Sabtu, 12 Agustus 2017

Tere Liye : Pulang

Bab 7 : Pencuri Yang Pengecut (Part 1)

Hari ini. Kawasan Kowloon, Hong Kong.
Jamuan makan malam bersama Master Dragon sudah hampir selesai. 
Tamu-tamu di meja makan sedang santai bercakap-cakap, sesekali tertawa. 
Aku menghabiskan air putih di gelas sekali teguk, saatnya menyampaikan maksud dan tujuanku. Saatnya berhenti berbasa-basi dengan tamu-tamu lainnya. Aku meletakkan gelas, lantas dengan suara tenang, aku memotong semua percakapan.
“Ijinkan aku bicara tentang pekerjaan, Master Dragon.”
Sebelas perwakilan keluarga menoleh padaku. Tawa satu-dua orang terhenti.
Master Dragon yang duduk di sebelah menatapku.
“Dengan segala hormat, aku sungguh minta maaf perayaan ulang tahun Master harus terpotong sebentar oleh urusan sederhana. Tapi aku tidak punya pilihan. Jadi ijinkan aku bicara.” Aku menatap sekeliling dengan tenang.
“Keluarga Lin di Makau, enam bulan terakhir, menolak melakukan pertemuan dengan kami, menolak seluruh pembicaraan. Malam ini, mereka hadir di meja ini, aku terpaksa meminjam jamuan makan malam ini, disaksikan keluarga lain, disaksikan Master Dragon, agar masalah kami dengan mereka diselesaikan.”
Wajah orang di seberang mejaku merah padam. Sejak tadi dia sudah tidak suka dengan kehadiranku, wajahnya tidak bersahabat. Dia adalah putra tertua Keluarga Lin dari Makau, usianya empat puluh lima tahun.
“Ayolah, Si Babi Hutan, kau tidak perlu membahas pekerjaan di meja ini.” Salah-satu perwakilan keluarga memotong, kepala keluarga dari Vietnam.
Aku menggeleng tegas. Aku harus membahasnya.
“Mereka mencuri teknologi pemindai yang telah kami kembangkan lima tahun terakhir di laboratorium Makau. Mereka pencuri pengecut.” Aku berkata dingin.
“Kami tidak mencurinya, bajingan. Kami membelinya dari profesor riset tersebut. Puluhan juta dollar.” Putra tertua Keluarga Lin berteriak demi mendengar kalimatku.
Aku menyeringai tipis, “Oh ya? Apakah menculik anak istri profesor tersebut juga harga yang kalian bayar? Puluhan juta dollar? Omong kosong. Kami yang menghabiskan jutaan dollar untuk lembaga riset itu, membantu biaya riset mereka bertahun-tahun, seluruh laboratorium itu milik kami dan saat penelitian itu rampung, kalian mencurinya begitu saja tanpa rasa hormat.”
“Masalah ini sebaiknya dibicarakan setelah jamuan makan. Ini pesta ulang tahun besar Master Dragon, tidak pantas kita bertengkar.” Salah-satu perwakilan keluarga berusaha menengahi, menahan Putra sulung Keluarga Lin yang hampir berdiri.
“Tidak apa. Aku ingin mengetahuinya.” Master Dragon menggeleng, tangannya terangkat, “Lagipula kita telah selesai. Apa sebenarnya pemindai itu? Dan kenapa dua keluarga memperebutkannya?”
“Itu teknologi paling depan di dunia medis.” Aku menjelaskan, “Teknologi itu bermanfaat untuk memindai tubuh hingga ke bagian terkecilnya, yang secara instan bisa memberitahu status kesehatan pasien. Alat diagnosis paling canggih. Harganya tidak ternilai. Kami tidak memperebutkannya, Master Dragon, pemindai itu milik kami. Mereka mencurinya. Pencuri rendahan.”
“Berani-beraninya kau menyebut kami pencuri, hah!” Putra sulung Keluarga Lin berdiri dari kursinya, kali ini tidak ada yang bisa menahan tubuhnya. Tangannya teracung balas menghina, “Kalianlah keluarga rendahan, yang memanfaatkan orang lain, termasuk memanfaatkan jamuan makan ini untuk menyerang Keluarga Lin.”
“Duduk! Semua duduk.” Master Dragon berkata dingin.
Suasana di ruangan itu terasa sekali pengap oleh ketegangan—makan malam akrab beberapa menit lalu menguap begitu saja. Hanya karena semua orang menghormati Master Dragon, mereka masih menahan diri untuk tidak ikut mulai berteriak, biasanya mereka malah mencabut senjatanya, mulai menembak siapapun.
Tere Liye : Pulang

Aku tahu, tidak hanya Keluarga Lin yang menginginkan teknologi itu, keluarga lain juga ada di balik pencurian tersebut. Satu atau dua diantara mereka pasti bersekongkol dengan Keluarga Lin. Itulah kenapa aku membutuhkan Master Dragon, minimal agar Master bersikap netral, tidak memihak siapapun, karena separuh dari kepala keluarga di meja makan masih kerabat dengan Master Dragon.
“Apa yang kau inginkan dengan merusak jamuan makan malamku, Si Babi Hutan?” Master Dragon bertanya, tatapannya tajam. Aku bisa merasakan aura mengerikan miliknya.
Tapi aku tidak takut. 
Balas menatapnya tajam, “Pemindai itu milik kami, Master. Hingga kapapun itu milik kami. Jika Keluarga Lin menolak mengembalikannya baik-baik, kami akan mengambilnya dengan paksa. Itu bisa memicu perang antar keluarga di Asia Pasifik. Aku tahu. Tapi kami tidak punya pilihan. Keluarga Lin sengaja mencuri pemindai itu saat Tauke sakit, mereka pikir, kami akan mengalah, karena kami juga akan menghadapi masalah internal di negera kami, menghadapi keluarga-keluarga lain di sana yang berusaha merebut kekuasan. Tapi kami tidak selemah itu. Merekalah yang pengecut. Mereka menolak pembicaraan, menolak bertemu secara hormat, bahkan malam ini, Lin tidak datang, dia menyuruh anaknya untuk hadir. Dia mengira Tauke akan datang, dia takut bertemu dengan Tauke.”
“Apa kau bilang? Kami takut kepada kalian? Kau menghina Ayahku.”
“Aku tidak menghinanya. Dialah yang menghina dirinya sendiri. Di mana dia sekarang? Duduk bersembunyi di dalam benteng gedung kasino puluhan lantai? Yang dia pikir bisa melindunginya dari serangan? Omong kosong, tidak ada tempat yang aman dari kami, sekali kami memutuskan menyerang—”
“Cukup, Si Babi Hutan. Cukup. Aku sudah mendengar masalahnya.” Master Dragon mengangkat tangan.
Meja makan kembali lengang. Semua orang menunggu pendapat Master Dragon atas situasi ini.
Master Dragon menangkupkan tangannya, pemimpin klan berusia delapan puluh tahun itu menoleh ke putra sulung Keluarga Lin, “Apakah kalian mencuri pemindai itu?”
“Tentu saja tidak, Master Dragon. Kami membelinya.”
“Apakah kalian menculik anak dan istri profesor penemu pemindai itu?”
Kali ini putra sulung Keluarga Lin terdiam. Wajah merah padamnya mengendur.
“Jawab pertanyaanku. Iya atau tidak?” Suara Master Dragon terdengar tajam, “Jangan coba-coba berbohong, karena mata-mataku ada di mana-mana, aku hanya butuh lima belas menit untuk mengonfirmasi kebenarannya.”
Putra sulung Keluarga Lin mengangguk pelan.
Aku tersenyum tipis. 
“Baik!” Master Dragon memukul meja, menyuruh yang lain memperhatikan penuh.
“Jika demikian, apa yang disampaikan Si Babi Hutan adalah kebenaran. Maka, masalah ini adalah antara Keluarga Tong dan Keluarga Lin. Aku memutuskan agar mereka berdua menyelesaikannya tanpa melibatkan siapapun. Jika ada satu saja keluarga lain ikut mendukung pihak bertikai, itu berarti berhadapan denganku. Aku memerintahkan Lin bertemu dengan perwakilan Keluarga Tong, membicarakannya secara terhormat. Jika Lin menolak menemuinya, maka itu berarti dia menolak mematuhi perintahku. Apapun hasil pembicaraan dua keluarga, tidak ada satupun yang boleh ikut campur. Keputusan ini final.”
Aku mengangguk senang. Itulah keputusan yang aku harapkan. Aku tidak berharap Master Dragon akan meminta pemindai itu dikembalikan, karena saling mencuri antara keluarga sebenarnya lumrah saja—yang membuatnya berbeda, seberapa penting benda yang dicuri. Master Dragon telah mengunci ruang lingkup masalah, dan itu lebih dari cukup. Putra sulung Keluarga Lin terlihat sebaliknya, dia hendak berseru tidak terima, juga beberapa perwakilan keluarga lain yang ada di pihaknya. 
Master Dragon lebih dulu berdiri, “Terima kasih telah hadir di jamuan makan malam ini. Semoga kesejahteraan selalu bersama kalian.”
Itu berarti kami diminta segera pergi, diusir secara halus. 
Sebelas perwakilan keluarga beranjak berdiri, mendorong kursi ke belakang, meninggalkan ruangan. Aku juga berdiri. Dua belas kursi tamu kosong satu persatu. Putra sulung Keluarga Lin menatapku marah saat berjalan keluar, penuh ancaman dan kebencian. Aku balas menatapnya tanpa ekspresi.
Strategi patung naga emas itu telah mengamankan langkah pertamaku. Rencanaku berjalan baik, tinggal mengurus penyelesaiannya, menghabisi si pencuri—tidak peduli seberapa hebat dia. 
Itulah spesialisasiku, penyelesai konflik tingkat tinggi.
***
Dua puluh tahun lalu.
Dengan kegagalanku bertahan di amok selama dua puluh menit, suka atau tidak, aku harus berangkat sekolah. Lantas bagaimana aku akhirnya bisa menjadi tukang pukul di Keluarga Tong?
Kopong yang menjadi jalannya. 
Menyaksikan amok malam itu, esoknya, Kopong menemui Tauke Besar, bilang Tauke akan menyia-nyiakan bakatku jika hanya menyuruhku sekolah. Aku mengetahui pembicaraan mereka, karena luka-luka lebamku sedang diperiksa oleh dokter, terpisah satu daun pintu dari ruangan kerja Tauke.
“Biarkan aku yang memikirkan siapa harus jadi siapa di rumah ini, Kopong. Itu bukan tugas kau.” Tauke berseru ketus kepada Kopong.
Tapi Kopong tidak menyerah, dia memberikan jalan tengah.
“Tauke, aku minta maaf jika ini berbeda pendapat, tapi anak itu menginginkan menjadi seperti Basyir, seperti pemuda-pemuda lain, seperti Bapaknya dulu. Sepanjang siang, anak itu tetap akan sekolah, Tauke. Malamnya, biarkan aku yang mengajarinya menjadi tukang pukul. Kita buat perjanjian kepadanya, jika nilai-nilainya bagus, dia boleh terus berlatih denganku. Itu akan membuatnya semangat sekolah, tidak merasa terpaksa.”
“Enak sekali kau bilang begitu. Aku sudah berjanji kepada Bapaknya, anak itu tidak boleh terluka. Mamaknya akan marah.” Tauke melotot.
Kopong menggeleng, “Berlatih menjadi tukang pukul, justeru akan membuatnya terjaga dari luka di masa depan, Tauke. Tadi malam kita melihatnya sendiri, anak itu berbeda, dia berkelahi menggunakan otaknya, menggunakan apapun yang ada di sekitarnya. Frans si Amerika akan melatih kepalanya, aku akan melatih fisiknya. Kita mendapatkan dua-duanya.”
Tauke Besar terdiam sebentar, menatap Kopong.
“Ini hanya usul sederhana, Tauke. Aku harap Tauke memikirkannya. Apapun keputusan Tauke adalah perintah bagiku.” Kopong mengangguk, undur diri.
Dua hari kemudian, pukul tujuh, aku dijemput Kopong di mess sayap kanan. Wajah sangarnya tetap saja terlihat sangar meski sedang tersenyum, menepuk bahuku.
“Kau sudah siap, Bujang?”
Aku mengangguk. Aku sudah siap sejak tadi siang, ketika pelayan memberitahu aku boleh berlatih bersama Kopong. Malam itu, resmi sudah latihanku menjadi tukang pukul Keluarga Tong.
Mengendarai sendiri mobil jeep, Kopong membawaku pergi ke lokasi amok. Aku segera tahu, kalau bangunan dengan kontainer bertumpuk itu memang tempat berlatih tukang pukul. Di pojok bangunan, dengan luas ruangan delapan kali delapan meter, terdapat banyak peralatan berlatih. Hampir setiap sore ruangan itu dipenuhi tukang pukul, hingga gelap tiba, mereka baru kembali ke benteng.
Wajah sangar Kopong terlihat semakin sangar saat dia mulai melatihku. Dia tidak mengajakku berlatih di dalam ruangan, kami berlatih di pantai. Dia menyalakan dua api unggun kecil dari pelepah kering pohon nyiur, dengan jarak lima ratus meter satu sama lain, kemudian menyuruhku lari bolak-balik dari dua titik api unggun itu. 
Dua jam berlalu, hanya itu yang kulakukan, lari di atas pantai.
“Lebih cepat, Bujang!” Kopong berseru setiap kali aku tiba di titik api unggun tempatnya berdiri, bersidekap mengamatiku.
Aku mengangguk, nafasku menderu. 
“Lebih cepat, Bujang! Bahkan kerbau bisa menyusul lari kau.” Kopong membentak gemas saat aku tiba lagi di titik api unggun tempatnya berdiri.
Pakaianku basah kuyup oleh keringat. Entah sudah berapa kali aku bolak-balik lari, dan entah kapan latihan lari ini selesai. Setiap kali aku mempercepat langkah kakiku, Kopong terus mendesakku lari lebih kencang. Kakiku seperti mati rasa saat api unggun padam dengan sendirinya.
“Cukup latihan malam ini, Bujang.” Kopong berseru, dia melangkah santai menuju mobil jeep.
Aku tertunduk, memegangi pinggang. Nafasku tersengal. 
“Kau ingin pulang atau bermalam di pantai, Bujang? Aku tidak punya waktu menunggu.” Kopong meneriakiku dari kejauhan.
Aku mengangguk, bergegas menuju mobil jeep.

*bersambung

Jumat, 11 Agustus 2017

Tere Liye : Pulang

BAB 6. Patung Naga Emas Part 2

Sama seperti dua puluh tahun lalu. Malam saat aku protes ingin berhenti sekolah. Hampir semua mobil yang ada di benteng rumah Keluarga Tong berangkat. Juga hampir seluruh tukang pukul ikut serta. Aku duduk di mobil jeep terdepan, di sebelah Tauke. Dia tidak banyak bicara, wajahnya masih masam sejak percakapan tadi siang. Tauke hanya sesekali bicara dengan Kopong, yang juga satu mobil, membahas pekerjaan yang dia berikan.
Tere Liye : Pulang

Konvoi mobil tidak jauh, dua puluh menit, kami tiba di komplek gudang besar, penuh dengan kontainer, bertumpuk. Pukul sepuluh, bangunan yang menghadap pantai itu, sepi, gelap, tidak ada aktivitas di sana, hanya kerlap-kerlip lampu perahu nelayan yang terlihat di kejauhan laut. Mobil-mobil kami tidak diparkir di halaman bangunan, melainkan terus maju, parkir di tepi pantai, penumpangnya berlompatan.
Beberapa pemuda meletakkan potongan kayu besar di pantai, gerakan mereka gesit, mereka sudah menyiapkan semuanya sejak dari rumah. Salah-satu menyiram tumpukan kayu dengan bensin, kemudian memantiknya. Nyala api segera membumbung tinggi, membuat terang wajah-wajah kami. Semua orang tanpa disuruh berkumpul, berdiri mengelilingi api unggun, membentuk lingkaran. Wajah mereka semangat, seperti menunggu kabar gembira.
Tauke Besar melangkah ke tengah lingkaran. 
Kopong menyikut lenganku, menyuruhku menyusul Tauke.
Aku menelan ludah. Aku disuruh maju? Apa yang akan terjadi? 
Ada apa denganku?
“Kau maju sana, Bujang! Jangan banyak tanya.” Kopong mendelik.
“Sudah lama sekali.” Tauke mengangkat tangannya, berseru saat aku sudah berdiri di sebelah
Semua tukang pukul memperhatikan seksama, wajah-wajah antusias. Beberapa bahkan sudah berseru-seru mengepalkan tangan.
“Sudah lama sekali kita tidak melakukan tradisi ini. Terakhir adalah lima tahun lalu, saat aku memilih Kopong menjadi kepala tukang pukul. Malam ini, kita akan kembali melakukannya. Tradisi paling tua di keluarga kita. Anak-anak sekalian, malam ini, kupersembahkan kepada kalian, Amoookkk!!” Tauke Besar berteriak kencang, tangannya teracung tinggi.
Seketika lingkaran api unggun buncah oleh teriakan lain.
“AMOOOKKK!!” 
Aku menelan ludah. Tidak mengerti.
Angin laut bertiup, membuat nyala api unggun meliuk-liuk. Pelepah pohon nyiur berkelapakan. Tidak ada yang peduli udara dingin, semua orang berseru-seru seperti menyambut pesta. Mulai melepas sepatu. Melemparkan senjata tajam ke belakang, menggulung lengan baju.
“Kau sendiri yang memintanya, Bujang. Sayang sekali, bahkan lukamu baru saja sembuh. Tapi demi kau, akan kuberikan sesuatu yang spesial. Aku telah berjanji pada Syahdan, kau akan selalu diistimewakan.”
Tauke Besar masih menatapku dengan wajah masam, menjelaskan, “Kau berdiri di tengah lingkaran, Bujang. Sendirian. Enam puluh tukang pukul lain akan menyerangmu. Mereka maju sendiri, berdua, bertiga, terserah mereka. Tidak ada peraturannya. Bahkan kalaupun mereka serempak menyerangmu, itu menjadi masalah kau. Tidak ada yang akan menolongmu. Perkelahian tangan kosong. Hanya boleh menggunakan apapun yang tersedia di arena perkelahian, di dalam lingkaran. Kita lihat akan seberapa lama kau bertahan.”
Nafasku mulai kencang, detak jantungku mulai cepat. Aku paham sekarang apa maksud kata “amok” tadi. Perkelahian bebas.
“Syahdan bisa melakukannya selama enam puluh menit, saat dia terpilih menjadi kepala tukang pukul Ayahku dulu. Kopong, bertahan empat puluh menit, saat dia menjadi kepala tukang pukulku. Mari kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan. Jika kau bisa berdiri di atas pasir selama dua puluh menit, cukup dua puluh menit, aku akan menuruti kemauanmu, kita bakar buku-buku itu, lupakan ide Frans si Amerika dan seluruh kejeniusan yang kau miliki. Aku akan membiarkan kau menjadi tukang pukul. Kau akan belajar dengan Kopong.”
Nafasku semakin menderu. Mulai bisa merasakan antusiasme. Menatap wajah-wajah di sekelilingku yang sudah tidak sabaran menyerbu. Ini seperti pesta perkelahian bagi mereka, dan aku adalah samsak sasarannya. 
“Apakah kau takut, Bujang.” Tauke Besar bertanya.
Aku menggeleng cepat. Aku tidak takut. 
“Kau sudah siap?”
Rahangku mengeras. Siap atau tidak siap, tukang pukul lain tetap akan menyerangku.
Saat itu, usiaku baru lima belas tahun. Tapi fisikku tidak lagi remaja, aku bahkan sudah lebih tinggi dibanding Tauke. Akan kutunjukkan jika aku layak menjadi seorang tukang pukul. Tauke kembali ke tepi lingkaran, masih menatapku masam.
“AMOOOK!!” Tauker mengacungkan tangannya, pertanda ritual dimulai.
Belum habis kalimat Tauke, dua orang tukang pukul loncat masuk kedalam lingkaran, buas memburuku. Mereka menyerangku dengan tangan kosong. Aku sudah siap. Bergerak cepat menepis salah-satu tinju mereka, menghindar berkelit ke kanan untuk tinju lainnya, lantas balas memukul, telak menghantam dadanya, satu orang terjatuh. 
Tukang pukul di sekitar api unggun berseru-seru melihatnya. Suasana malam semakin ramai.
Aku lompat menghindar lagi saat lawan mencoba menebas kakiku, kemudian masih dalam posisi di udara, aku menendang punggungnya. Gerakan yang cepat dan mantap. Satu lagi terjatuh. Nafasku menderu, dua orang berhasil kukalahkan, tapi sial, belum sempat memasang kuda-kuda mantap, dari lingkaran maju lagi dua orang, berteriak menyerangku.
Satu tinju menghantam perutku. Lingkaran bersorak-sorai melihatnya. Aku mengaduh, bukan karena sakit, tapi karena terkejut, menyusul bahuku terkena pukulan kedua, telak. Tapi aku tidak terjatuh, badan ku hanya goyang, mundur dua langkah ke belakang, untuk balas menyerang dengan cepat. Mengirim dua pukulan yang membuat penyerangku tersungkur.
Peraturan Amok ini sederhana. Bagi penyerang, sekali dia jatuh di atas pasir, selesai. Tidak boleh menyerang lagi. Dan lebih sederhana lagi bagiku, sekali aku terjatuh, selesai sudah semuanya.
Lima menit berlalu cepat. Aku terus bertahan dari gelombang serbuan tukang pukul. Keringat deras mengucur di pelipis, leher. Bajuku basah kuyup. Wajahku memar di banyak tempat. Sudah sebelas orang tukang pukul yang berhasil kujatuhkan, tapi mereka juga berhasil memukulku di banyak tempat. Semakin lama, tukang pukul yang maju semakin tangguh, semakin sulit dikalahkan.
Kali berikutnya, empat orang buas mengejarku, aku terdesak lagi, mengangkat kedua tangan, berusaha melindungi tubuhku dari pukulan. Mereka tidak mengenal ampun, berseru-seru, terus melancarkan serangan. Lingkaran arena perkelahian ini menyebalkan sekali, membuatku tidak leluasa. Jika ini perkelahian di ruangan terbuka, aku bisa mencuri waktu dengan berlari kesana-kemari, kemudian menyerang balik. Sebaliknya, dengan lingkaran tukang pukul, setiap kali aku tiba di tepi, tukang pukul lain bergegas mendorongku agar kembali ke tengah sambil berteriak-teriak membentakku.
Aku semakin terdesak. Satu tinju menghantam perutku, lolos dari tangkisan. Ayolah, aku mengeluh menahan sakit sambil mengutuk dalam hati, aku hanya butuh celah satu-dua detik, sekali mendapatkannya, aku bisa menyerang balik. Aku harus bertahan dari empat orang ini. 
Sudah berapa lama aku bertahan? Delapan menit? Sepuluh menit? Tidak ada jam. Ini mungkin bahkan belum separuhnya dari syarat yang diminta Tauke Besar, empat orang ini menyulitkanku. Aku terus berpikir cepat, mencari cara mengalahkan tukang pukul yang juga terus menyerang.
Satu tinju kembali mengenai tubuhku, membuatku terhuyung, baiklah, aku akan memanfaatkannya, membuat tubuhku seolah akan jatuh, tanganku meraih segenggam pasir, dengan cepat melemparkan pasir itu ke wajah para penyerangku, kemudian menghentakkan kaki, berdiri, agar aku tidak jatuh sungguhan.
“Curang!!” Seketika terdengar teriakan.
“Curang!!” Tukang pukul yang berdiri di lingkaran berseru-seru, tidak terima
Aku tidak mendengarkan mereka. Aku sudah ganas menyerang empat tukang pukul yang sejenak menyeka wajah mereka, kaget terkena butiran pasir. Celah satu-dua detik yang kubutuhkan. Tinjuku bergerak cepat, dua orang tersungkur jatuh. Dua detik kemudian menyusul sisanya, terbanting di atas pantai. 
“CURANG!”
Apanya yang curang? Aku melotot tidak terima, membalas galak tatapan lingkaran. Wajahku merah padam. Nafasku tersengal, berdiri menyeka peluh di wajah. Tauke Besar sendiri yang bilang, ini perkelahian tangan kosong, dan apapun yang ada di sekitar arena diijinkan untuk digunakan. Aku memanfaatkan pasir, itu strategi yang tiba-tiba kudapatkan. Justeru amok ini adalah kecurangan luar biasa. Mana ada empat lawan satu pantas disebut pertarungan terhormat.
Kopong mengangkat tangannya, menyuruh lingkaran diam. Kopong menggeleng, itu bukan curang, menyuruh yang lain berhenti protes, segera menyerang.
Setelah kejadian lemparan pasir itu, amok benar-benar berubah menjadi ajang perkelahian massal. Entah siapa yang mengomando, belasan orang segera memburuku dengan marah. Mereka datang dari depan, belakang, kanan, kiri, seperti air bah yang menjebol bendungan. Aku sudah lupa berapa banyak pukulan yang mengenai tubuhku. Berapa banyak tukang pukul yang tersungkur oleh tangan dan kakiku. Aku berlari kesana-kemari, bertahan habis-habisan, berteriak kencang, mengamuk seperti benteng terluka. Aku bahkan lompat meraih potongan kayu bakar api unggun, menggunakannya sebagai senjata. Nyala api menyambar-nyambar, membuat mereka mundur. Aku mengejarnya, membuat lingkaran tercerai-berai. Itu membuatku bertahan lima menit lagi.
“Anak ini menakutkan, Tauke.” Kopong berbisik, dia menonton di sebelah Tauke.
“Aku tahu. Tapi anak buahmu harus bisa menjatuhkannya sebelum dua puluh menit, Kopong.” Tauke menggeram, “Atau aku terpaksa memenuhi janjiku.”
Entah berapa lama aku bertahan, adalah Basyir yang akhirnya membuatku terjatuh. Saat nafasku semakin tersengal, tubuhku sakit dan letih, sudah tiba di ujung daya tahannya, peluh membanjiri pakaianku, Basyir berhasil meninju daguku, tanganku yang memegang kayu menyala terjatuh, aku terpental dua langkah, dan saat kakiku belum mantap berdiri, Basyir menendangnya, membuatku kehilangan keseimbangan. Badanku berdebam mengenai pasir pantai.
Selesai sudah amok itu.
Menyisakan puluhan tukang pukul yang bergelung kesakitan, api unggun yang porak poranda, bara api di mana-mana, radius dua puluh meter pantai terlihat acak-acakan. 
Tauke Besar melangkah mendekatiku, diiringi Kopong.
“Kau baik-baik saja?” Tauke membalik badanku.
Aku mengangguk, tergeletak menatap langit gelap.
“Sayang sekali, kau gagal, Bujang.” Tauke membantuku duduk.
Aku masih tersengal, berusaha bernafas lebih baik.
“Sembilan belas menit. Kau harus sekolah.”
Aku tertunduk, menatap nanar hamparan pasir. Tidak bisa berkata apapun lagi. Aku jelas telah kalah, aku tidak bisa protes. Mengusap rambutku yang dipenuhi pasir. 
Tapi tukang pukul tetap merayakan ‘kemenanganku’. Tiba di benteng Keluarga Tong, Kopong mengajak semua berkumpul di mess belakang, meja-meja panjang dipenuhi minuman. Tuak, sake, bir dibagikan. Mereka berseru-seru riang, menepuk-nepuk bahuku, mengacak-acak rambutku.
“Kau memberikan kesenangan luar biasa tadi, Bujang.” Kopong mengangkat botol birnya, “Kau adalah mangsa yang berbalik menjadi pemburu.”
Tukang pukul mengangguk. Berseru-seru.
“Mari bersulang untuk, Bujang. Pertama, untuk pertarungannya malam ini. Dia sudah memberikan yang terbaik. Sudah bertahan sembilan belas menit.”
Tangan-tangan memegang gelas dan botol terangkat.
“Kedua, mari kita bersulang karena mulai besok Bujang harus sekolah. Memukuli kertas dengan pulpennya.” Kopong tertawa, bergurau.
Ruangan lantai bawah itu dipenuhi gelak tawa. Aku menyeringai, duduk di bangku sambil meringis menahan sakit. Tubuhku remuk, penuh lebam biru.
“Maaf aku harus memukulmu tadi, Bujang.” Basir menyerahkan botol minuman, duduk di dekatku, sekitar kami sudah mulai berpesta.
Aku menggeleng. Menolak botol minuman.
“Eh, kau marah padaku?” Bujang tidak mengerti, tangannya masih terjulur, “Itu tadi hanya tradisi keluarga, Bujang. Tidak boleh dimasukkan ke dalam hati.”
Aku menggeleng, “Aku tidak marah soal itu. Aku tidak bisa minum bir.”
Bujang menatapku heran.
“Apa kau bilang? Kau tidak minum bir?”
Aku mengangguk.
“Astaga? Ini Keluarga Tong, Bujang. Semua halal di sini. Ada yang makan babi, ular, anjing. Ada yang minum bir, tuak, sake. Tidak ada agama di sini. Persetan dengan haram dan larangan lainnya. Tidak akan ada petir yang menyambar kepalamu gara-gara sebotol bir. Ayolah, habiskan minuman ini.”
Aku menggeleng, kali ini dengan tegas.
Bujang terdiam beberapa detik, akhirnya tertawa, loncat ke atas kursi, berdiri, dia berteriak, “Hei, hei! Lihat, Bujang yang besok mulai sekolah, ternyata juga tidak mau minum bir. Dia sepertinya takut mabuk ketahuan guru sekolahnya.”
Ruangan itu dipenuhi tawa lagi.
***

*bersambung

Kamis, 10 Agustus 2017

Tere Liye : Pulang

BAB 6. Patung Naga Emas Part 1

Percakapan dengan Tauke Besar di kamar tidurnya mengganggu jadwal terbangku. Aku harus bertemu dengan Basyir sebelum berangkat ke Hong Kong.
“Itu bukan keputusanku, Bujang.” Basyir menggeleng, dia sedang bersiap-siap memobilisasi belasan anggota keluarga terbaik, “Tauke Besar bilang bumi-hanguskan, itu berarti seluruh keluarga.”
“Kau sudah memastikan keluarga itu bersalah?”
“Tentu saja, Bujang.” Basyir terlihat sedikit tersinggung, “Mereka datang ke sini tadi siang sebelum Tauke pemeriksaan rutin, mereka datang untuk meminta ampunan. Bersedia memberikan separuh bisnis keluarga sepanjang diampuni. Tauke menolak bertemu.”
Aku menghembuskan nafas. Hampir semua keluarga sebenarnya punya mata-mata di keluarga lain. Keluarga Tong, bahkan punya banyak, sebagai sumber informasi, termasuk di pemerintahan. Tertangkap-tangan mata-mata adalah hal lumrah, bisa ditebus dengan harga yang pantas, atau hanya kehilangan wilayah teritorial. Tapi sepertinya Tauke sangat sensitif belakangan, dia merasa apapun yang mengancam Keluarga Tong harus dihabisi.
Tere Liye : Pulang

“Kau tenang saja, Bujang.” Basyir tersenyum, “Biarkan aku dan yang lain membereskan hal seperti ini. Aku pastikan, sekembali dari Hong Kong situasi kembali normal, dan keluarga kita bisa bersiap menyambut calon kepala keluarga baru. Aku mungkin tidak bisa lagi memanggil namamu langsung, aku harus mulai berlatih memanggilmu, Tauke Muda.”
“Aku tidak senang membicarakannya, Basyir.” Aku menjawab cepat, “Dan berhenti menggangguku dengan panggilan itu.
Basyir tertawa, menepuk pundakku, “Kau harus mulai membiasakan diri mendengar panggilan itu, Bujang. Tidak ada lagi yang boleh memanggil namamu sekali kau diangkat jadi penerus.”
Aku mendelik, menyuruhnya diam.
Basyir mengangkat bahu, tetap tertawa.
“Jika hal ini memang terpaksa dilakukan, pastikan kalian melakukannya dengan cepat, Basyir, agar mereka tidak menderita.”
“Tentu saja, Tauke Mu, eh, sorry, Bujang.” Basyir melambaikan tangannya, sengaja menggangguku. Di halaman bangunan utama, enam mobil van berwarna hitam mengkilat telah siap berangkat. Basyir naik ke salah-satu mobil, mengangguk kepadaku, berseru pendek, “Assalammualaikum.” 
Pintu baja yang digerakkan sistem otomatis membuka, rombongan eksekutor itu berangkat.
Aku melirik jam di pergelangan tangan. Sudah pukul lima sore, aku juga harus segera ke bandara.
***
Tiba di bandara pukul lima tiga puluh.
“Maaf aku terlambat sekali, Edwin.” Masuk ke dalam pesawat jet pribadi Keluarga Tong.
“Anda Kaptennya, Capt. Tidak masalah.” Seseorang dengan seragam pilot sudah menunggu, dia sedang asyik membaca majalan di kursi kokpit, segera meletakkan majalah itu.
Aku melepas jas hitam, melemparkannya sembarang ke kursi penumpang. Segera duduk di sebelah Edwin, memasang alat komunikasi.
“Semua sudah siap?” Memeriksa cepat panel-panel di depanku.
“Sejak dua jam lalu.” Edwin menjawab mantap, tangannya terampil menekan tombol-tombol persiapan berangkat, pintu pesawat ditutup.
Aku mengangguk. Lima belas detik, lampu hijau berkedut di layar panel, aku segera menggerakkan tuas. Edwin di sebelahku berbicara dengan menara pengawas. 
Pesawat jet bergerak anggun menuju runaway. Aku mengonfirmasi untuk terakhir kalinya kepada menara, ijin take off diberikan. Aku menekan tombol, mesin jet menggerung bertenaga, lantas meluncur cepat di atas aspal. Tiba di kecepatan yang dibutuhkan untuk mengudara, tanganku perlahan menggerakkan tuas, moncong pesawat mulai naik, dan dua detik berikutnya, pesawat jet berkelir merah itu sudah melesat ke angkasa.
“Mulus seperti biasanya, Capt.” Edwin tersenyum.
Aku mengangguk, menatap ke depan lewat jendela kokpit. Setidaknya berangkat sore seperti ini, pemandangan ibukota menakjubkan. Lampu-lampu menyala, membuat kota seperti bermandikan cahaya. Pesawat jet melakukan manuver kecil, sebelum akhirnya masuk ke dalam lintasan. Stabil di ketinggian tiga puluh ribu kaki. 
“Aku tidak akan mengemudi malam ini, Edwin.” Aku memberitahu, bangkit berdiri, “Kau saja. Aku harus mengerjakan satu-dua hal di kabin penumpang. Jangan lupa, transit lima belas menit di bandara Singapura.”
“Tidak masalah, Capt.” Edwin mengangguk. Dia pilot muda, usia dua puluh delapan tahun, direkrut dari angkatan udara. Lulusan terbaik akademi, karir militernya cemerlang, hingga dia nekad menerbangkan pesawat tempur dalam misi personal. Mendaratkannya di landasan pacu komersil. Insiden itu membuat berang atasannya, dia dipecat tidak hormat. 
Aku yang merekrut Edwin lima tahun lalu, tertawa saat tahu apa misi personalnya. Edwin hanya ingin bergegas pulang menemui Ibunya yang sakit keras di kota lain. Aku menawarkan menjadi pilot Keluarga Tong—dengan bonus dia bebas memakai beberapa pesawat jet canggih milik Keluarga Tong, bahkan kalaupun dia hanya ingin mengajak Ibunya makan siang di Hawaii. Tidak akan ada yang memecatnya. Edwin adalah pilot serba-bisa, dia juga bisa menerbangkan helikopter.
Hanya ada kami berdua di atas pesawat dengan kapasitas dua belas kursi penumpang itu. Aku menghempaskan punggung di salah-satu kursi. Segera mengeluarkan koper dari atas bagasi—pelayan yang mengirimkannya lebih dulu ke pesawat. Menyalakan tablet, segera tersambung ke sistem operasional organisasi. Membalas beberapa email, menandai beberapa masalah yang masih belum selesai. Memberikan perintah ke beberapa Letnan. Termasuk membaca laporan Parwez tentang kondisi terakhir group shipping, Parwez melaporkan salah-satu kapal kontainer raksasa milik keluarga mendapatkan masalah di perairan Somalia. Aku mengangguk. Itu masalah sederhana, perompak itu tidak punya ide sama sekali sedang berurusan dengan kapal milik siapa. Aku mengirim email ke keluarga pengendali shadow economy di tanduk Afrika. Masalah ini bisa selesai hitungan jam sekali emailku dibaca oleh mereka.
Di Keluarga Tong, aku tidak masuk dalam struktur organisasi, karena posisiku adalah jagal nomor satu. Aku kaki tangan langsung Tauke Besar. Tugasku spesialis, penyelesai konflik tingkat tinggi. Jika Basyir atau Parwez mengalami kesulitan, karena tidak semua masalah bisa diselesaikan hanya dengan kekerasan ala Basyir ataupun hanya dengan negosiasi ala Pawez, aku turun tangan. Atau jika Tauke Besar punya masalah dengan kolega, pemerintah, atau musuh, aku yang akan mengurusnya sebelum menjadi serius. 
Layar tabletku berkedip hijau, itu berarti semua status masalah telah terbarui. Ini juga adalah pendekatan mutakhir dalam operasional organisasi. Keluarga Tong telah menggunakan sistem yang aman untuk komunikasi pekerjaan. Kami tidak lagi menggunakan kurir, penyampai pesan, ataupun kode-kode rahasia seperti jaman dulu. Kami menggunakan teknologi. Email misalnya, itu masuk dalam jaringan keluarga dengan sistem enskripsi tinggi, bahkan peretas yang mampu menaklukkan kantor agen rahasia negara maju pun akan kesulitan membobol sistem kami—meskipun alasan sebenarnya, sebagian peretas itu adalah anggota keluarga shadow economy, jadi mereka memang tidak tertarik mencobanya. 
Aku meletakkan tablet, melirik pergelangan tangan, pesawat sudah hampir tiba di Singapura, meraih telepon genggam. Menghubungi seseorang yang seharusnya sejak tadi sudah menunggu di sana. Berbicara sebentar, semua sudah siap. Edwin di ruang kokpit memberitahuku pesawat agar segera mendarat. Aku memasang sabuk pengaman, meluruskan kaki, menatap keluar jendela, hamparan gemerlap kota Singapura.
Setiba di parkiran bandara pesawat pribadi Changi, dua orang menaikkan kotak kayu. Meski kecil, hanya sisi tiga puluh senti, kotak itu berat. Mereka meletakkannya hati-hati ke atas kursi penumpang, mengikatnya agar tidak bergerak. Hanya lima belas menit, pesawat sudah kembali mengangkasa. Aku duduk sebentar di kursi pilot, menemani Edwin hingga lepas perairan Malaysia, kemudian kembali duduk di kursi penumpang, berusaha tidur di sisa perjalanan.
Pesawat jet tiba di Hong Kong jam sembilan lewat tiga puluh. Mobil limusin telah menunggu di hanggar pesawat pribadi, sopir langsung membawaku ke pusat kota. Tujuanku adalah gedung empat lantai dengan arsitektur china kuno, di daerah Kowloon. Gedung itu dari luar tampak sepi, tapi saat melangkah ke dalam lobinya, kemeriahan terlihat di setiap jengkalnya. Umbul-umbul berwarna merah, memenuhi setiap dinding. Ratusan orang berdiri di ballroom dengan pakaian cerah. Meja-meja panjang menghidangkan miesoa, juga kue-kue berwarna merah. Di panggung, sekelompok seni tradisional sedang membawakan lagu dan puisi-puisi perayaan. Simbol kegembiraan dan kesejahteraan, sekaligus menghormati para leluhur.
Empat orang penjaga memeriksa setiap tamu yang masuk di pintu ballroom. Aku menyapa mereka dengan bahasa china yang fasih, menunjukkan undanganku. Empat penjaga itu mengangguk, mempersilahkan. Di belakangku, dua orang pelayan membawa kotak kayu yang kuambil di bandara Singapura.
Ini pesta ulang tahun Master Dragon yang ke-80, pucuk tertinggi penguasa shadow economy daratan China. Keluarga Tong diundang mengikuti jamuan makan malam, aku mewakili Tauke Besar. Menurut tradisi China, sebenarnya mereka baru merayakan ulang tahun setelah usia lima puluh. Sebelum usia itu, ulang tahun adalah urusan privat, cukup dirayakan di rumah secara tertutup. Tapi yang satu ini spesial, usia ke-80, berarti perayaan ulang tahun besar, da shou. 
Aku terus melangkah hingga ujung ballroom, melintasi ratusan tamu perayaan ulang tahun, tiba di pintu besar berukiran naga, dua orang terlihat menjaganya. Salah-satu penjaga itu mengenaliku.
“Selamat malam, Si Babi Hutan,” Dia mengangguk dalam-dalam kepadaku, “Master Dragon telah menunggu Anda di dalam.”
Aku balas mengangguk selintas. Melangkah melewati pintu.
Ada meja panjang di ruangan dalam, juga dipenuhi makanan miesoa, kue-kue merah seperti di ballroom. Bedanya, ada kursi-kursi yang melingkarinya.Kursi paling ujung, paling besar, duduk seseorang mengenakan jubah tradisional keemasan dengan motif naga. Di belakangnya berdiri lima orang pengawal. Di meja itu ada dua belas kursi, dan semuanya telah terisi oleh tamu lainnya, menyisakan satu kursi paling dekat dengan kursi besar—kursi milik Keluarga Tong. 
Aku melangkah mendekat, dua pelayan yang membawa kotak kayu terus mengikutiku.
“Ah! Akhirnya kau tiba, Si Babi Hutan.” Orang yang duduk di kursi paling besar menyapaku.
Dialah yang sedang berulang tahun. Dialah kepala seluruh keluarga, semua orang memanggilnya Master Dragon. Usianya delapan puluh tahun, rambutnya memutih, tapi dia terlihat segar. Matanya berkilau tajam, garis wajahnya terlihat tegas, rahangnya kokoh, usia sepertinya belum berhasil menaklukkan tampilan menakutkan darinya. Konon, dengan kekuasaan gelapnya, dia bisa mengubah hasil pemilu negara-negara maju, menunjuk Presiden yang dia sukai.
Aku membungkuk, tanganku teracung member hormat, “Selamat ulang tahun, Dragon Master. Aku minta maaf Tauke tidak bisa datang sendiri kali ini.”
“Ah, aku tahu Si Babi Hutan.” Dragon Master melambaikan tangan, “Apa kabar dia? Masih tetap meringkuk di atas tempat tidur? Belum mati dia?”
Aku mengangguk. Sebelas tamu di kursi lain menatap kami. Mereka adalah perwakilan keluarga dari banyak tempat, termasuk salah-satunya dari keluarga penguasa shadow economy di Macau—alasan sebenarnya kenapa aku datang ke Hong Kong selain menghadiri jamuan makan malam.
“Malang sekali nasib kawan satu itu. Usianya lebih muda sepuluh tahun dariku, tapi sudah sakit-sakitan. Hanya bisa memukuli bantal, atau memerintah guling. Sementara aku masih bisa memukuli lawan-lawan tangguh.” Dragon Master tergelak.
Aku menoleh kepada dua pelayan di belakang, mereka segera maju, meletakkan kotak kayu di atas meja. Aku membuka kotak itu. Sebuah patung naga emas langsung terlihat saat tutup kotak dilepas.
“Demi Dewa-Dewa!” Master Dragon berseru melihat patung itu.
“Hadiah ulang tahun dari keluarga kami, Master Dragon. Maafkan jika sangat sederhana.” Aku berkata takjim, kembali membungkuk.
“Bukankah itu patung yang hilang dari pameran seni di Singapura? Beritanya ada dimana-mana dua hari terakhir.” Salah-satu tamu berseru, berdiri, melongokkan kepala.
Aku mengangguk.
“Ini hebat, Si Babi Hutan. Hebat sekali.” Master Dragon juga berdiri, tangannya mengelus patung naga tersebut, “Belasan tahun aku menginginkan patung ini, mereka menjaganya seperti menjaga tongkat dewa, berkali-kali aku mengirim orang untuk mengambilnya dengan baik, tidak berhasil. Aku tawarkan seratus juta dollar sebagai sumbangan untuk Museum, mereka tolak mentah-mentah, bilang tidak akan pernah dijual. Hanya karena aku menghormati patung ini aku tidak merampasnya paksa. Hari ini, di hari ulang tahunku yang ke-80, kau justeru membawakannya untukku, ini hebat sekali.”
Aku sekali lagi mengangguk. Tidak mudah mencuri patung naga itu dari tempatnya, aku harus mengirim pencuri paling lihai, membayarnya mahal, juga lebih banyak uang untuk menyumpal petugas, pihak-pihak lain agar pencurian itu berhasil. Tapi membawa patung ini penting sekali untuk memenangkan hati Master Dragon, ada urusan yang membutuhkan persetujuannya malam ini.
“Duduk, ayo, mari bergabung bersama kami, Si Babi Hutan.” Master Dragon menepuk bahuku, “Kau datang terlambat, tapi makanan lezat masih terhidang. Ayo, hidangkan makanan untuknya.”
Patung naga emas itu dibawa ke dalam oleh pengawal. Jamuan makan malam itu dilanjutkan. Beberapa pelayan berlalu-lalang menambah makanan dan minuman di atas meja.
“Bisa kalian ambilkan air putih.” Aku mendongak ke salah-satu pelayan.
Pelayan itu terlihat bingung. Dia sedang membawa nampan sake.
“Tentu saja bisa. Aku lupa soal itu.” Master Dragon yang menjawabnya, terkekeh, menoleh ke pelayan, “Jangan beri dia minuman beralkohol, Si Babi Hutan tidak menyentuhnya sama sekali. Juga miesao, jangan ada daging babinya. Suruh koki memasaknya tanpa daging apapun. Anak muda ini punya selera murahan sekali memang.”
Ini kali keempat aku bertemu Master Dragon, tiga sebelumnya bersama Tauke. Pada pertemuan pertama, saat jamuan makan malam, Master Dragon menatapku heran ketika Tauke bilang aku tidak akan minum tuak atau sake yang dihidangkan. 
Kenapa? Master Dragon ingin tahu. Aku menggeleng. Itu pesan terakhir Mamakku. Maka tidak setetes pun aku akan meminumnya hingga mati.
***

*bersambung

Rabu, 09 Agustus 2017

Tere Liye : Pulang

Bab 5. Amok

Basyir pulang pukul delapan malam, dengan lengan dibebat. 
“Kami akhirnya berhasil menguasai Pasar Induk…. Kopong sedang menyelesaikan sisanya, menyumpal mulut petugas dan wartawan agar kejadian tidak tersebar kemana-mana. Kopong ahli sekali soal itu, dan orang-orang hanya melihatnya seperti kebakaran dan rusuh biasa” Basyir bercerita antusias, dia tidak peduli meski pakaian dan rambutnya kotor serta acak-acakan, “Apa yang kau lakukan hari ini, Bujang? Apa tugasmu dari Tauke?”
Aku menggeleng, tidak tertarik membahasnya. 
“Ini apa?” Basyir menunjuk heran buku-buku tebal di atas tempat tidurku.
Aku tidak menjawab. 
“Sejak kapan ada orang di rumah ini yang membaca buku?”
Aku menelan ludah.
Basyir tertawa, akhirnya dia bisa menebak apa yang terjadi, “Kami seharian melakukan hal seru di luar sana, Bujang. Memukuli preman pasar yang banyak tingkah, kau justeru disuruh membaca.”
Sial, aku melotot kepada Basyir yang mentertawakanku.
“Aku mandi, Bujang. Belajar yang rajin kau.” Basyir melambaikan tangannya, kembali ke kamarnya.
Aku menghembuskan nafas kesal.
Tere Liye : Pulang

Waktu itu aku belum paham apa yang sebenarnya sedang disiapkan oleh Tauke, baru beberapa tahun kemudian, aku menyadarinya. Tauke punya rencana besar. Usia Tauke lima puluh tahun, dia sedang menatap masa depan Keluarga Tong yang gemilang, dia telah menyiapkan rencana agar keluarga kami tidak hanya menjadi penguasa di provinsi. Rencana yang justeru tidak aku sukai saat itu.
Seminggu hanya dijejali buku-buku yang diberikan Frans, aku memutuskan menemuinya di ruang kerja bangunan utama. Bilang aku akan berhenti membaca buku-buku itu.
“Kau harus sekolah, Bujang.” Tauke menatapku marah, wajahnya tidak suka. 
Aku menggeleng.
“Kau harus sekolah, BUJANG!!” Tauke membentakku.
Niatku sudah kokoh. Aku tidak datang sejauh ini ke kota besar hanya untuk sekolah. Aku tidak membunuh babi raksasa itu hanya untuk kemudian disuruh belajar.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan?” Tauke mengendurkan teriakannya, berusaha sedikit terkendali, merapikan kertas-kertas yang sedang dia periksa, melangkah mendekatiku.
“Aku ingin menjadi seperti Bapakku dulu.”
“Menjadi Bapak kau? Lantas apa yang berhasil Syahdan dapatkan dari menjadi seorang tukang pukul? Kakinya lumpuh satu. Kau ingin menjadi lumpuh seperti dia, hah?”
Aku diam. 
“Masa depan Keluarga Tong bukan di tangan orang-orang yang pandai berkelahi. Masa depan Keluarga ini ada di tangan orang yang pintar. Kita tidak akan terus-menerus hanya menjadi keroco dalam dunia hitam. Hanya memalak, memeras, menyelundupkan barang-barang. Itu bisnis kotor. Kita akan menjadi lebih besar dari itu semua, dan untuk menjalankannya, aku butuh orang pintar. Itulah yang disebut visi, melihat masa depan. Kau harus sekolah setinggi mungkin. Biarkan saja Basyir, yang memang tidak punya otak untuk mengunyah bangku sekolah, yang menjadi tukang pukul. Kau tidak.”
Aku tetap menggeleng.
“Astaga, Bujang! Omong kosong menjadi seperti bapak kau. Lihatlah. Aku bertahun-tahun ingin menjadi seperti Ayahku dulu, Tauke Besar sebelumnya. Lantas apa yang aku dapat setelah menjadi dirinya? Di kota ini saja keluarga lain tidak menghormatiku, kita hanya dianggap keluarga rendah. Jangan tanya di pulau seberang, Ibukota, mereka hanya memicingkan mata tidak peduli. Kita dianggap sama dengan preman Pasar Induk yang kita taklukkan. Tidak berkelas. Murahan.”
Aku tetap diam.
“Kau harus sekolah, Bujang. Frans yang akan mengajarmu secara privat di rumah ini hingga kau bisa mengejar ketinggalan kelas. Kau tidak akan menyia-nyiakan bakat pintarmu. Kau seharusnya sudah kelas satu SMA, Bujang. Usiamu sudah lima belas tahun—”
“Aku tidak mau.” Aku memotong.
Tauke Besar mendengus, andai saja aku orang lain, mungkin sejak tadi dia sudah menyambar pemukul, memukulku tanpa ampun—dua hari lalu aku pernah melihat Tauke mengamuk saat anak buahnya tidak becus mengurus pekerjaan, dia memukulinya hingga berdarah. 
Tauke meremas jemarinya dengan geram, akhirnya menghembuskan nafas.
“Baiklah…. Baiklah, Bujang! Aku tahu, membaca buku itu tidak seru. Sementara setiap pagi kau hanya mendengarkan cerita hebat dari Basyir dan pemuda lain di meja panjang saat sarapan. Membuat kau hanya jadi bahan olok-olok. Baiklah, BUJANG! Aku tahu, memukuli orang lain itu lebih seru, lebih menantang. Malam ini, kau ikut denganku, akan kuberikan apa yang kau mau. Kau dengar, hah?”
Percakapan itu berakhir cepat. Aku pikir aku telah mendapatkan yang aku inginkan, Tauke mengalah, hingga malam tiba, ternyata sebaliknya.
***
Hari ini. 
Tiga puluh menit sejak telepon Basyir, sedan hitam yang kukendarai merapat di sebuah kawasan elit ibukota. Pintu gerbang yang terbuat dari baja setebal lima senti terbuka secara otomatis saat mengenali wajahku. Itu bukan gerbang yang harus didorong oleh dua orang seperti di kota provinsi dua puluh tahun dulu, ini adalah markas besar Keluarga Tong dengan teknologi mutakhir. Semua penghuni rumah dipindai dengan alat canggih, dan itu otomatis akan memberikannya otorisasi ke bagian mana saja dia bisa masuk.
Aku memarkirkan mobil di depan bangunan utama. Parkirannya bisa menampung empat puluh mobil. Luas markas besar Keluarga Tong hampir enam hektar, dikelilingi tembok setinggi empat meter yang depannya dikamuflase dengan rumah-rumah mewah. Jika seseorang melintas di jalan utama kawasan elit ibukota itu, tidak akan ada yang tahu jika di balik rumah-rumah itu, ada komplek bangunan rahasia, mereka hanya akan menduganya rumah-rumah biasa.
Ada beberapa anggota keluarga yang sedang berkumpul di depan bangunan utama, mereka menghentikan percakapan, mengangguk dalam-dalam kepadaku, memberikan hormat. Aku hanya membalas selintas, segera menuju pintu. Itu mungkin briefing para Letnan, sedang membahas situasi terakhir, atau hanya percakapan ringan. 
Keluarga Tong bertransformasi luar biasa dua puluh tahun terakhir. Dengan anggota ribuan orang, kami menggunakan jasa konsultan strategi manajemen kelas dunia untuk membentuk organisasi yang ramping, efisien dan efektif. Hirarki kekuasaan disusun dengan cermat, tugas dan tanggung-jawab ditentukan secara akurat. Itu akan memastikan, semua isu dan masalah lapangan selesai dengan cepat, termasuk siapa yang akan memperoleh penghargaan, siapa yang akan dihukum. Kami bahkan menggunakan aplikasi komputer paling mutakhir dalam mengelola seluruh anggota rumah. 
“Kau sudah ditunggu, Bujang.”
Basyir menyambutku di ruangan depan, ruangan luas, berlantai marmer dan lampu kristal seberat satu ton di langit-langitnya, diangkut langsung secara utuh dari Turki. 
Aku mengangguk, “Tauke ada di mana? Kamar utama?”
“Kamar belakang, orang tua itu ingin kamar dengan jendela besar.”
Basyir melangkah bersamaku menaiki anak tangga, aku berjalan di belakangnya. Tubuh Basyir tinggi besar, gagah seperti para penunggang kuda suku Bedouin yang dia kagumi. Bedanya, dia tidak mengenakan sorban atau jubah, dia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna gelap, yang digulung hingga siku, celana kain hitam, serta sepatu tersemir. Basyir adalah “penunggang kuda” modern. Dia adalah pemimpin para Letnan. 
Ada enam belas Letnan di Keluarga Tong, yang membawahi ratusan anggota keluarga lainnya. Segala urusan yang menyangkut disiplin organisasi, itu ada di tangan Letnan dan Basyir. Jumlah mereka mayoritas, kami membutuhkan banyak tukang pukul. Basyir selalu membawa senjata—bukan pistol atau senjata api. Basyir tidak suka senjata modern, dia menggunakan senjata leluhurnya. Disembunyikan dengan rapi di dadanya, dibalut dengan sangkur terbaik yang melilit ke belakang, sebilah khanjar (belati) Arab. Panjangnya hanya satu jengkal, tapi di tangan Basyir itu sangat mematikan.
Aku melintasi lorong lantai dua. Tidak banyak bicara. Tiba di ujungnya, Basyir mendorong pintu kayu jati berukiran, dia masuk lebih dulu. Kamar tidur dengan ukuran enam kali enam meter segera menyambutku, terlihat sibuk, ada satu dokter dan dua perawat yang sedang memeriksa seseorang di atas ranjang. Juga berdiri dua orang lain di sana, ikut menemani.
“Akhirnya kau tiba, Bujang!” Orang di atas ranjang berseru, menatapku masam. Tangannya terangkat. Beberapa peralatan medis terlihat menempel di dada, punggungnya. 
“Aku harus menemui calon presiden—” 
“Kau hendak bilang, calon presiden itu lebih penting dibanding aku, hah?”
“Tidak. Bukan itu—?” Aku mendekati ranjang.
“Apanya yang tidak? Bukankah kau sudah kuminta datang ke sini sejak pagi.” Orang dengan tubuh gempal, mata sipit, semakin berseru marah. Rambutnya yang memutih bergerak-gerak. Usianya sudah tujuh puluh tahun, tangannya teracung galak. 
Dua perawat yang sedang bekerja melangkah mundur karena kaget. 
“Tidak ada yang bilang begitu, Tauke.” Aku berkata dengan suara lebih lembut, duduk di kursi samping ranjang, “Menemui calon presiden itu adalah pekerjaan yang Tauke berikan kepadaku, dan semua pekerjaan harus tuntas di keluarga ini, tidak terlambat walau sedetik. Tauke sendiri yang mendidik kami atau resikonya adalah hukuman.” 
Dokter segera berbisik, meminta orang berambut putih di atas ranjang agar tenang. Perawat masih takut-takut memasangkan peralatan.
Aku tersenyum, “Biar aku yang memasangnya. Hallo, Dok. Apakah ini pemeriksaan rutin?”
“Selamat sore, Bujang. Kau benar, ini hanya pemeriksaan rutin.” Dokter mengangguk kepadaku, tersenyum. Itu adalah dokter yang dulu membalut lukaku ketika pertama kali tiba di Keluarga Tong. Usianya sama tuanya dengan Tauke Besar.
Aku mulai memasang peralatan medis, gerakan yang terlatih—aku pernah mengambil kursus singkat emergency room selama empat bulan saat sekolah di Amerika. 
“Tauke terlihat segar hari ini.” Aku kembali menatap orang tua di atas ranjang setelah memastikan semua peralatan terpasang baik, memegang lengannya. Tersenyum, “Aku sungguh minta maaf baru datang setelah Basyir menelepon. Tadi pagi memang sudah ada pesan yang disampaikan, aku pikir itu bisa digantikan oleh orang lain karena sore ini aku harus pergi ke Hong Kong. Itu juga tugas yang tidak kalah prioritasnya yang Tauke berikan. Semua katamu adalah perintah bagiku.”
Wajah masam Tauke terlihat mengendur, dia kembali tenang. Sejak mulai sakit-sakitan lima tahun terakhir, Tauke mudah sekali marah. Dia bisa mengamuk tanpa sebab di atas ranjangnya, membuat semua orang repot. Hanya dokter senior yang bisa mengendalikannya. Aku harus lebih bersabar menghadapi Tauke, dia sudah seperti Ayahku, satu-satunya keluargaku yang masih hidup.
Dokter memeriksa Tauke lima belas menit kemudian, dua perawat sudah berani mendekat, ikut membantu. Aku berdiri mundur beberapa langkah agar tidak menganggu kesibukan.
“Apa kabar, Bujang?” Salah-satu dari dua orang yang telah berada di kamar Tauke sebelum aku tiba menepuk bahuku.
“Baik.” Aku mengangguk.
Nama orang yang menyapaku adalah Parwez. Posisinya menggantikan Mansur yang telah meninggal. Usianya baru dua puluh sembilan, tapi posisinya sangat penting dalam keluarga. Kepala semua urusan keuangan, logistik, humas, dan pimpinan seluruh perusahaan di bawah kendali keluarga. 
Jika diibaratkan perusahaan multinasional, maka Parwez adalah CEO alias direktur utama atas group perusahaan dengan kapitalisasi ratusan milyar dollar. Dia keturunan India, yatim-piatu, diambil Tauke sejak usianya empat belas tahun di salah-satu panti asuhan, saat itu Parwez barusaja memenangkan kompetisi catur, mengalahkan grand master. Bakatnya dalam bidang keuangan, sama jeniusnya dengan bermain catur. Tauke membawanya ke rumah Keluarga Tong, menyekolahkannya, mendidiknya menjadi bagian puzzle penting berikutnya. Parwez sangat setia kepada Tauke, dia rajin, cermat, serta pandai menggerakkan bisnis legal milik perusahaan. Kepribadian Parwez juga sangat disukai Tauke, karena dia benci berkelahi. Aku tidak pernah sekalipun melihat Parwez memukul orang lain. Parwez dan staf-stafnya tidak berkantor di rumah, dia mengendalikan bisnis dari gedung berlantai tiga puluh di jalan protokol ibukota. 
Satu orang lagi yang berdiri di sebelah Parwez adalah pemilik dan direktur sebuah maskapai penerbangan besar. Dia sering muncul di televisi, koran, dan sebagainya. Tapi sejatinya dia hanya pion, bidak-bidak, karena pemilik perusahaan sebenarnya adalah Keluarga Tong. Mungkin sore ini dia diajak Parwez membicarakan sesuatu dengan Tauke, masalah perusahaan—mungkin tentang delay tiga hari yang ramai di media. 
Lima belas menit aku menunggu Tauke diperiksa. Kemudian peralatan kembali dibereskan oleh dua perawat. Dokter senior bicara sebentar dengan Tauke. Saran-saran agar lebih banyak beristirahat, disiplin menghabiskan obat.
“Tidak ada yang perlu dicemaskan, Bujang. Kondisinya stabil.” Dokter bicara kepadaku sebelum meninggalkan kamar, disusul dua perawat, “Tapi jangan biarkan dia bekerja banyak, juga jangan buat suasana hatinya buruk. Marah-marah itu mengganggu fisiknya.”
Aku mengangguk, mengucapak terima kasih.
“Kalian juga silahkan keluar.” Tauke sudah duduk bersandarkan bantal, menatap yang lain, “Aku hendak bicara empat mata dengan Bujang.”
Basyir tanpa banyak komentar langsung balik kanan. Disusul Parwez dan pion bisnisnya, salah-satu dari mereka menutup pintu dari luar. Meninggalkan kami berdua.
Aku berdiri menatap Tauke Besar. Menunggu.
Tauke Besar hanya diam lima menit, mendongak, memejamkan matanya. Suara pendingin ruangan terdengar pelan. Sudah menjadi peraturan tidak tertulis di rumah itu, jika Tauke masih diam, maka kami semua harus menunggu, hingga kapanpun dia berkenan bicara. 
“Waktuku sudah tiba, Bujang.” Akhirnya Tauke bicara, membuka matanya.
Aku menelan ludah mendengar kalimat pembukanya. Aku segera tahu apa yang hendak dia bicarakan. Itulah kenapa aku berusaha menundanya tadi pagi. Pun berusaha sesegera mungkin ke Hong Kong, menghindarinya sore ini. 
“Aku akan mati.” Tauke menatapku, berkata tanpa basa-basi.
Aku menghembuskan nafas.
“Aku tahu kau tidak suka membicarakan ini. Tapi kau satu-satunya…. Anak angkatku….” Tauke Besar diam sebentar, “Kalau Syahdan masih bisa melihat anaknya, lihatlah. Anaknya tumbuh begitu mengagumkan. Saat dia bicara, bahkan seorang presiden pun gemetar mendengarnya. Kau telah matang, siap untuk menjadi…. Dengarkan aku dulu, jangan dipotong, Bujang.”
Mulutku yang terbuka menutup.
“Cepat atau lambat, Bujang, keluarga ini butuh pemimpin baru. Dan kaulah orangnya. Kaki tangan pertamaku. Bersama Parwez, Basyir, dan yang lain, keluarga ini akan semakin besar—”
“Kita tidak harus membicarakannya sekarang, Tauke.” Aku akhirnya memotong.
“Diam, Bujang!” Tauke Besar melotot.
“Kau selalu saja menghindar membicarakan ini. Untuk seseorang yang membunuh banyak orang, menghabisi dengan mudah lawan-lawannya, kau seharusnya santai saja membicarakan tentang kematianku. Aku akan mati. Sama seperti Syahdan dan Mamak kau di lereng hutan sana. Di kubur dalam tanah, di makan cacing. Kuburkan segera tanpa harus menunggu siapapun, agar semua bisa dilupakan dengan cepat…. Dan kenapa aku memaksamu bicara sore ini, karena berhentilah mencemaskan kematianku. Ada yang lebih serius yang harus kau cemaskan. Pertempuran besar.”
“Setiap kali pemimpin keluarga tiba di ujung kekuasaannya, maka keluarga-keluarga lain akan bersiap menikam dari belakang. Sama seperti yang aku lakukan belasan tahun lalu, mengambil alih kekuasaan. Ratusan orang mati, pertempuran sengit meletus di banyak tempat, berbulan-bulan. Kau seharusnya tahu persis itu akan terjadi lagi, dan sasarannya kali ini adalah keluarga kita.”
Aku menggeleng, tidak sepakat, “Jaman sudah berubah, Tauke. Aku sudah mengurus keluarga lain. Kita sudah mengunci banyak hal. Mereka tidak akan berani mengambil-alih kekuasaan Keluarga Tong. Kekuatan mereka tidak sebanding dengan kita.”
Tauke balas menggeleng, “Aku tidak cemas menghadapi keluarga lain, Bujang. Aku cemas dengan keluarga sendiri. Jaman tidak pernah berubah. Di dunia hitam, cara-cara selalu sama. Dulu, aku memilih berkelahi secara jantan untuk mengambil kekuasaan, tapi masih ada cara-cara lama yang lebih abadi. Pengkhianatan orang dalam misalnya. Pengecut, tapi itu lebih mematikan.”
“Basyir tadi malam melaporkan kemungkinan itu. Mereka diam-diam telah meletakkan orang-orang mereka di keluarga kita. Di perusahaan, di pelabuhan, di rumah ini, di mana-mana. Satu diantaranya adalah Letnan, sudah dieksekusi tadi pagi, dia jelas adalah anggota keluarga lain, diselundupkan untuk memata-matai kesehatanku. Basyir akan mengurus keluarga itu, dibumi-hanguskan nanti malam, balasan yang setimpal. Tapi kita tidak tahu masih berapa lagi pengkhianat di rumah ini. Itulah kenapa aku mendesak memintamu bertemu sebentar.”
“Bujang, waktuku hampir habis. Jika aku tidak mati dalam pertempuran memperebutkan kekuasaan, ranjang ini akan membunuhku lebih dulu. Aku akan segera mengumumkan kau adalah calon kepala keluarga baru, setelah kau kembali dari Hong Kong. Itu akan membuat posisi kita kuat, kau akan menjadi Tauke Muda…. Jangan, jangan potong dulu kalimatku, Bujang. Aku tahu kau tidak menginginkannya, kau lebih suka menjadi tukang pukul di keluarga ini daripada mengurusi kertas-kertas, surat-surat. Kau lebih suka membentuk reputasi mengerikan milikmu daripada duduk di belakang meja. Lebih suka menjadi spesialis, penyelesai konflik tingkat tinggi, bertangan dingin, seperti agen khusus paling misterius, membuat bergidik semua orang. Tapi aku tidak punya calon lain, Bujang.”
“Basyir? Dia hanya senang berkelahi. Bahkan untuk meminjam sendal pun dia harus meninju. Otaknya tidak berisi. Parwez? Anak itu memang jenius seperti kau, bahkan dalam bidang rekayasa keuangan, dia tidak tertandingi, cocok sekali menjalankan organisasi di masa depan, saat seluruh bisnis kita menjadi terang, tidak lagi remang. Tapi Parwez sebaliknya dari Basyir, hatinya terlalu lembut, bahkan memukul nyamuk pun tidak tega. Aku suka dengan karakternya, kesetiaannya. Tidak, dia tidak cocok. Keluarga ini membutuhkan pemimpin yang kuat. Hanya kau satu-satunya…. Anak angkatku….”
Tauke Besar diam sebentar, terbatuk.
“Batuk sialan ini tidak pernah berhenti….” Tauke Besar memaki, menyeka mulutnya.
“Aku tidak punya keturunan, Bujang. Anak dan istriku mati terbakar saat perebutan kekuasaan di kota provinsi. Juga adik dan kakak-kakakku. Hanya aku dan Ayahku yang selamat, keluarga kami habis jika Bapak kau tidak menyelamatkan Tauker Besar …. Hari ini, aku akan bangga sekali melihat kau menjadi kepala keluarga kita. Ayahku, Tauke Besar dulu, pasti juga akan senang, keluarga ini diteruskan kepada anak Syahdan, putra dari seorang tukang pukul yang sangat dia sukai. Pertimbangkanlah, Bujang. Pikirkanlah sepanjang perjalanan kau ke Hong Kong. Jangan langsung kau tolak.”
Aku diam. Menatap wajah tua Tauke, yang menunggu jawabanku.
Aku ingin menunda percakapan ini. Dalam hidupku, kematian orang terdekat selalu membuatku menjadi lebih lemah. Tapi teringat pesan dokter tadi, demi membuat Tauke senang, aku memutuskan mengalah, akan kupertimbangkan. Aku mengangguk.
“Bagus.” Tauke terkekeh, “Nah, selamat jalan, Bujang. Salam dariku untuk Master Dragon, dia akan bijak memutuskan masalah kita di sana.”
***

*bersambung

Selasa, 08 Agustus 2017

Tere Liye : Pulang

Bab 4. Penunggang Kuda Suku Bedouin

Mobil sedan hitam gelap yang kukendarai meluncur di jalanan padat ibukota, gesit melintas di sela-sela mobil lain. 
Telepon genggam di jok sebelah berdering. Tanpa melepas kemudi, aku berseru pendek, mengaktifkannya dengan suara, sekaligus loudspeaker mode.
“Hallo, Bujang. Kau ada di mana sekarang?” Suara yang kukenali langsung bertanya.
“Menuju bandara, Basyir.”
“Kau telah selesai mengurus si nomor dua?”
“Ya.”
“Ada masalah? Apakah kau butuh bantuanku?”
“Jika wajah tegang dan pucat termasuk masalah, hanya itu.”
Tere Liye : Pulang

Basyir tergelak sebentar di seberang telepon, “Dia pastilah seperti melihat hantu…. Dia pikir kau akan menyumbang dana kampanye puluhan milyaran, ternyata bukan…. Oh iya, Bujang, kau diminta kembali ke rumah. Tauke Besar ingin bicara padamu.”
“Aku tidak bisa. Seperti yang kubilang tadi pagi kepada salah-satu pengirim pesan. Aku harus tiba di Hong Kong sebelum pukul delapan malam. Tauke Besar seharusnya tahu itu, aku sudah separuh perjalanan menuju bandara. Kau bisa menggantikanku—“
“Bujang, orang tua itu hanya ingin bertemu denganmu, tidak ada yang bisa menggantikan.” Basyir memotong, “Kau harus kembali ke rumah, atau dia mengamuk di atas ranjangnya.”
“Tidak bisa—“
“Bujang, aku akan mendapatkan masalah jika kau tidak berhasil kubujuk untuk menemuinya segera.” Basyir memotong lagi, nada suaranya mendesak.
Aku menghembuskan nafas tipis. Melirik jam di pergelangan tangan.
“Baik. Tunggu aku tiga puluh menit.”
Membanting stir, berbelok tajam di jalanan protokol.
***
Adalah Basyir, orang pertama yang kutemui setiba di kota—bukan ibukota ini, masih di kota provinsi.
Dua puluh tahun lalu, gerimis turun saat empat mobil jeep melintasi gerbang selamat datang kota. Pukul sebelas malam. Wajahku menempel di jendela kaca, menatap lamat-lamat lampu jalanan suram yang dibungkus tetes hujan. Aku belum pernah meninggalkan kampung di lereng bukit barisan, belum pernah melakukan perjalanan sejauh ini, semuanya terlihat menarik. Tidak ada pepohonan, digantikan rumah-rumah, bangunan rapat. Jalan besar, dengan lampu-lampu. Lebih banyak mobil, berlalu-lalang. Jembatan panjang, gedung tinggi.
Empat mobil akhirnya masuk ke rumah dengan halaman luas. Gerbang besarnya yang terbuat dari besi dibuka oleh dua orang, di dorong. Komplek yang kami masuki lebih mirip benteng. Ada banyak bangunan di dalamnya. Satu bangunan utama, paling besar, di kelilingi rumah-rumah seperti mess, di sayap kanan, kiri dan bagian belakang.
Tauke Besar (aku baru tahu jika di rumah itu orang-orang memanggilnya Tauke Besar; hanya bapak yang masih memanggilnya Tauke Muda), turun dari mobil. Aku melangkah di belakangnya, tanpa alas kaki, menginjak halaman rumput yang basah. 
Tauke menyuruhku duduk di ruangan kerjanya. Beberapa pelayan muncul, juga seseorang dengan jas putih, membawa peralatan medis—seperti Mantri kota kecamatan yang pernah aku lihat di kampung.
“Kau periksa dia lebih dulu.” Tauke Besar menunjukku.
Mantri ini ternyata seorang dokter, lima belas menit. Kain-kain kumal yang dipenuhi gumpal darah telah diganti dengan perban. Sebagian rambut di dahiku dicukur habis, untuk melekatkan perban. 
“Dia baik-baik saja. Lukanya akan sembuh dalam hitungan minggu tanpa perlu dijahit. Anak ini punya daya tahan fisik luar biasa. Dia bisa istirahat sekarang, setelah menghabiskan semangkok sup hangat.”
“Bagus.” Tauke Besar mengangguk.
“Apa yang membuatnya terluka sebanyak itu, Tauke? Kuhitung ada dua puluh empat, di tangan, kaki, dada, punggung, kepala? Dia berkelahi dengan siapa?”
Tauke Besar tertawa, “Bukan siapa, melainkan apa. Tapi jangan tanya sekarang.” Tauke menoleh kepadaku, “Ikuti aku, Bujang.”
“Tauke tidak diperiksa?”
“Nanti, setelah aku mengantarnya ke mess sayap kanan. Kau obati yang lain dulu.”
Aku kembali melangkah mengikuti orang bermata sipit, bertubuh gempal. Melewati lorong panjang bangunan utama, tiba lagi di halaman, menyeberangi gerimis. Kakiku menginjak genangan air. Ada beberapa pelayan yang menyambut Tauke Besar di pintu depan mess sayap kiri.
“Kalian siapkan pakaian bersih untuk anak ini. Juga makan malam, sup hangat kata dokter, apapun yang dia butuhkan. Berikan dia kamar yang baik, semua keperluan.”
Dua pelayan itu mengangguk.
“Nah, Bujang. Inilah rumah barumu sekarang.” Tauke Muda menepuk bahuku.
“Tidak ada lagi rumah panggung reot Bapakmu itu. Tidak ada lagi ranjang kayu, tikar anyam. Kau adalah bagian dari keluarga ini sekarang, Keluarga Tong. Kau dengar aku?”
Aku mengangguk.
“Apapun yang dimiliki keluarga ini adalah milikmu, Bujang, dan apapun yang kau miliki adalah milik keluarga ini. Ada seratus orang tinggal di rumah Keluarga Tong. Semua memiliki tugas masing-masing. Aku adalah pemimpin tunggal di rumah ini. Semua kataku adalah perintah. Lakukan tugas dengan baik, saling menghormati, respek dengan penghuni rumah lain, maka kau tidak akan mendapat masalah.”
Aku mengangguk lagi.
Salah-satu pelayan kembali, membawa pakaian bersih.
“Selamat beristirahat, Bujang. Dia akan mengantarmu ke kamar.” Tauke Muda menyuruhku mengikuti pelayan itu, lantas kembali ke bangunan utama, menemui dokter.
Aku dibawa pelayan menuju lantai dua, kamarku. 
Itu kamar yang sangat baik, dengan kasur empuk, jendela besar menghadap halaman depan. Tidak sekalipun dalam imajinasiku ada kamar sebagus ini. Pelayan menjelaskan beberapa hal. Aku diam menatap dinding kamar yang putih bersih, hingga mereka pamit pergi. Meninggalkanku seorang diri.
Aku sedang berganti pakaian saat pintu kamarku kembali didorong. 
Aku menoleh. Ada apa lagi? Ada hal lain yang harus kuketahui?
“Assalammualaikum.” 
Itu bukan Tauke Besar atau pelayan.
Itulah Basyir. Satu-satunya orang di rumah Keluarga Tong, yang menyapa orang lain dengan kalimat tersebut, tapi itu sapaan kosong, bukan simbol religius, apalagi doa. Bagi Basyir, ucapan itu sama seperti mengucapkan, “Selamat malam”, atau “Hallo”, atau “Apa kabar, Bos.”. Karena Basyir memang adalah jagal keturunan Arab.
***
Basyir menjadi sahabat baikku sejak hari pertama di rumah Tauke. Usianya enam belas. Beda satu denganku. Tubuhnya tinggi besar, beda sejengkal dariku, berkulit gelap, perawakan khas Arab. Dia tinggal di rumah Tauke sejak kecil, dan dia suka sekali bicara. 
“Kau tahu suku Bedouin, Bujang? Mereka adalah penghuni gurun-gurun di Arab. Ratusan tahun mereka hidup sebagai suku nomaden. Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Tinggal di tenda-tenda. Para penunggang kuda. Mereka adalah ksatria paling kuat di daratan Arab. Penguasa gurun pasir. Pembunuh paling hebat—”
“Iya, suku leluhurmu memang hebat, Basyir. Tapi itu di Arab sana. Di sini lebih banyak hutannya, kesaktian kalian jadi mandul.” Pemuda lain memotong tidak sabaran, tertawa.
Meja makan menjadi ramai oleh tawa. Kami sedang sarapan. Di setiap sayap bangunan, di lantai bawah ada meja panjang dengan kursi-kursi. Setiap pagi, meja itu diisi makanan lezat oleh pelayan, menumpuk, juga minuman sejenis sirup. Penghuni bangunan berkumpul, menghabiskan makanan sambil bercakap-cakap ringan. Aku berkenalan dengan tiga puluh orang penghuni mess sayap kiri.
Basyir tidak mendengarkan, dia terus bicara, “Ada banyak orang hebat dari suku Bedouin, Bujang, kau tahu pemimpin Libya yang sangat terkenal itu, Muammar Khadafi, nah, dia juga berasal dari suku Bedouin. Dia pernah berseru: aku adalah ksatria Bedouin, yang akan membawa kejayaan Libya, dan akan mati sebagai martir demi itu. Itulah prinsip seorang Bedouin sejati, seperti Muammar—”
“Tidak bisakah kau berhenti, Basyir?” Pemuda di seberang meja menepuk dahinya, “Sudah berapa kali kau membahas tentang Khadafi di meja ini, seperti dia adalah kerabat dekat kau saja. Pusing kepala kami setiap kali kau bicara tentang idolamu itu.”
Meja kembali ramai oleh tawa. Kali ini wajah Basyir memerah, dia melotot, tapi akhirnya memutuskan diam, mulai menyendok makanan. 
Aku hanya duduk diam. Memperhatikan meja makan.
Basyir menghuni kamar persis di sebelahku. Dia membantu menjelaskan banyak hal tentang rumah sejak kami berkenalan tadi malam. Jaman itu, Tauke hanyalah salah-satu penguasa di kota provinsi. Benteng rumahnya berada di dekat pelabuhan, empat ratus meter, wilayah kekuasaan paling besar Keluarga Tong berpuluh-puluh tahun. Mereka menguasai bongkar muat pelabuhan, setiap peti kemas yang naik-turun, setiap truk yang lewat, harus berurusan dengan Keluarga Tong. Tapi cash cow, sumber uang adalah penyelundupan. Tauke mengirim ribuan ton karet basah, kopi, rokok, ke luar negeri tanpa melewati kantor cukai, sebaliknya mengimpor mesin, peralatan elektronik, marmer, sutera, dari luar negeri, lagi-lagi tanpa melewati kantor pajak.
Ada seratus orang di rumah Tauke. Sebagian besar adalah tukang pukul, mereka tinggal di sayap kanan dan belakang bangunan utama. Usia mereka terbentang dari dua puluh tahun hingga lima puluh tahun. Merekalah ujung tombak bisnis, setiap hari sibuk mengurus hal-hal kecil—mereka jugalah para pemburu yang dua hari lalu ikut Tauke ke kampungku. Sisanya adalah pelayan, bagian keuangan, logistik, medis, dan apapun yang dibutuhkan rumah itu agar berjalan lancar, tinggal di mess sayap kiri. 
Menurut cerita Basyir, ada dua orang penting di rumah Tauke. Satu, posisinya kepala tukang pukul, dipanggil Kopong. Rambutnya ikal, wajahnya sangar. Dia datang dari kepulauan timur. Dua, posisinya kepala keuangan, logistik, dan lain-lain, dipanggil Mansur. Tinggi kurus, mengenakan kaca-mata, amat cermat berhitung dan pengingat. Selain mereka berdua, posisinya setara, anak buah. Hanya sesederhana itu struktur organisasi di rumah Tauke Besar.
“Tidak ada di rumah ini yang bernama Tong.” Basyir mengangkat bahu, menjelaskan tanpa diminta, “Sebutan Keluarga Tong berasal puluhan tahun silam. Orang pertama yang menguasai pelabuhan, mungkin bernama Tong. Tapi bertahun-tahun, banyak keluarga Tong yang terbunuh oleh perebutan pelabuhan. Tauke mewarisi rumah ini dari orang tuanya, tapi orang tuanya bukan keturunan langsung Tong. Itu bukan masalah besar, di rumah ini, siapapun orangnya, dari mana asalnya, adalah keluarga. Tidak ada yang peduli kau suku apa, bahasa apa, sepanjang berguna bagi Tauke.”
Aku diam mendengarkan, kami telah pindah ke kamar Basyir, sudah selesai sarapan. Belasan pemuda yang tinggal di sayap kanan sudah berangkat, entah apa yang mereka kerjakan, terlihat sibuk. Mobil jeep berlalu-lalang keluar dari halaman benteng, gerbang dari besi bolak-balik dibuka tutup. Kesibukan terlihat jelas dari jendela kamar. 
Aku menatap dinding kamar Basyir, ada gambar Muammar Khadafi dalam ukuran besar, menutupi hampir separuh dinding, juga kertas dengan tulisan dalam bahasa Inggris. Aku bisa membacanya—walau tidak sekolah, Mamak mengajariku membaca di talang sana. Tapi aku tidak paham bahasanya. "I against my brother, my brothers and I against my cousins, then my cousins and I against strangers."
“Itu adalah pepatah paling terkenal di antara suku Bedouin, Bujang. Artinya adalah, aku melawan kakakku; kakakku dan aku melawan sepupuku; sepupu-sepupuku, saudara-saudaraku melawan orang asing. Pepatah ini adalah simbol kesetiaan. Artinya, keluarga adalah segalanya bagi suku Bedouin. Mereka boleh jadi bertengkar dengan saudara sendiri, tidak sependapat dengan sepupu sendiri, tapi ketika datang orang asing, musuh, mereka akan bersatu padu, melupakan semua perbedaan. Prinsip yang sama seperti Keluarga Tong. Kesetiaan adalah segalanya.”
Aku diam, menarik nafas tipis.
Pukul sembilan pagi, Basyir diajak pergi oleh tiga pemuda, entah kemana. Dia memperoleh tugas, segera mengenakan jaket hitam, sepatu mengkilat. Aku menatap punggungnya, dia berlari-lari kecil penuh semangat. Terlihat gagah bersama pemuda yang sebenarnya lebih tua empat-lima tahun dibanding dirinya. “Assalammualaikum, Bujang.” Basyir berpamitan, melambaikan tangannya, loncat ke atas mobil jeep. Tinggal aku sendirian di bangunan sayap kanan. Pelayan sibuk membereskan meja panjang. Salah-satunya meletakkan tumpukan baju baru di lemari kamarku. Juga sepatu hitam mengkilat seperti milik penghuni mess lain.
Pukul sepuluh, seseorang menemuiku, bilang Tauke menunggu di bangunan utama. 
Aku mengangguk. Akhirnya, itu pastilah panggilan tugas untukku—entah apapun tugasnya. Aku meniru teladan Basyir, segera memakai jaket dan sepatu. Menelan ludah, menatap sepatu di kaki, seumur-umur aku belum pernah mengenakan alas kaki. Tadi malam, juga sepanjang sarapan, aku berjalan tanpa alas kaki di rumah ini.
Aku masuk ke bangunan utama, melintasi lorong panjang, mendorong pintu. Pelayan yang mengantarku, balik kanan. Tauke Besar yang sedang sibuk memeriksa kertas di balik meja, mengangkat kepalanya, menatapku yang terlihat rapi, langsung tertawa.
“Kau terlihat keren, Bujang. Masuklah.” 
Aku melangkah. Sedikit kikuk, belum terbiasa dengan sepatu.
“Duduklah. Aku masih ada beberapa pekerjaan. Kau tunggu sebentar.”
Aku mengangguk, duduk di kursi. Tauke masih sibuk dengan kertasnya, lima belas menit kemudian, masuk seseorang, pastilah itu Mansur—aku mengenali perawakannya dari cerita Basyir. Mereka berbicara, Mansur mengangguk-angguk, mencoret-coret kertasnya, lantas keluar. Aku hanya memperhatikan, wajah Mansur yang serius, dan wajah Tauke yang santai. Pagi ini, wajah Tauke terlihat segar, walau masih ada perban di pelipisnya, seperti tidak nampak jika beberapa hari lalu dia terluka di dasar rimba Sumatera. 
Lima belas menit, Tauke kembali sibuk dengan kertasnya, membiarkan aku duduk. Hingga seseorang lagi masuk. Aku tidak mengenalinya. Bahkan sebenarnya, aku tidak pernah melihat orang dengan perawakan seperti dia. Rambutnya cokelat, matanya biru, kulitnya pucat. Usianya sekitar empat puluh tahun, membawa koper kecil.
“Ah, kau akhirnya datang, Frans.” Tauke Besar berdiri demi melihat orang itu masuk.
“Maaf terlambat, Tauke. Aku berusaha sesegera mungkin.” 
Orang itu bisa berbahasa lokal, tapi aksennya berbeda, terdengar patah-patah.
“Tidak masalah, aku juga tadi masih banyak pekerjaan.” Tauke tersenyum lebar, “Bujang, perkenalkan, Frans. Kau boleh memangil siapapun di rumah ini dengan nama atau julukannya langsung.”
Aku berdiri.
“Ada apa? Kenapa kau menatapnya heran? Kau belum pernah melihat bule, Bujang? Ah, aku lupa, Syahdan tidak pernah membawamu bahkan keluar dari kampung sialan itu. Kau lebih sering melihat monyet atau hewan liar di sana. Frans adalah orang Amerika, pernah mendengar nama negaranya?” 
Aku menggeleng.
Tauke tertawa, “Kau akan segera tahu dunia ini luas sekali, Bujang. Tidak hanya seluas hutan di kampung. Frans sempat menjadi diplomat, kemudian pensiun dini, sekarang guru di sekolah internasional ibukota, menguasai banyak bahasa. Aku memintanya datang jika ada urusan dengan dokumen-dokumen yang harus diterjemahkan atau ada urusan lain. Nah, Frans, inilah Bujang, anak angkatku, baru tiba tadi malam.”
“Hallo. Senang berkenalan dengan Anda.” Frans menjulurkan tangan, menyapa ramah.
Aku mengangguk, ragu-ragu ikut menjulurkan tangan.
“Kau sudah membawa semua keperluan sesuai yang kuperintahkan lewat telepon?”
“Sudah, Tauke. Sebentar.” Frans membuka kopernya, mengeluarkan kertas-kertas.
Aku menatap tidak mengerti. Aku kira, saat dipanggil tadi, aku akan mendapatkan tugas seperti yang diterima oleh Basyir atau pemuda penghuni mess sayap kanan. Entah itu pergi ke pelabuhan, gudang, pabrik, atau apalah. Bukankah itu tugasku? Memang belum ada yang menjelaskan secara detail apa tugasku di Keluarga Tong, tapi mendengar pertengkaran Bapak dan Mamak di kampung, mendengar cerita Basyir, dan penghuni rumah lainnya, aku tahu aku akan jadi apa di rumah ini. Tukang pukul. 
“Baik. Kita mulai saja. Kau bisa membaca dan menulis?” Frans bertanya padaku.
Aku mengangguk. Mamakku juga mengajarkan berhitung di kampung. Pun diam-diam mengajariku mengaji, shalat, ilmu agama—jika Bapak tidak di rumah. Bapak akan berteriak kalap jika tahu aku masih belajar hal-hal dari Tuanku Imam.
“Bagus. Itu berarti kita tidak perlu mulai dari awal. Sebentar, akan kucarikan soal yang cocok untukmu. Academic potential test…. Basic….” Frans memeriksa tumpukan kertas, lantas menarik satu berkas, menyerahkannya padaku, beserta pensil.
Aku menatap kertas itu. Semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ini bukan pekerjaan tukang pukul. Ini adalah soal-soal. Tentang logika, matematika, kubus, urutan, sekuensial. Aku tidak tahu istilahnya, tapi aku mengerti ini soal apa.
“Kau kerjakan, waktumu satu jam dari sekarang.” Frans tersenyum, mengeluarkan jam saku.
Aku menoleh ke arah Tauke Besar. Aku diminta mengerjakan soal? 
“Lakukan apa yang dia suruh, Bujang.” 
Aku menarik nafas perlahan. Baiklah. Mungkin aku harus berlatih memukuli soal-soal ini sebelum bergabung dengan Basyir dan pemuda lain. Mungkin di rumah ini peraturannya demikian, peraturan yang amat ganjil. Aku memegang pensil lebih mantap, mulai membaca soal pertama.
***
Jelas tidak ada pekerjaan memukul orang lain, memeras, mengamankan truk-truk, menyuap petugas, memeriksa kapal merapat. Tidak ada untukku. Pagi pertama di rumah Keluarga Tong aku justeru berkutat bersama Frans dengan tumpukan kertas yang sangat menyebalkan.
Satu jam berlalu, aku menyerahkan hasil pekerjaanku kepadanya. Frans memeriksa cepat, wajahnya mendadak berubah, bergegas berdiri, memperlihatkannya kepada Tauke Besar, berbisik. Wajah Tauke juga berubah. Ada apa? Apakah nilaiku jelek? Aku sudah berusaha mengerjakan sebaik mungkin. Tidak sulit soal-soal itu. 
Aku pikir semua sudah selesai, aku bisa kembali ke kamar, atau naik mobil jeep di luar sana. Tidak. Frans justeru mengeluarkan berkas kertas berikutnya. Juga jam saku dengan suara tik-tok berisik. 
“Kerjakan soal-soal ini, Bujang. Sekarang waktumu hanya empat puluh lima menit.” 
Belum selesai? 
Frans tersenyum.
Terserahlah. Aku mendengus dalam hati, menerima lembar soal.
Wajah Frans dan Tauke semakin berubah empat puluh lima menit kemudian. Dan aku sudah bisa menebaknya, akan ada berkas ketiga yang diberikan kepadaku.
“Waktumu sekarang hanya tiga puluh menit, Bujang.”
Aku mengusap pelipisku yang berkeringat. Aku tahu. Tanpa dia sebut pun aku tahu kalau waktuku akan dikurangi kembali. Itu logika sekuensial biasa. Aku menggenggam pensil lebih erat, konsentrasi penuh, mengerjakan soal-soal berikutnya dengan cepat.
Persis jam saku tik-tok berhenti di menit ketiga puluh, aku menyerahkan kertas-kertas itu.
Frans menerimanya tidak sabaran, memeriksanya, kembali berbicara dengan Tauke Besar. Aku bersandar di kursi, melemaskan jemariku. Apakah mereka akan memberikan soal berikutnya? Apakah tidak cukup soal-soal yang harus kupukuli pagi ini?
“Ini mengejutkan sekali.” Frans menatapku, wajahnya berbinar-binar, “Aku belum pernah menemukan murid dengan kecerdasan seperti ini. Berapa usiamu tadi? Lima belas?”
Aku mendongak. Tauke terlihat berkacak pinggang, wajahnya juga senang.
“Kau memang kesulitan menjawab pengetahuan umum, tapi itu bisa dimengerti, kau tidak pernah sekolah, tidak pernah melihat dunia luar. Tapi nilai logika, matematika, potensi akademik lainnya, itu seperti sudah menjadi sifatmu. Kau jenius, Bujang.”
Aku terdiam, menelan ludah. Aku jenius? Sejak kapan?
“Bagus, Bujang.” Tauke menepuk pundakku, terkekeh riang, “Aku punya rencana besar untukmu. Juga rencana besar untuk Keluarga Tong. Akhirnya aku menemukan potongan terakhir dari seluruh puzzle selama berpuluh tahun. Astaga, aku tidak tahu Syahdan punya anak sepintar kau. Tidak salah lagi, itu pasti datang dari Mamak kau. Tidak ada pintar-pintarnya Bapak kau itu, nol dibagi nol saja dia tidak tahu jawabannya.”
***

*bersambung