Rabu, 06 Desember 2017

Tere Liye : Burlian

Bab 25. ABRI MASUK DESA – 1
-----------------------------------------
“Kalau sudah besar aku ingin jadi tentara.” Can berkata mantap.
Aku dan Munjib yang berjejer di sebelah kanan-kirinya menoleh, menatap wajah Can yang berseri-seri ditimpa cahaya matahari pagi.
“Oi, pasti hebat sekali kalau aku yang berdiri di depan sana.” Can berkata lagi.
“Kau terlalu pendek untuk jadi tentara.” Munjib menyeringai, jahil. Menahan tawa. Postur tubuh Can dibanding teman-teman yang lain memang lebih pendek.
Tere Liye : Burlian

“Oi, besok lusa aku pasti jadi lebih tinggi dibanding kau. Asal makan daging banyak-banyak saja.” Can mengabaikan, tidak mau kesenangan mengkhayalnya terganggu.
Di depan, seorang tentara berseragam loreng, memegang toa, masih terus memberikan instruksi. Ratusan tentara zeni yang lain, berbaris rapi tanpa miring sesenti pun mendengarkan dengan disiplin. Tubuh mereka hampir sama dan sepantar, kekar dengan kepala plontos. Berbeda dengan barisan kami, tidak rata depan-belakang, ada yang bicara, garuk-garuk rambut, malah di belakang ada kawan yang asyik mengupil.
Ini hari kedua kami ikut serta dalam bumi perkemahan ABRI Masuk Desa. Awalnya aku pikir masa-masa kelas enam kami hanya akan dihabiskan dengan belajar, belajar dan belajar. Mendengarkan Pak Bin yang selalu saja bersemangat, PR menumpuk, serta ceramah tentang sekolah penting bagi masa depan kami. Saat kami mulai bosan, menjelang masuk Cawu tiga, datanglah kejutan yang hebat. Program ABRI Masuk Desa di kampung Paduraksa dimulai. Ada ratusan tentara yang dikirim ke sana, dengan konvoi truk-truk loreng. Dan untuk menyukseskan program itu, seluruh sekolahan di kecamatan kami diinstruksikan mengirim muridnya untuk ikut bumi perkemahan. Maka segera Pak Bin membentuk ‘gugus depan’ Pramuka di sekolahan.
Terus-terang saja, kami selama ini jarang sekali latihan Pramuka. Bagaimana Pak Bin akan sempat mengurus latihannya, dia sudah direpotkan dengan kegiatan mengajar sehari-hari. Seminggu menjelang kami diberangkatkan ke bumi perkemahan, Pak Bin menyuruh kami melengkapi seragam Pramuka masing-masing, membawa tongkat kayu, belajar tali-temali, mendirikan tenda dan kemampuan dasar berkemah lainnya. 
Hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Lihatlah Si Can yang berusaha berdiri gagah dengan tongkat di tangan. Baju pramukanya sudah pudar karena itu sebenarnya warisan dari kakaknya. Sama dengan yang kukenakan, meski tidak terlalu kusut, juga bekas dari Kak Pukat. Kami rata-rata tidak ber-kacu, tidak bertopi, hanya bersepatu seadanya. Apalagi soal disiplin, kalah jauh dengan ratusan tentara itu. 
“Kau mau masuk angkatan darat, angkatan udara, angkatan laut atau kepolisian?” Munjib menjawil siku Can, menggodanya.
“Memangnya apa bedanya?” Can bertanya balik, tidak mengerti. 
“Bedalah, Oi.” Munjib menepuk jidat, “Payah, katanya mau jadi tentara. Bagaimana pula kau sampai tidak tahu.”
“Tidak penting pula aku tahu. Aku mau masuk tentara yang bisa empat-empatnya, di darat, udara, laut sekaligus juga polisi.” Can menjawab tidak mau kalah.
Munjib menghela nafas, putus-asa. 
Sinar matahari menerabas sela-sela dedaunan, membuat kabut yang menyelungkupi hutan mulai menipis. Komandan tentara di sana sepertinya sudah selesai dengan instruksi pagi-nya. Memerintahkan pasukan bubar. Seluruh peserta briefing pagi itu ikut bubar. Sersan Sergio segera mendekati kami, berteriak nyaring agar seluruh Pramuka SD berkumpul di dekatnya. Kami bukan satu-satunya peserta bumi perkemahan itu, juga ada puluhan pemuda karang taruna, belasan organisasi kepemudaan lainnya, serta beberapa rombongan sukarelawan dari kota kabupaten.
Seperti yang Bapak dulu pernah bilang, kampung Paduraksa terletak jauh terpencil di dekat Bukit Barisan. Penduduk kampung itu harus berjalan kaki sepuluh pal dari persimpangan jalan raya yang dulu dibangun Nakamura-san untuk tiba di kampung mereka. 
Tentara itu mendirikan bumi perkemahan persis di dekat jalan raya. Di tengah hutan lebat. Tentara-tentara itu cekatan menyiapkan tenda-tenda, hanya butuh hitungan jam saat truk-truk mereka tiba di lokasi, cepat sekali pohon-pohon besar ditebang, semak-belukar sudah terpangkas rata menjadi lapangan luas. Dan tenda-tenda berwarna loreng itu laksana jamur yang tumbuh di musim penghujan sudah berdiri satu per satu. Berbeda dengan kami yang lebih banyak bertengkar patok mana yang akan dipasang lebih dulu, simpul apa yang akan dipakai untuk mengikatnya. 
Meski kami terbiasa melihat warga kampung menaklukan hutan, tentara ini berkali-kali jauh lebih terampil. Mereka sigap membuat barak-barak tempat tidur dari bilah bambu dan kayu. Potongan pohon yang mereka tebang sebelumnya digunakan, tidak ada yang mubazir. Sementara kami, hanya membentangkan tikar pandan di dalam tenda. Can menyeringai lama sekali, mungkin dia sedang membayangkan betapa nyaman nanti malam tidur di dipan tentara, dibandingkan dengan tikar tipis kami.
Masalah kami ternyata bukan hanya tempat tidur. Ada yang lebih serius dari itu, makan. Pak Bin menyuruh kami membawa beras, telur, mie rebus, peralatan masak dan sebagainya. Kami sudah mengangkut itu semua. Menumpuk di belakang tenda. Masalahnya, tidak ada satupun diantara kami yang bisa masak. Jadilah semuanya berantakan. Nasi lembek, sayur tidak jelas rasanya, dan jangan tanya lauknya apa. Can yang paling lama bersungut-sungut, termasuk sarapan sebelum mengikuti upacara pagi ini. Dia terus saja berceloteh soal harus makan daging banyak agar lebih cepat tinggi.
***
“Apa kabar semua?” Sersan Sergio berseru nyaring. 
“Baik.” Dua puluh anggota bumi perkemahan dari Pramuka SD menjawab lantang. Kecuali Can yang menjawab pelan, “Lapar.” Sambil nyengir. Aku dan Munjib menahan tawa.
“Pagi ini kita akan bergabung dengan penduduk untuk memindahkan batu-batu besar dari sungai ke sepanjang jalan yang akan dibuat.” Sersan Sergio gagah memulai instruksi.
Sersan Sergio adalah pendamping kelompok kami. Sejak tadi malam dia memberikan banyak aturan main dan tips. Dari dialah kami tahu kalau harus menumpahkan garam di sekeliling tenda. “Kalian tidak mau saat terbangun, tiba-tiba telah ada ular yang bergelung di sebelah kalian, bukan?” Kami bergidik ngeri. Bahkan Can hampir saja menghabiskan persediaan garam di tenda. Tapi entahlah, itu memang berhasil mengusir ular sungguhan atau hanya mitos.
Sersan Sergio, menurut ceritanya sendiri, berasal dari Flores. Kami tidak tahu di mana Flores itu berada, tetapi melihat garis wajah dan cara bicaranya Sersan Sergio jelas bukan orang Melayu, apalagi Jawa. Sejauh ini, bagi kami, Sersan Sergio menyenangkan.
“Kalian mengerti instruksinya? Ingat, rantai yang kita buat akan terputus jika di antara kalian ada yang meninggalkan posisi. Jadi kalau kalian lelah, jangan lupa untuk berteriak memberitahu agar digantikan. Saya akan segera mengirimkan tenaga sukarelawan atau tentara pengganti lain. Mengerti?”
Kami semangat menuju lokasi pekerjaan. Ratusan tentara dan peserta bumi perkemahan lainnya juga beranjak menuju tugas masing-masing. Program ABRI Masuk Desa itu tidak hanya mengerjakan pembangunan jalan, mereka turut membangun gedung sekolah, balai kampung, mesjid dan merenovasi rumah penduduk yang tidak layak huni. Selain pekerjaan fisik, tentara itu juga melakukan banyak penyuluhan, ceramah dan termasuk menggelar berbagai lomba seni dan olahraga. Mereka taktis membagi begitu banyak pekerjaan menjadi bagian-bagian kecil dan terjadwal.
Jika mendengar instruksi Sersan Sergio, pekerjaan kami pagi ini sederhana saja, memindahkan batu-batu besar dari sungai ke sepanjang jalan yang akan dibangun. Udara pagi masih terasa menyenangkan, suara burung nektar yang berebut bunga liar ramai terdengar, juga suara serangga yang berderik berirama. Sersan Sergio menyuruh kami berbaris dengan jarak sedemikian rupa agar batu-batu itu dengan mudah bisa diulurkan ke kawan di sebelah.
Itulah rantai yang disebut Sersan Sergio dalam instruksinya. 
Can terlihat bersemangat memulai tugas pagi ini. Mencoba melupakan sarapan gagal tadi pagi. Anak-anak yang lain juga terlihat tertawa riang. Apalagi saat rantai itu mulai bekerja. Setelah melewati ratusan tangan, batu pertama tiba di tangan Munjib. Diulurkan kepadaku. Aku lantas mengulurkannya kepada Can. Can kemudian mengulurkannya ke kawan di sebelahnya. Begitu seterusnya hingga batu itu tiba di lokasi jalan yang sedang dibangun.
Kalau dilihat dari bawah, rantai ini biasa-biasa saja. Tetapi jika kalian melihatnya dari atas, maka rantai manusia yang memindahkan batu itu seperti ular, melewati pohon-pohon besar, turun melandai, naik sedikit, melingkar ke kanan, belok ke kiri, berbaris panjang hingga ke tumpukan batu terakhirnya. Menakjubkan. Sersan Sergio dan rekan-rekannya terbiasa sekali mengatur pekerjaan massal seperti ini. Batu yang basah saat diangkat dari dalam sungai, menetes airnya di tangan orang ke sepuluh, semakin kering di tangan orang ke sebelas dan benar-benar kering saat tiba di ujungnya.
“1.200.” Can tertatih mengulurkan batu ke sebelahnya. Batu yang satu ini lebih berat.
“1.201.” Can menyeka keringat di dahi, bersiap menerima batu berikutnya dariku.
“1.202.” Can menghembuskan nafas, mulai lelah.
“Kau tidak bosan menghitungnya?” Munjib bertanya jahil.
“Kau tidak bosan terus bertanya hal yang sama?” Can menyeringai.
Aku tertawa melihat mereka sejak tadi sibuk bertengkar. Mengusap peluh di leher. Oi, meski kami hanya berdiri, lantas melangkah ke kiri satu langkah-ke kanan satu langkah, mengulurkan batu, ternyata pekerjaan ini melelahkan. Matahari mulai meninggi, hutan mulai terasa gerah.
“1.213. Eh, berapa?” Can bingung dengan hitungannya.
“1.203.” Aku membenarkan. 
“Tidak ada gunanya juga kau hitung.” Munjib tertawa, “Berani bertaruh, paling lama satu jam lagi kau pasti bosan menghitungnya.”
Can tidak menjawab, dia sekali lagi tertatih mengulurkan batu ke kawan sebelahnya. Aku juga mulai mengeluh, kenapa semakin lama semakin besar batu yang dialirkan. Kenapa orang yang bertugas di bibir sungai tidak mengirimkan batu yang kecil-kecil saja.
Dari kejauhan terdengar lenguh suara simpai. Bersahut-sahutan. Sekarang bukan musim buah-buahan, jadi entahlah apa yang diperebutkan mereka di atas pohon-pohon sana. Mungkin ada yang sedang berburu simpai.
“Seribu tiga puluh dua ratus.” Tidak menunggu satu jam Can mulai bosan. Hitungannya terlipat. Aku dan Munjib bersitatap satu sama lain.
“Lonceng pulangnya jam berapa?”
“Kau pikir ini sekolah?” Aku menatap Can kasihan.
“Boleh istirahat dulu, bukan?” Can nyengir lebar, seperti mendapatkan ide cemerlang. Aku dan Munjib sekali lagi mengangkat bahu. Tidak tahu. 
“Pasti boleh. Kita istirahat lima menit saja.” Can tanpa perlu menunggu pendapat kami, sudah duduk selonjor di dasar hutan. Bersandarkan akar pohon. 
Aku meletakkan batu yang seharusnya ku-ulurkan ke dia ke lantai hutan. Membiarkan Can duduk sebentar. Aku meletakkan lagi batu yang barusaja ku terima dari Munjib ke bawah. Can melepas kancing atas seragam Pramuka-nya. Gerah. Batu yang ketiga, keempat, kelima juga kuletakkan. Can sepertinya tidak akan segera berdiri. Dalam hitungan menit, tumpukan batu di bawah kakiku mulai meninggi. Dan urusan menjadi tambah kacau, karena ketika Can tidak mengulurkan batu ke sebelahnya, maka kawan di sebelahnya ikut-ikutanan istirahat. Juga sebelahnya lagi, sebelah lagi, sebelah-sebelahnya lagi hingga tepi jalan.
Kami benar-benar tidak membayangkan kalau rantai yang disusun Sersan Sergio dan tentara-tentara itu panjangnya nyaris satu pal. Hampir lima ratus orang ikut bergotong-royong memindahkan batu-batu itu dari sungai. Bagi kami, rantai itu terlihat hanya sepotong saja, belasan meter di sebelah kanan, belasan meter di sebelah kiri. Tidak terlihat ujung-ujungnya. 
Can malah bersiul santai sekarang.
“OII, BATUNYA MANA?” Salah seorang penduduk di ujung sana berteriak. Sudah lima menit dia berdiri bengong, tidak menerima aliran batu.
“ISTIRAHAT DULU!” Can menjawab sembarang.
Can benar-benar tidak tahu apa akibatnya, jawaban asalnya mengalir diluar kendali dari mulut ke mulut hingga ujung tumpukan batu di jalan yang akan dibangun. “Apa? Istirahat?” Yang satu berbisik ke sebelahnya. “Ya, katanya istirahat makan dulu.” Yang lain meneruskan ke sebelahnya. “Apa? Makan?” Yang satu bertanya memastikan. “Iya, makan siang.” Sebelahnya menjawab yakin. “Makan siang apanya? Siapa yang menyediakan?” Yang lain bertanya. “Katanya, kita mau dikasih makan siang sama tentara itu.” Yang paling ujung benar-benar keliru mengambil kesimpulan. Dan semakin rumit saat bisik-bisik itu memantul lagi, kembali ke ujungnya di sungai. Orang pertama yang mengambil batu di sungai menyeka dahi, beranjak duduk di bibir sungai seperti yang lain. Kabar makan siang gratis membuatnya bersenandung riang. Jadilah semua duduk-duduk saja. Menunggu jatah makan siang.
“Jangan pernah membuat rantainya terputus.” Sepertinya kami telah melupakan instruksi penting Sersan Sergio tadi pagi. Rantai manusia itu terputus hampir satu jam.
Tentara-tentara itu bergegas mencari sumber masalah. Dan demi melihat tumpukan batu itu ada di depanku, tentara-tentara itu mengomeliku panjang lebar. Aku ingin sekali menimpuk Can yang memasang wajah bodoh, pura-pura tidak mengerti apa yang telah terjadi.
***
Waktu berjalan tidak terasa di bumi perkemahan.
Meski sudah mengganti dua kali ‘petugas’ piket menyiapkan makanan di tenda, tetap saja makan siang dan makan malam gagal total. Kami yang kelelahan sepanjang hari memindahkan ribuan batu itu bersungut-sungut kepada tiga teman yang bertugas memasak di tenda. 
Malam menghampiri bumi perkemahan. Setidaknya rasa lapar kami segera menghilang saat melihat ada begitu banyak pemandangan menarik. Tentara itu membawa generator listrik besar. Tadi siang saat kami sibuk dengan batu-batu kali, mereka memasang kabel-kabel panjang menjuntai ke seluruh pojok perkemahan, dan di ujung kabel itu lampu-lampu menyala terang. Lampu yang paling besar dan paling terang diletakkan di atas tiang kayu tinggi dekat tenda komandan. Saking besarnya, mungkin dengan satu lampu ini saja, seluruh bumi perkemahan terlihat.
Kami menatap lampu itu terpesona. 
“Seandainya di rumah ada lampu seperti ini.” Munjib menatapnya takjim, “Membaca buku di malam hari akan lebih mudah.”
Aku mengangguk setuju, teringat lampu canting yang nyala apinya bergoyang setiap kali angin lembah menerobos sela-sela papan.
Tentara itu tadi siang juga mendirikan panggung di tengah-tengah bumi perkemahan. Dengan berbekal gitar dan alat musik seadanya, mereka menghibur diri sendiri dan peserta kemah. Di panggung itu juga berbagai lomba seni dilaksanakan. Kami tertawa menyimak lomba pantun malam ini. Dua lelaki dewasa di atas panggung tidak mau kalah sedang berbalas pantun. Aku baru tahu kalau berbalas pantun bisa secanggih ini. Tentara-tentara yang menonton juga tertawa. Bertepuk-tangan. Pemenang lomba ditentukan jika ada peserta yang kehabisan kata-kata untuk membalas pantun lawannya. Ada sekitar delapan ronde hingga acara itu selesai. Salah seorang tentara dengan memegang toa mengakhiri acara lomba pantun malam itu, bilang sampai berjumpa besok malam di babak berikutnya.
Aku menguap lebar, diikuti Can dan Munjib. Kami bangkit dari duduk, tanpa banyak cakap langsung menuju tenda. Sudah larut, saatnya tidur. Melewati tenda-tenda loreng tentara. Suara burung hantu terdengar di kejauhan. Laron dan serangga malam berterbangan mengerubungi lampu-lampu. Mereka terbang jauh sekali dari sekitar hutan, tergoda cahayanya.
Saat melewati salah-satu tenda, tiba-tiba langkah Can terhenti. Aku dan Munjib yang berjalan di belakangnya hampir menabrak punggungnya. Munjib mendorong punggung Can agar dia segera bergerak. Can justru mendongak. Hidungnya mengendus-endus.
“Kau cium baunya?” Can menoleh.
“Bau apa?” Aku bertanya.
“Oi, ada yang masak gulai.” Wajah Can yang tadi sayu karena kantuk langsung terang benderang. Tertawa. Dia bergegas mengikuti muasal bau itu. 
Aku dan Munjib mengikuti langkah Can. Benar. Kalau urusan makan, dia bisa diandalkan. Semakin dekat, aroma gulai itu tercium semakin pekat. Perut kami yang seharian tidak diisi dengan layak langsung berbunyi. Mencari dari tenda mana asal aroma itu. Langkah kaki kami akhirnya tiba di salah-satu tenda. Can memberanikan diri menyibak pintu terpal, masuk. 
“Hei, apa yang kalian lakukan malam-malam di sini?” Salah seorang tentara menegur. Tenda yang kami masuki ternyata dapur umum. Tentara itu sedang asyik mengaduk masakan di panci. Api perapian menyala tinggi. Dari dalam panci itulah aroma gulai berasal. Mengepul di antara udara malam yang dingin.
“Mereka tertarik dengan masakan kau, Prajurit.” Suara yang kami kenali menyahut dari pojokan tenda, melangkah mendekat. Sersan Sergio, kami segera mengenalinya. Aku menggaruk rambut, teringat kejadian rantai manusia tadi siang. 
“Kalian mau ikut makan?” Prajurit yang mengaduk masakan bertanya.
Kami bertiga tanpa perlu ditanya dua kali, mengangguk serempak. Beberapa tentara yang ada di dapur itu tertawa.
“Ambil piring masing-masing.” Prajurit itu menunjuk.
Tidak perlu disuruh lagi, kami sudah saling sikut mengambil piring plastik di atas meja bambu. Bukan main. Kalau sudah rezeki memang tidak akan lari kemana. Setelah sehari semalam makan seadanya, menu spesial ini terhidang tanpa diduga. Lima belas menit berlalu, kami bersama tentara itu sudah sibuk menghabiskan nasi dan gulai daging dari panci.
“Ini gulai daging apa?” Can bertanya sambil ber-hah kepedasan.
“Ayam hutan.” Salah seorang prajurit menjawab, diikuti tawa yang lain.
“Ayam hutan?”
“Ya, ada banyak berkeliaran di hutan. Kau bisa menangkapnya dengan mudah.”
Kami mengangguk-angguk. Pantas enak sekali. Ayam hutan ternyata. 
Setengah jam berlalu, tidak ada lagi yang bersisa di panci gulai. Can menepuk-nepuk perutnya yang kenyang. Tertawa senang. Bilang sudah seharusnya dia makan daging seperti ini banyak-banyak. Kami mengucapkan banyak terimakasih, lantas berpamitan. Sersan Sergio ikut melangkah kembali ke tendanya di belakang kami.
Saat itulah, ketika Can menyibak terpal tenda bagian belakang, melangkah keluar, mata kami menangkap sesuatu yang ganjil, di atas karung-karung bahan makanan, dua ekor simpai (sebangsa monyet) terlihat sibuk lari kesana-kemari berusaha melepaskan diri. Kaki mereka terikat.
“Itu simpai dari mana?” Aku bertanya.
“Tadi siang ditangkapi tentara dari hutan kampung.”
“Simpai itu buat apa?” Can bertanya polos.
Sersan Sergio tertawa lepas, menepuk bahu Can, “Sebenarnya, itulah makan malam kita tadi. Bukan ayam hutan.”
Mulutku langsung tersumpal. Menatap kembali dua simpai yang terus berusaha melepaskan ikatan tali di kakinya. Munjib dengan wajah pias, mencengkeram perutnya. Membayangkan potongan daging gulai tadi. Astaga?
Can sudah sibuk muntah-muntah.
1). ABRI saat itu masih terdiri dari empat elemen: AD, AL, AU dan Kepolisian
2). Simpai; sejenis monyet, warna bulunya kekuningkuningan

Selasa, 05 Desember 2017

Tere Liye : Burlian

Bab 24. RUSA BERTANDUK
-------------------------------------
Aku pikir, Pak Bin dulu yang tidak ber-PNS jauh lebih menyenangkan dibanding Pak Bin sekarang yang ber-PNS. Tiga bulan merasakan gedung baru, duduk di kelas enam, aku rasa Pak Bin terlalu bersemangat, terlalu riang, terlalu cemas, terlalu semuanya. 
“Kita harus memastikan kalian bisa melalui ujian nasional kelulusan dengan baik. Bapak berharap kalian mengerti dan bisa bekerjasama memastikan semua berjalan lancar. Jadi, PR! Kerjakan soal Matematika halaman 34 sampai 40. Kumpulkan besok pagi.” 
Tere Liye : Burlian

Seluruh kelas mengeluh. Can ekspresif sekali menepuk jidat seolah hendak pingsan saja mendengar PR sebanyak itu. Pak Bin hanya tertawa, “Kerjakan PR kalian masing-masing. Sekali lagi kau ketahuan mencontek, Can, maka aku akan menghukummu menulis kalimat itu seribu kali di papan tulis.”
Can menggerutu (dalam hati), seperti yang lain bergegas memasukkan buku ke dalam tas. Lonceng bel sudah berdentang. Sementara anak-anak kelas enam berebut keluar kelas, berlarian melintas halaman sekolah, aku beranjak mendekati Pak Bin yang masih membereskan penggaris panjang. Tadi belajar geometri, volume kubus, isi kotak persegi panjang dan bola.
“Bukunya sudah selesai, Pak.” Aku menyerahkan tiga buku yang kupinjam dari perpustakaan sekolah dua hari.
Pak Bin mengangkat kepalanya, tersenyum, “Cepat sekali kau membacanya, Burlian.”
Aku nyengir, memperbaiki posisi tas.
“Sayangnya tidak ada lagi koleksi perpustakaan kita yang belum kau baca.” Pak Bin menghela nafas pelan. Rambut berubannya terlihat dari jarak sedekat ini.
“Sudah ada kabar dari kakak-kakak itu?” 
“Oh, sudah. Tadi suratnya sudah Bapak terima dari petugas kantor pos kota kecamatan. Mereka bilang bisa saja mengirimkan buku-buku baru buat perpustakaan kita, tapi itu terjadwal setiap tahun, tidak setiap saat.” 
Aku menyeringai kecewa. Kalau tahun depan, aku juga sudah lulus SD.
“Kau terlalu cepat membaca buku-buku itu, Burlian.” Pak Bin bergurau, sambil mengacak rambutku, “Atau harusnya anak seperti kau tidak bersekolah di kampung yang jauh dari segalanya. Harusnya kau sekolah di tempat yang memiliki gedung sebesar sekolah kita hanya untuk perpustakaan saja. Ribuan buku-buku yang tidak akan habis kau baca bertahun-tahun.”
Pak Bin berdiri, menyusun tiga buku itu di lemari pojok kelas.
“Kau akan melanjutkan sekolah kemana, Burlian?”
“S-M-P.” Aku menatap Pak Bin, sedikit tidak mengerti. 
“Maksud Bapak, kau akan melanjutkan SMP mana? Kota kabupaten?”
Aku mengangguk ragu-ragu. Bukankah Ayuk Eli dan Kak Pukat sekarang sekolah SMP di sana. Juga semua anak-anak kampung yang melanjutkan sekolah, hanya itu satu-satunya pilihan paling dekat.
“Bapak khawatir SMP kota kabupaten juga tidak akan mencukupi rasa ingin tahu kau. Bukankah kau ingin seperti layang-layang, Burlian, terbang tinggi melihat banyak hal. Kau ingin membaca ribuan buku. Ingin tahu banyak hal baru yang menakjubkan. Jadi kenapa kita tidak memulai dengan pertanyaan, bagaimana kalau kau sekolah SMP di Jakarta?”
Aku tertegun. 
Aku tidak pernah memikirkan kemungkinan itu sebelumnya. Memikirkan ujian kelulusan saja belum, masih sembilan bulan lagi. Apalagi tentang kemana aku akan melanjutkan sekolah. Teringat kalau Mamak tadi pagi menyuruhku langsung pulang. Bergegas pamit pada Pak Bin.
Pak Bin tertawa, “Sampaikan salam buat Bapak, Mamak kau.”
***
Sejak Kak Pukat menyusul Ayuk Eli sekolah SMP di kota kabupaten tiga bulan lalu, malam-malam di rumah tidak otomatis jadi lebih sepi. Meski di rumah tinggal aku dan Amelia, potensi pertengkaran di rumah tidak berkurang sedikit pun. Seperti malam ini, saat aku bertugas menjemput Amelia pulang mengaji dari rumah Nek Kiba seperti biasanya.
Amelia belum khatam mengaji. Sudah di juz delapan belas. Aku sebenarnya malas menjemput Amelia. Untuk anak yang sudah sepuluh tahun, ia harusnya berani pulang sendiri. Mentang-mentang anak cewek, Mamak selalu saja menyuruhku menjemputnya. Aku menguap bosan menunggu di bawah rumah panggung Nek Kiba, kenapa malam ini lama sekali giliran Amelia menghadap, padahal sudah hampir jadwal film kesukaanku di televisi mungil Bapak. 
Langit bersih dari saputan awan, ribuan bintang menghias angkasa. Aku menyeringai melihat rasi ‘busur dewa-dewa’, teringat dengan Nakamura yang tiga tahun lalu mengajakku melihat langit dengan teleskop besarnya. Si ‘Toli-toli’, aku tertawa mengingat nama teropong bintang itu. Apa kabar Nakamura? Surat terakhir yang kuterima darinya sekitar tiga bulan lalu. Di surat itu dia bilang rombongannya sudah hampir tiba di ujung pulau Sumatera. Setahun lagi maka selesai sudah ribuan kilometer proyek jalan yang dikerjakannya.
Aku teringat percakapan kami tentang ‘di mana ujung jalan-jalan ini’. Apa kata Nakamura dulu? “Jalan-jalan ini tidak pernah berujung… jalan-jalan ini akan terus mengalir melewati lembah-lembah basah, lereng-lereng gunung terjal, kota-kota ramai, desa-desa eksotis nan indah, tempat-tempat yang memberikan pengetahuan, tempat-tempat yang menjanjikan masa depan… lantas jalan ini akan terusss.. terus menuju pelabuhan-pelabuhan, bandara-bandara… dan dari sana kau bahkan bisa pergi lebih jauh lagi, menemukan sambungan jalan berikutnya… mengelilingi dunia… melihat seluruh dunia, masa depan anak-anak kampung, masa depan bangsa kalian. Masa depan kau yang penuh kesempatan, Burlian-kun.”
“Kak Burlian.” Suara Amelia yang menuruni anak tangga memutus lamunanku.
Aku merapatkan posisi sarung, mengambil obor bambu, bergegas melangkah. Beberapa anak lain juga pulang dari mengaji.
“Kau lama sekali mengajinya.” 
“Nek Kiba-nya terus mengulang-ulang tartil bacaan. Jadi lama…. Kak Burlian jangan cepat-cepat.” Amelia protes. Ia mengangkat lebih tinggi kain yang masih dikenakannya.
“Bergegas. Sudah mau mulai film-nya.”
“Aduh, jangan-jangan cepat. Amel kainnya susah ini.” Amelia melotot.
Aku tidak mendengarkan justru mempercepat langkah, api oborku meliuk-liuk diterpa angin lembah. Amelia yang dongkol disuruh jalan cepat-cepat malah berhenti. Aku yang merasa Amelia tidak lagi di belakangku menoleh. Ia berdiri mematung belasan meter di belakang. Aku berteriak, “Bisa bergegas tidak? Nanti ku tinggal lari.”
Amelia tidak menjawab. Mukanya menggelembung.
“Ya sudah, aku tinggal. Asal kau tahu saja, pohon mangga di dekat kau berdiri itu ada hantunya.” Aku jahat balik kanan, terus melangkah tidak peduli.
Amelia menjerit ketakutan, menyusulku.
***
Sial, sudah diomeli Mamak panjang lebar gara-gara meninggalkan Amelia, ternyata aki televisi-nya soak pula persis serial film Allien itu hendak dimulai. Tabung ajaib Bapak tidak bisa dinyalakan. Tetangga yang hendak menonton di ruang depan bubar-jalan. 
Amelia bersungut-sungut membaca buku di bangku ruang tengah. Wajahnya masih melotot galak setiap kali aku melewatinya. Mamak menganyam keranjang rotan di sebelahnya. Aku kehabisan ide, bingung hendak melakukan apa. Buku-buku itu sudah dua-tiga kali kubaca. PR dari Pak Bin sudah kuselesaikan sebelum menjemput Amelia. Menyeringai hendak mengganggu Amelia, tetapi dengan Mamak persis di sebelahnya, sama saja mencari bala.
“Mak, nanti Burlian melanjutkan sekolah kemana?” Aku mencomot sembarang topik pembicaraan, daripada bosan menatap langit-langit rumah.
“SMP.” Mamak menjawab pendek. 
“Iya, Burlian tahu itu. Tapi, SMP yang mana?” Aku menggaruk rambut.
“Kota.” Mamak tetap menjawab pendek. Konsentrasi pada keranjangnya.
“Kota mana, Mak?”
“Ya, kota kabupaten. Kau pikir kemana lagi?”
Aku menyeringai. Tidak seru memang mengajak Mamak bicara kalau dia lagi konsentrasi penuh dengan pekerjaannya. Beruntung sebelum aku mati karena bosan, pintu depan terbuka, Bapak melangkah masuk. Aku melompat dari tempat duduk, bergegas menyambutnya.
“Bapak dari mana?”
“Balai kampung.”
“Memangnya di sana ada apa?”
“Pertemuan.”
“Iya, Burlian tahu. Tapi, pertemuan apa?” Aku menggaruk rambut.
“Urusan kampung.” Bapak tetap menjawab pendek.
“Urusan kampung apa?”
“Ya, urusan kampung biasanya.”
Aku menepuk jidat. Astaga, kenapa pula malam ini Bapak juga pelit sekali berkomentar. Ya sudahlah, aku mengalah, berhenti bertanya. Mungkin lebih baik aku tidur lebih awal.
***
Kelas enam ini, hari favorit aku dan Amelia adalah Sabtu. 
Itu berarti sekitar pukul dua siang, mobil engkel tua angkutan pedesaan yang tersengal mendaki bukit dan bergetar menuruni lembah akan berhenti di depan rumah. Ayuk Eli dan Kak Pudin pulang dari kota kabupaten. Menyenangkan, karena Ayuk Eli meski sering mengomeliku, berbaik hati membawakan majalah bekas yang dibelinya di pasar kota. Itu bacaan baru, tidak peduli meski tanggal terbitnya setahun silam. 
Mamak, Bapak setiap sabtu sore juga tidak kemana-mana. Bersama kami menghabiskan petang dengan duduk-duduk di depan rumah. Mamak bertanya banyak hal tentang seminggu terakhir kepada Kak Pukat dan Ayuk Eli di kota, memastikan semua baik-baik saja. Bapak dengan santai menyela kalimat Mamak yang terkadang serius sekali, berusaha melucu, membuat petang semakin menyenangkan. Aku dan Amelia asyik membaca ‘majalah baru’ itu, sambil menguping percakapan. Sekali-kali percakapan terputus karena ada penduduk yang lewat depan rumah menyapa, Bapak akan tersenyum balas melambaikan tangan.
“Tadi di mobil engkel, Eli dengar dari penumpang dari kampung Paduraksa, akan ada AMD di kampung mereka, Pak?” Ayuk Eli yang mukanya tersipu merah, mengganti topik pembicaraan Mamak tentang ‘kau jangan pacaran dulu di sekolah’.
“Iya, itu benar. Akan ada AMD di kampung mereka.”
“AMD itu apa, Pak?” Kepala Amelia terangkat dari bacaan.
“ABRI Masuk Desa.” Ayuk Eli yang menjawab.
“ABRI Masuk Desa itu apa?” Amelia bertanya lagi.
Bapak tertawa, mengacak rambut panjang Amelia, “Akan ada pasukan tentara yang datang. Pasukan zeni. Mereka tentu saja bukan datang untuk berperang, mereka datang untuk membantu membangun kampung itu. Mendirikan sekolah, memperbaiki masjid, rumah-rumah penduduk, hingga membuat jalan akses ke kampung.” 
Amelia mengangguk, kembali ke bacaannya. 
“Kalau jalan ke kampung mereka jadi dibangun, akan lebih banyak lagi orang-orang kota yang datang berburu, menebangi kayu, mengeduk pasir di kampung mereka… di kampung kita saja sejak jalan depan rumah bagus, sudah tidak berbilang orang-orang yang merusak hutan.” Ayuk Amelia menatap Bapak serius. 
“Kau benar. Apa mau dikata, tidak selalu pembangunan itu membawa dampak baik, Eli. Terkadang juga membawa sesuatu yang buruk. Itu tidak bisa dicegah. Sudah puluhan tahun penduduk kampung Paduraksa harus berjalan kaki di jalan setapak sejauh belasan pal. Mereka juga berhak atas akses jalan seperti kampung lain. Setidaknya yang bisa dilalui mobil.” Bapak menghela nafas.
“Tapi kalau Eli boleh memilih, Eli lebih setuju jalan-jalan di kampung kita rusak saja. Biar tidak ada pendatang yang bisa bebas membawa truk-truk menebangi kayu, mengambili pasir di sungai. Tidak mengapa kita jadi susah.” Ayuk Eli berkata mantap.
Aku mengangkat kepala dari lipatan majalah. Teringat, kalau soal menangkap burung dulu saja Ayuk Eli protes, apalagi yang lebih serius dari itu. Menyeringai.
“Bapak senang kau punya pemahaman seperti itu. Artinya kau mencintai hutan ini, Eli. Dua malam lalu, saat rapat di balai kampung, penduduk juga membahas tentang air sungai belakang yang mulai keruh. Tidak nyaman lagi untuk mandi sore. Katanya di bagian hulu, ada alat berat dan beberapa truk yang setiap siang mengeduk pasir dan koralnya.”
“Mereka harusnya diusir pergi, Pak. Bila perlu diancam alat beratnya akan digulingkan, truk-nya dirantai, pengemudinya dikurung, biar kapok.” Ayuk Eli berkata penuh semangat, “Kalau Eli boleh memilih, Eli juga akan melarang penduduk kampung membuka hutan untuk kebun, menembaki ayam hutan, mengambil rebung dan rotan.”
Bapak tertawa, “Kalau yang itu terlalu berlebihan, Eli.”
“Itu juga merusak hutan.” Eli bersikukuh.
“Bapak setuju, Eli. Itu juga merusak hutan. Tapi kau lupa poin terpentingnya. Penduduk kampung hanya mengambil seperlunya, menebang sebutuhnya. Mereka punya batasan. Jangan pernah mengambil semua rebung tanpa menyisakan tunasnya untuk tumbuh lagi. Jangan pernah menebar racun atau menjulurkan kawat setrum di sungai yang akan membuat telur dan ikan-ikan kecil juga mati, padahal esok-lusa dari merekalah sungai akan terus dipenuhi ikan-ikan. Jangan pernah menebas umbut rotan semuanya, dan sebagainya. Itu yang disebut—”
“Kebijakan leluhur kampung.” Aku dan Kak Pukat memotong kalimat Bapak hampir bersamaan.
Bapak menoleh, menatap kami dengan wajah sedikit terkejut, “Ka-li-an? Kalian sudah tahu soal itu?”
“Mang Unus yang bilang.” Aku menjawab mantap. Nyengir.
“Kalian juga melihatnya?”
Aku dan Kak Pukat mengangguk. 
“Astaga! Unus seharusnya bilang kepada Bapak kalau kalian sudah tahu. Seharusnya itu kewajiban Bapak untuk menjadikan kalian bagian dari ‘penjaga kebijakan leluhur kampung’.”
“Tahu apa, Pak?” Ayuk Eli menyela, ingin tahu.
“Eh, ya tentang itu.” Bapak menyeringai salah-tingkah, “Tahu tentang kebijakan leluhur kampung. Mengambil seperlunya. Menebang sebutuhnya.”
Ayuk Eli menatap Bapak curiga. Pasti bukan tentang itu. 
“Selamat petang, Pak Syahdan.” Lik Lan yang melintas dengan sepeda di depan rumah menyapa, berhenti sejenak. “Bukan main, semuanya sedang berkumpul.”
“Begitulah, Lan. Dari mana?” Bapak tersenyum, melambaikan tangan. Memutus ekspresi ingin tahu Ayuk Eli.
“Cerita lama. Tadi petugas stasiun menangkap anak kampung seberang yang memasang paku di rel kereta. Aku baru saja dari sana mengurusnya. Sore, Pak Syahdan. Mari, Burlian, Pukat.” Lik Lan tertawa, mengedipkan mata kepada kami sambil mengayuh sepedanya lagi. Aku dan Kak Pukat menggaruk rambut yang tidak gatal, teringat kejadian beberapa tahun lalu.
“Kau sungguh tidak pacaran di kota, bukan?” Mamak kembali membahas masalah itu selepas Lik Lan pergi.
“Aduuh, tidak, Mak.” Ayuk Eli melotot sebal. Ayuk Eli yang bersiap bertanya tentang aku dan Kak Pukat ‘melihat apa’ tadi ke Bapak jadi memerah wajahnya. “Mesti berapa kali Eli bilang kalau Eli tidak pacaran.”
Bapak tertawa, menengahi, “Percaya sajalah. Tidak akan banyak anak laki-laki yang bisa menaklukkan hati gadis dengan pemahaman hidup setangguh dan seberani anakmu Eli, Mak.”
Kami meski tidak mengerti benar maksud Bapak ikut tertawa. Setidaknya mentertawakan wajah Ayuk Eli yang macam udang rebus. Merah. Mamak juga akhirnya ikut tertawa. Petang itu sepertinya akan berakhir menyenangkan.
***
Sebentar lagi adzan maghrib, ketika mobil bak terbuka itu merapat cepat ke pagar rumah. Mengeluarkan suara berdecit. Dua orang membuka pintu, melangkah turun. Keduanya mengenakan topi lebar, sepatu bot tinggi dan senapan angin terselempang di punggung. Sepatu mereka dipenuhi lumpur kering. Baju lengan panjang mereka juga kotor.
Bapak beranjak berdiri, aku dan Amelia menghentikan membaca majalah. Percakapan menyenangkan di depan rumah terputus. Kali ini bukan oleh sapaan tetangga yang lewat.
“Selamat petang. Maaf mengganggu.” Salah seorang mereka menyapa, “Bisa minta air minum. Kami kehabisan perbekalan. Kawan kami teluka di bak belakang mobil.”
Bapak menyuruh Ayuk Eli bergegas mengambil botol air. Melintasi halaman rumah, mendatangi mobil yang terparkir di dekat pagar. Aku, Kak Pukat dan Amelia ikut mendekat. Memperhatikan pakaian mereka, senapan-senapan angin, tidak salah lagi, mereka pastilah rombongan pemburu dari kota. Seperti yang Ayuk Eli bilang tadi, belakangan banyak sekali pemburu dari luar kampung memasuki hutan-hutan kami.
Salah seorang rekan mereka duduk dengan kaki lurus di bak mobil. Salah-satu kaki itu terlihat berdarah, tulang betisnya patah, menembus daging. Mengerikan melihatnya. Tetapi meski wajahnya meringis menahan sakit, dia masih menyapa Bapak ramah, “Selamat petang, Pak. Maaf kalau sudah mengganggu.”
Bapak mengangguk, memperhatikan lebih dekat, “Kau baik-baik saja?”
“Yeah, aku baik-baik saja…. Ini sebanding dengan hasil yang kami dapatkan.” Orang dengan kaki patah itu tertawa pelan, “Dua hari dua malam mengejarnya. Semua perbekalan habis, bahkan air minum pun habis. Akhirnya kami bisa menyudutkannya di sungai yang masuk ke dalam tanah. Tiga tembakan sia-sia. Barulah setelah melepas peluru keempat buruan itu roboh. Sialnya, aku tergelincir saat hendak menuruni bukit mendekatinya. Kaki ini menghantam tunggul besar. Seperti yang Bapak lihat, patah tulangnya.”
Aku bergidik melihat pemburu itu menyingkap kain di betisnya. Patahan tulangnya benar-benar keluar. Hanya saja, kalimat barusan dari pemburu itu membuat jantungku berdetak lebih kencang. ‘Sungai yang masuk ke dalam tanah’. Jangan-jangan.
“Airnya… tolong airnya.” Pemburu itu melihat botol di genggaman Ayuk Eli, “Luka sialan ini membuatku cepat sekali haus. Terimakasih gadis manis.” Dia rakus sekali menenggak air dari botol. Membasahi leher dan dadanya.
“Kau sebaiknya mampir di Mantri kesehatan kota kecamatan. Lukamu perlu dibersihkan.” Bapak memberikan saran.
“Tidak mengapa, saya bisa bertahan hingga kota kabupaten. Terima-kasih banyak. Bisakah aku dibekali dengan botol-botol air?”
Bapak menyuruh Ayuk Eli mengambil beberapa botol air lagi.
“Itu… itu apa?” Aku tidak bisa menahan rasa ingin tahu, menunjuk terpal di sebelahnya yang seperti menutupi sesuatu.
Pemburu itu tertawa, menyingkap terpal, “Inilah buruan yang kami kejar dua hari dua malam. Seharga kakiku yang patah….” 
Amelia menjerit tertahan. Aku dan Kak Pukat undur satu langkah, mendesis gentar, “Ba-dan-nya… badannya mana?”
“Kami tinggalkan di mulut goa itu. Hanya kepalanya yang berharga, Kawan. Jadi buat apa repot-repot kami bawa. Oh, maaf nona manis, kau seharusnya tidak melihat pemandangan seperti ini. Sebaiknya kututup terpalnya….” Pemburu itu tersenyum ke arah Amelia. Menutup kembali terpal.
Botol-botol air minum diletakkan di bak mobil, pemburu itu sekali lagi bilang terima-kasih, bergegas melanjutkan perjalanan ke kota kabupaten. Berderum. Cahaya lampu mobil bak terbuka itu hilang di tikungan kampung, seiring matahari rebah di ufuk barat sana.
“Mereka tadi sebenarnya berburu apa?” Ayuk Eli yang sepanjang kejadian hanya bolak-balik mengambil air di dapur, bertanya saat kami melangkah masuk ke dalam rumah.
Bahkan Bapak kehilangan kata-kata.

Senin, 04 Desember 2017

Tere Liye : Burlian

BAB 23. MENGINTIP PUTRI MANDI
------------------------------------------------
Musim kemarau kembali tiba. 
Terik matahari membakar ubun-ubun disertai debu beterbangan menjadi pemandangan lumrah. Ini musim kemarau kesekian kalinya. Membuatku dan Kak Pukat duduk malas-malasan di depan rumah, menatap aspal jalanan yang memantulkan cahaya, seperti ada tumpahan minyak di atasnya. Menggaruk rambut menunggu tidak sabaran Mang Unus.
Tere Liye : Burlian

Sesuai janji, Mang Unus hari ini akan mengajak kami menangkap burung di sungai hutan. Selalu menyenangkan bertualang ke dalam hutan bersama Mang Unus. Dia selalu mengajarkan hal-hal baru yang menakjubkan. Misalnya, meminum air segar dari juntaian akar. Seperti akar pohon beringin, tapi bedanya, jika kalian tebas, maka seperti keran yang terlepas tutupnya, air segar mengucur deras. Aku tidak tahu nama pohon dengan akar sehebat itu. Mang Unus juga mengajarkan nama-nama tumbuhan liar, mana yang buahnya aman dan bisa dimakan, mana yang beracun dan bisa membuat mulut bengkak selama seminggu. 
“Bapak tadi kemana, Mak?” Aku bertanya, memecah senyap.
“Ke rumah Kak Bujuk, kepala kampung.” Mamak yang sedang menganyam keranjang rotan menjawab tanpa mengangkat kepala.
Aku ber-oh pendek, mengangguk. Kembali menatap jalanan.
“Mamang kau jadi datang siang ini?” Mamak yang kali ini memecah hening.
“Awas saja kalau tidak jadi.” Aku menjawab lugas. Membuat Mamak tertawa sebentar, menghentikan gerakan tangannya, teringat urusan sepeda hadiah khatam mengaji dulu. Benar, sebaiknya jangan pernah melanggar janji dengan Burlian, panjang urusannya.
“Mamang kau itu lagi sibuk-sibuknya… kau tahu sendiri, dia ikut jadi pemborong gedung sekolah. Mana sempat menemani kau pergi ke hutan.”
Aku tidak menjawab kalimat Mamak, kembali menatap lamat-lamat jalanan. Aku sedang memikirkan banyak hal. Membiarkan Kak Pukat di sebelahku mengecek peralatan menangkap burung. Hari-hari terakhir rasanya berjalan cepat sekali.
Kejadian itu sudah lewat tiga bulan lalu. 
Meski pekerjaan pembangunan gedung sudah dilakukan, puing-puing bangunan lama sudah disingkirkan, setiap kali datang ke sekolah, aku masih tetap bisa membayangkan dengan utuh semua sudut kelas kami. Kursi Juni dan Juli, patung Garuda Pancasila yang diapit gambar presiden dan wakil presiden, papan tulis hitam, tumpukan kapur, bercak hitam di langit-langit kelas, retak-retak kecil di dinding. Menghela nafas, mungkin butuh waktu lebih lama lagi untuk menghapus semua kenangan. 
Dua hari setelah kejadian, Pak Bin dengan bantuan tentara koramil mendirikan tenda-tenda darurat di halaman sekolah. Di sanalah proses belajar dilanjutkan. Ada empat tenda loreng terbuka, lengkap dengan kursi dan meja barunya. Aneh sekali rasanya belajar sambil menatap bekas reruntuhan kelas lama kami. Hari pertama sekolah, Pak Bin malah lebih banyak menghela nafas panjang dan melamun. Memukul lonceng lebih cepat dari jadwal. Lonceng itu ditemukan di sela-sela reruntuhan, karena terbuat dari baja, tidak rusak sedikit pun, dengan segera bisa digantungkan di salah satu pojok tenda darurat.
Wak Yati dulu benar. Nooit verloren, Sang Waktu tidak pernah kalah. Seberat apapun beban yang mengganduli kaki, waktu terus berlalu. Minggu-minggu terlewati, ujian Cawu dua harus dilakukan, kami mulai terbenam dengan kertas-kertas ulangan. Mengerjakan soal Matematika bersamaan gerimis penghujung musim hujan. Menjawab soal Bahasa Indonesia bersamaan dengan datangnya alat berat dan truk untuk memindahkan reruntuhan sekolahan. Menjawab soal Ilmu Pengetahuan Sosial bersamaan dengan kunjungan-kunjungan orang yang kami tidak kenal. Membawa denah-denah dan gambar-gambar. Mengerjakan soal Ilmu Pengetahuan Alam bersama datangnya truk pasir, batu koral dan batu bata. Menumpuk tinggi. Di sebelahnya papan-papan kayu, besi-besi panjang bahan pondasi juga tersusun rapi. 
Pekerjaan pembangunan gedung sekolah telah dimulai, dan Mang Unus menjadi salah-satu kontraktor lokalnya.
Urusan pemilihan kepala kampung itu tertunda sebentar. Dan saat dilaksanakan seminggu setelah kejadian, ‘kotak kosong’ dengan telak mengalahkan ‘gambar jagung’. Di tengah semua rasa sedih itu, menyebalkan sekali melihat Haji Sohar tetap semangat berkampanye. Memaksakan diri agar pemilihan segera dilaksanakan. Seluruh warga yang sedang bersedih akhirnya kompak bersatu. Melipat wajah-wajah saling curiga, bisik-bisik penuh intrik. Mereka tidak peduli lagi dengan sumpal uang. Jadi gampang diprediksi hasilnya. 
Meski seluruh kampung puas dengan hasil itu, Bapak memutuskan segera mengumpulkan seluruh warga. Mengajak mereka bicara.
“Sesuai peraturan, sebulan sejak hari ini, pemilihan ulang harus dilakukan. Aku tahu kalian tidak mau dipimpin Sohar, tapi akan sangat menyebalkan jika tetap tidak ada di antara kalian yang mencalonkan diri. Kita tidak mungkin mengulang pemilihan dengan calon tunggal, apa kata orang-orang luar kampung kalau sampai tahu ‘kotak kosong’ menang dua kali. Oi, itu benar-benar logika paling aneh. Kalian tidak mau memilih Sohar, tapi kalian juga tidak mau dipilih. Jadi segeralah pilih kandidat yang tepat di antara kalian.”
Tidak hanya sekali Bapak mengumpulkan mereka, tiga kali tepatnya, dan barulah salah seorang anak muda, Kak Bujuk, yang usianya baru dua puluh, masih terhitung saudara Bapak –sebenarnya di seluruh kampung satu sama lain masih terhitung saudara, berani mencalonkan diri. Dengan demikian, jalan ceritanya sudah bisa ditebak. Meski Haji Sohar untuk kedua kalinya gencar membagibagikan beras, amplop uang, menjanjikan ini-itu, hasil pemilihan sebulan kemudian bagai ayam hitam bertali hitam terbang di siang hari. Kak Bujuk resmi sudah menjadi kepala desa termuda sepanjang sejarah kampung kami. 
Rumah besar milik Haji Sohar terkunci rapat. Menurut bisik-bisik tetangga, pemiliknya kembali ke kota. Urusan ini mudah bagi Haji Sohar, tapi tidak untuk Wak Lihan yang tidak bisa meninggalkan kampung begitu saja. Mungkin butuh lebih lama dibandingkan membangun gedung baru sekolah hingga Wak Lihan bisa nyaman kembali bergaul di tengah warga. Beruntung, Bapak mengundang Wak Lihan ikut hadir di acara syukuran atas selamatnya aku dari gedung sekolah roboh. “Kau tidak perlu malu, Lihan. Terus-terang saja, aku juga mencoblos Sohar, bukan kotak kosong.” Tertawa, “Ah, tapi setelah itu Pak Syahdan jelas memilih Bujuk, bukan?” Salah seorang menimpali. Bapak melambaikan tangan, menyuruh tetangga itu diam.
Suara motor terdengar meraung di jalanan. 
Terputus dari lamunan, mataku langsung membulat, itu pasti motor Mang Unus. Suaranya khas sekali. Benar saja, beberapa detik berlalu, motor trail tua warna kuning itu sudah merapat di pagar rumah. Asap knalpotnya mengepul. Mang Unus lompat mendekat, melepas kaca-mata hitamnya, nyengir berkata. “Kalian menunggu siapa, Burlian, Pukat?”
Kami sudah tertawa senang.
***
Mang Unus memastikan semua peralatan menangkap burung lengkap dibawa sebelum berangkat. Senapan angin kebanggannya tergantung di pundak. Tetapi kali ini kami tidak akan menembak burung-burung itu, kami menggunakan cara yang lebih eksotis, menggunakan getah karet.
Sebelum berangkat, Ayuk Eli yang sedang pulang dari SMP-nya di kota kabupaten protes keras, “Mang Unus tidak boleh melakukan itu. Mengajak Pukat dan Burlian merusak hutan. Burung-burung itu harusnya hidup bebas di hutan sana.” Yang diprotes hanya menyeringai, “Kalau begitu, orang-orang yang menyembelih ayam juga merusak lingkungan hidup, Eli. Harusnya ayam-ayam itu dibiarkan bebas berkeliaran di halaman.”
Aku dan Kak Pukat menahan tawa melihat wajah Ayuk Eli yang menggelembung. Sejak tadi pagi dia protes melihat kami menyiapkan peralatan. 
“Burlian, Pukat, ayo berangkat!” Mang Unus melangkah ke pagar rumah. Menaiki motornya, gagah menghidupkan starter motor trail. 
Aku dan Kak Pukat sudah rapat duduk di jok belakang. Bubu, yang biasanya untuk menangkap ikan, tersampir di pundak Kak Pukat. Itu untuk sangkar sementara burung-burung. Mang Unus menginjak gas dalam-dalam. Motor trail berwarna kuning itu melesat bertenaga.
Jadi begini aturan mainnya. Kami akan menangkap ‘burung mandi’. 
Musim kemarau, matahari bersinar terik membuat burung-burung di hutan gerah. Setiap petang, saat matahari mulai beranjak turun di ufuk barat sana, puluhan burung akan terbang ke dasar hutan, mendekati sungai-sungai kecil yang banyak terdapat di dalam rimba.
Sungai itu lebarnya paling dua meter, di beberapa bagian tertentu dalamnya hanya tiga senti. Air mengalir di sela-sela koral batu. Jernih dan dingin. Menggoda burung untuk mandi di atasnya. Mereka hinggap di atas bebatuan dasar sungai, kakinya terbenam satu senti, lantas mulai memasukkan paruh ke dalam air, mengibaskan sayap membuat air berkecipak, tidak beda seperti kami sedang mandi di sungai belakang kampung. Karena itulah kami menyebutnya dengan istilah ‘burung mandi’.
Mang Unus hafal sungai mana yang paling banyak pengunjung burungnya. Dengan motor trail itu kami menuju perlintasan sungai itu dengan jalan raya, sekitar lima pal dari kampung. Mang Unus memarkir motor trail di tepi hutan, lantas kami bertiga berjalan kaki beriringan mulai masuk ke dalam hutan, melangkah di atas bebatuan sungai, melewati rimbun pohon-pohon yang menjuntai di kiri-kanan sungai kecil. 
Setelah berjalan kira-kira satu pal menelusuri sungai, Mang Unus menghentikan langkah kaki, melihat pergelangan tangannya. Masih belum terlalu sore, baru pukul empat, waktu yang tepat memasang perangkap. Menyuruh aku dan Kak Pudin menurunkan peralatan. Aku mengeluarkan bilah-bilah bambu sebesar kelingking dengan panjang enam-tujuh jengkal. Kak Pudin cekatan mengeluarkan batok kelapa, membuka bungkus plastiknya. Batok itu penuh dengan lem dari getah karet yang dimasak. Warnanya hitam, lengket seperti dodol yang baru diangkat dari wajan. 
Mang Unus membantu melumeri bilang-bilah bambu dengan lem getah karet. Menyisakan sejengkal ujung-ujungnya bersih dari adonan hitam getah karet agar bisa dipegang. Menyuruh aku memegangnya. Dia beranjak menebas salah-satu dahan pohon, membuat tonggak kecil yang ditancapkan ke bebatuan sungai untuk meletakkan bilah bambu yang sudah dilumeri lem getah karet. Jebakan itu selesai. Bilah bambu itu melintang diagonal, beberapa senti di atas permukaan air sungai. Burung-burung yang mandi di sekitarnya tidak akan menyangka kalau itu bukan batang kayu biasa. Mereka biasanya cuek malah hinggap di atasnya. Atau tidak sengaja sayapnya tertempel ke bilah bambu saat asyik bercengkerama dengan air.
Selesai satu jebakan, kami melanjutkan menelusuri sungai. Setiap menemukan bagian sungai yang dangkal, berbatu dan cocok untuk pemandian burung, kami meletakkan satu-dua bilah bambu melintang. Adalah sekitar satu kilometer kami terus ber-hulu-an. Bilah bambu yang kami bawa habis, juga lem getah karet di batok kelapa. Seluruh jebakan sudah terpasang. Mang Unus melihat pergelangan tangannya. Sudah hampir pukul lima sore. Cahaya matahari petang menerobos dedaunan. Saatnya burun-burung itu mulai turun ke sungai. Berceloteh sukaria. Jebakan lem getah karet itu mulai bekerja.
“Kalian mau melihat ‘putri mandi’?”
Aku dan Kak Pukat menatap Mang Unus tidak mengerti.
“Burung mandi?” Aku bertanya balik, membenarkan. Kalau melihat burung mandi kami sudah biasa. Nanti juga saat berhiliran kembali mengambil bilah-bilah bambu itu, akan ada belasan burung yang sudah menempel tidak bisa bergerak.
“Bukan burung mandi,” Mang Unus tertawa, “Tapi, putri mandi.”
Mang Unus memperbaiki posisi senapan angin di punggungnya. Memasukkan pisau besar ke dalam sarungnya. “Ayo, kita punya waktu setengah jam sebelum berhiliran mengecek bilah bambu. Kalian tidak ingin ketinggalan, bukan?”
Aku dan Kak Pukat menggaruk rambut, mengikuti langkah Mang Unus.
Semakin ke hulu, hutan yang melingkupi sungai semakin lebat, air sungai juga semakin dalam. Daun-daun besar dan dahan-dahan menjuntai, kami harus menunduk melewatinya. Pohon-pohon juga semakin rapat. Ada beberapa ikan terlihat melesat di dalam air sungai juga udang dan kepiting kecil. Buah dari pohon liar berjatuhan sepanjang bibir sungai. Aku tidak tahu itu buah apa, kulitnya seperti nangka, merekah merah bagian dalamnya.
Setelah berjalan satu pal lagi, kami menemukan pertigaan sungai. Mang Unus mengambil yang kiri. Menatap pohon-pohon besar, akar-akar panjang menjuntai dan lebih banyak lagi bekas buah-buah merah yang berserakan seperti habis dimakan binatang. Demi menatap hamparan buah merah itu, aku teringat sesuatu, bergegas mendekati Mang Unus, mencengkeram lengannya, mendecit bertanya, “Kita tidak ke ‘sungai larangan’, bukan?”
Langkah kaki Mang Unus terhenti, dia menoleh, mengangguk.
Astaga, aku dan Kak Pukat reflek langsung mundur satu langkah. Menatap wajah Mang Unus, memastikan kalau dia tidak sedang bergurau. Astaga, bukankah itu berbahaya? Kami memang suka melanggar pantangan, termasuk melanggar pantangan ‘lubuk larangan’ dulu. Namu untuk yang satu ini, mendengar desas-desus ceritanya saja sudah amat menyeramkan. Apalagi lihatlah, kami masih berbilang ratusan meter lagi dari tempat itu, tapi suasana hutan sudah berbeda. Lebih hening, lebih takjim dan lebih misterius. 
Mang Unus tertawa kecil, “Ayo, waktu kita terbatas. Nanti putri itu terlanjur pergi.” Terus melangkah.
Aku memukul jidat, bagaimana ini urusannya? Bersitatap dengan Kak Pudin, punggung Mang Unus hilang di kelokan sungai. Kami berdua langsung terlonjak kaget, bergegas menyusul, takut benar tertinggal. 
Bagaimana mungkin Mang Unus tidak tahu legenda sungai larangan? Menurut cerita dari orang-orang yang pernah nekad ke sungai larangan, jika kita terus berhuluan menelusuri anak cabang sungai, maka akan ditemukan bagian sungai yang masuk ke bawah tanah, seperti goa. Aliran air hilang di dalamnya. Dan konon baru muncul lagi berpuluh-puluh pal di balik bukit barisan sana.
Bagian hutan itu terlarang. Bagian sungai itu apalagi, sudah jelas sekali dari namanya. Menurut cerita, di goa itu tinggal ‘orang-orang bunian’. Orang-orang kecil setinggi pinggang laki-laki dewasa. Berpakaian seadanya dan berwajah aneh. Mereka tidak suka diganggu, dan jangan coba-coba diganggu. Konon sudah banyak orang yang berani ke sana, pulangnya jatuh sakit berkepanjangan, lantas meninggal tersiksa. Bahkan, bertahun-tahun silam, ada beberapa anak yang melanggar tabu, tidak pernah pulang lagi dari sana. Hilang selamanya, menjelma menjadi orang bunian.
Aku merapat di belakang Mang Unus. Kak Pukat sejak tadi awas melihat sekitar. Mang Unus terlihat santai terus melangkah. Kedalaman sungai sudah sepaha membuat celana kami basah. Sebenarnya jika kami tidak sedang ketakutan, perjalanan itu menakjubkan. Air sungai terlihat mempesona. Jernih memperlihatkan dasarnya yang berbatu warna-warni. Belum pernah kami melihat batu koral sungai seindah ini. 
Sssstt… tiba-tiba Mang Unus memberi isyarat agar kami diam. Aku menggaruk kepala, dari tadi juga kami sudah diam tidak bercakap sepatah pun. Mang Unus melangkah pelan-pelan sekali. Aku dan Kak Pukat ikut berusaha menghilangkan suara kecipak kaki melewati air. Kalau begini kami sudah dekat sekali dengan ‘putri mandi’ itu.
Mang Unus menyibak dedaunan yang menutupu sungai, menyuruh kami mengintip ke dapan. Kami yang sejak tadi membayangkan akan melihat orang-orang pendek, berambut panjang, berwajah aneh sedang mandi atau sedang berjaga di depan goa mereka tersedak kecil. Mang Unus ber-ssst menyuruh menutup mulut.
Oi, kami benar-benar terlalu percaya cerita itu. 
Tidak ada mahkluk pendek dengan tombak-tombak panjangnya, tidak ada juga mahkluk pendek dengan mulut komat-kamit membaca mantera jahat, yang ada justru tiga ekor rusa sedang meminum air sungai. Dua induk rusa dengan seekor anaknya. Aku mengusap mata, beranjak lebih dekat. Pemandangan ini sungguh spesial. Lihatlah, dua induk rusa itu berkilau ditimpa cahaya senja yang menerabas pepohonan rapat. Tanduk pejantannya yang bertingkat terlihat anggun mempesona. Mulut mereka berdecak pelan meneguk segarnya air sungai, tidak tahu kalau kami mengintip dari jarak dekat. Anak rusa berlompatan riang, kakinya terperosok ke dalam sungai. Melenguh pelan, riang kembali melompat ke bibir sungai.
Aku dan Kak Pukat menahan nafas. Mang Unus tersenyum.
Adalah lima belas menit kami menyaksikan pemandangan menakjubkan itu. Melihat dengan mata kepala sendiri, legenda ‘putri mandi’.
“Hanya sebagian orang-tua kampung yang tahu kalau ini habitat mereka, Burlian.” Mang Unus memimpin perjalanan kembali, berhiliran ke jebakan bilah-bilah bambu. “Dan mereka memutuskan untuk melindunginya dari remaja-remaja tanggung yang serba ingin tahu, orang dewasa yang nekad, atau pemburu liar dengan menceritakan kisah-kisah seram itu.”
“Itu kebijakan alam yang paling asli, Burlian, Pukat. Meski caranya sederhana, sejak aku dan Bapak kau seumuran kalian melihat pertama-kalinya, hingga hari ini rusa-rusa hutan itu tetap lestari. Sudah lebih empat puluh tahun. Sejauh ini, cerita tentang ‘sungai larangan’ efektif melindunginya. Entahlah besok-lusa, siapa yang tahu. Ah, semakin lama, semakin banyak saja pemburu dari kota yang masuk hutan, dan mereka mulai tidak mempan dengan cerita-cerita itu.” Mang Unus menghelas nafas pelan.
“Kalau tempat tadi rahasia, kenapa Mang Unus menunjukkannya pada kami?” Kak Pukat bertanya, mengeluarkan suara setelah setengah jam terakhir hanya diam. 
“Kenapa? Karena aku yakin kalian tidak akan mengganggu rusa-rusa itu. Aku juga yakin, besok-lusa kalian juga tidak akan buncah bercerita ke teman-teman di kelas soal kejadian sore ini. Kalian akan menutup mulut. Menjadi bagian kebijakan tetua kampung.” Mang Unus menatap kami takjim, menyentuh bahu-bahu kami. “Burlian, Pukat, leluhur kita hidup bersisian dengan alam lebih dari ratusan tahun. Mereka hidup dari kasih-sayang hutan yang memberikan segalanya. Maka sudah sepatutnyalah mereka membalas kebaikan itu dengan menjaga hutan dan seluruh isinya.”
“Ayuk Eli yang tadi protes soal menangkap burung-burung itu benar. Kita memang merusak hutan dengan menangkapi burung-burung. Tapi Ayuk Eli lupa sisi terpentingnya, yaitu: kita mengambil seperlunya. Kita menebang se-butuhnya. Kita punya batasan. Jangan pernah mengambil semua rebung tanpa menyisakan tunasnya untuk tumbuh lagi. Jangan pernah menebar racun atau menjulurkan kawat setrum di sungai yang akan membuat telur dan ikan-ikan kecil juga mati, padahal esok-lusa dari merekalah sungai akan terus dipenuhi ikan-ikan. Jangan pernah menebas umbut rotan semuanya, dan sebagainya. Kita selalu berusaha menjaga keseimbangan. Jangan pernah melewati batas, atau hutan tidak lagi bersahabat.”
“Baik, sekarang mari kita lihat bilah-bilah bambu itu. Apakah sudah ada burung-burung terjerat di sana. Bergegas. Sudah hampir gelap. Biar nanti malam kita sudah bisa merasakan burung panggang yang lezat.”
Aku dan Kak Pukat tertawa, berlarian kecil terus berhiliran. Sebenarnya kami tidak terlalu mengerti tentang keseimbangan yang dikatakan Mang Unus. Tetapi kami menyepakati satu hal, cerita mengintip ‘kijang mandi’ ini tidak akan pernah kami bocorkan. Apa yang tadi Mang Unus bilang? Kami telah menjadi bagian kebijakan leluhur kampung.
Hebat!
***
Musim kemarau berlalu cepat. Mang Unus semakin sibuk mengurus pembangunan gedung sekolah, hingga tidak sempat lagi menemani kami berpetualang masuk hutan.
Gedung sekolah itu mulai terlihat bentuknya. Sebulan lalu kerangka atap sudah terpasang kokoh. Dan setiap hari kami berangkat ke sekolah, bentuk fisiknya terus sempurna. Hari Senin, genteng-genteng mulai dipasang. Hari Selasa, dinding-dinding mulai dicat, bau catnya tercium hingga tenda-tenda darurat kami. Hari Rabu tegel lantai mulai disusun, dan kami menatap terpesona pojokan gedung. Hei, apakah kami tidak salah lihat, di pojok itu, kami punya kamar mandi yang bagus sekali. Dengan keramik berwarna putih. 
Hari Kamis, pintu dan jendela kelas dipasang. Menyenangkan melihat warna hijau muda-nya. Hari Jum’at rak-rak buku tiba di sekolah bersama meja dan bangku kayu. Kami berbisik-bisik, buat apa rak-rak besar itu? Buat di kelas? Untuk menyimpan apa? Hari Sabtu, jawabannya datang. Satu mobil box menurunkan banyak kardus. Kawan-kawan berlarian mengerubungi kardus-kardus itu, membuat Pak Bin kewalahan mengendalikan mereka. Ada tiga kakak-kakak sukarelawan turun dari mobil kedua. Melepas topi kuning mereka, tertawa memanggil namaku, “BURLIAN! Mana yang namanya Burlian?”
Aku tidak kenal siapa tiga pemuda berseragam ini. Tetapi nampaknya mereka amat mengenali aku, tertawa mengacak rambutku, “Ah, ini dia anak yang selamat dari reruntuhan… kami hadiahkan empat ratus buku perpustakaan untuk sekolah kau. Bapak Menteri menyuruh kami mengurus permintaan kau.” Mataku membulat, astaga? Jadi semua isi kardus ini adalah buku cerita? Munjib sudah lompat merobek salah-satu kardus. Mengeluarkan satu buku yang terletak paling atas dan seketika berteriak nyaring: “MONTE CRISTO!!”
Maka jadwal ulangan kenaikan kelas datang tanpa terasa. 
Sekolah itu selesai seminggu sebelum ulangan, ada acara peresmian oleh pejabat kota. Halaman sekolah ramai, juga hadir kamera-kamera TVRI itu. Aku beberapa kali diajak bicara oleh orang yang tidak kukenal. Ditanyai banyak hal, dan karena aku sedang asyik bersama teman yang lain menikmati gedung sekolah baru kami, pertanyaan-pertanyaan itu kujawab sambil lalu. Aneh, mereka justru tertawa mendengar jawabanku yang asal celetuk.
Ulangan umum tetap dilaksanakan di tenda, meski gedung itu sudah siap. Pak Bin sambil tertawa bilang, “Tidak setiap waktu kita mendapatkan kesempatan ulangan kenaikan kelas di tenda. Ini pengalaman spesial.” Kami tidak membantah, tiga bulan terakhir sudah terbiasa belajar di tenda. Kami tidak tahu kalau Pak Bin punya alasan lain, dia ingin kami lebih berkonsentrasi ke kertas ujian dibandingkan sibuk menciumi aroma cat atau mengomentari kelas baru. Lebih baik bangunan digunakan persis tahun ajaran baru nanti.
Dan kelas lima, masa-masa paling krusial atas masa depan kami terlewati sudah. Dengan banyak kejadian tidak kalah seru dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Tahun depan kami kelas enam.

Minggu, 03 Desember 2017

Tere Liye : Burlian

BAB 22. ROBOHNYA HARAPAN KAMI
----------------------------------------------------
Orang-orang ramai berkerumun di lapangan stasiun kereta, ketua panitia pemilihan sudah ancang-acang hendak memulai acara. Nama-nama pemilih sudah didaftar, kertas-kertas suara bergambar jagung—sebagai tanda pilihan Haji Sohar— dan sebelahnya kosong tanpa gambar –sebagai tanda pilihan ‘kotak kosong’— disusun rapi di atas meja. Semua saksi sudah hadir, petugas dari kecamatan juga sudah datang. Maka sebentar lagi, resmi sudah pesta demokrasi kelas kampung dimulai. 
Tere Liye : Burlian

Butiran sisa air hujan menggelayut di ujung-ujung daun. Embun masih berkilauan diterpa cahaya matahari pagi yang mulai mengintip dari pucuk-pucuk pohon. Sengaja acara dimulai sepagi mungkin, agar penduduk kampung yang selesai mencoblos, masih sempat pergi ke kebun. Urusan memilih dan mencari nafkah sama pentingnya, tak boleh yang satu mengalahkan yang lain. Ketua panitia meraih toa, “Test, test, satu, dua, tiga…” Suaranya nyaring terdengar hingga ke sekolahan. Bergema.
Sebagai jawabannya, bersama pantulan gema, suara berdebam menggetarkan seluruh kampung terdengar dari arah sekolahan. Itu lebih kencang dibandingkan dentuman dinamit tim eksplorasi pencari minyak dulu. Lapangan terasa bergetar. Butiran air jatuh berguguran. Semua wajah tertoleh. Kepala panitia pemilihan menurunkan toa, para petugas pencatat meletakkan pulpen, dan orang-orang yang berkerumun seperti lebah, berdengung bertanya satu sama lain.
“GEDUNG SEKOLAH!!” Terdengar teriakan dari ujung jalan.
Sedetik senyap. Saling tatap tidak mengerti.
“GEDUNG SEKOLAH AMBRUKK!!” Teriakan itu terdengar sekali lagi.
Saat kesadaran itu datang, bagai air bah, kerumunan penduduk yang hendak mencoblos bergegas menghambur ke arah sekolah, berlarian secepat kaki bisa berlari. Astaga? Apa mereka tidak salah dengar. Ini hari Senin, anak-anak tadi pagi pamit berangkat sekolah, kalau gedung itu roboh, apa yang terjadi dengan mereka? 
Jarak lapangan stasiun kereta dengan sekolah hanya dua ratus meter, tapi berlari dengan kecepatan setinggi itu cukup untuk membuat nafas tersengal, dan lebih tersengal lagi saat tiba di lokasi kejadian. Debu dari bangunan ambruk mengepul tinggi. Seperti baru saja ada bom meledak di sana. Gedung sekolahan rata dengan tanah, genting atapnya terlempar hingga belasan meter. Dindingnya luruh. Meja dan bangku kayunya remuk. Tidak ada lagi yang tersisa. Sungguh tidak ada.
Dan bersama kepulan debu, ratap tangis mulai terdengar dari seluruh penjuru sekolah. Seruan-seruan minta tolong. Teriakan-teriakan mengaduh kesakitan. Seruan-seruan panik mencari anak masing-masing. Campur-aduk di langit-langit sekolahan kami. 
Embun menetes satu-persatu diujung daun bougenvile yang menjadi pagar halaman sekolah, cahaya matahari pagi yang seharusnya menyenangkan membasuh kelam seluruh lapangan sekolahan. Wajah-wajah histeris.
Hari itu, hari paling hitam dalam sejarah kampung kami.
***
Pernahkan aku menceritakan tentang teman sekelas kami yang bernama Juni dan Juli? Pernahkah? Belum, karena aku sengaja tidak menceritakannya hingga tiba di bagian ini. Mereka yang selalu riang di sekolahan, pandai sekali dalam pelajaran Matematika—mungkin hanya mereka berdua saja yang mencintai pelajaran itu, selalu duduk paling depan sejak kelas satu, selalu mengenakan sepatu berwarna sama, tas sama, kaos kaki sama, semua serba sama. 
Selalu menyakitkan mengenang hal-hal itu. 
Membuat sesak dan terdiam menggigit bibir. 
Kalau kami jahil berteriak memanggil “JU!” maka kedua teman kami itu akan serentak menoleh, tertawa, Juni dan Juli tidak pernah marah dengan olok-olok itu. Malah bangga, bilang bahwa ‘dalam seribu kelahiran, belum tentu ada satu yang terlahir kembar’. Bilang, merekalah kembar pertama yang lahir di kampung Padang. Membuat kami yang awalnya jahil, malah melongo terpesona. “Boleh jadi benar… Karena sejak Bakwo kecil hingga sekarang, belum pernah melihat ada yang kembar.” Itu klarifikasi Bakwo Dar saat aku penasaran bertanya. Jangan-jangan kalimat Juni dan Juli hanya omong-kosong.
Di kampung kami yang sederhana, fakta mereka kembar amat menarik bagi anak-anak. Apalagi nama mereka ganjil sedemikian rupa. ‘Juni’ diberi nama begitu, karena dia memang lahir di bulan Juni, persisnya tanggal 30 Juni, pukul 23.15. Sementara Juli, lahir satu jam kemudian, tanggal 1 Juli pukul 00.09, karena itulah namanya ‘Juli’. Penjelasan ini ajaib sekali, dan fakta kalau Juni dan Juli adalah teman yang baik hati dan bersahaja membuat kami cepat akrab dengannya sejak minggu pertama masuk sekolah. Mereka berdua adalah kawan yang bisa diandalkan.
Hingga hari ini, saat gedung tua sekolah kami roboh.
Pagi itu, kami masih khidmat melaksanakan upacara bendera saat retak pertama di dinding merekah. Aku yang menjadi pemimpin upacara berteriak kencang memberikan penghormatan terakhir sebelum bubar kepada Pak Bin ketika retak dinding itu pecah menjadi lima belas alur. Menjalar mengerikan. Dan saat teman-teman berlarian hendak masuk ke dalam kelas, saat itulah gedung sekolah kami ambruk, roboh tidak berbilang.
Juni dan Juli meninggal di tempat. Mereka tidak ikut upacara karena pilek. Mereka beristirahat di ruang guru. Seluruh kelas buncah oleh suara tangis saat tahu kabar itu. Dan lebih banyak lagi ratap tangis Ibu Juni dan Juli. Ia menjerit histeris saat kedua kembar itu diangkat dari balik reruntuhan, “Mana anakku!! Mana anakku.” Menciumi dua tubuh yang mengenaskan itu. Tersedu bilang kalau tadi pagi ia sudah melarang mereka sekolah, sudah bersiap menuliskan surat ke Pak Bin agar diberi ijin sakit. 
Seluruh kampung terbenam dalam kesedihan. 
Juga Mamak dan Bapak, mereka tergopoh panik membawaku ke atas mobil angkutan pedesaan, membawaku secepat mungkin ke rumah sakit kota kabupaten. Ada lima anak yang terkena lemparan genting dan bongkahan batubata gedung, aku yang berdiri paling dekat dengan gedung sekolah sebelum roboh terbilang paling parah. 
Tergeletak di tengah kepulan debu. Dengan kepala berlumuran darah.
***
“Mereka harus membayar mahal… mereka harusnya membayar mahal sekali semua kejadian ini.” Pak Bin menangis, menatap kepalaku yang sempurna terbebat kain putih, hanya menyisakan kedua bola mata dan lubang mulut.
“Saya sudah berkali-kali datang ke mereka, menjelaskan kalau gedung itu sudah jauh dari layak pakai… gedung itu sudah tua, sudah retak di mana-mana, bocor, tampias… tapi apa jawaban mereka? Tunggu anggaran tahun depan… tunggu tahun depannya lagi.. tahun depan-depannya lagi. Padahal kalau itu soal uang untuk mobil-mobil dinas mereka, renovasi rumah-rumah dinas mereka, atau uang yang bisa mereka ambil, cepat sekali urusannya.”
Bapak ber-hsss menyentuh lengan Pak Bin. Berbisik sudahlah, semua sudah terjadi, Burlian akan baik-baik saja, hanya luka luar. “Apanya yang baik-baik saja? Lihat, seluruh kepala dibebat, infus-infus, apanya yang baik-baik saja?” Pak Bin memotong serak. Wajahnya marah, menggelembung. Bapak tersenyum, akhirnya memapah Pak Bin agar keluar dari ruangan gawat darurat. 
Aku yang setengah sadar, samar-samar mencerna percakapan itu. Kepalaku masih sakit, dan seluruh tubuhku lemas sekali untuk digerakkan. Menatap sekitar, melihat selang dan belalai yang menghujam di tubuhku. Mengeluh pelan, di manakah aku sekarang?
***
Dari bisik-bisik Bakwo Dar dan Mang Unus yang membesukku besoknya aku tahu Juni dan Juli sudah dikuburkan. Mereka sengaja bicara pelan, sepertinya benar-benar tidak mau mengganggu istirahatku. Dari bisik-bisik penduduk kampung lain yang mengunjungiku beberapa hari kemudian, aku tahu kalau empat anak-anak lain sudah pulang, rawat jalan. Mereka tidak terlalu parah. Aku juga tahu kalau pemilihan kepala kampung kami ditunda. 
Bebat kepalaku masih terpasang lewat empat hari kejadian, kondisiku masih lemas. Aku hanya lamat-lamat memperhatikan orang-orang yang bergantian menjagaiku.
Kabar robohnya sekolah kami dengan cepat menjalar ke kota provinsi. Kata Mang Unus dalam bisik-bisiknya, liputan gedung yang rata dengan tanah ditayangkan di TVRI, dalam siaran berita nasional. Sebenarnya kabar tentang sekolah roboh lazim saja di masa itu, tetapi meninggalnya si kembar Juni dan Juli menjadi ‘bumbu’ yang luar-biasa. Inspeksi dan kunjungan pejabat dari kota membanjiri kampung. Semua berebut hendak menunjukkan empati. 
“Mana… mana anak yang selamat itu?” Suara berat terdengar dari luar, juga rusuh langkah kaki, seruan-seruan agar memberikan jalan.
Pintu ruangan rawat inapku terbuka, Mamak yang sejak semalam menungguiku, beranjak dari duduknya, adalah belasan orang yang mendadak masuk ke ruanganku. Bersama kilauan blitz tustel dan rekaman kamera dari orang-orang mengenakan rompi TVRI.
“Selamat pagi, Bu.” Orang yang mengenakan seragam safari itu menegur Mamak, ramah tersenyum. Mamak yang lelah semalaman berjaga mengangguk. Sebenarnya kalau dilihat dari ekspresi wajah, terlihat sekali Mamak sebal dengan kunjungan mendadak ini. Dua hari lalu Mamak bahkan bertengkar dengan dokter rumah sakit, “Anakku bukan tontonan. Kenapa kalian tidak melarang orang-orang itu datang? Burlian butuh istirahat.” Sayangnya, yang kali ini jangankan Mamak, kepala rumah sakit saja tidak bisa menahannya.
“Nah, ini dia anak yang selamat dari reruntuhan… Apa kabarmu?” Bapak itu bertanya dengan suara serak, senyuman tidak lepas menghias wajahnya.
Aku mengangguk, kabar baik. Sejak kemarin aku sudah bisa duduk. Aku juga sudah bisa bicara, meski masih malas bicara panjang-panjang.
“Kita tidak akan membiarkan ini terjadi lagi. Seluruh bangunan tua sekolah harus diganti. Pemerintah akan menangani masalah ini sungguh-sungguh.” Bapak itu menoleh ke kolega yang mengelilinginya, berkata mantap di depan rekaman kamera TVRI.
Aku diam saja, meski entah kenapa, tiba-tiba hatiku terasa sesak. Aku tidak tahu dan tidak peduli dengan siapa rombongan ini, aku hanya ingat kalimat Pak Bin beberapa hari lalu: Mereka harus membayar… mereka harusnya membayar mahal sekali semua kejadian ini. Aku menggigit bibir, berusaha menahan rasa marah yang tiba-tba datang memenuhi kepala. Itu benar, siapa yang bisa menebus kesedihan Ibu Juni dan Juli? Siapa yang bisa mengembalikan nyawa yang sudah pergi? 
“Apa yang ingin kau katakan, Nak? Katakan saja?” Bapak itu menoleh ke arahku yang terdengar mendengus pelan dengan nafas mengencang.
“Bapak jamin semua akan dilaksanakan… Katakan saja! Tidak ada orang yang akan berani melanggar janji di depan kamera wartawan.” Bapak itu tertawa, yang lain juga tertawa.
“A-ku…” Aku menghela nafas, berusaha mengendalikan diri.
“Aku ingin sekolah itu dibangun lagi.”
“Tentu saja itu akan dilakukan.” Bapak itu memotong. Tertawa renyah.
“Juga ruangan perpustakaannya.” Aku teringat kalau kami tidak punya perpustakaan. 
“Catat itu.” Bapak itu memerintah salah seorang stafnya.
“Juga peralatan-peralatan sekolahnya.”
“Lapangan bulutangkis.”
“Seragam sekolah.”
“Beasiswa untuk seluruh murid.”
“Motor untuk guru-guru—”
“Cukup, cukup…” Bapak itu tertawa, “Kau tidak akan mendaftar semua permintaan dalam satu kali kunjungan, bukan? Nanti kantong hadiah sinterklas saya kosong melompong.”
Orang-orang ikut tertawa.
“Tapi Bapak sudah berjanji akan melaksanakannya tadi. BAPAK SUDAH BERJANJI!!” Aku berseru galak. Suaraku melengking membuat seluruh ruangan terdiam.
“Ergh… baiklah.. baiklah.. tapi kau hanya boleh menyebutkan satu permintaan lagi.” Bapak itu menelan ludah, berusaha mengendalikan situasi dengan tersenyum kembali.
“A-ku…” Aku menelan ludah. Berpikir cepat, apa yang akan jadi permintaan terakhirku. 
“Aku ingin Pak Bin diangkat jadi PNS.” Aku akhirnya berkata mantap, menatap penuh rasa puas ke arah Bapak itu. Lantas tidak peduli, beranjak tiduran kembali. 
Aku tentu saja tidak bisa ‘menghukum’ mereka atas dosa membiarkan gedung sekolah itu roboh. Dalam banyak hal, mereka juga punya alasan kalau kejadian itu bukan salah mereka. Maka biarlah aku menyebutkan satu permintaan yang paling pantas sebagai tebusan. Setidaknya, sekolah kami akan memiliki seseorang yang penuh kasih-sayang, sangat peduli atas masa depan anak-anak didiknya. Setidaknya, sekolah kami akan memiliki ‘penjaga’-nya yang hidup tenang karena sudah PNS.
Laksanakan saja, aku menutup mulut, pembicaraan sudah selesai. Tidak menjawab lagi gurauan kaku Bapak itu. Bahkan sebenarnya dari gurat wajah, menyuruhnya menyingkir dari ruangan. Aku membiarkan kamera merekam seluruh ekspresi benci wajahku. Dan beberapa hari kemudian, saat televisi kecil di depan rumah menyiarkan dialog di ruangan rumah sakit itu, warga kampung berseru ramai, bertepuk-tangan, “Pak Menteri itu kena batunya sekarang… Bukan main putranya Pak Syahdan.”