Jumat, 12 Januari 2018

Biarkan Aku Menulis Puisi

Kupikir kau telah berteman dengan petir
Sekalipun angin Desember berbisik manja
Memekarkan bunga di hatimu
Hingga hujan tak peduli lagi padamu

Kita berjalan di lorong basah menapaki senja yang muram 
sambil menggenggam kenangan yang basah
kau berceloteh tentang pedasnya gigil angin pagi
yang aromanya terbawa ke selatan
menuju titik pemberhentian

setelah subuh menepi pagi
kau masih menyeka bulir kenangan
(hitam putih) adalah selera para penyintas.

Sayangnya, kita belum selesai mengintari taman
Atau trotoar yang penuh penjaja kata
Sebab kau masih menagih puisi yang belum selesai kutuliskan

Matang Glumpang Dua, 2017

Sajak Halim Mubary (Serambi Indonesia, Minggu 7 Januari 2018)
Halim Mubary, lahir di Meureudu, 1969. Dosen IAI Al-Azizyah Samalanga.
Sekarang menetap di Bireun

Lukisan kota senja
Biarkan Aku Menulis Puisi/Ilustrasi Pinterest


Kamis, 11 Januari 2018

Amsal Sajak

Meski laut tak lagi berpantai 
Yang tersesat gerimis malam
Doa yang kau teteskan dalam rumput telah menjadi musafir

Rumput berbisik berbisik pada ilalan
Bercerita tentang lelaki yang angkuh pada malam

Di tepi lembah yang gersang 
Sayup ia bertafakur 
Menggenapkan rindunya pada lembab hujan
Hingga tasbihnya bersuara lantang

Seseru itukah seruan yang kau dengar?
Ia menaruh harapan pada ombak
Meski hatinya bergejolak menggigil mencari lautan sebab ia tahu;
Ada yang menuntunnya menuju hakiki

Bireun, 2017

Sajak Halim Mubary (Serambi Indonesia, Minggu 7 Januari 2018)
Halim Mubary, lahir di Meureudu, 1969. Dosen IAI Al-Azizyah Samalanga.
Sekarang menetap di Bireun
Pemandangan Pantai di malam hari
Amsal Sajak/Ilustrasi Pinterest

Rabu, 10 Januari 2018

Pohon Pohon di Halaman Rumah Misyik

Semua penerbangan dari Madinah, Jeddah dan Riyadh ke Banda Aceh sudah penuh. Masa liburan seperti sekarang ini kedua jalur penerbangan ini memang padat dengan para peziarah. Warga Aceh yang melakukan umrah, juga warga Saudi yang berziarah ke Serambi Mekkah. Pocut Ana mendapatkan visa tinggal selama 3 bulan Universitas Madinah untuk menyelesaikan penulisan buku tentang waqaf diaspora saudagar Aceh ban sigom donya di Madinah dan kaitannya dengan waqaf Aceh yang terkenal di Mekkah. Baru satu bulan berjalan ketika tiba-tiba dating berita banjir bandang melanda Blang Resort di Lembah Selawah. Ia memutuskan untuk segera kembali ke Tanah Air, bukan semata karena ia punya saham di resort itu tetapi karena banjir itu petanda ada yang salah di sana sehingga menyebabkan jatuh korban luka beberapa warga. Bahkan sebelum berita itu sampai, ia sudah merasa begitu ingin pulang kampong. Pada suatu malam setelah Isya di Masjid Nabawi tiba-tiba ia begitu rindu pada almarhum Misyik-neneknya, pada  udara pegunungan yang berkabut dan bau tanah basah sesudah hujan senja hari. Pada rumah dan halaman yang penuh pohon aneka rupa di gampong Misyik. Pocut kecil dahulu selalu menghabiskan liburan ke rumah Misyiknya dari pihak Ayah. Pocut menyimpan kenangan liburan di sana seperti harta karun yang berharga. Ia mengingat semua pohon di halaman rumah Misyik, sawah, hutan sala (pinus), punggung bukit lalu gunung yang kadang Nampak bergradasi hijau ke biru.
lukisan pemandagan
Pohon Pohon di Halaman Rumah Misyik/Ilustrasi Pinterest

Rumah Misyik terdiri dari dua bagian. Ada rumoh ateuh yang merupakan rumah panggung dari kayu dan rumoh miyup berdinding separuh bata dan selebihnya papan. Rumoh minyup di bangun putra-putrinya ketika Misyik mulai kesulitan naik turun tangga. Di sanalah anak-cucunya sering berkumpul saat liburan sekolah dan hari-hari raya. Pocut Ana ingat betul di halaman depan rumah ada pohon jeruk manis kecil (citrus x sinensis) yang jarang berbuah, tidak manis sehingga lalu di tebang. Ada pohon mangga (mangifera indica) yang tak banyak buahnya tetapi tidak ditebang karena dahannya dipakai untuk mengikat ayunan. Ada banyak pohon jambu klutuk (psidium guajava) yang daging buahnya bewarna putih lalu menjadi merah jambu dengan biji putih kekuningan ketika masak. Ada juga tiga pohon belimbing manis (averrhoa carambola) yang buahnya begitu melimpah di puncak musim sehingga kadang separuh halaman penuh dengan buah yang gugur dan tak bisa lagi disapu sehingga harus ditarik dengan cangkul. Ada juga manggis (mangosteen) yang manis dan berkhasiat.

Di halaman belakang ada beberapa pohon durian (durio zibethinus) yang selalu dinanti penuh harap jatuhnya. Pocut Ana dan para sepupunya sering main keong atau golek-golek membaca buku dan mendengar Misyik bercerita Abunawas sambil menanti durian runtuh. Ada juga tiga pohon rambutan (nephelium lappaceum) yang begitu banyak buahnya sehingga tiap panen selalu dibagikan ke seluruh tetangga. Ada banyak pohon kelapa (cocos nucifera) yang sepanjang tahun bisa dinikmati buahnya muda atau tua. Misyik paling cekatan membelah kelapa dengan sundak atau parang, juga mengolah kelapa menjadi minyak dan pliek u. ada juga pohon cengkeh (syzygium aromaticum), jambu bol merah dan putih (syzygium malaccense). Pohon bumbu seperti temurui (murraya koenigii), belimbing wuluh (overrhoa bilimbi) dan berbagai pohon lainnya. 

Pocut Ana memutuskan segera pulang karena ia sangat prihatin. Sudah lama sekali sejak banjir bandang terjadi di daerah itu. Dahulu memang sistem pengelola sampah dan sanitasi gampong begitu buruk sehingga ketika curah hujan tinggi, gampong pegunungan itupun banjir karena air tersumbat sampah di saluran. Teungku Man yang ketika itu menjadi ketua pemuda mengajaknya dan Husna yang ketika itu baru lulusdari Fakultas Pertanian Unsyiah untuk membuat program pembersihan gampong dan mengontrol perambahan hutan di kawasan hutan rakyat. Bukan perkara mudah. Tanpa inisiatif dari pemuda gampong dan dukungan warga merantau seperti Pocut yang penulis atau Husna dan jaringan kampus, program itu takkan berhasil. Ada orang kuat yang menghambat niat baik mereka. Akhirnya program itu berjalan. Lalu seiring berlalu dengan banjir yang tak dating lagi dan hutan-hutan mulai pulih. Tumbuh pula industri pariwisata yang berkembang dengan pesat. 

Keprihatinan dan kerinduan yang membuat Pocut memutuskan untuk segera pulang. Pihak Universitas Madinah yang menjadi tuan rumah program memakluminya. Lagi pula Ia memang mendapat multiple entry visa dan bisa kembali lagi melanjutkan pekerjaannya menulis nanti.

Pocut Ana memilih terbang melalui jalur yang tidak terlalu dipadati peziarah. Syukurnya penerbangan Air Aceh dengan rute Madinah-langkawi-Sabang masih memiliki kursi kosong walaupun harganya sudah melangit. Di sabang Ia akan bertemu Laskat Muhammad. Pemuda itu menawarkan diri bahkan setengah memaksa untuk mejemput dan mengantarkannya ke Seulawah. Sayangnya jalur udara Sabang menuju Banda Aceh sudah penuh sehingga mereka harus naik ferry cepat.

Bandara sabang yang kecil tidak seperti Bandara SIM yang megah di Banda Aceh tetapi terasa jauh lebih mewah dan bersuasana internasional. Orang-orang dari berbagau bangsa hilir mudik. Kedai-kedai kopi dan mie di bandara dipenuhi wajah-wajah Arab, Cina, Eropa, Hindia. Petugas imigrasi yang mengenalnya menyapa dengan nama kecilnya. “Selamat datang Nena.” Ujar petugas itu dengan ramah. Begitu keluar dari kawasan kedatangan dari jauh sudah terlihat wajah tampan Laskar.Nena! teriaknya penuh rindu. Nena adalah panggilan sayang Laskar untuk Pocut Ana yang kemudian juga menjadi nama kecilnya sebagai penulis. Pemuda 25 tahun berperawakan tinggi dengan rambut ikal itu menyalaminya lalu memeluk erat-erat dengan mata berbinar. Namun Nena membaca sekilas sirat kecemasan di dalamnya.

Dari bandara mereka menuju pelabuhan ferry dengan taksi. Setelah bertahun-tahun berpisah jarak, Laskar mulai dekat lagi dengannya sejak Ia mulai tertarik mempelajari tentang kondisi lingkungan di Aceh. Ketika mereka menghabiskan waktu bersama, Nena menceritkan kenangannya dengan pohon-pohon di halaman rumah Misyiknya dan juga harapan-harapannya kedepan. Ia begitu bahagia mendapati pemuda itu sama bersemangatnya. Dua tahun yang lalu Laskar akhirnya memutuskan untuk tinggal di Sabang. Sejak kecil Laskar sudah berkeliling dunia mengikuti orang tuanyayang berpindah-pindah sebelum akhirnya Ia memutuskan untuk kembali ke Aceh dan membangun perusahaan yang memproduksi game advokasi lingkungan dengan tema pertualangan bawah laut.

Untuk menghindari kepadatan di pelabuhan ferry Ulee Lheu mereka memutuskan naik ferry dari Sabang ke Pulau Breuh lalu naik kereta cepat menyusuri jalur lintas Pulau Breuh, Pulau Nasi dan Pulau Bunta kecil, menyebrang ke Puekan Bada dan turun di stadium terakhir Lambaro tanpa melalui pusat kota. Dari sana melanjutkan dengan kereta api biasa ke Seulawah. Perjalan Madinah-Sabang sudah termasuk transit makan waktu sekitar 8 jam. Memang tidak selama perjalanan Banda Aceh-Harissburg di Negara bagian Pennyslvania Amerika tempat Laskar dan orang tuannya pernah lama tinggal. Tetapi Nena terasa begitu lelah. Kereta mulai sepi ketika memasuki stasiun Samahani. Laskar menyinggung tentang mulai dibukanya kembali kawasan hutan raya yang lama dikonservasi masyarakat. Penyebabnya tak lain karena bertambahnya kebutuhan lahan untuk mengakomodasi industry pariwisata yang berkembang pesat. Selama ini memang hutan itu bertahan dengan consensus masyarakat dan belum dilengkapi dengan perangkat hukum yang kuat. Yang mempersulit keadaan juga adanya oknum aparat yang ikut mengembangkan usaha di seputaran kawasan pelatihan mereka di sisi lainnya gunung Seulawah. Laskar menceritakan bahwa pergantian pimpinan dalam asosiasi petani, perusahaan wisata dan perangkat desa juga membawa dinamika baru yang cenderung mengabaikan komitment pada pelestarian hutan yang dulu menjadi prinsip pemuda desa. Nena memandang pemuda di depannya dalam-dalam berkata “bagaimana jika kamu pindah saja ke Seulawah. Kamu juga bisa menjalankan perusahaanmu dari sana sambil membantu upaya pemulihan lingkungan?” Laskar memandangnya lekat-lekat, tersenyum tapi tidak segera menjawab. Nena tidak tahu, pemuda itu masih ragu. Di benak Laskar terbayang wajah seseorang perempuan di Sabang yang setahun belakangan juga mulai dekat dengannya. 

Ketika kereta mulai memasuki stasiun Seulimuem Nena jatuh tertidur. Laskar membiarkannya bersender di bahunya. Nena bermimpi tentang keluarganya, tentang hutan sala, tentang pohon-pohon di rumah Misyik, tentang sampah gampong. Tentang semangat Teungku Man, husna, tentang tahun-tahun tanpa banjir. Kereta berhenti sejenak di stasiun Saree dan mulai ramai kembali dengan orang-orang yang ingin menuju Blang Resort di Blang Lambaro. Nena masih tertidur ketika kereta melewati lahan tempat dulu Misyiknya berdiri. Di sana kini berdiri deretan pertokoan dan penginapan. Hanya sebagian kecil lahan di belakangnnya yang dijadikan tempat pemakaman keluarga yang masih dipenuhi pepohonan.sudah menjadi kesepakatan keluarga besar untuk mempertahankan kawasan itu.  Entah sampai kapan kesepakatan semacam itu bisa bertahan. Ketika kereta mulai melambat kembali menjelang stasiun tujuan, Nena mendengar panggilan samar-samar dari Laskar. Ketika matanya terbuka dilihatnya wajah pemuda gagah itu berkata lembut padanya. Nena, Nena sayang.. Bangunlah. Nenek Ana sayang, bangun Nek kita sudah sampai. Tapi Nena atau nenak Ana atau Nenek Pocut Ana hanya terjaga sekejap saja lagi. Seiring merambatnya kereta, ia mengusap rambut cucunya dan minta maaf atas segala kesalahannya. Ia mohon maaf tak cukup kuat berusaha menjaga alam dan berpesan untuk terus menjaga apa yang sama-sama mereka cintai. Ia menutup usia dalam senyum sesudah Laskar yang gemetar dengan mata berkaca-kaca berjanji akan memenuhi permintaannya. Ia pulang dalam umur 80 tahun dalam pelukan cucu tercinta tepat ketika kereta berhenti di stasiun gampongnya. Pocut Ana pulang untuk berkumpul kembali dengan Jasad pohon-pohon di rumah Misyiknya yang telah menyatu bersama keluarga, bersama tanah, gunung dan gampong yang selalu dicintainya.

Cerpen S. Agustina (Serambi Indonesia, Minggu 7 Januari 2018)
Kuala Lumpur-Banda Aceh 27-28 Desember 2017
Peminat Sastra, Tulisan dan terjemahannya pernah dimuat di Serambi, Kompas dan Jakarta Post.

Lindap Cinta

Matahari berlari
Dalam kabut tipis

Seiris puisi berbaris 
Mencungkil kedua bola mata
Sepintas, namun cukup pedas

Asap mengempul dari kawan
Bahkan telinga tak sanggup
Untuk mendengar lolongan
Yang entah kenapa, masih 
Terus menguntit pagi yang hening

Buah tasbih telah bertutur
Melumatkan setiap murka
Tanpa jeda

Meureudu, 2017

Sajak Halim Mubary (Serambi Indonesia, Minggu 7 Januari 2018)
Halim Mubary, lahir di Meureudu, 1969. Dosen IAI Al-Azizyah Samalanga.
Sekarang menetap di Bireun

Pantai Senja
Lindap Cinta


Kamis, 04 Januari 2018

Janji dan Dirinya Sendiri

Dia hadir menembus dinginnya selaput angin
Dari derasnya cibiran hujan yang hampir menenggelamkan mimpi sejarah

Meraba-raba setapak sempit pada tebalnya kabut subuh
Mengendus aroma titah pada bukit yang berbatu
Meski pandangan masih hitam tanpa gores pandang warna,
Dia masih kukuh menyelam pada awan sejuk pengunungan

Mendaki terus dan terus mendaki tanpa memandang ke belakang
Meski banyak edelweiss yang menggoda hati setianya,
Diri itu masih terus meraba-raba
Setapak sempit pada jejak-jejak kecilnya

Hingga akhirnya subuh menyerah kepada fajar
Dan membuka warna terjalnya neraka hijau

Ada sukma yang terletak tinggi
Pada dalamnya nafas zikir yang menghidupkan cinta mulia 
Hingga debu enggan melekat pada suci tanpa zina,
Yang akan iseng mengundang murka yang sebenarnya mengerikan

Pada titah yang dijemput diri itu,
Adalah janji kecil kepada khalik,
Yang mana angin, hujan, dan kabut subuh turut menjadi saksi Ikrar kerinduan tentang kecintaan nya yang masih semu itu
Demi seribu judul puisi, yang tergantung di awan surga,
Akulah Diri itu,
Yang akan mencari jejak-jejak wangimu
Berdampingan dengan janji yang kelak akan aku jadikan sejarah

Sajak Fauzi Rias Utama (Serambi Indonesia. Minggu 31 Desember 2017)
Fauzi Rias Utama, lahir di Babahrot, 6 Juni 1998. Bermukim di Simeulue
Banda Aceh, 1 Desember 2017
Janji dan Dirinya Sendiri/Ilustrasi Pinterest



Rabu, 03 Januari 2018

Tulang Rawan

Setelah ini aku ingin berterus terang
Bahwa jiwa ini 
Telah keluar dari jasad

Setelah ini aku ingin berterus terang
Bahwa jiwa ini tidak lagi punya hasrat
Hasrat menawar-nawar
Hasrat suci yang terkulai dan tersikap
Hasrat penakluk yang bersemburat merah pipinya akibat daging dan tulang rawannya terungkap

Setelah ini aku akan berterus terang
Melalui selembar telinga atas puji puji yang menyiulkan senada
Atau kerawang pohon di surga yang dipetik buahnya untuk hawa
Atau tanggul raksasa yang coba kau lindungi dari iman yang terlelap buta

Di bumi layaknya di surga
Sepanjang kita tetap terjaga menuju janji-janji subuh
Yang ingin kita bina
Sesungguhnya kita masih di surga

Sajak Nurhafna Zakaria (Serambi Indonesia. Minggu 31 Desember 2017)
Nurhafna Zakaria, mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam
UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Lahir di Sigli, 5 Juli 1994
Tulang Rawan/Ilustrasi Pinterest

Selasa, 02 Januari 2018

Perempuan Anak Biaju

Perempuan itu menatap arus sungai tanpa berkedip. Air berwarna kecoklatan itu bergelombang membentuk lidah yang ingin menjilat sisis perahu. Sudah lama ia merasakan, kalau sungai adalah ririnya dalam bentuk lain.

Sekali waktu Kawala pernah ingin menjadi angin timur, seperti ibu dan perempuan-perempuan lainnya, yang memantrai ikan hingga masuk perangkap. Yang membawa rejeki, tapi keberuntungan itu bukan milik Kawala. Bahkan ia ia juga ingin protes pada panglima burung yang katanya sakti itu. Seharusnya tak ada perempuan seperti Kawala atau panglima burung sudah membuat sebuah kesalahan ketika meniup takdir pada gadis kecil itu. Seharusnya ibu tak mati, seharusnya…

Sebuah perahu kecil dengan dua lelaki kekar kian mendekat menujui perahu itu. Sunyi, sepi, bisu seakan menjadi konstanta. Kawala masih menatap lidah air yang ingin memamah perahu. Salah satu dari lelaki bertato itu melangkah ke perahu beratap tempat Kawal berada.

“Sedang apa kau. Puan manis?”
Sunyi, sepi, bisu menjadi sahabat setia. Tak ada tanda, tak ada reaksi. Ibu telah mati. Terbaring bisu di Rumpang Tulang. Tepukan di bahu membuat Kawala terkejut, segera berpaling. Senyum berahi terlintas di paras lelaki itu.

Siapa kau? Ada apa gerangan muncul di saat ayah dan Sangkurun sedang tak di perahu? 
Semilir angin membawa bisu, lelaki itu tertawa senang. “Cantik nian putrid Si Nanjan.” Lelaki itu tersenyum penuh berahi sambil gelengkan kepala. “oi Purok! Untuk apa kau tetap di situ, mari kita bersenang sejenak dengan gadis cantik anak Si nanjan ini.”
Sangkala melangkah mundur hingga punggungnya merapat pada atap perahu. Tidak! Aku baru empat belas.

Lelaki yang dipanggil Purok ikut tertawa dang melangkah ke perahu milik keluarga Kawala. Sunyi, sepi mengobrak-abrik itu. Sungai Biaju di bulan Desember airnya kecoklakan. Namun sebuah jiwa telah punah. Jiwa empat belas itu mulai memanggil Manajah Natang, Tanpa tarian, tanpa sesajen tanpa tetua adat bahkan tanpa suara. Ini bukanlah hal yang biasa.
Perempuan Anak Biaju/ilustrasi pinteres
Malapetaka itu takkan terjadi, andaikan istrinya masih ada. Tak mati karena melahirkan anak perempuan laknat itu. Istrinya adalah angin timur sejati, suaranya merdu yang membuat bayu membawa ikan ke perangkap. Kini ia terperangkap di sebuah perahu bersama seoranganak laki-laki dan anak perempuan itu yang membunuh istrinya.

Atap-atap perahu saban hari ingin menekannya dalam air sungai Biaju yang dingin itu. Menenggelamkannya hingga ajal menjemput. Sial bener hidupnya. Pohon-pohon di bibir sungai dan ikan-ikan pun menertawainya. Hanya sang instri yang telah mati yang ia rindukan hingga kea lam mimpinya.

Malam itu istrinya sudi dating menghibur dalam tidur, hingga mereka benar-benar bercinta kembali di atas perahu itu. Menggelora setiap hasrat yang selama ini  ia pendam. Mimpi yang serasa begitu nyata. Saking nyatanya, ia bisa merasakan otot-ototnya berdenyut nikmat, surga turun ke bumi menyinggahi seorang lelaki. 

Saat ia terbangun, seorang perempuan kecil yang selama ini dibencinya menangis sambil menutupi tubuhnya. Ia terpana pada kecantikan itu, ranum seperti istrinya saat muda dulu. Ia mendekati gadis kecil yang selama ini dibencinya itu, dan malapetaka itu pun terjadi lagi.

Angin gunung semakin dingin, tapi lelaki itu telah menemukan pelabuhan kehangatan. Ia tak peduli pada perempuan kecil yang masih saja menangis mesti itu telah terjadi berulang kali. Beruntung perempuan itu bisu, tak bisa mencaci atau bercerita pada penghuni rumah perahu lainnya yang terkadang berpapasan dengan mereka.

Sekali waktu ia pernah memarahi Sangkurun yang diam-diam mengintip perbuatannya. Anak lelaki yang iktu mengerang-ngerang dalam kenikmatan ayanya. Tapi kemudian ia tidak peduli lagi. Bahkan ketika ia pergoki Sangkurun yang menindih perempuan kecil itu saat ia tak ada di perahu, ia anggap angin lalu saja. Putranya telah dewasa, sudah saatnya surga juga menyinggahi lelaki dewasa. Perempuan kecil itu telah berubah menjadi gadis cantik bahkan melebihi kecantika istrinya. Hanya saja. Ia terlalu sering menangis dan tak berkata-kata.

Bulan desember telah mati kembali. Ikan-ikan menjadi sangat sulit untuk masuk perangkap. Lelaki itu telah terjerat pada permainan judi. Saat tak ada lagi yang busa dipertaruhkan, ia mulai menaikkan perempuan cantik, anak yang telah membunuh istrinya itu di meja judi.

Ia melakukan itu begitu saja, tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ia telah benar-benar lupa jika anak istrinya adalah anaknya juga. Kalah judi membuatnya membiarkan Purok dan temannya menuju perahu. Sementara ia mengajak Sangkurun untuk minum lebih banyak lagi. Takpernah ia ingat akan norma, akan adat suku, akan panglima burung.

Ia dan putranya tertawa-tawa di sebuah perahu yang dijadikan arena judi. Mentertawakan kelucuan yang baru saja mereka buat. Kawala benar-benar telah mereka naikkan ke atas meja judi, sebenarnya ia berharap menang. Menggambil keuntungan banyak. Tapi apa hendak dikata, selain berbagi Kawala dengan Putranya, ia juga harus berbagi dengan dua lelaki bertato itu.
***
Memanggil Panglima Burung itu tabu, pertanda malapetaka menjelang. Ritual Mangkok Merah tidak dilaksanakan semestinya. Terkadang hati yang tercabik, jiwa teraniaya memiliki kekuatan unutk melakukan hal yang tak terduga. Kadang langit pun menjadi begitu dekat tanpa batas.

Kawala, jiwa empat belas itu menginginkan kehadiran panglima Burung. Ia marah, marah pada segala yang menimpanya. Bahkan ia marah pada sungai Biaju, sahabat setianya.

Dumah hetoh, dumah hetoh, datanglah panglima tertinggi, turunkan lenganmu. Turunkan rupamu, jika kau memang ada. Suara anak perempuan itu menyatu dalam sengau angin. Yang semakin lama semakin kencang, mengangkut awan-awan hitam. Hujan badai petir menggelegar di langit.

Purok dan temannyaterkejut melihat alam mengamuk. Ia menyambar baju yang tergeletak di sisi perahu. Sementara temannya juga sibuk melakukan hal yang sama. Perempuan kecil di depannya sudah tak menangis lagi.  Ia terlihat memejamkan mata. Kepasrahan pada kepolosan tubuhnya.

Kedua lelaki itu melangkah ke perahu kecil mereka. Badai telah mengamuk mendatangkan air yang lebih besar dari arah hulu.  Kayu-kayu iktu hanyut kemudian menghantam perahu yang dijadikan arena judi. Ayah Kawala dan putranya jatuh ke air sambil tertawa mabuk. Pusaran air menelan tubuh keduanya ke dasar Biaju. Batang kayu lain menghantam perahu beratap milik keluarga Kawala. Gadis empat belas itu memejamkan mata untuk kembali pada bumi.

Sungai tak mampu menampung air dan kayu-kayu dating secepat kilat itu, luapannya yang deras menghantam rumah-rumah penduduk. Menelan lelaki, perempuan, tua muda maupun anak kecil tanpa ampun. Ketika alam menjadi hakim, ia tidak peduli lagi, siapa yang berbuat dosa paling banyak.

Cerpen Ida Fitri (Serambi Indonesia. Minggu 31 Desember 2017)
Ida Fitri, lahir di Bireun 25 Agustus. Sekarang bekerja di Aceh Timut. Cerpen-cerpennya pernah terbit di Koran Tempo, Republika dan media lainnya.Buku kumpulan cerpen pertamanya 
berjudul Air Mata Shakespeare. Salah satu contributor Antologi Kopi 1.550 mdpl.