Selasa, 05 Desember 2017

Tere Liye : Burlian

Bab 24. RUSA BERTANDUK
-------------------------------------
Aku pikir, Pak Bin dulu yang tidak ber-PNS jauh lebih menyenangkan dibanding Pak Bin sekarang yang ber-PNS. Tiga bulan merasakan gedung baru, duduk di kelas enam, aku rasa Pak Bin terlalu bersemangat, terlalu riang, terlalu cemas, terlalu semuanya. 
“Kita harus memastikan kalian bisa melalui ujian nasional kelulusan dengan baik. Bapak berharap kalian mengerti dan bisa bekerjasama memastikan semua berjalan lancar. Jadi, PR! Kerjakan soal Matematika halaman 34 sampai 40. Kumpulkan besok pagi.” 
Tere Liye : Burlian

Seluruh kelas mengeluh. Can ekspresif sekali menepuk jidat seolah hendak pingsan saja mendengar PR sebanyak itu. Pak Bin hanya tertawa, “Kerjakan PR kalian masing-masing. Sekali lagi kau ketahuan mencontek, Can, maka aku akan menghukummu menulis kalimat itu seribu kali di papan tulis.”
Can menggerutu (dalam hati), seperti yang lain bergegas memasukkan buku ke dalam tas. Lonceng bel sudah berdentang. Sementara anak-anak kelas enam berebut keluar kelas, berlarian melintas halaman sekolah, aku beranjak mendekati Pak Bin yang masih membereskan penggaris panjang. Tadi belajar geometri, volume kubus, isi kotak persegi panjang dan bola.
“Bukunya sudah selesai, Pak.” Aku menyerahkan tiga buku yang kupinjam dari perpustakaan sekolah dua hari.
Pak Bin mengangkat kepalanya, tersenyum, “Cepat sekali kau membacanya, Burlian.”
Aku nyengir, memperbaiki posisi tas.
“Sayangnya tidak ada lagi koleksi perpustakaan kita yang belum kau baca.” Pak Bin menghela nafas pelan. Rambut berubannya terlihat dari jarak sedekat ini.
“Sudah ada kabar dari kakak-kakak itu?” 
“Oh, sudah. Tadi suratnya sudah Bapak terima dari petugas kantor pos kota kecamatan. Mereka bilang bisa saja mengirimkan buku-buku baru buat perpustakaan kita, tapi itu terjadwal setiap tahun, tidak setiap saat.” 
Aku menyeringai kecewa. Kalau tahun depan, aku juga sudah lulus SD.
“Kau terlalu cepat membaca buku-buku itu, Burlian.” Pak Bin bergurau, sambil mengacak rambutku, “Atau harusnya anak seperti kau tidak bersekolah di kampung yang jauh dari segalanya. Harusnya kau sekolah di tempat yang memiliki gedung sebesar sekolah kita hanya untuk perpustakaan saja. Ribuan buku-buku yang tidak akan habis kau baca bertahun-tahun.”
Pak Bin berdiri, menyusun tiga buku itu di lemari pojok kelas.
“Kau akan melanjutkan sekolah kemana, Burlian?”
“S-M-P.” Aku menatap Pak Bin, sedikit tidak mengerti. 
“Maksud Bapak, kau akan melanjutkan SMP mana? Kota kabupaten?”
Aku mengangguk ragu-ragu. Bukankah Ayuk Eli dan Kak Pukat sekarang sekolah SMP di sana. Juga semua anak-anak kampung yang melanjutkan sekolah, hanya itu satu-satunya pilihan paling dekat.
“Bapak khawatir SMP kota kabupaten juga tidak akan mencukupi rasa ingin tahu kau. Bukankah kau ingin seperti layang-layang, Burlian, terbang tinggi melihat banyak hal. Kau ingin membaca ribuan buku. Ingin tahu banyak hal baru yang menakjubkan. Jadi kenapa kita tidak memulai dengan pertanyaan, bagaimana kalau kau sekolah SMP di Jakarta?”
Aku tertegun. 
Aku tidak pernah memikirkan kemungkinan itu sebelumnya. Memikirkan ujian kelulusan saja belum, masih sembilan bulan lagi. Apalagi tentang kemana aku akan melanjutkan sekolah. Teringat kalau Mamak tadi pagi menyuruhku langsung pulang. Bergegas pamit pada Pak Bin.
Pak Bin tertawa, “Sampaikan salam buat Bapak, Mamak kau.”
***
Sejak Kak Pukat menyusul Ayuk Eli sekolah SMP di kota kabupaten tiga bulan lalu, malam-malam di rumah tidak otomatis jadi lebih sepi. Meski di rumah tinggal aku dan Amelia, potensi pertengkaran di rumah tidak berkurang sedikit pun. Seperti malam ini, saat aku bertugas menjemput Amelia pulang mengaji dari rumah Nek Kiba seperti biasanya.
Amelia belum khatam mengaji. Sudah di juz delapan belas. Aku sebenarnya malas menjemput Amelia. Untuk anak yang sudah sepuluh tahun, ia harusnya berani pulang sendiri. Mentang-mentang anak cewek, Mamak selalu saja menyuruhku menjemputnya. Aku menguap bosan menunggu di bawah rumah panggung Nek Kiba, kenapa malam ini lama sekali giliran Amelia menghadap, padahal sudah hampir jadwal film kesukaanku di televisi mungil Bapak. 
Langit bersih dari saputan awan, ribuan bintang menghias angkasa. Aku menyeringai melihat rasi ‘busur dewa-dewa’, teringat dengan Nakamura yang tiga tahun lalu mengajakku melihat langit dengan teleskop besarnya. Si ‘Toli-toli’, aku tertawa mengingat nama teropong bintang itu. Apa kabar Nakamura? Surat terakhir yang kuterima darinya sekitar tiga bulan lalu. Di surat itu dia bilang rombongannya sudah hampir tiba di ujung pulau Sumatera. Setahun lagi maka selesai sudah ribuan kilometer proyek jalan yang dikerjakannya.
Aku teringat percakapan kami tentang ‘di mana ujung jalan-jalan ini’. Apa kata Nakamura dulu? “Jalan-jalan ini tidak pernah berujung… jalan-jalan ini akan terus mengalir melewati lembah-lembah basah, lereng-lereng gunung terjal, kota-kota ramai, desa-desa eksotis nan indah, tempat-tempat yang memberikan pengetahuan, tempat-tempat yang menjanjikan masa depan… lantas jalan ini akan terusss.. terus menuju pelabuhan-pelabuhan, bandara-bandara… dan dari sana kau bahkan bisa pergi lebih jauh lagi, menemukan sambungan jalan berikutnya… mengelilingi dunia… melihat seluruh dunia, masa depan anak-anak kampung, masa depan bangsa kalian. Masa depan kau yang penuh kesempatan, Burlian-kun.”
“Kak Burlian.” Suara Amelia yang menuruni anak tangga memutus lamunanku.
Aku merapatkan posisi sarung, mengambil obor bambu, bergegas melangkah. Beberapa anak lain juga pulang dari mengaji.
“Kau lama sekali mengajinya.” 
“Nek Kiba-nya terus mengulang-ulang tartil bacaan. Jadi lama…. Kak Burlian jangan cepat-cepat.” Amelia protes. Ia mengangkat lebih tinggi kain yang masih dikenakannya.
“Bergegas. Sudah mau mulai film-nya.”
“Aduh, jangan-jangan cepat. Amel kainnya susah ini.” Amelia melotot.
Aku tidak mendengarkan justru mempercepat langkah, api oborku meliuk-liuk diterpa angin lembah. Amelia yang dongkol disuruh jalan cepat-cepat malah berhenti. Aku yang merasa Amelia tidak lagi di belakangku menoleh. Ia berdiri mematung belasan meter di belakang. Aku berteriak, “Bisa bergegas tidak? Nanti ku tinggal lari.”
Amelia tidak menjawab. Mukanya menggelembung.
“Ya sudah, aku tinggal. Asal kau tahu saja, pohon mangga di dekat kau berdiri itu ada hantunya.” Aku jahat balik kanan, terus melangkah tidak peduli.
Amelia menjerit ketakutan, menyusulku.
***
Sial, sudah diomeli Mamak panjang lebar gara-gara meninggalkan Amelia, ternyata aki televisi-nya soak pula persis serial film Allien itu hendak dimulai. Tabung ajaib Bapak tidak bisa dinyalakan. Tetangga yang hendak menonton di ruang depan bubar-jalan. 
Amelia bersungut-sungut membaca buku di bangku ruang tengah. Wajahnya masih melotot galak setiap kali aku melewatinya. Mamak menganyam keranjang rotan di sebelahnya. Aku kehabisan ide, bingung hendak melakukan apa. Buku-buku itu sudah dua-tiga kali kubaca. PR dari Pak Bin sudah kuselesaikan sebelum menjemput Amelia. Menyeringai hendak mengganggu Amelia, tetapi dengan Mamak persis di sebelahnya, sama saja mencari bala.
“Mak, nanti Burlian melanjutkan sekolah kemana?” Aku mencomot sembarang topik pembicaraan, daripada bosan menatap langit-langit rumah.
“SMP.” Mamak menjawab pendek. 
“Iya, Burlian tahu itu. Tapi, SMP yang mana?” Aku menggaruk rambut.
“Kota.” Mamak tetap menjawab pendek. Konsentrasi pada keranjangnya.
“Kota mana, Mak?”
“Ya, kota kabupaten. Kau pikir kemana lagi?”
Aku menyeringai. Tidak seru memang mengajak Mamak bicara kalau dia lagi konsentrasi penuh dengan pekerjaannya. Beruntung sebelum aku mati karena bosan, pintu depan terbuka, Bapak melangkah masuk. Aku melompat dari tempat duduk, bergegas menyambutnya.
“Bapak dari mana?”
“Balai kampung.”
“Memangnya di sana ada apa?”
“Pertemuan.”
“Iya, Burlian tahu. Tapi, pertemuan apa?” Aku menggaruk rambut.
“Urusan kampung.” Bapak tetap menjawab pendek.
“Urusan kampung apa?”
“Ya, urusan kampung biasanya.”
Aku menepuk jidat. Astaga, kenapa pula malam ini Bapak juga pelit sekali berkomentar. Ya sudahlah, aku mengalah, berhenti bertanya. Mungkin lebih baik aku tidur lebih awal.
***
Kelas enam ini, hari favorit aku dan Amelia adalah Sabtu. 
Itu berarti sekitar pukul dua siang, mobil engkel tua angkutan pedesaan yang tersengal mendaki bukit dan bergetar menuruni lembah akan berhenti di depan rumah. Ayuk Eli dan Kak Pudin pulang dari kota kabupaten. Menyenangkan, karena Ayuk Eli meski sering mengomeliku, berbaik hati membawakan majalah bekas yang dibelinya di pasar kota. Itu bacaan baru, tidak peduli meski tanggal terbitnya setahun silam. 
Mamak, Bapak setiap sabtu sore juga tidak kemana-mana. Bersama kami menghabiskan petang dengan duduk-duduk di depan rumah. Mamak bertanya banyak hal tentang seminggu terakhir kepada Kak Pukat dan Ayuk Eli di kota, memastikan semua baik-baik saja. Bapak dengan santai menyela kalimat Mamak yang terkadang serius sekali, berusaha melucu, membuat petang semakin menyenangkan. Aku dan Amelia asyik membaca ‘majalah baru’ itu, sambil menguping percakapan. Sekali-kali percakapan terputus karena ada penduduk yang lewat depan rumah menyapa, Bapak akan tersenyum balas melambaikan tangan.
“Tadi di mobil engkel, Eli dengar dari penumpang dari kampung Paduraksa, akan ada AMD di kampung mereka, Pak?” Ayuk Eli yang mukanya tersipu merah, mengganti topik pembicaraan Mamak tentang ‘kau jangan pacaran dulu di sekolah’.
“Iya, itu benar. Akan ada AMD di kampung mereka.”
“AMD itu apa, Pak?” Kepala Amelia terangkat dari bacaan.
“ABRI Masuk Desa.” Ayuk Eli yang menjawab.
“ABRI Masuk Desa itu apa?” Amelia bertanya lagi.
Bapak tertawa, mengacak rambut panjang Amelia, “Akan ada pasukan tentara yang datang. Pasukan zeni. Mereka tentu saja bukan datang untuk berperang, mereka datang untuk membantu membangun kampung itu. Mendirikan sekolah, memperbaiki masjid, rumah-rumah penduduk, hingga membuat jalan akses ke kampung.” 
Amelia mengangguk, kembali ke bacaannya. 
“Kalau jalan ke kampung mereka jadi dibangun, akan lebih banyak lagi orang-orang kota yang datang berburu, menebangi kayu, mengeduk pasir di kampung mereka… di kampung kita saja sejak jalan depan rumah bagus, sudah tidak berbilang orang-orang yang merusak hutan.” Ayuk Amelia menatap Bapak serius. 
“Kau benar. Apa mau dikata, tidak selalu pembangunan itu membawa dampak baik, Eli. Terkadang juga membawa sesuatu yang buruk. Itu tidak bisa dicegah. Sudah puluhan tahun penduduk kampung Paduraksa harus berjalan kaki di jalan setapak sejauh belasan pal. Mereka juga berhak atas akses jalan seperti kampung lain. Setidaknya yang bisa dilalui mobil.” Bapak menghela nafas.
“Tapi kalau Eli boleh memilih, Eli lebih setuju jalan-jalan di kampung kita rusak saja. Biar tidak ada pendatang yang bisa bebas membawa truk-truk menebangi kayu, mengambili pasir di sungai. Tidak mengapa kita jadi susah.” Ayuk Eli berkata mantap.
Aku mengangkat kepala dari lipatan majalah. Teringat, kalau soal menangkap burung dulu saja Ayuk Eli protes, apalagi yang lebih serius dari itu. Menyeringai.
“Bapak senang kau punya pemahaman seperti itu. Artinya kau mencintai hutan ini, Eli. Dua malam lalu, saat rapat di balai kampung, penduduk juga membahas tentang air sungai belakang yang mulai keruh. Tidak nyaman lagi untuk mandi sore. Katanya di bagian hulu, ada alat berat dan beberapa truk yang setiap siang mengeduk pasir dan koralnya.”
“Mereka harusnya diusir pergi, Pak. Bila perlu diancam alat beratnya akan digulingkan, truk-nya dirantai, pengemudinya dikurung, biar kapok.” Ayuk Eli berkata penuh semangat, “Kalau Eli boleh memilih, Eli juga akan melarang penduduk kampung membuka hutan untuk kebun, menembaki ayam hutan, mengambil rebung dan rotan.”
Bapak tertawa, “Kalau yang itu terlalu berlebihan, Eli.”
“Itu juga merusak hutan.” Eli bersikukuh.
“Bapak setuju, Eli. Itu juga merusak hutan. Tapi kau lupa poin terpentingnya. Penduduk kampung hanya mengambil seperlunya, menebang sebutuhnya. Mereka punya batasan. Jangan pernah mengambil semua rebung tanpa menyisakan tunasnya untuk tumbuh lagi. Jangan pernah menebar racun atau menjulurkan kawat setrum di sungai yang akan membuat telur dan ikan-ikan kecil juga mati, padahal esok-lusa dari merekalah sungai akan terus dipenuhi ikan-ikan. Jangan pernah menebas umbut rotan semuanya, dan sebagainya. Itu yang disebut—”
“Kebijakan leluhur kampung.” Aku dan Kak Pukat memotong kalimat Bapak hampir bersamaan.
Bapak menoleh, menatap kami dengan wajah sedikit terkejut, “Ka-li-an? Kalian sudah tahu soal itu?”
“Mang Unus yang bilang.” Aku menjawab mantap. Nyengir.
“Kalian juga melihatnya?”
Aku dan Kak Pukat mengangguk. 
“Astaga! Unus seharusnya bilang kepada Bapak kalau kalian sudah tahu. Seharusnya itu kewajiban Bapak untuk menjadikan kalian bagian dari ‘penjaga kebijakan leluhur kampung’.”
“Tahu apa, Pak?” Ayuk Eli menyela, ingin tahu.
“Eh, ya tentang itu.” Bapak menyeringai salah-tingkah, “Tahu tentang kebijakan leluhur kampung. Mengambil seperlunya. Menebang sebutuhnya.”
Ayuk Eli menatap Bapak curiga. Pasti bukan tentang itu. 
“Selamat petang, Pak Syahdan.” Lik Lan yang melintas dengan sepeda di depan rumah menyapa, berhenti sejenak. “Bukan main, semuanya sedang berkumpul.”
“Begitulah, Lan. Dari mana?” Bapak tersenyum, melambaikan tangan. Memutus ekspresi ingin tahu Ayuk Eli.
“Cerita lama. Tadi petugas stasiun menangkap anak kampung seberang yang memasang paku di rel kereta. Aku baru saja dari sana mengurusnya. Sore, Pak Syahdan. Mari, Burlian, Pukat.” Lik Lan tertawa, mengedipkan mata kepada kami sambil mengayuh sepedanya lagi. Aku dan Kak Pukat menggaruk rambut yang tidak gatal, teringat kejadian beberapa tahun lalu.
“Kau sungguh tidak pacaran di kota, bukan?” Mamak kembali membahas masalah itu selepas Lik Lan pergi.
“Aduuh, tidak, Mak.” Ayuk Eli melotot sebal. Ayuk Eli yang bersiap bertanya tentang aku dan Kak Pukat ‘melihat apa’ tadi ke Bapak jadi memerah wajahnya. “Mesti berapa kali Eli bilang kalau Eli tidak pacaran.”
Bapak tertawa, menengahi, “Percaya sajalah. Tidak akan banyak anak laki-laki yang bisa menaklukkan hati gadis dengan pemahaman hidup setangguh dan seberani anakmu Eli, Mak.”
Kami meski tidak mengerti benar maksud Bapak ikut tertawa. Setidaknya mentertawakan wajah Ayuk Eli yang macam udang rebus. Merah. Mamak juga akhirnya ikut tertawa. Petang itu sepertinya akan berakhir menyenangkan.
***
Sebentar lagi adzan maghrib, ketika mobil bak terbuka itu merapat cepat ke pagar rumah. Mengeluarkan suara berdecit. Dua orang membuka pintu, melangkah turun. Keduanya mengenakan topi lebar, sepatu bot tinggi dan senapan angin terselempang di punggung. Sepatu mereka dipenuhi lumpur kering. Baju lengan panjang mereka juga kotor.
Bapak beranjak berdiri, aku dan Amelia menghentikan membaca majalah. Percakapan menyenangkan di depan rumah terputus. Kali ini bukan oleh sapaan tetangga yang lewat.
“Selamat petang. Maaf mengganggu.” Salah seorang mereka menyapa, “Bisa minta air minum. Kami kehabisan perbekalan. Kawan kami teluka di bak belakang mobil.”
Bapak menyuruh Ayuk Eli bergegas mengambil botol air. Melintasi halaman rumah, mendatangi mobil yang terparkir di dekat pagar. Aku, Kak Pukat dan Amelia ikut mendekat. Memperhatikan pakaian mereka, senapan-senapan angin, tidak salah lagi, mereka pastilah rombongan pemburu dari kota. Seperti yang Ayuk Eli bilang tadi, belakangan banyak sekali pemburu dari luar kampung memasuki hutan-hutan kami.
Salah seorang rekan mereka duduk dengan kaki lurus di bak mobil. Salah-satu kaki itu terlihat berdarah, tulang betisnya patah, menembus daging. Mengerikan melihatnya. Tetapi meski wajahnya meringis menahan sakit, dia masih menyapa Bapak ramah, “Selamat petang, Pak. Maaf kalau sudah mengganggu.”
Bapak mengangguk, memperhatikan lebih dekat, “Kau baik-baik saja?”
“Yeah, aku baik-baik saja…. Ini sebanding dengan hasil yang kami dapatkan.” Orang dengan kaki patah itu tertawa pelan, “Dua hari dua malam mengejarnya. Semua perbekalan habis, bahkan air minum pun habis. Akhirnya kami bisa menyudutkannya di sungai yang masuk ke dalam tanah. Tiga tembakan sia-sia. Barulah setelah melepas peluru keempat buruan itu roboh. Sialnya, aku tergelincir saat hendak menuruni bukit mendekatinya. Kaki ini menghantam tunggul besar. Seperti yang Bapak lihat, patah tulangnya.”
Aku bergidik melihat pemburu itu menyingkap kain di betisnya. Patahan tulangnya benar-benar keluar. Hanya saja, kalimat barusan dari pemburu itu membuat jantungku berdetak lebih kencang. ‘Sungai yang masuk ke dalam tanah’. Jangan-jangan.
“Airnya… tolong airnya.” Pemburu itu melihat botol di genggaman Ayuk Eli, “Luka sialan ini membuatku cepat sekali haus. Terimakasih gadis manis.” Dia rakus sekali menenggak air dari botol. Membasahi leher dan dadanya.
“Kau sebaiknya mampir di Mantri kesehatan kota kecamatan. Lukamu perlu dibersihkan.” Bapak memberikan saran.
“Tidak mengapa, saya bisa bertahan hingga kota kabupaten. Terima-kasih banyak. Bisakah aku dibekali dengan botol-botol air?”
Bapak menyuruh Ayuk Eli mengambil beberapa botol air lagi.
“Itu… itu apa?” Aku tidak bisa menahan rasa ingin tahu, menunjuk terpal di sebelahnya yang seperti menutupi sesuatu.
Pemburu itu tertawa, menyingkap terpal, “Inilah buruan yang kami kejar dua hari dua malam. Seharga kakiku yang patah….” 
Amelia menjerit tertahan. Aku dan Kak Pukat undur satu langkah, mendesis gentar, “Ba-dan-nya… badannya mana?”
“Kami tinggalkan di mulut goa itu. Hanya kepalanya yang berharga, Kawan. Jadi buat apa repot-repot kami bawa. Oh, maaf nona manis, kau seharusnya tidak melihat pemandangan seperti ini. Sebaiknya kututup terpalnya….” Pemburu itu tersenyum ke arah Amelia. Menutup kembali terpal.
Botol-botol air minum diletakkan di bak mobil, pemburu itu sekali lagi bilang terima-kasih, bergegas melanjutkan perjalanan ke kota kabupaten. Berderum. Cahaya lampu mobil bak terbuka itu hilang di tikungan kampung, seiring matahari rebah di ufuk barat sana.
“Mereka tadi sebenarnya berburu apa?” Ayuk Eli yang sepanjang kejadian hanya bolak-balik mengambil air di dapur, bertanya saat kami melangkah masuk ke dalam rumah.
Bahkan Bapak kehilangan kata-kata.

Senin, 04 Desember 2017

Tere Liye : Burlian

BAB 23. MENGINTIP PUTRI MANDI
------------------------------------------------
Musim kemarau kembali tiba. 
Terik matahari membakar ubun-ubun disertai debu beterbangan menjadi pemandangan lumrah. Ini musim kemarau kesekian kalinya. Membuatku dan Kak Pukat duduk malas-malasan di depan rumah, menatap aspal jalanan yang memantulkan cahaya, seperti ada tumpahan minyak di atasnya. Menggaruk rambut menunggu tidak sabaran Mang Unus.
Tere Liye : Burlian

Sesuai janji, Mang Unus hari ini akan mengajak kami menangkap burung di sungai hutan. Selalu menyenangkan bertualang ke dalam hutan bersama Mang Unus. Dia selalu mengajarkan hal-hal baru yang menakjubkan. Misalnya, meminum air segar dari juntaian akar. Seperti akar pohon beringin, tapi bedanya, jika kalian tebas, maka seperti keran yang terlepas tutupnya, air segar mengucur deras. Aku tidak tahu nama pohon dengan akar sehebat itu. Mang Unus juga mengajarkan nama-nama tumbuhan liar, mana yang buahnya aman dan bisa dimakan, mana yang beracun dan bisa membuat mulut bengkak selama seminggu. 
“Bapak tadi kemana, Mak?” Aku bertanya, memecah senyap.
“Ke rumah Kak Bujuk, kepala kampung.” Mamak yang sedang menganyam keranjang rotan menjawab tanpa mengangkat kepala.
Aku ber-oh pendek, mengangguk. Kembali menatap jalanan.
“Mamang kau jadi datang siang ini?” Mamak yang kali ini memecah hening.
“Awas saja kalau tidak jadi.” Aku menjawab lugas. Membuat Mamak tertawa sebentar, menghentikan gerakan tangannya, teringat urusan sepeda hadiah khatam mengaji dulu. Benar, sebaiknya jangan pernah melanggar janji dengan Burlian, panjang urusannya.
“Mamang kau itu lagi sibuk-sibuknya… kau tahu sendiri, dia ikut jadi pemborong gedung sekolah. Mana sempat menemani kau pergi ke hutan.”
Aku tidak menjawab kalimat Mamak, kembali menatap lamat-lamat jalanan. Aku sedang memikirkan banyak hal. Membiarkan Kak Pukat di sebelahku mengecek peralatan menangkap burung. Hari-hari terakhir rasanya berjalan cepat sekali.
Kejadian itu sudah lewat tiga bulan lalu. 
Meski pekerjaan pembangunan gedung sudah dilakukan, puing-puing bangunan lama sudah disingkirkan, setiap kali datang ke sekolah, aku masih tetap bisa membayangkan dengan utuh semua sudut kelas kami. Kursi Juni dan Juli, patung Garuda Pancasila yang diapit gambar presiden dan wakil presiden, papan tulis hitam, tumpukan kapur, bercak hitam di langit-langit kelas, retak-retak kecil di dinding. Menghela nafas, mungkin butuh waktu lebih lama lagi untuk menghapus semua kenangan. 
Dua hari setelah kejadian, Pak Bin dengan bantuan tentara koramil mendirikan tenda-tenda darurat di halaman sekolah. Di sanalah proses belajar dilanjutkan. Ada empat tenda loreng terbuka, lengkap dengan kursi dan meja barunya. Aneh sekali rasanya belajar sambil menatap bekas reruntuhan kelas lama kami. Hari pertama sekolah, Pak Bin malah lebih banyak menghela nafas panjang dan melamun. Memukul lonceng lebih cepat dari jadwal. Lonceng itu ditemukan di sela-sela reruntuhan, karena terbuat dari baja, tidak rusak sedikit pun, dengan segera bisa digantungkan di salah satu pojok tenda darurat.
Wak Yati dulu benar. Nooit verloren, Sang Waktu tidak pernah kalah. Seberat apapun beban yang mengganduli kaki, waktu terus berlalu. Minggu-minggu terlewati, ujian Cawu dua harus dilakukan, kami mulai terbenam dengan kertas-kertas ulangan. Mengerjakan soal Matematika bersamaan gerimis penghujung musim hujan. Menjawab soal Bahasa Indonesia bersamaan dengan datangnya alat berat dan truk untuk memindahkan reruntuhan sekolahan. Menjawab soal Ilmu Pengetahuan Sosial bersamaan dengan kunjungan-kunjungan orang yang kami tidak kenal. Membawa denah-denah dan gambar-gambar. Mengerjakan soal Ilmu Pengetahuan Alam bersama datangnya truk pasir, batu koral dan batu bata. Menumpuk tinggi. Di sebelahnya papan-papan kayu, besi-besi panjang bahan pondasi juga tersusun rapi. 
Pekerjaan pembangunan gedung sekolah telah dimulai, dan Mang Unus menjadi salah-satu kontraktor lokalnya.
Urusan pemilihan kepala kampung itu tertunda sebentar. Dan saat dilaksanakan seminggu setelah kejadian, ‘kotak kosong’ dengan telak mengalahkan ‘gambar jagung’. Di tengah semua rasa sedih itu, menyebalkan sekali melihat Haji Sohar tetap semangat berkampanye. Memaksakan diri agar pemilihan segera dilaksanakan. Seluruh warga yang sedang bersedih akhirnya kompak bersatu. Melipat wajah-wajah saling curiga, bisik-bisik penuh intrik. Mereka tidak peduli lagi dengan sumpal uang. Jadi gampang diprediksi hasilnya. 
Meski seluruh kampung puas dengan hasil itu, Bapak memutuskan segera mengumpulkan seluruh warga. Mengajak mereka bicara.
“Sesuai peraturan, sebulan sejak hari ini, pemilihan ulang harus dilakukan. Aku tahu kalian tidak mau dipimpin Sohar, tapi akan sangat menyebalkan jika tetap tidak ada di antara kalian yang mencalonkan diri. Kita tidak mungkin mengulang pemilihan dengan calon tunggal, apa kata orang-orang luar kampung kalau sampai tahu ‘kotak kosong’ menang dua kali. Oi, itu benar-benar logika paling aneh. Kalian tidak mau memilih Sohar, tapi kalian juga tidak mau dipilih. Jadi segeralah pilih kandidat yang tepat di antara kalian.”
Tidak hanya sekali Bapak mengumpulkan mereka, tiga kali tepatnya, dan barulah salah seorang anak muda, Kak Bujuk, yang usianya baru dua puluh, masih terhitung saudara Bapak –sebenarnya di seluruh kampung satu sama lain masih terhitung saudara, berani mencalonkan diri. Dengan demikian, jalan ceritanya sudah bisa ditebak. Meski Haji Sohar untuk kedua kalinya gencar membagibagikan beras, amplop uang, menjanjikan ini-itu, hasil pemilihan sebulan kemudian bagai ayam hitam bertali hitam terbang di siang hari. Kak Bujuk resmi sudah menjadi kepala desa termuda sepanjang sejarah kampung kami. 
Rumah besar milik Haji Sohar terkunci rapat. Menurut bisik-bisik tetangga, pemiliknya kembali ke kota. Urusan ini mudah bagi Haji Sohar, tapi tidak untuk Wak Lihan yang tidak bisa meninggalkan kampung begitu saja. Mungkin butuh lebih lama dibandingkan membangun gedung baru sekolah hingga Wak Lihan bisa nyaman kembali bergaul di tengah warga. Beruntung, Bapak mengundang Wak Lihan ikut hadir di acara syukuran atas selamatnya aku dari gedung sekolah roboh. “Kau tidak perlu malu, Lihan. Terus-terang saja, aku juga mencoblos Sohar, bukan kotak kosong.” Tertawa, “Ah, tapi setelah itu Pak Syahdan jelas memilih Bujuk, bukan?” Salah seorang menimpali. Bapak melambaikan tangan, menyuruh tetangga itu diam.
Suara motor terdengar meraung di jalanan. 
Terputus dari lamunan, mataku langsung membulat, itu pasti motor Mang Unus. Suaranya khas sekali. Benar saja, beberapa detik berlalu, motor trail tua warna kuning itu sudah merapat di pagar rumah. Asap knalpotnya mengepul. Mang Unus lompat mendekat, melepas kaca-mata hitamnya, nyengir berkata. “Kalian menunggu siapa, Burlian, Pukat?”
Kami sudah tertawa senang.
***
Mang Unus memastikan semua peralatan menangkap burung lengkap dibawa sebelum berangkat. Senapan angin kebanggannya tergantung di pundak. Tetapi kali ini kami tidak akan menembak burung-burung itu, kami menggunakan cara yang lebih eksotis, menggunakan getah karet.
Sebelum berangkat, Ayuk Eli yang sedang pulang dari SMP-nya di kota kabupaten protes keras, “Mang Unus tidak boleh melakukan itu. Mengajak Pukat dan Burlian merusak hutan. Burung-burung itu harusnya hidup bebas di hutan sana.” Yang diprotes hanya menyeringai, “Kalau begitu, orang-orang yang menyembelih ayam juga merusak lingkungan hidup, Eli. Harusnya ayam-ayam itu dibiarkan bebas berkeliaran di halaman.”
Aku dan Kak Pukat menahan tawa melihat wajah Ayuk Eli yang menggelembung. Sejak tadi pagi dia protes melihat kami menyiapkan peralatan. 
“Burlian, Pukat, ayo berangkat!” Mang Unus melangkah ke pagar rumah. Menaiki motornya, gagah menghidupkan starter motor trail. 
Aku dan Kak Pukat sudah rapat duduk di jok belakang. Bubu, yang biasanya untuk menangkap ikan, tersampir di pundak Kak Pukat. Itu untuk sangkar sementara burung-burung. Mang Unus menginjak gas dalam-dalam. Motor trail berwarna kuning itu melesat bertenaga.
Jadi begini aturan mainnya. Kami akan menangkap ‘burung mandi’. 
Musim kemarau, matahari bersinar terik membuat burung-burung di hutan gerah. Setiap petang, saat matahari mulai beranjak turun di ufuk barat sana, puluhan burung akan terbang ke dasar hutan, mendekati sungai-sungai kecil yang banyak terdapat di dalam rimba.
Sungai itu lebarnya paling dua meter, di beberapa bagian tertentu dalamnya hanya tiga senti. Air mengalir di sela-sela koral batu. Jernih dan dingin. Menggoda burung untuk mandi di atasnya. Mereka hinggap di atas bebatuan dasar sungai, kakinya terbenam satu senti, lantas mulai memasukkan paruh ke dalam air, mengibaskan sayap membuat air berkecipak, tidak beda seperti kami sedang mandi di sungai belakang kampung. Karena itulah kami menyebutnya dengan istilah ‘burung mandi’.
Mang Unus hafal sungai mana yang paling banyak pengunjung burungnya. Dengan motor trail itu kami menuju perlintasan sungai itu dengan jalan raya, sekitar lima pal dari kampung. Mang Unus memarkir motor trail di tepi hutan, lantas kami bertiga berjalan kaki beriringan mulai masuk ke dalam hutan, melangkah di atas bebatuan sungai, melewati rimbun pohon-pohon yang menjuntai di kiri-kanan sungai kecil. 
Setelah berjalan kira-kira satu pal menelusuri sungai, Mang Unus menghentikan langkah kaki, melihat pergelangan tangannya. Masih belum terlalu sore, baru pukul empat, waktu yang tepat memasang perangkap. Menyuruh aku dan Kak Pudin menurunkan peralatan. Aku mengeluarkan bilah-bilah bambu sebesar kelingking dengan panjang enam-tujuh jengkal. Kak Pudin cekatan mengeluarkan batok kelapa, membuka bungkus plastiknya. Batok itu penuh dengan lem dari getah karet yang dimasak. Warnanya hitam, lengket seperti dodol yang baru diangkat dari wajan. 
Mang Unus membantu melumeri bilang-bilah bambu dengan lem getah karet. Menyisakan sejengkal ujung-ujungnya bersih dari adonan hitam getah karet agar bisa dipegang. Menyuruh aku memegangnya. Dia beranjak menebas salah-satu dahan pohon, membuat tonggak kecil yang ditancapkan ke bebatuan sungai untuk meletakkan bilah bambu yang sudah dilumeri lem getah karet. Jebakan itu selesai. Bilah bambu itu melintang diagonal, beberapa senti di atas permukaan air sungai. Burung-burung yang mandi di sekitarnya tidak akan menyangka kalau itu bukan batang kayu biasa. Mereka biasanya cuek malah hinggap di atasnya. Atau tidak sengaja sayapnya tertempel ke bilah bambu saat asyik bercengkerama dengan air.
Selesai satu jebakan, kami melanjutkan menelusuri sungai. Setiap menemukan bagian sungai yang dangkal, berbatu dan cocok untuk pemandian burung, kami meletakkan satu-dua bilah bambu melintang. Adalah sekitar satu kilometer kami terus ber-hulu-an. Bilah bambu yang kami bawa habis, juga lem getah karet di batok kelapa. Seluruh jebakan sudah terpasang. Mang Unus melihat pergelangan tangannya. Sudah hampir pukul lima sore. Cahaya matahari petang menerobos dedaunan. Saatnya burun-burung itu mulai turun ke sungai. Berceloteh sukaria. Jebakan lem getah karet itu mulai bekerja.
“Kalian mau melihat ‘putri mandi’?”
Aku dan Kak Pukat menatap Mang Unus tidak mengerti.
“Burung mandi?” Aku bertanya balik, membenarkan. Kalau melihat burung mandi kami sudah biasa. Nanti juga saat berhiliran kembali mengambil bilah-bilah bambu itu, akan ada belasan burung yang sudah menempel tidak bisa bergerak.
“Bukan burung mandi,” Mang Unus tertawa, “Tapi, putri mandi.”
Mang Unus memperbaiki posisi senapan angin di punggungnya. Memasukkan pisau besar ke dalam sarungnya. “Ayo, kita punya waktu setengah jam sebelum berhiliran mengecek bilah bambu. Kalian tidak ingin ketinggalan, bukan?”
Aku dan Kak Pukat menggaruk rambut, mengikuti langkah Mang Unus.
Semakin ke hulu, hutan yang melingkupi sungai semakin lebat, air sungai juga semakin dalam. Daun-daun besar dan dahan-dahan menjuntai, kami harus menunduk melewatinya. Pohon-pohon juga semakin rapat. Ada beberapa ikan terlihat melesat di dalam air sungai juga udang dan kepiting kecil. Buah dari pohon liar berjatuhan sepanjang bibir sungai. Aku tidak tahu itu buah apa, kulitnya seperti nangka, merekah merah bagian dalamnya.
Setelah berjalan satu pal lagi, kami menemukan pertigaan sungai. Mang Unus mengambil yang kiri. Menatap pohon-pohon besar, akar-akar panjang menjuntai dan lebih banyak lagi bekas buah-buah merah yang berserakan seperti habis dimakan binatang. Demi menatap hamparan buah merah itu, aku teringat sesuatu, bergegas mendekati Mang Unus, mencengkeram lengannya, mendecit bertanya, “Kita tidak ke ‘sungai larangan’, bukan?”
Langkah kaki Mang Unus terhenti, dia menoleh, mengangguk.
Astaga, aku dan Kak Pukat reflek langsung mundur satu langkah. Menatap wajah Mang Unus, memastikan kalau dia tidak sedang bergurau. Astaga, bukankah itu berbahaya? Kami memang suka melanggar pantangan, termasuk melanggar pantangan ‘lubuk larangan’ dulu. Namu untuk yang satu ini, mendengar desas-desus ceritanya saja sudah amat menyeramkan. Apalagi lihatlah, kami masih berbilang ratusan meter lagi dari tempat itu, tapi suasana hutan sudah berbeda. Lebih hening, lebih takjim dan lebih misterius. 
Mang Unus tertawa kecil, “Ayo, waktu kita terbatas. Nanti putri itu terlanjur pergi.” Terus melangkah.
Aku memukul jidat, bagaimana ini urusannya? Bersitatap dengan Kak Pudin, punggung Mang Unus hilang di kelokan sungai. Kami berdua langsung terlonjak kaget, bergegas menyusul, takut benar tertinggal. 
Bagaimana mungkin Mang Unus tidak tahu legenda sungai larangan? Menurut cerita dari orang-orang yang pernah nekad ke sungai larangan, jika kita terus berhuluan menelusuri anak cabang sungai, maka akan ditemukan bagian sungai yang masuk ke bawah tanah, seperti goa. Aliran air hilang di dalamnya. Dan konon baru muncul lagi berpuluh-puluh pal di balik bukit barisan sana.
Bagian hutan itu terlarang. Bagian sungai itu apalagi, sudah jelas sekali dari namanya. Menurut cerita, di goa itu tinggal ‘orang-orang bunian’. Orang-orang kecil setinggi pinggang laki-laki dewasa. Berpakaian seadanya dan berwajah aneh. Mereka tidak suka diganggu, dan jangan coba-coba diganggu. Konon sudah banyak orang yang berani ke sana, pulangnya jatuh sakit berkepanjangan, lantas meninggal tersiksa. Bahkan, bertahun-tahun silam, ada beberapa anak yang melanggar tabu, tidak pernah pulang lagi dari sana. Hilang selamanya, menjelma menjadi orang bunian.
Aku merapat di belakang Mang Unus. Kak Pukat sejak tadi awas melihat sekitar. Mang Unus terlihat santai terus melangkah. Kedalaman sungai sudah sepaha membuat celana kami basah. Sebenarnya jika kami tidak sedang ketakutan, perjalanan itu menakjubkan. Air sungai terlihat mempesona. Jernih memperlihatkan dasarnya yang berbatu warna-warni. Belum pernah kami melihat batu koral sungai seindah ini. 
Sssstt… tiba-tiba Mang Unus memberi isyarat agar kami diam. Aku menggaruk kepala, dari tadi juga kami sudah diam tidak bercakap sepatah pun. Mang Unus melangkah pelan-pelan sekali. Aku dan Kak Pukat ikut berusaha menghilangkan suara kecipak kaki melewati air. Kalau begini kami sudah dekat sekali dengan ‘putri mandi’ itu.
Mang Unus menyibak dedaunan yang menutupu sungai, menyuruh kami mengintip ke dapan. Kami yang sejak tadi membayangkan akan melihat orang-orang pendek, berambut panjang, berwajah aneh sedang mandi atau sedang berjaga di depan goa mereka tersedak kecil. Mang Unus ber-ssst menyuruh menutup mulut.
Oi, kami benar-benar terlalu percaya cerita itu. 
Tidak ada mahkluk pendek dengan tombak-tombak panjangnya, tidak ada juga mahkluk pendek dengan mulut komat-kamit membaca mantera jahat, yang ada justru tiga ekor rusa sedang meminum air sungai. Dua induk rusa dengan seekor anaknya. Aku mengusap mata, beranjak lebih dekat. Pemandangan ini sungguh spesial. Lihatlah, dua induk rusa itu berkilau ditimpa cahaya senja yang menerabas pepohonan rapat. Tanduk pejantannya yang bertingkat terlihat anggun mempesona. Mulut mereka berdecak pelan meneguk segarnya air sungai, tidak tahu kalau kami mengintip dari jarak dekat. Anak rusa berlompatan riang, kakinya terperosok ke dalam sungai. Melenguh pelan, riang kembali melompat ke bibir sungai.
Aku dan Kak Pukat menahan nafas. Mang Unus tersenyum.
Adalah lima belas menit kami menyaksikan pemandangan menakjubkan itu. Melihat dengan mata kepala sendiri, legenda ‘putri mandi’.
“Hanya sebagian orang-tua kampung yang tahu kalau ini habitat mereka, Burlian.” Mang Unus memimpin perjalanan kembali, berhiliran ke jebakan bilah-bilah bambu. “Dan mereka memutuskan untuk melindunginya dari remaja-remaja tanggung yang serba ingin tahu, orang dewasa yang nekad, atau pemburu liar dengan menceritakan kisah-kisah seram itu.”
“Itu kebijakan alam yang paling asli, Burlian, Pukat. Meski caranya sederhana, sejak aku dan Bapak kau seumuran kalian melihat pertama-kalinya, hingga hari ini rusa-rusa hutan itu tetap lestari. Sudah lebih empat puluh tahun. Sejauh ini, cerita tentang ‘sungai larangan’ efektif melindunginya. Entahlah besok-lusa, siapa yang tahu. Ah, semakin lama, semakin banyak saja pemburu dari kota yang masuk hutan, dan mereka mulai tidak mempan dengan cerita-cerita itu.” Mang Unus menghelas nafas pelan.
“Kalau tempat tadi rahasia, kenapa Mang Unus menunjukkannya pada kami?” Kak Pukat bertanya, mengeluarkan suara setelah setengah jam terakhir hanya diam. 
“Kenapa? Karena aku yakin kalian tidak akan mengganggu rusa-rusa itu. Aku juga yakin, besok-lusa kalian juga tidak akan buncah bercerita ke teman-teman di kelas soal kejadian sore ini. Kalian akan menutup mulut. Menjadi bagian kebijakan tetua kampung.” Mang Unus menatap kami takjim, menyentuh bahu-bahu kami. “Burlian, Pukat, leluhur kita hidup bersisian dengan alam lebih dari ratusan tahun. Mereka hidup dari kasih-sayang hutan yang memberikan segalanya. Maka sudah sepatutnyalah mereka membalas kebaikan itu dengan menjaga hutan dan seluruh isinya.”
“Ayuk Eli yang tadi protes soal menangkap burung-burung itu benar. Kita memang merusak hutan dengan menangkapi burung-burung. Tapi Ayuk Eli lupa sisi terpentingnya, yaitu: kita mengambil seperlunya. Kita menebang se-butuhnya. Kita punya batasan. Jangan pernah mengambil semua rebung tanpa menyisakan tunasnya untuk tumbuh lagi. Jangan pernah menebar racun atau menjulurkan kawat setrum di sungai yang akan membuat telur dan ikan-ikan kecil juga mati, padahal esok-lusa dari merekalah sungai akan terus dipenuhi ikan-ikan. Jangan pernah menebas umbut rotan semuanya, dan sebagainya. Kita selalu berusaha menjaga keseimbangan. Jangan pernah melewati batas, atau hutan tidak lagi bersahabat.”
“Baik, sekarang mari kita lihat bilah-bilah bambu itu. Apakah sudah ada burung-burung terjerat di sana. Bergegas. Sudah hampir gelap. Biar nanti malam kita sudah bisa merasakan burung panggang yang lezat.”
Aku dan Kak Pukat tertawa, berlarian kecil terus berhiliran. Sebenarnya kami tidak terlalu mengerti tentang keseimbangan yang dikatakan Mang Unus. Tetapi kami menyepakati satu hal, cerita mengintip ‘kijang mandi’ ini tidak akan pernah kami bocorkan. Apa yang tadi Mang Unus bilang? Kami telah menjadi bagian kebijakan leluhur kampung.
Hebat!
***
Musim kemarau berlalu cepat. Mang Unus semakin sibuk mengurus pembangunan gedung sekolah, hingga tidak sempat lagi menemani kami berpetualang masuk hutan.
Gedung sekolah itu mulai terlihat bentuknya. Sebulan lalu kerangka atap sudah terpasang kokoh. Dan setiap hari kami berangkat ke sekolah, bentuk fisiknya terus sempurna. Hari Senin, genteng-genteng mulai dipasang. Hari Selasa, dinding-dinding mulai dicat, bau catnya tercium hingga tenda-tenda darurat kami. Hari Rabu tegel lantai mulai disusun, dan kami menatap terpesona pojokan gedung. Hei, apakah kami tidak salah lihat, di pojok itu, kami punya kamar mandi yang bagus sekali. Dengan keramik berwarna putih. 
Hari Kamis, pintu dan jendela kelas dipasang. Menyenangkan melihat warna hijau muda-nya. Hari Jum’at rak-rak buku tiba di sekolah bersama meja dan bangku kayu. Kami berbisik-bisik, buat apa rak-rak besar itu? Buat di kelas? Untuk menyimpan apa? Hari Sabtu, jawabannya datang. Satu mobil box menurunkan banyak kardus. Kawan-kawan berlarian mengerubungi kardus-kardus itu, membuat Pak Bin kewalahan mengendalikan mereka. Ada tiga kakak-kakak sukarelawan turun dari mobil kedua. Melepas topi kuning mereka, tertawa memanggil namaku, “BURLIAN! Mana yang namanya Burlian?”
Aku tidak kenal siapa tiga pemuda berseragam ini. Tetapi nampaknya mereka amat mengenali aku, tertawa mengacak rambutku, “Ah, ini dia anak yang selamat dari reruntuhan… kami hadiahkan empat ratus buku perpustakaan untuk sekolah kau. Bapak Menteri menyuruh kami mengurus permintaan kau.” Mataku membulat, astaga? Jadi semua isi kardus ini adalah buku cerita? Munjib sudah lompat merobek salah-satu kardus. Mengeluarkan satu buku yang terletak paling atas dan seketika berteriak nyaring: “MONTE CRISTO!!”
Maka jadwal ulangan kenaikan kelas datang tanpa terasa. 
Sekolah itu selesai seminggu sebelum ulangan, ada acara peresmian oleh pejabat kota. Halaman sekolah ramai, juga hadir kamera-kamera TVRI itu. Aku beberapa kali diajak bicara oleh orang yang tidak kukenal. Ditanyai banyak hal, dan karena aku sedang asyik bersama teman yang lain menikmati gedung sekolah baru kami, pertanyaan-pertanyaan itu kujawab sambil lalu. Aneh, mereka justru tertawa mendengar jawabanku yang asal celetuk.
Ulangan umum tetap dilaksanakan di tenda, meski gedung itu sudah siap. Pak Bin sambil tertawa bilang, “Tidak setiap waktu kita mendapatkan kesempatan ulangan kenaikan kelas di tenda. Ini pengalaman spesial.” Kami tidak membantah, tiga bulan terakhir sudah terbiasa belajar di tenda. Kami tidak tahu kalau Pak Bin punya alasan lain, dia ingin kami lebih berkonsentrasi ke kertas ujian dibandingkan sibuk menciumi aroma cat atau mengomentari kelas baru. Lebih baik bangunan digunakan persis tahun ajaran baru nanti.
Dan kelas lima, masa-masa paling krusial atas masa depan kami terlewati sudah. Dengan banyak kejadian tidak kalah seru dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Tahun depan kami kelas enam.

Minggu, 03 Desember 2017

Tere Liye : Burlian

BAB 22. ROBOHNYA HARAPAN KAMI
----------------------------------------------------
Orang-orang ramai berkerumun di lapangan stasiun kereta, ketua panitia pemilihan sudah ancang-acang hendak memulai acara. Nama-nama pemilih sudah didaftar, kertas-kertas suara bergambar jagung—sebagai tanda pilihan Haji Sohar— dan sebelahnya kosong tanpa gambar –sebagai tanda pilihan ‘kotak kosong’— disusun rapi di atas meja. Semua saksi sudah hadir, petugas dari kecamatan juga sudah datang. Maka sebentar lagi, resmi sudah pesta demokrasi kelas kampung dimulai. 
Tere Liye : Burlian

Butiran sisa air hujan menggelayut di ujung-ujung daun. Embun masih berkilauan diterpa cahaya matahari pagi yang mulai mengintip dari pucuk-pucuk pohon. Sengaja acara dimulai sepagi mungkin, agar penduduk kampung yang selesai mencoblos, masih sempat pergi ke kebun. Urusan memilih dan mencari nafkah sama pentingnya, tak boleh yang satu mengalahkan yang lain. Ketua panitia meraih toa, “Test, test, satu, dua, tiga…” Suaranya nyaring terdengar hingga ke sekolahan. Bergema.
Sebagai jawabannya, bersama pantulan gema, suara berdebam menggetarkan seluruh kampung terdengar dari arah sekolahan. Itu lebih kencang dibandingkan dentuman dinamit tim eksplorasi pencari minyak dulu. Lapangan terasa bergetar. Butiran air jatuh berguguran. Semua wajah tertoleh. Kepala panitia pemilihan menurunkan toa, para petugas pencatat meletakkan pulpen, dan orang-orang yang berkerumun seperti lebah, berdengung bertanya satu sama lain.
“GEDUNG SEKOLAH!!” Terdengar teriakan dari ujung jalan.
Sedetik senyap. Saling tatap tidak mengerti.
“GEDUNG SEKOLAH AMBRUKK!!” Teriakan itu terdengar sekali lagi.
Saat kesadaran itu datang, bagai air bah, kerumunan penduduk yang hendak mencoblos bergegas menghambur ke arah sekolah, berlarian secepat kaki bisa berlari. Astaga? Apa mereka tidak salah dengar. Ini hari Senin, anak-anak tadi pagi pamit berangkat sekolah, kalau gedung itu roboh, apa yang terjadi dengan mereka? 
Jarak lapangan stasiun kereta dengan sekolah hanya dua ratus meter, tapi berlari dengan kecepatan setinggi itu cukup untuk membuat nafas tersengal, dan lebih tersengal lagi saat tiba di lokasi kejadian. Debu dari bangunan ambruk mengepul tinggi. Seperti baru saja ada bom meledak di sana. Gedung sekolahan rata dengan tanah, genting atapnya terlempar hingga belasan meter. Dindingnya luruh. Meja dan bangku kayunya remuk. Tidak ada lagi yang tersisa. Sungguh tidak ada.
Dan bersama kepulan debu, ratap tangis mulai terdengar dari seluruh penjuru sekolah. Seruan-seruan minta tolong. Teriakan-teriakan mengaduh kesakitan. Seruan-seruan panik mencari anak masing-masing. Campur-aduk di langit-langit sekolahan kami. 
Embun menetes satu-persatu diujung daun bougenvile yang menjadi pagar halaman sekolah, cahaya matahari pagi yang seharusnya menyenangkan membasuh kelam seluruh lapangan sekolahan. Wajah-wajah histeris.
Hari itu, hari paling hitam dalam sejarah kampung kami.
***
Pernahkan aku menceritakan tentang teman sekelas kami yang bernama Juni dan Juli? Pernahkah? Belum, karena aku sengaja tidak menceritakannya hingga tiba di bagian ini. Mereka yang selalu riang di sekolahan, pandai sekali dalam pelajaran Matematika—mungkin hanya mereka berdua saja yang mencintai pelajaran itu, selalu duduk paling depan sejak kelas satu, selalu mengenakan sepatu berwarna sama, tas sama, kaos kaki sama, semua serba sama. 
Selalu menyakitkan mengenang hal-hal itu. 
Membuat sesak dan terdiam menggigit bibir. 
Kalau kami jahil berteriak memanggil “JU!” maka kedua teman kami itu akan serentak menoleh, tertawa, Juni dan Juli tidak pernah marah dengan olok-olok itu. Malah bangga, bilang bahwa ‘dalam seribu kelahiran, belum tentu ada satu yang terlahir kembar’. Bilang, merekalah kembar pertama yang lahir di kampung Padang. Membuat kami yang awalnya jahil, malah melongo terpesona. “Boleh jadi benar… Karena sejak Bakwo kecil hingga sekarang, belum pernah melihat ada yang kembar.” Itu klarifikasi Bakwo Dar saat aku penasaran bertanya. Jangan-jangan kalimat Juni dan Juli hanya omong-kosong.
Di kampung kami yang sederhana, fakta mereka kembar amat menarik bagi anak-anak. Apalagi nama mereka ganjil sedemikian rupa. ‘Juni’ diberi nama begitu, karena dia memang lahir di bulan Juni, persisnya tanggal 30 Juni, pukul 23.15. Sementara Juli, lahir satu jam kemudian, tanggal 1 Juli pukul 00.09, karena itulah namanya ‘Juli’. Penjelasan ini ajaib sekali, dan fakta kalau Juni dan Juli adalah teman yang baik hati dan bersahaja membuat kami cepat akrab dengannya sejak minggu pertama masuk sekolah. Mereka berdua adalah kawan yang bisa diandalkan.
Hingga hari ini, saat gedung tua sekolah kami roboh.
Pagi itu, kami masih khidmat melaksanakan upacara bendera saat retak pertama di dinding merekah. Aku yang menjadi pemimpin upacara berteriak kencang memberikan penghormatan terakhir sebelum bubar kepada Pak Bin ketika retak dinding itu pecah menjadi lima belas alur. Menjalar mengerikan. Dan saat teman-teman berlarian hendak masuk ke dalam kelas, saat itulah gedung sekolah kami ambruk, roboh tidak berbilang.
Juni dan Juli meninggal di tempat. Mereka tidak ikut upacara karena pilek. Mereka beristirahat di ruang guru. Seluruh kelas buncah oleh suara tangis saat tahu kabar itu. Dan lebih banyak lagi ratap tangis Ibu Juni dan Juli. Ia menjerit histeris saat kedua kembar itu diangkat dari balik reruntuhan, “Mana anakku!! Mana anakku.” Menciumi dua tubuh yang mengenaskan itu. Tersedu bilang kalau tadi pagi ia sudah melarang mereka sekolah, sudah bersiap menuliskan surat ke Pak Bin agar diberi ijin sakit. 
Seluruh kampung terbenam dalam kesedihan. 
Juga Mamak dan Bapak, mereka tergopoh panik membawaku ke atas mobil angkutan pedesaan, membawaku secepat mungkin ke rumah sakit kota kabupaten. Ada lima anak yang terkena lemparan genting dan bongkahan batubata gedung, aku yang berdiri paling dekat dengan gedung sekolah sebelum roboh terbilang paling parah. 
Tergeletak di tengah kepulan debu. Dengan kepala berlumuran darah.
***
“Mereka harus membayar mahal… mereka harusnya membayar mahal sekali semua kejadian ini.” Pak Bin menangis, menatap kepalaku yang sempurna terbebat kain putih, hanya menyisakan kedua bola mata dan lubang mulut.
“Saya sudah berkali-kali datang ke mereka, menjelaskan kalau gedung itu sudah jauh dari layak pakai… gedung itu sudah tua, sudah retak di mana-mana, bocor, tampias… tapi apa jawaban mereka? Tunggu anggaran tahun depan… tunggu tahun depannya lagi.. tahun depan-depannya lagi. Padahal kalau itu soal uang untuk mobil-mobil dinas mereka, renovasi rumah-rumah dinas mereka, atau uang yang bisa mereka ambil, cepat sekali urusannya.”
Bapak ber-hsss menyentuh lengan Pak Bin. Berbisik sudahlah, semua sudah terjadi, Burlian akan baik-baik saja, hanya luka luar. “Apanya yang baik-baik saja? Lihat, seluruh kepala dibebat, infus-infus, apanya yang baik-baik saja?” Pak Bin memotong serak. Wajahnya marah, menggelembung. Bapak tersenyum, akhirnya memapah Pak Bin agar keluar dari ruangan gawat darurat. 
Aku yang setengah sadar, samar-samar mencerna percakapan itu. Kepalaku masih sakit, dan seluruh tubuhku lemas sekali untuk digerakkan. Menatap sekitar, melihat selang dan belalai yang menghujam di tubuhku. Mengeluh pelan, di manakah aku sekarang?
***
Dari bisik-bisik Bakwo Dar dan Mang Unus yang membesukku besoknya aku tahu Juni dan Juli sudah dikuburkan. Mereka sengaja bicara pelan, sepertinya benar-benar tidak mau mengganggu istirahatku. Dari bisik-bisik penduduk kampung lain yang mengunjungiku beberapa hari kemudian, aku tahu kalau empat anak-anak lain sudah pulang, rawat jalan. Mereka tidak terlalu parah. Aku juga tahu kalau pemilihan kepala kampung kami ditunda. 
Bebat kepalaku masih terpasang lewat empat hari kejadian, kondisiku masih lemas. Aku hanya lamat-lamat memperhatikan orang-orang yang bergantian menjagaiku.
Kabar robohnya sekolah kami dengan cepat menjalar ke kota provinsi. Kata Mang Unus dalam bisik-bisiknya, liputan gedung yang rata dengan tanah ditayangkan di TVRI, dalam siaran berita nasional. Sebenarnya kabar tentang sekolah roboh lazim saja di masa itu, tetapi meninggalnya si kembar Juni dan Juli menjadi ‘bumbu’ yang luar-biasa. Inspeksi dan kunjungan pejabat dari kota membanjiri kampung. Semua berebut hendak menunjukkan empati. 
“Mana… mana anak yang selamat itu?” Suara berat terdengar dari luar, juga rusuh langkah kaki, seruan-seruan agar memberikan jalan.
Pintu ruangan rawat inapku terbuka, Mamak yang sejak semalam menungguiku, beranjak dari duduknya, adalah belasan orang yang mendadak masuk ke ruanganku. Bersama kilauan blitz tustel dan rekaman kamera dari orang-orang mengenakan rompi TVRI.
“Selamat pagi, Bu.” Orang yang mengenakan seragam safari itu menegur Mamak, ramah tersenyum. Mamak yang lelah semalaman berjaga mengangguk. Sebenarnya kalau dilihat dari ekspresi wajah, terlihat sekali Mamak sebal dengan kunjungan mendadak ini. Dua hari lalu Mamak bahkan bertengkar dengan dokter rumah sakit, “Anakku bukan tontonan. Kenapa kalian tidak melarang orang-orang itu datang? Burlian butuh istirahat.” Sayangnya, yang kali ini jangankan Mamak, kepala rumah sakit saja tidak bisa menahannya.
“Nah, ini dia anak yang selamat dari reruntuhan… Apa kabarmu?” Bapak itu bertanya dengan suara serak, senyuman tidak lepas menghias wajahnya.
Aku mengangguk, kabar baik. Sejak kemarin aku sudah bisa duduk. Aku juga sudah bisa bicara, meski masih malas bicara panjang-panjang.
“Kita tidak akan membiarkan ini terjadi lagi. Seluruh bangunan tua sekolah harus diganti. Pemerintah akan menangani masalah ini sungguh-sungguh.” Bapak itu menoleh ke kolega yang mengelilinginya, berkata mantap di depan rekaman kamera TVRI.
Aku diam saja, meski entah kenapa, tiba-tiba hatiku terasa sesak. Aku tidak tahu dan tidak peduli dengan siapa rombongan ini, aku hanya ingat kalimat Pak Bin beberapa hari lalu: Mereka harus membayar… mereka harusnya membayar mahal sekali semua kejadian ini. Aku menggigit bibir, berusaha menahan rasa marah yang tiba-tba datang memenuhi kepala. Itu benar, siapa yang bisa menebus kesedihan Ibu Juni dan Juli? Siapa yang bisa mengembalikan nyawa yang sudah pergi? 
“Apa yang ingin kau katakan, Nak? Katakan saja?” Bapak itu menoleh ke arahku yang terdengar mendengus pelan dengan nafas mengencang.
“Bapak jamin semua akan dilaksanakan… Katakan saja! Tidak ada orang yang akan berani melanggar janji di depan kamera wartawan.” Bapak itu tertawa, yang lain juga tertawa.
“A-ku…” Aku menghela nafas, berusaha mengendalikan diri.
“Aku ingin sekolah itu dibangun lagi.”
“Tentu saja itu akan dilakukan.” Bapak itu memotong. Tertawa renyah.
“Juga ruangan perpustakaannya.” Aku teringat kalau kami tidak punya perpustakaan. 
“Catat itu.” Bapak itu memerintah salah seorang stafnya.
“Juga peralatan-peralatan sekolahnya.”
“Lapangan bulutangkis.”
“Seragam sekolah.”
“Beasiswa untuk seluruh murid.”
“Motor untuk guru-guru—”
“Cukup, cukup…” Bapak itu tertawa, “Kau tidak akan mendaftar semua permintaan dalam satu kali kunjungan, bukan? Nanti kantong hadiah sinterklas saya kosong melompong.”
Orang-orang ikut tertawa.
“Tapi Bapak sudah berjanji akan melaksanakannya tadi. BAPAK SUDAH BERJANJI!!” Aku berseru galak. Suaraku melengking membuat seluruh ruangan terdiam.
“Ergh… baiklah.. baiklah.. tapi kau hanya boleh menyebutkan satu permintaan lagi.” Bapak itu menelan ludah, berusaha mengendalikan situasi dengan tersenyum kembali.
“A-ku…” Aku menelan ludah. Berpikir cepat, apa yang akan jadi permintaan terakhirku. 
“Aku ingin Pak Bin diangkat jadi PNS.” Aku akhirnya berkata mantap, menatap penuh rasa puas ke arah Bapak itu. Lantas tidak peduli, beranjak tiduran kembali. 
Aku tentu saja tidak bisa ‘menghukum’ mereka atas dosa membiarkan gedung sekolah itu roboh. Dalam banyak hal, mereka juga punya alasan kalau kejadian itu bukan salah mereka. Maka biarlah aku menyebutkan satu permintaan yang paling pantas sebagai tebusan. Setidaknya, sekolah kami akan memiliki seseorang yang penuh kasih-sayang, sangat peduli atas masa depan anak-anak didiknya. Setidaknya, sekolah kami akan memiliki ‘penjaga’-nya yang hidup tenang karena sudah PNS.
Laksanakan saja, aku menutup mulut, pembicaraan sudah selesai. Tidak menjawab lagi gurauan kaku Bapak itu. Bahkan sebenarnya dari gurat wajah, menyuruhnya menyingkir dari ruangan. Aku membiarkan kamera merekam seluruh ekspresi benci wajahku. Dan beberapa hari kemudian, saat televisi kecil di depan rumah menyiarkan dialog di ruangan rumah sakit itu, warga kampung berseru ramai, bertepuk-tangan, “Pak Menteri itu kena batunya sekarang… Bukan main putranya Pak Syahdan.”

Sabtu, 02 Desember 2017

Tere Liye : Burlian

BAB 21. PEMILIHAN KEPALA KAMPUNG
--------------------------------------------------------
Minggu-minggu terakhir ‘situasi politik kampung memanas’. 
Itu istilah beberapa pemuda yang asyik bercakap di pinggir lapangan stasiun kereta sambil menonton bola. Berbeda dengan pemilu nasional lima tahunan yang pemenangnya itu-itu saja—partai berwarna kuning, pemilihan kepala kampung kami jauh lebih meriah. Mang Dullah sudah habis masa jabatannya, dan dia enggan maju kembali sebagai kandidat. Sudah saatnya warga kampung memilih pemimpin baru.
Tere Liye : Burlian

Yang membuat urusan ini rumit, sejak pendaftaran calon kepala kampung dibuka, tidak ada satupun warga yang berniat mendaftar selain Haji Sohar—seseorang yang baru saja tinggal di kampung kami. Haji Sohar ini bukan warga asli, orang-tuanya dulu memang pernah tinggal di kampung selama lima tahun, lantas pekerjaan membawanya pindah ke kota provinsi. Mereka katanya sukses dan kaya raya di sana. Berpuluh tahun berlalu, saat semua orang sudah lupa, salah-satu anaknya tiba-tiba pulang. Membangun kembali rumah yang dulu pernah ditinggali orang-tuanya.
Pemilihan ini menjadi penanda saat kami tinggal beberapa minggu lagi menerima raport Catur Wulan kedua. Orang-orang ramai membicarakan masalah itu, jadi setiap malam, depan rumah Bapak ramai oleh tetangga yang berkumpul bercakap-cakap seru, mengabaikan siaran televisi.
“Haji Sohar itu sepertinya sengaja benar pulang di tahun pemilihan.” Salah seorang menyela, langsung ke topik yang paling hangat dibicarakan.
“Tapi buat apa pula dia menjadi kepala kampung? Bukankah keluarga mereka di kota sana sudah kaya-raya? Buat apa dia repot-repot menetap di sini lagi? Apalagi yang dicarinya?”
“Ah, kau seperti tidak tahu saja. Uang bandes dari pemerintahan pusat setiap tahunnya hampir belasan juta. Belum lagi dana-dana proyek yang diterima kampung, jangan bodoh, semua itu uang. Itulah yang dicari pendatang itu.” Percakapan mulai menghangat.
“Aku dengar-dengar, usaha warisan orang-tuanya di kota bangkrut. Makanya dia pulang. Lumayanlah mengambil uang bandes.” 
Bapak yang duduk di antara mereka, sedang asyik menyimak ‘Dunia Dalam Berita’ TVRI berdehem, “Kau jangan asal bicara, Pendi. Mulut lancang bagai pedang.”
Orang-orang terdiam sejenak. Menggaruk kepala tidak berani membantah. Bukan karena takut nanti diusir menonton televisinya, tetapi penduduk kampung sejak dulu memang segan dengan Bapak.
“Kenapa tidak Pak Syahdan saja yang mencalonkan diri? Kami pasti mendukung.” Salah seorang dari mereka akhirnya bersuara, yang langsung ramai disambut seruan-seruan setuju. Anggukan-anggukan mantap.
Bapak tertawa, melambaikan tangan, “Bukankah kalian tahu persis kenapa Dullah tidak mau menjadi kepala kampung lagi? Karena dia ingin meneruskan tradisi kepala kampung hanya satu kali. Delapan tahun itu bukan waktu sedikit. Jangan diperpanjang lagi. Itu terlalu lama untuk menabung dosa menjadi pemimpin yang buruk.”
Orang-orang terdiam. Aku manggut-manggut mengikuti percakapan itu. Cerita Mamak suatu ketika, dulu kepala kampung seperti jabatan seumur hidup. Sekali jadi, seterusnya baru diganti setelah mati. Siklus delapan tahunan hanya formalitas. Celakalah kalau kepala kampung yang terpilih tidak peduli dan amanah. Masa-masa itu, hampir menjadi pemahaman di seluruh kampung, kalau berbagai uang bantuan untuk desa (bandes) adalah jatah kepala kampung. Terserah-serah dia, mau digunakan untuk keperluan pribadi boleh, untuk membangun kampung ya nanti-nanti. 
Enam belas tahun lalu Bapak memutuskan ikut pemilihan. Umur Bapak waktu itu masih tiga puluhan, jadi ramailah seluruh kampung saat tahu Bapak mencalonkan diri melawan kepala kampung yang sudah 24 tahun berkuasa. Selama ini mereka terbiasa dengan satu calon, kepala kampung lama melawan ‘kotak kosong’. Itu istilah jika kandidatnya hanya satu. Dengan hanya satu kandidat, penduduk akan melubangi tanda gambar kandidat lama atau ‘kotak kosong’ tidak bergambar. Jika lebih banyak kotak kosong yang dipilih, maka pemilihan diulang kembali.
Bapak menang telak. Berbagai upaya kepala kampung lama membujuk warga agar tetap memilihnya tidak berhasil. Uang-uang yang dibagikan, karung-karung beras yang dikirimkan, rehab masjid, perbaikan jalan, semua percuma. Sejak terpilih, Bapak mengembalikan banyak fungsi pemerintahan di kampung. Rapat desa dihidupkan, perangkat desa ditunjuk, dan berbagai uang bantuan desa digunakan bersama, termasuk jika tidak ada ide untuk apa, uang itu diputuskan dibagi rata saja.
Lepas delapan tahun, Bapak digantikan Mang Dullah. Ada dua calon waktu itu, Bakwo Dar dan Mang Dullah. Orang-orang kampung (termasuk Bapak) memilih Mang Dullah yang sempat sekolah SMA di kota. “Semua orang juga tahu, Bakwo kau itu hanya pandai mengurus kebun duriannya.” Bapak tertawa menjelaskan saat aku bertanya kenapa Bakwo Dar kalah telak.
Tahun ini, siklus delapan tahun itu datang lagi, dan Mang Dullah yang berketetapan hati tidak ingin menjadi kepala kampung lagi membuat situasi politik kampung memanas.
“Kenapa tidak salah-satu diantara kalian saja yang maju?” Bapak bertanya, memecah gumaman di depan rumah.
“Pak Syahdan bergurau, tidak ada di antara kami yang lulus SD. Menurut peraturan baru, kepala kampung harus berijasah SD…. Kalaupun ada, mereka lebih memilih mengurus kebun masing-masing.”
Bapak tertawa kecil, mengusap rambutnya, “Nah, kalau begitu pilih saja Si Sohar. Apa salahnya memilih dia? Kalian juga tidak ada yang mencalonkan diri. Janganlah bertingkah kekanakkanakan, memilih dia tidak mau, tapi kalian juga tidak mau mencalonkan diri.”
Orang-orang bergumam lagi. Mungkin agak sebal dengan kalimat terakhir Bapak. Suara guntur bergemeletuk menghentikan percakapan. Nampaknya akan turun hujan deras. Satu persatu tetangga pamit pulang, percakapan itu lagi-lagi berakhir tanpa kesimpulan.
***
Termasuk di sekolah, percakapan soal kepala kampung juga menarik.
Kami sedang mengelap meja-meja dan kursi-kursi yang basah oleh tampias hujan lebat semalam, saat aku tiba-tiba punya ide cemerlang. Beranjak mendekati Pak Bin yang sedang muram memeriksa atap sekolahan.
“Ini agak mencemaskan, Burlian.” Pak Bin berkata lebih dahulu.
“Eh, Bapak juga ikut cemas soal pemilihan itu?”
Pak Bin tertawa, “Bukan itu yang membuat Bapak cemas. Kau lihat atap sekolah kita?” 
Aku mengangguk, menggaruk rambut.
“Bangunan sekolah ini sudah tua sekali. Gentingnya sudah bergeser, rangka atapnya sudah lapuk dimakan rayap, dinding-dindingnya sudah banyak retak… Bapak cemas jangan-jangan cepat atau lambat bangunan ini ambruk. Sudah berkali-kali Bapak mengirimkan proposal ke kota, meminta gedung ini segera direhab, tapi jangankan memperbaiki gedung yang pasti mahal ongkosnya, menambah perlengkapan mengajar saja yang terbilang murah susah sekali mereka penuhi.”
Pak Bin menghela nafas pelan, wajahnya semakin muram.
“Sekarang saja kita sudah repot. Setiap lepas hujan lebat, kalian harus beramai-ramai membersihkan kelas sebelum belajar. Apalagi esok-lusa…. Bisa-bisa kalian terpaksa dipulangkan jika hujan turun waktu jam belajar.”
“Ergh.. maaf, Pak Bin… boleh Burlian bertanya satu hal?”
“Iya, ada apa Burlian?”
“Kenapa Pak Bin tidak mencalonkan diri jadi kepala kampung?” Aku tersenyum lebar, menyampaikan ide cemerlangku dengan mantap.
Pak Bin menatapku sedikit heran, lantas tertawa lepas, menepuk jidatnya putus asa. Astaga, ternyata aku sama sekali tidak mendengarkan penjelasan soal gedung sekolah yang mencemaskan. Aku lebih tertarik bicara soal pemilihan kepala kampung beberapa minggu lagi, sama seperti yang lain.
***
Tentu saja, orang sesederhana, jujur dan enggan berurusan uang seperti Pak Bin menolak mentah-mentah menjadi calon kepala kampung. Dia memang lulusan SPG, lebih dari layak, tapi Pak Bin lebih tertarik mengurus sekolah dibanding mengurus kampung. Jadi dia dicoret dari daftar kandidat. Aku beberapa hari terakhir ini memang jadi ikutan sibuk berpikir, siapa yang tepat menjadi kepala kampung. 
“Kenapa Bakwo tidak mencalonkan saja lagi?” Aku mendaftar kandidat kedua saat Bakwo Dar bertamu ke rumah. Bakwo menggelengkan kepala. “Bakwo kau takut kalah lagi, Burlian. Dulu saja dia malu setengah mati waktu kalah sama Dullah.” Mamak yang menjawab, nyengir menggoda Bakwo Dar. Depan rumah ramai oleh tawa.
Aku mencoret nama Bakwo Dar di kertas.
“Kenapa Mamang tidak mencalonkan diri jadi kepala kampung kami?” Aku mendaftar kandidat ketiga saat Mang Unus singgah ke rumah. Mang Unus tertawa lebar, “Kau ini aneh sekali, Burlian… Mamang itu bukan warga kampung Padang. Mana bolehlah.”
Aku menggaruk rambut, mencoret nama Mang Unus. 
“Kenapa Wawak tidak mencalonkan diri jadi kepala kampung?” Aku mendaftar kandidat keempat, mendatangi Wak Yati yang sedang duduk di beranda rumah panggungnya.
“Bukan soal mencalonkannya, Schat. Bukan apakah penduduk kampung mau memilih Wawak jadi pemimpin mereka atau tidak. Bukankah Wawak dulu pernah bilang? Volksregering, tidak ada demokrasi untuk orang-orang bodoh.”
Aku menggerutu dalam hati, mencoret nama Wak Yati. Astaga, untuk urusan ini saja ia tetap bicara filosofis, mana pula aku mengerti maksudnya. 
“Kenapa Mamak tidak mencalonkan diri jadi kepala kampung?” Aku mendaftar kandidat kesekian, mengganggu Mamak yang sedang menjemur ikan selai di halaman.
“Kenapa tidak Burlian saja yang mencalonkan diri?” Mamak balik bertanya, “Nanti Mamak coblos dua kali gambar kau saking setujunya.”
Aku ikut tertawa dengan guraun Mamak.
“Kenapa Wak Lihan tidak mencalonkan diri jadi kepala kampung?”
“Oh, sudah.” Wak Lihan mengangkat bahunya, bangga.
Aku terperangah, sungguh? Ini benar-benar kejutan. Setelah hampir menanyai belasan kandidat dalam daftarku, akhirnya ada yang bersedia.
“Tapi bukan Wawak yang mencalonkan diri. Haji Sohar. Nah, Wawak mendukung penuh Haji Sohar. Kau mau pegang kertas ini? Ya, tolong dibagikan.”
Aku menerima tumpukan kertas dengan wajah Haji Sohar tersenyum terpampang di dalamnya, beserta tulisan-tulisan besar memenuhi setiap bagian kertas. Maka dengan cepat bukan hanya aku yang termangu menatap kertas-kertas itu, juga seluruh penduduk kampung. Haji Sohar resmi mengkampanyekan dirinya ke seluruh kampung. Bisik-bisik segera menjalar, tentang kertas ini yang pastilah dicetak dengan mesin khusus dari kota provinsi, soal gaya dan sombong sekali isi tulisannya, serta tentu saja termasuk soal Wak Lihan yang tiba-tiba menjadi orang paling sibuk mendukung Haji Sohar.
“Ah, itu karena Wak Lihan disumpal duit.” Cetus seorang tetangga.
“Kau juga mau kan kalau dibayar?”
“Enak saja. Suaraku tidak bisa dibeli siapapun.” Berkelit.
“Tapi berapa dulu tawarannya. Kalau dibayar sejuta, mau?”
“Kalau sebanyak itu…” Terdiam salah-tingkah. Mengelus jidat. Orang-orang yang sedang duduk menonton televisi di depan rumah Bapak ramai tertawa.
“Tadi kulihat Wak Lihan semangat sekali ceramah di bale-bale. Bilang soal visi-misi pendatang baru itu, janji masa depan yang lebih baik... Oi, duduk di bangku SD saja Wak Lihan tidak pernah, sekarang hendak menceramahi kita.”
“Benar itu. Jangan-jangan dia sendiri tidak mengerti apa yang dia katakan. Membaca saja dia belepotan.” Yang lain semakin semangat menimpali.
Bapak berdehem keras, membuat seruan-seruan terhenti, orang-orang menoleh, “Dalam banyak hal, aku sering tidak sependapat dengan perangai bodoh Lihan. Tetapi menurutku, kali ini aku setuju dengan apa yang dilakukan olehnya.”
Muka-muka mengkerut menatap Bapak, meminta penjelasan.
“Dibandingkan kalian, setidaknya Lihan telah ‘memilih’… Astaga. Jangan-jangan kalian benar-benar tidak mengerti prinsip mendasar setiap kali kita memilih pemimpin?” Bapak balik menatap mereka dengan wajah berkerut.
“Bukankah kalian tahu, bahkan untuk urusan perjalanan dua hari mengumpulkan damar di hutan kita diwajibkan memilih pemimpin. Pilihlah salah-satu diantara kalian, pilihlah pemimpin yang kalian percayai… apalagi urusan kampung yang lebih penting. 
“Aku paham, kita tidak selalu punya pilihan yang baik... dalam kasus mengumpulkan damar tadi misalnya, katakanlah dari lima orang yang berangkat, tidak satupun yang pantas menjadi pemimpin; satu orang matanya rabun, jadi mudah tersesat di hutan; satu orang lagi egois, jadi dengan mudah bisa meninggalkan temannya; dua orang malah tidak pernah pergi ke hutan itu, jadi apa pula yang dia bisa lakukan kalau terjadi sesuatu; orang terakhir bahkan penakut dan mudah sekali panik, sungguh tidak memenuhi syarat. 
“Tapi meski tidak ada satupun yang pantas, tetap harus diputuskan siapa yang akan menjadi pemimpin rombongan, itu teladan agama kita, contoh Rasul Allah. Pilihlah yang paling sedikit keburukannya, yang paling sedikit membawa masalah diantara banyak masalah. 
“Dan tidak hanya cukup sampai di sini. Setelah pilihan dilakukan, maka adalah kewajiban kita untuk mendukung yang terpilih, bantu dia dengan segala cara agar keburukannya tidak keluar. Sehingga rombongan bukan hanya kembali dari hutan dengan selamat tanpa kurang satu apapun, tapi pulang dengan hasil damar berkeranjang-keranjang.”
Orang-orang berseru mendengar penjelasan Bapak. Beberapa mengangguk setuju mengangguk-angguk, lebih banyak yang membantah dan bilang kalau urusan kepala kampung ini tidak sesederhana pergi ke hutan mengumpulkan damar.
“Aku tahu kalian tidak suka dengan Sohar, pendatang baru itu. Jujur saja aku juga tidak suka dengannya. Terlalu tinggi hati dan menganggap rendah penduduk kampung. Baru menjadi warga enam bulan, sudah tak menenggang perasaan dengan blak-blakan mencalonkan diri. Tapi mau dibilang apa? Dia resmi sudah mencalonkan diri. Kalau kalian benci memilihnya, kenapa kalian tidak mencalonkan diri? Kenapa kalian tidak menunjuk salah seorang di antara kalian sebagai calon kepala kampung untuk melawannya? Itu lebih baik dibandingkan hanya sibuk menggunjingkan Sohar, dan sekarang mengolok-olok Lihan…. Oi, aku pikir, dalam urusan ini Lihan lebih bermartabat dibandingkan kalian.”
Untuk kesekian kalinya tetangga meninggalkan depan rumah dengan hati mengkal kepada Bapak. Beranjak pulang di tengah suara guntur gemeretuk di atas sana. Tetap tidak ada kesimpulan atas percakapan itu.
***
Sekolah dibubarkan Pak Bin. Hujan terus turun sejak pagi, dan separuh kelas tampias. Kami sudah menarik meja-meja merapat ke dinding agar tidak basah. Percuma, tampias semakin luas. Jadi Pak Bin menyuruh kami pulang. 
Aku bersenandung senang, pulang mengayuh sepeda. Tiba di rumah persis ketika Wak Lihan berpamitan dengan Bapak. Wajah Wak Lihan terlihat masygul. Aku menyapanya sambil menyandarkan sepeda ke pagar rumah. Tidak dijawab, Wak Lihan melengos.
“Wak Lihan ke sini mau pinjam uang, Pak?”
Bapak menggeleng, “Dia pinjam sesuatu yang lebih berharga dibanding uang.”
“Lebih berharga?” Aku meletakkan tas di sandaran kursi.
“Iya lebih berharga, karena dia meminta Bapak bicara ke tetangga yang sering datang menonton televisi di rumah kita agar mendukung Sohar.” Bapak menjelaskan. 
“Lantas Bapak bilang apa?” Aku menjadi bersemangat.
Bapak tersenyum simpul, “Bapak bilang baiklah, sepanjang Sohar mau mendengar nasehat-nasehat warga kepadanya. Termasuk yang Bapak bilang langsung kepadanya.”
“Bapak pernah bertemu Haji Sohar.”
“Tadi Bapak bertemu dengannya di sini, sebelum dia pulang tanpa pamit. Baru kemudian disusul Lihan yang juga pulang begitu saja.”
Aku sedikit tidak mengerti, “Memangnya Bapak bilang apa sehingga Haji Sohar pulang begitu saja dari rumah? Tadi juga Wak Lihan tidak mau menjawab salamku.”
Bapak menatapku lamat-lamat, menghela nafas, “Bapak bilang, kalau Bapak sungguh tidak suka melihat dia membagibagikan beras, amplop-amplop uang. Itu perbuatan tercela. Menjijikkan. Suara penduduk tidak perlu dan memang tidak bisa dibeli.
“Seharusnya dia bersilaturahmi baik-baik dengan warga. Rendah hati meminta ijin hendak mencalonkan menjadi kepala kampung. Menghargai yang lain dengan tulus, niat baik serta perkataan terjaga. Ah, dengan itu semua, bahkan dia tidak perlu melakukan apapun untuk memenangkan pemilihan minggu depan.”
Aku terdiam. Berusaha mengerti kalimat Bapak.
“Kalau begitu, minggu depan Bapak memilih siapa?”
“Sohar.” Bapak menjawab pendek.
Aku menggaruk kepala, bukankah dia jahat?
“Dunia ini tidak hitam-putih, Burlian. Lebih banyak abu-abunya. Jarang ada orang yang hatinya hitam sekali, dan sebaliknya juga susah mencari yang hatinya sempurna putih. Semua orang punya kelemahan, dan karena itulah seringkali kita tidak selalu diberikan pilihan terbaik. Setiap kali kita memilih pemimpin, sejatinya kita bukan memilih orangnya. Sejatinya itu hanya soal apakah kita mau dipimpin orang ini atau orang itu, pilihan lainnya. Dan saat kau bersedia dipimpin oleh seseorang, maka urusan sungguh tidak selesai saat kau telah memilihnya. Itu benar-benar menyederhanakan permasalahan. 
“Dalam hal ini, Bapak memutuskan bersedia dipimpin Sohar. Kenapa tidak? Toh, kita tidak punya pilihan lain, itulah yang tersedia. Tapi urusan ini tidak selesai dengan hanya memilihnya. Kita harus menemaninya untuk memerbaiki diri. Tadi waktu Bapak bilang soal karung-karung beras, amplop-amplop uang, wajahnya merah, tersinggung sekali, itu pertanda baik. Itu artinya dia masih punya nurani, masih bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.”
Aku menggaruk rambut, lebih banyak tidak mengerti kalimat Bapak.
“Kau masih sebelas tahun, Burlian.” Bapak tertawa melihat wajahku yang terlipat, “Suatu hari nanti kau pasti mengerti. Boleh jadi pula kau punya pendapat lain. Itu sah-sah saja. Tapi yakinlah, membicarakan orang lain, menggunjingkan orang lain, itu sungguh tidak elok padahal kau memilih untuk tidak terlibat dalam prosesnya. Dan yang lebih jahat lagi, ketika seorang pemimpin telah terpilih, kau justru lebih asyik memperoloknya dibandingkan membantunya bekerja. Bahkan binatang buas yang tidak berakal lebih pantas memperlakukan pemimpin kumpulan mereka. Ah sudahlah, kau ganti baju sana, bergegas makan. Siang ini, kau temani Bapak mencari sarang kerengge.”
***
Obrolan soal pemilihan kepala kampung semakin memanas. Manuver-manuver politik semakin seru. Wak Lihan dan orang-orang yang mendukung Haji Sohar siang malam tidak lelah berkampanye. Di sungai-sungai saat orang menjala ikan, “Haji Sohar akan memberikan fasilitas pinjaman untuk jala!” Di kebun-kebun saat orang sibuk menyadap karet, “Haji Sohar akan mendirikan koperasi petani, jadi harga jual getah karet pasti terjamin.” Di pengajian Yasin malam Jum’at, “Haji Sohar akan merehab masjid kampung jadi dua tingkat.” Juga tidak malu-malu berkampanye di depan rumah Bapak, “Haji Sohar akan membelikan televisi di balai kampung. Semua bebas menonton.”
Dan tibalah esok hari pemilihan kepala kampung. 
Dengan segala upaya Haji Sohar, orang-orang mulai jerih membicarakannya. Suara mereka boleh jadi memang tidak bisa dibeli, tetapi idealisme penduduk kampung yang rata-rata tidak berpendidikan punya batasnya. Tidak pernah sebelumnya terjadi, situasi kampung begitu gamang menyambut hari esok, garis finis semua urusan ini. Wajah-wajah saling curiga. Bisik-bisik penuh intrik. Entahlah apa yang akan terjadi.

Jumat, 01 Desember 2017

Tere Liye : Burlian

BAB 20. SEBERAPA BESAR CINTA MAMAK – 2
----------------------------------------------------------------
Esok sore, saat pulang dari menemani Bapak mengambil petai dari kebun, aku terlonjak kaget. Sepeda gress berwarna hitam, telah terparkir gagah di depan rumah. Berkilauan ditimpa cahaya matahari senja. 
“I-ni… ini sepedaku?”
“Bukan, itu sepeda kita ramai-ramai.” Ayuk Eli nyengir.
“Ergh?” Aku mengabaikan Ayuk Eli, masih kaget dengan sepeda itu. Menyentuhnya. Sungguhan. Bukan sepeda bohongan, juga bukan mimpi. Oi, aku tertawa senang sekali.
“Ini, ini sepeda Burlian ya, Mak?” Aku bertanya ke Mamak yang keluar dari rumah. 
Mamak tersenyum, mengangguk. 
Tere Liye : Burlian

Aku sudah berseru riang. Meletakkan keranjang petai, lantas bergegas membawa sepeda itu ke jalan depan rumah. Mencoba memakainya. Cahaya matahari senja terasa nyaman sekali, dan bayanganku yang menaiki sepeda terlihat hebat di aspal jalanan. Melesat bersama terpaan angin. Terus bolak-balik mengelilingi kampung hingga Mamak berseru menyuruhku mandi, sebentar lagi adzan maghrib.
Tadi siang, saat aku berangkat menemani Bapak ke kebun, Mamak ternyata pergi lagi ke kota kabupaten, khusus hanya untuk membeli sepeda itu. Butuh dua jam pergi ke kota, itupun dengan kondisi jalan yang telah diperbaiki rombongan Nakamura-san setahun silam. Mamak terpaksa menyewa mobil pemilik toko sepeda untuk membawa sepeda itu pulang. Sudah kesorean, tidak ada lagi mobil angkutan pedesaan.
“Memangnya Mamak sudah punya uang?” Aku bertanya saat makan malam.
“Iya.” Mamak mengangguk, menjawab pendek.
“Wak Lihan sudah mengembalikan uangnya ya, Mak?”
“Iya.”
“Wah, cepat sekali, dari mana Wak Lihan dapat uangnya? Kan, belum panen kopi?”
“Mamak tidak tahu.” Mamak menjawab pendek lagi, lantas ber-hsss menyuruhku menghabiskan makanan, berhenti banyak tanya.
Dan aku tidak pernah berpikir sedikitpun kalau Bapak semalam bilang tentang: ….karena jika kau tahu sedikit saja apa yang telah ia lakukan demi kau, Amelia, Kak Pukat dan Ayuk Eli, maka itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian.
***
Enam bulan berlalu tidak terasa. 
Jelas bukan hanya gara-gara sepeda baru maka waktu terasa ringan, lagipula sama seperti hal baru yang selama ini aku alami, lama-lama aku juga bosan bolak-balik menaiki sepeda mengelilingi kampung yang terbatas. Awalnya memang seru, tapi dengan cepat kesenangan itu menjadi biasa saja. 
Enam bulan berlalu tidak terasa karena pekerjaan di rumah sedang banyak-banyaknya. Hampir setiap hari selepas pulang sekolah aku ikut Bapak, Mamak ke kebun kopi. Telaten menyiangi rumput dan ilalang, membawa karung-karung pupuk, memotongi dahan kopi yang sudah mati serta memangkas tunasnya. 
Di sekolah, Pak Bin ikut-ikutan menambah jam sekolah. Menyebutnya ‘kursus spesial’ untuk ujian kelulusan SD kelak, dua jam tiga kali seminggu bersama anak-anak kelas enam. Kami mengeluh, protes kalau kami masih kelas lima, jadi masih terlalu lama persiapannya, Pak Bin seperti biasa hanya nyengir, bilang: lebih cepat lebih baik. 
Aku dan Kak Pukat juga semakin sibuk karena Ayuk Eli sudah sekolah di kota kabupaten, baru pulang setiap sabtu siang, dan kembali lagi ke kota minggu sore. Banyak pekerjaan rumah yang selama ini dikerjakan Ayuk Eli harus bergantian kami ambil alih. Dan karena aku lebih kecil, Kak Pukat tega menyuruh-nyuruhku. Menyetrika seragam sekolah, mencuci sepatu, menyapu depan rumah, mengepel lantai dan berbagai pekerjaan perempuan lainnya.
Soal ini sering membuatku protes pada Mamak. Aku anak laki-laki, tidak cocok (dan jelas tidak mau) mengerjakan pekerjaan perempuan itu. Sebagai jawaban protesku, esok lusanya, Mamak berangkat ke kebun sengaja tanpa menyiapkan makanan di rumah. Jadilah aku dan Kak Pukat terpaksa masak sendiri di dapur. Ditemani Amelia yang tahun ini sudah kelas tiga, setelah berkutat dua jam kami berhasil membuat sayur rebung dan pindang daging. Menyiapkan piring-piring, mengangkat nasi yang super-lembek dari perapian kayu, mulai makan. Bersitatap satu sama lain. Tertawa. Rasanya aneh sekali.
“Suatu saat kau pasti membutuhkan seluruh keterampilan ini, Burlian. Lihat Ayuk Eli, sekarang sudah sekolah di kota kabupaten, dia harus melakukan banyak sendirian. Menyiapkan makanan sendiri, mengurus pakaian sendiri, mengatur uang sendiri, semuanya. Lagipula bukankah Bakwo dulu pernah bilang kepadamu, ‘Laki-laki di keluarga kita semuanya pandai memasak’. Itu tentu termasuk mengerjakan pekerjaan lain. Tidak ada pekerjaan perempuan atau pekerjaan laki-laki. Kalau ada, berarti Mamakmu tidak boleh ke kebun lagi.” Bakwo Dar yang menjawab protesku kali ini, mengabaikan ekspresi wajahku.
Jadi enam bulan berlalu tanpa terasa. Tiba masanya panen kopi. Musim panen kali ini, menurut Bapak, sangat-sangat baik. Buah kopi yang lebat terlihat merah ranum di dahan-dahan pohonnya. Berada di kebun kopi amat menyenangkan. Selama dua minggu beberapa tetangga membantu Bapak dan Mamak panen kopi. Puluhan karung kopi penuh sesak di depan rumah. Terpal-terpal dihamparkan di pinggir jalan untuk menjemur kopi. Teknologi panen kopi di kampung kami sederhana saja. Setelah di jemur hingga kering, karung-karung kopi itu di bawa ke mesin penutuk, untuk dikelupas kuliang kering bagian luarnya. Sehingga tinggalah biji kopi bagian dalam yang kemudian dijual ke kota.
Wajah Mamak dan Bapak meski terlihat lelah, tampak riang saat kopi itu selesai dikarungi siap di bawa ke kota. Terbayar sudah semua kerja keras setahun terakhir. Harga kopi di pasar dunia katanya sedang turun, sehingga otomatis harga di tengkulak kota juga turun. Tetapi dikalikan dengan jumlah panen yang baik, itu lebih dari cukup untuk biaya sekolah kami, keperluan rumah dan sebagainya. Dibandingkan keluarga lain, kami cukup beruntung, Bapak sejak masih bujang, telah menyiapkan beberapa sumber nafkah. Banyak tetangga lain yang hanya menggantungkan pada sepotong kebun yang tidak terlalu luas. Ketika panen gagal, atau harga komoditas benar-benar sedang turun, keperluan rumah tangga harus ditambal dengan menghutang. Jadi apalagi untuk biaya sekolah, itu di luar prioritas.
“MAMAK PULANG!” Kepala Amelia nongol dari bawa pohon jambu belakang rumah. 
“A-pa?” Aku dan Kak Pukat yang sedang asyik bermain rumah-rumahan di atas pohon jambu bertanya balik.
“Mamak sudah pulang dari kota—“ Amelia tidak menyelesaikan kalimatnya, dia segera berlarian ke depan. Aku dan Kak Pukat tanpa banyak bicara, langsung perosotan turun dari rumah-rumahan dengan tali.
Meski tadi merajuk karena tidak diajak bermain rumah-rumahan di atas pohon jambu, Amelia tidak bohong. Mobil angkutan pedesaan berwarna merah terlihat berhenti di depan rumah. Bapak, Mamak dibantu Ayuk Eli sibuk menurunkan banyak barang belanjaan. 
Hari ini Bapak menyewa truk untuk membawa karung-karung kopi ke kota, pulangnya, seperti tahun-tahun lalu membawa banyak kantong plastik berisi barang-barang. Aku berebut ikut membantu—sebenarnya memeriksa kantong plastik mana yang jadi bagianku. Ada seragam putih-merah baru, buku-buku tulis, dan hei, tas dan sepatu baru. Aku tertawa lebar. Harusnya Mamak membelikan ini semua waktu kenaikan kelas lalu, tapi karena uangnya habis untuk membantu Wak Lihan dan uang pangkal sekolah Ayuk Eli, semua ditunda.
Bapak membantu membawa lima ikat ayam ras yang berkotek riuh. Memasukkannya ke dalam kandang kambing sebelah rumah. Itu untuk acara syukuran lusa malam. Syukuran panen kopi, syukuran untuk Ayuk Eli yang telah melanjutkan sekolah ke kota, serta tentu saja yang paling utama syukuran untukku yang khatam mengaji Al Qur’an –yang tertunda enam bulan.
Sore itu aku tidak bermain bola, membawa sepeda, atau bermain kemanalah. Seharian aku di rumah, asyik memeriksa barang-barang baru. Rumah terasa ramai, Ayuk Eli sedang libur semesteran, jadi ada yang bertugas penuh mengurus rumah. Semua terasa menyenangkan, hingga aku lupa untuk memperhatikan air muka Mamak sejak turun dari mobil angkutan pedesaan tadi. 
Wajah Mamak yang keruh dan terlipat. 
Malam harinya, hujan deras turun menjelang kami beranjak tidur. Musim penghujan. Aku tidur bergelung, merapat ke Kak Pukat agar terasa lebih hangat. Di luar suara katak berdengking nyaring. Mungkin senang air melimpah di sekitarnya. Lantai hutan basah, dedaunan basah, bibit tanaman padi, kopi di ladang-ladang baru juga basah. Itu kabar baik. Semoga musim penghujan kali ini tidak disertai banjir bandang.
Sudah larut malam saat aku terbangun, hendak buang air kecil. Menyibak selimut kumal, beranjak ke kamar mandi di belakang bangunan rumah. Kalau Amelia yang terbangun ingin ke kamar mandi, ia otomatis akan membangunkan Bapak atau Mamak, minta ditemani. Aku jelas lebih dari besar untuk ke sana sendirian. Tidak takut dengan siluet pekuburan belakang rumah yang bisa terlihat dari kamar mandi. Memang seram kalau melihat pohon bungur besarnya, tapi buat apa dilihat, lebih baik bergegas menyelesaikan hajat, kembali ke rumah.
Mamak tidak terlihat di ranjangnya. Bapak juga tidak ada. Aku menggaruk rambut, menatap sekitar yang remang, lampu canting kerlap-kerlip menahan angin dari sela-sela papan. Menguap, hendak melanjutkan tidur, tetapi rasa ingin tahuku di mana Bapak dan Mamak membuatku melangkah ke luar, mungkin mereka sedang duduk di bangku depan, berduaan menatap jalanan lengang.
Benar saja, suara Bapak dan Mamak terdengar dari sana. Sudah hampir pukul satu malam. Pasti ada hal penting yang mereka bicarakan selarut ini.
Tiba-tiba aku tercekat, langkah kakiku terhenti. Urung membuka pintu. Apakah aku tidak salah dengar? Aku menelan ludah, seumur-umur aku belum pernah mendengar Mamak menangis. Mamak yang selalu tegar menghadapi apa saja, termasuk kenakalanku. Mamak yang semangat, suka melotot, mengomel, Mamak yang segalanya bagi kami. Tetapi aku tidak mungkin keliru, Mamak terdengar menangis. Terisak malah.
“Sudahlah, tidak usah disesali lagi.” Bapak berkata pelan.
“Ta-pi… tapi itu benda paling berharga milikku.”
“Aku tahu… besok lusa bisa diganti dengan yang lebih baik… bukankah Koh Acan sudah berjanji menggantinya.”
“Itu tidak akan sama, Abang. Tidak akan sama…” Tangis Mamak sedikit mengeras.
Aku sudah mencengkeram pegangan pintu, mencegah mataku yang tiba-tiba terasa panas, kerongkonganku yang mendadak tercekat dan hidungku yang kedat. Meski sering melawan, sering membantah, tapi aku tidak akan pernah tega melihat Mamak bersedih. Apalagi menangis seperti ini. Setelah beberapa menit hanya bisa mematung di depan pintu, aku memutuskan beranjak kembali ke tempat tidur. Aku tidak tahu kenapa Mamak menangis. Aku menarik kemul menutupi kepala, memejamkan mata, berusaha mengusir kecemasan yang tiba-tiba memenuhi pikiran: jangan-jangan, Mamak menangis karena aku.
***
Espk hari, rumah kami ramai. Tetangga berkumpul dengan membawa buntalan kain berisi seperempat kilo beras, satu butir kelapa dan beberapa telur ayam. Sejak pagi laki-laki dewasa menyiapkan tungku-tungku di sebelah rumah. Tempat meletakkan panci-panci besar untuk memasak nasi, air minum, opor ayam, sambal petai dan sebagainya. Tetangga berkumpul membantu menyiapkan syukuran nanti malam.
Aku ikut sibuk. Membantu mengelupas bulu ayam yang telah selesai dipotong. Membelah perut ayam, mengeluarkan usus dan bagian kotornya. Memisahkan hati, empedu dan bagian lainnya. Semua anak-anak kampung terampil melakukan itu. Untuk ukuran Kak Pukat, dia bisa mengurus satu kambing penuh. Cekatan menguliti serta membuka bagian perutnya.
Aku sibuk. Tanganku sibuk, juga kepalaku. Sejak tadi aku ingin bertanya ke Bapak kenapa Mamak semalam menangis. Tetapi kesempatan itu tidak pernah datang. Bapak selalu bersama Bakwo Dar, Mang Unus dan tetangga lain di depan rumah. Ada sekali sempat, tapi aku yang malah tidak kuasa mengeluarkan pertanyaan. Takut mengganggu Bapak, dan lebih cemas lagi mendengar jawabannya. 
Malam harinya, acara syukuran berlangsung khidmat. Mang Ejus yang sering menjadi imam shalat berjamaah di masjid memimpin membaca Yasin, diikuti dengan shalawat, lantas ditutup dengan doa syukur. Berterima-kasih atas banyak kenikmatan yang diberikan kepada keluarga Pak Syahdan. Kemudian piring-piring dihamparkan, gelas-gelas sirup, makanan. Karena Bapak mengundang seluruh warga kampung, ada tiga tikar pandan terbentang luas di depan rumah, dikelilingi beramai-ramai. Suara sendok berdenting, bergurau satu sama lain, tertawa. Syukuran begini selalu efektif mendekatkan tali silaturahmi sambil sekalian berbagi rezeki sebagai tanda syukur atas nikmat yang melimpah.
Hingga hidangan terakhir terhampar, piring-piring dicuci, tikar pandan dilipat, tetangga satu demi satu berpamitan, aku tidak sempat bertanya ke Bapak. Mengusap dahiku yang berpeluh, lelah bolak-balik membawa piring basah ke dalam. 
Malam sudah larut sekali ketika semua pekerjaan beres. Ibu-ibu tetangga yang membantu membereskan rumah berpamitan satu persatu, Mamak menyelipkan bungkusan makanan, kue-kue ke dalam buntalan kain mereka. Berterimakasih banyak sudah dibantu sepanjang hari. Bapak mematikan lima lampu petromaks di depan rumah—kalau sedang ada keramaian, lampu-lampu itu baru dinyalakan. Geledek terdengar nyaring di luar sana. Sepertinya hendak hujan deras lagi. 
Aku beranjak tidur. Karena ada saudara dari kampung lain bermalam di rumah, Ayuk Eli dan Amelia bergabung di ranjangku dan Kak Pukat. Kami berempat tidur seperti sarden. Tidak jelas mana kepala, mana kaki. 
Sebenarnya menyenangkan tidur dengan suara hujan menimpa atap seng. Terasa nyaman, seperti dibuai. Tetapi aku tidak mengantuk. Kepalaku sedang dipenuhi pertanyaan yang sama namun berulang-ulang. Susah sekali memejamkan mata. Aku harus tahu kenapa Mamak menangis kemarin malam. Masalahnya, sekarang harus bertanya ke siapa? Bapak sudah terlelap di ranjangnya.
Satu jam berlalu, aku akhirnya beringsut mendekati Ayuk Eli. Menggoyang-goyangkan bahunya, berusaha membangunkan. Ayuk Eli menggeliat jengkel. Aku semakin kencang menggoyangkan bahunya. Ayuk Eli terbangun dengan wajah sebal. 
“Ada apa, sih?” Mendengus menatapku.
Aku menelan ludah. Ada apa? Eh, bagaimana cara memulai pertanyaanku. 
“Ada apa?”
Aku menggeleng. Bingung menggaruk kepala.
“Oi, kau menyebalkan sekali Burlian.” Ayuk Eli beranjak tidur lagi.
“Jangan… jangan tidur lagi.” Aku memegang lengan Ayuk Eli.
Di tengah buncah suara hujan, remang kerlip lampu canting, orang-orang yang terlelap karena lelah sepanjang hari mengurus syukuran, percakapan itu akhirnya terjadi juga. 
“Kau sungguh melihat Mamak menangis?” Ayuk Eli bertanya memastikan, tampangnya berubah lebih ramah. Mungkin informasi ini juga menarik baginya.
Aku mengangguk pelan. Bertanya lewat ekspresi wajah, Ayuk Eli tahu kenapa Mamak menangis?
Ayuk Eli menghela nafas, memperbaiki rambut di dahinya, “Berarti kehilangan benda itu benar-benar membuat Mamak sedih. Aku belum pernah melihat Mamak menang—”
“Benda apa, sih?” Aku memotong.
“Cincin kawin Mamak.” 
“Cin-cin?”
“Iya, itu mahar pernikahan Bapak, sekaligus cincin kawin untuk Mamak. Kau tahu, dulu tidak ada kamera yang bisa mengabadikan pernikahan Bapak-Mamak, tidak ada kenang-kenangan selain cincin kawin itu… itu benda paling berharga yang Mamak punya.”
Aku terdiam, menelan ludah. Sekali lagi perasaan bersalah itu menusuk. Entahlah, aku tidak tahu, jangan-jangan semua ini ada hubungannya denganku.
“Kemarin siang saat Mamak, Bapak ke kota, menjual hasil panen kopi, Mamak akhirnya punya uang untuk menebus cincin itu dari toko emas Koh Acan. Tapi waktu Koh Acan menyuruh pembantu toko mengambilnya, cincin itu tidak ditemukan. Hilang.”
“Ma-mak… Mamak menebus? Memangnya Mamak menggadaikan cincin itu?”
Ayuk Eli mengangguk.
“Buat apa?” Aku bertanya dengan suara mendecit.
“Kau tidak tahu?” Ayuk Eli justru menatapku lamat-lamat.
Aku buru-buru menggeleng.
“Sepeda baru kau…. Cincin itu Mamak gadaikan untuk membeli sepeda baru kau. Enam bulan lalu, waktu kau menangis marah-marah, berteriak bilang Mamak tidak menepati janji, Mamak bohong, esok harinya Mamak memutuskan membawa cincin itu ke kota. Menggadaikan cincin itu ke toko emas Koh Acan. Kau tahu, Burlian, baginya kau adalah segalanya.” Ayuk Eli menghela nafas panjang.
Aku sudah terdiam. Mulutku tersumpal.
“Bagi Mamak, kau selalu berbeda Burlian….”
Aku sudah menyambar bantal, menyembunyikan kepala di bawahnya.
“Waktu Ayuk Eli dan Pukat khatam mengaji, kami hanya dijanjikan sepatu dan tas baru. Tapi kau… Mamak akan melakukan apa saja untuk membuat kau senang. Maka Mamak ringan hati menggadaikan cincin kawin itu demi kau. Cincin yang sekarang hilang entah kemana.”
Aku menutup telinga erat-erat. Jangan, jangan lanjutkan lagi penjelasannya, aku sungguh tidak tahan. Tetapi meski telingaku tidak lagi mendengar kalimat Ayuk Eli, dengan segera, kalimat Bapak dulu menghujam kuat-kuat di hatiku: ….karena jika kau tahu sedikit saja apa yang telah ia lakukan demi kau, Amelia, Kak Pukat dan Ayuk Eli, maka itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian. 
Suara katak hutan terdengar mendengking nyaring.