang. Ah, andaikata Bapak kau tamat SR, mungkin saat ini kau sudah di manalah Burlian, menjadi putra seorang manajer kilang minyak, pelaut hebat yang mengelilingi dunia. Atau setidaknya kau jadi kepala stasiun kota provinsi. Gratis naik kereta api.” Bakwo Dar terkekeh pelan. 
Aku menghela nafas. Diam, memikirkan banyak hal. 
Terdengar suara kresek dedaunan. 
“JATUH KAKEKNYAAA!” Bakwo Dar sudah berteriak kencang, terkekeh bersamaan dengan debam buah durian menghantam semak-belukar.
Membuatku jatuh terjengkang saking kagetnya.
1). SR, Sekolah Rakyat: dulu sekolah dasar disebut SR.